Oleh: mantostrip | Oktober 24, 2010

Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil



Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net😀 ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air😀. Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan😀. Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3


Responses

  1. […] menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon […]

  2. sy jg gak bisa renang tp klo u’ snorkling yg penting jangan panik. sebelum masuk air belajar nafas dulu dgn snokle, kalo dah lancar baru deh nyemplung.

    sebesi-sebuku-umang2-krakatau slalu jd impian, moga aja thn ini bisa mlipir ke lampung lg🙂

  3. […] menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: