Sindoro 13 – 14 Juni 2009
Gunung Sindoro terletak di provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 3136 mdpl, tepatnya terletak di kabupaten Wonosobo. Gunung ini bersebelahan dengan Gunung Sumbing yang berada di sebelah tenggaranya. Dua buah gunung ini yaitu Sumbing dan Sindoro seperti gunung kembar jika di lihat dari kejauhan. Jalur pendakianya pun berdekatan yang terletak diantara dua gunung ini, yaitu desa Kledung untuk pendakian ke SIndoro dan desa Garung untuk pendakian ke Sumbing. Gunung Sindoro memiliki 2 jalur pendakian favorit, yaitu jalur Kledung dari Timur dan jalur Sigedang dari barat daya. Adapaun larangan untuk para pendaki pada hari pasaran jawa “Wage” dan hari Selasa pasaran “Kliwon”. Gunung ini terkenal dengan padang Edelweis yang sangat luas di atas puncaknya. Pada kesempatan kali ini saya kembali melakukan duet yang ke dua kalinya dengan teman setia saya yaitu Chimot. Pendakian duet pertama kami lakukan ketika mendaki Gunung Arjuno pada tahun 2006. Kali ini kami memilih untuk mendaki melalui jalur Segedang dan turun di desa Kledung. Pendakian ini juga merupakan perayaan ultah saya yang ke-26 yang jatuh pada tanggal 06 Juni 2009, dimana untuk yang ke-2 kalinya pula saya merayakan ultah di puncak gunung.
Perjalanan menuju Sigedang
Hari itu Jum’at malam tanggal 12 Juni 2009 saya bertolak dari Bekasi sedangkan Chimot dari rumahnya di kediri. Kami janjian bertemu di terminal bis Wonosobo sebelum jam 9 pagi. Sehabis pulang kerja saya berkemas2 sebentar dan sehabis sholat Isya’ saya berangkat dari kost menuju pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung menggunakan Taksi dari Bekasi Barat. Sedangkan Chimot berangkat dari rumah ke Terminal kertosono untuk selanjutnya oper Bus Sumber Kencana jurusan Yogyakarta. Pukul 8 malam saya sampai di pangkalan bus Sinar Jaya, tanpa antrian saya langsung mendapatkan tiket bus kelas ekonomi jurusan Wonosobo seharga 60 ribu rupiah. Perjalanan malam kami lalui, kontak sms sepanjang perjalanan terus kami lakukan. Tak terasa pagi menjelang, kabut pagi menghalangi pandangan saya saat sampai di terminal bis Wonosobo. Sampai di terminal kurang lebih jam 7 pagi, segera saya mencari tempat untuk bersantai sambil menunggu sahabat saya yang masih dalam perjalanan dari Magelang ke Wonosobo. Setengah jam saya menunggu akhirnya sosok yang tidak asing lagi muncul di hadapan saya, tak salah lagi dia adalah sahabatku Chimot. Senang rasanya telah menemukan partner untuk berpetualang. Setelah membersihkan bdan dan berganti pakaian, kami segera menuju warung untuk mencari sarapan pagi. Sambil menyantap nikmatnya masakan sederhana warung di terminal, kami mencoba mencari informasi angkutan menuju desa Sigedang. Untuk menuju desa Sigedang, dari terminal wonosobo kami naik bus jurusan kota dan turun di pertigaan jalur menuju arah Dieng. Jam 9 kami mulai bertolah dari terminal menuju kota, selanjutnya turun di pertigaan seperti informasi yang di berikan kondektur bus yang kami tumpangi. Sampai di pertigaan, kami lanjutkan naik bus mini jurusan Dieng yang nantinya turun di desa Rejosari. Perjalanan dari Kota menuju desa Rejosari kami tempuh dalam waktu sekitar 1/2 jam. Sampai di desa Rejosari kami turun, rombongan tukan ojek langsung menyambut kedatangan kami. Mereka menawarkan harga yang cukup murah bagi kami, yaitu 5 ribu rupiah sampai Pos Pendakian desa Sigedang. Perjalanan menyusuri ladang jalan aspal yang rusak di tengah2 ladang penduduk kami lewati dalam waktu 1/4 jam. Sampai di Pos Pendakian kami berhenti sejenak, karena kami berniat langsung mendaki makan kami menambah ongkos seribu rupiah lagi untuk sampai titik awal pendakian. Akhirnya pendakian ilegalpun kami mulai dari sini (tanpa surat ijin pendakian
). Kami berada di tengah2 kebun teh yang hijau. Stelah foto2 sejenak, kami memulai pendakian tepat pukul 10 pagi.
Kebun Teh
Titik awal pendakian kami terletak di tengah kebun teh yang luas. Perjalanan landai menelusuri bebatuan kami lalui selama 10 menit, setelah itu kami di hadapkan jalur tanah yang memotong hamparan kebun teh di sekeliling. Jalan bebatuan yang kami lewati cukup lebar, jalan ini memang sebenarnya di gunakan petani untuk memanen teh. Jalur ini cukup landai dan lebar untuk dilalui mobil pengangkut barang, bahkan truk pun bisa lewat disini. Jalur mobil ini berkelok-kelok, sehingga cukup jauh jika kita harus mengikutinya dengan jalan kaki. Di tengah2 kebun teh terdapat pos2 pendakian yang mungkin merupakan gubuk2 para petani teh disini. tak jarang kami melihat muda mudi yang sedang bercengkrama dan berpelukan di sepanjang perjalanan. Udara yang sejuk dan hamparan kebun teh yang hijau membuat suasananya menjadi romantis dan asyik untuk menguntai mimpi dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Pendaki harus berhati-hati melewati jalur di sepanjang kebun teh ini karena minim sekali tanda2 ataupun marka yang menunjukkan arah jalur pendakian. Tidak ada bedanya jalur pendakian dengan jalur petani teh. Untuk kami diselamatkan dengan pilok fospor yang sengaja di tinggalkan pendaki sebelum kami, mungkin masih baru mengingat warnanya masih cerah sekali. Setelah melakukan perjalanan selama 1,5 jam akhirnya kami sampai di batas kebun teh. Target kami selanjutnya adalah pos Watu Susu, dimana menurut informasi memerlukan waktu kurang lebih 3 jam dari batas kebun teh.
Watu Susu
Setelah lepas dari kebun teh, kami dihadapkan dengan padang rumput dan ilalang di sepanjang perjalanan menuju Watu Susu. Waktu itu kami tertolong dengan kabut tebal yang selalu mengiringi perjalanan kami dan menutupi kami dari teriknya sinar matahari. Sungguh jalur ini merupakan jalur terbuka sepanjang perjalanan. Jika cuaca cerah para pendaki harus siap2 terbakar oleh teriknya matahari dan dehidrasi sepanjang perjalanan. Tidak ada sumber air di sepanjang perjalanan dari bawah sampai puncak. Di musim hujan para pendaki bisa mengambil air di dalam kawah mati yang tergenangi air. Gunung yang benar2 gundul yang hanya ditumbuhi rerumptan dan padang ilalang. Trek yang kami lalui cukup terjal dengan sedikit bebatuan sampai ke batas vegetasi rumput. Watu susu di kenal sebagai payudara dari gunung Sindoro, dimana Sindoro digambarkan sebagi gunung perempuan. Perjalanan selama 4 jam telah kami lalui, tetapi kami tidak menemukan batu besar yang kami cari tersebut. Perjalanan akhirnya sampai di batas vegetasi rumput dan memasuki padang Edelweis. Kami istirahat sejenak disini sambil memandangi puncak yang tinggal sejengkal langkah lagi kami gapai. Setelah menikmati makan siang dan menunaikan sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari sini kami di temani banyak pendaki yang datang mendahului kami. Perjalanan menuju puncak dari sini melewati jalur bebatuan besar dan terjal. Tak jarang kami berhenti untuk meluruskan kaki dan mengatur nafas kami yang mudah terenga karena faktor usia. Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Puncak Sindoro yang ditandai dengan Tugu dari batu bata dan semen. Walaupun kelihatanya bukan merupakan tempat tertinggi dari gunung ini, tapi tugu tersebut merupakan pertanda puncak sindoro. Melangkah sedikit ke depan, kami dihadapkan hamparan tanah datar yang menyerupai lapangan bola. Memang di puncak Sindoro kita bisa bermain bola karena terdapat dataran yang benar2 luas dan datar. Lapangan inipun terdapat garis2 yang menandakan batas2 permainan sepakbola, mungkin memang dulu pernah ada pendaki yang bermain bola disini. Sindoro terkenal dengan Surganya Edelweis karena memang di sepanjang puncak terdapat banyak sekali pohon edelweis, sayang waktu belum banyak yang berbunga. Kami mencoba menengok sebentar bibir kawah Sindoro sebelum mencari tempat untuk mendirikan tenda. Di sebelah tenggara kami terlihat Gunung Sumbing yang sudak mengantuk dan berselimut kabut tebal. Baru kali ini kami bisa mencapai puncak gunung sebelum matahari tenggelam. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk mencari tempat mendirikan tenda di balik lindungan pohon Edelweis. Banyak para pendaki yang menginap di sini, bahkan banyak yang camping disini untuk beberapa hari. Udara dingin di puncak gunung cukup menusuk tulang, kamipun mencari ranting2 pohon dan kayu kering untuk membuat api unggun. Pesta perayaan ulang tahun sayapun di mulai setelah ami selesai memasak makan malam kami yang sangat sederhana, yaitu mie instant dan energen. Cuaca malam itu sangat cerah, sehingga kami bisa menikmatu gugusan galaksi Bima Sakti yang sangat luas dan indah itu. Serasa bintang di langit berada sangat dekat dengan kami, benar2 pemandangan yang menabjubkan. Lilin berpola angka 2 dan 6 pun segera saya sulut dengan api, sayapun merasa puas bisa menyelesaikan misi ini. Karena sudah malam dan udara malam semakin dingin, kami memutuskan untuk segera tidur.
Indahnya Sunrise
Tenda yang seharusnya berisi 4 orang kami tempati untuk 2 orang saja yang membuat kami leluasa tidur malam itu. Baru kali ini kami merasakan leganya tidur di dalam tenda, pendakian sebelumnya selalu memaksa kami tidur umpek2an dalam satu tenda. Jam 5 pagi alarm berbunyi, saatnya untuk bangun dan menyambut Sunrise di ufuk timur. Kami bangun tanpa harus bersusah payah merapikan tenda dan mengemasi barang kami seperti pendakian2 sebelumnya. Kami cukup mengambil kamera dan menutup tenda untuk emudian jalan2 di sepanjang puncak untuk mencari spot Sunrise terbaik. Hamparan cakrawala telah menjingga di ufuk timur yang memotong gunung2 yang berada di depan kami. Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu dan juga Lawu terlihat jelas di depan kami. Pemandangan sangat indah ketika Sunrise mulai mengintip dari balik Cakrawala. Hmm…..saatnya berfoto2 dan bergaya sebagus mungkin. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami sejenak menikmati hangatnya sinar matahari sambil menyusuri bibir kawah. Kamipun menemukan jalan turun menuju kawah mati, tak puas hanya melihat dari atas kami segera turun dan berfoto2 di bawah. Banyak sekali prasasti2 dari bebatuan yang bertuliskan nama2 seseorang ataupun organisasi yang ditinggalkan oleh para pendaki disini. Dalam kawahnya kurang lebih sama dengan kawah Sumbing, tetapi memiliki diameter yang lebih pendek. Setelah selesai mengunjungi kawah mati, kami meneruskan perjalanan mengelilingi puncak. Di sebelah utara kami lihat hamparan pegunungan Dieng yang terkenal itu. Pemandangan disini sangat indah dengan bukit Dieng yang menghijau di bawah kita. Akhirnya usai sudah kami mengitari puncak Sindoro ini, kami kembali ke tenda dan mulai berkemas untuk turun.
Turun ke Jalur Kledung
Setelah merapikan tenda dan berkemas2, jam setengah 9 pagi kami mulai melakukan perjalanan turun melalui Jalur Kledung. Jalur Kledung berada di sebelah timur puncak Sindoro. Jalurnya cukup jelas dan banyak terdapat petunjuk2 pendakian, tidak seperti jalur Sigedang yang sangat minim petunjuknya. Jalur ini sama terjalnya dengan jalur Sigedang. Selama 2 setengah jam perjalanan turun kami melewati padang ilalang sampai menemukan batas vegetasi hutan pinus. Perjalanan melewati padang ilalang sangat menguras keringat karena terik matahari yang terus menyengat di sepanjang perjalanan. Setelah mencapai batas vegetasi padang ilalang, kita akan melalui hutan pinus yang lumayan teduh. Perjalanan turun sekitar 1 jam kamitempuh melewati hutan pinus sampai akhirnya sampai di batas ladang penduduk. Akhirnya kami sampai di ladang penduduk, dan beruntung sekali kami di sambut oleh petani yang menawarkan jasa ojek sampai Pos. Tak berfikir panjang kami langsung menerima tawaran itu, satu motor untuk 3 orang hanya 10 ribu rupiah. Lumayan daripada harus jalan kaki yang memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Jam setengah 1 siang kami sampai di Pos pendakian. Karena ramai pendaki, kami tidak sempat membersihkan badan disini sehingga kami memutuskan untuk membersihkan badan di Masjid terdekat tanpa berganti pakaian. Setelah selesai, kami mencari warung terdekat di sepanjang jalan raya. Berburu makanan setelah mendaki gunung adalah Wajib bagi kami. Makanan pasca pendakian adalah yang ternikmat setelah masakan ibu kami di kampung. Setelah 2ratus meter berjalan, akhirnya kami menemukan Warung Sederhana “SUSI”, masakan jawa khas pegunungan benar2 nikmat. Kami bersantai sejenak sehabis makan sambil membicarakan pendakian berikutnya. Jam 2 siang akhirnya saya dan Chimot harus berpisah disini. Saya mengambil arah wonosobo, sedangkan chimot mengambil arah magelang. Selamat jalan wahai sahabat, senang bisa mendaki bersama dalam keceriaan tanpa batas. Sampai bertemu lagi di pendakian selanjutnya Gunung Lawu.





Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.
Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.
Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.



Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.












Perjalanan di mulai dari markas besar elits-41 di wisma Jessy Bekasi sekitar jam 7.15 setelah sholat Isya’. Dari Bekasi barat kami langsung bertolak ke Pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung menggunakan Taksi. Perjalanan cukup singkat, hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit kami sudah sampai di tujuan. Tiga puluh ribu rupiah ongkos taksi kami keluarkan dari dompet, lumayan murah daripada ngojek lah. Setelah sampai di pangkalan Bus Sinar Jaya, kami segera menuju Loket pembelian tiket Bus jurusan Purwokerto. Sedikit antrian, kami mendapatkan tiket untuk orang empat dehan harga per tiket sebesar 80 ribu rupiah. Tidak menunggu lama, sekitar jam 9 bus kami sudah mulai meninggalkan pangkalan menuju Purwokerto. Sedikit sial, terjadi kemacetan lumayan panjang di Tol Cikampek. Perjalanan malam yang panjang kami tempuh, tak menyia-nyiakan kesempatan kamipun segera tidur untuk menjaga kondisi tubuh. Pukul 6 pagi kami sampai di terminal Bus Purwokerto, segera kami mencari Mushola untuk sholat Subuh. Setelah sholat, kami segera beranjak untuk mencari santapan pagi. Sarapan sedikit kurang nikmat, mungkin lidah Klaten tidak cocok untuk masakan Banyumasan. Setelah sarapan kamipun langsung mencari bus jurusan Semarang yang melewati Wonosobo, seorang calo telah menunjukkan pada kami tempat Bus Semarangan berada. Sekitar jam 8 pagi bus mulai berangkat dari terminal menuju Semarang, kami segera menanyakan tempat kami turun nanti ke kondektur bus yang kami tumpangi. Sekitar 4 jam perjalanan kami tempuh dengan ongkos 20 ribu rupiah per orang. Setelah sampai di Banjarnegara, Jenderal Adolf Mantos langsung menginstruksikan Letnan Chimot untuk segera bertolakdari terminal Magelang agar kami bisa sampai di desa Garung dalam waktu yang hampir bebarengan. Dua jam perjalanan lagi kami tempuh, akhirnya kami sampai di desa Garung dan kondektur pun memberi tahu kami kalau sudah sampai tujuan. Kami turun dari bus dan mencari2 Gapura desa Garung yang katanya merupakan jalan masuk pendakian ke Gunung Sumbing. Ternyata tak jauh di seberang jalan terdapat palangyang menunjukkan arah pendakian ke Gunung Sumbing, kami segera berjalan dan mencari Toilet di sekitar Masjid sambil menunggu kehadiran Letnan Chimot. Tak lama kami menunggu, suara yang tak asing lagi aku dengar sedang berbincang2 dengan purwo ketika aku sedang di kamar mandi. Sudah pasti, Letnan Chimot telah berada di antara kami. Suasana gembira penuh canda tawa dan suka kami rasakan bersama atas lengkapnya personel kami. Perjalanan segera dimulai….
Perjalanan kami mulai dari Mushola setelah sholat Dzuhur sekitar pukul 12.30, jalan aspal sedikit menanjak sepanjang kurang lebih 1km menuju ke Pos Pendakian. Cukup baik untuk pemanasan sebelum melakukan pendakian yang sebenarnya. Jika anda malas untuk jalan kaki atau tidak ingin membuang energi banyak sebelum pendakian, anda bisa menggunakan jasa Ojek dari Gapura sampai Pos Pendakian. Sepanjang perjalanan kami banyak menemui petani tembakau yang sedang menjemur tembakau yang sudah di rajang di pinggir jalan. Kami juga menjumpai stasiun relay TVRI di sebelah kanan jalan, walaupun kondisinya sudah gak terawat lagi karena sudah lama tidak di fungsikan. Separuh perjalanan kami tempuh, kami bertemu dengan anak2 SD yang baru saja pulang dari sekolah. Menyenangkan melihat anak2 SD yang bisa tertawa ceria tanpa beban di kepala oleh urusan dunia, sedikit ngiri dengan anak2
Setelah mendapatkan informasi dan penjelasan, sekitar jam 1 kami beranjak dari Pos Pendakian. Perjalanan untuk menuju ke Jalur Lama harus mengambil jalan di sebelah kiri Masjid, sedangkan jika hendak ke jalur baru harus mengambil jalan di sebelah kanan Masjid. Selepas dari desa garung, perjalanan tanah berdebu dan sedikit menanjak kami tapaki. Sepanjang perjalanan di lereng gunung, kami menemui petani tembakau yang sedang mengerjakan ladangnya. Debu berterbangan di tiup angin gunung yang kencang, benar2 membuat mata ini perih dan hidung enggan bernafas. Slayer penutup hidungpun tidak pernah lepas dari wajah kami, benar2 perjalanan yang membosankan. Terik matahari siang di campur dengan debu kering yang mengepul disela2 kaki kami benar2 membuat kami tak bertahan lama untuk terus berjalan. Belum jauh perjalanan kami, Chimot yang sok perkasa dengan tas gunungnya yang berat pun jauh tertinggal di belakang. Walaupun perjalanan berdebu terasa membuat kami sesak, tapi sesekali kami berhenti dan menoleh ke Belakang yang di suguhi pemandangan menakjubkan yaitu hamparan Gunung Sundoro yang berdiri Perkasa. Perjalanan selama dua jam kami tempuh, akhirnya kami menemukan batas perkebunan penduduk. Sedikit legaa, kami berhenti sejenak sekedar menghirup udara segarr dan meluruskan kaki yang sudah mulai ke capek-an. Tujuan pertama kami adalah Pos Genus yang teletak di KM IV, perjalanan di prediksi memerlukan waktu 3 jam. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore, dan kami masih berada di ladang penduduk. Kami lanjutkan perjalanan lagi, jalan berdebu dengan kemiringan 25-30derajad masih kami tapaki. Tak lama kemudian kami mulai memasuki hutan dengan vegetasi tumbuhan yang tidak seberapa tinggi. Tiga jam perjalanan sudah kami tempuh, tapi belum juga kami temukan Genus. Kami masih positip thinking untuk terus mendaki, sampai pada akhirnya kami menemukan Bukit yang gundul karena penebangan hutan dan pembakaran. Sungguh di sayangkan, hutan yang harusnya di lindungi malah di tebangi dan di bakar. Kami sudah sedikit frustasi mencari Genus, apakah sudah terlewati atau memang kita terlalu lambat berjalan. Empat sudah kami berjalan, tak ada tanda2 ada pos di sepanjang perjalanan yang bertuliskan Genus. Haah….tak terasa sudah pukul 4 sore, kami memutuskan untuk menunaikan ibadah Sholat Ashar. Di tempat ini angin berhembus sangat kencang di sertai dengan kabut putih dari arah belakang kami. Setelah kami sholat, datanglah seorang laki2 dari arah yang sama dengan kami, dia sendirian saja tanpa teman. Namanya fajri (bukan nama sebenarnya), kami saling sapa dan ngobrol sebentar dengan orang sakti ini. Disaat kami menggunakan jaket tebal dan slayer menutupi kuping untuk menahan dingin, mas fajri malah telanjang dada sambil mengepukan asap rokok dari mulutnya. . . (jan…wong sakti gak duwe adem blas). badan mulai menggigil, saatnya beranjak dari tempat ini agar badan kembali hangat di perjalanan. Genus sudah kami lupakan,dengan keyakinanyang tinggi kami terus menapaki jalan setapak di depan kami. Sepanjang perjalanan kami lalui sisa2 batang pohon hasil penebangan, jalan harus berhati2 karena anda bisa tersandung dan jatuh. Satu jam perjalanan kami lalui sepanjang bukit gundul ini, akhirnya vegetasi rumput dan ilalang yang indah kami temui. Pemandangan Sunset berlatar Gunung Sundoro di belakang kami sungguh indah, kemi menyempatkan duduk di sela2 ilalang untuk sejenak menikmati panorama alam menjelang Sunset yang menakjubkan ini.
Di tempat ini (Pasar Watu), kami kembali bertemu dengan mas fajri yang sekarang gantian mendahului kami. Tak lama mas fajri meninggalkan kami, kami bersiap untuk melanjutkan perjalanan malam ini. Perjalanan malam harus lebih hati-hati dan di persiapkan dengan baik, jaket dan penutup telinga untuk mengurangi pengaruh udara dingin sebaiknya di gunakan. Yang lebih penting adalah penerangan jalan yang cukup, jangan sampai kita kehabisan baterai sewaktu perjalanan. Perjalanan kali ini menyusuri lereng tebing di sebelah kanan kami, dengan angin kencang menerpa kami dari samping kiri terus menerus. Udara dingin dan raungan angin yang menghantam tebing sedikit menciutkan nyali kami. Belum lama berjalan, kami menemukan mas fajri yang ternyata mengambil jalan yang salah. Dan dia pun bergabung bersama kami untuk sama2 berjuang menemukan Pos Watu Kotak, dimana kami berencana bermalam di situ. Perjalanan kali ini menyusuri bebatuan kapur yang berkelok kelok dan menanjak, dan sesekali kami harus terpaksa merangkak. Setengah perjalanan sedikit kecelakaan kecil terjadi, teman kami Ervan mengalami kram kaki. Kami mencoba berhenti sejenak, untuk menyembuhkan kram yang sedang di derita teman kami tersebut. Tapi udara dingin benar2 membuat badan kami menggigil jika berlama2 diam di tempat. Akhirnya kami memaksakan untuk jalan perlahan-lahan, ervan berjuang sekuat tenaga mengatasi rasa sakit di kakinya. Perjalanan sudah 2 jam, pukul 8 malam kami belu menemukan juga di mana Pos Watu Kotak itu berada. Di depan kami terlihat sebongkah batu besar, aku harap itu yang namanya watu kotak. Haaah…..ternyata bukan, tapi kami mendapat sedikit tempat hangat untuk berlindung dari terpaan angin yang benar2 membuat badan kami terasa kaku. . . (Sumpaaah….uadeeeeemmmm pol nang ngisor watu iku). Sebatang rokokpun tak terasa apa2, akhirnya aku mencoba untuk survey lokasi di depan tempat ini. Tak jauh aku berjalanlan, aku menemukan surara orang dan juga penerangan di sana. Yaaah……itulah Pos Watu Kotak yang kami cari. Tak jauh dari batu tempat kami berlindung tadi, teman2pun segera bergegas mengikutiku. Di tempat ini kami segera mendirikan tenda, memasak air, energen, dan membuka bungkusan makanan yang ada di dalam tas kami masing2. Jam sembilan malam waktu itu, Chimot, Ervan dan Edo sudah merasa kelelahan dan segera tidur. Tinggal aku dan Purwo yang masih terjaga satu jam ke-depan, sambil ngobrol, ngopi, ngerokok dan menghabiskan makanan ringan yang kami bawa. Jam 10 malam akhirnya aku dan Purwo bergabung di dalam tenda, mengingat tidur di luar terasa sangat mengerikan dan dingin. Menurut informasi, tempat ini sering di kunjungi kuntilanak. Hiii…sereeeeeem banget, sampai tidur di dalam tenda pun kami merasa kurang tenang mendengar suara2 di luar tenda yang mencurigakan. ZZZzzzttt……sampai jam 2 pagi, kami segera bangun dari mimpi yang belum kami rasakan. Suara mas fajri menyanyi2 lagu jawa dengan logat tegal pun mewarnai malam kami, sesaat kami bangun mas fajri pun ikut beres2 dan bareng bersama kami untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak.
Setelah membereskan tenda dan berkemas serta makan dan minum yang cukup, kami bersama mas fajri bersiap menuju puncak untuk mengejar Sunrise. Sebelum berangkat, tidak lupa kami berdoa untuk mendapatkan keselamatan dan petunjuk yang benar sampai di Puncak. Jam 3 pagi kami mulai melangkahkan kaki dari tempat ini, dengan harapan jam 5 pagi sudah sampai di Puncak. Jalur menuju puncak berupa bebatuan kapur dan sedikit pasir kasar, jika tidak hati2 anda akan bisa terpeleset dan terjatuh. Jalurnya cukup lebar, dengan sekeliling tumbuhan rendah vegetasi puncak. Sebelum mencapai puncak, kami mencari Pos satu lagi yang dinamakan Tanah Putih. Sekitar 1 jam perjalanan kami tempuh, kami menemukan papan nama yang bertuliskan Tanah Putih. Dari Tanah putih ini, terdapat jalur persilangan yang satu mengarah ke Puncak Buntu dan yang satunya lagi mengarah ke Puncak menuju kawah. hati2 memilih jalur disini, karena banyak sekali jalur yang bersilangan. Jika ingin mencapai puncak Buntu, di persilangan jalur anda harus mengambil arah ke kiri walaupun mungkin jalur itu belum tentu benar. Sebenarnya banyak juga marka jalann yang menunjukkan arah ke Puncak, tapi tandanya kurang jelas dan hanya berupa tulisan di atas batu yang mungkin tidak terlihat oleh mata kita di malam hari. Kami memutuskan untuk ke Puncak sebenarnya, jadi kami putuskan untuk mengambil arah lurus. Tak disangka, jalur ke atas semakin lama semakin menghilang. Aku coba sendirian untuk men-survey jalur menuju puncak yang sama sekali tidak ada tanda2 telapak kaki manusia di situ. Semakin jauh aku melangkah di sela2 pepohonan, akhirnya aku menemukan Puncak dimana puncak ini adalah Puncak Buntu. Sialaaaaaaaaaaaaaan………Kami tersesat rupanya, akhirnya aku kembali turun bermaksud memberi tahu teman2 bahwa jalur ini adalah salah. Tapi kami sudah terlanjur naik, dan gk mungkin lagi ada jalan selain jalan ini ( kepercayaan diri campur frustasi). Akhirnya dengan sedikit putus asa, kami nekat mengikuti jalur yang aku tempuh tadi. Puncak Buntu kami dapatkan…….Gak peduli Puncak Buntu atau sebenarnya, kaki sudah terlalu capek untuk berjalan lagi. Sampai disini jam 6 pagi, Sunrise yang kami nanti tertutup mendung dan datangnya terlambat, tapi kami masih sempat menikmatinya. Edo sudah terkapar tidak berdaya karena masuk angin, terbaring lemas bersandarkan tas ranselnya. Sambil melepas lelah dan sedikit rasa frustasi, kami mencoba berfikir dimana sebenarnya Puncak Sejati dari Gunung ini. Ternyata di sebelah kanan puncak Buntu terdapat jalan yang menghubungkan Ke Puncak yang sering di jadikan Finish bagi para pendaki Gunung Sumbing.
Perjalanan turun seharusnya dapat di tempuh jauh lebih cepat dari perjalanan naik, tapi untuk gunung sumbing jangan harap bisa melakukanya seperti biasanya. Dari Puncak Buntu sampai Pasar Watu perjalanan menurun terjal, di tambah dengan jalan berbatu yang mebuat kami harus berhati2. Sempat teman kami Purwo terpeleset karena salah menginjakkan kaki ke batu yang licin, akhirnya dia tersungkur jatuh. Dari Pasar Watu ke Perkebunan penduduk jalanan lumayan mudah untuk kecepatan tinggi, sampai di hutan antara Pasar Watu dan batas ladang penduduk kami menemukan Palang bertuliskan GENUS, inilah yang kami cari sewaktu kami melakukan pendakian awal. Pos Pertama yang terlewatkan oleh kami, mengingat tempatnya di tengah hutan yang sama sekali tidak berupa Pos yang biasanya lapang dan bisa digunakan untuk duduk2 bersama. Perjalanan dari Genus menuju ke Pos Pendakian benar2 menguras energi kami, jalanan yang berdebu memaksa kami berjalan pelan2 untuk menghindari kepulan debu yang bisa membuat teman kita yang di belakang gk bisa berjalan karena matanya terkena debu. rem kaki harus benar2 pakem di tempat ini, terbukti aku terjatuh berkali2 karena sandal yang aku gunakan dasarnya sudah menipis. Kalau diitung2 aku telah terjatuh lebih dari 15 kali, di jalanan berdebu ini. Sementara itu si Ervan kaki sebelah kiri ketarik sehingga jalannya benar2 harus ekstra pelan karen nyeri dan sakit akan sangat terasa waktu kaki di tarik untuk melangkah turun. Edo, Chimot dan Purwo telah jauh meninggalkan kami berdua (Aku dan Ervan), mungkin lebih dari 15 menit kami tertinggal dari mereka. Sampai di Pos Pendakian sekitar Pukul 1 Siang, total perjalalanan turun dari Puncak sekitar 5 jam. Tak berlama2, kami segera membersihkan badan di Pos ini. Kami menyempatkan untuk mandi di Pos ini, maklum sudah 2 hari tidak mandi. Setelah kami semua sudah bersih, segera kami bergegas meninggalkan Pos ini menuju jalan raya. Sampai di pinggir jalan raya, kami menghampiri warung tepat di Pojok jalan dekat gapura desa Garung. Nikmaaatnya……………….tidak ada masakan yang lebih nikmat dari masakan yang kita makan setelah mendaki Gunung. Hujan rintik2 mengiringi kepergian kami dari Gunung ini, mungkin Gunung Sumbing sangat bersedih telah ditinggalkan para Pencintanya. Masih duduk2 di warung dan ngobrol2, lewat bis jurusan Purwokerto dari Semarang. Kami segera mencegatnya, dan seketika itu kami berpamitan dengan sahabat kami Chimot. Akhirnya kami berpisah lagi wahai sahabat, jaga diri baik2 dalam perjalananmu pulang ke Surabaya