Oleh: mantostrip | Juli 18, 2009

Ciremai : Tertinggi dan Tergila di Jawa barat


Ciremai, 09-11 April 2009

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 mdpl. Terletak di wilayah kabupaten Cirebon, tepatnya di Kuningan. Pendakian ke Gunung Ciremai dapat dilakukan melalui 3 jalur, yaitu jalur Majalengka, Palutungan dan Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan favorit bagi pendaki walaupun jalur ini terkenal dengan treknya yang sangat berat dan panjang. Gunung Ciremai sangat terkenal dengan legenda Nini Pelet yang tak asing di kalangan pecinta Sandiwara Radio jaman dulu. Pada kesempatan kali ini kami melakukan pendakian ber-6 yaitu (Saya, Chimot, Son, Edo, Purwo, Ervan). Kami melakukan pendakian melalui jalur Palutungan dan turun melalui jalur Linggarjati. Waktu pendakian kali ini sengaja kami pilih saat negara kita sedang mengadakan Pesta Demokrasi untuk memilih wakil rakyat. Kebetulan jatuh pada hari Kamis, sehingga kami mengambil cuti sehari di hari Jum’atnya yang kecepit.

Perjalanan Bekasi – Palutungan

Ciremai1Perjalanan kami mulai dari bekasi untuk Saya, Edo, Son, Ervan dan Purwo sedangakan Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kita janjian ketemu di Terminal Cirebon di keesokan harinya. Kami ber-5 mulai berangkat dari markas bekas1 jam 11 malam naik Taksi ke terminal Bis Pulogadung. Sampai terminal Pulogadung jam 12 malam, segera kami mencari Bus Jurusan Cirebon. Ternyata arus mudik membuat bus jurusan Cirebon habis dan kami harus sabar menunggu kedatangannya. Satu jam sudah kami menunggu “ngenthang” di terminal, tetapi bus tak kunjung datang. Akhirnya kami mencoba mencari bus alternatif jurusan Cirebon. Ada bus mini yang menawarkan trayek Cirebon layaknya bus charteran. Dengan bandrol 40 ribu akhirnya kami terpaksa naik bus kecil dan “umpek-umpek”an di dalam. Karena kami membawa tas gunung yang besar, kamipun tidak bisa leluasa duduk karena tidak ada bagasi untuk menaruh barang. Jam 2 kami berangkat dari terminal Pulogadung menuju Cirebon. Dengam bus mini kamipun tidak bisa melaju dengan kencang, kecepatan maksimum hanya 80 km/jam karena full load. Perkiraan 4 jam perjalanan kami sampai di Cirebon, sehingga pukul 6 pagi kami sudah sampai. Akhirnya kami sampai di terminal Cirebon jam 8 pagi. Kami mencari mushola untuk membersihkan diri dan mnyegarkan tubuh dari rasa ngantuk sambil menunggu Chimot yang masih dalam perjalanan. Beberapa menit kemudian chimot pun datang di hadapan kami, lengkap sudah tim kami. Setelah bersih2 badan, kami segera mencari sarapan untuk mengisi stamina. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Palutungan. Dari terminal Cirebon kami naik Bison atau ELF menuju kota kuningan dengan ongkos 4000 rupiah per orang. Turun di kuningan kami turun dan mencari angkot jurusan ke Desa Palutungan. Sebenarnya tidak ada angkot yang langsung menuju desa Palutungan, tapi karena kami ber-6 jadi kami hanya perlu nambah ongkos untuk mengantarkan kami sampai desa Palutungan. Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya kami sampai di desa palutungan. Di sini kami mencoba lapor ke Pos Pendakian, berhubung Pemilu maka Pos pun tutup sehingga kami langsung melakukan pendakian tanpa ijin😀.

Palutungan – Cigowong

Ciremai2Sekitar jam 11 kami mulai melakukan perjalanan melewati rumah2 penduduk dan kerumunan warga yang sedang sibuk merayakan pesta demokrasi. Setelah melewati kampung, kami melintasi ladang penduduk yang banyak ditanamai wortel. Trek masih cukup landai, sangat cocok untuk pemanasan. Sementara teman saya Edo sudah sudah terlihat pucat karena masuk angin. Tak ada kata menyerah, kami terus berjalanan sampai batas ladang penduduk. Setelaha berjalan selama kurang lebih 1 jam, kami sampai di batas ladang penduduk dan menemui jalan buntu. Jalan menuju ladang dengan jalan menuju puncak hampir sama, sehingga kami tersesat mengikuti jalur petani. Akhirnya kami mencoba balik kucing dan mencari jalur yang benar sambil menerka2 dengan logika untuk mencari jalan yang benar. Tak juga kami menemukan jalan lain selain jalan yang kami lewati tadi. Kami mencoba untuk menerabas ladang penduduk dan melewati hutan, akhirnya kami sampai di ladang penduduk yang lain. DI tengah ladang terdapat jalan setapak yang kelihatanya sudah biasa dilewati orang. Untuk memastikan apakah jalan ini benar, kami menanyakan ke petani yang sedang bekerja. Senang sekali, ternyata kami telah menemukan jalur yang benar. Kami lanjutkan perjalanan dan target pertama kami adalah Pos Cigowong. Perjalanan melewati hutan hujan tropis kami lewati dengan trek yang masih landai. Setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di Pos Cigowong. Pos ini memiliki area luas dan terdapat mata air di bawahnya. Kami menyempatkan untuk istirahat sejenak dan mengisi air minum kami di sungai kecil yang sangat bening airnya. Setelah makan siang dan menunaikan sholat, kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Cigowong – Arban – Tanjakan Asoy – Ngecamp

Ciremai3Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju target kami berikutnya yaitu Pos Arban. Perjalanan masih melalui hujan hutan tropis yang lebat. Sebagai seorang yang mempunya phobia ruang tertutup, saya paling tidak suka dengan trek hutan seperti ini. Ingin rasanya segera lepas dari hutan dan menemukan area terbuka dan bisa memandang langit dan menghirup udara segar. Trek sepanjang perjalanan menuju Arban masih cukup landai. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pos Arban. Disini terdapat pendaki lain yang sedang berkemah, kami hanya berhenti sejenak dan meneruskan perjalanan lagi. Walaupun teman kami Edo sakit2 an dan tak jarang muntah2 di tengah jalan, kami tetap melanjutkan perjalanan sampai menemukan tempat yang cocok untuk mengintai Sunrise. 1 jam perjalanan akhirnya kami sampai di tanjakan Asoy. Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, kami menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu sebelum menjutkan perjalanan. Tanjakan Asoy merupakan tanjakan permulaan yang benar2 memacu jantung dan otot. Trek yang cukup terjal akan dimulai dan berakhir di puncak. Obsesi kami untuk mengejar Sunrise pun kelihatanya mengalami kegagalan. Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, teman kami Purwo mengalami sakit otot kaki. Perjalanan kami pun tersendat2 dan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan berkemah di tengah2 perjalanan. Sementara Edo sakitnya tambah parah, tak terhitung berapa kali dia sudah muntah di sepanjang perjalanan. Setelah mendirikan tenda, kami membuat makan malam sederhanda dari mie intant dan energen. Setelah makan malam, kami segera ambil posisi tidur untuk mengobati rasa lelah. Alarm jam 3 pagi pun berbunyi, kami segera bangun dan berkemas2 untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kami tidak tau berapa lama lagi kami mencapai puncak. Ekspektasi 4 jam perjalanan mencapai puncak mungkin sudah tidak masuk akal lagi.

Pasanggrahan – Gua Walet – Puncak

Ciremai4Sekitar pukul 4 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan kembali untuk menggapai puncak. Kami sudah pupus harapan untuk menikmati Sunrise dan menurunkan target untuk meraih puncak saja. Baru seperempat jam kami berjalan ternyata kami telah sampai di Pos Pasanggrahan. Ternyata kami terlalu dini memutuskan untuk berkemah di tengah perjalanan. Perjalanan terjal sepanjang perjalanan masih terus kami lalui. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami keluar dari hutan seiring terbitnya matahari pagi. Setelah 1 jam perjalanan lagi, kami menemukan Gua Walet. Gua walet terletak di sebelah kanan jalur pendakian. Untuk mencapai Gua ini kita harus menuruni jurang yang dalamnya kurang lebih 30 meter. Di depan Gua ini terdapat area yang sangat luas yang biasanya digunakan pendaki untuk berkemah. Kami menyempatkan untuk turun dan masuk ke Gua kecil ini. Kami sempat mengambil air hasil tetesan air dari atap Gua yang terkumpul di cekungan tanah. Namanya Gua Walet, tetapi tak banyak walet yang bersarang disini. Nggak tau lah, mungkin waletnya belum pada pulang kali😀. Stelah puas menikmati Gua walet, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang sudah terlihat dekat. Perjalanan terjal melalui bebatuan besar kami lalui selama 2 jam, akhirnya kami sampi juga di Puncak Gunung Ciremai. Lega rasanya bisa sampai di puncak walaupun sunrise sudah terlewatkan. Gunung ini memiliki kawah yang sangat besar yang masih mengeppulkan asap belerang. Untuk mengelilingi puncak memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Di sebelah timur terlihat Gunung Slamet . Di puncak terdapat tempat untuk berkemah juga. Di balik tumbuhan perdu dan edelweis kita bisa mendirikan tenda dan terlindung dari angin. Ada area datar yang bisa di jadikan tempat upacara bendera pada 17 agustus pula. Setelah menghabiskan waktu 1 jam berfoto dan menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Linggarjati. Untuk mendapatkan jalur Linggarjati dari arah palutungan, kita harus menyusuri lingkaran sebelah kanan puncak selama kurang lebh 1 jam. Sampailah kita di tugu pendaratan jalur Linggarjati.

Puncak – Dehidrasi – Linggarjati

Ciremai8Jalur linggarjati adalah jalur yang sangat populer, terlihat dari jalannya yang sangat lebar dan kelihatan sering dilalui pendaki. Kurang lebih pukul 10 kami mulai menuruni jalur Linggarjati ini. Petunjuk yang kami dapatkan dari internet mengatakan waktu menuruni jalur Linggarjati hanya 6 jam. Dengan patokan waktu tersebut, kami hanya membawa bekal air yang cukup untuk waktu 6 jam. Jika perkiraan waktu tepat, maka jam 5 sore kami akan sampai puncak. Tapi ternyata kami tertipu dengan artikel yang ditulis pendaki gila di internet tersebut. Dengan setengah berlari kami menuruni jalur ini, 6 sudah kami berjalalan tapi tak kunjung kami sampi di dataran rendah. Trek disini sangat gila bagi para pendaki karena sangat terjal. Kami yang turun sesekali harus merangkak karena turunan begitu curam. Waktu 6 jam telah berlalu, dan stok persedian air kamipun telah habis. Di tambah lagi dengan kondisi kesehatan teman kami Edo yang sangat parah. Setiap berhenti dia pasti muntah-muntah, kami yang sehat lama2 ketularan efek sakit tersebut. Haripun mulai gelap, kami harus mengeluarkan senter untuk menerangi jalan. Perjalanan tidak bisa secepat di siang hari. Sampai pada titik dehidrasi kami yang menyiksa. Di pos kami menemukan perndai yang sedang berkemah, tanpa rasa malu kami meminta air minum ke mereka. Air setengah aqua besarpun kami habiskan untuk 6 orang. Terimakasih banget, sedikit mengobati dehidrasi kami. Kami berjalan  lagi tanpa henti, sampai akhirnya kami di ladang penduduk. Sampai disini Saya dan Ervan tergeletak tak berdaya karena kembali mengalami Dehidrasi, sedangkan yang lainnya terus turun meninggalkan kami. Kami berdua terkapar di rerumputan pinggir jalur pendakian. Sampai pada akhirnya ada pendaki yang lewat dan kamipun kembali meminta air minum ke mereka. Segar sekali rasanya, kami bangkit dan melanjutkan perjalanan lagi. Sementara itu, teman saya Chimot mencoba memakan pelepah pisang untuk mendapatkan sedikit air penghilang dehidrasi. Sedangkan si Son dan Purwo meminum air di dalam aqua yang tertinggal di jalan, gak tau itu bersih atau tidak. Dehidrasi benar2 menyiksa kami dan hampir membunuh kami disini. Tak mau melihat jam karena kami sudah frustasi dengan prediksi 6 jam tersebut. Akhirnya sampi juga kami di Pos 1, dimana disiti terdapat sumber air melimpah. Bagaikan kemarau me rindukan hujan, kami langsung melampiaskan kehausan kami dengan minum air sungai sebanyak2nya. Waktu telah menunjukkan jam 9 malam, perjalanan selama11 jam telah kami lalui, jauh dari prediksi awal. Satu jam perjalanan lagi akhirnya kami sampai di Pos Pendakian Linggarjati. Tepat 12 jam perjalanan kami lewati, dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Dua kali lipat prediksi awal kami. Pos pendakian masih terbuka dan dijaga oleh mas kampung setempat. Disebelah pos terdapat warung, tapi sudah tutup karena kemaleman. Tapi kami beruntung, pemilik warung pun membuka pintu untuk kami setelah di ketok2. Nasi lauk telor dadar porsi jumbo pun kami lahap dengan cepat.

Pos Linggarjati – Terminal Cirebon

Ciremai9Karena kemalemen, tidak ada angkot yang beroperasi lagi untuk menuju terminal Cirebon. Akhirnya kami mencharter mobil yang ditawarkan oleh mas penjaga Pos. Dengan mobil Carry angkot kami meluncur ke terminal Cirebon. 1 jam perjalanan kami tempuh akhirnya sampai di terminal Cirebon. Son dan Ervan memutuskan langsung pulang ke Bekasi karena ada keperluan di keesokan harinya. Sedangkan Saya, Edo, Chimot dan Purwo menginap di Hotel sebelah kanan terminal. Kami sengaja menginap karena kondisi fisik kami dan edo benar2 sudah drop. Hotel murahan seharga 60 ribu per kamar pun kami pilih. Keesokan harinya kami berkemas dan mempersiapkan kepulangan ke tempat masing2. Saya, Edo dan Purwo ke Bekasi sedangkan Chimot ke Surabaya. Petualangan kali ini benar2 melelahkan kami. Kami meberikan tiga predikat untuk gunung ciremai ini, yaitu Gunung Tertinggi di Jabar, Gunung dengan Trek Tergila, gunung dengan Pemandangan terburuk sepanjang perjalanan (Red: karena saya tidak suka hutan hujan tropis ). Bagi anda yang suka dengan nuansa hutan hujan tropis, mungkin gunung Ciremai sangat indah adalah pilihan yang tepat bagi anda.


Responses

  1. keren2

  2. Thanks bro….kapok aku mendaki ciremai😀

  3. emang katanya gak fun yah?
    gue juga rencana doang tapi jadinya males mlulu…
    ;))

  4. Aku gak suka Trek pperjalananya, bagusnya di puncak doank…kalau disepanjang perjalanan sesak ditengah hutan, jadi gak menikmati…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: