Oleh: mantostrip | Oktober 18, 2010

Backpacking around Philippines for 10 Days


 

Peta Perjalanan  Backpacking Filipina

(31 Juli – 09 Agustus 2010)

 

Alhamdulilah . . .untuk yang kedua kalinya (setelah Vietnam) saya menyelesaikan misi solo backpacking ke negara tetangga yaitu Filipina. Sebagian besar orang mengenal Filipina dengan keindahan pantai dan alam bawah lautnya, padahal masih banyak sisi lain yang menarik di negeri tetangga kita tersebut. Karena kolonialisme Spanyol di masa lampau, Filipina banyak memiliki situs kota tua yang bernuansa Eropa. Intramuros dan Vigan merupakan situs kota tua yang telah diresmikan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Jauh 3000 tahun yang lalu, nenek moyang orang Filipina juga telah membangun sebuah terasiring padi yang sangat memukau di kota Benaue, yang dikenal dengan Benaue Rice  Terraces. Sekarang Rice Terraces tersebut telah menjadi Icon kebanggan Filipina yang juga telah dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Perang Dunia 2 juga membuat Filipina memiliki sejumlah peninggalan bersejarah, salah satu yang paling terkenal adalah Corregidor Island yang kini menjadi objek wisata favorit bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Seiring dengan modernisasi global, ibukota Filipina yaitu Manila juga telah menjadi kota Metropolitan yang sangat sibuk.

Filipina merupakan negara kepulauan seperti Indonesia, dimana totalnya  memiliki 7.100 pulau. Dari pulau sebanyak itu, pemerintah Filipina membaginya menjadi 3 Grup Pulau, yaitu Luzon mewakili kepulauan disebelah utara, Visayas mewakili bagian tengah, dan Mindanao mewakili bagian selatan. Dari setiap pulau tersebut dibagi lagi menjadi beberapa Region atau Wilayah, dimana pembagianya adalah 8 Region di Luzon, 3 Region di Visayas, dan 6 Region di Mindanao. Lalu dari setiap Region akan dibagi lagi menjadi beberapa  Provinsi, baru kemudian dibagi menjadi beberapa Kota yang lebih kecil. Dalam buku ini menceritakan pengalaman saya traveling menyusuri 4 Region yang ada di pulau Luzon, yaitu di National Capital Region (NCR), Cordillera Administrative Region (CAR), Calabarzon Region, dan Ilocos Region. Dari perjalanan menyusuri keempat region tersebut, kita bisa menikmati beberapa tipe objek wisata mulai dari Wisata Kota, Wisata Kota Tua, Wisata Religi, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Bawah Laut, Wisata Perang, dan tentunya juga Wisata Kuliner. Cukup dalam waktu 10 hari, kita bisa mengenal secara merata tentang keindahan Filipina dari berbagai tipe objek wisata.

Memang pariwisata Filipina bisa dibilang masih tertinggal dari negara-negara tetangganya di Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, tetapi kekayaan dan keragaman objek wisata yang tersimpan di negara tersbut patut mendapatkan predikat sebagai negara tujuan pariwisata bagi para traveler dan backpacker dari Indonesia. Hampir mirip dengan Indonesia, pembangunan infrastruktur dan transportasi ke objek wisata masih belum bisa dikatakan bagus sehingga menjadi masalah bagi wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata. Dengan adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke Filipina, maka semakin memudahkan bagi para traveler dan backpacker dari Indonesia untuk menjelajah negara tetangga dekat kita itu. Traveling selama 10 hari di Filipina tidak hanya membuat saya mengerti tentang idahnya objek wisata, melainkan membuat saya mengerti juga akan nikmatnya sebuah perjalanan.

Seperti halnya Vietnam, kisah perjalanan saya menjelajah Filipina kali ini rencananya juga akan diterbitkan dalam bentuk buku semi Travel Guide. Semoga proses pembuatan buku dapat berjalan dengan lancar, sehingga di bulan November 2010 sudah bisa terbit dan beredar di toko buku. Dan pastinya, semoga buku ke-2 kali ini bisa bermanfaat untuk berbagi pengalaman kepada pembaca. Sebagian cerita-cerita menarik akan saya upload di blog ini, jadi silahkan tunggu cerita-cerita menarik tentang Filipina dari saya . . . .

Iklan
Oleh: mantostrip | Oktober 17, 2010

Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah @ Rumah Adat Batad


Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah @ Rumah Adat Batad

Batad memang bukan kampung pedalaman yang sangat tradisional, tetapi sudah tersentuh modernisasi dari luar. Hampir seluruh rumah telah mendapatkan aliran listrik yang baik dari generator pembangkit mini. Rumah penduduk sudah banyak yang tersusun dari bahan bangunan dan material modern, seperti semen untuk membangun pondasi, batu-bata untuk tembok dan seng untuk membangun atap rumah. Walaupun demikian, mata pencaharian utama penduduk batad masih sebagai petani. Untuk mempertahankan budaya mereka, tidak jarang kita menjumpai rumah adat batad yang dibangun disekitar rumah utamanya, yaitu sebuah gubuk seperti rumah pedalaman di suku pedalaman Sumba di Indonesia. Rumah tradisional berbentuk kerucut, beratapkan daun rumbia, memiliki 4  tiang penyangga utama, dan memiliki tangga untuk memasukinya. Di masing-masing tiang penyangga terdapat lempengan kayu yang berbentuk bulat yang terletak di bagian atas sebelum kayu peyangga menyentuh bagian dasar rumah, fungsinya adalah untuk menghindari adanya hewan pengerat yang berusaha naik melalui tiang penyangga. Sebelah bawah rumah (diantara 4 tiang penyangga ) biasanya difungsikan sebagai dapur, tempat untuk menanak nasi dan memasak makanan. Di dalam rumah panggung ini terdapat beberapa kompartemen, ada kompartemen untuk menyimpan persedian gabah, ada kompartemen untuk menyimpan perkakas, dan ada tempat untuk tidur. Nah karena sekarang sudah semi-modern, maka rumah adat ini dilengkapi dengan kasur sederhana, dimana bisa ditempati wisatawan yang ingin merasakan hangatnya tidur dirumah seperti ini. Satu lagi yang unik, ada beberapa tengkorak dan tulang hewan buruan yang diselipkan di atap bagian dalam  rumah ini, ada tengkorak kelelawar, tengkorak babi, tulang kerbau, dan lain-lain yang katanya berfungsi sebagai tolak bala untuk  rumah ini. Senang sekali malam harinya kami ber-4 (saya & 3 orang prancis) diberi kesempatan untuk merasakan tidur di rumah panggung yang unik ini. Kami tidur ber-4 hanya diterangi oleh cahaya lampu teplok dengan minyak yang cukup remang-remang. Begitu merebahkan ke tempat tidur, saya merasakan sebuah ketenangan dan kehangatan disini. Suasana yang hening membuat mata saya cepat terpenjam dan terlelap ke alam mimpi.

Kejadian lucu ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam, disaat lampu teplok yang tadinya masih nyala sekarang sudah mati tak bercahaya lagi karena kehabisan minyak. Begitu bangun saya sangat terkejut, saya sangat panik karena saya tidak bisa melihat apapun, saya seperti melihat sebuah kegelapan abadi, saya pikir mata saya buta atau saya berada di alam lain, sampai saya panik mencari bantuan cahaya sambil berkata “where i am ..??” berkali-kali dengan setengah sadar. Ketika saya menemukan handphone, memencetnya dan mata saya merasakan sebuah cahaya, saya baru ingat kalau saya sedang tidur di rumah adat di Batad bersama ketiga teman baru saya. Salah satu teman saya sampai terbangun karena ulah saya yang aneh tersebut. Di pagi harinya ketika saya cerita tentang kejadian saya tersebut, dia mengiyakan dengan berkata “ Yes i see  you turn on your mobile phone “, malunya saya setelah tahu ternyata dia terbangun dan melihat saya malam itu. Kejadian seperti itu memang bukan pertama kalinya saya alami, saya pernah juga terbangun dengan kondisi setengah sadar dan hilang ingatan (baca: amnesia) ketika di Bekasi, begitu bangun saya tidak tahu saya berada dimana dan kebingungan mencari tau tentang keberadaan saya. Saya pun melanjutkan  tidur lagi setelah berhasil menenangkan diri, sampai pagi hari menjelang.

Kebiasaan  buruk yang  tak pantas ditiru, saya bangun “kepluk” alis kesiangan, sampai dibangunin untuk sarapan pagi oleh teman saya. “Mantosss…wake uppp…breakfast ready…”, aaahh……malunya diriku. Secara semua teman saya sudah bangun sejak menjelang sunrise, mereka malah sudah jalan-jalan ke sawah untuk melihat cahaya pagi tersebut. Nah kejadian lucu ketika saya bangun tidur, begitu bangun saya langsung mengambil handuk untuk mandi, maklum tadi malem ”mimpi indah”, jadi wajib hukumnya untuk mandi biar suci dan segar J. Habis mandi spontan teman saya filipino komentar pada saya “You take a shower in this morning.. ??”, sambil memandang saya dengan ekspresi wajah yang aneh, emang mandi pagi salah yah. Saya jawab saja “ Yess…why ??”, dia pun menjawab “ This is early morning ..mantos”. Ternyata memang udara masih dingin dan semua teman saya belum mandi, jadi saya seperti orang aneh saja mandi terlalu pagi. Karena saya gak mungkin membuka rahasia saya kalau habis “mimpi indah”, dan sulit rasanya menjelaskan dalam bahasa inggris, akhirnya saya jawab “ Yess…beacause i got a bad dream overnight, so i have to refresh my mind”. Saya pikir cukup sampai disitu saya ditanya, eh ternyata masih ada pertanyaan selanjutnya “ Ohh..So in your country believe, when you get a bad dream, you must take a shower after that ?? “, busyettt…ngapain juga dikaitkan dengan kepercayaan, saya jawab dengan diplomatis saja “ No…just for me, i just want to refresh my body and my mind”. Akhirnya selesai juga interogasi kepada saya di pagi hari ini, lega  . . . .


Manggung Pertama Kali
Inilah pengalaman pertama kali saya Talkshow diatas panggung yang ditonton puluhan orang dan disaksikan pula oleh para wartawan (walaupun tak sengaja kalau ternyata disaksikan :D). Biasanya talkshow hanya di toko buku dan hanya menghadapi belasan pembaca, benar-benar ini adalah pengalaman saya Mangung untuk pertama kalinya di depan umum. Sedikit nervous juga ketika naik panggung dan memperkenalkan diri kepada peserta Talkshow. Tapi selanjutnya saya merasa menikmati berbagi pengalaman dan bertukar pikiran dengan para pembaca yang hadir di acara itu. Adalah Talkshow “Travelling Asyik dengan Kocek Irit!” di Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan – Jakarta yang di gelar oleh Penerbit Bentang Pustaka. Berikut dibawah ini ulasan dari Media Kompas dalam acara tersebut :
Mudahnya Cari Liburan Panjang
Minggu, 10 Oktober 2010 | 21:10 WIB

***Foto Dari Kiri : Ditta (moderator), Ariyanto, Rini Raharjanti, Trinity, Claudia Kaunang, Sihmanto (saya)

Penerbit Bentang Pustaka menggelar Talkshow “Travelling Asyik dengan Kocek Irit!” di Indonesia Book Fair 2010, Istora Senayan, Jakarta. Lima penulis buku mengungkapkan tips dan trik perjalanan wisata yang hemat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Seseorang tidak akan sulit untuk menemukan masa libur panjang di tengah kesibukan pekerjaan, asalkan bisa mengatur libur dan cuti kerja sedemikian rupa. Kunci utamanya, membereskan pekerjaan utama sesegera mungkin.

“Bos saya santai. Asalkan kerjaan beres, kita bisa cuti sesuka hati,” ungkap penulis buku The Naked Traveller, Trinity, dalam sebuah talkshow Indonesia Book Fair (IBF) 2010 , Minggu ( 10/10/2010 ) di Istora Senayan, Jakarta.

Dengan sebuah perencanaan liburan yang baik, Trinity mengaku dapat waktu bebas selama dua bulan. “Dalam waktu 2 bulan itu, saya dapat bertamasya ke Bali, Flores, Wakatobi dan Makassar,” tuturnya.

Hal serupa dialami Rini, penulis buku Tiga Jutaan Keliling India dalam 8 Hari. Untuk mendapatkan libur yang lama, dia merencanakan dan menyusun plot libur kerja hingga memperoleh masa libur sampai 25 hari dalam setahun.

Bagi yang kerjanya full time, Anda tak perlu khawatir. Claudia Kaunang mengatakan, asalkan diri kita bisa mengatur akhir pekan, liburan bisa dirasakan. Penulis buku Dua Juta Keliling Thailand, Malaysia dan Singapura ini menyarankan supaya kita mengumpulkan masa cuti. “Dengan cuti yang terkumpul menjadi satu rangkaian, Anda akan mendapatkan hari libur yang lebih lama dari hari yang disediakan oleh perusahaan,” ujar wanita yang menetap di Singapura ini.

Sementara penulis buku Dua Jutaan Keliling Vietnam, Sihmanto, punya kiat yang lebih unik. Menurut dia, jalan-jalan harus dianggap sebagai pekerjaan utama, sebaliknya bekerja di kantor itu usaha sampingan. “Pola kita semestinya ditukar,” tegas dia.

Dengan pola hidup begitu, lanjut pria yang disapa Mantos ini, ia bisa cuti sesuai keinginan di saat kita sudah tidak ada pekerjaan. “Padahal saya juga pekerja kantoran loh yang jatah cutinya 12 hari,” katanya.

Agar Nyaman Keliling Dunia, Ini Tipsnya
Laporan wartawan KOMPAS.com Adi Dwijayadi
Senin, 11 Oktober 2010 | 00:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Bila Anda berencana jalan-jalan ke luar negeri, dianjurkan membawa yang ringan-ringan dan seperlunya saja. Ini penting untuk menekan biaya pada saat keberangkatan.
“Jika tidak ketemu, ya cuci pakai tangan. Saya kalau jalan-jalan lebih dari dua minggu, akan diusahakan ada hari khusus untuk cuci sendiri.”
— Trinity, penulis buku The Naked Traveller

Rini, penulis buku 3 Jutaan Keliling India dalam 8 Hari, mengaku hanya membawa barang seberat 7 kg dalam backpack-nya yang bisa memuat sampai 40 liter.

“Barang seperlunya saja yang kubawa untuk mengantisipasi additional charge pada sebagian maskapai penerbangan,” kata Rini ketika berbicara pada talkshow Travelling Asyik dengan Kocek Irit!, dalam Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu ( 10/10/2010).

Selain membawa yang tidak berat-berat, dianjurkan untuk menyiapkan dua jenis backpack, yaitu tas gunung dan tas kecil. Menurut Sihmanto, tas gunung 45 liter cukup membawa barang yang diperlukan saja. “Beratnya 12 kg saja,” ujarnya.

Sihmanto yang juga pengarang buku Dua Jutaan Keliling Vietnam itu menambahkan, orang-orang biasanya menenteng bawaan yang lebih berat ketika kembali dari luar negeri. “Karena di sana teman-teman pasti akan membeli pakaian atau pernak-pernik khas yang bisa untuk dibagikan,” katanya.

“Selain tas gunung, kita perlu tas kecil. Fungsinya untuk menyimpan paspor, uang dan surat berharga,” imbuh Sismanto.

Soal mencuci baju di luar negeri, tak perlu khawatir. Laundry kiloan mudah ditemukan di sana. “Jika tidak ketemu, ya cuci pakai tangan. Saya kalau jalan-jalan lebih dari dua minggu, akan diusahakan ada hari khusus untuk cuci sendiri,” imbuh Trinity, penulis buku The Naked Traveller.

Perlu diingat, lanjut Trinity, ada hostel yang tidak membolehkan penghuninya cuci sendiri. “Untuk menyiasatinya, saya mencicil cuci pakaian per hari. Lalu, diangin-angini di atas kasur supaya pakaian cepat kering,” ungkap perempuan yang juga mengarang buku Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium ini.

Berbeda dengan penginapan di negara lain, pembiacara lain, Claudia Kaunang, pernah mencoba laundry gratis di salah satu hostel di Korea Selatan.

“Terserah berapa potong pakaian, tapi nanti setelah pakaian sudah kering tidak disetrika, loh dan saya nggak mempersoalkan hal itu,” ujar perempuan berkacamata yang pernah menjelajahi tiga negara ASEAN hanya dengan Rp 2 juta itu.

Dikutip dari sumber :

http://travel.kompas.com/read/2010/10/10/21105078/Mudahnya.Cari.Liburan.Panjang

http://travel.kompas.com/read/2010/10/11/00135983/Agar.Nyaman.Keliling.Dunia.Ini.Tipsnya


Saya berniat melanjutkan perjalanan seusai Sholat Dzuhur di Masjid Jami’ah. Saat saya berfoto di depan Masjid, saya dikejutkan dengan sosok seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. ”Hai, kau disini lagi…?”, sapa laki-laki sebaya denganku. Dia adalah ”Pak Cik Jul”, salah seorang malaysian yang sedang bekerja di Vietnam. Saya pertama kali bertemu denganya saat sedang traveling bersama teman-teman akhir tahun lalu, disini pula kami bertemu sebelumnya. Saya berkenalan di akhir tahun lalu (Desember 2009), dan ternyata dia masih ingat dengan sosokku yang tidak berubah ini. ”Sendirian saja kesini..mana kawan-kawanmu??”, tanya dia kepada saya. Dia baru datang dan akan menunaikan Sholat Dzuhur terlebih dahulu, saya kembali duduk di serambi masjid dan menantinya. Senang sekali rasanya bertemu teman asing di negara asing. Seusai sholat, dia mengajak saya untuk makan siang di kedai belakang masjid. Sebenarnya perut saya masih kenyang, baru 2 jam lalu saya makan di Ben Than Market. Saya ikutin saja apa kata dia, jarang sekali kan bisa bertemu dan berteman dengan orang asing di negeri orang. Ternyata hanya persis dibelakang masjid, ada sebuah kedai Makanan Halal. Pemiliknya adalah orang Vietnam, tetapi mereka beragama Islam. Semua masakan yang ada disini dijamin Halal. Ternyata tempat ini adalah favorit bagi orang malaysia yang bekerja disini. Pak Jul menyapa teman2nya yang sedang menyantap hidangan di meja sebelah. Serombongan malaysian meninggalkan kedai ini dan bersalaman kepada saya, seraya berkenalan dan merasa saudara serumpun. Saya lunch bersama Pak Jul ditemani dengan satu orang supirnya. Saya sempat menolak untuk makan, karena masih kenyang. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk makan, buat cadangan energi sampai malam hari nanti. Kare ayam semangkuk, telur dadar, sayur, nasi putih dan juga pisang ambon sebagai penutupnya. Jamuan makan siang yang begitu mewah bagi seorang backpacker seperti saya. Walaupun perut sudah kenyang, tapi nasi sepiring pun habis juga. Ditengah-tengah makan kami ngobrol seputar perjalanan saya yang akan menyusuri seluruh kota di Vietnam mulai dari Selatan sampai Utara.

Mereka mencoba mendeskripsikan tempat-tempat yang akan saya kunjungi. Cukup berharga informasi yang mereka berikan pada saya. Karena tahun baru ”TET”, maka mulai vietnam memberlakukan Libur Nasional selama 4 hari. Libur yang terpanjang sejarah di Vietnam setiap tahunnya. Sama seperti libur lebaran di Indonesia yang sampai seminggu itu. Pak Jul memutuskan untuk pulang ke Malaysia dalam liburan tersebut, karena semua office, toko, dan aktivitas perdagangan lainya tutup. “Mau ngapain hari libur disini…???, Office tutup, toko tutup, warung banyak yang tutup …., lebih baik pulang kampung “, kata dia. Tak lama kemudian ada seorang malaysian datang lagi untuk makan siang, semuanya kenal dengan Pak Jul. Mungkin ada perkumpulan orang malaysia disini, atau memang mereka sering ketemu disini. Satu jam lebih kami ngobrol diwarung ini, tiba saatnya Pak Jul harus cabut dan kembali bekerja. Siapa yang harus bayar lunch ini ?!, tentu saja saya mengeluarkan dompet saya untuk mencoba membayar apa yang saya makan. Tapi sudah saya duga sebelumnya, Pak Jul akan membayar semuanya untuk kami. Tak ada yang lebih baik dari ucapan “Terima Kasih”, kepada setiap orang yang memberikan kebaikan kepada kita. Sampai bertemu lagi Pak Jul, di lain waktu dan lain kesempatan.


Udara pagi yang dingin membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Dengan teramat sangat terpaksa, sayapun keluar dari kamar untuk mengirup udara ppagi yang segar. Seusai sarapan dengan roti gabon prancis, telor dadar, secangkir nescafe dan ditutup pisang ambon, saya mengemasi backpack saya untuk check out. Bus dijadwalkan berangkan jam 12 siang, masih banyak waktu luang untuk menunggu. Harga tiket Bus ke Nha Trang adalah 5 USD, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 6 jam. Waktu masih pagi, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku dan browsing internet. Jam 12.30 minibus menjemput saya dari hotel, telah banyak penumpang di dalam minibus tersebut. Kami di drop di Pick-up point, dipinggir jalan raya di pusat kota Dalat. Tak lama kemudian Bus yang kami tunggu datang, tampak serombongan turis asing turun dari bus membawa tas ransel selayaknya backpacker. Ternyata bus ini baru saja dari Nha Trang, dan sekarang mau berangkat lagi kesana membawa kami. Sebelum naik, bus terlebih dahulu dibersihkan. Teman saya hanya sekitar 16 orang, ada 2 orang cewek dari spanyol yang katanya berlibur 4 bulan disini, mengelilingi singapura, malaysia, thailand, kamboja dan sekarang di vietnam. Waktu 4 bulan hanya dihabiskan untuk jalan-jalan berkeliling asia tenggara, sungguh menyenangkan. Ada 2 orang dari macedonia, 1 dari austria, 1 dari thailand, 6 dari jepang, dan lainya saya tidak tahu. Dalat meskipun musim kemarau, udaranya tetap dingin. Hotel disini tidak ada yang memiliki AC. Rumah-rumah penduduk bergaya prancis, ada cerobong perapian di atap rumah. Bus tidak pernah menghidupkan AC yang dimilikinya. Jam 1 siang bus mulai berangkat meninggalkan Dalat yang dingin, menuju Kota Impian berikutnya. Nha Trang terkenal dengan pantainya yang indah, itulah kota pantai impian yang akan saya tuju.

Perjalanan keluar dari kota Dalat melewati perbukitan dengan jalan berkelok-kelok ditengah-tengah hutan pinus yang lebat. Jalanya cukup sempit, sehingga supir harus berhati-hati jika melewati belokan. Perjalanan semakin menegangkan dan mengasyikan ketika menyisir pegunungan yang tinggi. Disebelah kiri kokoh berdiri dinding kapur pegunungan, sedangkan di sebelah kanan jurang menganga sedalam ratusan meter. Bus berjalan menggunakan lajur kanan pula, begitu selip dari badan jalan, tamatlah riwayat kami. Jalanan ini masih tergolong baru, masih terlihat pembangunan di sisi kanan dan kiri jalan. Saya sungguh takjub melihat hamparan pegunungan yang sangat luas dan hijau sepanjang perjalanan. Ingin rasanya saya berhenti sejenak, turun, dan menghirup segarnya udara pegunungan dan menikmati indahnya panorama hijau yang terhampar luas. Inilah kekayaan yang di miliki oleh Vietnam, kekayaan alam yang melimpah di sederet pegunungan kapur. Dua pertiga perjalanan kami lewatkan dengan lika liku naik turun jalur pegunungan, tiba-tiba kondektur bus meminta semua penumpang menutup jendelanya. Saya mengira udara diluar sudah cukup panas, sehingga AC di dalam bus akan s egera dinyalakan. Ternyata dugaan saya salah, tiba-tiba bus menerjang jalan tak beraspal didepan sana, dan debu jalanan yang tebal pun seketika menutup pandangan didepan bus. Sebagian penumpang belum menutup jendelanya, debu pun masuk ke dalam bus, semua penumpang didalam bus berteriak untuk menutup jendela. Walaupun jendela telah tertutup semua, tetapi debu yang jumlahnya jutaan itu pun tetap bisa masuk ke dalam bus, sebagian besar penumpang pun terbatuk-batuk tak kuasa menahan sesak. Saya segera mengenakan slayer, sedangkan yang lainya ada yang menutup hidung dengan kaos yang mereka kenakan. Kami benar-benar seperti kembali ke jaman dulu, dimana belum ada jalanan ber-aspal. Rasanya pun sama seperti naik kuda, jalanan tak ber-aspal membuat bus bergoyang kekanan kekiri hebat karena jalan tidak rata, perjalanan menjadi sangat lambat. Tak hanya sebentar musibah ini berlangsung, hampir 1 jam perjalanan kami berselimut debu. Memang sedang ada proyek pelebaran jalan oleh pemerintah Vietnam, terlihat disamping kanan kiri jalan banyak alat berat. Mungkin pembangunan jalan ini akan selesai dalam 2 tahun kedepan. Jadi jika anda mengambil jalan ini untuk 1-2 tahun kedepan, selamat bermandi dengan debu jalanan. Satu jam perjalanan melewati jalan berdebu, kami sampai di perbatasan kota Nha Trang. Jam 5.30 sore kami sampai di pusat kota Nha Trang. Saya sangat beruntung, karena bus berhenti di jalan Nguyen Thien Tuat, dekat dengan Nha Trang Backpacker House yang akan saya tinggali.

Oleh: mantostrip | Juni 19, 2010

Lunch Bersama Teman Baru @Hoi An


Tempat Makan Favorit @Hoi An Ancient Town

Inside Foto (Clock Wise) : Andrian, Marijo, Anna, Saya

Sepulangnya dari My Son, saya bergegas mandi dan berkemas-kemas untuk check out. Saya sudah memesan tiket bus ke Hue City dengan harga 5 USD, berangkat pukul 2 siang nanti. Perjalanan dari Hoi An ke Hue ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Pilihan transportasi dari Hoi An ke Hue ada 2, yaitu memesan bus di travel agent atau naik bus umum dari Hoi An ke Danang disambung dari Danang ke Hue City. Harganya akhirnya memang lebih murah dengan transportasi umum, walaupun harus estafet dan memerlukan waktu yang lama. Saya memilih memesan bus dari hotel, karena menyangkut masalah waktu. Saya berharap sampai di Hue City belum gelap, sehingga mudah mencari hostel yang saya tuju. Setelah semuanya rapi, saya pergi Lunch bareng teman-teman baru saya (Anna, Andrian & Marijo). Punya teman baru di jalan memang satu hal yang menyenangkan, membuat perjalanan lebih berwarna. Jadi jangan sungkan-sungkan bergaul dengan orang-orang asing ketika kita berada di luar negeri, mereka juga kebanyakan solo traveler yang butuh teman. Bedanya hanya kita orang asia dan mereka orang eropa atau amerika. Kami lunch di foodcourt yang biasanya, tempat saya menyantap makan siang kemarin. Ternyata tempat ini adalah tempat favorit bagi semua orang, bukan hanya tempat favorit bagi saya. Tak jauh beda dari sebelumnya, pesanan saya hanya fried rice with shrimp dan manggo juice. Sedangkan yang lainya pesen yang aneh-aneh dan pastinya lebih mahal. Anna yang bule asli prancis memilih memesan menu bukan nasi. Sedangkan saya dan filipinos pasti memesan nasi, maklum makanan pokok orang asia tenggara kan nasi. Di sela-sela kami ngobrol dan menyantap makan siang, ada serombongan remaja hongkong atau china yang memarkir sepeda kayuhnya di depan foodcourt. Mereka rata-rata masih muda, berusia kurang dari 25 tahun. Kebanyakan dari merka adalah cewek, suaranya berisik memekakkan telinga kami. Kami ber-4 pun bengong menatap kelakuan aneh mereka yang kurang sopan. Mereka duduk dan ngobrol keras-keras dalam bahasa mandarin yang tidak semua orang ketahui. Tiba-tiba seorang dari mereka meminta air putih gratis, dia menyodorkan botol aqua kosong yang dia bawa ke pelayan. Ups……apa-apaan ini, kami ber-4 terus memperhatikanya dan ngomongin kelakuan mereka yang tidak sopan itu. Dan terkejutnya lagi, setelah dia mendapatkan air putih, dia beserta rombonganya pergi meninggalkan tempat ini tanpa memesan menu apapun. Saya tidak tau apakah dia akan kembali lagi atau memang tidak jadi makan ditempat ini, yang jelas kepergianya membuat suasanya foodcourt kembali tenang. 1 jam lebih kami ngobrol, saatnya untuk membayar apa yang kita makan. Saya sodorkan uang 50.000 VND ke Andrian, dia yang bagian membayar. Anna pamit berpisah untuk mengambil jahitanya ke Tailor. Sedangkan kami (Saya, Marijo dan Andrian) kembali ke Hotel. Disepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai Toko Kain dan Tailor. Sebagian besar wisatawan asing yang berkunjung ke Hoi An selain mengunjungi Ancient Town, mereka juga menyempatkan diri untuk memesan pakaian di sini. Andrian juga sempat mampir ke sebuah Tailor, dan memesan jas dengan harga 470.000 VND. Kita tinggal memesan warna kain yang kita mau, penjahit akan mengambil ukuran tubuh kita, dalam dua hari kedepan pakaian akan bisa kita ambil. Jadi bagi para pecinta pakaian dan mode, jangan lewatkan untuk mampir ke salah satu Tailor di kampung Hoi An. Sampai di hotel, saya dan filipinos tersebut saling tukar menukar nomer handphone dan e-mail. Marijo dan Andrian bekerja pada sebuah perusahaan Filipina dan sekarang sedang mengerjakan proyek di Hanoi. Saya berencana untuk bertemu kembali dengan mereka di Hanoi pada Selasa depan, sebelum saya pulang ke Indonesia. Disinilah awal persahabatan saya dengan 2 orang filipinos tersebut terjalin.



”Why so serious……”, hape saya bergetar dan ringtonenya berbunyi. Sms saya terima, Marijo menanyakan apakah kita jadi makan siang bersama hari ini. Kesempatan makan bareng dengan teman tidak mungkin saya lewatkan. Kami bertemu dia di depan pintu gerbang Ngoc Son Temple. Dia nampak memakai pakaian kerja, dandananya rapi seperti orang kantoran. Orang Filipina memang sekilas nampak seperti orang Indonesia, sampai saya kadang latah ngomong pakai bahasa Indonesia denganya. Dia sekarang sedang istirahat siang sampai jam 1 nanti. Andrian dan seorang temanya sudah menunggu di ujung jalan, kami segera menemuinya. Semula saya ditawari makan ”Bun Cha”, yaitu seperti barbeque yang berisi daging babi. Sebenarnya saya tidak tau kalau Bun Cha mengandung daging babi, dia tidak menyebutkannya tersirat. Saya hanya ngomong ke dia, lunch apa saja boleh asalkan tidak mengandung ”pork”. Begitu saya mengatakan demikian, mereka membatalkan niat untuk makan Bun Cha dan mengganti dengan makanan lain. Saya diajak makan ”Bit Tet”, yaitu semacam steak daging sapi diatas hot plate, ditambah 2 telur yang diceplok diatasnya langsung. Tidak ada nasi disini, hanya ada roti prancis sebagai pengganti nasi. Makanan ini kami temukan di pinggir jalan, seperti warung biasa saja. Memang kami mempunyai selera yang sama mengenai pemilihan tempat makan. Lebih baik makan di pinggir jalan bersama teman, daripada makan di restauran mewah sendirian. Makan diwarung pinggiran memang lebih terasa nuansa kebersamaannya. Dengan ditambah satu orang teman baru saya, yaitu seorang wanita vietnam temanya Andrian (saya lupa namanya), maka suasana semakin meriah. Kami juga tidak mengalami kesulitan saat order makanan dengan bahasa Vietnam, karena dia bisa dijadikan penerjemah. Makan siang tanpa nasi memang tidak membuat perut ini kenyang, tapi apa boleh buat kalau kebiasaan mereka seperti ini. Saya sebagi tamu di sini, ngikut aja apa kata tuan rumah yang mau men-traktir. Anehnya makan disini, kita tidak ditawari mau minum apa seperti di Indonesia. Dan di warung ini sepertinya juga tidak menyediakan minuman, kalau kita minta minum mungkin akan dicarikan di warung sebelah yang jual minuman. Setelah mencicipi lunch ringan, saya diajak mencari minuman di sisi jalan yang lain. Kini saya diajak minum minuman pinggiran khas kesukaan orang Vietnam. Siapa sih yang tidak mau diajak wisata kuliner di negara lain, nurut saja lah. Marijo menyebut minuman ini dengan nama inggris ”Sugar Juice”, kalau begitu berati mirip dengan ”Cao” di Indonesia. Begitu sampai di tempatnya, hanya ada bapak-bapak yang berjualan minuman kaleng dipinggir jalan. Teman baru saya dari vietnam itu mencoba bertanya, apakah dia menjual minuman ”jus gula” tersebut. Biasanya ditempat ini dia bisa menemukan minuman tersebut. Ternyata benar, penjual tersebut harus membuatnya dahulu didalam rumah. Saya diminta Marijo untuk masuk, melihat proses pembuatan dari jus gula tersebut. Tapi saya memilih untuk menunggu hasil jadinya saja, duduk di dingklik pendek pinggir jalan. Sekitar 10 menit kami menunggu, bapak penjual membawa segayung jus gula dan menyiapkan 3 gelas berisi es batu. Jus segayung dibagi menjadi 3 gelas, teman saya Andrian tidak begitu menyukainya jadi kami hanya memesan 3 gelas. Begitu mencicipi rasanya, lidah saya mengatakan ini adalah rasa dari air tebu. Setelah saya tanya pada Marijo tentang bahan dari jus ini, kata dia berasal dari batang pohon penghasil gula. Tak salah lagi kan, ini adalah air tebu yang sama seperti yang biasa dijual di pinggiran jalan di Indonesia. Tapi beda lah, ini kan pohon tebu dari Vietnam, bukan dari Indonesia. Ketika saya ingin mengabadikan tempat ini, saya terkejut karena kamera saku saya tidak ada. ” I am forget my camera….”, ucapku diantara perbincangan kami. ”Camera…….you forgot your camera….??, tanya Marijo tak percaya. Saya teringat terakhir kali saya menggunakan kamera adalah ketika saya mengambil gambar Bit Tet diwarung sebelumnya. Menurut perkiraan saya, kamera tertinggal di meja makan dan saya lupa membawanya saat pergi. Marijo segera berdiri dan menemani saya menuju ke warung tadi, sementara Andrian dan teman wanitanya menunggu ditempat ini. Marijo tampak serius membantu saya, dengan sepatu semi highheel dia berjalan sangat cepat. ”Are you OK…..?”, tanyaku kepadanya karena saya melihat dia tidak nyaman jalan cepat-cepat dengan sepatunya. ”Don’t worry….I am very confort use my shoes”. Sesampainya di warung, Marijo membantu saya bertanya ke penjual tentang kamera saya yang mungkin ketinggalan dimeja sini. Dengan bahasa Vietnamnya yang mesih belum lancar, penjual nampak tidak begitu paham dan mengerti masalahnya. Sementara saya sibuk mencari kamera disela-sela meja makan yang sedang ditempati oleh pengunjung lain. Tak kehilangan akal, Marijo telpon temanya orang Vietnam tadi dan menyerahkan handphonenya pada si penjual. Saya sudah menyerah, mungkin memang sudah diambil orang dan dibawa pulang. Saat si penjual sedang bicara ditelpon, tiba-tiba saya menemukan kamera saya terselip di antara kertas di tas saya. ”Marijo…..i am so sorry…..i just found my camera here….”, dia tersenyum dan mengatakan pada si penjual kalau sudah ketemu. Betapa malunya diriku, membuat semua orang menjadi repot karena keteledoranku. Kami kembali ke warung es tebu tadi, menghabiskan minuman yang tadi masih belum habis. Sepertinya waktu istirahat teman-teman saya ini sudah habis, kami berpisah disini untuk sementara waktu.


1 Day Tour to Halong Bay

Pagi hari jam 7 saya sudah keluar dari kamar hotel, menunggu jemputan minbus yang akan membawa saya menuju dermaga perahu wisata. Pintu hotel nampak masih terkunci, penjaga hotel juga masih terlelap tidur di kamar depan. Begitu saya menampakkan suara, penjaga pun bangun dan membukakan pintu hotel untuk saya. Satu jam saya menunggu di loby hotel, tapi tak satupun minibus yang mampir menjemput saya. Kelihatanya saya memang sendirian dihotel ini yang mengambil paket tour tersebut. Jam 8.15 seseorang membawa sepeda motor berhenti didepan hotel, selanjutnya bertanya pada saya tentang paket tour. Mungkin karena saya hanya sendiri, jadi tidak efektif bila dijemput dengan minivan. Saya diantarkan menggunakan sepeda motor ke dermaga perahu. Sebenarnya memang tidak jauh dari hotel, jalan kaki mungkin cuman 20 menit. Perahu sudah terisi oleh beberapa orang, kebanyakan dari mereka adalah wisatawan lokal. Saya melihat ada seorang britanian yang asyik membaca sebuah buku. Saya punya teman sesama orang asing disini, lumayan bisa jadi teman ngobrol. Perahu berangkat jam 9, tidak sesuai yang dijadwalkan. Cuaca terlihat kurang bersahabat, kabut nampak menyelimuti kota ini. Perahu mulai berjalan meninggalkan dermaga menuju Halong Bay. Saya tidak tau rute sebenarnya yang akan diambil oleh perahu ini. Lima belas menit perjalanan, perahu mulai merapat ke sebuah dermaga yang terletak di pinggir bukit kapur yang terdekat. Banyak sekali perahu yang bersandar disana, diatas bukit nampak lambang UNESCO World Heritage terpampang dengan jelas. Penumpang perahu mulai turun ke dermaga, menuju sebuah pintu masuk keramaian. Ternyata disana terdapat sebuah Gua besar, inilah destinasi pertama tour kali ini. Nahkoda perahu membagikan tiket kepada semua penumpang, kecuali saya. Saya sempat protes kepadanya, kenapa saya tidak diberikan tiket gratis. Tetapi dia bersikeras tidak memberikannya pada saya, membuat saya sedikit kehilangan mood untuk berwisata. Saya mencoba pinjam tiket yang dibawa teman saya dari inggris tersebut, ternyata tiket yang dia bawa bertuliskan included entrace ticket. OK, saya menyerah karena kesalah pahaman pemesanan paket tour ini. Saya tidak akan masuk Caves ini, saya tidak tertarik untuk masuk Gua ini. Teman saya dari Inggris setia menunggu saya, tetapi saya persilahkan untuk masuk duluan saja. Tinggal saya sendirian disini, sedangkan nahkoda perahu telah memindahkan perahunya ke pintu keluar Gua. Sekian lama saya larut dalam ke-betean ini, akhirnya saya berfikir logis. Jika saya tidak masuk Gua ini, saya tidak akan bisa kembali ke perahu saya, karena perahu sudah pindah ke dermaga depan pintu keluar Gua dibalik bukin kapur ini. Tiket seharga 40.000 VND akhirnya terpaksa saya beli, segera saya berlari menaiki anak tangga menuju pintu masuk gua ini. Mempercepat langkah untuk menemukan teman serombongan tadi. Ditengah Gua saya akhirnya menemukan teman saya dari Inggris. Gua ini memang sangat besar, memiliki stalaktit dan stalakmit yang indah. Lampu hias warna warni sengaja ditambahakan sebagai penerangan dan mempercantik interior gua. Manusia berjejal didalam berjumlah ratusan. Saya adalah orang yang memiliki penyakit ”Panic Room”, syndrome perasaan tidak tenang jika berada di ruang tertutup. Jadi saya tidak betah lama-lama di tempat tertutup seperti ini. Sampai di pintu keluar, perahu sudah menunggu, jika rombongan sudah berkumpul maka perahu akan melanjutkan perjalanan mengililingi bukit-bukit kapur yang tersebar di Halong Bay.

Serombongan dengan Nenek2  yang bikin bete

Semua rombongan sudah lengkap, saatnya melanjutkan perjalanan mengelilingi bukit kapur di Halong Bay. Nahkoda kapal menginstruksikan kepada rombongan untuk naik perahu yang sudah bersandar. Nampaknya ini bukan hari baik bagi saya, kembali saya mendapat ketidaknyamanan. Yang memilih paket tour 6 jam saja yang boleh masuk ke perahu, sedangkan yang memilih paket tour 4 jam dioper ke perahu lain. Dan sialnya, ternyata hanya saya saja yang mengambil paket 4 jam di rombongan tersebut. Saya di oper ke perahu lain yang masih bersandar dan menunggu rombongan lain datang. Dengan sabar saya menerima keadaan yang tidak mengenakkan ini. Setelah sekian lama menunggu, tak juga nampak tanda-tanda perahu mau berangkat. Sementara perahu-perahu di sebalah saya satu demi satu meninggalkan dermaga. Saya mencoba bertanya pada 2 orang awak perahu ini, jam berapa akan berangkat ke Halong Bay. Tak seorangpun dari mereka bisa bahasa Inggris, ngomong cas cis cus yang tidak saya mengerti makksudnya. Dua orang awak perahu tersebut lalu keluar dari dalam perahu, seolah-olah resah menunggu rombongan yang lama sekali belum keluar dari gua. Kembali saya bertanya pada awak perahu yang lain, dia perempuan, siapa tau bisa bahasa Inggris. Kapan perahu ini akan berangkat ??, dia hanya menjawab dengan satu kata ” Now….”. Kuping saya yang sudah sensitif sulit menerima kata yang dia ucapkan, dia bilang ”Now” atau ”No” ya, keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. Saya kembali bertanya padanya, dan dia jawab lagi dengan berteriak ”Now…”, kali ini saya tidak salah dengar nampaknya. Dia kelihatan melihat serombongan yang menuju ke perahu ini. Alahkah terkejutnya ketika saya melihat seorang nenek yang usianya sudah lebih dari 80 berada dalam satu rombongan tersebut. Nenek itu berjalan dengan sangat lambat, maklum sudah lanjut usia. Baru saya tahu kenapa rombongan ini begitu lambat. Bayangin saja, seorang nenek berusia 80 tahun harus trekking didalam gua yang memiliki anak tangga naik dan turun. Harap maklum dan bersabar saja satu rombongan dengan lansia ini. Perahu meninggalkan dermaga sekitar pukul 11.30, itu artinya pukul 14.00 saya baru sampai di dermaga  Halong City. Cuaca yang kurang bersahabat membuat keindahan Halong Bay berkurang, kabut putih membuat bukit-bukit kapur yang tersebar di teluk tersebut terlihat suram. Saya tidak bisa mengambil foto lanskap yang bagus, karena jika dari kejauhan pemandangan akan nampak suram. Sungguh indah sebenarnya pemandangan disini, air tenang dan gugusan bukit kapur membuat kita serasa berada di negeri Avatar. Ini adalah musim Autumm di daerah ini, waktu paling bagus berkunjung adalah pada musim panas diantara bulan Mei – Agustus. Saya ingin kembali kesini pada bulan tersebut untuk waktu mendatang, dan memilih paket tour untuk 6 jam atau 3 hari, pasti mantab dan puas.

Di tengah perjalanan perahu bersandar pada sebuah keramba ikan di tengah teluk. Semua penumpang dipersilahkan turun untuk berbelanja hasil laut di teluk ini. Tempat ini adalah pasar apung yang menjual ikan, udang, lobster, cumi, kerang, dan kepiting dalam keadaan masih hidup. Ada berbagai jenis ikan disini, mulai dari yang kecil sampai yang sebesar paha. Para pengunjung bebas memilih mana saja yang hendak dibeli, selanjutnya penjual akan menimbangnya dan meberikan harga. Awak kapal menyuruh saya membeli untuk makan siang nanti, tapi saya hanya tersenyum menolaknya. Disamping keramba, terdapat pula ibu dan anak kecilnya yang menjajakan daganganya berupa buah-buahan menggunakan sampan kecil. Diantara buah buahan yang dijual adalah buah naga, pisang, jambu, nanas, surikaya, apel, jeruk dan lain-lain. Saya salut dengan perjuangan ibu dan anak perempuanya yang masih berusia kurang dari 12 tahun tersebut. Hanya bermodal sampan kecil yang muat dua orang dan barang daganganya, tanpa pengaman apapun mereka berlayar keliling keramba ikan yang ada disini. Perlahan lahan ibu itu mendayung sampan menjauhi kami, menuju keramba ikan yang lainya untuk menjajakan daganganya. Rombongan penumpang perahu saya juga sudah mulai kembali masuk ke perahu, membawa sekantong kresek hasil laut yang mmereka beli dari tempat ini. Saya adalah satu-satunya orang asing ditempat ini, sepertinya yang berada dalam satu perahu ini adalah sekeluarga.

Anak2 Vietnam yang membuatku kembali Ceria

Perahu perlahan meninggalkan dermaga ini, berputar mengelilingi bukit-bukit kapur selanjutnya. Jika kita membeli hasil laut dikeramba tadi, awak perahu akan memasakkan untuk kita. Saya melihat awak perahu sibuk mengolah hasil laut yang dibeli oleh serombongan penumpang perahu ini. Setengah jam kemudian masakan siap dihidangkan, semua penumpang bergegas ambil posisi untuk menikmati makan siang di perahu ini. Saya tetap pada posisi saya di depan dek kapal, menikmati indahnya hamparan bukit kapur di sepanjang perjalanan. Anak-anak vietnam yang lucu-lucu menghampiri saya dan bertanya dalam bahasa inggris sekolah dasar yang mereka punya ” What your name…??? ”, tanya mereka pada saya. Anak – anak itu bisa bahasa inggris dengan baik, walaupun kosakatanya masih minim, kenapa orang tua mereka sama sekali tidak bisa ya. ” Are you hungry….???”, anak lain keluar dari dalam perahu dan bertanya pada saya. Sudah jalas saya lapar, dengan mantabnya saya menjawab ”Yes, i am hungry…”. Bocah itu masuk lalu keluar lagi, mengajak saya ikut makan bersama mereka. Saya merasa tidak nyaman saja, mungkin hanya basa-basi dari orang  tua mereka, saya menolaknya dengan lembut. Bocah-bocah Vietnam ini sangat lucu, ada 3 orang bocah berusia 9 tahunan yang selanjutnya selalu menemaniku sepanjang perjalanan pulang. Mereka silih berganti bertanya pada saya, ”Do you like fish..??”, ”Do you like bird..??”, “Do you like Halong Bay..??”, “Do you like Vietnam….”. Bocah bocah ini masih lugu, dan suka sekali di foto. Begitu saya mengambil posisi memotret dengan kamera, mereka langsung ambil posisi dan ACTION. Malahan bocah ini mengajak saya foto bersama-sama. OK, kamera saya set timer dan saya pun berfoto bareng bersama bocah-bocah polos dari anak negeri ini. Tak terasa perahu sudah semakin dekat dengan dermaga Halong City. Bocah-bocah itu menyampaikan salam perpisahan dan melambaikan tangan pada saya saat saya meninggalkan perahu ini. Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, saya buru-buru kembali ke hostel untuk melanjutkan perjalanan ke Hanoi. Ini adalah kesialan saya yang ketiga sepanjang hari ini. Bus ke Hanoi sudah berangkat pukul 12.30 siang tadi, jadi saya terlambat. Memang sewaktu booking tiket tour kemarin, Bus dijadwalkan berangkat pukul 12.30. Perkiraan tour dengan boat selama 4 jam mulai dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Nyatanya saya mendapat berbagai rintangan di lapangan, mulai dari keterlambatan keberangkatan, di oper ke perahu lain, sampai yang paling menentukan keterlambatan adalah gara-gara “Serombongan dengan Nenek Lansia”. Akhirnya saya harus menunggu bus berikutnya pukul 16.00, yang akan membawa saya pulang ke Hanoi.


Perjalanan Bukan Sekedar Destinasi

Dalam perjalanan saya ke Vietnam, inilah misi yang sejak dari awal saya prediksi paling sulit untuk diselesaikan. Selain tempatnya yang jauh dari kota, posisinya juga berada di sebuah pegunungan yang waktu tempuhnya dari Dong Hoi memakan waktu 6 jam lebih. Bagi saya, perjalanan bukan sekedar destinasi. Keluar dari stasiun Dong Hoi kembali saya disambut dengan cuaca yang tidak bersahabat, gerimis lembut menemani perjalanan saya menuju pusat kota Dong Hoi. Saya memilih untuk jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, berharap menemukan terminal bus atau travel agent yang bisa mengantar saya menuju Phong Nha Ke Bang, salah satu taman nasional di Vietnam yang memperoleh gelar Natural World Heritage oleh UNESCO. Pong Nha Ke Bang merupakan sebuah Gua kapur yang besar, terletak di pegunungan kapur sebalah barat laut kota Dong Hoi. Wisata yang ditawarkan adalah trekking menggunakan boat memasuki gua yang lebar dan panjang tersebut, sungguh mengasyikkan bukan. Dong Hoi merupakan kota kecil, tidak lebih besar dari kota Klaten, kampung halaman saya. Pagi hari masih belum banyak aktivitas warga disini, hanya terlihat tukang ojek yang bergantian menawarkan jasa kepada saya. Disamping kanan kiri terdapat ruko-ruko yang nampak baru didirikan. Hampir satu jam lebih saya berjalan kaki menyusuri pusat kota ini, pundak saya terasa terbakar memanggul backpack. Sampai pula saya di terminal Dong Hoi, terminal yang berisi minibus dan bus sebesar metromini, jumlahnya pun tak lebih dari 10 buah. Saya mencoba masuk dan bertanya kepada seseorang yang memberikan layanan tiket disana. Tak seorangpun bisa berbahasa inggris, sampai saya harus menggambar dan menunjukkan peta Phong Nha Ke Bang di print-out yang saya bawa. Lalu salah seorang dari mereka menunjukkan saya tempat, yaitu Ben Xe Namly atau Terminal Namly. Saya tidak tau apa yang dia katakan, letaknya dimana saya juga tidak tahu, dia hanya menunjuk arah dan berbicara dalam bahasa vietnam yang tidak saya mengerti. Terpaksa saya mengandalkan tukang ojek di depan terminal untuk mengantar saya. Sampai di Ben Xe Namly, suasananya tak jauh beda. Hanya ada satu bus yang parkir disana, dan saya tidak menemukan bus bertuliskan trayek ke Phong Nha Ke Bang. Sementara gerimis terus mengguyur kota ini. Tukang ojek berusaha mmbantu saya menanyakan ke petugas di terminal yang sepi tersebut. Dia kembali dengan penuh semangat memberi tahu saya dengan bahasa vietnam, percuma saja saya tidak mengerti maksudnya. Dia aku suruh menulis dan menggambar di kertas kosong tentang informasi tersebut. Baru saya paham maksudnya, bahwa untuk menuju ke Phong Nha Ke Bang memerlukan waktu kurang lebih 6-7 jam. Jika berangkat jam 8 pagi, maka sampai sana jam 2 siang. Jadi pulang ke Dong Hoi paling cepat jam 10 malam. Tambah pusing saja saya mendengar penjelasanya. Saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika saya memaksakan ke Phong Nha, bisa-bisa destinasi berikutnya akan tidak tercapai dan membahayakan kepulangan saya ke Indonesia. Sejenak saya berfikir, tukang ojek pun hanya tersenyum melihat saya terlihat putus asa. Saya memandang ke langit, cuaca kelihatanya tidak bersahabat pula untuk melanjutkan perjalanan ke Phong Nha. Kalau di Dong Hoi saja gerimis sepanjang hari, apalagi di pegunungan sana. Saya memutuskan untuk membatalkan destinasi ini, dan meminta tukang ojek mengantar saya ke jalan raya 1A untuk mencegat Bus umum jurusan Hanoi. Diantarlah saya ke jalan raya 1A, jalan raya utama yang dilewati bus antar kota. Seperempat jam saya menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bus jurusan Hanoi lewat jalan ini. Datanglah sebuah minibus dengan papan nama didepanya bertuliskan ”VINH”, merupakan ibukota Provinsi Quang Binh. Kernet bus menawari saya dengan berteriak ”Vinh….”, saya jawab dengan teriakan ” Hanoi….”. Kembali kernet tersebut berteriak ” Vinh ….Hanoi”, sambil memberikan isyarat kepada saya kalau dari Vinh nanti oper Bus ke Hanoi. Dalam keadaan seperti ini kita dituntut untuk berfikir cerdas dan cepat, karena kesempatan baik belum tentu akan datang dua kali. Yang jelas kita juga harus mempertimbangkan resiko yang ada, jangan sampai asal-asalan naik bus tanpa tau arah tujuan. Bergegas saya melompat ke dalam Minibus, meninggalkan kota Dong Hoi yang masih belum bangun dari tidurnya.

Peeing Massal

Perjalanan ini walaupun penuh rintangan dan hambatan, tetapi memberikanku pengalaman yang berharga untuk memecahkan sebuah masalah dengan cepat dan cerdas. Angkutan antar kota dalam provinsi bukannya bus besar, tetapi hanya sebuah minibus yang besarnya sama dengan ELF di Indonesia. Ongkos dari Dong Hoi ke Vinh adalah 100.000 VND, perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Vinh merupakan ibukota dari Provinsi Quang Binh. Sepanjang perjalanan dari Dong Hoi ke Vinh diselimuti dengan gerimis tebal dan sesekali menerjang hujan. Udara dingin di dalam minibus pun bertambah dingin karena udara luar yang begitu dingin. Semua orang mengenakan jaket dan meringkuk kedinginan. Minibus berhenti menaikkan penumpang dan juga kadang menurunkan penumpang di pinggir jalan, sementara penumpang keluar masuk minibus dengan berlari karena diluar sana sedang gerimis lebat. Gerimis lebat maksudnya yaitu gerimis yang sangat rapat, sehingga menyerupai hujan salju. Hujan seperti ini waktunya sangat lama, bisa seharian penuh tanpa henti seperti di Hue City kemarin. Karena udara yang semakin dingin, saya merasa kebelet kencing dan tak tertahankan lagi. Sementara minibus terus melaju dengan kecepatan penuh, mau minta berhenti sebentar saya juga tidak enak karena bangku saya berada di tengah jauh dari kernet. Tiba-tiba minibus mengurangi kecepatanya dan berhenti di dekat perkampungan penduduk, ternyata ada salah seorang penumpang yang mau turun. Inilah kesempatan saya untuk minta waktu buang air kecil. Saya ikutan turun dari bus dan memberi kode pada kondektur kalau saya mau kecing sebentar. Kondisi waktu itu masih gerimis lebat, tak peduli saya langsung mencari posisi kencing di pinggir jalan. Setelah saya selesai kencing, begitu saya mau masuk ke bus, semua orang di dalam bus berhamburan keluar dari bus. Malahan ada yang membuka jendela dan melompat keluar dari jendela. Ada apa ini, laki-laki dan perempuan semuanya keluar dari bus dan berlarian mencari posisi masing-masing. Ternyata tidak saya saja yang ”ngampet” buang air kecil, buktinya mereka sekarang malah melakukan ”Peeing Massal”. Lega sudah rasanya membuang beban satu ton yang saya bawa sejak tadi. Semua orang kembali ke posisi tempat duduk masing-masing, minibus kembali melanjutkan perjalanan ke Vinh. Saya sempat tertawa sendiri melihat kejadian lucu ini, masa’ orang satu bus cowok dan cewek buang air kecil bersama-sama di pinggir jalan raya hahaha…. Sayalah pemenang lomba buang air kecil tersebut, karena saya yang paling cepet kembali ke Bus :D. Setelah menempuh perjalanan panjang, sampai juga saya di kota Vinh. Ternyata kota Vinh itu cukup besar, banyak gedung-gedung bertingkat disini. Maklum, kota ini adalah ibukota provinsi. Saya sempat melihat Vinh University yang bangunanya megah berdiri di pingging jalan utama kota Vinh. Walaupun kota besar, Vinh bukan merupakan kota Wisata. Pemerintah Vietnam tidak mem-promote kota ini seperti 8 kota wisata lainya, mungkin memang tidak ada tempat wisata yang menarik di daerah ini. Tiba diterminal Vinh pukul 12 lebih 30 menit. Kernet bus memberitahu saya untuk membeli tiket Bus ke Hanoi di bangunan sebelah. Segera saya mengambil backpack dari bagasi dan mencari tiket Bus ke Hanoi. Terminal bus di kota Vinh cukup besar dan ruwet, persis seperti terminal bus Tirtonadi Solo. Ada beberapa loket penjualan tiket bus ke Hanoi, semuanya bertuliskan dalam bahasa Vietnam. Saya mencoba mempelajari time schedule yang dipampang di atas loket penjualan. Seperti biasanya saya mencatat diatas kertas dan berencana memberikanya ke petugas penjaga loket. Tetapi semuanya tidak berjalan dengan mulus, banyak orang lokal yang berkerumun didepan loket bergantian tanpa antrian yang jelas. Tak mungkin saya menyela mereka, terlalu ruwet untuk dijinakkan. Ada seorang bertanya pada saya mau kemana, saya jawab ke Hanoi. Saya sudah menyiapkan uang sebesar 130.000 VND sesuai dengan harga tiket yang tertera di loket. Seseorang tadi mengambil uang saya dan mengitungnya, setelah itu dia mengibaskan uang saya dan memberikan kembali ke saya seolah uang itu tidak cukup untuk pergi ke Hanoi. Saya coba keluar dari keramaian dan mencari sudut pandang lain untuk mendapatkan Bus jurusan Hanoi. Ada seseorang yang bertanya pada saya lagi ”Mau kemana..??”, saya jawab singkat ”Hanoi..”. Dia mengambil uang yang saya bawa dan mengatakan kurang, dengan bahasa Vietnam. Lalu dia mengambil uang disakunya dan menunjukkan ke saya sebesar 150.000 VND. OK, saya ambil dompet saya dan saya tambahkan 20.000 VND, kemudian saya diantar naik ke bus jurusan Hanoi. Hujan gerimis terus mengguyur kta Vinh, bus meninggalkan kota ini pukul 1 siang menuju ke kota impian berikutnya yaitu Hanoi.


Inilah kali pertama saya akan naik kereta api di Vietnam. Saya harus menunggu sampai jam 2 pagi di Stasiun Hue, karena saya ingin sampai di Dong Hoi di pagi hari. Saya tidak sendirian di stasiun, banyak pula yang menunggu kereta api yang sama dengan saya. Satu perbedaan yang pertama dari sistem kereta api di Vietnam dan Indonesia adalah Ruang Tunggu. Di Indonesia begitu masuk peron, kita bisa menunggu kereta api yang akan kita tumpangi di dekat jalur rel kereta api tersebut. Di Vietnam tidak demikian, semua penumpang tidak diperbolehkan masuk ke jalur kereta api sebelum kereta api datang, sehingga pintu yang menghubungkan ruang tunggu dan jalur kereta api terkunci rapat. Saat kereta api datang, penumpang keluar dari kereta menuju pintu keluar yang telah ditentukan. Petugas membukakan pintu ruang tunggu ketika kereta yang akan kita tumpangi sudah datang, hanya tiket yang sesuai dengan kereta yang siap berangkat yang diperbolehkan menuju ke jalur kereta. Mirip seperti Boarding Room di Airport. Setelah kereta api berangkat, pintu ruang tunggu kembali ditutup dan petugas kembali berjaga di ruanganya. Ada cerita yang menarik ketik saya menunggu kereta untuk yang pertama kali ini. Petugas penjaga kereta api yang seharusnya berjaga dan memantau kedatangan kereta malah tertidur. Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, jika tepat waktu maka kereta seharusnya sudah datang. Ada pemberitahuan melalui loud speaker dalam bahasa vietnam yang tidak saya ketahui. Semua penumpang lokal berdiri dan bersiap untuk menuju kereta api, mungkin itu adalah panggilan kereta api yang akan saya tumpangi bersama mereka. Tetapi pintu ruang tunggu masih terkunci rapat,  petugas tidak segera membukakan pintu karena tertidur. Sampai pada detik-detik terakhir dia terbangun karena keributan penumpang yang terjadi. Dia nampak kebingungan dengan mata masih kelihatan mengantuk, membuka pintu ruang tunggu dan lari menuju kereta. Kembali lagi ke  pintu ruang tunggu sambil sibuk menelepon seseorang, mungkin dia menelepon masinis yang hampir memberangkatkan kereta api meninggalkan stasiun ini. Sementara penumpang mengantri, menunggu petugas siap melakukan pengecekan tiket. Petugas itu membuat penumpang panik, dia meminta kami lari dan buru-buru naik ke kereta api. Saya ikutan lari, tetapi tidak tau kereta mana yang akan saya tumpangi, karena disitu tidak hanya ada satu kereta. Saya langsung menuju gerbong yang pintunya terbuka, menunjukkan tiket yang saya pegang dengan nafas tersengal-sengal dan jantung deg-deg an karena takut ketinggalan kereta. OK, masuklah aku ke dalam kereta. Sampai di dalam gerbong saya harus mencari tempat duduk sesuai dengan nomer yang tertera di dalam tiket. Sekarang saya berada di gerbong Hard  Seat, sungguh mengerikan gerbong ini. Hard Seat benar-benar keras kursinya, semua bagianya tersusun dari bilah kayu yang tersusun. Satu kursi hanya muat untuk 2 orang, kepala tidak bisa bersandar karena sandaran belakang terlalu pendek. Banyak manusia tergeletak di jalanan, persis seperti membawa korban perang. Jauh lebih parah daripada kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Saya harus melangkahi puluhan orang di sepanjang gerbong Hard Seat ini. Mungkin ada 3 gerbong Hard Seat yang saya lewati, akhirnya sampai di gerbong Soft Seat. Kondisinya jauh lebih baik, kursi empuk dengan sandaran yang bisa distel. Ada AC di dalamnya, semua penumpang bisa tidur dengan nyenyak, tetapi keadaanya sama dengan kelas bisnis di Indonesia. Kali ini saya harus mencari nomer gerbong dan nomer tempat duduk di kelas ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa berbahasa inggris, saya hanya memberikan tiket yang saya pegang ke seseorang, dengan bahasa vietnam dia menunjuk dengan jari ke arah gerbong depan. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan cewek yang bisa berbahasa inggris, dia duduk di depan saya persis. Lega rasanya telah mendapat tempat duduk. Rasa ngantuk sudah tak tertahankan lagi, alarm saya set pukul 4 pagi, karena sekitar pukul 5 pagi kereta api akan sampai di Dong Hoi.Rasa ngantuk membuat saya lupa akan keadaan, alarm berbunyi dan langsung dengan reflek saya matikan. Satu jam berselang, tepat pukul 5 kereta api berhenti dan saya terbangun. Begitu saya melihat jam, saya kaget setengah mati dan langsung teriak ”Dong Hoi..”. Cewek di depan dan ibu-ibu di samping saya pun terbangun, dia sibuk menoleh ke luar jendela yang gelap untuk memastikan apakah ini stasiun Dong Hoi atau bukan. Saya kebingunan sendiri, dan langsung kabur menuju pintu keluar. Disana tidak ada petugas, sialnya lagi semua pintu gerbong terkunci rapat. Saya mencoba beralih ke gerbong lainya, semua pintu gerbong juga terkunci dengan rapat. Apa –apaan ini, saya tidak bisa keluar dari kereta api kalau caranya kaya gini, gerutu saya. Ada petugas kereta api, saya bertanya dengan bahasa inggris apakah ini adalah ”Dong Hoi”, dia menjawab tetapi tidak jelas dengan bahasa vietnam. Dia menyilangkan kedua tanganya di hadapan saya, apa artinya itu, tambah bikin saya pusing saja. Ternyata artinya kereta berhenti karena Kres dengan kereta lain, sehingga harus berbagi jalur. Lalu, dimanakah stasiun Dong Hoi …???. Apakah sudah lewat atau masih jauh didepan, petugas tidak meberikan jawaban yang jelas, membuat saya semakin panik. Saya balik lagi ke gerbong sebelumnya, berharap ada pintu yang dibuka, benar-benar seperti orang gila yang mondar mandir kebingungan. Saya termenung sejenank disambungan gerbong, jika memang Dong Hoi sudah lewat dan saya tidak bisa turun dari kereta, maka saya akan ikuti kereta api ini sampai ke Hanoi. Tetapi bagaimana saya bisa keluar adri stasiun Hanoi, tiket saya bertuliskan Hue – Dong Hoi. Ditengah-tengah kebingungan saya, ada bapak-bapak yang bersiap keluar dari kereta api dengan membawa beberapa koper. Saya mencoba bertanya kepadanya, mau turun ke ”Dong Hoi” pak…???. Dia mengambil dan membaca tiket saya, lalu mengangguk dua kali. Rasanya seperti minum soda susu disaat saya sedang tidak bisa bersendawa. Lalu ada petuga kereta api wanita yang membawa segebok kunci dan membuka gembok yang mengunci pintu gerbong kereta api tersebut. Oalah, baru saya tau kalau pintu kereta api selalu di kunci jika semua penumpang telah masuk ke kereta, dan pintu akan kembali di buka ketika kereta sudah sampai di stasiun tujuan. Jam 5.30 kereta api berhenti, saya turun dan mencari tulisan ”Ga Dong Hoi” yang artinya stasiun Dong Hoi. Saat keluar dari stasiun, tiket yang kita bawa diperiksa petugas dan diambilnya. Jadi begitu keluar dari stasiun, kita tidak lagi membawa tiket kereta api yang sudah terpakai tersebut. Ternyata sistem begitu sistem kereta api di Vietnam, menurut saya lebih bagus dibanding dengan sistem kereta api di Indonesia. Kelihatanya kita harus belajar banyak dengan negara-negara tetangga kita yang sistemnya jauh lebih baik, walaupun negaranya masih belum dibilang maju pula.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: