Oleh: mantostrip | Januari 2, 2011

Hati-hati dengan kalimat “Depand on Situation” di Manila


Sopir Taksi yang konyol . . . .

Sedikit cerita konyol ketika saya naik taksi tanpa Argo di Filipina, tepatnya di Manila. Ceritanya bermula ketika saya mencari terminal Bus yang memiliki trayek ke Benaue dari Manila.  Saya melakukan sedikit kebodohan disini, yaitu kurangnya membawa informasi mengenai bus yang memiliki trayek ke Benaue. Karena kurang informasi, akhirnya saya percaya pada teman-teman baru saya dari Filipina yang mengatakan bus jurusan Benaue banyak ditemukan di Pasay, tepatnya di sekitar EDSA. Satu catatan penting tentang sistem bus di filipina adalah tidak ada terminal terpusat untuk bus umum, jadi setiap armada bus memiliki pangkalan sendiri dan memiliki trayek sendiri-sendiri pula. Jangan dibayangkan seperti di Indonesia dimana setiap kota memiliki terminal central, sehingga kita tinggal datang ke terminal jika mau naik bus apa ke jurusan mana. Di Filipina, kita harus tau bus mana yang memiliki trayek kemana dan terminalnya dimana.Di Manila sendiri ada puluhan terminal bus yang tersebar di berbagai tempat dengan anama Armada atau PO Bus yang berbeda. Nah, karena saya kurang melengkapi informasi, akhirnya saya naik LRT dari Coriedo menuju EDSA, selanjutnya saya mencari pangkalan bus Victoria Liner sesuai dengan saran teman-teman saya. Sampai di EDSA Station cukup jalan kaki 500 meter menuju pangkalan bus Victoria Liner tersebut. Begitu sampai di pangkalan bus, saya langsung menuju pusat informasi dan menanyakan trayek bus untuk hari itu juga. Alangkah terkejutnya saya ketika petugas informasi mengatakan “No bus to Benaue”, muka ini rasanya seperti ditampar pakai sandal jepit mendengar jawaban itu. Bercanda nih orang, saya masih belum percaya dan mencoba menuju loket penjualan tiket bus, dan ternyata memang benar tidak ada bus jurusan Benaue. Lemes  sudah kaki ini, saya pun duduk di ruang tunggu penumpang untuk sedikit menenangkan diri dan mencari inspirasi. Bayangan pegunungan Ifugao yang hijau dan sejuk sekarang menjadi gelap gulita tak berwarna. Sampai pada akhirnya saya membuka print-out itinerary dan informasi yang saya bawa. Tertulis “Florida Bus to Benaue” di itinerary saya, disitu hanya mencantumkan alamat dan nomor telpon tanpa menyertakan peta (ini kebodohan saya). Agar  tidak kecewa untuk yang kedua kalinya, saya pastikan dulu memalui telepon apakah dia memiliki bus jurusan Benaue atau tidak. Sedikit lega ketika saya mendengar jawaban “ Yes sir, we have bus to Benau” , rasanya seperti minum es buah di siang hari yang terik. Satu kebodohan saya lagi adalah, saya tidak tau posisi terminal bus tersebut, saya coba membuka peta Metro Manila tetapi tidak ketemu juga.

Saya memutuskan untuk naik Taksi saja, daripada saya kesasar kemana mana karena tidak tahu jalan dan waktu sudah malam. Ada lagi kesialan saya karena terlalu percaya pada supir taksi, dengan negosiasi yang alot saya menyerah dengan harga  450 PHP. Sebelum memutuskan harga, terlebih dahulu saya telpon Bus Florida tentang waktu perjalanan dari Pasay ke terminalnya, karena jawabanya adalah sekitar 1 jam tergantung kondisi lalu-lintas maka saya sepakati harga itu dengan membandingkan tarif taksi di Jakarta. Pelajaran kali ini adalah jangan terlalu baik dan percaya pada supir taksi umum, usahakan mengetahui posisi tempat yang dituju dan menyarankan Taksi menyalakan Argo. Dalam kasus ini, Taksi memang tidak memiliki Argo, jadi terpaksa kita melakukan tawar-menawar yang sengit. Dengan dalih sebagai taksi resmi untuk Victoria Liner, dia akan memberi kita berbagai macam argumen yang membuat kita percaya. Hati-hati dengan kalimat “Depend on the traffic situation”, itu artinya supir taksi akan meminta tambahan ongkos dari harga kesepakatan semula ketika kondisi lalu lintas macet. Nah anehnya, definisi macet disini yang menentukan adalah si supir taksi tersebut bukan kita. Hati-hati juga dengan  rayuan gombal supir taksi yang super melow, saat sedang diperjalanan si supir taksi cerita mengenai kehidupan ekonomi keluarganya yang sulit, anaknya banyak, sulit mencari penumpang, baru sekali ini mendapatkan penumpang, biasanya memberi tarif sekian, dsb, menurut saya itu hanya jebakan agar kita belas kasihan pada dia dan ujung-ujungnya dimanfaatkan untuk meminta ongkos tambahan. Terbukti ketika saya sudah sampai di terminal bus, begitu saya memberikan uang 500 PHP, supir taksi tidak mau memberikan kembalian dan bilang “ I hope you known the situation, the traffic is heavy”. Heavy dari hongkong…!!!, perjalanan perasaaan lancar-lancar saja dan hanya memakan waktu ½ jam, harusnya saya cuman bayar 300 PHP jika menggunakan Argo, kok dikasih 450 masih saja merengek minta tambahan. Dengan nada marah saya pun bilang “ Not Heavyyy, No traffic jump, we only took 30 minutes…give me my changes ..!! “, dan supir  taksi itu pun “ngedumel” dengan bahasa tagalog yang tidak saya mengerti sambil memberikan kembalian ke saya. Begitu dapat kembalian, saya segera keluar dan meninggalkan taksi konyol tersebut. Setelah tau tempatnya, saya baru sadar kalau saya melakukan hal yang sangat bodoh. Ternyata terminalnya berada di dekat District Quiapo, tempat saya jalan-jalan siang tadi, bodoh sekali saya  !!!.


Responses

  1. Keren mas pengalamannya. Terkadang sesekali kita perlu juga untuk pernah mengalami kejadian yang seperti “ini”, agar kita belajar dan memahaminya. Bagian yang lucu …seperti di tampar pakai sandal jepit… pasti bunyinya “KEPLAK” (hahahah :p). Nggak ada yg lain mas??

  2. Hahaha . . . . ingetnya cuman sandal jepit kalau mau nampar😀

  3. mas….sampean gak ada rencana pergi lagi ya????suwun


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: