Ciremai : Tertinggi dan Tergila di Jawa barat

Ciremai, 09-11 April 2009

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 mdpl. Terletak di wilayah kabupaten Cirebon, tepatnya di Kuningan. Pendakian ke Gunung Ciremai dapat dilakukan melalui 3 jalur, yaitu jalur Majalengka, Palutungan dan Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan favorit bagi pendaki walaupun jalur ini terkenal dengan treknya yang sangat berat dan panjang. Gunung Ciremai sangat terkenal dengan legenda Nini Pelet yang tak asing di kalangan pecinta Sandiwara Radio jaman dulu. Pada kesempatan kali ini kami melakukan pendakian ber-6 yaitu (Saya, Chimot, Son, Edo, Purwo, Ervan). Kami melakukan pendakian melalui jalur Palutungan dan turun melalui jalur Linggarjati. Waktu pendakian kali ini sengaja kami pilih saat negara kita sedang mengadakan Pesta Demokrasi untuk memilih wakil rakyat. Kebetulan jatuh pada hari Kamis, sehingga kami mengambil cuti sehari di hari Jum’atnya yang kecepit.

Perjalanan Bekasi – Palutungan

Ciremai1Perjalanan kami mulai dari bekasi untuk Saya, Edo, Son, Ervan dan Purwo sedangakan Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kita janjian ketemu di Terminal Cirebon di keesokan harinya. Kami ber-5 mulai berangkat dari markas bekas1 jam 11 malam naik Taksi ke terminal Bis Pulogadung. Sampai terminal Pulogadung jam 12 malam, segera kami mencari Bus Jurusan Cirebon. Ternyata arus mudik membuat bus jurusan Cirebon habis dan kami harus sabar menunggu kedatangannya. Satu jam sudah kami menunggu “ngenthang” di terminal, tetapi bus tak kunjung datang. Akhirnya kami mencoba mencari bus alternatif jurusan Cirebon. Ada bus mini yang menawarkan trayek Cirebon layaknya bus charteran. Dengan bandrol 40 ribu akhirnya kami terpaksa naik bus kecil dan “umpek-umpek”an di dalam. Karena kami membawa tas gunung yang besar, kamipun tidak bisa leluasa duduk karena tidak ada bagasi untuk menaruh barang. Jam 2 kami berangkat dari terminal Pulogadung menuju Cirebon. Dengam bus mini kamipun tidak bisa melaju dengan kencang, kecepatan maksimum hanya 80 km/jam karena full load. Perkiraan 4 jam perjalanan kami sampai di Cirebon, sehingga pukul 6 pagi kami sudah sampai. Akhirnya kami sampai di terminal Cirebon jam 8 pagi. Kami mencari mushola untuk membersihkan diri dan mnyegarkan tubuh dari rasa ngantuk sambil menunggu Chimot yang masih dalam perjalanan. Beberapa menit kemudian chimot pun datang di hadapan kami, lengkap sudah tim kami. Setelah bersih2 badan, kami segera mencari sarapan untuk mengisi stamina. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Palutungan. Dari terminal Cirebon kami naik Bison atau ELF menuju kota kuningan dengan ongkos 4000 rupiah per orang. Turun di kuningan kami turun dan mencari angkot jurusan ke Desa Palutungan. Sebenarnya tidak ada angkot yang langsung menuju desa Palutungan, tapi karena kami ber-6 jadi kami hanya perlu nambah ongkos untuk mengantarkan kami sampai desa Palutungan. Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya kami sampai di desa palutungan. Di sini kami mencoba lapor ke Pos Pendakian, berhubung Pemilu maka Pos pun tutup sehingga kami langsung melakukan pendakian tanpa ijin :D .

Palutungan – Cigowong

Ciremai2Sekitar jam 11 kami mulai melakukan perjalanan melewati rumah2 penduduk dan kerumunan warga yang sedang sibuk merayakan pesta demokrasi. Setelah melewati kampung, kami melintasi ladang penduduk yang banyak ditanamai wortel. Trek masih cukup landai, sangat cocok untuk pemanasan. Sementara teman saya Edo sudah sudah terlihat pucat karena masuk angin. Tak ada kata menyerah, kami terus berjalanan sampai batas ladang penduduk. Setelaha berjalan selama kurang lebih 1 jam, kami sampai di batas ladang penduduk dan menemui jalan buntu. Jalan menuju ladang dengan jalan menuju puncak hampir sama, sehingga kami tersesat mengikuti jalur petani. Akhirnya kami mencoba balik kucing dan mencari jalur yang benar sambil menerka2 dengan logika untuk mencari jalan yang benar. Tak juga kami menemukan jalan lain selain jalan yang kami lewati tadi. Kami mencoba untuk menerabas ladang penduduk dan melewati hutan, akhirnya kami sampai di ladang penduduk yang lain. DI tengah ladang terdapat jalan setapak yang kelihatanya sudah biasa dilewati orang. Untuk memastikan apakah jalan ini benar, kami menanyakan ke petani yang sedang bekerja. Senang sekali, ternyata kami telah menemukan jalur yang benar. Kami lanjutkan perjalanan dan target pertama kami adalah Pos Cigowong. Perjalanan melewati hutan hujan tropis kami lewati dengan trek yang masih landai. Setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di Pos Cigowong. Pos ini memiliki area luas dan terdapat mata air di bawahnya. Kami menyempatkan untuk istirahat sejenak dan mengisi air minum kami di sungai kecil yang sangat bening airnya. Setelah makan siang dan menunaikan sholat, kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Cigowong – Arban – Tanjakan Asoy – Ngecamp

Ciremai3Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju target kami berikutnya yaitu Pos Arban. Perjalanan masih melalui hujan hutan tropis yang lebat. Sebagai seorang yang mempunya phobia ruang tertutup, saya paling tidak suka dengan trek hutan seperti ini. Ingin rasanya segera lepas dari hutan dan menemukan area terbuka dan bisa memandang langit dan menghirup udara segar. Trek sepanjang perjalanan menuju Arban masih cukup landai. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pos Arban. Disini terdapat pendaki lain yang sedang berkemah, kami hanya berhenti sejenak dan meneruskan perjalanan lagi. Walaupun teman kami Edo sakit2 an dan tak jarang muntah2 di tengah jalan, kami tetap melanjutkan perjalanan sampai menemukan tempat yang cocok untuk mengintai Sunrise. 1 jam perjalanan akhirnya kami sampai di tanjakan Asoy. Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, kami menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu sebelum menjutkan perjalanan. Tanjakan Asoy merupakan tanjakan permulaan yang benar2 memacu jantung dan otot. Trek yang cukup terjal akan dimulai dan berakhir di puncak. Obsesi kami untuk mengejar Sunrise pun kelihatanya mengalami kegagalan. Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, teman kami Purwo mengalami sakit otot kaki. Perjalanan kami pun tersendat2 dan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan berkemah di tengah2 perjalanan. Sementara Edo sakitnya tambah parah, tak terhitung berapa kali dia sudah muntah di sepanjang perjalanan. Setelah mendirikan tenda, kami membuat makan malam sederhanda dari mie intant dan energen. Setelah makan malam, kami segera ambil posisi tidur untuk mengobati rasa lelah. Alarm jam 3 pagi pun berbunyi, kami segera bangun dan berkemas2 untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kami tidak tau berapa lama lagi kami mencapai puncak. Ekspektasi 4 jam perjalanan mencapai puncak mungkin sudah tidak masuk akal lagi.

Pasanggrahan – Gua Walet – Puncak

Ciremai4Sekitar pukul 4 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan kembali untuk menggapai puncak. Kami sudah pupus harapan untuk menikmati Sunrise dan menurunkan target untuk meraih puncak saja. Baru seperempat jam kami berjalan ternyata kami telah sampai di Pos Pasanggrahan. Ternyata kami terlalu dini memutuskan untuk berkemah di tengah perjalanan. Perjalanan terjal sepanjang perjalanan masih terus kami lalui. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami keluar dari hutan seiring terbitnya matahari pagi. Setelah 1 jam perjalanan lagi, kami menemukan Gua Walet. Gua walet terletak di sebelah kanan jalur pendakian. Untuk mencapai Gua ini kita harus menuruni jurang yang dalamnya kurang lebih 30 meter. Di depan Gua ini terdapat area yang sangat luas yang biasanya digunakan pendaki untuk berkemah. Kami menyempatkan untuk turun dan masuk ke Gua kecil ini. Kami sempat mengambil air hasil tetesan air dari atap Gua yang terkumpul di cekungan tanah. Namanya Gua Walet, tetapi tak banyak walet yang bersarang disini. Nggak tau lah, mungkin waletnya belum pada pulang kali :D . Stelah puas menikmati Gua walet, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang sudah terlihat dekat. Perjalanan terjal melalui bebatuan besar kami lalui selama 2 jam, akhirnya kami sampi juga di Puncak Gunung Ciremai. Lega rasanya bisa sampai di puncak walaupun sunrise sudah terlewatkan. Gunung ini memiliki kawah yang sangat besar yang masih mengeppulkan asap belerang. Untuk mengelilingi puncak memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Di sebelah timur terlihat Gunung Slamet . Di puncak terdapat tempat untuk berkemah juga. Di balik tumbuhan perdu dan edelweis kita bisa mendirikan tenda dan terlindung dari angin. Ada area datar yang bisa di jadikan tempat upacara bendera pada 17 agustus pula. Setelah menghabiskan waktu 1 jam berfoto dan menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Linggarjati. Untuk mendapatkan jalur Linggarjati dari arah palutungan, kita harus menyusuri lingkaran sebelah kanan puncak selama kurang lebh 1 jam. Sampailah kita di tugu pendaratan jalur Linggarjati.

Puncak – Dehidrasi – Linggarjati

Ciremai8Jalur linggarjati adalah jalur yang sangat populer, terlihat dari jalannya yang sangat lebar dan kelihatan sering dilalui pendaki. Kurang lebih pukul 10 kami mulai menuruni jalur Linggarjati ini. Petunjuk yang kami dapatkan dari internet mengatakan waktu menuruni jalur Linggarjati hanya 6 jam. Dengan patokan waktu tersebut, kami hanya membawa bekal air yang cukup untuk waktu 6 jam. Jika perkiraan waktu tepat, maka jam 5 sore kami akan sampai puncak. Tapi ternyata kami tertipu dengan artikel yang ditulis pendaki gila di internet tersebut. Dengan setengah berlari kami menuruni jalur ini, 6 sudah kami berjalalan tapi tak kunjung kami sampi di dataran rendah. Trek disini sangat gila bagi para pendaki karena sangat terjal. Kami yang turun sesekali harus merangkak karena turunan begitu curam. Waktu 6 jam telah berlalu, dan stok persedian air kamipun telah habis. Di tambah lagi dengan kondisi kesehatan teman kami Edo yang sangat parah. Setiap berhenti dia pasti muntah-muntah, kami yang sehat lama2 ketularan efek sakit tersebut. Haripun mulai gelap, kami harus mengeluarkan senter untuk menerangi jalan. Perjalanan tidak bisa secepat di siang hari. Sampai pada titik dehidrasi kami yang menyiksa. Di pos kami menemukan perndai yang sedang berkemah, tanpa rasa malu kami meminta air minum ke mereka. Air setengah aqua besarpun kami habiskan untuk 6 orang. Terimakasih banget, sedikit mengobati dehidrasi kami. Kami berjalan  lagi tanpa henti, sampai akhirnya kami di ladang penduduk. Sampai disini Saya dan Ervan tergeletak tak berdaya karena kembali mengalami Dehidrasi, sedangkan yang lainnya terus turun meninggalkan kami. Kami berdua terkapar di rerumputan pinggir jalur pendakian. Sampai pada akhirnya ada pendaki yang lewat dan kamipun kembali meminta air minum ke mereka. Segar sekali rasanya, kami bangkit dan melanjutkan perjalanan lagi. Sementara itu, teman saya Chimot mencoba memakan pelepah pisang untuk mendapatkan sedikit air penghilang dehidrasi. Sedangkan si Son dan Purwo meminum air di dalam aqua yang tertinggal di jalan, gak tau itu bersih atau tidak. Dehidrasi benar2 menyiksa kami dan hampir membunuh kami disini. Tak mau melihat jam karena kami sudah frustasi dengan prediksi 6 jam tersebut. Akhirnya sampi juga kami di Pos 1, dimana disiti terdapat sumber air melimpah. Bagaikan kemarau me rindukan hujan, kami langsung melampiaskan kehausan kami dengan minum air sungai sebanyak2nya. Waktu telah menunjukkan jam 9 malam, perjalanan selama11 jam telah kami lalui, jauh dari prediksi awal. Satu jam perjalanan lagi akhirnya kami sampai di Pos Pendakian Linggarjati. Tepat 12 jam perjalanan kami lewati, dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Dua kali lipat prediksi awal kami. Pos pendakian masih terbuka dan dijaga oleh mas kampung setempat. Disebelah pos terdapat warung, tapi sudah tutup karena kemaleman. Tapi kami beruntung, pemilik warung pun membuka pintu untuk kami setelah di ketok2. Nasi lauk telor dadar porsi jumbo pun kami lahap dengan cepat.

Pos Linggarjati – Terminal Cirebon

Ciremai9Karena kemalemen, tidak ada angkot yang beroperasi lagi untuk menuju terminal Cirebon. Akhirnya kami mencharter mobil yang ditawarkan oleh mas penjaga Pos. Dengan mobil Carry angkot kami meluncur ke terminal Cirebon. 1 jam perjalanan kami tempuh akhirnya sampai di terminal Cirebon. Son dan Ervan memutuskan langsung pulang ke Bekasi karena ada keperluan di keesokan harinya. Sedangkan Saya, Edo, Chimot dan Purwo menginap di Hotel sebelah kanan terminal. Kami sengaja menginap karena kondisi fisik kami dan edo benar2 sudah drop. Hotel murahan seharga 60 ribu per kamar pun kami pilih. Keesokan harinya kami berkemas dan mempersiapkan kepulangan ke tempat masing2. Saya, Edo dan Purwo ke Bekasi sedangkan Chimot ke Surabaya. Petualangan kali ini benar2 melelahkan kami. Kami meberikan tiga predikat untuk gunung ciremai ini, yaitu Gunung Tertinggi di Jabar, Gunung dengan Trek Tergila, gunung dengan Pemandangan terburuk sepanjang perjalanan (Red: karena saya tidak suka hutan hujan tropis ). Bagi anda yang suka dengan nuansa hutan hujan tropis, mungkin gunung Ciremai sangat indah adalah pilihan yang tepat bagi anda.

Gede : Berburu nasi uduk di puncak

Gunung Gede 08 -09 September 2007

Gunung Gede merupakan gunung yang paling populer di jawa barat. Gunung Gede terletak di kabupaten Cianjur Jawa Barat yang memiliki ketinggian 2958 mdpl. Gunung ini sangat poluper karena dekat dengan ibukota jakarta dan bandung yang padat penduduk dan sibuk dengan pekerjaan. Pendakian gunung Gede dapat dilakukan melalui 3 jalur, yaitu jalur Cibodas, jalur Salabintana dan jalur Gunung Putri. Gunung ini merupakan gunung yang paling padat pendakian sampai jumlah pendaki tiap haripun dibatasi. Jumlah pendaki dibatasi sebanyak 600 orang per hari dengan komposisi 300 dari Cibodas, 200 dari Gunung Putri dan 100 dari Salabintana. Pendaki diwajibkan melakukan pendaftaran minimal 3 hari sebelum pendakian dan maksimal 30 hari sebelum pendakian. Jumlah anggota dalam satu rombongan pendaki minimal 3 orang, jadi jangan harap bisa mendaki sendirian atau berdua disini. Karena begitu padatnya jalur pendakian ake Gunung ini, setiap bulan agustus dan bulan desember sampai maret biasanya Tanam Nasional Gunung Gede Pangrango menutup jalur pendakian untuk mengembalikan kelestarian ekosistem. Pendakian kali ini kami lakukan ber-6 yaitu Saya,Edo,Agus,Ervan,Son,Hadid. Kami melkukan proses registrasi sebulan sebelum pendakian di mulai. Biaya registrasi sebesar 12 ribu rupiah per orang, lumayan mahal kan. Memang gunung ini adalah gunung termahal yang pernah aku daki. Pendakian kami lakukan melalui jalur Cibodas an turun di jalur Gunung Putri.

Perjalanan Bekasi – Cibodas

Gede 1Perjalanan kami awali dari markas besar kami di bekasi mulai pukul 8 pagi. Dari bekasi kami naik bus mayasari bakti jurusan Kampung Rambutan yang bernomor 9B. Perjalanan selama 45 menit akhirnya kami sampai di terminal Kampung Rambutan. Di terminal Kampung Rambutan kami mencari pangkalan bus antar kota dalam provinsi jurusan kampung Rambutan – Cianjur via Cibodas. Setelah beberapa menit kami tidak juga menemukan trayek tersebut, akhirnya kami naik bus jurusan Cianjur. Perjalanan panjang menuju Cianjur kami lewatkan selama kurang lebih 3 jam karena jalanan yang macet dan panjang. Sampai di terminal Cibodas kami segera mencari bus jurusan puncak yang lewat Cipanas. Ternyata tidak ada angkot yang malayani trayek langsung ke Cibodas. Kami harus naik angkot sekali dan turun di tengah kota cianjur untuk kemudian ganti angkot jurusan Cipanas. Sebenarnya angkot tersebut hanya sampai di Cipanas dan tidak sampai ke Cibodas, tetapi kami membayar lebih untuk mengantarkan kami sampai di pertigaan depan Pos pendakian Cobodas. Sampai di pos pendakian kurang lebih pukul 1 siang, kami segera menunaikan ibadah sholat di dekat pos pendakian. Setelah semua persiapan selesai, kami segera melakukan pendakian.

Cibodas – Mata Air Panas – Kandang Badak

Gede3Perjalanan pertama kami mulai dengan jalan aspal melewati samping Kebun Raya Cibodas. Sampai di gerbang pendakian memasuki hutan kami melapor ke petugas TNGP untuk menunjukkan tiket yang sudah kami beli sebelumnya. Selanjutnya kami melewati jalur bebatuan yang sudah tertata rapi dan lebar. Jalur ini merupakan jalur menuju Air Terjun Cibereum yang juga merupakan tempat wisata favorit bagi anak muda. Perjalanan menanjak melewati bebatuan yang sudah tertata kami lewati sepanjang perjalanan. Hutan di gunung ini merupakan hutan hujan tropis yang sangat lebat dan rimbun sehingga sepanjang perjalanan kita akan terlindung dari sinar matahari. Mendaki gunung ini serasa mendaki sebuah Candi yang sudah ada undak-undakanya. Setelah 2 jam perjalanan kami sampai di mata air panas. Kami pun menyempatkan untuk bermain air yang hangat dan berfoto2 di sini. Air panas disini benar2 bersih dan bebas dari belerang sehingga aman di guankan untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Stelah puas menikmati hangatnya mata air ini, kami segera melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya yaitu Kandang Badak. Lagi2 trek yang kami lalui adlah bebatuan yang sudah benar2 tertata dan di siapkan sebagai jalur pendakian. Satu jam perjalanan dari mata air panas akhirnya kami sampai di Pos Kandang Badak. Pos kandang badak merupakan tempat yang biasa dibuat camping para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede atau ke Gunung Pangrango. Pos ini cukup luas dan terletak di tengah2 hutan sehingga terlindung dari terpaan angin. Selain itu terdapat sumber air bersih yang melimpah di pos ini. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda dan menginap disini. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam sederhana dan minuman hangat. Tak lupa saya membuat api unggun untuk menghangatkan bdan kami dari kedinginan. Empat orang tidur di dalam tenda, sedangkan saya dan edo sengaja tidur di luar karena tenda cukup sempit untuk 6 orang. Lagi enak2nya tidur tiba2 gerimis datang, saya dan edo pun terbangun dan segera masuk ke tenda. Tenda yang tadinya longgar sekarang menjadi kandang babi yang umpek-umpekan tidak karuan. Alarm kami seting jam 1 pagi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Gak tau kenapa, ternyata alarm yang di seting tidak berbunyi dan kami terbangun terlambat 1 jam karena suara pendaki lain. Jam 2 kami segera merapikan tenda dan packing tas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.

Kandang Badak – Pertigaan Gede Pangrango – Puncak

Gede5Perjalanan malam kami lewati bersama untuk menjemput sunrise yang kami impikan. Setengah jam perjalanan kami sampai di pertigaan yang mengarah ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Untuk ke gunung gede kita harus mengambil arah kiri sedangkan untuk ke Pangrango kita ambil arah kanan. Setelah satu jam perjalanan, kami dihadapkan dengan tanjakan yang sangat terjal yang sering di sebut sebagai tanjakan setan. Untuk mendaki kita harus memegang tali tembaga yang sudah di sediakan di sepanjang jalur. Tanjakan ini kami lalui selama setengah jam. Setelah melewati tanjakan setan, kami melewati hutan perdu yang mengindikasikan bahwa puncak sudah dekat. Dari sini juga sudah tercium bau belerang dari kawah gunung gede yang masih mengeluarkan sedikit asap. Kami bergegas mempercepat langkah kaki untuk segera mencapai puncak. Akhirnya kami mencapai punggungan puncak gunung Gede yang berupa tanah berpasir. Angin kencang menerpa kami dari arah kiri karena areanya yang terbuka dan tidak terhalang apapun. Kami sempat berhenti di sela2 bebatuan untuk berlindung dari terpaan angin. Saya dan hadid pun membuka mie instant untuk mengisi perut yang sangat lapar dan melilit. Sementara Son dan Edo telah jauh meninggalkan kami. Setengah jam kami melewati punggungan puncak ini akhirnya sampai di titik triangulasi yang ditanda dengan tugu pendek. Puncak dari gunung gede ini maih di tumbuhi tanaman perdu dan edelweis. Banyak pendaki yang berkemah di puncak ini dan memanfaatkan tempat di sela2 tanaman perdu. Tidak sia2 perjuangan kami, tak lama kemudian kami dihadiahi dengan Sunrise yang indah dari ufuk timur. Segera kami berpose untuk mengabadikan pencapaian yang indah ini.

Gede6

Nasi uduk termahal dan ter-Nikmat

Pemandangan di puncak gunung Gede ini cangat indah walau Viewnya hanya 180 derajat. Di sebelah barat laut berdiri kokoh gunung Pangrango sedangkan di timur jauh terlihat Gunung Ciremai. Sejenak kami menghangatkan tubuh dengan sinar matahari yang menyinari kami. Di sela2 kesibukan kami berfoto ria, terdengar suara penjual nasi uduk tak jauh dari kami. Ini gunung atau pasar sih, kok ada yang jualan nasi uduk..???, bergumam sendiri. Jauh2 ke puncak gunung Gede hanya untuk menjual Nasi Uduk, benar2 perjuangan hidup yang patut di acungi jempol. Setelah kami menanya harga, ternyata sangat mahal. Nasi uduk secentong lauk terlu dadar seiris dan sambal bawang harganya 7000 rupiah. Kalau di bekasi harganya cuman 2500 rupiah, pikirku ngambil untungnya banyak banget niy penjual. Kami pikir2 wajar lah mahal, perjuangan membawa nasi uduk dari bawah ke puncak emang gratis. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli 3 bungkus nasi uduk dibagi ber-6. Hmmm…..gak tau kenapa rasanya sungguh nikmat, mungkin memang laper atau tidak ada yang lain ya :D . Setelah kenyang sarapan pagi, kami segera berkemas untuk turun melalui jalur Gunung Putri. Kami menuruni puncak melalui hutan perdu yang mengarah ke Alun-alun Suryakencana. Kami berhenti sejenak untuk menikmati suasana di Alun2 Suryakencana yang terkenal ini. Alun2 ini berupa padang sabana yang sangat luas dan datar. Banyak sekali pendaki berkemah disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak. Alun2 ini merupakan Pos terakhir dari jalur Gunung Putri untuk menuju puncak. Disini terdapat sumber air berupa sumur, untuk mendapatkan airnya kita harus menimba. Setelah setengah jam kami istirahat disini, kami melanjutkan perjalanan turun dengan mengambil arah ke kiri menuju jalur Gunung Putri. Seperempat jam perjalanan menyusuri sabana, akhirnya kami sampai di batas hutan. Trek sepanjang perjalanan turun cukup curam melewai hutan lebat. Trek tidak seperti jalur cibodas yang berupa bebatuan tertata rapi melainkan tanah yang berdebu. Perjalanan turun drastis sangat mempersingkat waktu turun. Hanya dalam waktu 3 jam kami sudah sampai di batas ladang penduduk. Di tengah ladang penduduk terdapat warung yang menyediakan minuman dan girengan hangat. Kami menyempatkan mampir sejenak untuk menikmati tempe goreng dan teh hangat disini. Saya, Edo dan Son sampai duluan di Pos pendakian Gunung Putri. Kami mencoba lapor ke pos tetapi kami malah sempat ricuh dengan petugas pos yang mengira kami meninggalkan teman kami ber-3 di belakang. Dengan cueknya kami segera turun dan mencari masjid untuk membersihkan diri. Akhirnya kami bertemu di Cipanas dan melanjtkan perjalanan pulang ke Bekasi. Dari Cipanas kami naik bus jurusan Bogor dan selanjutnya dari Bogor oper bis jurusan Bekasi Timur. Dari bekasi timur kami naik angkot ke Bekasi Barat, sampailah kami ke Markas besar kami.

Gede9

Gede7Gede8

Gede10