Oleh: mantostrip | Juni 1, 2010

Halong Bay : Dari nenek2 yang bikin bete sampai Bocah2 yang bikin ceria…


1 Day Tour to Halong Bay

Pagi hari jam 7 saya sudah keluar dari kamar hotel, menunggu jemputan minbus yang akan membawa saya menuju dermaga perahu wisata. Pintu hotel nampak masih terkunci, penjaga hotel juga masih terlelap tidur di kamar depan. Begitu saya menampakkan suara, penjaga pun bangun dan membukakan pintu hotel untuk saya. Satu jam saya menunggu di loby hotel, tapi tak satupun minibus yang mampir menjemput saya. Kelihatanya saya memang sendirian dihotel ini yang mengambil paket tour tersebut. Jam 8.15 seseorang membawa sepeda motor berhenti didepan hotel, selanjutnya bertanya pada saya tentang paket tour. Mungkin karena saya hanya sendiri, jadi tidak efektif bila dijemput dengan minivan. Saya diantarkan menggunakan sepeda motor ke dermaga perahu. Sebenarnya memang tidak jauh dari hotel, jalan kaki mungkin cuman 20 menit. Perahu sudah terisi oleh beberapa orang, kebanyakan dari mereka adalah wisatawan lokal. Saya melihat ada seorang britanian yang asyik membaca sebuah buku. Saya punya teman sesama orang asing disini, lumayan bisa jadi teman ngobrol. Perahu berangkat jam 9, tidak sesuai yang dijadwalkan. Cuaca terlihat kurang bersahabat, kabut nampak menyelimuti kota ini. Perahu mulai berjalan meninggalkan dermaga menuju Halong Bay. Saya tidak tau rute sebenarnya yang akan diambil oleh perahu ini. Lima belas menit perjalanan, perahu mulai merapat ke sebuah dermaga yang terletak di pinggir bukit kapur yang terdekat. Banyak sekali perahu yang bersandar disana, diatas bukit nampak lambang UNESCO World Heritage terpampang dengan jelas. Penumpang perahu mulai turun ke dermaga, menuju sebuah pintu masuk keramaian. Ternyata disana terdapat sebuah Gua besar, inilah destinasi pertama tour kali ini. Nahkoda perahu membagikan tiket kepada semua penumpang, kecuali saya. Saya sempat protes kepadanya, kenapa saya tidak diberikan tiket gratis. Tetapi dia bersikeras tidak memberikannya pada saya, membuat saya sedikit kehilangan mood untuk berwisata. Saya mencoba pinjam tiket yang dibawa teman saya dari inggris tersebut, ternyata tiket yang dia bawa bertuliskan included entrace ticket. OK, saya menyerah karena kesalah pahaman pemesanan paket tour ini. Saya tidak akan masuk Caves ini, saya tidak tertarik untuk masuk Gua ini. Teman saya dari Inggris setia menunggu saya, tetapi saya persilahkan untuk masuk duluan saja. Tinggal saya sendirian disini, sedangkan nahkoda perahu telah memindahkan perahunya ke pintu keluar Gua. Sekian lama saya larut dalam ke-betean ini, akhirnya saya berfikir logis. Jika saya tidak masuk Gua ini, saya tidak akan bisa kembali ke perahu saya, karena perahu sudah pindah ke dermaga depan pintu keluar Gua dibalik bukin kapur ini. Tiket seharga 40.000 VND akhirnya terpaksa saya beli, segera saya berlari menaiki anak tangga menuju pintu masuk gua ini. Mempercepat langkah untuk menemukan teman serombongan tadi. Ditengah Gua saya akhirnya menemukan teman saya dari Inggris. Gua ini memang sangat besar, memiliki stalaktit dan stalakmit yang indah. Lampu hias warna warni sengaja ditambahakan sebagai penerangan dan mempercantik interior gua. Manusia berjejal didalam berjumlah ratusan. Saya adalah orang yang memiliki penyakit ”Panic Room”, syndrome perasaan tidak tenang jika berada di ruang tertutup. Jadi saya tidak betah lama-lama di tempat tertutup seperti ini. Sampai di pintu keluar, perahu sudah menunggu, jika rombongan sudah berkumpul maka perahu akan melanjutkan perjalanan mengililingi bukit-bukit kapur yang tersebar di Halong Bay.

Serombongan dengan Nenek2  yang bikin bete

Semua rombongan sudah lengkap, saatnya melanjutkan perjalanan mengelilingi bukit kapur di Halong Bay. Nahkoda kapal menginstruksikan kepada rombongan untuk naik perahu yang sudah bersandar. Nampaknya ini bukan hari baik bagi saya, kembali saya mendapat ketidaknyamanan. Yang memilih paket tour 6 jam saja yang boleh masuk ke perahu, sedangkan yang memilih paket tour 4 jam dioper ke perahu lain. Dan sialnya, ternyata hanya saya saja yang mengambil paket 4 jam di rombongan tersebut. Saya di oper ke perahu lain yang masih bersandar dan menunggu rombongan lain datang. Dengan sabar saya menerima keadaan yang tidak mengenakkan ini. Setelah sekian lama menunggu, tak juga nampak tanda-tanda perahu mau berangkat. Sementara perahu-perahu di sebalah saya satu demi satu meninggalkan dermaga. Saya mencoba bertanya pada 2 orang awak perahu ini, jam berapa akan berangkat ke Halong Bay. Tak seorangpun dari mereka bisa bahasa Inggris, ngomong cas cis cus yang tidak saya mengerti makksudnya. Dua orang awak perahu tersebut lalu keluar dari dalam perahu, seolah-olah resah menunggu rombongan yang lama sekali belum keluar dari gua. Kembali saya bertanya pada awak perahu yang lain, dia perempuan, siapa tau bisa bahasa Inggris. Kapan perahu ini akan berangkat ??, dia hanya menjawab dengan satu kata ” Now….”. Kuping saya yang sudah sensitif sulit menerima kata yang dia ucapkan, dia bilang ”Now” atau ”No” ya, keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. Saya kembali bertanya padanya, dan dia jawab lagi dengan berteriak ”Now…”, kali ini saya tidak salah dengar nampaknya. Dia kelihatan melihat serombongan yang menuju ke perahu ini. Alahkah terkejutnya ketika saya melihat seorang nenek yang usianya sudah lebih dari 80 berada dalam satu rombongan tersebut. Nenek itu berjalan dengan sangat lambat, maklum sudah lanjut usia. Baru saya tahu kenapa rombongan ini begitu lambat. Bayangin saja, seorang nenek berusia 80 tahun harus trekking didalam gua yang memiliki anak tangga naik dan turun. Harap maklum dan bersabar saja satu rombongan dengan lansia ini. Perahu meninggalkan dermaga sekitar pukul 11.30, itu artinya pukul 14.00 saya baru sampai di dermaga  Halong City. Cuaca yang kurang bersahabat membuat keindahan Halong Bay berkurang, kabut putih membuat bukit-bukit kapur yang tersebar di teluk tersebut terlihat suram. Saya tidak bisa mengambil foto lanskap yang bagus, karena jika dari kejauhan pemandangan akan nampak suram. Sungguh indah sebenarnya pemandangan disini, air tenang dan gugusan bukit kapur membuat kita serasa berada di negeri Avatar. Ini adalah musim Autumm di daerah ini, waktu paling bagus berkunjung adalah pada musim panas diantara bulan Mei – Agustus. Saya ingin kembali kesini pada bulan tersebut untuk waktu mendatang, dan memilih paket tour untuk 6 jam atau 3 hari, pasti mantab dan puas.

Di tengah perjalanan perahu bersandar pada sebuah keramba ikan di tengah teluk. Semua penumpang dipersilahkan turun untuk berbelanja hasil laut di teluk ini. Tempat ini adalah pasar apung yang menjual ikan, udang, lobster, cumi, kerang, dan kepiting dalam keadaan masih hidup. Ada berbagai jenis ikan disini, mulai dari yang kecil sampai yang sebesar paha. Para pengunjung bebas memilih mana saja yang hendak dibeli, selanjutnya penjual akan menimbangnya dan meberikan harga. Awak kapal menyuruh saya membeli untuk makan siang nanti, tapi saya hanya tersenyum menolaknya. Disamping keramba, terdapat pula ibu dan anak kecilnya yang menjajakan daganganya berupa buah-buahan menggunakan sampan kecil. Diantara buah buahan yang dijual adalah buah naga, pisang, jambu, nanas, surikaya, apel, jeruk dan lain-lain. Saya salut dengan perjuangan ibu dan anak perempuanya yang masih berusia kurang dari 12 tahun tersebut. Hanya bermodal sampan kecil yang muat dua orang dan barang daganganya, tanpa pengaman apapun mereka berlayar keliling keramba ikan yang ada disini. Perlahan lahan ibu itu mendayung sampan menjauhi kami, menuju keramba ikan yang lainya untuk menjajakan daganganya. Rombongan penumpang perahu saya juga sudah mulai kembali masuk ke perahu, membawa sekantong kresek hasil laut yang mmereka beli dari tempat ini. Saya adalah satu-satunya orang asing ditempat ini, sepertinya yang berada dalam satu perahu ini adalah sekeluarga.

Anak2 Vietnam yang membuatku kembali Ceria

Perahu perlahan meninggalkan dermaga ini, berputar mengelilingi bukit-bukit kapur selanjutnya. Jika kita membeli hasil laut dikeramba tadi, awak perahu akan memasakkan untuk kita. Saya melihat awak perahu sibuk mengolah hasil laut yang dibeli oleh serombongan penumpang perahu ini. Setengah jam kemudian masakan siap dihidangkan, semua penumpang bergegas ambil posisi untuk menikmati makan siang di perahu ini. Saya tetap pada posisi saya di depan dek kapal, menikmati indahnya hamparan bukit kapur di sepanjang perjalanan. Anak-anak vietnam yang lucu-lucu menghampiri saya dan bertanya dalam bahasa inggris sekolah dasar yang mereka punya ” What your name…??? ”, tanya mereka pada saya. Anak – anak itu bisa bahasa inggris dengan baik, walaupun kosakatanya masih minim, kenapa orang tua mereka sama sekali tidak bisa ya. ” Are you hungry….???”, anak lain keluar dari dalam perahu dan bertanya pada saya. Sudah jalas saya lapar, dengan mantabnya saya menjawab ”Yes, i am hungry…”. Bocah itu masuk lalu keluar lagi, mengajak saya ikut makan bersama mereka. Saya merasa tidak nyaman saja, mungkin hanya basa-basi dari orang  tua mereka, saya menolaknya dengan lembut. Bocah-bocah Vietnam ini sangat lucu, ada 3 orang bocah berusia 9 tahunan yang selanjutnya selalu menemaniku sepanjang perjalanan pulang. Mereka silih berganti bertanya pada saya, ”Do you like fish..??”, ”Do you like bird..??”, “Do you like Halong Bay..??”, “Do you like Vietnam….”. Bocah bocah ini masih lugu, dan suka sekali di foto. Begitu saya mengambil posisi memotret dengan kamera, mereka langsung ambil posisi dan ACTION. Malahan bocah ini mengajak saya foto bersama-sama. OK, kamera saya set timer dan saya pun berfoto bareng bersama bocah-bocah polos dari anak negeri ini. Tak terasa perahu sudah semakin dekat dengan dermaga Halong City. Bocah-bocah itu menyampaikan salam perpisahan dan melambaikan tangan pada saya saat saya meninggalkan perahu ini. Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, saya buru-buru kembali ke hostel untuk melanjutkan perjalanan ke Hanoi. Ini adalah kesialan saya yang ketiga sepanjang hari ini. Bus ke Hanoi sudah berangkat pukul 12.30 siang tadi, jadi saya terlambat. Memang sewaktu booking tiket tour kemarin, Bus dijadwalkan berangkat pukul 12.30. Perkiraan tour dengan boat selama 4 jam mulai dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Nyatanya saya mendapat berbagai rintangan di lapangan, mulai dari keterlambatan keberangkatan, di oper ke perahu lain, sampai yang paling menentukan keterlambatan adalah gara-gara “Serombongan dengan Nenek Lansia”. Akhirnya saya harus menunggu bus berikutnya pukul 16.00, yang akan membawa saya pulang ke Hanoi.


Responses

  1. mana oleh2nyaaa😛

  2. Tuh foto oleh2nya :p

  3. saya berencana pergi ke hano tgl 18 maret n ke haikou tgl 21 maret,apakah ada saran transportasi yg plg enak naik apa?thanks


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: