Oleh: mantostrip | Juni 29, 2009

Merapi : Perjuangan antara Hidup dan Mati


Merapi 07-08 Juni 2008

Merapi 2

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.

Perjalanan menuju Selo

Merapi 5Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.Merapi 3 Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.

Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu

Merapi6Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.

Pasar Bubrah & Puncak Garuda

Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.

Merapi9

Merapi8

Merapi10

Merapi11

Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami

Merapi12Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.

Selamat dari Tebing Curam

Merapi13Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.

Selamat dari Lautan Pasir

merapi20Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.

Diantara Tebing Runtuh

Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….

Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir

Merapi18Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,

Kembalinya Quartet di Babakan

merapi 21Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….

Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..


Responses

  1. […] dari Mantos bisa dibaca disini. Categories: Mounteneering Tags: jalur lahar, merapi LikeBe the first to like this […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: