Oleh: mantostrip | Mei 28, 2010

Diselamatkan ” Mister Nam ” : Jadi gelandangan di pagi buta, ditengah2 dinginnya kota Dalat


Perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Dalat City memakan wakktu sekitar 7 jam, sebagaimana informasi dari travel agent kemarin malam. Tetapi keadaan berkata lain, jam 4 pagi saya dibangunkan untuk segera turun dari bus yang saya tumpangi. Apakah ini di pom bensin atau di rest area, setengah sadar aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 pagi. Saya turun dari bus, dan semua penumpang bergegas menurunkan barang bawaannya. Di pagi buta sudah sampai di Dalat City, bukanya perjalanan harusnya memakan waktu 8 jam. Turun dari Bus, udara dingin menyeruak menusuk tulang-tulang saya yang masih belum sempurna untuk menopang tubuh ini. Badanku menggigil kedinginan, kedua telapak tanganku terus aku gosok-gosokkan untuk memberikan kehangatan. Ditengah kedinginan, saya harus membongkar backpack untuk mencari print-out tentang Dalat City. Dimanakah sebenarnya saya sekarang berada. Belum sempat mempelajari maps yang aku pegang, ada 2 orang yang menawarkan diri untuk mengantar ke hotel menggunakan mobil. Saya ditanya mau ke hotel apa, saya hanya terdiam dan sibuk membolak-balik lembaran print-out sambil menahan dingin. Sampai akhirnya saya menemukan halaman tentang hotel yang akan saya tuju. Hampir semua penumpang sudah masuk ke dalam mobil, bahkan mobil yang satunya sudah mendahului berangkat meninggalkan saya. Sedangkan saya masih bengong dan tidak tau mau kemana, karena masih terlalu pagi untuk ke hotel. Saya juga belum booking hotel tersebut, dan tidak ada janji apapun kalau mau datang di pagi buta. Sopir mobil itu menghampiri saya, dan mengatakan kalau tumpanganya itu gratis, tidak dipungut biaya sama sekali. Walaupun gratis, tapi saya tidak tau mau menuju kemana, ini masih terlalu pagi untuk ke hostel. Daripada saya kedinginan dan beku di luar terminal yang sangat sunyi senyap ini, saya memutuskan untuk ikut masuk ke mobil dan menunjukkan maps hotel yang saya bawa. Di mobil saya ada 7 orang rombongan orang Vietnam, 2 orang korea dan saya sendirian. Destinasi pertama adalah mengantar orang vietnam tersebut, mobil menuju gang sempit yang menurun dan berbelok yang lebarnya seukuran mobil yang saya tumpangi. Ssssrrrtt….mobilpun sempat selip karena mengerem untuk menghindari terperosok ke jurang ditikungan. Yang bodoh siapa, gang sempit kok masih memaksakan untuk dilewati, mobilpun tidak bisa menjangkau sampai depan rumah. Dan orang vietnam itu pun terus memaksa untuk masuk, pada akhirnya mereka menyerah dan turun di gang tersebut. Tinggal saya dan 2 orang korea yang berada di mobil. Mobil mundur menikung naik, hand rem pun sering dipakai untuk menghindari mobil terperosok. Saat sudah berada dijalan raya, saya mencium bau yang tidak sedap dari mobil tersebut. Dan setiap kali ganti presneling, akan berbunyi ”Groook…kretek2….”, dan supir hanya menatap saya sambil geleng-geleng kepala. Saya tau maksudnya, mobil ini bermasalah karena dipaksakan oleh orang vietnam tadi. Mobil berhenti ditengah jalan raya yang masih sepi, si supir menelepon temannya untuk menjemput kami. Saya dan orang korea tersebut dioper ke mobil yang satunya, yang telah selesai mengantar rombongan yang satunya tadi. Sekarang giliran saya duluan yang diantar di Villa Park hotel, sesuai dengan maps yang saya sodorkan ke si supir tadi. Sampai di Villa Park Hotel, kondisi gelap gulita dan sepi senyap tanpa kehidupan, dan saya harus turun disini dalam kedinginan. Supir mengangguk dan menurunkan tas saya dari bagasi. Dia mencoba membantu saya untuk memencet bel yang ada di depan gerbang, saya bilang ”Don’t….!!!”. Saya belum booking hotel ini, jadi saya akan menunggu disini saja sampai hotel ini buka. Mobil meninggalkanku sendirian dalam kegelapan, berselimut udara dingin menusuk tulang dibawah remang-remang sinar bintang. Didepan Villa Park Hotel ada Hotel yang bertuliskan Recomended by Lonely Planet”. Disini banyak sekali hotel, jadi keesokan harinya saya bisa memilih hotel mana saja yang murah. Saya duduk termenung di pinggir gang yang sempit sambil membolak-balik print-out saya tentang Dalat City. Setengah jam saya jadi gelandangan di pagi buta yang kedinginan, sampai pada akhirnya saya mendengar bunyi gerbang hotel dibuka kunci gemboknya. Tak nampak jelas gerbang yang mana yang dibuka, karena kondisi gelap. Saya melihat bayangan meninggalkan gerbang Villa Park Hostel, segera saya menghampirinya. ”Hello…..are you have one room for me..??”, saya mencoba menyapanya yang belum jauh meninggalkan gerbang. Dia berbalik dan menjawab sambil menghampiri saya, “I am sorry, ..Full “. Lemas sudah kaki saya mendengar ucapan itu, terima kasih dan saya mencoba meninggalkan gerbang itu. Tapi dia malah menawariku masuk, agar tidak kedinginan diluar, “Come in…” . Dengan senang hati saya menerima tawaranya dan masuk ke lobby hotel. Dia adalah “Mr Nam”, salah satu pengelola Villa Park Hotel ini. Saya mencoba bertanya apakah ada hotel murah disekitar sini yang tarifnya dibawah 10 USD. Dia akan mencarikan untuk saya disekitar sini, mungkin didepan ada kamar kosong yang harganya murah. Ngobrol banyak dengan Mister Nam yang baik hati tersebut, tukar menukar mata uang, dan saya banyak diterangkan mengenai wisata di kota Dalat. Sungguh bersyukur sekali, Tuhan telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik sepanjang perjalanan ini. Saya juga ditawari untuk menggunakan internet gratis yang tersedia di hotel tersebut, sambil menunggu saya mendapatkan konfirmasi mengenai hotel yang dicarikanya. Satu jam kemudian saya direkomendasikan oleh Mister Nam untuk menempati hotel milik paman dia yang terletak disampingnya persis. Jam 7 pagi saya diantarkan untuk check-in ke hotel milik pamanya tersebut. Tarifnya 10 USD/kamar, dimana kamar tersebut adalah Double Bed Private Ensuite. Jadi ada 2 buah tempat tidur di kamar tersebut, memang seharusnya dipakai untuk 2 orang bukan satu orang. Seharusnya saya membayar untuk 2 orang, bukan satu orang. Tapi saya tidak tau apakah tariff 10 USD itu standar atau memang rekomendasi dari Mr Nam, yang jelas cukup murah untuk ukuran double bed seperti itu. Saya tidak tahu check-in time nya jam berapa, biasanya afternoon baru bisa check-in. Tapi sekali lagi keberuntungan bagi saya, bisa check-in jam 8 pagi. Selanjutnya bisa mandi, istirahat sejanak, dan meninggalkan backpack untuk jalan-jalan ke tempat wisata kota Dalat. Terima kasih Mister Nam, engkau telah menyelamatkan diriku dari dinginya udara malam waktu itu.


Responses

  1. April ini saya dan 2 teman akan ke HCMC, dan rencananya mampir ke Dalat juga. Semula kami cuma ke HCMC saja. Tetapi setelah baca buku Mas Manto, akhirnya kami memutuskan untuk singgah ke Dalat juga. Boleh ditambah informasi lainnya Mas yang mungkin berguna untuk perjalanan ke Dalat. Soalnya yang pergi cewek semua nih.. hehe.. Thx before.

  2. Kirim emailku aja kalau ada pertanyaan🙂

    thx . .

  3. mas, saya cari di internet dan tanya sana sini, katanya kok ga ada bis malam yang dari ho chi minh ke dalat, tapi mas bilang kok sampai dalat jam 4 pagi, emang mas pake bis malam ya?dapat dimana bisnya? kasi info donk mas..thanks email saya

    lasagna111@yahoo.com

    salam
    anis


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: