Oleh: mantostrip | Mei 28, 2010

Belajar Naik Kereta Di Vietnam : Gara-gara penjaga Boarding Room ketiduran, penumpang panik berlarian


Inilah kali pertama saya akan naik kereta api di Vietnam. Saya harus menunggu sampai jam 2 pagi di Stasiun Hue, karena saya ingin sampai di Dong Hoi di pagi hari. Saya tidak sendirian di stasiun, banyak pula yang menunggu kereta api yang sama dengan saya. Satu perbedaan yang pertama dari sistem kereta api di Vietnam dan Indonesia adalah Ruang Tunggu. Di Indonesia begitu masuk peron, kita bisa menunggu kereta api yang akan kita tumpangi di dekat jalur rel kereta api tersebut. Di Vietnam tidak demikian, semua penumpang tidak diperbolehkan masuk ke jalur kereta api sebelum kereta api datang, sehingga pintu yang menghubungkan ruang tunggu dan jalur kereta api terkunci rapat. Saat kereta api datang, penumpang keluar dari kereta menuju pintu keluar yang telah ditentukan. Petugas membukakan pintu ruang tunggu ketika kereta yang akan kita tumpangi sudah datang, hanya tiket yang sesuai dengan kereta yang siap berangkat yang diperbolehkan menuju ke jalur kereta. Mirip seperti Boarding Room di Airport. Setelah kereta api berangkat, pintu ruang tunggu kembali ditutup dan petugas kembali berjaga di ruanganya. Ada cerita yang menarik ketik saya menunggu kereta untuk yang pertama kali ini. Petugas penjaga kereta api yang seharusnya berjaga dan memantau kedatangan kereta malah tertidur. Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, jika tepat waktu maka kereta seharusnya sudah datang. Ada pemberitahuan melalui loud speaker dalam bahasa vietnam yang tidak saya ketahui. Semua penumpang lokal berdiri dan bersiap untuk menuju kereta api, mungkin itu adalah panggilan kereta api yang akan saya tumpangi bersama mereka. Tetapi pintu ruang tunggu masih terkunci rapat,  petugas tidak segera membukakan pintu karena tertidur. Sampai pada detik-detik terakhir dia terbangun karena keributan penumpang yang terjadi. Dia nampak kebingungan dengan mata masih kelihatan mengantuk, membuka pintu ruang tunggu dan lari menuju kereta. Kembali lagi ke  pintu ruang tunggu sambil sibuk menelepon seseorang, mungkin dia menelepon masinis yang hampir memberangkatkan kereta api meninggalkan stasiun ini. Sementara penumpang mengantri, menunggu petugas siap melakukan pengecekan tiket. Petugas itu membuat penumpang panik, dia meminta kami lari dan buru-buru naik ke kereta api. Saya ikutan lari, tetapi tidak tau kereta mana yang akan saya tumpangi, karena disitu tidak hanya ada satu kereta. Saya langsung menuju gerbong yang pintunya terbuka, menunjukkan tiket yang saya pegang dengan nafas tersengal-sengal dan jantung deg-deg an karena takut ketinggalan kereta. OK, masuklah aku ke dalam kereta. Sampai di dalam gerbong saya harus mencari tempat duduk sesuai dengan nomer yang tertera di dalam tiket. Sekarang saya berada di gerbong Hard  Seat, sungguh mengerikan gerbong ini. Hard Seat benar-benar keras kursinya, semua bagianya tersusun dari bilah kayu yang tersusun. Satu kursi hanya muat untuk 2 orang, kepala tidak bisa bersandar karena sandaran belakang terlalu pendek. Banyak manusia tergeletak di jalanan, persis seperti membawa korban perang. Jauh lebih parah daripada kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Saya harus melangkahi puluhan orang di sepanjang gerbong Hard Seat ini. Mungkin ada 3 gerbong Hard Seat yang saya lewati, akhirnya sampai di gerbong Soft Seat. Kondisinya jauh lebih baik, kursi empuk dengan sandaran yang bisa distel. Ada AC di dalamnya, semua penumpang bisa tidur dengan nyenyak, tetapi keadaanya sama dengan kelas bisnis di Indonesia. Kali ini saya harus mencari nomer gerbong dan nomer tempat duduk di kelas ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa berbahasa inggris, saya hanya memberikan tiket yang saya pegang ke seseorang, dengan bahasa vietnam dia menunjuk dengan jari ke arah gerbong depan. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan cewek yang bisa berbahasa inggris, dia duduk di depan saya persis. Lega rasanya telah mendapat tempat duduk. Rasa ngantuk sudah tak tertahankan lagi, alarm saya set pukul 4 pagi, karena sekitar pukul 5 pagi kereta api akan sampai di Dong Hoi.Rasa ngantuk membuat saya lupa akan keadaan, alarm berbunyi dan langsung dengan reflek saya matikan. Satu jam berselang, tepat pukul 5 kereta api berhenti dan saya terbangun. Begitu saya melihat jam, saya kaget setengah mati dan langsung teriak ”Dong Hoi..”. Cewek di depan dan ibu-ibu di samping saya pun terbangun, dia sibuk menoleh ke luar jendela yang gelap untuk memastikan apakah ini stasiun Dong Hoi atau bukan. Saya kebingunan sendiri, dan langsung kabur menuju pintu keluar. Disana tidak ada petugas, sialnya lagi semua pintu gerbong terkunci rapat. Saya mencoba beralih ke gerbong lainya, semua pintu gerbong juga terkunci dengan rapat. Apa –apaan ini, saya tidak bisa keluar dari kereta api kalau caranya kaya gini, gerutu saya. Ada petugas kereta api, saya bertanya dengan bahasa inggris apakah ini adalah ”Dong Hoi”, dia menjawab tetapi tidak jelas dengan bahasa vietnam. Dia menyilangkan kedua tanganya di hadapan saya, apa artinya itu, tambah bikin saya pusing saja. Ternyata artinya kereta berhenti karena Kres dengan kereta lain, sehingga harus berbagi jalur. Lalu, dimanakah stasiun Dong Hoi …???. Apakah sudah lewat atau masih jauh didepan, petugas tidak meberikan jawaban yang jelas, membuat saya semakin panik. Saya balik lagi ke gerbong sebelumnya, berharap ada pintu yang dibuka, benar-benar seperti orang gila yang mondar mandir kebingungan. Saya termenung sejenank disambungan gerbong, jika memang Dong Hoi sudah lewat dan saya tidak bisa turun dari kereta, maka saya akan ikuti kereta api ini sampai ke Hanoi. Tetapi bagaimana saya bisa keluar adri stasiun Hanoi, tiket saya bertuliskan Hue – Dong Hoi. Ditengah-tengah kebingungan saya, ada bapak-bapak yang bersiap keluar dari kereta api dengan membawa beberapa koper. Saya mencoba bertanya kepadanya, mau turun ke ”Dong Hoi” pak…???. Dia mengambil dan membaca tiket saya, lalu mengangguk dua kali. Rasanya seperti minum soda susu disaat saya sedang tidak bisa bersendawa. Lalu ada petuga kereta api wanita yang membawa segebok kunci dan membuka gembok yang mengunci pintu gerbong kereta api tersebut. Oalah, baru saya tau kalau pintu kereta api selalu di kunci jika semua penumpang telah masuk ke kereta, dan pintu akan kembali di buka ketika kereta sudah sampai di stasiun tujuan. Jam 5.30 kereta api berhenti, saya turun dan mencari tulisan ”Ga Dong Hoi” yang artinya stasiun Dong Hoi. Saat keluar dari stasiun, tiket yang kita bawa diperiksa petugas dan diambilnya. Jadi begitu keluar dari stasiun, kita tidak lagi membawa tiket kereta api yang sudah terpakai tersebut. Ternyata sistem begitu sistem kereta api di Vietnam, menurut saya lebih bagus dibanding dengan sistem kereta api di Indonesia. Kelihatanya kita harus belajar banyak dengan negara-negara tetangga kita yang sistemnya jauh lebih baik, walaupun negaranya masih belum dibilang maju pula.


Responses

  1. wah, seru sekali ceritanya mas..
    oya, bolehkah saya tahu berapa harga tiket kereta api di vietnam?
    rencananya bulan depan akan kesana, saya harus berpindah dari Hanoi ke Ho Chi Minh City . apakah memungkinkan jika menggunakan kereta?
    terima kasih

  2. Mbak Septi,

    Dari HCMC-Hanoi menggunakan kereta sangat memungkinkan. SIlahkan baca buku saya saja mbak, disana sudah lengkap panduan perjalanannya.

    Salam traveler

  3. Malam Mas Mantos,

    Salam kenal.
    Saya baru kenal dengan buku ‘Keliling Vietnam dalam 15 hari’ setelah ada rencana hang out ke vietnam bareng dengan teman group traveler Saya.
    Setelah membaca buku tersebut dan mencoba membuat itenary sendiri (sedikit ‘nyontek’ :D), Saya menemui kesulitan dalam membaca rute KA Vietnam.
    Saya sudah mencoba membuka website yang diberikan, tapi tetap tidak mengerti cara baca-nya.
    Apakah artinya dengan TN.., SE.., … ?? apakah itu no KA-nya?
    Yang berada di kolom paling kiri itu tujuan-nya atau stasiun asal-nya?
    karena timetable tersebut muncul setelah rute Saigon-Hanoi di pilih.

    Terima kasih sebelum-nya ya,
    Yenni


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: