Oleh: mantostrip | Februari 5, 2011

Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila


Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila


Matahari sudah semakin tergelincir ke barat, saya terus menggendong backpack tak kenal lelah untuk mencari keberadaan Golden Mosque. Setelah menerobos pasar tradisional depan Quiapo Church, saya mengambil arah kiri untuk menuju ke Masjid Kubah Emas, atau yang terkenal dengan sebutan Golden Mosque. Dari kejauhan tampak sebuah menara masjid berwarna hijau, tetapi kubahnya tidak kelihatan. Saya terus menyusuri jalan besar menuju ke arah menara masjid tersebut. Pundak terasa seperti terbakar, menara masjid masih kelihatan cukup jauh. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah gang sempit yang bertuliskan “Welcome to Barangay 648 – Zone 67. District VI, San Miguel – Manila “, dan di dalam gang nampak sebuah menara masjid hijau yang lebih kecil. Saya sepertinya pernah mendengar nama daerah ini sebelumnya di sebuah acara backpacker yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dengan sedikit rasa was-was dan penasaran, saya mencoba memasuki gang utama perkampungan ini. Saya sering berpapasan dengan wanita-wanita yang mengenakan kerudung, sedangkan laki-lakinya mengenakan kopyah, dan juga tricycle yang dihias dengan tulisan-tulisan islami.

Begitu sampai di perkampungan, saya seperti mengalami dejavu karena apa yg saya lihat di tv sekarang saya alami sendiri. Inilah perkampungan muslim yang padat penduduk, warganya tinggal di rumah sederhana yang berhimpitan antara rumah satu dengan yang lainnya, seperti rumah susun padat penduduk di Jakarta. Begitu saya melintas, perhatian warga yang sedang duduk-duduk dipinggir jalan otomatis tertuju pada saya, saya mesara seperti orang aneh jadinya. Dengan backpack yang saya gendong dan kamera dslr yang tertenteng di tangan, sudah pasti saya teridentifikasi sebagai orang asing disini. Saya hanya berjalan dengan penuh waspada, melintasi kerumunan warga dan anak-anak yang sedang bermain dijalan. Ada bapak-bapak yang nongkrong di warung mengacungkan jempol tangannya kepada saya sambil merapatkan kedua bibirnya seakan memberi ucapan “Salut” sudah berani masuk ke kampung ini. Begitu sampai di Masjid Hijau, saya melihat ada dua orang bapak-bapak yang sedang nongkrong di depan masjid. Saya mencoba ramah untuk senyum dan mengucap salam kepada mereka berdua, tapi jawabanya hanya senyum kecut dan tidak membalas salam dari saya dengan baik. Suasana terasa semakin mencekam, karena saya sudah tau sebelumnya tentang distrik ini yang konon merupakan distrik yang sangat rawan kriminalitas. Saya mencoba masuk ke masjid untuk sholat, mencoba untuk tenang dan santai menghadapi suasana yang agak aneh ini. Begitu masuk masjid saya terkejut karena kondisinya yang kurang terawat. Sialnya lagi, tidak tersedia air setetespun di masjid ini ketika saya hendak mengambil wudhu. Semua bak mandi dan tempat wudhu kering kerontang tanpa air, hanya ada selang yang masuk ke bak yang tidak mengalirkan air sama sekali. Akhirnya saya keluar lagi dari masjid, mencoba bertanya pada 2 orang bapak-bapak yang ada di luar tadi. Dengan tanggapan yang dingin, saya pun diantar salah satu temannya untuk mengambil air wudhu di rumah warga. Sambil bejalan di rumah warga, saya mencoba ngobrol dengan seorang pemuda yang mengantar saya tersebut seputar perkampungan ini. Ternyata saya diantar ke rumah ketua pengurus masjid tersebut dan dipersilahkan mengambil air wudhu disebuah kamar mandi. Setelah itu saya diantar kembali lagi ke masjid untuk menunaikan sholat. Setelah sholat selesai, saya mencoba ngobrol dan memperkenalkan diri dengan kedua bapak yang duduk di depan masjid tadi. Kampung ini ternyata sudah ada sejak tahun 1964, dihuni oleh pendatang muslim dari Mindanao. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang menghuni kampung ini, kesemua warganya beragama Islam. Karena mungkin mencium keluguan saya, bapak itu memperingatkan kepada saya untuk tidak masuk ke gang-gang sempit yang ada di kampung ini. Saya disarankan untuk melintasi jalan utama di kampung ini saja, karena sangat berbahaya jika masuk ke gang yang lebih dalam. Kata beliau, saya bisa ditusuk dan dirampok oleh warga yang berniat jahat disini. Wah, ternyata benar juga info yang saya dengar sebelumnya tentang kampung ini. Kampung ini diketuai oleh seorang wanita, yaitu Chairwomen Bae Norhaina Macabato. Dan ternyata bapak yang ngobrol dengan saya tadi adalah adik dari bu Norhaina tersebut, saya sedikit lega ketika tahu hal itu, setidaknya saya ngobrol dengan orang yang baik.

Tak lama kemudian saya undur diri untuk meninggalkan kampung ini, cukup sudah menjejakan kaki ke distrik perkampungan muslim mindanao di kota manila ini. Diperjalanan pulang, saya tertarik dengan sebuah kedai sederhana yang menjual bungkusan nasi putih dengan lauk sepotong daging ayam. Mumpung di distrik muslim, pasti semua makanan disini dijamin 100% HALAL. Hanya 10 PHP atau sekitar Rp 2.000,- untuk sebungkus “Sego Kucing” di kedai Yusuf ini. Setelah kenyang, saya disarankan penjual nasi ini untuk naik tricycle menuju stasiun LRT Coriedo untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun EDSA di Pasay City. Ini kali pertama saya naik Tricycle, yaitu sebuah kendaraaan bermotor cowok (Honda GL-100) yang dimodif dengan menambahkan tempat penumpang disebelah kanannya. Ada tambahan satu roda untuk ruang penumpang, sehingga kendaraan ini memiliki 3 roda, oleh karena itu diberi nama Tricycle. Cukup unik dan kreatif, dan pastinya cukup nyaman naik kendaraan ini untuk berpegian jarak dekat. Sebenarnya angkutan ini menggantikan fungsi ojek, cuman penumpang dibuat lebih nyaman duduk ruangan tersendiri. Tarifnya pun hanya 10-20 Piso atau Rp 4.000,- untuk jarak sekitar 3 km, cukup murah bukan daripada capek jalan kaki ½ jam.


Responses

  1. serem juga neh…salutttt, lanjutkan ceritanya…

  2. btw emang kenapa rawan kriminalitas, justru di perkampungan muslim?

  3. Sip Tos…. salut perjalanan backpacker’an!

    Dungakno iso bareng2 karo arek2, kan wes ono guide e heheheee

  4. ayooo coyy . . budalne kene. bayari aku yo tapi😀

  5. @guru_ndlogok siap membantu pemasaran blog lewat twitter bos

  6. Sudah ada kabar dari siberia bos?

  7. Kalau kampung muslim memang di mana mana rawan, jangankan kampung, kita muslim saja mana ada yang aman

  8. Kalau kampung muslim memang di mana mana rawan, jangankan kampung, kota muslim saja mana ada yang aman


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: