Oleh: mantostrip | Januari 26, 2010

Maaf Mr. Mom : Aku telah berbohong padamu waktu itu


Angkor Wat

Angkor Wat (23 Desember 2009)

Kejadian menarik saya alami ketika saya bersama teman2 sedang ngobrol dengan Supir Tuk-Tuk yang telah setengah hari mengantar kami keliling komplek Angkor Wat. Nama beliau adalah “Mom”, dan selanjutnya kami memanggilnya Mister Mom. Sebelum saya menceritakan kebohongan saya pada Mr.Mom, saya berikan ulasan singkat dulu tentang negara kamboja yang eksotik itu. Kamboja merupakan negara jajahan Prancis, sama seperti tetangganya Vietnam dan Laos. Tak di sengaja ternyata 3 negara yang kami kunjungi adalah bekas jajahan prancis  semua. Berbeda dengan orang Vietnam dan Laos yang sebagian besar penduduknya tidak bisa berbahasa inggris, di kamboja mayoritas penduduknya bisa berbahasa inggris dengan lancar. Siem Reap merupakan kota terbesar kedua setelah ibukota Kamboja yaitu Pnom Penh. Walaupun bukan ibukota, tetapi kemampuan bahasa inggris penduduk Siem Reap jauh lebih baik daripada penduduk ibukotanya sendiri. Tidak lain dan tidak bukan karena Siem Reap merupakan Kota Wisata yang sangat terkenal di seantero Dunia. Banyak sekali Hotel2 berbintang didirikan di Siem  Reap untuk menarik simpati dari wisatawan mancanegara, terutama wisatawan asing dari Eropa yang kaya raya😀. Restoran mewah dari berbagai negara pun ada disana, diantaranya adalah restoran khas China, Jepang, Korea, dan Eropa. Kami mengunjungi Siem Reap dari Pnom Penh menggunakan Bus dengan waktu tempuh sekitar 7 jam. Biayanya cukup murah, yaitu 8 US$ atau sekitar 70 ribu rupiah. Kami menginap di sebuah Guest House yang terletak kurang lebih 6 km dari komplek Angkor Wat.

Kehilangan Arah

Kejadian menarik pertama kami alami ketika kami turun dari bus yang kami naiki dari Pnom Penh ke Siem Reap. Waktu itu yang menjadi time liner adalah Son dan Chimot. Merekalah yang bertanggung jawab penuh dimana kami seharusnya turun dari Bus yang kami tumpangi. Hari sudah gelap sewaktu bus memasuki kota Siem Reap, jadi kami sulit mengidentifikasi lokasi tempat kami harus turun dari Bus. Son dan Chimot kelihatan bingung “tolah-toleh” kanan kiri sambil mencocokkan dengan peta hasil print out Google Maps yang dibawa dari Tanah Air. Bus terlihat sudah melewati pusat kota Siem Reap, tak satupun para “Bule” yang didalam bus beranjak dari tempat duduk. Perasaan saya sudah mulai tidak enak ketika Bus telah melintasi pusat kota Siem Reap dan kembali melintasi jalanan yang lumayan sepi. Karena sudah tidak kuat lagi menahan perasaan gak enak, akhirnya saya mencoba bertanya pada Son

” Son, awakdewe mudun ngendi jeeh…?? ” (Son, kita turun dimana..??), tanya saya pada Son

” Jangkrik …wes klewat adoh jeeh, kebablasen awakdewe “, ($%^&…udah kelewat jauh , kita kebablasan), jawab Son

” Jangkrik….terus mudun ngendi awakdewe..?? “, (%**O#…..terus turun mana kita?), tanyaku lagi

” Mbuh iki…iki bis e ngarah nang Bandara jeeh, mudun Pull e ketok-e “, (Gak tau….ini busnya mengarah ke Bandara, turun di Pull nyakelihatanya), jawab son…

Sesaat kemudian Bus yang kami tumpangi belok kekiri di jalan yang gelap dan persis dipinggiran kota. Tersorot oleh lampu Bus, di depan banyak sekali supir Tuk-Tuk yang berteriak2 menyebut Papan Nama yang  diangkatnya. Dan spontan para Bule disekitar kami pun menengok ke jendela Bus dan berteriak gembira,

“I found my name…yeaaahh….” (Saya menemukan nama saya…asyiik)

Dan kamipun hanya tercengang dengan mulut menganga, kok semuanya pada dijemput sedangkan kami tak tau sekarang berada dimana. Kami segera turun dari bus dan berdiskusi sambil membolak balik peta yang kami bawa dibawah lampu yang remang-remang. Satu persatu penumpang bus pun pergi meninggalkan kami dengan Tuk-Tuk yang menjemputnya. Gusti Allah memang Maha Pengasih dan Penyayang pada hambanya yang tersesat dengan niatan yang baik. Dari sekian banyak Sopir Tuk-Tuk, ternyata masih ada seorang yang tersisa disitu. Dia berusaha menanyakan kebingungan kami yang sibuk membolak balik peta. Dan pada akhirnya sopir tuk-tuk tersebut menawarkan diri untuk mengantar kami ke Guest House yang jaraknya cukup jauh dari tempat tersebut. Saya lupa berapa kami harus membayarnya, seingat saya sekitar 6 US$ untuk 4 orang. Harga yang cukup beralasan dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan tidak ada opsi transportasi lain selain tuk-tuk tersebut. Sampai di Guest House kami ditawari sopir tuk-tuk tadi untuk Tour ke lokasi Angkor Wat seharian penuh untuk keesokan harinya. Setelah tawar menawar harga, akhirnya kami sepakat menggunakan jasa  Tuk-Tuk tersebut untuk mengantar kami keesokan harinya ke Angkor Wat.

No Here, No Thanks

Keesokan harinya tepat pukul 8 pagi, Tuk-tuk sudah menjemput kami di depan Guest House. Kami bergegas berangkat menuju kompleks Angkor Wat. Adapun cerita yang sangat menarik lainya ditengah-tengah perjalanan kami mengelilingi Angkor Wat, silahkan diklik “di sini”. Setelah setengah perjalanan dan setengah hari pula kami keliling Angkor Wat, kami memutuskan untuk makan siang di kedai yang tak jauh dari lokasi Candi. Baru masuk lokasi warung saja kami harus berhadapan dengan perempuan2 yang menawarkan warungnya.

” Please come in number 8, there is cheaps…”, sapa wanita A sambil menarik2 saya

” I call you first mister….please choose  number 6, there is cheaps too”, sahut gadis kecil sambil menarik2 tangan saya

” Number 8 or number 6…….i’ll follow my friends….”, jawabku mengelak

” Please number 6 mister…..i call you first, don’t follow your friend”, rayu gadis kecil tadi

Akhirnya saya mengikuti teman2 yang telah memutuskan untuk makan di Warung Nomer 5, lalu saya bilang  terimakasih ke wanita yang menawarkan Number 8 tadi.

” Thanks you….”, ucapku sambil berlalu

” No Thanks…..because you not here “, jawabnya ketus

Jawaban yang standart, sama seperti ketika saya tawar menawar dengan gadis kecil penjual buku kemarin yang bilang “ No Buy, No Bye”.

Kebohonganku

Kami makan bersama berlima dengan supir tuk-tuk dalam satu meja. Disinilah kami mulai ngobrol dan mengenal lebih dalam kehidupan Supir Tuk-tuk tersebut. Walaupun diantara berlima tersebut saya memiliki kemampuan bahasa inggris yang paling jelek, namun rasa penasaran saya membuat saya percaya diri ngobrol menggunakan bahasa inggris. Ervan dan Son pun akhirnya ikut aktif ngobrol bersama supir tuk-tuk tadi. tak jarang kami bercanda satu sama lain, walaupun kadang tertawanya pun ter-delay beberapa saat karena proses penerjemahan bahasa diotak sedikit lambat😀. Sedangkan Chimot yang bahasa inggrisnya lumayan bagus hanya terdiam dan sesekali ikut tertawa saat kami asyik bercanda. Lama kami ngobrol sampai terlewat menanyakan siapa nama beliau, dan akhirnya kami tahu kalau namanya adalah “Mom”. Kami pun serentak memanggilnya dengan Mister Mom. Iseng2 saya tanya kepada beliau, kenapa bahasa inggrisnya bisa lebih bagus dari kami. Ternyata di Siem Reap pelajaran bahasa inggris diajarkan dalam bentuk “Conversation” selama 2 tahun. Jadi penduduk Siem Riep hanya diajarkan untuk berbicara dengan bahasa inggris tanpa mengetahui baca tulis. Setelah belajar 2 tahun, Mr. Mom praktek dilapangan menjadi supir tuk-tuk selama 7 tahun membawa turis asing yang mayoritas menggunakan bahasa inggris. Dari situlah kami mengetahui kenapa penduduk Siem Riep lancar dalam berbahasa inggris. Menurut pengakuan Mr.Mom, ada  sebanyak 3000 tuk-tuk di kota Siem Reap. Ada paguyupan resmi yang khusus mengelola tuk-tuk sebagai alat transportasi utama di kota Siem Reap. Setiap sopir tuk-tuk diwajibkan memberikan uang setoran untuk paguyuban sebesar 30 US$/bulan sebagai iuran wajib anggota. Uang setoran tersebut digunakan untuk melakukan pembinaan dan pengelolan tuk-tuk yang beroperasi di siem reap, sehingga kesejahteraan mereka terjamin. Bayangkan saja kalau tukang ojek atau tukang becak di indonesia dilatih bahasa inggris dan dibentuk paguyuban yang mendidik, pasti  akan lebih teratur, aman dan nyaman. Ditengah2 ngobrol, saya iseng2 bertanya ke Mr. Mom.

” Have you get married sir? “, tanyaku padanya

” Yes…i have 3 children”, jawab mister mom

” Ouw….when you married? “, tanyaku lagi

” Mmm….9 years ago….may be”, jwab mister mom

” Hmm..it’s so long”, ucapku sambil senyum2

” Are you still single….??”, tanya mister mom pada kami semua

” Yaah….we are single😀 “, jawab kami sambil senyum

” What your age…?”, tanya mister mom ke saya

” Twenty-six. . .”, jawabku

Setelah ini, pertanyaan yang aku takutkan pun datang padaku

” Hmm still young…..Do you have a girlfriends…?”, tanya mister mom padaku

” Yes…i have ?? “, dengam muka masam dan  penuh kebohongan sayapun menjawabnya

” How many..???”, tanya mister mom lagi padaku

” Just one..”, jawabku sambil tersenyum dan melihat ekspresi wajah Ervan, Son dan Chimot yang menatapku penuh tanda tanya, karena tahu kalau aku berbohong hehe . . .

” Wou..why just one??..i have many girlfriend before i get married”, tukas mister mom  sambil tertawa…

” Why you only have one wife, you said you have many girlfriends..???”, tepisku tak mau kalah juga . .

” Hahaha…..because very dificult to control many wife”, jawabnya sambi tertawa…..

Setelah itu mister mom bercerita tentang kehidupan remajanya yang banyak memiliki wanita. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk hanya memiliki satu istri saja. Itulah kebohongan saya terhadap mister mom dihadapan teman2. Terimakasih pada Ervan, Chimot dan Son yang tidak membocorkan rahasia saya yang sebenarnya belum punya pacar kala itu😀. Daripada malu didepan umum dan harga diri runtuh, mendingan berbohong sambil berdalih “girlfriend” kalau diartikan ke bahasa indonesia kan “teman wanita”. Kalau teman wanita saya punya banyak pula, sifat ngeyelku pun kumat. Tapi kenapa kalau punya teman wanita banyak, tadi hanya ngaku cuman punya satu ke mister mom  ..?? (tanya ervan padaku ). . . klepek2 deh aku gak bisa jawab hahaha……


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: