Oleh: mantostrip | Juni 20, 2009

Ajuno : Duet Menantang maut…..


Arjuno xx-yy Mei 2006

Gunung Arjuno terletak di kabupaten Malang, yang memiliki ketinggian 3.339 mdpl. Gunung Arjuno merupakan gunung yang berdampingan dengan Gunung Welirang, bisa dinyatakan berhimpit karena titik temu dari pendakian kedua gunung ini ada di tengah. Jika ingin melintas Gunung Arjuno-Welirang kita bisa terlebih dulu mendaki Arjuno dilanjutkan ke Gunung welirang atau sebaliknya. Di puncak Gunung Arjuno anda bisa melihat pemandangan indah hamparan gunung Semeru yang kokoh berdiri lebih tinggi di depan kita, dan juga gunung welirang yang mengepul di samping kita. Jalur Purwosari juga dikenal sebagai jalur To the Point, karena jalur ini melewati trek yang terus menerus naik dan terjal tetapi cepat sampai menuju Puncak.

Pendakian Jalur Ziarah (Purwosari)

Arjuno 1Pendakian saya kali ini hanya di temani oleh seorang sahabat saya dari awal kuiah, yaitu ahmad nawawi yang akrab di panggi Chimot. Waktu itu kami telah lulus kuliah dan sama2 belum mendapatkan pekerjaan, jadi keseharian dihabiskan dengan ngelamar kerja dan berburu wanita😀. Berawal dari keinginan masing2 untuk melepas kepenatan di lab, akhirnya kami berdua memutuskan untuk melakukan pendakian. Sebenernya kami mengajak teman2 yang lain juga, tap karena teman2 punya kesibukan lain akhirnya kamipun harus siap untuk berduet. Bekal yang kami bawapun tidak lebih baik dari pendakian pertama kami di Gn Welirang. Kami memutuskan untuk mendaki melalui jalur Purwosari, yaitu jalur yang terkenal Mistis. Jalur ini memiliki banyak sekali situs2 bersejarah peninggalan kerajaan majapahit yang telah runtuh. Di sepanjang perjalanan masih banyak di temukan tempat2 bertapa dan pemujaan kepada leluhur kerajaan Majapahit. Sehabis sholat subuh, kami berdua bergegas mengangkat ransel yang sudah terpacking dengan sempurna di lab. Berangkat dari kampus elektro ITS menuju ke terminal bungurasih menggunakan sepeda moto Chimot berboncengan dengan saya. Sampai di bungurasih kami mencari Bus Ekonomi jurusan Malang yang nantinya kami akan turun didepan pasar Purwosari. Selama perjalanan, didalam bus kami bertemu dengan bapak2 yang pernah berziarah ke gunung Arjuno. Saya diberikan banyak petunjuk untuk bisa mencapai puncak gunung Arjuno. Kami sangat bersyukur ada malaikat penolong sebelum kami melakukan pendakian, sampai di pertigaan purwosari kamipun turun. Dari situ kami naik Ojek ke Desa Tambak Watu, yaitu desa yang menjadi titik awal pendakian. Sampai dititu kami terlalu pagi, pukul 7 pagi pos pendakianpun belum buka. Kami berusaha mencari tempat untuk bisa sarapan pagi, tapi warung setempat pun belum juga buka. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung melakukan pendakian dalam keadaan perut kosong. Baru berjalan 10 menit pun perut rasanya sudah tidak kuat menahan lapar, kamipun terpaksa membuka bungkusan roti di dalam ransel.

Gua Ontoboego

Arjuno 9Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kami sampai di Gua Ontoboego. Di tempat ini terdapat Gua kecil yang biasanya digunakan untuk bertapa. Disekitarnya terdapat bangunan terbuat dari kayu yang digunakan untuk beristirahat dan berlindung dari hujan. Sampai di pos ini kami berhenti sejenak menikmati segarnya udara pegunungan dan merenggangkan otot2 kaki yang mulai tegang. Setelah seperempat jam kami berjalan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Di tengah perjalanan kami di bingungkan dengan 2 jalur yang terpisah, berfikir sejenak akhirnya kami memutuskan mengambil arah kanan yang jalurnya cenderung naik. Belum jauh berjalan kami berpapasan dengan bapak2 pencari rumput dan bertanya pada kami hendak kemana. Ternyata jalur yang kami lewati salah, jalur kekanan adalah jalan menuju Air Terjun. Walaupun jaur yang kekiri menurun, tapi itu adalah jalur menuju puncak. Hmm…satu malaikat lagi telah menolong kami di perjalanan. 2 jam perjalanan kami sampai di Tampuono. Disini terdapat juga situs2 peninggalan jaman kerajaan Majapahit berupa arca2 dan tempat pemujaan. Tempatnya memang mistis dan berbau menyan. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos berikutnya yaitu Eyang Sokri, disini juga terdapat situs2 pemujaan seperti di tampuono. Dari tampuono ke Eyang Sokri cukup jaraknya cukup dekat, bisa di tempuh dalam waktu 30 menit. Kami memutuskan untuk tidak berlama2 di pos2 mistis tersebut karena banyak sekali orang2 yang sedang bertapa dan melakukan pemujaan. Setelah 2 jam perjalanan, kami menemukan pos berikutnya yaitu Eyang Semar. Seperti halnya pos yang lain, pos eyang semar ini juga masih banyak ditempati oleh para pertapa.

Makuthoromo

Arjuno2Dari Eyang Semar ke Makuthoromo perjalanan mulai menanjak. Kita bisa menikmati indahnya hampara gunung Semeru beserta gugusanya di sepanjang perjalanan. Trek berupa panjat tebing batu besar akan kita lalui sebelum mencapai Makuthoromo. Perjalanan dari Eyang semar ke Makuthoromo kami ditempuh dalam waktu 1 jam. sebelum masuk lokasi makuthoromo, silahkan anda menghadap ke belakang dan rasakan sensasi pemandangan alam yang sungguh mempesona. Sampai di sini kami isturahat sejenak untuk mengisi perut dan bahan bakar kami yang sudah mulai menipis. Persedian air di sini cukup melimpah, anda bisa mengambilnya di belakang pos. Pos Makuthoromo ini adalah pos terbesar dan terakhir di jalur ini. Jika anda memiliki waktu yang cukup panjang, saya rekomendasikan untuk menginap di sini. Selain tempatnya yang luas dan datar, disini terdapat bangunan kayu yang bisa menampung banyak orang jika anda tidak membawa tenda. Pemandangan yang indah akan anda saksikan dari sini, mulai dari gemerlapnya kota lawang di bawah sewaktu malam hari sampai pemandangan dengan view gugusan gunung semeru di pagi hari yang cerah.

Satu jam kami berisitirahat, akhirnya kami memutuskan untuk beranjak dari tempat ini dan mncari tempat untuk mengintai puncak Arjuno. Menurut informasi, puncak arjuno dapat dicapai dalam waktu 4 jam dari sini. Tak jauh dari Makuthoromo kami menemukan tempat lapang untuk berteduh dari terik matahari dan menikmati makan siang. Setelah makan mie instant dan minum energen, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Waktu itu gerimis turun, terasa nikmat tidur siang kala itu. Tak terasa 1 jam telah kami lalui di dalam mimpi, kami bangun pukul 3 sore. Segera kami melipat kembali mantol dan memasukkan ke dalam ransel. Kami lanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran bukit dengan jalur yang terus menanjak. Dua jam perjalanan kami sudah bisa melihat punggungan puncak gunung arjuno yang menghitam. Semangat kami pun terpacu untuk terus berjalan mendekat dan segera mencari tempat terbaik untuk mengintainya dari dekat. Waktu itu maghrib telah menjelang, kami memutuskan untuk bermalam di tengah jalan. Kami berencana melanjutkan perjalanan pukul 2 pagi agar bisa menikmati munculnya Sunrise di ufuk timur dari puncak. Hanya bermodal Sleeping bag dan ponco, kamipun terlelap tidur beratap langit. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun untuk meneruskan perjalanan. Waktu itu purnama tanggal 15 jawa, sehingga jalanan malam tidak terasa gelap melainkan terang benderang oleh sinar bulan yang marun. 2 jam perjalanan kami sampai di puncak Arjuno. Udara dingin menusuk tulang2 dan mematikan sendi2 di kakiku, tapi semangat bergejolak dalam jiwaku yang selalu menghangatkan tubuhku dan menegakkan kakiku. Masih cukup lama menunggu sunrise, kami menikmati gemerlapnya lampu malam kota malang dan sekitarnya yang indah. Bulan purnama terasa dekat di atas kepala kami, seakan menyambut pencaipaan besar kami. Akhirnya fajar mulai menyingsing dari ufuk timur, kami bergegas menyongsong sinarnya yang temaram. Tak lama kemudian mataharipun mulai mengintip dari bali cakrawala yang membenatang. Sungguh pertunjukan Yang Maha Kuasa yang sangat mempesona. Dan semua itu hanya kami lewatkan berdua, tidak ada satu pendakipun yang menikmati Sunrise waktu itu kecuali kami. Setelah matahari mulai naik, kami bisa menikmati hamparan luar cakrawala yang bergambar gugusan gunung semeru nan elok. Di samping terlihat gunung Welirang yang mengepulkan asap belerangnya, sesekali baunya tercium juga. Setelah itu puas menikmati semuanya, ada seorang pendaki datang terlambat. Dia terlihat sangat kecewa karena terlambat mendapatkan Sunrise sampai2 dia meminta kami mengirimkan foto Sunrise kami ke dia.

Dehidrasi pasca Euforia

Setelah puas menikmati Puncak Gunung Arjuno dengan segala keindahanya, kami tak sadar kalau cadangan air minum kami sudah habis. Dan perjalanan turun gunungpun kami jalani tanpa air setetespun membasahi tenggorokan. Setengah perjalnan, saya mengalami dehidrasi yang menyiksa. Badan saya terasa lemas, kaki terasa berat menyangga berat badan. Pikiran sayapun mulai melayang dan yang terbayang adalah bagaimana jika ditengah jalan saya terjatuh dan tewas. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan tidur di atas batu. Tak ada satu orangpun yang memberiku minum, seperti yang aku harapkan. Dengan langkah gontai dan pikiran yang kacau akhirnya saya kuatkan untuk menggapai Pos Makuthoromo. Perjalanan turun cukup curam dan berbahaya jika kita tidak berhati2 dan dalam kondisi yang tidak fit, bisa2 tergelincir ke bawah dan tewas. Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pos makuthoromo. Saya langsung merebahkan tubuh saya di terasa bangunan kayu, sedangkan chimot memasak air dan makanan untukku. Satu jam sudah tidur aku lalui, chimot membangunkanku dan menyuruhku minum dan makan siang. Bdanku sudah beranjak pulih kembali setelah makan siang. Pukul 2 siang kami melanjutkan perjalanan turun, sampai bawah jam 5 sore. Dari Tambak Watu ke Purwosari kami diantarkan warga setempat selayaknya tukang ojek. Dari purwosari naik bus jurusan surabaya turun di bungurasih dan mengambil sepeda motor yang dititipkan. Perjuanganpun berakhir ketika saya telah sampai dikost. Hmmm….sunggu Duet menantang Maut.

Arjuno 6

Menikmati Sunrise

Arjuno 7

Obsesi menaklukkan Mahameru

Arjuno 3

Mengukuhkan Penaklukan Arjuno


Arjuno 8

Gunung Welirang yang Mengepul


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: