Oleh: mantostrip | April 28, 2013

Lombok Island


Lombok 24-28 April 2013 #part1

Siapa sih orang indonesia yang gak kenal dengan pulau Lombok ?? , kalau pun gak kenal, mkn bukan pecinta jalan-jalan, mungkin pula sudah lupa pelajaran geografi SD tentang peta buta🙂 . Kalo gak kenal Lombok, mungkin kenal Bali yah?? (kebangetan kalo sampe gak kenal , secara Bali lbh terkenal daripada Indonesia sendiri di luar sana ), asal ngasi tau aj lah, Lombok itu tetangganya Bali, terpisah oleh selat kecil saja. Lombok bisa juga disebut dg “young sister of Bali” , yang gak kalah cantiknya dari kakaknya dunk pastinya hehe🙂

Bwt, ini adalah trip pertama kami (aku dan Emy) stlah nikah, kebetulan aj kami sama2 suka menapakkan kaki ke tempat2 yg jauh dari rumah (baca : jalan-jalan). Model jalan2 kami bukan bekpeker, bukan traveler koper, bukan pula flashpacker, ah entahlah . . . sebut aj “Simple Traveler” , krn gk punya pakem modelnya, tapi lbh mendekati ke – mode gembel – krn kesederhanaan dan kami😀.

To the point of story yuk, kami berdua brngkat dr Jogja transit Bali ganti pesawat ke Lombok, sampe di Bandara Internasional Lombok (BIL) kami naik bus Damri ke Senggigi, cuman 25rb rupiah per kepala, murah lah daripada taksi mkn sampe 150rb. Kami berdua jalan2 tanpa bikin rencana perjalanan (itinerary) sblmya, alhasil kami browsing dan tanya sana-sini, akhirnya nemu info dr blog tetangga ada penginapan murah namanya Hotel Elen, kami tanya ke pak supir tempatny dimana,  turnyata emang di pusat keramaian Senggigi, pas banget kan ?? harga cuman 150rb/kamar superior bed, ada pula yg 110rb/kmr , cuman beda di kamar mandinya aja. Di senggigi kami menginap 2 malam, malam pertama cuman bwt tidur recovery bdan yg kelelahan marathon di jalan sblmnya (gk usah dicritain, ntar tambh panjang😀 ), hari ke-2 nya kami full jalan2 dari pagi sampe malem. Kami sewa mtor 1, harga sewa 50rb/24 jam, katanya sih turis lokal agak sulit nyewa mtor krn bnyk kasus gak balik sblumnya, petugas hotel sendiri jg bilang bgitu, tapi alhamdulilah kami gak susah payah langsung dikasih pijem sama mas2nya yg di agen dket situ🙂 (bukan tampang maling mkn yah hehe . . )

Pake mtor kami bisa menyusuri sepanjang garis pantai Senggigi yang lumayan panjang, cari spot2 bagus disepanjang jalan untuk nongkrong dan menikmati pemandangan lanscape pantai cantik, sayangnya disepanjang bibir pantai sudah bnyak terbangun hotel2 mewah, jadi gak natural lagi, tapi overall Senggigi masih cantik dan recommended untuk di nikmati. Sore hari kami jalan ke kota Mataram, biasa . . . cari makanan khas setempat, yaitu Ayam Taliwang dan Plecing Kanggung -nya yah cihhuyy!!!. Menjelang matahari terbenam, bnyak skali warung2 tenta di sepanjang jalan Cakranegara yang menjajakan Taliwang, tinggal milih aja sesuai kehendak hati😀 . Kami memutuskan untuk pesan 1 Ayam Bakar Taliwang & 1 Plecing Kanggung untuk porsi sepasang, minum standar teh anget, habisnya skitar 60rb (agak lupa), rinciannya lupa, yg jelas nikmat dan jauh lbh murah dr restoran.

Malem kami blik ke Senggigi, nah kalo malah hari di beberapa spot pinggir jalan di Senggigi bnyak yang menjajakan minuman dan jagung bakar, yg pastinya viewnya ke lepas pantai. Kami pun gak mau ketinggalan, akhirnya kami memilih nongkrong di pengkolan tinggi setelah hotel Sheraton, krn disini view pantai dan lampu2 hotel mewah ada didepan mata, yahh . . . cukup pesan kopi susu 1 gelas & 1 jagung bakar untuk berdua (biar romantis, apa2 berdua hehe . . ) untuk menikmati malam yang damai.

Nih coba aku share foto2 hasil perburuan kami selama di Senggigi :
image

image

image

image

Oleh: mantostrip | April 17, 2012

Makau


image

Test Posting Via Android

Oleh: mantostrip | Februari 5, 2011

Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila


Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila


Matahari sudah semakin tergelincir ke barat, saya terus menggendong backpack tak kenal lelah untuk mencari keberadaan Golden Mosque. Setelah menerobos pasar tradisional depan Quiapo Church, saya mengambil arah kiri untuk menuju ke Masjid Kubah Emas, atau yang terkenal dengan sebutan Golden Mosque. Dari kejauhan tampak sebuah menara masjid berwarna hijau, tetapi kubahnya tidak kelihatan. Saya terus menyusuri jalan besar menuju ke arah menara masjid tersebut. Pundak terasa seperti terbakar, menara masjid masih kelihatan cukup jauh. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah gang sempit yang bertuliskan “Welcome to Barangay 648 – Zone 67. District VI, San Miguel – Manila “, dan di dalam gang nampak sebuah menara masjid hijau yang lebih kecil. Saya sepertinya pernah mendengar nama daerah ini sebelumnya di sebuah acara backpacker yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dengan sedikit rasa was-was dan penasaran, saya mencoba memasuki gang utama perkampungan ini. Saya sering berpapasan dengan wanita-wanita yang mengenakan kerudung, sedangkan laki-lakinya mengenakan kopyah, dan juga tricycle yang dihias dengan tulisan-tulisan islami.

Begitu sampai di perkampungan, saya seperti mengalami dejavu karena apa yg saya lihat di tv sekarang saya alami sendiri. Inilah perkampungan muslim yang padat penduduk, warganya tinggal di rumah sederhana yang berhimpitan antara rumah satu dengan yang lainnya, seperti rumah susun padat penduduk di Jakarta. Begitu saya melintas, perhatian warga yang sedang duduk-duduk dipinggir jalan otomatis tertuju pada saya, saya mesara seperti orang aneh jadinya. Dengan backpack yang saya gendong dan kamera dslr yang tertenteng di tangan, sudah pasti saya teridentifikasi sebagai orang asing disini. Saya hanya berjalan dengan penuh waspada, melintasi kerumunan warga dan anak-anak yang sedang bermain dijalan. Ada bapak-bapak yang nongkrong di warung mengacungkan jempol tangannya kepada saya sambil merapatkan kedua bibirnya seakan memberi ucapan “Salut” sudah berani masuk ke kampung ini. Begitu sampai di Masjid Hijau, saya melihat ada dua orang bapak-bapak yang sedang nongkrong di depan masjid. Saya mencoba ramah untuk senyum dan mengucap salam kepada mereka berdua, tapi jawabanya hanya senyum kecut dan tidak membalas salam dari saya dengan baik. Suasana terasa semakin mencekam, karena saya sudah tau sebelumnya tentang distrik ini yang konon merupakan distrik yang sangat rawan kriminalitas. Saya mencoba masuk ke masjid untuk sholat, mencoba untuk tenang dan santai menghadapi suasana yang agak aneh ini. Begitu masuk masjid saya terkejut karena kondisinya yang kurang terawat. Sialnya lagi, tidak tersedia air setetespun di masjid ini ketika saya hendak mengambil wudhu. Semua bak mandi dan tempat wudhu kering kerontang tanpa air, hanya ada selang yang masuk ke bak yang tidak mengalirkan air sama sekali. Akhirnya saya keluar lagi dari masjid, mencoba bertanya pada 2 orang bapak-bapak yang ada di luar tadi. Dengan tanggapan yang dingin, saya pun diantar salah satu temannya untuk mengambil air wudhu di rumah warga. Sambil bejalan di rumah warga, saya mencoba ngobrol dengan seorang pemuda yang mengantar saya tersebut seputar perkampungan ini. Ternyata saya diantar ke rumah ketua pengurus masjid tersebut dan dipersilahkan mengambil air wudhu disebuah kamar mandi. Setelah itu saya diantar kembali lagi ke masjid untuk menunaikan sholat. Setelah sholat selesai, saya mencoba ngobrol dan memperkenalkan diri dengan kedua bapak yang duduk di depan masjid tadi. Kampung ini ternyata sudah ada sejak tahun 1964, dihuni oleh pendatang muslim dari Mindanao. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang menghuni kampung ini, kesemua warganya beragama Islam. Karena mungkin mencium keluguan saya, bapak itu memperingatkan kepada saya untuk tidak masuk ke gang-gang sempit yang ada di kampung ini. Saya disarankan untuk melintasi jalan utama di kampung ini saja, karena sangat berbahaya jika masuk ke gang yang lebih dalam. Kata beliau, saya bisa ditusuk dan dirampok oleh warga yang berniat jahat disini. Wah, ternyata benar juga info yang saya dengar sebelumnya tentang kampung ini. Kampung ini diketuai oleh seorang wanita, yaitu Chairwomen Bae Norhaina Macabato. Dan ternyata bapak yang ngobrol dengan saya tadi adalah adik dari bu Norhaina tersebut, saya sedikit lega ketika tahu hal itu, setidaknya saya ngobrol dengan orang yang baik.

Tak lama kemudian saya undur diri untuk meninggalkan kampung ini, cukup sudah menjejakan kaki ke distrik perkampungan muslim mindanao di kota manila ini. Diperjalanan pulang, saya tertarik dengan sebuah kedai sederhana yang menjual bungkusan nasi putih dengan lauk sepotong daging ayam. Mumpung di distrik muslim, pasti semua makanan disini dijamin 100% HALAL. Hanya 10 PHP atau sekitar Rp 2.000,- untuk sebungkus “Sego Kucing” di kedai Yusuf ini. Setelah kenyang, saya disarankan penjual nasi ini untuk naik tricycle menuju stasiun LRT Coriedo untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun EDSA di Pasay City. Ini kali pertama saya naik Tricycle, yaitu sebuah kendaraaan bermotor cowok (Honda GL-100) yang dimodif dengan menambahkan tempat penumpang disebelah kanannya. Ada tambahan satu roda untuk ruang penumpang, sehingga kendaraan ini memiliki 3 roda, oleh karena itu diberi nama Tricycle. Cukup unik dan kreatif, dan pastinya cukup nyaman naik kendaraan ini untuk berpegian jarak dekat. Sebenarnya angkutan ini menggantikan fungsi ojek, cuman penumpang dibuat lebih nyaman duduk ruangan tersendiri. Tarifnya pun hanya 10-20 Piso atau Rp 4.000,- untuk jarak sekitar 3 km, cukup murah bukan daripada capek jalan kaki ½ jam.


Foto (Clock Wise) : Bendera Vietnam di pusat pantai Nha Trang, Pesta kembang api malam tahun baru, keramaian pantai nha trang menjelang pergantian tahun, anak-anak Vietnam

Nha Trang terkenal dengan pantainya, letaknya di daerah tropis, meliliki garis pantai yang panjang sejauh kurang lebih 5 km, sudah pantas menjadi tempat favorit bagi bule berkulit merah yang ingin berjemur untuk kesehatan kulitnya. Turun dari bus, saya segera mencari Nha Trang Backpacker House sesuai dengan print-out yang saya bawa. Lokasi yang ditunjukkan di maps hostel tersebut ternyata salah, tidak persis di titik yang di gambarkan di maps. Saya terpaksa bertanya dengan pemilik toko kelontong, sambil membeli sebotol twister (minuman orange juice) dan satu sachet shampo untuk keramas, menghilangkan debu di sepanjang perjalanan siang tadi. Akhirnya saya menemukan hostel yang saya cari, tak jauh dari toko kelontong tersebut. Saya minta satu buah tempat tidur dalam Dormitory, harganya tertera di print-out saya adalah 7 USD. Tapi keadaan berkata lain, karena ini adalah hari libur tahun baru, maka tarifnya naik sampai tanggal 22 Februari menjadi 9 USD/bed. OK, daripada saya harus bingung mencari hostel lain yang harganya belum tentu lebih murah. Inilah pertama kali saya tidur didalam Mix Dormitory, bersama banyak bule barat cowok maupun cewek. Satu kamar ada 6 buah bed, dengan sususan tempat tidur tingkat dua. Saya kebagian di bed atas, dibawah saya ditempati bule cowok. Waktu sudah malam, perut lapar, dan kamar mandi terpakai. Saya memutuskan untuk jalan-jalan malam ke pusat kota Nha Trang sambil mencari santapan makan malam di jalanan. Jarak dari hotel ke pantai hanya sekitar 1 km, cukup dekat bukan. Disepanjang pinggir jalan menuju pantai banyak sekali warung setara ”Warung Tegal” yang menjajakan menu sederhana. Makan malam tak harus yang mewah, yang penting bisa mengganjal perut yang lapar. Saya memilih nasi lauk telur dadar plus sayur yang sudah terjamin Halal. Makan di pinggir jalan jauh lebih nikmat daripada makan di restaurant, karena nuansa petualanganya lebih terasa. Cukup membayar dengan 20.000 VND, perut sudah kenyang dan siap begadang sampai malam utnuk menyambut meriahnya malam tahun baru. Saya berjalan menuju pantai, disana terdapat panggung gembira yang diisi oleh live music dan acara hiburan lainya. Suasana pinggir pantai nampak masih sepi, hanya ada satu gerombol orang datang dan memarkir sepeda motornya di depan panggung. Di jalan utama sepanjang pantai diwarnai lampu hias yang gemerlap, banyak sekali satu keluarga yang berhenti dan berfoto di antara gemerlapnya lampu hias tersebut. Semakin malam, pengunjung pantai semakin banyak pula. Yang tadinya cuman ada puluhan, sekarang sudah ada ratusan orang memadati panggung gembira tersebut. Diseberang jalan, terdapat sebuah night market dadakan. Disana ada penjual souvenir, bunga, dan juga makanan khas vietnam. Walaupun belum lapar, tapi penasaran dengan makanan yang menggoda. Mencicipi sebuah lemper yang berisi sayuran dan mie putih. Cara makanya dicocol ke dalam larutan yang rasanya asin pedas dan nyegrak di mulut. Saya lupa tanya namanya apa, yang jelas saya tidak menyukainya karena belum terbiasa. Harganya 10.000 VND. Waktu menuju pergantian tahun pun semakin dekat, 1 jam lagi pesta kembang api terbesar sepanjang tahun akan di gelar di pantai ini. Saya segera ambil posisi ditengah jutaan manusia yang telah memadati pantai utama ini. Semua orang berkumpul disini untuk menyambut pergantian tahun baru dengan penuh harap agar tahun depan lebih baik dari tahun sekarang. Saya duduk sendirian di tengah jutaan orang asing disekitarku, walaupun sebenarnya saya adalah orang asing bagi mereka. Tua, muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan pun tumpah ruah dijalanan sepanjang pantai utama Nha Trang ini. Jam 12 malam tiba, semua orang berdiri, bangkit dari tempat duduknya dan menanti letusan pertama kembang api di depan sana. Dan ”Triiiiiuuung…………………….Dooorr..tret tetetet……byuurrr…”, kembang api pertama meluncur ke udara disambut sorakan dan tepuk tangan jutaan manusia disini. Dan kembang api selanjutnya terus meluncur di udara tanpa henti-hentinya. Setiap kali kembang api raksasa meletus, kembali suara sorakan dan tepuk tangan yang meriah membahana di antara rentetan letusan kembang api tersebut. Sungguh pesta tahun baru yang sangat meriah, dan disambut dengan rasa antusias yang tinggi oleh rakyat Vietnam. Mungkin ada 1 ton kembang api yang diluncurkan ke udara, lebih dari 15 menit tanpa henti-hentinya menghiasi langit diatas pantai yang gelap. Setelah kembang api terakhir berhenti, semua orang berteriak ” Huuuuuuuuuuu…….”, dan semuanya membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk saya.


Kutipan wawancara dengan Majalah Kabarinews.com (Majalah Indonesia di Amerika) tentang budged traveling . . . Sumber : www.kabarinews.com

Oleh: mantostrip | Januari 21, 2011

Rumah Adat Batad : Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah


Batad memang bukan kampung pedalaman yang sangat tradisional, tetapi sudah tersentuh modernisasi dari luar. Hampir seluruh rumah telah mendapatkan aliran listrik yang baik dari generator pembangkit mini. Rumah penduduk sudah banyak yang tersusun dari bahan bangunan dan material modern, seperti semen untuk membangun pondasi, batu-bata untuk tembok dan seng untuk membangun atap rumah. Walaupun demikian, mata pencaharian utama penduduk batad masih sebagai petani. Untuk mempertahankan budaya mereka, tidak jarang kita menjumpai rumah adat batad yang dibangun disekitar rumah utamanya, yaitu sebuah gubuk seperti rumah pedalaman di suku pedalaman Sumba di Indonesia. Rumah tradisional berbentuk kerucut, beratapkan daun rumbia, memiliki 4  tiang penyangga utama, dan memiliki tangga untuk memasukinya. Di masing-masing tiang penyangga terdapat lempengan kayu yang berbentuk bulat yang terletak di bagian atas sebelum kayu peyangga menyentuh bagian dasar rumah, fungsinya adalah untuk menghindari adanya hewan pengerat yang berusaha naik melalui tiang penyangga. Sebelah bawah rumah (diantara 4 tiang penyangga ) biasanya difungsikan sebagai dapur, tempat untuk menanak nasi dan memasak makanan. Di dalam rumah panggung ini terdapat beberapa kompartemen, ada kompartemen untuk menyimpan persedian gabah, ada kompartemen untuk menyimpan perkakas, dan ada tempat untuk tidur. Nah karena sekarang sudah semi-modern, maka rumah adat ini dilengkapi dengan kasur sederhana, dimana bisa ditempati wisatawan yang ingin merasakan hangatnya tidur dirumah seperti ini. Satu lagi yang unik, ada beberapa tengkorak dan tulang hewan buruan yang diselipkan di atap bagian dalam  rumah ini, ada tengkorak kelelawar, tengkorak babi, tulang kerbau, dan lain-lain yang katanya berfungsi sebagai tolak bala untuk  rumah ini. Senang sekali malam harinya kami ber-4 (saya & 3 orang prancis) diberi kesempatan untuk merasakan tidur di rumah panggung yang unik ini. Kami tidur ber-4 hanya diterangi oleh cahaya lampu teplok dengan minyak yang cukup remang-remang. Begitu merebahkan ke tempat tidur, saya merasakan sebuah ketenangan dan kehangatan disini. Suasana yang hening membuat mata saya cepat terpenjam dan terlelap ke alam mimpi. Kejadian lucu ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam, disaat lampu teplok yang tadinya masih nyala sekarang sudah mati tak bercahaya lagi karena kehabisan minyak. Begitu bangun saya sangat terkejut, saya sangat panik karena saya tidak bisa melihat apapun, saya seperti melihat sebuah kegelapan abadi, saya pikir mata saya buta atau saya berada di alam lain, sampai saya panik mencari bantuan cahaya sambil berkata “where i am ..??” berkali-kali dengan setengah sadar. Ketika saya menemukan handphone, memencetnya dan mata saya merasakan sebuah cahaya, saya baru ingat kalau saya sedang tidur di rumah adat di Batad bersama ketiga teman baru saya. Salah satu teman saya sampai terbangun karena ulah saya yang aneh tersebut.

Di pagi harinya ketika saya cerita tentang kejadian saya tersebut, dia mengiyakan dengan berkata “ Yes i see  you turn on your mobile phone “, malunya saya setelah tahu ternyata dia terbangun dan melihat saya L. Kejadian seperti itu memang bukan pertama kalinya saya alami, saya pernah juga terbangun dengan kondisi setengah sadar dan hilang ingatan (baca: amnesia) ketika di Bekasi, begitu bangun saya tidak tahu saya berada dimana dan kebingungan mencari tau tentang keberadaan saya. Saya pun melanjutkan  tidur lagi setelah berhasil menenangkan diri, sampai pagi hari menjelang. Kebiasaan  buruk yang  tak pantas ditiru, saya bangun “kepluk” alis kesiangan, sampai dibangunin untuk sarapan pagi oleh teman saya. “Mantosss…wake uppp…breakfast ready…”, aaahh……malunya diriku. Secara semua teman saya sudah bangun sejak menjelang sunrise, mereka malah sudah jalan-jalan ke sawah untuk melihat cahaya pagi tersebut. Nah kejadian lucu ketika saya bangun tidur, begitu bangun saya langsung mengambil handuk untuk mandi, maklum tadi malem ”mimpi indah”, jadi wajib hukumnya untuk mandi biar suci dan segar J. Habis mandi spontan teman saya filipino komentar pada saya “You take a shower in this morning.. ??”, sambil memandang saya dengan ekspresi wajah yang aneh, emang mandi pagi salah yah. Saya jawab saja “ Yess…why ??”, dia pun menjawab “ This is early morning ..mantos”. Ternyata memang udara masih dingin dan semua teman saya belum mandi, jadi saya seperti orang aneh saja mandi terlalu pagi. Karena saya gak mungkin membuka rahasia saya kalau habis “mimpi indah”, dan sulit rasanya menjelaskan dalam bahasa inggris, akhirnya saya jawab “ Yess…beacause i got a bad dream overnight, so i have to refresh my mind”. Saya pikir cukup sampai disitu saya ditanya, eh ternyata masih ada pertanyaan selanjutnya “ Ohh..So in your country believe, when you get a bad dream, you must take a shower after that ?? “, busyettt…ngapain juga dikaitkan dengan kepercayaan, saya jawab dengan diplomatis saja “ No…just for me, i just want to refresh my body and my mind”. Akhirnya selesai juga interogasi kepada saya di pagi hari ini, lega J.


Sopir Taksi yang konyol . . . .

Sedikit cerita konyol ketika saya naik taksi tanpa Argo di Filipina, tepatnya di Manila. Ceritanya bermula ketika saya mencari terminal Bus yang memiliki trayek ke Benaue dari Manila.  Saya melakukan sedikit kebodohan disini, yaitu kurangnya membawa informasi mengenai bus yang memiliki trayek ke Benaue. Karena kurang informasi, akhirnya saya percaya pada teman-teman baru saya dari Filipina yang mengatakan bus jurusan Benaue banyak ditemukan di Pasay, tepatnya di sekitar EDSA. Satu catatan penting tentang sistem bus di filipina adalah tidak ada terminal terpusat untuk bus umum, jadi setiap armada bus memiliki pangkalan sendiri dan memiliki trayek sendiri-sendiri pula. Jangan dibayangkan seperti di Indonesia dimana setiap kota memiliki terminal central, sehingga kita tinggal datang ke terminal jika mau naik bus apa ke jurusan mana. Di Filipina, kita harus tau bus mana yang memiliki trayek kemana dan terminalnya dimana.Di Manila sendiri ada puluhan terminal bus yang tersebar di berbagai tempat dengan anama Armada atau PO Bus yang berbeda. Nah, karena saya kurang melengkapi informasi, akhirnya saya naik LRT dari Coriedo menuju EDSA, selanjutnya saya mencari pangkalan bus Victoria Liner sesuai dengan saran teman-teman saya. Sampai di EDSA Station cukup jalan kaki 500 meter menuju pangkalan bus Victoria Liner tersebut. Begitu sampai di pangkalan bus, saya langsung menuju pusat informasi dan menanyakan trayek bus untuk hari itu juga. Alangkah terkejutnya saya ketika petugas informasi mengatakan “No bus to Benaue”, muka ini rasanya seperti ditampar pakai sandal jepit mendengar jawaban itu. Bercanda nih orang, saya masih belum percaya dan mencoba menuju loket penjualan tiket bus, dan ternyata memang benar tidak ada bus jurusan Benaue. Lemes  sudah kaki ini, saya pun duduk di ruang tunggu penumpang untuk sedikit menenangkan diri dan mencari inspirasi. Bayangan pegunungan Ifugao yang hijau dan sejuk sekarang menjadi gelap gulita tak berwarna. Sampai pada akhirnya saya membuka print-out itinerary dan informasi yang saya bawa. Tertulis “Florida Bus to Benaue” di itinerary saya, disitu hanya mencantumkan alamat dan nomor telpon tanpa menyertakan peta (ini kebodohan saya). Agar  tidak kecewa untuk yang kedua kalinya, saya pastikan dulu memalui telepon apakah dia memiliki bus jurusan Benaue atau tidak. Sedikit lega ketika saya mendengar jawaban “ Yes sir, we have bus to Benau” , rasanya seperti minum es buah di siang hari yang terik. Satu kebodohan saya lagi adalah, saya tidak tau posisi terminal bus tersebut, saya coba membuka peta Metro Manila tetapi tidak ketemu juga.

Saya memutuskan untuk naik Taksi saja, daripada saya kesasar kemana mana karena tidak tahu jalan dan waktu sudah malam. Ada lagi kesialan saya karena terlalu percaya pada supir taksi, dengan negosiasi yang alot saya menyerah dengan harga  450 PHP. Sebelum memutuskan harga, terlebih dahulu saya telpon Bus Florida tentang waktu perjalanan dari Pasay ke terminalnya, karena jawabanya adalah sekitar 1 jam tergantung kondisi lalu-lintas maka saya sepakati harga itu dengan membandingkan tarif taksi di Jakarta. Pelajaran kali ini adalah jangan terlalu baik dan percaya pada supir taksi umum, usahakan mengetahui posisi tempat yang dituju dan menyarankan Taksi menyalakan Argo. Dalam kasus ini, Taksi memang tidak memiliki Argo, jadi terpaksa kita melakukan tawar-menawar yang sengit. Dengan dalih sebagai taksi resmi untuk Victoria Liner, dia akan memberi kita berbagai macam argumen yang membuat kita percaya. Hati-hati dengan kalimat “Depend on the traffic situation”, itu artinya supir taksi akan meminta tambahan ongkos dari harga kesepakatan semula ketika kondisi lalu lintas macet. Nah anehnya, definisi macet disini yang menentukan adalah si supir taksi tersebut bukan kita. Hati-hati juga dengan  rayuan gombal supir taksi yang super melow, saat sedang diperjalanan si supir taksi cerita mengenai kehidupan ekonomi keluarganya yang sulit, anaknya banyak, sulit mencari penumpang, baru sekali ini mendapatkan penumpang, biasanya memberi tarif sekian, dsb, menurut saya itu hanya jebakan agar kita belas kasihan pada dia dan ujung-ujungnya dimanfaatkan untuk meminta ongkos tambahan. Terbukti ketika saya sudah sampai di terminal bus, begitu saya memberikan uang 500 PHP, supir taksi tidak mau memberikan kembalian dan bilang “ I hope you known the situation, the traffic is heavy”. Heavy dari hongkong…!!!, perjalanan perasaaan lancar-lancar saja dan hanya memakan waktu ½ jam, harusnya saya cuman bayar 300 PHP jika menggunakan Argo, kok dikasih 450 masih saja merengek minta tambahan. Dengan nada marah saya pun bilang “ Not Heavyyy, No traffic jump, we only took 30 minutes…give me my changes ..!! “, dan supir  taksi itu pun “ngedumel” dengan bahasa tagalog yang tidak saya mengerti sambil memberikan kembalian ke saya. Begitu dapat kembalian, saya segera keluar dan meninggalkan taksi konyol tersebut. Setelah tau tempatnya, saya baru sadar kalau saya melakukan hal yang sangat bodoh. Ternyata terminalnya berada di dekat District Quiapo, tempat saya jalan-jalan siang tadi, bodoh sekali saya  !!!.


 

Menjelajah Sisi Lain Filipina

Sebagian besar orang mengenal Filipina dengan keindahan pantai dan alam bawah lautnya, padahal masih banyak sisi lain yang menarik di negeri tetangga kita ini. Karena kolonialisme Spanyol di masa lampau, Filipina banyak memiliki situs kota tua yang bernuansa Eropa. Intramuros dan Vigan merupakan situs Kota Tua yang telah diresmikan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Jauh 3000 tahun yang lalu, nenek moyang orang Filipina juga telah membangun sebuah terasiring padi yang sangat memukau di Kota Benaue, yang dikenal dengan Benaue Rice Terraces. Sekarang Rice Terraces tersebut telah menjadi ikon kebanggaan Filipina yang juga telah dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Perang Dunia II juga membuat Filipina memiliki sejumlah peninggalan bersejarah, salah satu yang paling terkenal adalah Corregidor Island yang kini menjadi objek wisata favorit bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Seiring modernisasi global, Manila sebagai ibukota telah menjadi kota metropolitan yang sangat sibuk.

Filipina merupakan negara kepulauan seperti Indonesia, dengan 7.100 pulau yang dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu Luzon mewakili kepulauan di sebelah utara, Visayas mewakili bagian tengah, dan Mindanao mewakili bagian selatan. Tiap pulau dibagi menjadi beberapa region, 8 region di Luzon, 3 region di Visayas, dan 6 region di Mindanao. Tiap region dibagi menjadi beberapa provinsi dan tiap provinsi dibagi menjadi beberapa kota kecil.

Buku ini menceritakan pengalaman saya traveling menyusuri 4 region yang ada di pulau Luzon, yaitu National Capital Region (NCR), Cordillera Administrative Region (CAR), Calabarzon Region, dan Ilocos Region. Dari perjalanan menyusuri keempat region tersebut, kita bisa menikmati beberapa tipe objek wisata mulai dari wisata kota, wisata kota tua, wisata religi, wisata pantai, wisata gunung, wisata bawah laut, wisata perang, dan tentunya juga wisata kuliner.

Dalam 10 hari, kita bisa mengenal secara merata keindahan Filipina dari berbagai tipe objek wisata. Memang pariwisata Filipina bisa dibilang masih tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara lain, tetapi kekayaan dan keragaman objek wisata yang tersimpan di negara tersebut patut mendapatkan predikat sebagai negara tujuan wisata bagi para traveler dan backpacker dari Indonesia.

Dengan adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke Filipina, maka semakin memudahkan traveler dan backpacker Indonesia untuk menjelajah Filipina. Traveling selama 10 hari di Filipina tidak hanya membuat saya mengerti tentang indahnya objek wisata, tetapi juga membuat saya mengerti akan nikmatnya sebuah perjalanan. Semoga buku ini bisa bermanfaat bagi pembaca yang berniat traveling ke Filipina!

Peta Rute Perjalanan

Berikut ini adalah rute perjalanan yang saya tempuh selama backpacking ke Filipina, semua perjalanan saya tempuh menggunakan angkutan umum.

INFO BUKU

  • Judul : Rp2 Juta Keliling Filipina dalam 10 Hari
  • Pengarang : Sihmanto
  • Penerbit : B-First (Bentang Pustaka)
  • Harga : Rp 28.000,-

Telah tersedia di toko buku Gramedia, TM Book Store (Toga Mas) , dan toko buku kesayangan anda di seluruh indonesia mulai minggu ke-3 Desember 2010. Dapat juga dibeli di toko buku online http://www.mizan.com , http://www.inibuku.com , http://www.bukukita.com

Selamat membaca, semoga bermanfaat . . .🙂

Salam traveling  . . .  *Lukislah Bumi ini dengan telapak kakimu*

Sihmanto,

Rp2 Juta Keliling Filipina dalam 10 Hari
Pengarang : Sihmanto
Penerbit : Bentang Pustaka

Harga : Rp 28000.00
Oleh: mantostrip | November 2, 2010

Anak Krakatau Part#3 : Menjejakkan kaki di puncak purba


Camping di Lereng Anak Krakatau

Masih menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon Cabe di pulau Rakatta. Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat ke daratan karena bibir pantai yang terlalu dangkal, sehingga kami harus basah-basahan mencincing celana untuk merapat ke pulau Anak Krakatau ini. Pantai disini berpasir hitam pekat, mungkin karena pasir ini berasal dari erupsi gunung Anak Krakatau di masa lalu. Satu persatu dari kami turun dari perahu dan menurunkan semua perlengkapan berkemah. Kebetulan waktu itu kami sedang kurang beruntung, tempat yang biasa dipakai untuk camping sudah ditempati oleh rombongan fotografer yang lebih dahulu datang kesini. Akhirnya kami mencari tempat datar tepat dipinggir pantai, diatas tanah lapang berpasir yang ditumbuhi ubi jalar. Kami membawa 4 tenda, 2 untuk cewek dan 2 untuk cowok. Hmm . . .berkemah dipantai memang tidak seperti di gunung, udaranya cenderung panas, jadi kami malah asyik bermain, nongkrong, dan tiduran di luar tenda. Acara yang tidak boleh dilewatkan ketika kita berkemah di pinggir pantai adalah “Bakar Ikan”, kami pun membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang bersandar di pantai ini. Satu ikan besar seberat 4 kg seharga 50 ribu rupiah cukup untuk pesta api unggun malam itu. Untuk membakar ikan ternyata ada tekniknya sendiri, kami pun diajari cara membakar ikan yang baik oleh rangger kami pak Amir. Udara pantai yang hangat membuat suasana api unggun semakin panas, lain dengan api unggun di gunung yang menghangatkan badan dari udara dingin, disini kami malah lepas baju karena kepanasan dan keringetan. Sekitar 1 jam ikan dipanaskan diatas bara api, ikan pun siap disantap bersama dengan bumbu kecap dan saus seadanya. Nasi liwet panas masakan ibu2 yang masih amatiran pun menjadi nikmat karena kebersamaan yang tercipta . . . hmmm . . . rasa ikan itu kembali terasa ketika nulis kalimat ini. Waktu sudah hampir jam 10 malam, pesta pun ditutup dengan mengambil posisi tidur masing2. Ada sebagian yg tidur di dalam tenda, ada sebagian lagi di bibir pantai, sebagian lagi di dekat api unggun. Udara pantai yang hangat membuat saya tidak ingin tidur di dalam tenda yang sumpek, saya lebih suka menggelar matras dan tiduran diluar beratapkan langit malam yang semakin menghitam karena mendung. Di tengah2 lelapnya tidur kami, tiba2 setetes dua tetes air dari langit membangunkan kami, hujan ringan turun di tengah malam, kami pun bergegas masuk ke tenda untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

Mendaki Puncak Purba

Kami sepakat untuk bangun pukul 4 pagi untuk summit attack ke puncak Krakatau melihat Sunrise keesokan harinya. Karena hujan sepanjang malam, kami pun malas-malasan untuk bangun, karena kami berasumsi Sunrise tidak akan terlihat karena mendung. Sampai akhirnya jam 5 lebih kami baru keluar dari tenda, berkemas dan bersiap mendaki puncak Krakatau. Saya segera membangunkan Pak Amir yang bermalam di perahu untuk menuntun jalan kami trekking menuju puncak. Kami tidak terburu-buru waktu itu untuk mendaki, karena cuaca yang mendung sehingga Sunrise pun tak mungkin untuk di dapatkan. Jam setengah 6 pagi rombongan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Ternyata hanya butuh 10 menit untuk mencapai dasar dari kubah pasir gunung Krakatau dari bibir pantai, hanya menerobos beberapa ratus meter hutan cemara yang memisahkan antara pantai tempat kami menginap dengan dasar kubah pasir gunung Krakatau purba tersebut. Mendaki gunung ini, saya jadi teringat saat mendaki kubah pasir gunung Semeru. Bedanya di gunung semeru kita butuh waktu 2-3 jam untuk mendaki, disini kita hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai puncak. Kami berdiri persis di samping gunung anak Krakatau yang masih aktif, diatas punggungan kubah pasir yang padat. dari atas sini bisa terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar gunung ini. Konon saat gunung Anak Krakatau meletus, para reporter televisi dan media mengambil gambar dan mengabadikan letusannya di pulau Rakatta agar aman dari lava panas yang dikeluarkannya. Sebenarnya pemandangan paling mengasyikkan adalah ketika gunung ini sedang meletus, kita bisa melihat percikan api yang membumbung ke langit seperti kembang api raksasa dari mulut gunung tersebut. Nah jika kita ingin menikmati moment indah sekaligus berbahaya ini, tunggu saat gunung Anak Krakatau ini meletus lalu kita camping di Pulau Rakatta untuk menikmati pesta kembang api raksasa di malam harinya.  Sekitar 2 jam kami menikmati sejuknya udara pagi dipunggungan Anak Krakatau dan juga pemandangan alam sekitarnya yang terhampar luas. Setelah puass berada di puncak, kami segera memutuskan untuk turun kembali ke tempat camping. Tidak ada lagi agenda lain setelah ini, kami memutuskan untuk pulang langsung ke Pelabuhan Canti.

Arung Jeram Ekstrim

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, kami segera memulai perjalanan pulang menuju pelabuhan canti. Kejutan besar diberikan pada kami, perahu meninggalkan Anak Krakatau dengan memutar mengelilinginya ke arah selatan. Tak ayal ombak besar lautan lepas samudera hindia pun menghempaskan perahu kayu sederhana milik pak Amir. Perahu dihadang ombak besar dari depan, sehingga tabrakan keras pun terjadi, perahu menghujam tajam kebawah, air laut pun terhempas ke kami yang duduk didepan moncong perahu bagian depan, basah kuyub dehh. Kami pun berteriak sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat agar tidak jatuh ke laut (**Berlebihan😀 ). Karena kapal memutar mengelilingi gunung Anak Krakatau ini, maka kami bisa melihat dengan utuh bagian gunung yang masih aktif tersebut. Pemandangan gunung Anak Krakatau dengan background langit biru pun sangat indah di depan mata kami. Perjalanan dari Anak Gunung Krakatau ke Pelabuhan Canti memakan waktu sekitar  4 jam tanpa berhenti, sampai Canti sekitar pukul 2 siang.

Meninggalkan Surga Kecil

Sampai di pelabuhan Canti sekitar pukul 2 siang, kami dipersilahkan mandi untuk membersihkan diri di  toko dekat pelabuhan. Sebagian dari kami mandi di rumah pak Wawan, ranger yang juga menemani kami. Jam 3 sore angkot yang akan membawa kami pun sudah tiba dan siap mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah angkot sewaan yang sudah janjian mengangkut kami pulang pergi Bakauheni – Canti di hari sebelumnya waktu kami berangkat kesini. Kembali kami menyusun strategi untuk bisa memasuki angkot kecil ini, karena barang bawaan kami sudah berkurang banyak, maka angkotpun lebih longgar dan lebih nyaman (walaupun tetep umpek2an seperti sayuran😀 ). Perjalanan dari Canti ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam karena kepadatan jalan dan kemacetan di jembatan yang sedang diperbaiki. Kami sampai di Bakauheni sekitar pukul 5 sore, segera kami membeli tiket kapal menuju Merak. Akhirnya kapal berangkat sekitar pukul 6 sore, sampai di pelabuhan Merak pukul 8 malam. Dari pelabuhan Merak, kami naik Bus Arimbi PATAS-AC yang memiliki tujuan akhir Kampung Rambutan. Inilah akhir petualangan kami menikmati Surga Kecil di Anak Gunung Krakatau, benar-benar petualangan yang komplit dan penuh warna . . .

Thanks to #Suddenly Community   . . . I missing traveling together with all of you . . . .

Oleh: mantostrip | Oktober 24, 2010

Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil



Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net😀 ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air😀. Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan😀. Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3

Older Posts »

Kategori

%d blogger menyukai ini: