Anak Krakatau Part#3 : Menjejakkan kaki di puncak purba

Camping di Lereng Anak Krakatau

Masih menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon Cabe di pulau Rakatta. Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat ke daratan karena bibir pantai yang terlalu dangkal, sehingga kami harus basah-basahan mencincing celana untuk merapat ke pulau Anak Krakatau ini. Pantai disini berpasir hitam pekat, mungkin karena pasir ini berasal dari erupsi gunung Anak Krakatau di masa lalu. Satu persatu dari kami turun dari perahu dan menurunkan semua perlengkapan berkemah. Kebetulan waktu itu kami sedang kurang beruntung, tempat yang biasa dipakai untuk camping sudah ditempati oleh rombongan fotografer yang lebih dahulu datang kesini. Akhirnya kami mencari tempat datar tepat dipinggir pantai, diatas tanah lapang berpasir yang ditumbuhi ubi jalar. Kami membawa 4 tenda, 2 untuk cewek dan 2 untuk cowok. Hmm . . .berkemah dipantai memang tidak seperti di gunung, udaranya cenderung panas, jadi kami malah asyik bermain, nongkrong, dan tiduran di luar tenda. Acara yang tidak boleh dilewatkan ketika kita berkemah di pinggir pantai adalah “Bakar Ikan”, kami pun membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang bersandar di pantai ini. Satu ikan besar seberat 4 kg seharga 50 ribu rupiah cukup untuk pesta api unggun malam itu. Untuk membakar ikan ternyata ada tekniknya sendiri, kami pun diajari cara membakar ikan yang baik oleh rangger kami pak Amir. Udara pantai yang hangat membuat suasana api unggun semakin panas, lain dengan api unggun di gunung yang menghangatkan badan dari udara dingin, disini kami malah lepas baju karena kepanasan dan keringetan. Sekitar 1 jam ikan dipanaskan diatas bara api, ikan pun siap disantap bersama dengan bumbu kecap dan saus seadanya. Nasi liwet panas masakan ibu2 yang masih amatiran pun menjadi nikmat karena kebersamaan yang tercipta . . . hmmm . . . rasa ikan itu kembali terasa ketika nulis kalimat ini. Waktu sudah hampir jam 10 malam, pesta pun ditutup dengan mengambil posisi tidur masing2. Ada sebagian yg tidur di dalam tenda, ada sebagian lagi di bibir pantai, sebagian lagi di dekat api unggun. Udara pantai yang hangat membuat saya tidak ingin tidur di dalam tenda yang sumpek, saya lebih suka menggelar matras dan tiduran diluar beratapkan langit malam yang semakin menghitam karena mendung. Di tengah2 lelapnya tidur kami, tiba2 setetes dua tetes air dari langit membangunkan kami, hujan ringan turun di tengah malam, kami pun bergegas masuk ke tenda untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

Mendaki Puncak Purba

Kami sepakat untuk bangun pukul 4 pagi untuk summit attack ke puncak Krakatau melihat Sunrise keesokan harinya. Karena hujan sepanjang malam, kami pun malas-malasan untuk bangun, karena kami berasumsi Sunrise tidak akan terlihat karena mendung. Sampai akhirnya jam 5 lebih kami baru keluar dari tenda, berkemas dan bersiap mendaki puncak Krakatau. Saya segera membangunkan Pak Amir yang bermalam di perahu untuk menuntun jalan kami trekking menuju puncak. Kami tidak terburu-buru waktu itu untuk mendaki, karena cuaca yang mendung sehingga Sunrise pun tak mungkin untuk di dapatkan. Jam setengah 6 pagi rombongan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Ternyata hanya butuh 10 menit untuk mencapai dasar dari kubah pasir gunung Krakatau dari bibir pantai, hanya menerobos beberapa ratus meter hutan cemara yang memisahkan antara pantai tempat kami menginap dengan dasar kubah pasir gunung Krakatau purba tersebut. Mendaki gunung ini, saya jadi teringat saat mendaki kubah pasir gunung Semeru. Bedanya di gunung semeru kita butuh waktu 2-3 jam untuk mendaki, disini kita hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai puncak. Kami berdiri persis di samping gunung anak Krakatau yang masih aktif, diatas punggungan kubah pasir yang padat. dari atas sini bisa terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar gunung ini. Konon saat gunung Anak Krakatau meletus, para reporter televisi dan media mengambil gambar dan mengabadikan letusannya di pulau Rakatta agar aman dari lava panas yang dikeluarkannya. Sebenarnya pemandangan paling mengasyikkan adalah ketika gunung ini sedang meletus, kita bisa melihat percikan api yang membumbung ke langit seperti kembang api raksasa dari mulut gunung tersebut. Nah jika kita ingin menikmati moment indah sekaligus berbahaya ini, tunggu saat gunung Anak Krakatau ini meletus lalu kita camping di Pulau Rakatta untuk menikmati pesta kembang api raksasa di malam harinya.  Sekitar 2 jam kami menikmati sejuknya udara pagi dipunggungan Anak Krakatau dan juga pemandangan alam sekitarnya yang terhampar luas. Setelah puass berada di puncak, kami segera memutuskan untuk turun kembali ke tempat camping. Tidak ada lagi agenda lain setelah ini, kami memutuskan untuk pulang langsung ke Pelabuhan Canti.

Arung Jeram Ekstrim

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, kami segera memulai perjalanan pulang menuju pelabuhan canti. Kejutan besar diberikan pada kami, perahu meninggalkan Anak Krakatau dengan memutar mengelilinginya ke arah selatan. Tak ayal ombak besar lautan lepas samudera hindia pun menghempaskan perahu kayu sederhana milik pak Amir. Perahu dihadang ombak besar dari depan, sehingga tabrakan keras pun terjadi, perahu menghujam tajam kebawah, air laut pun terhempas ke kami yang duduk didepan moncong perahu bagian depan, basah kuyub dehh. Kami pun berteriak sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat agar tidak jatuh ke laut (**Berlebihan :D ). Karena kapal memutar mengelilingi gunung Anak Krakatau ini, maka kami bisa melihat dengan utuh bagian gunung yang masih aktif tersebut. Pemandangan gunung Anak Krakatau dengan background langit biru pun sangat indah di depan mata kami. Perjalanan dari Anak Gunung Krakatau ke Pelabuhan Canti memakan waktu sekitar  4 jam tanpa berhenti, sampai Canti sekitar pukul 2 siang.

Meninggalkan Surga Kecil

Sampai di pelabuhan Canti sekitar pukul 2 siang, kami dipersilahkan mandi untuk membersihkan diri di  toko dekat pelabuhan. Sebagian dari kami mandi di rumah pak Wawan, ranger yang juga menemani kami. Jam 3 sore angkot yang akan membawa kami pun sudah tiba dan siap mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah angkot sewaan yang sudah janjian mengangkut kami pulang pergi Bakauheni – Canti di hari sebelumnya waktu kami berangkat kesini. Kembali kami menyusun strategi untuk bisa memasuki angkot kecil ini, karena barang bawaan kami sudah berkurang banyak, maka angkotpun lebih longgar dan lebih nyaman (walaupun tetep umpek2an seperti sayuran :D ). Perjalanan dari Canti ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam karena kepadatan jalan dan kemacetan di jembatan yang sedang diperbaiki. Kami sampai di Bakauheni sekitar pukul 5 sore, segera kami membeli tiket kapal menuju Merak. Akhirnya kapal berangkat sekitar pukul 6 sore, sampai di pelabuhan Merak pukul 8 malam. Dari pelabuhan Merak, kami naik Bus Arimbi PATAS-AC yang memiliki tujuan akhir Kampung Rambutan. Inilah akhir petualangan kami menikmati Surga Kecil di Anak Gunung Krakatau, benar-benar petualangan yang komplit dan penuh warna . . .

Thanks to #Suddenly Community   . . . I missing traveling together with all of you . . . .

Anak Krakatau Part#1 : Menyusun rencana petualangan

Menjelajah Gunung Anak Krakatau (21-23 Mei 2010)

Siapa orang Indonesia yang gak kenal dengan Gunung Krakatau..??? Peramal dari Italia pun dulu sempat meramal adanya gunung yang akan meletus dasyat pada tahun 1883, itulah gunung Krakatau. Gak lengkap rasanya petualangan ini sebelum bisa menjelajah gunung legendaris tersebut. Gunung Krakatau terletak diantara pulau Jawa dan Sumatra, tepatnya di Selat Sunda sebelah selatan. Setelah gunung Krakatau meletus dasyat untuk yang terakhir kalinya pada 27 Agustus 1883 (Sumber : Wikipedia), gunung tersebut tidur lama dan tidak lagi melakukan aktivitas vulkanik. Setelah tidur nyenyak selama lebih dari 40 tahun, pada tahun 1927 munculah Anak Krakatau dari permukaan laut. Percepatan pertumbuhan gunung ini adalah 20-40 kaki per tahunnya. Sampai sekarang gunung ini merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia dan sering mengeluarkan lava pijar. Bahkan akhir2 ini sering terjadi gempa yang disebabkan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut. Walaupun tergolong gunung yang berbahaya untuk di daki, tetapi hal tersebut malah menjadi daya tarik bagi penjelajah alam seperti kami. Dan kami yang tergabung dalam “Suddenly Community” (Komunitas dadakan) adalah sebagian orang yang tertarik untuk mengunjungi “Surga Kecil” itu.

Atas (Dari Kiri) : Andik, Hevy, Shinta, Nanett, Flow, Ferna, Dewik, Chandra (Ranger), Bawah (Dari Kiri) : Andri, Nova, Yenny, Mantos, Andrea, Banjar, Amir (ranger)

Di balik rencana ke Anak Krakatao

Mendaki gunung Anak Krakatau adalah salah satu impian saya sebagai seorang pendaki gunung. Setelah mendaki banyak gunung di Jawa, saya ingin mencoba menjajaki atap2 dunia di luar pulau Jawa. Rencana pertama adalah mendaki gunung Rinjani di NTB, tetapi sayang rencana itu selalu gagal setelah sekian lama pendakian gunung Rinjani ditutup akibat aktivitas gunung Barujuri. Sudah 3 tahun terakhir ini saya selalu gagal mendaki Rinjani, sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk mengganti target. Tak disangaka, saya mendapat kabar baik dari teman saya bahwa karakatau boleh dikunjungi dalam waktu dekat ini. Tapi sial bagi saya yang masih baru tinggal di jakarta dan belum memiliki banyak teman untuk berpetualang. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Krakatau sendirian, backpacking kesana mode “gembell”. Target saya semula hanya bisa mendaki ke gunung anak krakatau tersebut, padahal banyak yang bisa dilakukan selain hanya sekedar mendaki gunung, yaitu snorkeling, mancing dan camping. Tak sengaja saya chat dengan teman lama saya yang dulu pernah naik gunung bareng di Semeru tahun 2007. Sudah 3 tahun kami tidak bertemu, dan waktu pendakian Semeru itupun saya hanya kenal2an saja dan bisa dibilang tidak akrab. Tapi entah mengapa, kami ngobrol selayaknya sahabat lama yang sangat akrab. Dia adalah “Nanett”, yang akhirnya menjadi partner baik saya untuk merencanakan petualangan ini. Hanya dalam hitungan hari, dengan kesaktianya “Nanett” berhasil menarik perhatian banyak anggota mailing list “Woi Communitty” untuk ikut dalam ekspedisi kali ini. Sedangkan saya hanya bersantai menunggu kabar baik darinya (sorry yo nett…..hahaha), sambil mencari info tentang perjalanan ke Krakatau. Singkat cerita, terdapat 19 calon peserta yang akan ikut dalam ekspedisi kali ini. Waktu di set tanggal 21-23 Mei 2010, hanya memanfaatkan weekend biasa. Akhirnya di hari-H hanya tersisa 14 peserta yang benar2 ikut dalam ekspedisi ini. Ke-14 orang tersebut adalah Saya, Nanet, Nova, Andri, Dewik, Flow, Yenny, Andrea, Ferna, Shinta, Banjar, Andik, Hevy, Bu Suwarti.

Itinerary Perjalanan

Untuk mengunjungi Anak Krakatau memang mahal jika dilakukan oleh satu orang, tetapi bisa sangat murah jika kita jalan bareng bersama rombongan orang banyak. Berikut ini adalah itinerary perjalanan yang kami buat,

Jum’at, 21 May 2010:
20:00 – 22:00 : Kumpul di Halte Sebrang RS Harapan Kita –> setelah Slipi Jaya.
22:00 – 24:00 : Jakarta – Merak

Sabtu, 22 May 2010
24:30 – 02:30 : Ferry Merak – Bakauheni
03:00 – 04:30 : Angkot Bakauheni – Canti
07:30 – 09:30 : Perjalanan Canti – Sebesi (Sarapan di perjalanan)
10:00 – 12:00 : Snorkling di Pulau Umang2 (dekat dengan P Sebesi)
12:00 – 14:00 : Menuju ke Lagoon Cabe (di sekitar P Rakata)
14:00 – 16:00 : Snorkeling
16:00 – 17:00 : Perjalanan menuju Pulau Anak Krakatau
17:00 – 18:00 : Mendirikan tenda untuk Camping
18:00 – 23:00 : Makan malam, Api Unggun & Bakar2 ikan

Minggu, 23 May 2010

04:00 – 05:00 : Perjalanan ke puncak Gunung Anak Krakatau (Berburu Sunrise)
05:00 – 08:00 : Menikmati panorama dari puncak gunung
08:00 – 09:00 : Turun gunung
09:00 – 11:00 : Sarapan pagi, berkemas2 & packing persiapan pulang
11:00 – 14:00 : Perjalanan menuju Pelabuhan Canti
14:00 – 16:00 : Mandi, makan siang, & persiapan pulang menuju Bakauheni
16:00 – 18:00 : Angkot Pelabuhan Canti ke Bakauheni
18:30 – 20:30 : Ferry Bakauheni – Merak
21:00 – 23:00 : Bus Merak-Jakarta

Rincian Biaya

  • Bus Jakarta – Merak (Ekonomi Non-AC) : Rp 15.000,-
  • Ferry Merak – bakauheni (Ekonomy : Rp 10.000,-
  • Carter Angkot Bakauheni – Pelabuhan Canti : Rp 170.000,- (Rp 12.000.-/orang)
  • Carter Perahu Kayu Canti – Anak Krakatau PP : Rp 2.800.000,- (Rp 200.000,-/orang)
  • Katering 2x (Sarapan & Makan Siang) : Rp 25.000,-
  • Galon Air Aqua 3x : Rp 45.000,- (Rp 3.200,-/orang)
  • Ikan Segar : Rp 50.000,- (RpRp 3.500,-/orang)
  • Carter Angkot Canti – Bakauheni : Rp 150.000,- (Rp 10.700,-)
  • Ferry Bakauheni – Merak : Rp 10.000,- (+ Rp 7.000,- jika mau masuk ke kelas Bisnis ber-AC)
  • Bus Merak – Jakarta : Rp 20.000,- (Ekonomi AC)

TOTAL Pengeluaran : Rp 316.000,-/orang + Sewa alat Snorkeling Rp 50.000,- bagi yg tidak membawa dari rumah

CATATAN :

  1. Bus dari Jakarta – Merak dapat diperoleh dari terminal Kampung Rambutan atau dari seberang RS Hrapan Kita Slipi ->dekat Mall Slipi Jaya. Tarif Ekonomi Rp 15.000,- & Tarif AC Ekonomi Rp 17.000 – 20.000,-. Bus di Slipi sampai sekitar jam 10 malam.
  2. Kapal Ferry untuk penyeberangan Merak – Bakauheni ada setiap 45 menit sekali. Tarif Ekonomi Rp 10.000,- sedangkan untuk kelas Bisnis ber-AC nambah Rp 7.000,- (bayar diatas kapal)
  3. Jika traveling sendirian, Dari Bakauheni ke Pelabuhan Canti bisa naik Angkot warna Kuning dari Terminal Angkot di Pelabuhan Bakauheni menuju Terminal Bus Kalianda (+- Rp 6.000,- lama perjalanan sekitar 1 jam). Dari Kalianda ke pelabuhan canti naik Angkot warna Merah (+- Rp 3.000,- lama perjalanan sekitar 30 menit). Angkot beroperasi mulai dari jam 05.00 – 18.00
  4. Harga carter perahu kayu Rp 2.800.000,- Tanpa Nego (jika nego mungkin bisa lebih murah), penumpang max 25 orang. Contact Person Pak Amir : 081379373789
  5. Perahu Reguler dari Pelabuhan Canti ke Pulau Sebesi belum terjadwal dengan baik, sebaiknya datang pagi hari agar bisa menunggu kapal reguler yang biasa digunakan untuk angkutan barang2 komoditi perdagangan.
  6. Harga sewa Angkot standarnya Rp 150.000,- , Idealnya diisi oleh 10 penumpang. Contact Person Pak Ferri : 081273376971 :
  7. Peralatan Snorkeling hanya tersedia 5 buah, harga sewa Rp 50.000,- (tanpa nego)

Cerita2 menarik selama di Anak Krakatao akan segera hadir di : Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan menuju Surga Kecil