Mahameru 18-20 Mei 2007
Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.
Ranu Pane
Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi.
Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.
Ranu Kumbolo

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.
Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati
Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.
Kubah Pasir Mahameru
Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane
Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)
Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,
Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “
Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “
Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”
Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”
Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.
Numpang Truk Sayur
Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Gunung argopuro merupakan salah satu gunung yang terletak di deretan Pegunungan Yang. Gunung ini membentang dari kabupaten Probolingo sampai ke Kabupaten Situbondo yang memiliki ketinggian 3,088 mdpl. Pendakian dari kabupaten probolinggo melalui desa Bremi sedangkan dari situbondo melalui desa Baderan. Gunung Argopuro merupakan gunung yang memiliki trek lintasa terpanjang di jawa. Kebanyakan pendaki memilih untuk melintasi gunung atau naik dan turun pada jalur yang berbeda. Jarur Bremi lebih singkat daripada jalur Baderan tetapi trek yang dilewati cenderung lebih Terjal. Gunung Argopuro memiliki Vegetasi terlengkap, mulai dari hutan Tropis, Hutan Hujan, Hutan Cemara, dan juga padang sabana yang sangat luas. Gunung ini memiliki kisah legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama dayang-dayangnya, ada tempat yang dikenal dengan Taman Rengganis yang diyakini sangat Angker. Di ketinggian sekitar 1200 mdpl dari jalur Bremi, anda bisa menemukan Danau Taman hidup yang cukup luas. Danau ini sangat indah di pagi hari, banyak ikan di dalamnya dan anda bisa memancing untuk di bakar dan di makan. Jika anda turun melalui jalur Baderan, saya yakin anda akan terbius oleh keindahan padang sabana yang sangat luas. Padang Sabana ini konon merupakan bekas pangkalan udara Tentara Jepang yang diyakini sangat angker juga. Jangan sampai anda menginap atau bermalam disini, bisa2 anda di datangi tentara jepang yang sedang patroli. Konon masih ada pendaki yang mendengar derap langkah kaki para tentara saat menginap disini. Gunung yang lengkap keindahanya dan membuat frustasi karena treknya yang begitu panjang.
Kami sengaja meluangkan waktu di semester akhir menjelang kelulusan kami. Sekedar melepas stress karena mengerjakan Tugas Akhir yang tak kunjung selesai, akhirnya kami ber-6 (Saya, Chimot, Edo, Ucup, Dhani, Sri) merencanakan untuk mendaki Argopuro melalui jalur Bremi dan turun melalui jalur Baderan. Kami berangkat dari Lab ber-6 dengan perbekalan sederhana yang kami punya. Seperti biasanya kami hanya membawa Terpal dan Ponco tanpa Tenda, maklum mahasiswa kere belum mampu beli tenda. Minimnya perlengkapan bukan penghalang untuk melakukan pendakian. Pagi itu kami berangkat ke Bungurasih naik taksi 4 orang dan naik sepeda motor 2 orang. Dari bungurasih kami naik bus jurusan probolinggo, dan turun di terminal probolinggo. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami lewati.
Sampai probolinggo kami menuju terminal bus AKAZ , dimana dari terminal ini kita bisa naik bus jurusan Bremi. Perjalanan ke desa bremi memerlukan waktu kurang lebi 1 jam. Sesampainya di Desa Bremi kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung setempat. Pos perijinan berada di kantor polisi setempat, salah satu dari anggota kami melakukan registrasi di kantor polisi. Setelah semua administrasi beres, kami segera melakukan pendakian melewati ladang penduduk. Setelah melalui ladang penduduk, kita akan masuk ke hutan damar yang sangat lebat. Target pertama kami adalah Danau Taman Hidup yang terletak pada ketinggian 1200 mdpl. Perjalanan 3 jam kami lalui di tengah hutan yang lebat dan trek yang mulai menanjak. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan tak kunjung kami temukan danau taman hidup yang kami cari. Hari sudah beranjak gelap, kami bergegas mengeluarkan senter yang kami bawa. Dengan sangat berhati2 kami melanjutkan perjalanan malam itu. Di tengah hutan kami mencoba berhenti karena semua anggota tim kelelelahan dan lapar. Sejenak menikmati mie instant dan energen, rasa lelah dan lapar kamipun terobati sedikit. Tak mau berlama-lama di hutan kami melanjutkan kembali perjalanan. Sebelum menemukan Danau Taman Hidup, kami menemukan pertigaan. Menurut informasi, untuk mencapai danau taman hidup kita harus mengambil arah ke kanan. Jalanan menurun kami lalui, sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di Danau yang kami cari tersebut.
Danau taman hidup merupakan tempat favorit bagi para pendaki yang memilih jalur Bremi. Ada juga para pendaki yang sengaja hanya nge camp disini beberapa hari. Di area sekitar danau memang cukup nyaman untuk nge camp, tempatnya cukup hangat dan terlindung oleh pohon pinus yang tinggi. Waktu itu kami mendaki pada tanggal muda jawa, sehingga kami bisa menikmati gugusan Galaxi Bima Sakti yang nampak jelas di gelapnya malam. Di dukung dengan cuaca yang cerah dan lokasi yang cukup luas, kami serasa berada sangat dekat dengan bintang2 di angkasa tersebut. Sesekali melihat bintang meteror yang
jatuh, hmm….sungguh mengagumkan alam semesta ciptaan Tuhan itu. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda amatir kami, mengaitkan terpal ke batang pohon pinus. Bermalam di sini tidak begitu dingin, sehingga saya memutuskan untuk tidur di luar beralaskan matras. Kami membuat perapian sebagai penghangat kami menikmati malam. Tidurpun terasa puas, tak terasa pagi menjelang. Kami segera beranjak menikmati pemandangan danau yang sangat indah. Air danau yang di ambil oleh sinar matahari pagi menimbulkan keindahan yang luar biasa di atas danau. Saya menyempatkan diri untuk mencoba memancing ikan disana, dengan kail yang sudah tersedia entah punya siapa. Ternyata sulit juga mancing disini kalau belum berpengalaman. Karena kasihan dengan saya yang gak dapet2, ada mas2 yang menawari ikan untuk saya bawa. dengan malu2 tapi mau, aku terima saja ikan itu untuk di bakar daripada mancing tanpa hasil. Bakar2 ikanpun dimulai, dan rasanya….mak nyissss…….uenak coy. Setelah sarapan pagi dan bakar2 ikan, kami segra beres2 tenda dan packing untuk melanjutkan perjalanan.




Pendakian saya kali ini hanya di temani oleh seorang sahabat saya dari awal kuiah, yaitu ahmad nawawi yang akrab di panggi Chimot. Waktu itu kami telah lulus kuliah dan sama2 belum mendapatkan pekerjaan, jadi keseharian dihabiskan dengan ngelamar kerja dan berburu wanita
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kami sampai di Gua Ontoboego. Di tempat ini terdapat Gua kecil yang biasanya digunakan untuk bertapa. Disekitarnya terdapat bangunan terbuat dari kayu yang digunakan untuk beristirahat dan berlindung dari hujan. Sampai di pos ini kami berhenti sejenak menikmati segarnya udara pegunungan dan merenggangkan otot2 kaki yang mulai tegang. Setelah seperempat jam kami berjalan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Di tengah perjalanan kami di bingungkan dengan 2 jalur yang terpisah, berfikir sejenak akhirnya kami memutuskan mengambil arah kanan yang jalurnya cenderung naik. Belum jauh berjalan kami berpapasan dengan bapak2 pencari rumput dan bertanya pada kami hendak kemana. Ternyata jalur yang kami lewati salah, jalur kekanan adalah jalan menuju Air Terjun. Walaupun jaur yang kekiri menurun, tapi itu adalah jalur menuju puncak. Hmm…satu malaikat lagi telah menolong kami di perjalanan. 2 jam perjalanan kami sampai di Tampuono. Disini terdapat juga situs2 peninggalan jaman kerajaan Majapahit berupa arca2 dan tempat pemujaan. Tempatnya memang mistis dan berbau menyan. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos berikutnya yaitu Eyang Sokri, disini juga terdapat situs2 pemujaan seperti di tampuono. Dari tampuono ke Eyang Sokri cukup jaraknya cukup dekat, bisa di tempuh dalam waktu 30 menit. Kami memutuskan untuk tidak berlama2 di pos2 mistis tersebut karena banyak sekali orang2 yang sedang bertapa dan melakukan pemujaan. Setelah 2 jam perjalanan, kami menemukan pos berikutnya yaitu Eyang Semar. Seperti halnya pos yang lain, pos eyang semar ini juga masih banyak ditempati oleh para pertapa.
Dari Eyang Semar ke Makuthoromo perjalanan mulai menanjak. Kita bisa menikmati indahnya hampara gunung Semeru beserta gugusanya di sepanjang perjalanan. Trek berupa panjat tebing batu besar akan kita lalui sebelum mencapai Makuthoromo. Perjalanan dari Eyang semar ke Makuthoromo kami ditempuh dalam waktu 1 jam. sebelum masuk lokasi makuthoromo, silahkan anda menghadap ke belakang dan rasakan sensasi pemandangan alam yang sungguh mempesona. Sampai di sini kami isturahat sejenak untuk mengisi perut dan bahan bakar kami yang sudah mulai menipis. Persedian air di sini cukup melimpah, anda bisa mengambilnya di belakang pos. Pos Makuthoromo ini adalah pos terbesar dan terakhir di jalur ini. Jika anda memiliki waktu yang cukup panjang, saya rekomendasikan untuk menginap di sini. Selain tempatnya yang luas dan datar, disini terdapat bangunan kayu yang bisa menampung banyak orang jika anda tidak membawa tenda. Pemandangan yang indah akan anda saksikan dari sini, mulai dari gemerlapnya kota lawang di bawah sewaktu malam hari sampai pemandangan dengan view gugusan gunung semeru di pagi hari yang cerah.



Sebelum melakukan pendakian kami melapor ke Pos pendakian Tretes. Di sini kami bertemu dengan Mas Cupit, sebagai penjaga pos. Waktu itu cuaca memang tidak begitu baik, s ehingga kami berkonsultasi dengan Mas Cupit perihal pendakian ke puncak. Dan ternyata kami dipersilahkan untuk melakukan pendakian, jika cuaca memburuk disarankan untuk tidak memaksakan diri ke Puncak. Biaya registrasi di Pos ini kurang lebi Rp.2000,- seingat saya. Dari Pos kami berangkat sekitar pukul 2 siang. Perjalan dari Pos pendakian sampai ke Pos 1 yaitu Pet Bocor dapat di tempuh dalam waktu 2 jam. Jalur yang di tempuh berupa jalanan lebar bebatuan, dimana jalan ini masih bisa di lewati oleh Mobil Pick-up pengangkut Belerang. Jalanan cuku landai tetapi melelahkan, karena panjang dan bebatuan. Sampai di Pos 1 kami istirahat untuk mengisi bahan bakar (Baca: air minum). Dua orang anggota kami sudah ada yang terkapar sakit, yaitu Anung yang masuk angin dan Riski yang kakinya kram. Setelah 30 menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2




