Oleh: mantostrip | Juni 18, 2010

Lunch Bersama Sahabat Baru @Hanoi : Bun Cha & Es Tebu



”Why so serious……”, hape saya bergetar dan ringtonenya berbunyi. Sms saya terima, Marijo menanyakan apakah kita jadi makan siang bersama hari ini. Kesempatan makan bareng dengan teman tidak mungkin saya lewatkan. Kami bertemu dia di depan pintu gerbang Ngoc Son Temple. Dia nampak memakai pakaian kerja, dandananya rapi seperti orang kantoran. Orang Filipina memang sekilas nampak seperti orang Indonesia, sampai saya kadang latah ngomong pakai bahasa Indonesia denganya. Dia sekarang sedang istirahat siang sampai jam 1 nanti. Andrian dan seorang temanya sudah menunggu di ujung jalan, kami segera menemuinya. Semula saya ditawari makan ”Bun Cha”, yaitu seperti barbeque yang berisi daging babi. Sebenarnya saya tidak tau kalau Bun Cha mengandung daging babi, dia tidak menyebutkannya tersirat. Saya hanya ngomong ke dia, lunch apa saja boleh asalkan tidak mengandung ”pork”. Begitu saya mengatakan demikian, mereka membatalkan niat untuk makan Bun Cha dan mengganti dengan makanan lain. Saya diajak makan ”Bit Tet”, yaitu semacam steak daging sapi diatas hot plate, ditambah 2 telur yang diceplok diatasnya langsung. Tidak ada nasi disini, hanya ada roti prancis sebagai pengganti nasi. Makanan ini kami temukan di pinggir jalan, seperti warung biasa saja. Memang kami mempunyai selera yang sama mengenai pemilihan tempat makan. Lebih baik makan di pinggir jalan bersama teman, daripada makan di restauran mewah sendirian. Makan diwarung pinggiran memang lebih terasa nuansa kebersamaannya. Dengan ditambah satu orang teman baru saya, yaitu seorang wanita vietnam temanya Andrian (saya lupa namanya), maka suasana semakin meriah. Kami juga tidak mengalami kesulitan saat order makanan dengan bahasa Vietnam, karena dia bisa dijadikan penerjemah. Makan siang tanpa nasi memang tidak membuat perut ini kenyang, tapi apa boleh buat kalau kebiasaan mereka seperti ini. Saya sebagi tamu di sini, ngikut aja apa kata tuan rumah yang mau men-traktir. Anehnya makan disini, kita tidak ditawari mau minum apa seperti di Indonesia. Dan di warung ini sepertinya juga tidak menyediakan minuman, kalau kita minta minum mungkin akan dicarikan di warung sebelah yang jual minuman. Setelah mencicipi lunch ringan, saya diajak mencari minuman di sisi jalan yang lain. Kini saya diajak minum minuman pinggiran khas kesukaan orang Vietnam. Siapa sih yang tidak mau diajak wisata kuliner di negara lain, nurut saja lah. Marijo menyebut minuman ini dengan nama inggris ”Sugar Juice”, kalau begitu berati mirip dengan ”Cao” di Indonesia. Begitu sampai di tempatnya, hanya ada bapak-bapak yang berjualan minuman kaleng dipinggir jalan. Teman baru saya dari vietnam itu mencoba bertanya, apakah dia menjual minuman ”jus gula” tersebut. Biasanya ditempat ini dia bisa menemukan minuman tersebut. Ternyata benar, penjual tersebut harus membuatnya dahulu didalam rumah. Saya diminta Marijo untuk masuk, melihat proses pembuatan dari jus gula tersebut. Tapi saya memilih untuk menunggu hasil jadinya saja, duduk di dingklik pendek pinggir jalan. Sekitar 10 menit kami menunggu, bapak penjual membawa segayung jus gula dan menyiapkan 3 gelas berisi es batu. Jus segayung dibagi menjadi 3 gelas, teman saya Andrian tidak begitu menyukainya jadi kami hanya memesan 3 gelas. Begitu mencicipi rasanya, lidah saya mengatakan ini adalah rasa dari air tebu. Setelah saya tanya pada Marijo tentang bahan dari jus ini, kata dia berasal dari batang pohon penghasil gula. Tak salah lagi kan, ini adalah air tebu yang sama seperti yang biasa dijual di pinggiran jalan di Indonesia. Tapi beda lah, ini kan pohon tebu dari Vietnam, bukan dari Indonesia. Ketika saya ingin mengabadikan tempat ini, saya terkejut karena kamera saku saya tidak ada. ” I am forget my camera….”, ucapku diantara perbincangan kami. ”Camera…….you forgot your camera….??, tanya Marijo tak percaya. Saya teringat terakhir kali saya menggunakan kamera adalah ketika saya mengambil gambar Bit Tet diwarung sebelumnya. Menurut perkiraan saya, kamera tertinggal di meja makan dan saya lupa membawanya saat pergi. Marijo segera berdiri dan menemani saya menuju ke warung tadi, sementara Andrian dan teman wanitanya menunggu ditempat ini. Marijo tampak serius membantu saya, dengan sepatu semi highheel dia berjalan sangat cepat. ”Are you OK…..?”, tanyaku kepadanya karena saya melihat dia tidak nyaman jalan cepat-cepat dengan sepatunya. ”Don’t worry….I am very confort use my shoes”. Sesampainya di warung, Marijo membantu saya bertanya ke penjual tentang kamera saya yang mungkin ketinggalan dimeja sini. Dengan bahasa Vietnamnya yang mesih belum lancar, penjual nampak tidak begitu paham dan mengerti masalahnya. Sementara saya sibuk mencari kamera disela-sela meja makan yang sedang ditempati oleh pengunjung lain. Tak kehilangan akal, Marijo telpon temanya orang Vietnam tadi dan menyerahkan handphonenya pada si penjual. Saya sudah menyerah, mungkin memang sudah diambil orang dan dibawa pulang. Saat si penjual sedang bicara ditelpon, tiba-tiba saya menemukan kamera saya terselip di antara kertas di tas saya. ”Marijo…..i am so sorry…..i just found my camera here….”, dia tersenyum dan mengatakan pada si penjual kalau sudah ketemu. Betapa malunya diriku, membuat semua orang menjadi repot karena keteledoranku. Kami kembali ke warung es tebu tadi, menghabiskan minuman yang tadi masih belum habis. Sepertinya waktu istirahat teman-teman saya ini sudah habis, kami berpisah disini untuk sementara waktu.


Responses

  1. Aku seorang Ibu yang suka traveling, ada nggak ya ibu2 seusiaku yang mau diajak exploring di Indonesia supaya aku tidak jalan sendiri.

  2. WOuuu . . .salam traveler ibuu . . .

    Coba aja gabung di forum backpacker atau traveler di FB bu, pasti ada temennya🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: