Oleh: mantostrip | Maret 13, 2009

Sumbing : Sebuah Prasasti di Kawah Mati


Sumbing (08 – 09 Agustus 2008)

Gunung Sumbing terletak di kabupaten Wonosobo, merupakan gunung tertinggi ke-2 di Jawa tengah setelah Gunung Slamet yaitu 3.371 mdpl. Keberadaan gunung Sumbing bersebelahan dengan gunung Sundoro, seperti layaknya Gunung Merapi dan Merbabu. Jika anda hendak mendaki ke Sumbing dan Sundoro sekaligus, kami sarankan mendaki gunung Sundoro dari sebelah barat turun di sebelah timur gunung di teruskan mendaki ke Sumbing dari arah barat. Dengan demikian anda akan mendapatkan dua kali Sunset dan Sunrise dari setiap Gunung. Dijamin anda akan takjub melihat pemandangan indah ciptaan Tuhan.

Perjanalan Surabaya – Desa Garung (Kopral Chimot)

Pendakian kali ini di ikuti oleh lima orang peserta, yaitu Aku, Chimot, Ervan, Edo dan Purwo. Keberangkatan terpisah menjadi dua Group, dimana aku, ervan, edo dan purwo berangkat dari Bekasi sedangkan Chimot sendirian berangkat dari Surabaya. Kami janjian ketemu langsung di jalan masuk ke Jalur Pendakian Gunung Sumbing yaitu Gapura Desa Garung. Kami akan sedikit saja menceritakan perjalanan teman kami Chimot dari Surabaya sampai ketemu kami di desa garung. Perjalanan dimulai dari Terminal Bungurasih Surabaya, berangkat malam hari sekitar jam 11 menggunakan armada Bus Patas AC EKA jurusan Magelang. Seperti biasanya, Bus EKA berhenti di Ngawi untuk memberi kesempatan bagi para penumpangnya mengisi perut dan beristirahat barang sejenak. Tak menyia-nyiakan kesempatan gratis, gule se mangkuk pun ludes di santapnya…..hmmmm….kelihatanya nikmat (jadi pengen niy..:D). Perjalanan malam di tempuh sekitar 8 jam, dengan ongkos 75 ribu rupiah sampai di terminal Magelang. Sekitar jam 6 pagi sampai di terminal Magelang, tak menunggu lama dia pun langsung mencari santapan pagi di sekitar terminal. Untuk mensinkronkan dengan kedatangan kami, dia pun beristirahat sejenak di mushola sampai menunggu sms dari saya dan teman2 yang sedang dalam perjalanan juga menuju ke Wonosobo. Sekitar jam 9 pagi Instruksi dari mantan Jenderal Garda Republik pun di terimanya, saatnya untuk bergerak menuju Wonosobo. Perjalanan dari Terminal Magelang ke Wonosobo melewati Temanggung menggunakan Bus tiga per empat, dengan ongkos sekitar 5 ribu rupiah. Sepanjang perjalanan pemandangan sangat menarik, di sebelah kiri berdiri kokok Gunung Sumbing yang sebentar lagi akan kami taklukan dan di sebelah kanan berdiri menantang Gunung Sundoro yang sampai saat ini belum berhasil kami taklukkan. Perjalanan dari Magelang ke Wonosobo memakan waktu sekitar 2 jam, jam 11 siang chimot akhirnya sampai di depan Gapura desa Garung. Sedangkan Aku dan teman2 sudah datang lebih dulu, selisih kedatangan kami cuman sekitar 15 menit. Walaupun sudah lama tidak menjabat sebagai Jenderal, ternyata strategi yang diterapkan dari Ex-Veteran ini sangat jitu. Itulah perjalanan Chimot dari Surabaya, selanjutkan akan kami ceritakan perjalanan Group dari Bekasi yang di pimpin oleh Jenderal Adolf Mantos.

Perjalanan Bekasi – Desa Garung (Adolf Mantos, Edo, Ervan, Purwo)

sumbing-1Perjalanan di mulai dari markas besar elits-41 di wisma Jessy Bekasi sekitar jam 7.15 setelah sholat Isya’. Dari Bekasi barat kami langsung bertolak ke Pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung menggunakan Taksi. Perjalanan cukup singkat, hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit kami sudah sampai di tujuan. Tiga puluh ribu rupiah ongkos taksi kami keluarkan dari dompet, lumayan murah daripada ngojek lah. Setelah sampai di pangkalan Bus Sinar Jaya, kami segera menuju Loket pembelian tiket Bus jurusan Purwokerto. Sedikit antrian, kami mendapatkan tiket untuk orang empat dehan harga per tiket sebesar 80 ribu rupiah. Tidak menunggu lama, sekitar jam 9 bus kami sudah mulai meninggalkan pangkalan menuju Purwokerto. Sedikit sial, terjadi kemacetan lumayan panjang di Tol Cikampek. Perjalanan malam yang panjang kami tempuh, tak menyia-nyiakan kesempatan kamipun segera tidur untuk menjaga kondisi tubuh. Pukul 6 pagi kami sampai di terminal Bus Purwokerto, segera kami mencari Mushola untuk sholat Subuh. Setelah sholat, kami segera beranjak untuk mencari santapan pagi. Sarapan sedikit kurang nikmat, mungkin lidah Klaten tidak cocok untuk masakan Banyumasan. Setelah sarapan kamipun langsung mencari bus jurusan Semarang yang melewati Wonosobo, seorang calo telah menunjukkan pada kami tempat Bus Semarangan berada. Sekitar jam 8 pagi bus mulai berangkat dari terminal menuju Semarang, kami segera menanyakan tempat kami turun nanti ke kondektur bus yang kami tumpangi. Sekitar 4 jam perjalanan kami tempuh dengan ongkos 20 ribu rupiah per orang. Setelah sampai di Banjarnegara, Jenderal Adolf Mantos langsung menginstruksikan Letnan Chimot untuk segera bertolakdari terminal Magelang agar kami bisa sampai di desa Garung dalam waktu yang hampir bebarengan. Dua jam perjalanan lagi kami tempuh, akhirnya kami sampai di desa Garung dan kondektur pun memberi tahu kami kalau sudah sampai tujuan. Kami turun dari bus dan mencari2 Gapura desa Garung yang katanya merupakan jalan masuk pendakian ke Gunung Sumbing. Ternyata tak jauh di seberang jalan terdapat palangyang menunjukkan arah pendakian ke Gunung Sumbing, kami segera berjalan dan mencari Toilet di sekitar Masjid sambil menunggu kehadiran Letnan Chimot. Tak lama kami menunggu, suara yang tak asing lagi aku dengar sedang berbincang2 dengan purwo ketika aku sedang di kamar mandi. Sudah pasti, Letnan Chimot telah berada di antara kami. Suasana gembira penuh canda tawa dan suka kami rasakan bersama atas lengkapnya personel kami. Perjalanan segera dimulai….

Perjalanan Gapura Garung – Pos Pendakian ( 1km – 20 Menit)

sumbing-21Perjalanan kami mulai dari Mushola setelah sholat Dzuhur sekitar pukul 12.30, jalan aspal sedikit menanjak sepanjang kurang lebih 1km menuju ke Pos Pendakian. Cukup baik untuk pemanasan sebelum melakukan pendakian yang sebenarnya. Jika anda malas untuk jalan kaki atau tidak ingin membuang energi banyak sebelum pendakian, anda bisa menggunakan jasa Ojek dari Gapura sampai Pos Pendakian. Sepanjang perjalanan kami banyak menemui petani tembakau yang sedang menjemur tembakau yang sudah di rajang di pinggir jalan. Kami juga menjumpai stasiun relay TVRI di sebelah kanan jalan, walaupun kondisinya sudah gak terawat lagi karena sudah lama tidak di fungsikan. Separuh perjalanan kami tempuh, kami bertemu dengan anak2 SD yang baru saja pulang dari sekolah. Menyenangkan melihat anak2 SD yang bisa tertawa ceria tanpa beban di kepala oleh urusan dunia, sedikit ngiri dengan anak2😀. Seperempat jam perjalanan kami tempuh, akhirnya kami temukan Base Camp pendakian Sumbing di sebelah kiri jalan. Sebelum kami masuk ada ibu2 setengah umur memberi tahu pada kami bahwa Base Camp pindah ke Atas karena ditempat ini sedang di gunakan untuk menampung hasil Panen. Tak jauh dari tempat itu, sekitar 5 menit perjalanan kami menemukan Base Camp di kanan jalan, hampir di ujung aspal. Kami langsung menemui mas penjaga pos tersebut untuk mendaftarkan diri kami, pendaftaran 2000 rupiah per orang dan hanya menambah 2 ribu rupiah lagi untuk sebuah peta petunjuk pendakian. Di pos pendakian kami mencoba bertanya kepada mas anton (bukan nama sebenarnya) untuk jalur pendakian yang paling bagus kami gunakan. Di dalam peta terdapat dua jalur pendakian, yaitu jalur baru dan jalur lama. Jalur Lama adalah jalur tertua dari pendakian Sumbing dari Garung, sedangkan Jalur Baru adalah jalur yang di buat lagi karena sempat terjadi kerusakan di Jalur Lama. Sebelumnya kami ingin menggunakan Jalur Baru, tapi kami di larang oleh mas anton dan di anjurkan menggunakan Jalur Lama dikarenakan Jalur Baru rusak dan jalanya tidak kelihatan lagi. Apak kata Penjaga Gunung harus di patuhi lah, daripada nanti terjadi hal2 yang tidak di inginkan.

Perjalanan Pos Pendakian – Genus (4km – 3 jam)

sumbing-3Setelah mendapatkan informasi dan penjelasan, sekitar jam 1 kami beranjak dari Pos Pendakian. Perjalanan untuk menuju ke Jalur Lama harus mengambil jalan di sebelah kiri Masjid, sedangkan jika hendak ke jalur baru harus mengambil jalan di sebelah kanan Masjid. Selepas dari desa garung, perjalanan tanah berdebu dan sedikit menanjak kami tapaki. Sepanjang perjalanan di lereng gunung, kami menemui petani tembakau yang sedang mengerjakan ladangnya. Debu berterbangan di tiup angin gunung yang kencang, benar2 membuat mata ini perih dan hidung enggan bernafas. Slayer penutup hidungpun tidak pernah lepas dari wajah kami, benar2 perjalanan yang membosankan. Terik matahari siang di campur dengan debu kering yang mengepul disela2 kaki kami benar2 membuat kami tak bertahan lama untuk terus berjalan. Belum jauh perjalanan kami, Chimot yang sok perkasa dengan tas gunungnya yang berat pun jauh tertinggal di belakang. Walaupun perjalanan berdebu terasa membuat kami sesak, tapi sesekali kami berhenti dan menoleh ke Belakang yang di suguhi pemandangan menakjubkan yaitu hamparan Gunung Sundoro yang berdiri Perkasa. Perjalanan selama dua jam kami tempuh, akhirnya kami menemukan batas perkebunan penduduk. Sedikit legaa, kami berhenti sejenak sekedar menghirup udara segarr dan meluruskan kaki yang sudah mulai ke capek-an. Tujuan pertama kami adalah Pos Genus yang teletak di KM IV, perjalanan di prediksi memerlukan waktu 3 jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan kami masih berada di ladang penduduk. Kami lanjutkan perjalanan lagi, jalan berdebu dengan kemiringan 25-30derajad masih kami tapaki. Tak lama kemudian kami mulai memasuki hutan dengan vegetasi tumbuhan yang tidak seberapa tinggi. Tiga jam perjalanan sudah kami tempuh, tapi belum juga kami temukan Genus. Kami masih positip thinking untuk terus mendaki, sampai pada akhirnya kami menemukan Bukit yang gundul karena penebangan hutan dan pembakaran. Sungguh di sayangkan, hutan yang harusnya di lindungi malah di tebangi dan di bakar. Kami sudah sedikit frustasi mencari Genus, apakah sudah terlewati atau memang kita terlalu lambat berjalan. Empat sudah kami berjalan, tak ada tanda2 ada pos di sepanjang perjalanan yang bertuliskan Genus. Haah….tak terasa sudah pukul 4 sore, kami memutuskan untuk menunaikan ibadah Sholat Ashar. Di tempat ini angin berhembus sangat kencang di sertai dengan kabut putih dari arah belakang kami. Setelah kami sholat, datanglah seorang laki2 dari arah yang sama dengan kami, dia sendirian saja tanpa teman. Namanya fajri (bukan nama sebenarnya), kami saling sapa dan ngobrol sebentar dengan orang sakti ini. Disaat kami menggunakan jaket tebal dan slayer menutupi kuping untuk menahan dingin, mas fajri malah telanjang dada sambil mengepukan asap rokok dari mulutnya. . . (jan…wong sakti gak duwe adem blas). badan mulai menggigil, saatnya beranjak dari tempat ini agar badan kembali hangat di perjalanan. Genus sudah kami lupakan,dengan keyakinanyang tinggi kami terus menapaki jalan setapak di depan kami. Sepanjang perjalanan kami lalui sisa2 batang pohon hasil penebangan, jalan harus berhati2 karena anda bisa tersandung dan jatuh. Satu jam perjalanan kami lalui sepanjang bukit gundul ini, akhirnya vegetasi rumput dan ilalang yang indah kami temui. Pemandangan Sunset berlatar Gunung Sundoro di belakang kami sungguh indah, kemi menyempatkan duduk di sela2 ilalang untuk sejenak menikmati panorama alam menjelang Sunset yang menakjubkan ini.

sunset-sumbing-2*** Keindahan Sunset di lihat dari Gn. Sumbing berlatar Gn. Sundoro ***

Waktu sudah menunjukkan jam 5 sore, dan perjalanan masih sangat panjang. Kami segera melanjutkan perjalanan untuk menghangatkan kembali badan kami yang sudah mulai menggigil lagi. Perjalanan menyusuri punggungan bukit ini masih saja kami lalui, di seblah kanan kiri mai adalah jurang yang dalam. Satu jam perjalanan kami sampai di tempat yang penuh dengan bebatuan Besar2, inilah tempat yang di namakan Pasar Watu. Ketinggian di tempat ini mencapai 2437 mdpl, yang berada di antara KM V dan KM VI. Kami merasa lega setelah mendapatkan tempat ini, yang artinya kami sudah melewati Genus yang dari tadi kami cari. Menunggu waktu maghrib lewat, kami duduk2 bersandar diantara bebatuan besar untuk berlindung daru tiupan angin yang kencang dari samping kiri kami. Keadaan sekitar sudah gelap, kami pun menyiapkan Senter untuk pendakian malam. Puncak Gunung Sumbing yang tadinya kelihatan sepanjang perjalanan kini sudah tak terlihat lagi.

Perjalanan Pasar Watu – Watu Kotak (1km – 2 jam)

sumbing-8Di tempat ini (Pasar Watu), kami kembali bertemu dengan mas fajri yang sekarang gantian mendahului kami. Tak lama mas fajri meninggalkan kami, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan malam ini. Perjalanan malam harus lebih hati-hati dan di persiapkan dengan baik, jaket dan penutup telinga untuk mengurangi pengaruh udara dingin sebaiknya di gunakan. Yang lebih penting adalah penerangan jalan yang cukup, jangan sampai kita kehabisan baterai sewaktu perjalanan. Perjalanan kali ini menyusuri lereng tebing di sebelah kanan kami, dengan angin kencang menerpa kami dari samping kiri terus menerus. Udara dingin dan raungan angin yang menghantam tebing sedikit menciutkan nyali kami. Belum lama berjalan, kami menemukan mas fajri yang ternyata mengambil jalan yang salah. Dan dia pun bergabung bersama kami untuk sama2 berjuang menemukan Pos Watu Kotak, dimana kami berencana bermalam di situ. Perjalanan kali ini menyusuri bebatuan kapur yang berkelok kelok dan menanjak, dan sesekali kami harus terpaksa merangkak. Setengah perjalanan sedikit kecelakaan kecil terjadi, teman kami Ervan mengalami kram kaki. Kami mencoba berhenti sejenak, untuk menyembuhkan kram yang sedang di derita teman kami tersebut. Tapi udara dingin benar2 membuat badan kami menggigil jika berlama2 diam di tempat. Akhirnya kami memaksakan untuk jalan perlahan-lahan, ervan berjuang sekuat tenaga mengatasi rasa sakit di kakinya. Perjalanan sudah 2 jam, pukul 8 malam kami belu menemukan juga di mana Pos Watu Kotak itu berada. Di depan kami terlihat sebongkah batu besar, aku harap itu yang namanya watu kotak. Haaah…..ternyata bukan, tapi kami mendapat sedikit tempat hangat untuk berlindung dari terpaan angin yang benar2 membuat badan kami terasa kaku. . . (Sumpaaah….uadeeeeemmmm pol nang ngisor watu iku). Sebatang rokokpun tak terasa apa2, akhirnya aku mencoba untuk survey lokasi di depan tempat ini. Tak jauh aku berjalanlan, aku menemukan surara orang dan juga penerangan di sana. Yaaah……itulah Pos Watu Kotak yang kami cari. Tak jauh dari batu tempat kami berlindung tadi, teman2pun segera bergegas mengikutiku. Di tempat ini kami segera mendirikan tenda, memasak air, energen, dan membuka bungkusan makanan yang ada di dalam tas kami masing2. Jam sembilan malam waktu itu, Chimot, Ervan dan Edo sudah merasa kelelahan dan segera tidur. Tinggal aku dan Purwo yang masih terjaga satu jam ke-depan, sambil ngobrol, ngopi, ngerokok dan menghabiskan makanan ringan yang kami bawa. Jam 10 malam akhirnya aku dan Purwo bergabung di dalam tenda, mengingat tidur di luar terasa sangat mengerikan dan dingin. Menurut informasi, tempat ini sering di kunjungi kuntilanak. Hiii…sereeeeeem banget, sampai tidur di dalam tenda pun kami merasa kurang tenang mendengar suara2 di luar tenda yang mencurigakan. ZZZzzzttt……sampai jam 2 pagi, kami segera bangun dari mimpi yang belum kami rasakan. Suara mas fajri menyanyi2 lagu jawa dengan logat tegal pun mewarnai malam kami, sesaat kami bangun mas fajri pun ikut beres2 dan bareng bersama kami untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak.

Perjalanan Watu Kotak – Puncak (1km – 2 jam)

sumbing-91Setelah membereskan tenda dan berkemas serta makan dan minum yang cukup, kami bersama mas fajri bersiap menuju puncak untuk mengejar Sunrise. Sebelum berangkat, tidak lupa kami berdoa untuk mendapatkan keselamatan dan petunjuk yang benar sampai di Puncak. Jam 3 pagi kami mulai melangkahkan kaki dari tempat ini, dengan harapan jam 5 pagi sudah sampai di Puncak. Jalur menuju puncak berupa bebatuan kapur dan sedikit pasir kasar, jika tidak hati2 anda akan bisa terpeleset dan terjatuh. Jalurnya cukup lebar, dengan sekeliling tumbuhan rendah vegetasi puncak. Sebelum mencapai puncak, kami mencari Pos satu lagi yang dinamakan Tanah Putih. Sekitar 1 jam perjalanan kami tempuh, kami menemukan papan nama yang bertuliskan Tanah Putih. Dari Tanah putih ini, terdapat jalur persilangan yang satu mengarah ke Puncak Buntu dan yang satunya lagi mengarah ke Puncak menuju kawah. hati2 memilih jalur disini, karena banyak sekali jalur yang bersilangan. Jika ingin mencapai puncak Buntu, di persilangan jalur anda harus mengambil arah ke kiri walaupun mungkin jalur itu belum tentu benar. Sebenarnya banyak juga marka jalann yang menunjukkan arah ke Puncak, tapi tandanya kurang jelas dan hanya berupa tulisan di atas batu yang mungkin tidak terlihat oleh mata kita di malam hari. Kami memutuskan untuk ke Puncak sebenarnya, jadi kami putuskan untuk mengambil arah lurus. Tak disangka, jalur ke atas semakin lama semakin menghilang. Aku coba sendirian untuk men-survey jalur menuju puncak yang sama sekali tidak ada tanda2 telapak kaki manusia di situ. Semakin jauh aku melangkah di sela2 pepohonan, akhirnya aku menemukan Puncak dimana puncak ini adalah Puncak Buntu. Sialaaaaaaaaaaaaaan………Kami tersesat rupanya, akhirnya aku kembali turun bermaksud memberi tahu teman2 bahwa jalur ini adalah salah. Tapi kami sudah terlanjur naik, dan gk mungkin lagi ada jalan selain jalan ini ( kepercayaan diri campur frustasi). Akhirnya dengan sedikit putus asa, kami nekat mengikuti jalur yang aku tempuh tadi. Puncak Buntu kami dapatkan…….Gak peduli Puncak Buntu atau sebenarnya, kaki sudah terlalu capek untuk berjalan lagi. Sampai disini jam 6 pagi, Sunrise yang kami nanti tertutup mendung dan datangnya terlambat, tapi kami masih sempat menikmatinya. Edo sudah terkapar tidak berdaya karena masuk angin, terbaring lemas bersandarkan tas ranselnya. Sambil melepas lelah dan sedikit rasa frustasi, kami mencoba berfikir dimana sebenarnya Puncak Sejati dari Gunung ini. Ternyata di sebelah kanan puncak Buntu terdapat jalan yang menghubungkan Ke Puncak yang sering di jadikan Finish bagi para pendaki Gunung Sumbing.

Puncak – Kawah Mati ( 30 menit)

Dari Puncak Buntu ini kami sudah bisa menikmati Sunrise yang muncul dari ufuk timur tanpa halangan apapun, sayang sekali cuaca pada saat itu sedikit mendung jadi keindahan Sunrise tidak bisa kami dapatkan sepenuhnya. Dari Puncak Buntu ini kami bisa menikmati hamparan gunung Sundoro yang kokok berdiri soalah menantang kami. Hmmm…sungguh indah dunia ciptaan Yang Maha Kuasa ini. Di depan Puncak buntu adalah Kawah Mati yang cukup lebar, seluar lapangan sepakbola. Dari kawah mati tersebut, disampingnya teradapat kawah yang masih sedikit mengepulkan asap belerang. Punca sejati dari Gunung sumbing sendiri berada di sisi lingkaran kawah yang lain, sangat sulit untuk di daki dengan metode konvensional. Jika anda hendak mendaki, mungkin memerlukan tali temali dan peralatan panjat tebih yang benar bisa menjaga keselamatan jiwa anda. Setelah lumayan lama berfoto-foto dan juga menikmati suasana puncak, kami segera melanjutkan perjalanan menuju kawah mati. Kami menuruni puncak menuju kawah dengan kemiringan tanah mencapai 45 derajad, dengan vegetasi ilalang yang tebal. Kira2 20 menit perjalanan, kami sampai di dasar kawah tersebut. Kawah mati berupa Pasir yang rata, banyak sekali prasasti2 dari para pendaki yang di buat di tempat ini. Tidak mau kehilangan moment berharga ini, kami juga ikut2 an membuat prasasti dari bebatuan yang kami susun menjadi tulisan ” e-its”. Dengan susah payah kami mengumpulkan batu dari sekitarnya, tak jarang kami mengambil sisa2 prasasti orang lain yang sudah berantakan. Setelah kami berhasil membangun Prasasti, kami segera berfoto di depan Prasasti tersebut. Hasilnya seperti pada gambar di bawah tersebut. Waktu sudah menunjukkkan jam 7 pagi, kami harus segera meninggalkan tempat ini untuk mengejar waktu pulang. Kami bergegas mengemasi barang2 kami di puncak buntu untuk di bawa turun. Jam 8 kami mulai meninggalkan Puncak Buntu, perjalanan pulang kembali ber-6 bersama mas fajri yang ikut turun bersama kami.

sumbing-61Perjalanan turun seharusnya dapat di tempuh jauh lebih cepat dari perjalanan naik, tapi untuk gunung sumbing jangan harap bisa melakukanya seperti biasanya. Dari Puncak Buntu sampai Pasar Watu perjalanan menurun terjal, di tambah dengan jalan berbatu yang mebuat kami harus berhati2. Sempat teman kami Purwo terpeleset karena salah menginjakkan kaki ke batu yang licin, akhirnya dia tersungkur jatuh. Dari Pasar Watu ke Perkebunan penduduk jalanan lumayan mudah untuk kecepatan tinggi, sampai di hutan antara Pasar Watu dan batas ladang penduduk kami menemukan Palang bertuliskan GENUS, inilah yang kami cari sewaktu kami melakukan pendakian awal. Pos Pertama yang terlewatkan oleh kami, mengingat tempatnya di tengah hutan yang sama sekali tidak berupa Pos yang biasanya lapang dan bisa digunakan untuk duduk2 bersama. Perjalanan dari Genus menuju ke Pos Pendakian benar2 menguras energi kami, jalanan yang berdebu memaksa kami berjalan pelan2 untuk menghindari kepulan debu yang bisa membuat teman kita yang di belakang gk bisa berjalan karena matanya terkena debu. rem kaki harus benar2 pakem di tempat ini, terbukti aku terjatuh berkali2 karena sandal yang aku gunakan dasarnya sudah menipis. Kalau diitung2 aku telah terjatuh lebih dari 15 kali, di jalanan berdebu ini. Sementara itu si Ervan kaki sebelah kiri ketarik sehingga jalannya benar2 harus ekstra pelan karen nyeri dan sakit akan sangat terasa waktu kaki di tarik untuk melangkah turun. Edo, Chimot dan Purwo telah jauh meninggalkan kami berdua (Aku dan Ervan), mungkin lebih dari 15 menit kami tertinggal dari mereka. Sampai di Pos Pendakian sekitar Pukul 1 Siang, total perjalalanan turun dari Puncak sekitar 5 jam. Tak berlama2, kami segera membersihkan badan di Pos ini. Kami menyempatkan untuk mandi di Pos ini, maklum sudah 2 hari tidak mandi. Setelah kami semua sudah bersih, segera kami bergegas meninggalkan Pos ini menuju jalan raya. Sampai di pinggir jalan raya, kami menghampiri warung tepat di Pojok jalan dekat gapura desa Garung. Nikmaaatnya……………….tidak ada masakan yang lebih nikmat dari masakan yang kita makan setelah mendaki Gunung. Hujan rintik2 mengiringi kepergian kami dari Gunung ini, mungkin Gunung Sumbing sangat bersedih telah ditinggalkan para Pencintanya. Masih duduk2 di warung dan ngobrol2, lewat bis jurusan Purwokerto dari Semarang. Kami segera mencegatnya, dan seketika itu kami berpamitan dengan sahabat kami Chimot. Akhirnya kami berpisah lagi wahai sahabat, jaga diri baik2 dalam perjalananmu pulang ke Surabaya😀. Jam 3 sore kami bertolak dari depan Gapura desa garung. Kesialan ternyata menghampiri kami, penumpang bus tiba2 di oper ke bus lain. Mungkin karena sudah sore, dan penumpangnya sedikit. Akhirnya di Bus ke-2 ini kami terpaksa berdiri, sudah capek….tambah capek lagi. Untuk yang ke-2 kalinya kesialan kembali menghampiri kami, bus yang kami tumpangi mengalami pecah ban. AKhirnya kami kembali di oper ke Bus di belakangnya lagi, busyeeet….kami harus mindahin lagi tas dari bagasi yang memperlama waktu kami mendapatkan tempat duduk. Berdiri lagi…….mau tidak mau harus di terima karena Tiket Kereta yang telah kami beli, yaitu Kereta Api Purwo jaya berangkat dari Stasiun Purwokerto Jam 9 malam. Sepanjang perjalanan hujan rintik2 terus mengiringi kepergian kami, sampai di purwokerto pun hujan masih belum berhenti. Sekitar jam 7 malam lebih kami sampai di terminal Bus Purwokerto, sampai di terminal kami mencoba mencari angkot yang mengarah ke Stasiun yang jauh dari Terminal. Angkot jam segitu sudah tidak beroperasi, akhirnya kami menyewa Angkot untuk rombongan kami dengan membayar 25 ribu rupiah sampai di stasiun. Sampai di Stasiun sekitar Jam 8 malam, satu jam lagi kereta kami berangkat. Tidak menyia nyiakan kesempatan, kami mencoba mencicipi Soto Khas Purwokerto. Soto yang tidak menggunakan Nasi melainkan Lontong, di campur dengan kerupuk kecil2 dan tauge. Dengan kuah yang rasanya khas juga, hmmm…..nikmat sekali rasanya. Di sebelah kami terdapat penjual mendoan, Tempe yang di rajang tipis dan lebar yang nantinya di Goreng dengan dilapisi tepung yang tebal. Kami sangat tergoda dengan mendoan tersebut, sayang sekali penjualnya belum siap menggorengnya. Waktu sudah hampir mendekati jam 9 malam, kami putuskan untuk segera masuk ke Stasiun Kereta di belakang kami. Tidak lama kemudian Kereta Api yang kami tunggu akhirnya datang, ya inilah kereta api PURWO JAYA yang namanya mirip dengan nama teman kami yang menumpanginya yaitu Rudy Purwanto yang akrab dipanggil Purwo. Perjalanan di kereta kami lewatkan di dalam mimpi, jam 4 pagi kami sudah sampai di Stasiun Bekasi. Kami segera turun dan mencari Taksi menuju Kost kami, cukup tarif minimum 25 ribu rupiah untuk 4 Orang. Perjuangan terakhir kami usai sampi disini, Alhamdulilah….akhirnya sampai di Kost tercinta kami.


Responses

  1. Saya sebenanrnya pengen sekali mendaki gunung. Tapi rasanya fisik saya tak prima, meski saya sebenarnya sehat-sehat saja. Ingin rasanya menikmati sunset dan sunrise….
    Gunung banyak di Jawa. Tapi saya tergetar dengan ‘Perbukitan Menoreh’. Entahlah, rasanya banyak cerita dari perbukitan satu ini. Sampai SBY mengabadikannya dalam ‘Palagan Terakhir di Bukit Menoreh. Madu–meminjam Andrea Hirata dalam Edensor.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  2. Fisik itu memang di pengaruhi faktor “U” mas, maksudnya Usia. Semakin tua fisik kita semakin lemah dan gampang sakit. Sekarang saja saya sudah tidak sehebat dulu waktu kuliah, gampang capek dan sakit2an. Tapi selama mental sehat, bagi saya semuanya akan teratasi. Bukit Menoreh …..hmmm, dimana ya ??? Boleh deh dicantumkan dalam target operasi…

    Salam …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: