Oleh: mantostrip | Januari 3, 2010

Angkor Wat : No Buy, No Bye


Angkor Wat (23 Desember 2009)

Angkor Wat

Ada cerita menarik ketika saya bersama ketiga teman saya traveling di Siem Reap, tepatnya jalan-jalan seharian di lokasi Angkor Wat. Rabu 23 desember 2009, saya keluar dari guest house pagi-pagi sekali untuk sarapan pagi dan berangkat keliling Angkor Wat menggunakan jasa Tuk-tuk. Kami membeli tiket 1 day, artinya tiket itu hanya berlaku sehari sampai jam 6.30 sore. Menyusuri jalan aspal yang halus ditengah2 hutan lebat, kami menuju destinasi pertama yaitu candi Ta Prom. Begitu tuk-tuk berhenti, saya langsung turun dan bergegas menuju pintu gerbang candi. Bak turun dari bis di terminal, kami disambut hangat oleh dua orang gadis kecil yang menawarkan berbagai macam jenis buku bagus dengan harga yang murah. Misalkan saja lonely planet yang biasa di jual ditoko seharga 150 ribu, disini hanya dijual seharga 60 ribu rupiah.

“Hello mister handsome, where are you from..?? ” , sapaan manis perempuan seumuran anak 5 SD kepada kami semua.
“From indonesia “, jawabku.

Satu orang teman saya langsung ngacir kabur masuk ke area candi untuk melepaskan diri dari penawaran mereka. Sementara dua orang teman saya tertarik membeli buku tersebut dengan salah satu penjualnya. Sementara saya harus mengadapi sendirian berondongan tawaran oleh penjual yang satunya lagi. Dengan bahasa inggris saya dan dia yang pas-pas an, akhirnya pertarungan saya mulai dengan gadis si penjual buku itu.

“I give you discount mister, please buy my book”, rayunya kepadaku
“Your friend has buy the book, why you not buy mister ??” , tanyanya kepadaku
“My friend has buy, so i will borrow this book from my my friend” , tandasku padanya
“It’s different mister, not same….I give you discount”, rayunya sambil menunjukkan buku yang berbeda dengan yang baru saja dibeli teman saya dari temanya
“Sorry, i have no much money” , timpalku lagi

Menurutku itu alasan yg paling masuk akal dan berharap dia tidak menyerangku lagi. Tapi ternyata tidak, dia masih saja punya alasan gila untuk menyerangku.

“You can borrow some money from your friend mister…. ” Sarannya padaku….

Saya sampai kehilangan akal harus bilang apa lagi, dia selalu punya jurus maut untuk menjatuhkan alasanku. Akhirnya saya bilang padanya,

“Sorry, byeee….”, sambil meninggalkannya masuk ke pintu gerbang candi

Dan terkejutnya aku ketika dia berteriak,

“No byee…….because you not buy….”

Aku tertawa sambil berulang ulang mengucapkan kata pisah tersebut, dan selalu dijawab dengan kalimat yang sama olehnya.

Setelah selesai menelusuri candi, saya keluar area candi dan menuju ke danau yang berada di seberangnya. Baru setengah jalan saya melangkah, terdengar terikaan sorang gadis dari jarak jauh

“Helloo mister handsome from Indonesiaa…….”, teriakan gadis itu pada saya
“Helloo .. . . . ” , saya berteriak pula sambil melambaikan tangan dan menoleh ke kedai makanan yang berada sekitar 30 langkah di sebelah kanan saya.

Pulang dari danau, saya dikejutkan lagi dengan terikan gadis itu lagi dari arah yang sama.

“Halloo mister from Indonesia…….please buy my book, i give you discount ”
“Five dollar for you….” , tawaranya sambil berteriak padaku

Tanpa menoleh kearahnya, sayapun berteriak membalasnya dengan penuh percaya diri kalau jawaban saya benar.

“Thank you……..my friend has buy from you……..”, saya berteriak kencang padanya
“Not frooom…..meeee……….

!!! “, dia membalas dengan teriakan yang lebih kencang lagi

Setelah menoleh, saya baru sadar kalau ternyata memang temanku bukan membeli buku darinya, melainkan dari penjual yang satunya lagi. Malunya diriku….sudah berteriak kencang, salah lagi😀. Saya akhirnya berteriak minta maaf padanya sambil tertawa.

” Sorry…..thank you……..byeeee….hahahaa…”

Benar-benar tidak mau kalah, gadis itu mengeluarkan jurus terakhirnya lagi

“No Byeeee………because you not buy……”
“I remember you…….” , ancamanya pada saya
“Ok…thank you…..byeee” , kalimat pamitan saya sambil terus melangkah menuju tuk-tuk
“No byee….”, suaranya semakin lirih terdengar ditelingaku

Sampai pada akhirnya saya sudah berada jauh darinya, dan kalimat saktinya tidak lagi terdengar jelas ditelingaku. Dan sampai sekarang saya di Indonesia, kalimat itu masih saja terngiang ngiang di telingaku. Suatu saat jika saya ditakdirkan kesana lagi dan bertemu dia, saya berjanji akan membeli salah satu dari buku yang dia tawarkan pada saya. “Anak-anak adalah tanggung jawab dari turis”, setidaknya kalimat itu pernah saya dengar dari teman saya yang mengutip dari salah satu buku traveler terkenal.


Responses

  1. wah, menarik cak pengalamane..kapan yo iso dolen2 ng luar??hmmm..
    harusnya traveling seperti itu cukup beberapa hari maksimal hitungan minggu..
    banyak yg bisa di ingat.
    yg penting jgn kelamaan, masuk angin ntar..hehe

  2. Ayo cak…kapan sampeyan gabung, budal nang ndi ngono. Traveling yen luwih ko sepuluh hari rasane yo wes kangen karo sego pecel indonesia cak, dadi rasah suwe2….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: