Anak Krakatau Part#3 : Menjejakkan kaki di puncak purba

Camping di Lereng Anak Krakatau

Masih menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon Cabe di pulau Rakatta. Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat ke daratan karena bibir pantai yang terlalu dangkal, sehingga kami harus basah-basahan mencincing celana untuk merapat ke pulau Anak Krakatau ini. Pantai disini berpasir hitam pekat, mungkin karena pasir ini berasal dari erupsi gunung Anak Krakatau di masa lalu. Satu persatu dari kami turun dari perahu dan menurunkan semua perlengkapan berkemah. Kebetulan waktu itu kami sedang kurang beruntung, tempat yang biasa dipakai untuk camping sudah ditempati oleh rombongan fotografer yang lebih dahulu datang kesini. Akhirnya kami mencari tempat datar tepat dipinggir pantai, diatas tanah lapang berpasir yang ditumbuhi ubi jalar. Kami membawa 4 tenda, 2 untuk cewek dan 2 untuk cowok. Hmm . . .berkemah dipantai memang tidak seperti di gunung, udaranya cenderung panas, jadi kami malah asyik bermain, nongkrong, dan tiduran di luar tenda. Acara yang tidak boleh dilewatkan ketika kita berkemah di pinggir pantai adalah “Bakar Ikan”, kami pun membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang bersandar di pantai ini. Satu ikan besar seberat 4 kg seharga 50 ribu rupiah cukup untuk pesta api unggun malam itu. Untuk membakar ikan ternyata ada tekniknya sendiri, kami pun diajari cara membakar ikan yang baik oleh rangger kami pak Amir. Udara pantai yang hangat membuat suasana api unggun semakin panas, lain dengan api unggun di gunung yang menghangatkan badan dari udara dingin, disini kami malah lepas baju karena kepanasan dan keringetan. Sekitar 1 jam ikan dipanaskan diatas bara api, ikan pun siap disantap bersama dengan bumbu kecap dan saus seadanya. Nasi liwet panas masakan ibu2 yang masih amatiran pun menjadi nikmat karena kebersamaan yang tercipta . . . hmmm . . . rasa ikan itu kembali terasa ketika nulis kalimat ini. Waktu sudah hampir jam 10 malam, pesta pun ditutup dengan mengambil posisi tidur masing2. Ada sebagian yg tidur di dalam tenda, ada sebagian lagi di bibir pantai, sebagian lagi di dekat api unggun. Udara pantai yang hangat membuat saya tidak ingin tidur di dalam tenda yang sumpek, saya lebih suka menggelar matras dan tiduran diluar beratapkan langit malam yang semakin menghitam karena mendung. Di tengah2 lelapnya tidur kami, tiba2 setetes dua tetes air dari langit membangunkan kami, hujan ringan turun di tengah malam, kami pun bergegas masuk ke tenda untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

Mendaki Puncak Purba

Kami sepakat untuk bangun pukul 4 pagi untuk summit attack ke puncak Krakatau melihat Sunrise keesokan harinya. Karena hujan sepanjang malam, kami pun malas-malasan untuk bangun, karena kami berasumsi Sunrise tidak akan terlihat karena mendung. Sampai akhirnya jam 5 lebih kami baru keluar dari tenda, berkemas dan bersiap mendaki puncak Krakatau. Saya segera membangunkan Pak Amir yang bermalam di perahu untuk menuntun jalan kami trekking menuju puncak. Kami tidak terburu-buru waktu itu untuk mendaki, karena cuaca yang mendung sehingga Sunrise pun tak mungkin untuk di dapatkan. Jam setengah 6 pagi rombongan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Ternyata hanya butuh 10 menit untuk mencapai dasar dari kubah pasir gunung Krakatau dari bibir pantai, hanya menerobos beberapa ratus meter hutan cemara yang memisahkan antara pantai tempat kami menginap dengan dasar kubah pasir gunung Krakatau purba tersebut. Mendaki gunung ini, saya jadi teringat saat mendaki kubah pasir gunung Semeru. Bedanya di gunung semeru kita butuh waktu 2-3 jam untuk mendaki, disini kita hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai puncak. Kami berdiri persis di samping gunung anak Krakatau yang masih aktif, diatas punggungan kubah pasir yang padat. dari atas sini bisa terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar gunung ini. Konon saat gunung Anak Krakatau meletus, para reporter televisi dan media mengambil gambar dan mengabadikan letusannya di pulau Rakatta agar aman dari lava panas yang dikeluarkannya. Sebenarnya pemandangan paling mengasyikkan adalah ketika gunung ini sedang meletus, kita bisa melihat percikan api yang membumbung ke langit seperti kembang api raksasa dari mulut gunung tersebut. Nah jika kita ingin menikmati moment indah sekaligus berbahaya ini, tunggu saat gunung Anak Krakatau ini meletus lalu kita camping di Pulau Rakatta untuk menikmati pesta kembang api raksasa di malam harinya.  Sekitar 2 jam kami menikmati sejuknya udara pagi dipunggungan Anak Krakatau dan juga pemandangan alam sekitarnya yang terhampar luas. Setelah puass berada di puncak, kami segera memutuskan untuk turun kembali ke tempat camping. Tidak ada lagi agenda lain setelah ini, kami memutuskan untuk pulang langsung ke Pelabuhan Canti.

Arung Jeram Ekstrim

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, kami segera memulai perjalanan pulang menuju pelabuhan canti. Kejutan besar diberikan pada kami, perahu meninggalkan Anak Krakatau dengan memutar mengelilinginya ke arah selatan. Tak ayal ombak besar lautan lepas samudera hindia pun menghempaskan perahu kayu sederhana milik pak Amir. Perahu dihadang ombak besar dari depan, sehingga tabrakan keras pun terjadi, perahu menghujam tajam kebawah, air laut pun terhempas ke kami yang duduk didepan moncong perahu bagian depan, basah kuyub dehh. Kami pun berteriak sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat agar tidak jatuh ke laut (**Berlebihan :D ). Karena kapal memutar mengelilingi gunung Anak Krakatau ini, maka kami bisa melihat dengan utuh bagian gunung yang masih aktif tersebut. Pemandangan gunung Anak Krakatau dengan background langit biru pun sangat indah di depan mata kami. Perjalanan dari Anak Gunung Krakatau ke Pelabuhan Canti memakan waktu sekitar  4 jam tanpa berhenti, sampai Canti sekitar pukul 2 siang.

Meninggalkan Surga Kecil

Sampai di pelabuhan Canti sekitar pukul 2 siang, kami dipersilahkan mandi untuk membersihkan diri di  toko dekat pelabuhan. Sebagian dari kami mandi di rumah pak Wawan, ranger yang juga menemani kami. Jam 3 sore angkot yang akan membawa kami pun sudah tiba dan siap mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah angkot sewaan yang sudah janjian mengangkut kami pulang pergi Bakauheni – Canti di hari sebelumnya waktu kami berangkat kesini. Kembali kami menyusun strategi untuk bisa memasuki angkot kecil ini, karena barang bawaan kami sudah berkurang banyak, maka angkotpun lebih longgar dan lebih nyaman (walaupun tetep umpek2an seperti sayuran :D ). Perjalanan dari Canti ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam karena kepadatan jalan dan kemacetan di jembatan yang sedang diperbaiki. Kami sampai di Bakauheni sekitar pukul 5 sore, segera kami membeli tiket kapal menuju Merak. Akhirnya kapal berangkat sekitar pukul 6 sore, sampai di pelabuhan Merak pukul 8 malam. Dari pelabuhan Merak, kami naik Bus Arimbi PATAS-AC yang memiliki tujuan akhir Kampung Rambutan. Inilah akhir petualangan kami menikmati Surga Kecil di Anak Gunung Krakatau, benar-benar petualangan yang komplit dan penuh warna . . .

Thanks to #Suddenly Community   . . . I missing traveling together with all of you . . . .

Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil


Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net :D ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air :D . Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan :D . Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3

Anak Krakatau Part#1 : Menyusun rencana petualangan

Menjelajah Gunung Anak Krakatau (21-23 Mei 2010)

Siapa orang Indonesia yang gak kenal dengan Gunung Krakatau..??? Peramal dari Italia pun dulu sempat meramal adanya gunung yang akan meletus dasyat pada tahun 1883, itulah gunung Krakatau. Gak lengkap rasanya petualangan ini sebelum bisa menjelajah gunung legendaris tersebut. Gunung Krakatau terletak diantara pulau Jawa dan Sumatra, tepatnya di Selat Sunda sebelah selatan. Setelah gunung Krakatau meletus dasyat untuk yang terakhir kalinya pada 27 Agustus 1883 (Sumber : Wikipedia), gunung tersebut tidur lama dan tidak lagi melakukan aktivitas vulkanik. Setelah tidur nyenyak selama lebih dari 40 tahun, pada tahun 1927 munculah Anak Krakatau dari permukaan laut. Percepatan pertumbuhan gunung ini adalah 20-40 kaki per tahunnya. Sampai sekarang gunung ini merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia dan sering mengeluarkan lava pijar. Bahkan akhir2 ini sering terjadi gempa yang disebabkan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut. Walaupun tergolong gunung yang berbahaya untuk di daki, tetapi hal tersebut malah menjadi daya tarik bagi penjelajah alam seperti kami. Dan kami yang tergabung dalam “Suddenly Community” (Komunitas dadakan) adalah sebagian orang yang tertarik untuk mengunjungi “Surga Kecil” itu.

Atas (Dari Kiri) : Andik, Hevy, Shinta, Nanett, Flow, Ferna, Dewik, Chandra (Ranger), Bawah (Dari Kiri) : Andri, Nova, Yenny, Mantos, Andrea, Banjar, Amir (ranger)

Di balik rencana ke Anak Krakatao

Mendaki gunung Anak Krakatau adalah salah satu impian saya sebagai seorang pendaki gunung. Setelah mendaki banyak gunung di Jawa, saya ingin mencoba menjajaki atap2 dunia di luar pulau Jawa. Rencana pertama adalah mendaki gunung Rinjani di NTB, tetapi sayang rencana itu selalu gagal setelah sekian lama pendakian gunung Rinjani ditutup akibat aktivitas gunung Barujuri. Sudah 3 tahun terakhir ini saya selalu gagal mendaki Rinjani, sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk mengganti target. Tak disangaka, saya mendapat kabar baik dari teman saya bahwa karakatau boleh dikunjungi dalam waktu dekat ini. Tapi sial bagi saya yang masih baru tinggal di jakarta dan belum memiliki banyak teman untuk berpetualang. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Krakatau sendirian, backpacking kesana mode “gembell”. Target saya semula hanya bisa mendaki ke gunung anak krakatau tersebut, padahal banyak yang bisa dilakukan selain hanya sekedar mendaki gunung, yaitu snorkeling, mancing dan camping. Tak sengaja saya chat dengan teman lama saya yang dulu pernah naik gunung bareng di Semeru tahun 2007. Sudah 3 tahun kami tidak bertemu, dan waktu pendakian Semeru itupun saya hanya kenal2an saja dan bisa dibilang tidak akrab. Tapi entah mengapa, kami ngobrol selayaknya sahabat lama yang sangat akrab. Dia adalah “Nanett”, yang akhirnya menjadi partner baik saya untuk merencanakan petualangan ini. Hanya dalam hitungan hari, dengan kesaktianya “Nanett” berhasil menarik perhatian banyak anggota mailing list “Woi Communitty” untuk ikut dalam ekspedisi kali ini. Sedangkan saya hanya bersantai menunggu kabar baik darinya (sorry yo nett…..hahaha), sambil mencari info tentang perjalanan ke Krakatau. Singkat cerita, terdapat 19 calon peserta yang akan ikut dalam ekspedisi kali ini. Waktu di set tanggal 21-23 Mei 2010, hanya memanfaatkan weekend biasa. Akhirnya di hari-H hanya tersisa 14 peserta yang benar2 ikut dalam ekspedisi ini. Ke-14 orang tersebut adalah Saya, Nanet, Nova, Andri, Dewik, Flow, Yenny, Andrea, Ferna, Shinta, Banjar, Andik, Hevy, Bu Suwarti.

Itinerary Perjalanan

Untuk mengunjungi Anak Krakatau memang mahal jika dilakukan oleh satu orang, tetapi bisa sangat murah jika kita jalan bareng bersama rombongan orang banyak. Berikut ini adalah itinerary perjalanan yang kami buat,

Jum’at, 21 May 2010:
20:00 – 22:00 : Kumpul di Halte Sebrang RS Harapan Kita –> setelah Slipi Jaya.
22:00 – 24:00 : Jakarta – Merak

Sabtu, 22 May 2010
24:30 – 02:30 : Ferry Merak – Bakauheni
03:00 – 04:30 : Angkot Bakauheni – Canti
07:30 – 09:30 : Perjalanan Canti – Sebesi (Sarapan di perjalanan)
10:00 – 12:00 : Snorkling di Pulau Umang2 (dekat dengan P Sebesi)
12:00 – 14:00 : Menuju ke Lagoon Cabe (di sekitar P Rakata)
14:00 – 16:00 : Snorkeling
16:00 – 17:00 : Perjalanan menuju Pulau Anak Krakatau
17:00 – 18:00 : Mendirikan tenda untuk Camping
18:00 – 23:00 : Makan malam, Api Unggun & Bakar2 ikan

Minggu, 23 May 2010

04:00 – 05:00 : Perjalanan ke puncak Gunung Anak Krakatau (Berburu Sunrise)
05:00 – 08:00 : Menikmati panorama dari puncak gunung
08:00 – 09:00 : Turun gunung
09:00 – 11:00 : Sarapan pagi, berkemas2 & packing persiapan pulang
11:00 – 14:00 : Perjalanan menuju Pelabuhan Canti
14:00 – 16:00 : Mandi, makan siang, & persiapan pulang menuju Bakauheni
16:00 – 18:00 : Angkot Pelabuhan Canti ke Bakauheni
18:30 – 20:30 : Ferry Bakauheni – Merak
21:00 – 23:00 : Bus Merak-Jakarta

Rincian Biaya

  • Bus Jakarta – Merak (Ekonomi Non-AC) : Rp 15.000,-
  • Ferry Merak – bakauheni (Ekonomy : Rp 10.000,-
  • Carter Angkot Bakauheni – Pelabuhan Canti : Rp 170.000,- (Rp 12.000.-/orang)
  • Carter Perahu Kayu Canti – Anak Krakatau PP : Rp 2.800.000,- (Rp 200.000,-/orang)
  • Katering 2x (Sarapan & Makan Siang) : Rp 25.000,-
  • Galon Air Aqua 3x : Rp 45.000,- (Rp 3.200,-/orang)
  • Ikan Segar : Rp 50.000,- (RpRp 3.500,-/orang)
  • Carter Angkot Canti – Bakauheni : Rp 150.000,- (Rp 10.700,-)
  • Ferry Bakauheni – Merak : Rp 10.000,- (+ Rp 7.000,- jika mau masuk ke kelas Bisnis ber-AC)
  • Bus Merak – Jakarta : Rp 20.000,- (Ekonomi AC)

TOTAL Pengeluaran : Rp 316.000,-/orang + Sewa alat Snorkeling Rp 50.000,- bagi yg tidak membawa dari rumah

CATATAN :

  1. Bus dari Jakarta – Merak dapat diperoleh dari terminal Kampung Rambutan atau dari seberang RS Hrapan Kita Slipi ->dekat Mall Slipi Jaya. Tarif Ekonomi Rp 15.000,- & Tarif AC Ekonomi Rp 17.000 – 20.000,-. Bus di Slipi sampai sekitar jam 10 malam.
  2. Kapal Ferry untuk penyeberangan Merak – Bakauheni ada setiap 45 menit sekali. Tarif Ekonomi Rp 10.000,- sedangkan untuk kelas Bisnis ber-AC nambah Rp 7.000,- (bayar diatas kapal)
  3. Jika traveling sendirian, Dari Bakauheni ke Pelabuhan Canti bisa naik Angkot warna Kuning dari Terminal Angkot di Pelabuhan Bakauheni menuju Terminal Bus Kalianda (+- Rp 6.000,- lama perjalanan sekitar 1 jam). Dari Kalianda ke pelabuhan canti naik Angkot warna Merah (+- Rp 3.000,- lama perjalanan sekitar 30 menit). Angkot beroperasi mulai dari jam 05.00 – 18.00
  4. Harga carter perahu kayu Rp 2.800.000,- Tanpa Nego (jika nego mungkin bisa lebih murah), penumpang max 25 orang. Contact Person Pak Amir : 081379373789
  5. Perahu Reguler dari Pelabuhan Canti ke Pulau Sebesi belum terjadwal dengan baik, sebaiknya datang pagi hari agar bisa menunggu kapal reguler yang biasa digunakan untuk angkutan barang2 komoditi perdagangan.
  6. Harga sewa Angkot standarnya Rp 150.000,- , Idealnya diisi oleh 10 penumpang. Contact Person Pak Ferri : 081273376971 :
  7. Peralatan Snorkeling hanya tersedia 5 buah, harga sewa Rp 50.000,- (tanpa nego)

Cerita2 menarik selama di Anak Krakatao akan segera hadir di : Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan menuju Surga Kecil

Ciremai : Tertinggi dan Tergila di Jawa barat

Ciremai, 09-11 April 2009

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3078 mdpl. Terletak di wilayah kabupaten Cirebon, tepatnya di Kuningan. Pendakian ke Gunung Ciremai dapat dilakukan melalui 3 jalur, yaitu jalur Majalengka, Palutungan dan Linggarjati. Jalur Linggarjati merupakan favorit bagi pendaki walaupun jalur ini terkenal dengan treknya yang sangat berat dan panjang. Gunung Ciremai sangat terkenal dengan legenda Nini Pelet yang tak asing di kalangan pecinta Sandiwara Radio jaman dulu. Pada kesempatan kali ini kami melakukan pendakian ber-6 yaitu (Saya, Chimot, Son, Edo, Purwo, Ervan). Kami melakukan pendakian melalui jalur Palutungan dan turun melalui jalur Linggarjati. Waktu pendakian kali ini sengaja kami pilih saat negara kita sedang mengadakan Pesta Demokrasi untuk memilih wakil rakyat. Kebetulan jatuh pada hari Kamis, sehingga kami mengambil cuti sehari di hari Jum’atnya yang kecepit.

Perjalanan Bekasi – Palutungan

Ciremai1Perjalanan kami mulai dari bekasi untuk Saya, Edo, Son, Ervan dan Purwo sedangakan Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kita janjian ketemu di Terminal Cirebon di keesokan harinya. Kami ber-5 mulai berangkat dari markas bekas1 jam 11 malam naik Taksi ke terminal Bis Pulogadung. Sampai terminal Pulogadung jam 12 malam, segera kami mencari Bus Jurusan Cirebon. Ternyata arus mudik membuat bus jurusan Cirebon habis dan kami harus sabar menunggu kedatangannya. Satu jam sudah kami menunggu “ngenthang” di terminal, tetapi bus tak kunjung datang. Akhirnya kami mencoba mencari bus alternatif jurusan Cirebon. Ada bus mini yang menawarkan trayek Cirebon layaknya bus charteran. Dengan bandrol 40 ribu akhirnya kami terpaksa naik bus kecil dan “umpek-umpek”an di dalam. Karena kami membawa tas gunung yang besar, kamipun tidak bisa leluasa duduk karena tidak ada bagasi untuk menaruh barang. Jam 2 kami berangkat dari terminal Pulogadung menuju Cirebon. Dengam bus mini kamipun tidak bisa melaju dengan kencang, kecepatan maksimum hanya 80 km/jam karena full load. Perkiraan 4 jam perjalanan kami sampai di Cirebon, sehingga pukul 6 pagi kami sudah sampai. Akhirnya kami sampai di terminal Cirebon jam 8 pagi. Kami mencari mushola untuk membersihkan diri dan mnyegarkan tubuh dari rasa ngantuk sambil menunggu Chimot yang masih dalam perjalanan. Beberapa menit kemudian chimot pun datang di hadapan kami, lengkap sudah tim kami. Setelah bersih2 badan, kami segera mencari sarapan untuk mengisi stamina. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Palutungan. Dari terminal Cirebon kami naik Bison atau ELF menuju kota kuningan dengan ongkos 4000 rupiah per orang. Turun di kuningan kami turun dan mencari angkot jurusan ke Desa Palutungan. Sebenarnya tidak ada angkot yang langsung menuju desa Palutungan, tapi karena kami ber-6 jadi kami hanya perlu nambah ongkos untuk mengantarkan kami sampai desa Palutungan. Setelah perjalanan selama 20 menit akhirnya kami sampai di desa palutungan. Di sini kami mencoba lapor ke Pos Pendakian, berhubung Pemilu maka Pos pun tutup sehingga kami langsung melakukan pendakian tanpa ijin :D .

Palutungan – Cigowong

Ciremai2Sekitar jam 11 kami mulai melakukan perjalanan melewati rumah2 penduduk dan kerumunan warga yang sedang sibuk merayakan pesta demokrasi. Setelah melewati kampung, kami melintasi ladang penduduk yang banyak ditanamai wortel. Trek masih cukup landai, sangat cocok untuk pemanasan. Sementara teman saya Edo sudah sudah terlihat pucat karena masuk angin. Tak ada kata menyerah, kami terus berjalanan sampai batas ladang penduduk. Setelaha berjalan selama kurang lebih 1 jam, kami sampai di batas ladang penduduk dan menemui jalan buntu. Jalan menuju ladang dengan jalan menuju puncak hampir sama, sehingga kami tersesat mengikuti jalur petani. Akhirnya kami mencoba balik kucing dan mencari jalur yang benar sambil menerka2 dengan logika untuk mencari jalan yang benar. Tak juga kami menemukan jalan lain selain jalan yang kami lewati tadi. Kami mencoba untuk menerabas ladang penduduk dan melewati hutan, akhirnya kami sampai di ladang penduduk yang lain. DI tengah ladang terdapat jalan setapak yang kelihatanya sudah biasa dilewati orang. Untuk memastikan apakah jalan ini benar, kami menanyakan ke petani yang sedang bekerja. Senang sekali, ternyata kami telah menemukan jalur yang benar. Kami lanjutkan perjalanan dan target pertama kami adalah Pos Cigowong. Perjalanan melewati hutan hujan tropis kami lewati dengan trek yang masih landai. Setelah 2 jam perjalanan, kami sampai di Pos Cigowong. Pos ini memiliki area luas dan terdapat mata air di bawahnya. Kami menyempatkan untuk istirahat sejenak dan mengisi air minum kami di sungai kecil yang sangat bening airnya. Setelah makan siang dan menunaikan sholat, kami segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

Cigowong – Arban – Tanjakan Asoy – Ngecamp

Ciremai3Sekitar jam 3 sore kami melanjutkan perjalanan menuju target kami berikutnya yaitu Pos Arban. Perjalanan masih melalui hujan hutan tropis yang lebat. Sebagai seorang yang mempunya phobia ruang tertutup, saya paling tidak suka dengan trek hutan seperti ini. Ingin rasanya segera lepas dari hutan dan menemukan area terbuka dan bisa memandang langit dan menghirup udara segar. Trek sepanjang perjalanan menuju Arban masih cukup landai. Setelah 2 jam perjalanan akhirnya kami sampai juga di Pos Arban. Disini terdapat pendaki lain yang sedang berkemah, kami hanya berhenti sejenak dan meneruskan perjalanan lagi. Walaupun teman kami Edo sakit2 an dan tak jarang muntah2 di tengah jalan, kami tetap melanjutkan perjalanan sampai menemukan tempat yang cocok untuk mengintai Sunrise. 1 jam perjalanan akhirnya kami sampai di tanjakan Asoy. Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore, kami menyempatkan diri untuk sholat terlebih dahulu sebelum menjutkan perjalanan. Tanjakan Asoy merupakan tanjakan permulaan yang benar2 memacu jantung dan otot. Trek yang cukup terjal akan dimulai dan berakhir di puncak. Obsesi kami untuk mengejar Sunrise pun kelihatanya mengalami kegagalan. Setelah melakukan perjalanan selama 2 jam, teman kami Purwo mengalami sakit otot kaki. Perjalanan kami pun tersendat2 dan akhirnya kami memutuskan untuk berhenti dan berkemah di tengah2 perjalanan. Sementara Edo sakitnya tambah parah, tak terhitung berapa kali dia sudah muntah di sepanjang perjalanan. Setelah mendirikan tenda, kami membuat makan malam sederhanda dari mie intant dan energen. Setelah makan malam, kami segera ambil posisi tidur untuk mengobati rasa lelah. Alarm jam 3 pagi pun berbunyi, kami segera bangun dan berkemas2 untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kami tidak tau berapa lama lagi kami mencapai puncak. Ekspektasi 4 jam perjalanan mencapai puncak mungkin sudah tidak masuk akal lagi.

Pasanggrahan – Gua Walet – Puncak

Ciremai4Sekitar pukul 4 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan kembali untuk menggapai puncak. Kami sudah pupus harapan untuk menikmati Sunrise dan menurunkan target untuk meraih puncak saja. Baru seperempat jam kami berjalan ternyata kami telah sampai di Pos Pasanggrahan. Ternyata kami terlalu dini memutuskan untuk berkemah di tengah perjalanan. Perjalanan terjal sepanjang perjalanan masih terus kami lalui. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami keluar dari hutan seiring terbitnya matahari pagi. Setelah 1 jam perjalanan lagi, kami menemukan Gua Walet. Gua walet terletak di sebelah kanan jalur pendakian. Untuk mencapai Gua ini kita harus menuruni jurang yang dalamnya kurang lebih 30 meter. Di depan Gua ini terdapat area yang sangat luas yang biasanya digunakan pendaki untuk berkemah. Kami menyempatkan untuk turun dan masuk ke Gua kecil ini. Kami sempat mengambil air hasil tetesan air dari atap Gua yang terkumpul di cekungan tanah. Namanya Gua Walet, tetapi tak banyak walet yang bersarang disini. Nggak tau lah, mungkin waletnya belum pada pulang kali :D . Stelah puas menikmati Gua walet, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak yang sudah terlihat dekat. Perjalanan terjal melalui bebatuan besar kami lalui selama 2 jam, akhirnya kami sampi juga di Puncak Gunung Ciremai. Lega rasanya bisa sampai di puncak walaupun sunrise sudah terlewatkan. Gunung ini memiliki kawah yang sangat besar yang masih mengeppulkan asap belerang. Untuk mengelilingi puncak memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Di sebelah timur terlihat Gunung Slamet . Di puncak terdapat tempat untuk berkemah juga. Di balik tumbuhan perdu dan edelweis kita bisa mendirikan tenda dan terlindung dari angin. Ada area datar yang bisa di jadikan tempat upacara bendera pada 17 agustus pula. Setelah menghabiskan waktu 1 jam berfoto dan menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk turun melalui jalur Linggarjati. Untuk mendapatkan jalur Linggarjati dari arah palutungan, kita harus menyusuri lingkaran sebelah kanan puncak selama kurang lebh 1 jam. Sampailah kita di tugu pendaratan jalur Linggarjati.

Puncak – Dehidrasi – Linggarjati

Ciremai8Jalur linggarjati adalah jalur yang sangat populer, terlihat dari jalannya yang sangat lebar dan kelihatan sering dilalui pendaki. Kurang lebih pukul 10 kami mulai menuruni jalur Linggarjati ini. Petunjuk yang kami dapatkan dari internet mengatakan waktu menuruni jalur Linggarjati hanya 6 jam. Dengan patokan waktu tersebut, kami hanya membawa bekal air yang cukup untuk waktu 6 jam. Jika perkiraan waktu tepat, maka jam 5 sore kami akan sampai puncak. Tapi ternyata kami tertipu dengan artikel yang ditulis pendaki gila di internet tersebut. Dengan setengah berlari kami menuruni jalur ini, 6 sudah kami berjalalan tapi tak kunjung kami sampi di dataran rendah. Trek disini sangat gila bagi para pendaki karena sangat terjal. Kami yang turun sesekali harus merangkak karena turunan begitu curam. Waktu 6 jam telah berlalu, dan stok persedian air kamipun telah habis. Di tambah lagi dengan kondisi kesehatan teman kami Edo yang sangat parah. Setiap berhenti dia pasti muntah-muntah, kami yang sehat lama2 ketularan efek sakit tersebut. Haripun mulai gelap, kami harus mengeluarkan senter untuk menerangi jalan. Perjalanan tidak bisa secepat di siang hari. Sampai pada titik dehidrasi kami yang menyiksa. Di pos kami menemukan perndai yang sedang berkemah, tanpa rasa malu kami meminta air minum ke mereka. Air setengah aqua besarpun kami habiskan untuk 6 orang. Terimakasih banget, sedikit mengobati dehidrasi kami. Kami berjalan  lagi tanpa henti, sampai akhirnya kami di ladang penduduk. Sampai disini Saya dan Ervan tergeletak tak berdaya karena kembali mengalami Dehidrasi, sedangkan yang lainnya terus turun meninggalkan kami. Kami berdua terkapar di rerumputan pinggir jalur pendakian. Sampai pada akhirnya ada pendaki yang lewat dan kamipun kembali meminta air minum ke mereka. Segar sekali rasanya, kami bangkit dan melanjutkan perjalanan lagi. Sementara itu, teman saya Chimot mencoba memakan pelepah pisang untuk mendapatkan sedikit air penghilang dehidrasi. Sedangkan si Son dan Purwo meminum air di dalam aqua yang tertinggal di jalan, gak tau itu bersih atau tidak. Dehidrasi benar2 menyiksa kami dan hampir membunuh kami disini. Tak mau melihat jam karena kami sudah frustasi dengan prediksi 6 jam tersebut. Akhirnya sampi juga kami di Pos 1, dimana disiti terdapat sumber air melimpah. Bagaikan kemarau me rindukan hujan, kami langsung melampiaskan kehausan kami dengan minum air sungai sebanyak2nya. Waktu telah menunjukkan jam 9 malam, perjalanan selama11 jam telah kami lalui, jauh dari prediksi awal. Satu jam perjalanan lagi akhirnya kami sampai di Pos Pendakian Linggarjati. Tepat 12 jam perjalanan kami lewati, dari jam 10 pagi sampai jam 10 malam. Dua kali lipat prediksi awal kami. Pos pendakian masih terbuka dan dijaga oleh mas kampung setempat. Disebelah pos terdapat warung, tapi sudah tutup karena kemaleman. Tapi kami beruntung, pemilik warung pun membuka pintu untuk kami setelah di ketok2. Nasi lauk telor dadar porsi jumbo pun kami lahap dengan cepat.

Pos Linggarjati – Terminal Cirebon

Ciremai9Karena kemalemen, tidak ada angkot yang beroperasi lagi untuk menuju terminal Cirebon. Akhirnya kami mencharter mobil yang ditawarkan oleh mas penjaga Pos. Dengan mobil Carry angkot kami meluncur ke terminal Cirebon. 1 jam perjalanan kami tempuh akhirnya sampai di terminal Cirebon. Son dan Ervan memutuskan langsung pulang ke Bekasi karena ada keperluan di keesokan harinya. Sedangkan Saya, Edo, Chimot dan Purwo menginap di Hotel sebelah kanan terminal. Kami sengaja menginap karena kondisi fisik kami dan edo benar2 sudah drop. Hotel murahan seharga 60 ribu per kamar pun kami pilih. Keesokan harinya kami berkemas dan mempersiapkan kepulangan ke tempat masing2. Saya, Edo dan Purwo ke Bekasi sedangkan Chimot ke Surabaya. Petualangan kali ini benar2 melelahkan kami. Kami meberikan tiga predikat untuk gunung ciremai ini, yaitu Gunung Tertinggi di Jabar, Gunung dengan Trek Tergila, gunung dengan Pemandangan terburuk sepanjang perjalanan (Red: karena saya tidak suka hutan hujan tropis ). Bagi anda yang suka dengan nuansa hutan hujan tropis, mungkin gunung Ciremai sangat indah adalah pilihan yang tepat bagi anda.

Gede : Berburu nasi uduk di puncak

Gunung Gede 08 -09 September 2007

Gunung Gede merupakan gunung yang paling populer di jawa barat. Gunung Gede terletak di kabupaten Cianjur Jawa Barat yang memiliki ketinggian 2958 mdpl. Gunung ini sangat poluper karena dekat dengan ibukota jakarta dan bandung yang padat penduduk dan sibuk dengan pekerjaan. Pendakian gunung Gede dapat dilakukan melalui 3 jalur, yaitu jalur Cibodas, jalur Salabintana dan jalur Gunung Putri. Gunung ini merupakan gunung yang paling padat pendakian sampai jumlah pendaki tiap haripun dibatasi. Jumlah pendaki dibatasi sebanyak 600 orang per hari dengan komposisi 300 dari Cibodas, 200 dari Gunung Putri dan 100 dari Salabintana. Pendaki diwajibkan melakukan pendaftaran minimal 3 hari sebelum pendakian dan maksimal 30 hari sebelum pendakian. Jumlah anggota dalam satu rombongan pendaki minimal 3 orang, jadi jangan harap bisa mendaki sendirian atau berdua disini. Karena begitu padatnya jalur pendakian ake Gunung ini, setiap bulan agustus dan bulan desember sampai maret biasanya Tanam Nasional Gunung Gede Pangrango menutup jalur pendakian untuk mengembalikan kelestarian ekosistem. Pendakian kali ini kami lakukan ber-6 yaitu Saya,Edo,Agus,Ervan,Son,Hadid. Kami melkukan proses registrasi sebulan sebelum pendakian di mulai. Biaya registrasi sebesar 12 ribu rupiah per orang, lumayan mahal kan. Memang gunung ini adalah gunung termahal yang pernah aku daki. Pendakian kami lakukan melalui jalur Cibodas an turun di jalur Gunung Putri.

Perjalanan Bekasi – Cibodas

Gede 1Perjalanan kami awali dari markas besar kami di bekasi mulai pukul 8 pagi. Dari bekasi kami naik bus mayasari bakti jurusan Kampung Rambutan yang bernomor 9B. Perjalanan selama 45 menit akhirnya kami sampai di terminal Kampung Rambutan. Di terminal Kampung Rambutan kami mencari pangkalan bus antar kota dalam provinsi jurusan kampung Rambutan – Cianjur via Cibodas. Setelah beberapa menit kami tidak juga menemukan trayek tersebut, akhirnya kami naik bus jurusan Cianjur. Perjalanan panjang menuju Cianjur kami lewatkan selama kurang lebih 3 jam karena jalanan yang macet dan panjang. Sampai di terminal Cibodas kami segera mencari bus jurusan puncak yang lewat Cipanas. Ternyata tidak ada angkot yang malayani trayek langsung ke Cibodas. Kami harus naik angkot sekali dan turun di tengah kota cianjur untuk kemudian ganti angkot jurusan Cipanas. Sebenarnya angkot tersebut hanya sampai di Cipanas dan tidak sampai ke Cibodas, tetapi kami membayar lebih untuk mengantarkan kami sampai di pertigaan depan Pos pendakian Cobodas. Sampai di pos pendakian kurang lebih pukul 1 siang, kami segera menunaikan ibadah sholat di dekat pos pendakian. Setelah semua persiapan selesai, kami segera melakukan pendakian.

Cibodas – Mata Air Panas – Kandang Badak

Gede3Perjalanan pertama kami mulai dengan jalan aspal melewati samping Kebun Raya Cibodas. Sampai di gerbang pendakian memasuki hutan kami melapor ke petugas TNGP untuk menunjukkan tiket yang sudah kami beli sebelumnya. Selanjutnya kami melewati jalur bebatuan yang sudah tertata rapi dan lebar. Jalur ini merupakan jalur menuju Air Terjun Cibereum yang juga merupakan tempat wisata favorit bagi anak muda. Perjalanan menanjak melewati bebatuan yang sudah tertata kami lewati sepanjang perjalanan. Hutan di gunung ini merupakan hutan hujan tropis yang sangat lebat dan rimbun sehingga sepanjang perjalanan kita akan terlindung dari sinar matahari. Mendaki gunung ini serasa mendaki sebuah Candi yang sudah ada undak-undakanya. Setelah 2 jam perjalanan kami sampai di mata air panas. Kami pun menyempatkan untuk bermain air yang hangat dan berfoto2 di sini. Air panas disini benar2 bersih dan bebas dari belerang sehingga aman di guankan untuk mencuci tangan dan membasuh muka. Stelah puas menikmati hangatnya mata air ini, kami segera melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya yaitu Kandang Badak. Lagi2 trek yang kami lalui adlah bebatuan yang sudah benar2 tertata dan di siapkan sebagai jalur pendakian. Satu jam perjalanan dari mata air panas akhirnya kami sampai di Pos Kandang Badak. Pos kandang badak merupakan tempat yang biasa dibuat camping para pendaki sebelum melanjutkan perjalanan ke Gunung Gede atau ke Gunung Pangrango. Pos ini cukup luas dan terletak di tengah2 hutan sehingga terlindung dari terpaan angin. Selain itu terdapat sumber air bersih yang melimpah di pos ini. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda dan menginap disini. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam sederhana dan minuman hangat. Tak lupa saya membuat api unggun untuk menghangatkan bdan kami dari kedinginan. Empat orang tidur di dalam tenda, sedangkan saya dan edo sengaja tidur di luar karena tenda cukup sempit untuk 6 orang. Lagi enak2nya tidur tiba2 gerimis datang, saya dan edo pun terbangun dan segera masuk ke tenda. Tenda yang tadinya longgar sekarang menjadi kandang babi yang umpek-umpekan tidak karuan. Alarm kami seting jam 1 pagi untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Gak tau kenapa, ternyata alarm yang di seting tidak berbunyi dan kami terbangun terlambat 1 jam karena suara pendaki lain. Jam 2 kami segera merapikan tenda dan packing tas untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.

Kandang Badak – Pertigaan Gede Pangrango – Puncak

Gede5Perjalanan malam kami lewati bersama untuk menjemput sunrise yang kami impikan. Setengah jam perjalanan kami sampai di pertigaan yang mengarah ke Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Untuk ke gunung gede kita harus mengambil arah kiri sedangkan untuk ke Pangrango kita ambil arah kanan. Setelah satu jam perjalanan, kami dihadapkan dengan tanjakan yang sangat terjal yang sering di sebut sebagai tanjakan setan. Untuk mendaki kita harus memegang tali tembaga yang sudah di sediakan di sepanjang jalur. Tanjakan ini kami lalui selama setengah jam. Setelah melewati tanjakan setan, kami melewati hutan perdu yang mengindikasikan bahwa puncak sudah dekat. Dari sini juga sudah tercium bau belerang dari kawah gunung gede yang masih mengeluarkan sedikit asap. Kami bergegas mempercepat langkah kaki untuk segera mencapai puncak. Akhirnya kami mencapai punggungan puncak gunung Gede yang berupa tanah berpasir. Angin kencang menerpa kami dari arah kiri karena areanya yang terbuka dan tidak terhalang apapun. Kami sempat berhenti di sela2 bebatuan untuk berlindung dari terpaan angin. Saya dan hadid pun membuka mie instant untuk mengisi perut yang sangat lapar dan melilit. Sementara Son dan Edo telah jauh meninggalkan kami. Setengah jam kami melewati punggungan puncak ini akhirnya sampai di titik triangulasi yang ditanda dengan tugu pendek. Puncak dari gunung gede ini maih di tumbuhi tanaman perdu dan edelweis. Banyak pendaki yang berkemah di puncak ini dan memanfaatkan tempat di sela2 tanaman perdu. Tidak sia2 perjuangan kami, tak lama kemudian kami dihadiahi dengan Sunrise yang indah dari ufuk timur. Segera kami berpose untuk mengabadikan pencapaian yang indah ini.

Gede6

Nasi uduk termahal dan ter-Nikmat

Pemandangan di puncak gunung Gede ini cangat indah walau Viewnya hanya 180 derajat. Di sebelah barat laut berdiri kokoh gunung Pangrango sedangkan di timur jauh terlihat Gunung Ciremai. Sejenak kami menghangatkan tubuh dengan sinar matahari yang menyinari kami. Di sela2 kesibukan kami berfoto ria, terdengar suara penjual nasi uduk tak jauh dari kami. Ini gunung atau pasar sih, kok ada yang jualan nasi uduk..???, bergumam sendiri. Jauh2 ke puncak gunung Gede hanya untuk menjual Nasi Uduk, benar2 perjuangan hidup yang patut di acungi jempol. Setelah kami menanya harga, ternyata sangat mahal. Nasi uduk secentong lauk terlu dadar seiris dan sambal bawang harganya 7000 rupiah. Kalau di bekasi harganya cuman 2500 rupiah, pikirku ngambil untungnya banyak banget niy penjual. Kami pikir2 wajar lah mahal, perjuangan membawa nasi uduk dari bawah ke puncak emang gratis. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli 3 bungkus nasi uduk dibagi ber-6. Hmmm…..gak tau kenapa rasanya sungguh nikmat, mungkin memang laper atau tidak ada yang lain ya :D . Setelah kenyang sarapan pagi, kami segera berkemas untuk turun melalui jalur Gunung Putri. Kami menuruni puncak melalui hutan perdu yang mengarah ke Alun-alun Suryakencana. Kami berhenti sejenak untuk menikmati suasana di Alun2 Suryakencana yang terkenal ini. Alun2 ini berupa padang sabana yang sangat luas dan datar. Banyak sekali pendaki berkemah disini sebelum melanjutkan perjalanan ke Puncak. Alun2 ini merupakan Pos terakhir dari jalur Gunung Putri untuk menuju puncak. Disini terdapat sumber air berupa sumur, untuk mendapatkan airnya kita harus menimba. Setelah setengah jam kami istirahat disini, kami melanjutkan perjalanan turun dengan mengambil arah ke kiri menuju jalur Gunung Putri. Seperempat jam perjalanan menyusuri sabana, akhirnya kami sampai di batas hutan. Trek sepanjang perjalanan turun cukup curam melewai hutan lebat. Trek tidak seperti jalur cibodas yang berupa bebatuan tertata rapi melainkan tanah yang berdebu. Perjalanan turun drastis sangat mempersingkat waktu turun. Hanya dalam waktu 3 jam kami sudah sampai di batas ladang penduduk. Di tengah ladang penduduk terdapat warung yang menyediakan minuman dan girengan hangat. Kami menyempatkan mampir sejenak untuk menikmati tempe goreng dan teh hangat disini. Saya, Edo dan Son sampai duluan di Pos pendakian Gunung Putri. Kami mencoba lapor ke pos tetapi kami malah sempat ricuh dengan petugas pos yang mengira kami meninggalkan teman kami ber-3 di belakang. Dengan cueknya kami segera turun dan mencari masjid untuk membersihkan diri. Akhirnya kami bertemu di Cipanas dan melanjtkan perjalanan pulang ke Bekasi. Dari Cipanas kami naik bus jurusan Bogor dan selanjutnya dari Bogor oper bis jurusan Bekasi Timur. Dari bekasi timur kami naik angkot ke Bekasi Barat, sampailah kami ke Markas besar kami.

Gede9

Gede7Gede8

Gede10

Pulau Sempu : Pantai imut dan cantik yang terasingkan

Pulau Sempu (xx-yy lupa 2006)

Pulau Sempu adalah pulau kecil yang terletak di sebelah selatan kabupaten Malang Jawa Timur. Pulau ini memiliki luas kira2 8 km persegi yang berjarak sekita 1 km dari daratan P Jawa. Pulau sempu terkenal dengan keindahan Pantai Segara Anak nya yang berpasir putih dan masih alami. Pantai Segara Anak ini sebenarnya adalah danau air laut yang terbentuk dari bocoran ombak pantai selatan yang menghantam tebing batu yang tepat berada di sebelah selatan P Sempu. Tebing batu yang berlobang tersebut merupakan jalan masuk air dari pantai selatan ke danau ini sehingga air dari danau ini pun rasanya asin, bahkan kadungan garamnya sangat tinggi karena tingkat penguapan yang tinggi pula. Danau Segara Anak seluas 2 x lapangan bola ini memiliki pasir putih yang sangat indah seperti pantai2 berpasir putih pada umumnya. Keistimewaan dari danau ini adalah, kita serasa berada di pantai indah yang terasing dari keramaian orang dan seakan2 pantai ini adalah milik kita sendiri. Selain menikmati indahnya indahnya pantai, kita juga bisa menaiki tebing yang membatasi pantai ini dengan laut selatan. Dari atas tebing ini kita bisa menikmati hamparan luas laut selatan dengan ombaknya yang dasyat menghantam dinding tebing yang kita naiki. Kalau beruntung kita juga bisa menyaksikan kawanan ikan Lumba2 yang sedang bermain bersama ombak. Pada kesempatan kali ini kami ber-5 yaitu (Saya, Chimot, Ucup, Ketut dan Alm. Primeri) mencoba menjadi surviver di pulau tak berpenghuni ini selama 4 hari.

Perjalanan Surabaya – Sendang Biru

Sempu8Rencana ke pulau sempu awalnya adalah ide dari teman kami ketut yang sudah banyak mendengar keasyikan dari pulau ini. Selanjutnya kami mengumpukan informasi untuk menuju ke lokasi. Akhirnya Alm Primeri menawarkan diri untuk gabung dan menggunakan mobilnya. Selanjutnya kami menyiapkan bekal apa saja yang akan dibawa kesana, diantaranya adalah tenda dan bahan makanan. Kami bukanlan petualang kaya melainkan surviver bermodal nekat apa adanya. Perlengkapan tenda kami gantikan dengan terpal dan tali temali sedangkan kompor kami gantikan dengan minyak tanah dan kaleng bekas. Untuk makananya kami membawa nasi dan mie instant 1 kardus. Tidak lupa kami membawa jerigen untuk membawa air tawar untuk memasak dan minum karena sumber air tawar disana sangat jauh dari danau. Setelah perlengkapan selesai, kami berangkat pada hari kamis siang menuju kabupaten malang. Perjalanan menggunakan mobil pribadi akan lebih cepat dibandingkan menggunakan angkutan umum. Jika kita menggunakan angkutan umum, terlebih dahulu kita naik bus jurusan Surabaya-Malang selanjutnya oper angkot dari terminal Arjosari ke Gadang dan oper lagi ke desa Turen. Kami memulai perjalanan dari Surabaya sekitar jam 10 pagi, sampai di kota malang jam 12 siang. Perjalanan dari kota Malang ke desa Turen membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam, kami sampai di Sendang Biru sekitar pukul 2 siang. Memasuki pintu masuk Kawasan Wisata Sendang Biru setiap orang di kenakan biaya sebesar 1000 rupiah, sedangkan untuk mobil 5000 rupiah. Sampai disini kami mampir di warung untuk mekan siang menjelang sore. Selagi menyantap makanan, kami di tawari jasa penyebrangan ke Pulau Sempu oleh bapak pemilik warung. Kami juga ditawari parkir mobil di depan warung dengan ongkos yang lumayan murah yaitu Rp 20.000,- untuk 3 hari 3 malam. Setelah selesai menyantap makan siang, kami segera mengikuti bapak pemilik warung menuju dermaga perahu motor yang sudah bersandar di dermaga pantai Sendang Biru.

Perjalanan Sendang Biru -Danau Segara Anak

Sempu7Dengan merogoh kocek 40 ribu rupiah, kami menyewa perahu motor untuk menyeberang ke pulau Sempu yang tidak jauh dari pandangan mata. Perjalanan dari pantai sendang biru ke tempat masuk hutan menuju danau segara anak memerlukan waktu kurang lebih 20 menit. Perjalananpun terasa sangat menyenangkan mengingat ini pertama kalinya kami naik perahu motor menyebrangi lautan. Perasaan was2 karena takut perahu ada gangguan mesin dan macet di jalan sebenernya ada di dalam pikiran, tetapi masih kalah dengan pengalaman pertama yang menantang ini. Dengan keahlian nahkoda kapal yang tidak lain adalah nelayan setempat maka perahu yang kami tumpangipun bisa melewati ombak lautan yang menghadang kami. Setelah 20 menit perjalaan akhirnya kami sampai di pinggir pulau sempu dan turun di karang karena waktu itu air sedang surut sehingga perahu tidak bisa sampai ke batas pulau. Sebelum meninggalkan perahu terlebih dahulu kami janjian untuk di jemput pada hari Minggu siang sekitar jam 10 pagi. Mengingat tidak ada perahu rutin yang beroperasi untuk trayek Sedang biru – pulau Sempu maka kita harus melakukan janjian penjemputan kepulangan kita pada hari dan jam yang telah di sepakati. Jika kita tidak melakukan janjian, bisa2 kita akan jadi Tom Henk di filmnya Cast Away sampai berjenggot disini. Setelah melewati perjalanan laut, kami menyusuri jalur darat di tengah hutan. Kami harus melakukan perjalanan memotong pulau mengingat tadi kami turun di sebelah utara P Sempu, sedangkan danau Segara Anak berada di sebelah selatan pulau. Perjalanan melewati hutan lebat kami tempuh dalam waktu sekitar 2 setengah jam. Hari hampir gelap kami akhirnya sampai juga di Danau yang amat sangat indah itu. Pengen rasanya segera menceburkan diri ke danau dan berenang sepuasnya, walaupun gaya batu karena sebagian dari kami tidak bisa berenang termasuk saya :D . Sebelum gelap kami mencari tempat untuk mendirikan tenda (baca: Tenda dari terpal) di bibir pantai imut ini.

Pulau milik kami sendiri

Sempu4Setelah mendirikan tenda, sebagian dari kami menyiapkan makan malam dan sebagian lagi bermain di pantai. Waktu itu pantai terasa sangat sepi dan benar2 tak berpenghuni karena hanya ada kami di situ. Setelah malam tiba baru ada sepasang bule (baca: turis asing) yang datang dan berkemah di sebelah tenda kami. Karena sudah kemalaman, dan mungkin mereka tidak membawa senter maka bule yang cowok meminjam senter pada kami. Hmmm……….jika kami tidak berada disini, mungkin mereka serasa memiliki pantai ini ber-2 saja. Pantai yang imut dan cantik mungkin tempat yang sangat romantis untuk bulan madu berdua, jadi pengen bulan madu kesana neeh :) . Setelah menyantap makan malam, kami bermain2 sejenak d pantai yang sudah mulai pasang airnya karen cahaya bulan. malam semakin larut, akhirnya kami tertidur dengan nyenyaknya. Berkemah di pantai tidak seperti di Gunung, di pantai udaranya hangat sedangkan di gunung udaranya sangat dingin mnusuk tulang. Pagi hari kami bangun dan memulai aktivitas pagi dengan berlari2 kecil di pinggir pantai berpasir putih itu. Seharian terasa pantai ini milik kami dan sepasang bule eropa tadi karena sampai malam tidak ada orang yang berkunjung ke tempat ini. Puas bermain-main dan berenang di pantai, kami mencoba memancing ikan dengan sisa2 kail yang ada di pinggir danau. Walaupun ikanya banyak, tapi tak satupun ikan yang kami dapatkan (lagi sial :( ). Sore menjelang, kami mencoba mencari kerang dan kepiting laut saat air danau surut. Saat air danau surut, kita bisa memanfaatkanya untuk berburu kerang dan kepiting. Tak jarang kami tertipu dengan selongsongan rumah kerang yang berada di dasar pantai. Lama sudah kami mencari buruan, hanya beberapa kerang dan seekor kepiting kecil yang kami dapatkan. Tak mau menyia-nyiakan pengorbanan, kamipun membakarnya dan menyantapnya rame-rame. Tidak sebanding dengan usahanya yang ber-jam2, sekali santappun langsung ludes masuk ke perut. Hari yang sangat mengasyikkan, kami lupa akan kepenatan mengerjakan Tugas Akhir di kampus. Sebelum malam datang, hujan mengguyur kami cukup deras. Bukan malah masuk ke dalam tenda melainkan kita ber-5 malah asyik menikmati guyuran hujan sebagai ritual mandi air tawar. Kami memanfaatkannya untuk membersihkan diri dengan sabun karena sabun tidak akan berfungsi jika kita mandi menggunakan air laut. Kami juga menadahkan air hujan untuk tambahan air minum kami, maklum krisis air tawar. Hari pertama kami kuasai sendiri pulau ini, berbagi kekuasaan dengan sepasang bule eropo itu saja. Hari mulai gelap, kami masuk ke tenda untuk beristirahat sejenak setelah bermain seharian. Keesokan harinya, sabtu pagi kami memulai aktifitas lagi di sepanjang pantai ini. Kami mencoba naik ke atas tebing dan menyaksikan deburan ombak pantai selatan yang sangat dasyat dan mengerikan. Walaupun tidak sampai puncak tebing, tapi kami sudah bisa menyaksikan hamparan laut selatan yang begitu luas dan ganas itu. Setelah agak siang, kami mendengar suara anak2 yang berteriak dari arah hutan. Ternyata banyak sekali anak smp yang melakukan tour kesini bersama pembinanya. Pantai ini mulai ramai dan berisik karena terlalu banyak orang. Ketenanganyapun mulai terusik oleh suara2 anak2 yang sedang bermain. Pantai yang tadinya terasing dan tenang sekarang berubah menjadi tempat bermain anak2 yang ramainya melebihi taman kanak2. Cukup sudah kami menikmati dan memiliki panati ini seharian kemarin, biarlah orang lain yang ganti memilikinya.

Sempu3

Sempu9Sempu2

Sempu5

Meninggalkan keterasingan

Setalah mengasingkan diri selama 2 hari 3 malam, kami akhirnya meninggalkan tempat cantik yang terasing ini. Minggu pagi kami berkemas2 dan melakukan perjalanan pulang ke Surabaya. Jam 10 pagi kami janjian dengan perahu nelayan yang menjemput kami. Jam 8 kami mulai beranjak meninggalkan rumah kami dengan membawa sejuta kenangan indah. Sampai di tempat penjemputan sekitar pukul 10 pagi, perahu kami belum juga datang disini. Kami menunggu dengan santai selama kurang lebih setengah jam, akhirnya perahu kamipun datang. Maklum ombak agak besar sehingga perjalanan perahu motor agak terhambat. Sampai juga kami di daratan jawa dan membayar ongkos perahu sebesar 40rb rupiah. Selanjutnya kami menuju warung tempat kami menitipkan mobil kemarin. Setelah makan siang dan menyelesaikan urusan pembayaran, kami segera bertolak kembali ke Surabaya. Inilah akhir dari petualangan kami di Pulau Sempu, rindu rasanya kembali ke situ. Untuk mengobati rasa rindu camping di Pulau Sempu, kami berencana untuk Camping di Pulau Seribu yang tidak berpenghuni. Mudah2an bisa segera terealisasi rencana kami ini….Sempu6

*** In Memorian : Primeri Listriko – > Pemilik sekaligus driver mobil Carry yang kami naiki bersama. Meninggal dunia karena sakit kangker beberapa tahun kemudian.

Sindoro : Dari kebun teh sampai padang edelweis

Sindoro 13 – 14 Juni 2009

Gunung Sindoro terletak di provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian 3136 mdpl, tepatnya terletak di kabupaten Wonosobo. Gunung ini bersebelahan dengan Gunung Sumbing yang berada di sebelah tenggaranya. Dua buah gunung ini yaitu Sumbing dan Sindoro seperti gunung kembar jika di lihat dari kejauhan. Jalur pendakianya pun berdekatan yang terletak diantara dua gunung ini, yaitu desa Kledung untuk pendakian ke SIndoro dan desa Garung untuk pendakian ke Sumbing. Gunung Sindoro memiliki 2 jalur pendakian favorit, yaitu jalur Kledung dari Timur dan jalur Sigedang dari barat daya. Adapaun larangan untuk para pendaki pada hari pasaran jawa “Wage” dan hari Selasa pasaran “Kliwon”. Gunung ini terkenal dengan padang Edelweis yang sangat luas di atas puncaknya. Pada kesempatan kali ini saya kembali melakukan duet yang ke dua kalinya dengan teman setia saya yaitu Chimot. Pendakian duet pertama kami lakukan ketika mendaki Gunung Arjuno pada tahun 2006. Kali ini kami memilih untuk mendaki melalui jalur Segedang dan turun di desa Kledung. Pendakian ini juga merupakan perayaan ultah saya yang ke-26 yang jatuh pada tanggal 06 Juni 2009, dimana untuk yang ke-2 kalinya pula saya merayakan ultah di puncak  gunung.

Perjalanan menuju Sigedang

SindoroHari itu Jum’at malam tanggal 12 Juni 2009 saya bertolak dari Bekasi sedangkan Chimot dari rumahnya di kediri. Kami janjian bertemu di terminal bis Wonosobo sebelum jam 9 pagi. Sehabis pulang kerja saya berkemas2 sebentar dan sehabis sholat Isya’ saya berangkat dari kost menuju pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung menggunakan Taksi dari Bekasi Barat. Sedangkan Chimot berangkat dari rumah ke Terminal kertosono untuk selanjutnya oper Bus Sumber Kencana jurusan Yogyakarta. Pukul 8 malam saya sampai di pangkalan bus Sinar Jaya, tanpa antrian saya langsung mendapatkan tiket bus kelas ekonomi jurusan Wonosobo seharga 60 ribu rupiah. Perjalanan malam kami lalui, kontak sms sepanjang perjalanan terus kami lakukan. Tak terasa pagi menjelang, kabut pagi menghalangi pandangan saya saat sampai di terminal bis Wonosobo. Sampai di terminal kurang lebih jam 7 pagi, segera saya mencari tempat untuk bersantai sambil menunggu sahabat saya yang masih dalam perjalanan dari Magelang ke Wonosobo. Setengah jam saya menunggu akhirnya sosok yang tidak asing lagi muncul di hadapan saya, tak salah lagi dia adalah sahabatku Chimot. Senang rasanya telah menemukan partner untuk berpetualang. Setelah membersihkan bdan dan berganti pakaian, kami segera menuju warung untuk mencari sarapan pagi. Sambil menyantap nikmatnya masakan sederhana warung di terminal, kami mencoba mencari informasi angkutan menuju desa Sigedang. Untuk menuju desa Sigedang, dari terminal wonosobo kami naik bus jurusan kota dan turun di pertigaan jalur menuju arah Dieng. Jam 9 kami mulai bertolah dari terminal menuju kota, selanjutnya turun di pertigaan seperti informasi yang di berikan kondektur bus yang kami tumpangi. Sampai di pertigaan, kami lanjutkan naik bus mini jurusan Dieng yang nantinya turun di desa Rejosari. Perjalanan dari Kota menuju desa Rejosari kami tempuh dalam waktu sekitar 1/2 jam. Sampai di desa Rejosari kami turun, rombongan tukan ojek langsung menyambut kedatangan kami. Mereka menawarkan harga yang cukup murah bagi kami, yaitu 5 ribu rupiah sampai Pos Pendakian desa Sigedang. Perjalanan menyusuri ladang jalan aspal yang rusak di tengah2 ladang penduduk kami lewati dalam waktu 1/4 jam. Sampai di Pos Pendakian kami berhenti sejenak, karena kami berniat langsung mendaki makan kami menambah ongkos seribu rupiah lagi untuk sampai titik awal pendakian. Akhirnya pendakian ilegalpun kami mulai dari sini (tanpa surat ijin pendakian :D ). Kami berada di tengah2 kebun teh yang hijau. Stelah foto2 sejenak, kami memulai pendakian tepat pukul 10 pagi.

Kebun Teh

Sindoro3Titik awal pendakian kami terletak di tengah kebun teh yang luas. Perjalanan landai menelusuri bebatuan kami lalui selama 10 menit, setelah itu kami di hadapkan jalur tanah yang memotong hamparan kebun teh di sekeliling. Jalan bebatuan yang kami lewati cukup lebar, jalan ini memang sebenarnya di gunakan petani untuk memanen teh. Jalur ini cukup landai dan lebar untuk dilalui mobil pengangkut barang, bahkan truk pun bisa lewat disini. Jalur mobil ini berkelok-kelok, sehingga cukup jauh jika kita harus mengikutinya dengan jalan kaki. Di tengah2 kebun teh terdapat pos2 pendakian yang mungkin merupakan gubuk2 para petani teh disini. tak jarang kami melihat muda mudi yang sedang bercengkrama dan berpelukan di sepanjang perjalanan. Udara yang sejuk dan hamparan kebun teh yang hijau membuat suasananya menjadi romantis dan asyik untuk menguntai mimpi dua sejoli yang sedang jatuh cinta. Pendaki harus berhati-hati melewati jalur di sepanjang kebun teh ini karena minim sekali tanda2 ataupun marka yang menunjukkan arah jalur pendakian. Tidak ada bedanya jalur pendakian dengan jalur petani teh. Untuk kami diselamatkan dengan pilok fospor yang sengaja di tinggalkan pendaki sebelum kami, mungkin masih baru mengingat warnanya masih cerah sekali. Setelah melakukan perjalanan selama 1,5 jam akhirnya kami sampai di batas kebun teh. Target kami selanjutnya adalah pos Watu Susu, dimana menurut informasi memerlukan waktu kurang lebih 3 jam dari batas kebun teh.

Watu Susu

Sindoro4Setelah lepas dari kebun teh, kami dihadapkan dengan padang rumput dan ilalang di sepanjang perjalanan menuju Watu Susu. Waktu itu kami tertolong dengan kabut tebal yang selalu mengiringi perjalanan kami dan menutupi kami dari teriknya sinar matahari. Sungguh jalur ini merupakan jalur terbuka sepanjang perjalanan. Jika cuaca cerah para pendaki harus siap2 terbakar oleh teriknya matahari dan dehidrasi sepanjang perjalanan. Tidak ada sumber air di sepanjang perjalanan dari bawah sampai puncak. Di musim hujan para pendaki bisa mengambil air di dalam kawah mati yang tergenangi air. Gunung yang benar2 gundul yang hanya ditumbuhi rerumptan dan padang ilalang. Trek yang kami lalui cukup terjal dengan sedikit bebatuan sampai ke batas vegetasi rumput. Watu susu di kenal sebagai payudara dari gunung Sindoro, dimana Sindoro digambarkan sebagi gunung perempuan. Perjalanan selama 4 jam telah kami lalui, tetapi kami tidak menemukan batu besar yang kami cari tersebut. Perjalanan akhirnya sampai di batas vegetasi rumput dan memasuki padang Edelweis. Kami istirahat sejenak disini sambil memandangi puncak yang tinggal sejengkal langkah lagi kami gapai. Setelah menikmati makan siang dan menunaikan sholat, kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Dari sini kami di temani banyak pendaki yang datang mendahului kami. Perjalanan menuju puncak dari sini melewati jalur bebatuan besar dan terjal. Tak jarang kami berhenti untuk meluruskan kaki dan mengatur nafas kami yang mudah terenga karena faktor usia. Setelah 1 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Puncak Sindoro yang ditandai dengan Tugu dari batu bata dan semen. Walaupun kelihatanya bukan merupakan tempat tertinggi dari gunung ini, tapi tugu tersebut merupakan pertanda puncak sindoro. Melangkah sedikit ke depan, kami dihadapkan hamparan tanah datar yang menyerupai lapangan bola. Memang di puncak Sindoro kita bisa bermain bola karena terdapat dataran yang benar2 luas dan datar. Lapangan inipun terdapat garis2 yang menandakan batas2 permainan sepakbola, mungkin memang dulu pernah ada pendaki yang bermain bola disini. Sindoro terkenal dengan Surganya Edelweis karena memang di sepanjang puncak terdapat banyak sekali pohon edelweis, sayang waktu belum banyak yang berbunga. Kami mencoba menengok sebentar bibir kawah Sindoro sebelum mencari tempat untuk mendirikan tenda. Di sebelah tenggara kami terlihat Gunung Sumbing yang sudak mengantuk dan berselimut kabut tebal. Baru kali ini kami bisa mencapai puncak gunung sebelum matahari tenggelam. Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan untuk mencari tempat mendirikan tenda di balik lindungan pohon Edelweis. Banyak para pendaki yang menginap di sini, bahkan banyak yang camping disini untuk beberapa hari. Udara dingin di puncak gunung cukup menusuk tulang, kamipun mencari ranting2 pohon dan kayu kering untuk membuat api unggun. Pesta perayaan ulang tahun sayapun di mulai setelah ami selesai memasak makan malam kami yang sangat sederhana, yaitu mie instant dan energen. Cuaca malam itu sangat cerah, sehingga kami bisa menikmatu gugusan galaksi Bima Sakti yang sangat luas dan indah itu. Serasa bintang di langit berada sangat dekat dengan kami, benar2 pemandangan yang menabjubkan. Lilin berpola angka 2 dan 6 pun segera saya sulut dengan api, sayapun merasa puas bisa menyelesaikan misi ini. Karena sudah malam dan udara malam semakin dingin, kami memutuskan untuk segera tidur.

Indahnya Sunrise

Tenda yang seharusnya berisi 4 orang kami tempati untuk 2 orang saja yang membuat kami leluasa tidur malam itu. Baru kali ini kami merasakan leganya tidur di dalam tenda, pendakian sebelumnya selalu memaksa kami tidur umpek2an dalam satu tenda. Jam 5 pagi alarm berbunyi, saatnya untuk bangun dan menyambut Sunrise di ufuk  timur. Kami bangun tanpa harus bersusah payah merapikan tenda dan mengemasi barang kami seperti pendakian2 sebelumnya. Kami cukup mengambil kamera dan menutup tenda untuk emudian jalan2 di sepanjang puncak untuk mencari spot Sunrise terbaik. Hamparan cakrawala telah menjingga di ufuk timur yang memotong gunung2 yang berada di depan kami. Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu dan juga Lawu terlihat jelas di depan kami. Pemandangan sangat indah ketika Sunrise mulai mengintip dari balik Cakrawala. Hmm…..saatnya berfoto2 dan bergaya sebagus mungkin. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami sejenak menikmati hangatnya sinar matahari sambil menyusuri bibir kawah.  Kamipun menemukan jalan turun menuju kawah mati, tak puas hanya melihat dari atas kami segera turun dan berfoto2 di bawah. Banyak sekali prasasti2 dari bebatuan yang bertuliskan nama2 seseorang ataupun organisasi yang ditinggalkan oleh para pendaki disini. Dalam kawahnya kurang lebih sama dengan kawah Sumbing, tetapi memiliki diameter yang lebih pendek. Setelah selesai mengunjungi kawah mati, kami meneruskan perjalanan mengelilingi puncak. Di sebelah utara kami lihat hamparan pegunungan Dieng yang terkenal itu. Pemandangan disini sangat indah dengan bukit Dieng yang menghijau di bawah kita. Akhirnya usai sudah kami mengitari puncak Sindoro ini, kami kembali ke tenda dan mulai berkemas untuk turun.

Sindoro8

Sindoro9

Sindoro7

Turun ke Jalur Kledung

Setelah merapikan tenda dan berkemas2, jam setengah 9 pagi kami mulai melakukan perjalanan turun melalui Jalur Kledung. Jalur Kledung berada di sebelah timur puncak Sindoro. Jalurnya cukup jelas dan banyak terdapat petunjuk2 pendakian, tidak seperti jalur Sigedang yang sangat minim petunjuknya. Jalur ini sama terjalnya dengan jalur Sigedang. Selama 2 setengah jam perjalanan turun kami melewati padang ilalang sampai menemukan batas vegetasi hutan pinus. Perjalanan melewati padang ilalang sangat menguras keringat karena terik matahari yang terus menyengat di sepanjang perjalanan. Setelah mencapai batas vegetasi padang ilalang, kita akan melalui hutan pinus yang lumayan teduh. Perjalanan turun  sekitar 1 jam kamitempuh melewati hutan pinus sampai akhirnya sampai di batas ladang penduduk. Akhirnya kami sampai di ladang penduduk, dan beruntung sekali kami di sambut oleh petani yang menawarkan jasa ojek sampai Pos. Tak berfikir panjang kami langsung menerima tawaran itu, satu motor untuk 3 orang hanya 10 ribu rupiah. Lumayan daripada harus jalan kaki yang memerlukan waktu kurang lebih satu jam. Jam setengah 1 siang kami sampai di Pos pendakian. Karena ramai pendaki, kami tidak sempat membersihkan badan disini sehingga kami memutuskan untuk membersihkan badan di Masjid terdekat tanpa berganti pakaian. Setelah selesai, kami mencari warung terdekat di sepanjang jalan raya. Berburu makanan setelah mendaki gunung adalah Wajib bagi kami. Makanan pasca pendakian adalah yang ternikmat setelah masakan ibu kami di kampung. Setelah 2ratus meter berjalan, akhirnya kami menemukan Warung Sederhana “SUSI”, masakan jawa khas pegunungan benar2 nikmat. Kami bersantai sejenak sehabis makan sambil membicarakan pendakian berikutnya. Jam 2 siang akhirnya saya dan Chimot harus berpisah disini. Saya mengambil arah wonosobo, sedangkan chimot mengambil arah magelang. Selamat jalan wahai sahabat, senang bisa mendaki bersama dalam keceriaan tanpa batas. Sampai bertemu lagi di pendakian selanjutnya Gunung Lawu.

Sindoro5

Merapi : Perjuangan antara Hidup dan Mati

Merapi 07-08 Juni 2008

Merapi 2

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.

Perjalanan menuju Selo

Merapi 5Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.Merapi 3 Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.

Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu

Merapi6Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.

Pasar Bubrah & Puncak Garuda

Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.

Merapi9

Merapi8

Merapi10

Merapi11

Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami

Merapi12Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.

Selamat dari Tebing Curam

Merapi13Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.

Selamat dari Lautan Pasir

merapi20Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.

Diantara Tebing Runtuh

Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….

Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir

Merapi18Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,

Kembalinya Quartet di Babakan

merapi 21Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….

Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..

Merbabu : Meniti Jembatan Maut

Merbabu 03-04 Nopember 2007

Gunung Merbabu terletak di Provinsi Jawa tengah dengan ketinggian 3,142 mdpl. Merbabu adalah tetangga dekat dari Gunung Merapi. Jika kita melihatnya dari kota Klaten, gunung Merapi dan Merbabu tampak seperti gunung kembar yang saling berhimpit kakinya. Lain halnya gunung Merapi yang sangat aktif, Merbabu sudah lama tertidur dan tidak pernah terbangun sampai sekarang. Gunung merbabu memiliki 2 puncak yaitu Puncak Syerif ((3.119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3.142mdpl). Jalur pendakian favorit ada dua yaitu Jalur Selo dari Boyolali dan Jalur Wekas dari Magelang. Pendakian saya kali ini bersama dengan 3 orang teman saya yang akhirnya kami sebut Quartet, yaitu Saya, Chimot, Purwo, dan Edo. Pendakian kami mulai dari Jalur Wekas dan kami akhiri melalui Jalur Selo.

Perjalanan Menuju desa Wekas

Merbabu9Saya beserta 2 orang teman saya Purwo dan Edo berangkat dari Bekasi hari jum’at naik kereta api Senja Utama Solo dan turun di Stasiun Tugu Djogja. Sementara teman saya Chimot berangkat dari Surabaya menuju ke Magelang menggunakan Bus Eka. Kami janjian ketemu di terminal Bus Magelang untuk keesokan harinya. Waktu itu kami ber-3 harus rela duduk di dekatn sambungan gerbong kereta karena kami kehabisan tiket duduk. Walaupun perjalanan kami bertiga terasa tidak nyaman tapi kami merasa enjoy karena kebersamaan. Perjalanan 8 jam menuju Djogja kami lalui, akhirnya jam 6 pagi kami sampai di Stasiun Kereta Api Tugu Djogja. Kami segera membersihkan badan di mushola untuk mengembalikan kesegara tubuh kami setelah semal tidur ala kadarnya. Setelah selesai membersihkan badan, kami menikmati sejenak sarapan pagi di belakang stasiun Tugu. Hangatnya Soto khas Djogja dan gorengan di warung angkringan terasa sangat nikmat diiringi hujan gerimis yang rintik2. Setelah perut terisi penuh, kami segera melanjutkan perjalanan ke Terminal Magelang. Merbabu2Kami naik bus kopata jurusan terminal Jombor dan selanjutnya oper Bus jurusan Jogja-Magelang. Setelah melakukan 2 jam perjalanan lebih, kami sampai di terminal Bus Magelang. Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Hujan gerimis terus menerus mengiringi perjalanan kami. Sementara Chimot masih dalam perjalanan antara Jogja dan Magelang. Setelah satu jam kami menunggu, akhirnya sahabat kami pun datang kehadapan kami juga. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus jurusan Kopeng dan turun di desa Wekas. Setelah melakukan perjalanan selama 45 menit kami sampai di desa Wekas. Sebelum melakukan pendakian, kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung seberang gerbang desa Wekas. Udara dingin dan hujan gerimis yang tak kunjung berhenti menambah nikmat masakan sederhana warung kampung tersebut. Setelah kenyang, kami segera berjalan masuk melalui gerbang desa wekas menuju Pos perijinan Pendakian. Pos perijinan berada cukup jauh dari gerbang desa Wekas, kami harus bejalalan sejauh kurang lebi 1 km. Sepanjang perjalanan ke Pos kami harus mengenakan jas hujan karena gerimis lebat terus mengguyur kami. Akhirnya kami menemukan Pos Perijinan setelah setengah jam berjalan, segera kami melakukan registrasi dan memulai Pendakian yang sesungguhnya.

Pos 2

Jalur Wekas merupakan jalur favorit para pendaki yang suka melakukan pendakian cepat. Pendaki akan disuguhi trek yang terus menerus menanjak terjal dari awal hingga akhir. Tempat favorit untuk berkemah ada di Pos 2 yang memiliki area luas dan terdapat sumber mata air yang bersih. Perjalanan awal kami lalui melewati pemukiman penduduk yang mengarah ke batas hutan. Jarak antara batas hutan dengan pemukinam penduduk ini cukup dekat, hanya berjalan beberapa menit kita sudah memasuki hutan pinus. Perjalanan terjal langsung menyambut kami sampai ke Pos 2. Untuk mencapai Pos 2 kita memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kami sampai di Pos 2 jam setengah 6 menjelang matahari tenggelam. Karena kondisi cuaca yang mendung, sunset pun tidak bisa kami nikmati dengan sempurna. Sesampainya di Pos 2 kami langsung mendirikan Tenda dan mencari sumber Air untuk menambah bahan bahan bakar kami. Udara disini sudah terasa dingin walaupun ketinggian belum seberapa. Kami mencari dahan2 dan ranting kering untuk membuat perapian. Belum sempat api unggun menyala dengan sempurna, hujan mengguyur kami lagi. Kami segera masuk ke Tenda dan menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan lagi. Rencananya jam 1 kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami tidur “umpek-umpekan” dalam tenda yang berkapasitas 3 orang tapi di paksa untuk 4 orang. Walaupun demikian, kami dapat tertidur dengan nyenyak sampai alarm jam 1 pagi berbunyi. Kami segera bangun dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan menggapai Puncak Kenteng Songo yang masih jauh.Merbabu 1

Merbabu3

Pos Geger Sapi – Jembatan Setan

Jam 2 pagi kami mulai melakukan perjalanan malam, cucaca mendung masih mengiringi kami. Jalur yang lebih terjal langsung menyambut kami. Tak jarang kami harus merangkak dan meanjat bebatuan terjal untuk menggapai tempat yang beih tinggi. Sari Pos 2 ke Geger sapi memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. . Sebelum sampai di Geger Sapi, kami sempat disuguhi pemandangan yang sangat indah, yaitu lanskap kota boyolali yang berada di antara 2 buat bukit kembar. Lanskap ini membentuk segitiga, dimana gemerlapnya kota boyolali sangat terlihat jelas disini. Kami sempat tertipu dengan bukit di samping kami yang kokoh berdiri, kami kira itu adalah puncak tertinggi Merbabu. Setelah kabut menghilang, ternyata di belakanganya masih terdapat bukit yang lebih tinggi. Ternyata kami salah perkiraan dan membuang banyak waktu di sini. Kami segera beranjak dari tempat ini dan memburu bukit tinggi yang masih jauh tersebut. Trek menaiki Geger sapi sungguh terjal, inilah trek terberat sepanjang perjalanan dari Pos 2 ke Geger Sapi. Geger sapi memiliki ketingggian sekitar 3000 mdpl. Kami sempat mendapati para pendaki yang berkemah diarea sebelum naik ke Geger Sapi. Di sini terdapat kawah belerang kecil yang masih mengeluarkan asap yang berbau cukup menyengat. Setelah melewati Geger Sapi, kami harus melewati tantangan berikutnya yaitu Jembatan Setan. Sebelum melintasi Jembatan Setan, kabut sangat tebal dan angin yang sangat kencang menghadang kami. Rupanya terjadi badai di Puncak Gunung. Benar benar menyiutkan Nyali kami, dan memaksa kami untuk duduk bersebunyi di balik tebing untuk menghindari hempasan angin. Jarak pandang hanya 5 meter, sangat riskan untuk melakukan perjalanan malam. Udara begitu dingin, kami mencoba membakar ranting2 dan tanaman2 kecil yang ada di sbelah untuk menghangatkan badan kami yang menggigil. Kami sempat tertidur dalam kondisi duduk merapat kedinginan, waktu satu jam pun kami lewatkan begitu saja. Saat kami terbangun, terdapat pendaki yang mulai mendahului kami. Walaupun angin masih bergemuruh, tapi mereka nekat menyebrangi Jembatan Setan tersebut. Akhirnya mental kami terbangun juga, dan mengikuti jejak dari para pendaki hebat tadi. Kabut sudah mulai menipis dan angin sudah mulai lambat menerpa kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati menyebrangi jalur sempit yang berada diantara jurang yang dalam di sebelah kiri dan kanan kami, itulah yang dinamakan jembatan setan. Jika kita membawa tas ransel yang berat dan angin bertiup kencang dari samping, saya sarankan untuk berhenti sejenak menunggu cuaca membaik. Jika kita memaksakan diri, bisa-bisa kita akan terhempas ke jurang dalam disamping kita. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Sunrise kali ini tidak kelihatan karena tertutup oleh mendung. Angin membawa kabut tipis menerpa kami di sepanjang jalur menuju puncak. Matahari yang masuh muda mengintip kami dari sela2 awan yang menghitam, kami segera ambil posisi untuk berfoto foto disini. Sebelum mencapai puncak sejati, kita akan melewati puncak bayangan. Kejadian menarik ketika saya memimpin rombongan menuju puncak sejati dari puncak bayangan. Di belakang kami terdapat banyak rombongan pendaki yang mengikuti kami, setelah jauh melangkah ternyata jalur yang saya tempuh keliru dan berakhir di jalan buntu. Dengan perasaan bersalah dan rasa malu, akhirnya saya meminta rombongan di belakang kami untuk berbalik dan mencari jalur yang benar. Akhirnya kami menemukan jalur memutari puncak bayangan, dan kami sekarang berada di barisan paling belakang :D .

Puncak Kenteng Songo

Perjalanan terjal bebatuan kami lewati untuk menggapai puncak Kenteng Songo. Dua puluh menit dari puncak bayangan, akhirnya kami sampai juga di puncak tertinggu gunung Merbabu ini. Puncak Keteng Songo berupa gundunkan tanah yang luasnya sekitar 25 meter persegi. Dari puncak ini kita bisa melihat Gunung Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap di sebelah tenggara kami. Kami benar2 terasa berada di negeri di atas awan, sungguh menabjubkan. Setelah berfoto-foto dan puas menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk segera turun melalui jalur Selo.

merbabu4

Merbabu7

Merbabu5

Jalur Selo

Perjalanan turun kami melewati Jalur Selo yang berakhir di desa Selo Boyolali. Perjalanan dari Puncak kami mulai jam 9 pagi, dengan perkiraan kami akan sampai bawah jam 2 siang. Perjalanan kami awali dengan turunan terjal melewati sabana yang luas. Pemandangan menuruni puncak sungguh indah, dengan background gunung merapi dan awan di atas sabana yang luas benar2 membuat kami tidak ingin cepat melewatkanya begitu saja. Kami juga sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang berjuang naik melewati jalur ini. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit, kami sampai di Pos terakhir sebelum puncak untuk jalur Selo ini. Pos ini cukup terlindung oleh hutan Edelweis yang rapat, para pendaki banyak yang berkemah disini sebelum menggapai Puncak. Selanjutnya perjalanan mengarungi sabana yang luas dengan trek yang landai kami lewati. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di batas sabana dan hutan tropis. Selanjutnya perjalanan turun melalui hutan kami jalani selama 3 jam. Akhirnya jam 2 siang kami sampai di perkampungan desa Selo – Boyolali. Kami mampir sejenak ke Pos Pendakian Selo sebelum melanjutkan perjalanan turun ke Jalan Raya. Penduduk di desa ini sangat ramah, sepanjang perjalanan sapaan ramah sering kami terima saat kami melintas di depan rumah penduduk. Sampai di jalan raya, kami menunggu Bus Jurusan Boyolali. Perjalanan 1 jam lebih kami sampai di Boyolali. Sampai di terminal boyolali kami membersihkan diri dan menikmati Soto Khas Boyolali yang nikmat. Selanjutnya kami naik Bus menuju terminal Kartosuro untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Sementara Chimot berpisah dengan kami di kartosuro untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Kartosuro kami ber-3 naik bus jurusan Djogja untuk memburu Kereta Api di Stasiun Tugu. Sampai stasiun tugu jam setengah 6 sore, kami menyempatkan makan di warung Gudeg Khas Djogja yang berada di dalam stasiun Tugu. Tak lama setelah kami selesai amkan, kereta api sudah datang dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan malam menuju Kota tempat kami mencari nafkah yaitu Bekasi.

Merbabu8

Merbabu6

Mahameru : Puncak abadi para dewa

Mahameru 18-20 Mei 2007

Mahameru 5Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.

Ranu Pane

Mahameru4Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi. Mahameru 6Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.

Ranu Kumbolo

Mahameru 8

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Mahameru 7

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati

Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.

Kubah Pasir Mahameru

Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.mahameru1

Mahameru 2

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane

Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)

Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,

Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “

Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “

Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”

Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”

Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.

Numpang Truk Sayur

Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Mahameru3