Lunch Bersama Teman Baru @Hoi An

Tempat Makan Favorit @Hoi An Ancient Town

Inside Foto (Clock Wise) : Andrian, Marijo, Anna, Saya

Sepulangnya dari My Son, saya bergegas mandi dan berkemas-kemas untuk check out. Saya sudah memesan tiket bus ke Hue City dengan harga 5 USD, berangkat pukul 2 siang nanti. Perjalanan dari Hoi An ke Hue ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Pilihan transportasi dari Hoi An ke Hue ada 2, yaitu memesan bus di travel agent atau naik bus umum dari Hoi An ke Danang disambung dari Danang ke Hue City. Harganya akhirnya memang lebih murah dengan transportasi umum, walaupun harus estafet dan memerlukan waktu yang lama. Saya memilih memesan bus dari hotel, karena menyangkut masalah waktu. Saya berharap sampai di Hue City belum gelap, sehingga mudah mencari hostel yang saya tuju. Setelah semuanya rapi, saya pergi Lunch bareng teman-teman baru saya (Anna, Andrian & Marijo). Punya teman baru di jalan memang satu hal yang menyenangkan, membuat perjalanan lebih berwarna. Jadi jangan sungkan-sungkan bergaul dengan orang-orang asing ketika kita berada di luar negeri, mereka juga kebanyakan solo traveler yang butuh teman. Bedanya hanya kita orang asia dan mereka orang eropa atau amerika. Kami lunch di foodcourt yang biasanya, tempat saya menyantap makan siang kemarin. Ternyata tempat ini adalah tempat favorit bagi semua orang, bukan hanya tempat favorit bagi saya. Tak jauh beda dari sebelumnya, pesanan saya hanya fried rice with shrimp dan manggo juice. Sedangkan yang lainya pesen yang aneh-aneh dan pastinya lebih mahal. Anna yang bule asli prancis memilih memesan menu bukan nasi. Sedangkan saya dan filipinos pasti memesan nasi, maklum makanan pokok orang asia tenggara kan nasi. Di sela-sela kami ngobrol dan menyantap makan siang, ada serombongan remaja hongkong atau china yang memarkir sepeda kayuhnya di depan foodcourt. Mereka rata-rata masih muda, berusia kurang dari 25 tahun. Kebanyakan dari merka adalah cewek, suaranya berisik memekakkan telinga kami. Kami ber-4 pun bengong menatap kelakuan aneh mereka yang kurang sopan. Mereka duduk dan ngobrol keras-keras dalam bahasa mandarin yang tidak semua orang ketahui. Tiba-tiba seorang dari mereka meminta air putih gratis, dia menyodorkan botol aqua kosong yang dia bawa ke pelayan. Ups……apa-apaan ini, kami ber-4 terus memperhatikanya dan ngomongin kelakuan mereka yang tidak sopan itu. Dan terkejutnya lagi, setelah dia mendapatkan air putih, dia beserta rombonganya pergi meninggalkan tempat ini tanpa memesan menu apapun. Saya tidak tau apakah dia akan kembali lagi atau memang tidak jadi makan ditempat ini, yang jelas kepergianya membuat suasanya foodcourt kembali tenang. 1 jam lebih kami ngobrol, saatnya untuk membayar apa yang kita makan. Saya sodorkan uang 50.000 VND ke Andrian, dia yang bagian membayar. Anna pamit berpisah untuk mengambil jahitanya ke Tailor. Sedangkan kami (Saya, Marijo dan Andrian) kembali ke Hotel. Disepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai Toko Kain dan Tailor. Sebagian besar wisatawan asing yang berkunjung ke Hoi An selain mengunjungi Ancient Town, mereka juga menyempatkan diri untuk memesan pakaian di sini. Andrian juga sempat mampir ke sebuah Tailor, dan memesan jas dengan harga 470.000 VND. Kita tinggal memesan warna kain yang kita mau, penjahit akan mengambil ukuran tubuh kita, dalam dua hari kedepan pakaian akan bisa kita ambil. Jadi bagi para pecinta pakaian dan mode, jangan lewatkan untuk mampir ke salah satu Tailor di kampung Hoi An. Sampai di hotel, saya dan filipinos tersebut saling tukar menukar nomer handphone dan e-mail. Marijo dan Andrian bekerja pada sebuah perusahaan Filipina dan sekarang sedang mengerjakan proyek di Hanoi. Saya berencana untuk bertemu kembali dengan mereka di Hanoi pada Selasa depan, sebelum saya pulang ke Indonesia. Disinilah awal persahabatan saya dengan 2 orang filipinos tersebut terjalin.

Lunch Bersama Sahabat Baru @Hanoi : Bun Cha & Es Tebu


”Why so serious……”, hape saya bergetar dan ringtonenya berbunyi. Sms saya terima, Marijo menanyakan apakah kita jadi makan siang bersama hari ini. Kesempatan makan bareng dengan teman tidak mungkin saya lewatkan. Kami bertemu dia di depan pintu gerbang Ngoc Son Temple. Dia nampak memakai pakaian kerja, dandananya rapi seperti orang kantoran. Orang Filipina memang sekilas nampak seperti orang Indonesia, sampai saya kadang latah ngomong pakai bahasa Indonesia denganya. Dia sekarang sedang istirahat siang sampai jam 1 nanti. Andrian dan seorang temanya sudah menunggu di ujung jalan, kami segera menemuinya. Semula saya ditawari makan ”Bun Cha”, yaitu seperti barbeque yang berisi daging babi. Sebenarnya saya tidak tau kalau Bun Cha mengandung daging babi, dia tidak menyebutkannya tersirat. Saya hanya ngomong ke dia, lunch apa saja boleh asalkan tidak mengandung ”pork”. Begitu saya mengatakan demikian, mereka membatalkan niat untuk makan Bun Cha dan mengganti dengan makanan lain. Saya diajak makan ”Bit Tet”, yaitu semacam steak daging sapi diatas hot plate, ditambah 2 telur yang diceplok diatasnya langsung. Tidak ada nasi disini, hanya ada roti prancis sebagai pengganti nasi. Makanan ini kami temukan di pinggir jalan, seperti warung biasa saja. Memang kami mempunyai selera yang sama mengenai pemilihan tempat makan. Lebih baik makan di pinggir jalan bersama teman, daripada makan di restauran mewah sendirian. Makan diwarung pinggiran memang lebih terasa nuansa kebersamaannya. Dengan ditambah satu orang teman baru saya, yaitu seorang wanita vietnam temanya Andrian (saya lupa namanya), maka suasana semakin meriah. Kami juga tidak mengalami kesulitan saat order makanan dengan bahasa Vietnam, karena dia bisa dijadikan penerjemah. Makan siang tanpa nasi memang tidak membuat perut ini kenyang, tapi apa boleh buat kalau kebiasaan mereka seperti ini. Saya sebagi tamu di sini, ngikut aja apa kata tuan rumah yang mau men-traktir. Anehnya makan disini, kita tidak ditawari mau minum apa seperti di Indonesia. Dan di warung ini sepertinya juga tidak menyediakan minuman, kalau kita minta minum mungkin akan dicarikan di warung sebelah yang jual minuman. Setelah mencicipi lunch ringan, saya diajak mencari minuman di sisi jalan yang lain. Kini saya diajak minum minuman pinggiran khas kesukaan orang Vietnam. Siapa sih yang tidak mau diajak wisata kuliner di negara lain, nurut saja lah. Marijo menyebut minuman ini dengan nama inggris ”Sugar Juice”, kalau begitu berati mirip dengan ”Cao” di Indonesia. Begitu sampai di tempatnya, hanya ada bapak-bapak yang berjualan minuman kaleng dipinggir jalan. Teman baru saya dari vietnam itu mencoba bertanya, apakah dia menjual minuman ”jus gula” tersebut. Biasanya ditempat ini dia bisa menemukan minuman tersebut. Ternyata benar, penjual tersebut harus membuatnya dahulu didalam rumah. Saya diminta Marijo untuk masuk, melihat proses pembuatan dari jus gula tersebut. Tapi saya memilih untuk menunggu hasil jadinya saja, duduk di dingklik pendek pinggir jalan. Sekitar 10 menit kami menunggu, bapak penjual membawa segayung jus gula dan menyiapkan 3 gelas berisi es batu. Jus segayung dibagi menjadi 3 gelas, teman saya Andrian tidak begitu menyukainya jadi kami hanya memesan 3 gelas. Begitu mencicipi rasanya, lidah saya mengatakan ini adalah rasa dari air tebu. Setelah saya tanya pada Marijo tentang bahan dari jus ini, kata dia berasal dari batang pohon penghasil gula. Tak salah lagi kan, ini adalah air tebu yang sama seperti yang biasa dijual di pinggiran jalan di Indonesia. Tapi beda lah, ini kan pohon tebu dari Vietnam, bukan dari Indonesia. Ketika saya ingin mengabadikan tempat ini, saya terkejut karena kamera saku saya tidak ada. ” I am forget my camera….”, ucapku diantara perbincangan kami. ”Camera…….you forgot your camera….??, tanya Marijo tak percaya. Saya teringat terakhir kali saya menggunakan kamera adalah ketika saya mengambil gambar Bit Tet diwarung sebelumnya. Menurut perkiraan saya, kamera tertinggal di meja makan dan saya lupa membawanya saat pergi. Marijo segera berdiri dan menemani saya menuju ke warung tadi, sementara Andrian dan teman wanitanya menunggu ditempat ini. Marijo tampak serius membantu saya, dengan sepatu semi highheel dia berjalan sangat cepat. ”Are you OK…..?”, tanyaku kepadanya karena saya melihat dia tidak nyaman jalan cepat-cepat dengan sepatunya. ”Don’t worry….I am very confort use my shoes”. Sesampainya di warung, Marijo membantu saya bertanya ke penjual tentang kamera saya yang mungkin ketinggalan dimeja sini. Dengan bahasa Vietnamnya yang mesih belum lancar, penjual nampak tidak begitu paham dan mengerti masalahnya. Sementara saya sibuk mencari kamera disela-sela meja makan yang sedang ditempati oleh pengunjung lain. Tak kehilangan akal, Marijo telpon temanya orang Vietnam tadi dan menyerahkan handphonenya pada si penjual. Saya sudah menyerah, mungkin memang sudah diambil orang dan dibawa pulang. Saat si penjual sedang bicara ditelpon, tiba-tiba saya menemukan kamera saya terselip di antara kertas di tas saya. ”Marijo…..i am so sorry…..i just found my camera here….”, dia tersenyum dan mengatakan pada si penjual kalau sudah ketemu. Betapa malunya diriku, membuat semua orang menjadi repot karena keteledoranku. Kami kembali ke warung es tebu tadi, menghabiskan minuman yang tadi masih belum habis. Sepertinya waktu istirahat teman-teman saya ini sudah habis, kami berpisah disini untuk sementara waktu.