Yogyakarta 3 : Malioboro Night Bazaar

Malioboro Night Bazaar….

MalioboroMenyambung cerita dari Yogyakarta 2, dalam moment yang sama pula kami berjalan-jalan di sepanjang jalan malioboro. Malioboro terkenal dengan bazaar malam yang mejajakan beraneka macam pernak-penik khas djogja. Dagangan yang paling laris adalah kaos, mulai dari yang asli sampai bajakan. Kaos yang terkenal adalah Dagadu, yang katanya dagadu asli hanya dijual di Mal Malioboro. Banyak sekali Dagadu yang di jual di jalanan dan juga toko-toko di sekitar malioboro tetapi tidak dijamin keaslianya. Disamping kaos, malioboro juga menawarkan berbagai pernik2 dan cindera mata khas djogja yang merupakan kerajinan dari seniman setempat. Jika anda adalah penggemar batik, jangan lewatkan untuk mengunjungi pasar Bringhardjo yang berada disebelah kiri jalan malioboro.

Perjalanan dari magelang

Dari borobudur kami kembali ke djogja naik bus borobudur – djogja dengan ongkos 10 ribu rupiah, turun di terminal Jombor. Dari terminal jombor kami melanjutkan perjalanan ke malioboro menggunakan busway transdjogja. Transdjogja adalah sistem angkutan perkotaan djogja yang baru dengan mengadopsi sistem busway transjakarta. Transjogja menggunakan armada bus jenis tiga per empat, sebesar metromini tetapi ber AC dan nyaman. Terminalnya lebih kecil dan jalur busway tidak menggunakan jalur sendiri, melainkan menggunakan jalan umum. Tarif tiketnya pun tergolong murah, yaitu 3ribu rupiah. Perjalanan dari jombor ke jalan malioboro sekitar 20 menit dengan kondisi lalu lintar yang biasa dan tidak macet. Jika anda ke malioboro pada hari libur atau weekend, sudah dapat dipastikan anda harus bersabar mulai dari belokan ke stasiun tugu.

Keraton & Alun-alun Kidul

Jalan malioboro selalu ramai dengan pengunjung karena letaknya yang strategis. Selain berdekatan dengan stasiun kereta api Tugu, malioboro juga dekat dengan Keraton Yogyakarta tempat Sultan Hamangkubuwono bertahta. Dari jalan malioboro kami menyempatkan untuk berwisata keraton, tapi sayang sekali waktu sudah terlalu malam sehingga kami mengurungkan niat untuk masuk keraton. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Alun-alun kidul yang lebih dikenal dengan sebutan Alkid. Ada satu hal yang istimewa di alun-alun ini, sebuah pohon beringin kembar yang berada di tengah2 alun-alun. Dipercaya pohon ini sangat sakral, katanya jika kita bisa berjalan melewati jalan diantara beringin kembar ini dengan mata tertutup maka apapun permintaan kita akan terkabul. Dan anehnya banyak sekali orang yang gagal melewatinya, termasuk saya yang melenceng ke sebelah kanan pohon. Teman saya malahan ada yang mencoba 3 kali dan selalu gagal dan anehnya melenceng ke kanan terus. Cuman sekedar permainan, cukup menarik untuk di coba jika anda berkunjung ke sini. Siapa tau permintaan anda benar2 terkabul, walaupun anda mungkin tidak percaya. Alun-alun kidul selalu dipadati pengunjung sampai larut malam, hanya sekedar bercengkrama bersama sahabat, kekasih atau menikmati langit cerah sendirian. Sebelum pulang ke penginapan, kami menyempatkan diri untuk request lagu Yogyakarta ciptaan Kla Project ke seorang pengamen yang datang ke kami. Senengnya bisa nyanyi bareng dan benar2 menikmati suasana djogja yang tenang dan menghanyutkan…..

Alun-Alun kidul

Keraton

Alkid 2

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …
…………
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Yogyakarta 2: Candi Borobudur

Jalan2 di Djogja (7 – 8 – 9 maret 2009)

Menyambung cerita sebelumnnya, dimana kami ber-5 (AKu,Ervan,Son, Edo, Hadis) terlah bertemu di Metro Guest Hotel sekitar jam 9 malam 7 maret 2009. Dalam suasana santai, kami berlima jalan2 di dekat hotel sekedar mencari santapan malam karena seharian telah berkelahi dengan waktu dan jalanan. Sate Madura, agak aneh juga kalau di logika knp kita jauh2 di Jogja pilihan makanannya adalah Sate Madura, yah mungkin karena otak sudah males berfikir dan kaki sudah males untuk cari tempat makan yang agak jauh ya gk ada pilihan lain kecuali yang terdekat dari hotel. Makan malam usai, kita kembali ke jotel dan merencanakan agenda keesokan hari. Kami berencana ke Candi Borobudur, Yaitu Candi Budha terbesar se Asia tenggara (mkn juga terbesar se-Dunia, gk tau lah…).

borobudur-21Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang – Jawa tengah. 1 jam lebih perjalanan di tempuh dari kota Jogja menggunakan angkutan umum. Perjalanan dimulai dari jalan parangtritis, jalan terdekat dari hotel tempat kami menginap. Dari jalan parangtritis kita bisa naik Bus Jurusan bantul atau bus yang lewat terminal Giwangan. Cuman merogoh kocek 2.000 rupiah per orang, seperempat jam perjalanan kami sudah nyampai terminal Giwangan. Sampai terminal Giwangan kami langsung menuju ke Pangkalan Bus Jurusan Borobudur yang terletak bersebrangan dengan tempat pemberhentian bus yang kami tumpangi tadi. Bus tiga/empat atau Bus tanggung berpintu dua siap berangkat ke Borobudur, di tengah2 perjalanan kondektur menarik ongkos perjalanan. Tak seberapa mahal untuk ukuran orang kerja, cuman 10 ribu rupiah. Bus transit dulu di Terminal Jombor (ring road utara jogja), terminal ini dekat dengan jalan Magelang yang mengarah ke Borobudur. Cuman Ngetem 10 menit bus melanjutkan perjalanan ke Borobudur, dan bus kembali Transit di Terminal Muntilan. Terbangun oleh suara pengamen yang ramai dan sedikit mengganggu, kamipun bangun dari tidur yang dan Edo turun untuk membeli Djarum Super sebagai pelengkap kami di waktu senggang. Perutpun tergoda dengan Gorengan Khas Mahelang yaitu Mendoan (tempe goreng yang lebar dan dilapisi gandum yang tebal). Tak pikir panjang akhirnya kami ber-5 segera menikmati jajanan jalanan tersebut, nikmaaaaaaat……..hmmm, lebih nikmat daripada Pizza Hutt (berlebihan). Sperempat jam berlalu, kondekturpun sudah teriak2 tanda bus mau melanjutkan perjalanan, kamipun bergegas menyelesaikan urusan perut ini. Sudah sepertiga perjalanan kami lalui, 20 menit perjalanan kami sudah nyampai di Terminal Borobudur. Jarak terminal dengan Candi kira2 1 km, lumayan dekat bila kita jalan santai.

Borobudur we are coming…..Sampai saat ini kami masih tetap ber-a5, belum ada tanda2 kehidupan satu orang teman kami yanag luar biasa. Aku hubungi dia, sejak kami sampai terminal muntilan tapi dia belum datang juga, akhirnya kami memutuskan untuk menunggunya sambil sarapan Soto Sapi khas Magelang, tepat di depan seberang jalan Parkiran Candi. Belum lima menit kami duduk, sahabat kamipun datang dengan muka dan wajah tak berdosa ( Memang gk ada dosa ke kita2…hahaha). Dialah Agus, Seorang karyawan dari salah satu perusahaan milik negara terkemuka di Indonesia. Agus Prasetyo Nama lengkapnya, yang kebetulan sedang pulang kampung di magelang. Dia adalah salah satu Founding Father dari Elits-41 yang memiliki wawasan luas mengenai konflik di Timur Tengah (iyo to gus…koe dukung Hamas gak?). Lengkap sudah Formasi kami, kalau bahasa Sundanya Genap yang artinya bilangan 6. Setelah menyantap Soto Sapi yang mantabb….kamipun segera bergegas menuju Candi. Tiket masuk Candi Borobudur sama dengan Candi Prambanan yaitu 15.000/pengunjung ditambah Tiket Kamera 1000 rupiah. Antrian pun berjejal di pintu masuk Candi, maklum lah long weekend banyak keluarga yang meluangkan waktu jalan2 ke Candi sekedar Refreshing. Perjalanan dari loket Candi sampai Stupa Pertama cukup jauh sekitar 500 meter mkn lebih.

borobudur-3Sampai di Candi kami segera membuka kamera kami dan hunting objectpun di mulai, walaupun kebanyakan object adalah kita sendiri (maklum wong NARSIS). Setelah keliling 1 putaran di pelataran candi, kami berhenti sejenak meluruskan kaki. Sekelumit ucapan terucap dari mulut sahabat kami Agus, ” Sorry rek, aku kudu muleh…wes jam setengah 10 iki”. Memang Agus sudah bilang ke kami kalau tidak bisa menemani kami berlama2 di candi karena ada keperluan keluarga. Suasana haru pun menerpa kami, isak tangis dan hembusan nafas panjang pun mewarnai perpisahan yang benar2 menyedihkan ini (Berlebihan Mode ON…hahahaha). Formasi tinggal ber-5 lagi, kami melanjutkan dengan berbagai gaya dan tingkah laku yang aneh2 di Candi ini. Karena long weekend Candi bener2 penuh pengunjung sehingga kami kesulitan mencari posisi untuk berfoto bareng tanpa ada halangan orang di sekitar. Terik matahari semakin menyengat, capek di kaki juga mulai terasa. Akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Jogja, Borobudur Completed…..Sampai luar candi sebelum naik Bus kami pun hunting makanan ringan untuk sekedar mengisi perut dan mempertahankan stamina.ipilih, Mie Ayam dan Bakso Tahu khas Magelang (Pokok kalau di magelang ya khas magelang ..:D). Lumayan mantab, tapi lebih mantab Soto Pagi tadi. Ngobrol2 sebentar, sambil rokok-an dan bersenda gurau kami segera selesaikan urusan perut ini lagi. Beranjak ke Terminal Borobudur dengan hati gembira karen Misi telah terpenuhi. Nunggu sebentar di Terminal, Bus datang dan kami segera naik untuk melanjutkan perjalanan ke terminal Jombor – Jogja. Ongkos perjalanan masih tetap sama yaitu 10 ribu rupiah per penumpang, 1 jam lebih perjalanan ke Jombor. Sampai di Jombor kami langsung meneruskan Perjalanan Malam kami ke Pusat Kota Jogja yaitu Malioboro…

Kelanjutan Cerita ini segera di release di Yogyakarta 3

Bersambung …=>>

Yogyakarta 1 : Candi Prambanan

Jalan2 di Djogja (7 – 8 – 9 maret 2009)

Kali ini rekan2 yang tergabung dalam Elits-41 mengadakan hajatan ringan untuk sekedar jalan2 ke kota budaya di Indonesia yaitu Yogyakarta atau lebih terkenal dengan sebutan Djogja. Djogja terkenal dengan eksotisme budayanya yang banyak memikat wisatawan lokal maupun manca negara. Dengan beragam wisata Budaya, Keraton, Candi, dan Pantai nya tidak diragukan lagi jika setiap akhir pekan ataupun libur panjang banyak anak muda yang meluangkan waktu untuk sekedar jalan2 di kota ini. Selain mendapatkan sebutan kota budaya, Djogja juga di juluki sebagai kota Pelajar dikarenakan kota Djogja banyak memiliki Universitas maupun Sekolah Tinggi baik negeri maupun swasta. Wajar jika Djogja memiliki kesan sebagai kotanya anak muda, yang kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar.

Diatas adalah sekilas tentang Djogja, selanjutnya akan saya ulas dalam serangkaian perjalanan saya dan teman2 di kota Gudeg ini. Peserta dari Perjalanan ini adalah 6 orang, 5 orang berangkat dari Bekasi (Aku”mantos”, Edo, Hadist, Edo, Ervan, dan Son) 1 Orang (Agus) stay di Magelang. Sehubungan dengan Long-weekend dan hajatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang merupakan hajatan besar bagi masyarakat di Jawa Tengah khususnya Keraton yogyakarta yang mengadakan Grebeg tumpeng, tiket kereta api dari Bekasi – Yogyakarta ludes tak tersisa sejak H-28 hari (Benar2 gilaaa….). Gak tau yang salah saya tidak beli pada pembukaan tiket pertama di H-30 atau memang Pihak PT KAI yang tidak melakukan perbaikan pada sistem perkereta apian Indonesia (Mudah2an Pak Presiden membaca tulisan ini…Gak mungkin…:D).

H-1 hari ( Menjelang keberangkatan dari bekasi – jogja)

Tiket kereta api tidak ada di Tangan, akhirnya kita sepakat untuk membuat Plan A dan Plan B. Dengan dua Plan tersebut kita sangat yakin kalau semuanya akan lancar.

PLAN A : Membeli Tiket berdiri Senja Utama Solo ( berhenti di Bekasi ), Aku dan Ervan ke Stasiun Pasar Senen untuk membeli Tiket di Hari-H dan sekaligus naik dari St.Pasar Senen, Son & Edo menunggu di Bekasi sampai Kereta Api berhenti di Bekasi.

PLAN B: Jika Tiket kereta Api tidak dapat atau tidak dapat masuk ke dalam kereta karena kereta penuh, kita langsung bertolak ke pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung.

Hari H ( Perjuangan Pertama )

prambanan-2Di hari H Aku dan Ervan mencoba untuk berjuang demi teman2 yang lainya (sok pahlawan :) , dengan segala bujuk rayu canda tawa kami berhasil meloloskan diri dari jerat mesin perusahaan yang begitu keras di telinga (berlebihan…) Puku 2 Siang habis jum’atan Aku dan Ervan pulang ke Kost naik K-45 dari Lemah Abang. Di Pesawat K-45 yang begitu panasnya dan full body contact (huuu…puanaasss banget) kami mencoba bertahan dan hasilnya sampai Kost jam 3 sore. Tidak berfikir panjang kami segera meluncur ke stasiun Bekasi menggunakan Koasi 05A. Sepuluh menit perjalanan kami sampai di Stasiun Bekasi. Di sana kita segera menuju ke bagian reservasi kereta api, belum sempet saya memesan tiket kami sudah tercengan melihat tulisan dikaca depan loket ” Komputer Rusak, Pemesanan kereta api Offline” (Jian…….). Emosi pun meledak-ledak dar der dor…(kaya petasan saja). mkn ini tantangan pertama kami, tidak berfikir panjang kami langsung menuju loket pembelian tiket KRL yang tidak jauh dari situ. Pesen tiket KRL Ekonomi seharga 5000 rupiah/penumpang Jurusan pasar Senen, sialnya lagi pemberangkatan jam 4.30 (busyeett…masih lama jeeh). Sambil menunggu KRL lewat kami mondar mandir kaya orang gila (emang benar2 gila kalee…:D). Tiba2 dari kejauhan terdengar suara kereta api dari arah Timur, loudspeaker pun berkumandang (kaya adzan aja..) memberitahukan kalau kereta api fajar Utama Jogja akan melewati jalur 1. Yesssssss………….Langsung aja aku samperin si Ervan untuk naik kereta ini (Tiket KRL keretanya Fajar Utama Jogja…gk ngurus), lumayan lah selisih waktu setengah jam dari KRL. Perjalanan sekitar 45 menit sampai di stasiun Ps Senen jam 5 sore. Tak pikir panjanga bergegas ke Loket Penjualan Tiket Kereta Senja Utama Solo, berharap masih ada tket duduk. Terlihat antrian lengang, tapi ternyata Tiket Duduk juga sudah Habis…(Busyeeeettt…), Akhirnya beli juga tiket kereta berdiri seharga 110ribu (sama dengan tiket duduk, gak logis….). Pesan tiket 5 lembar, habis dah uangku 560 ribu di rampas oleh PT KAI. Sedikit Lega sudah dapat tiket, saking senengnya ervan langsung ngajak makan soto Lamonga (Gk ada rasa lamonganya sama sekali..PALSUUU). Sambil menunggu Hadis dan Kereta berangkat jam 8.20 malam, kami meluangkan waktu untuk jalan2 ke Plaza Atrium Senen..( Maklum anak Mal jeeh..:P). Jam 7 balik ke Stasiun, ketemu sama Hadis……singkat cerita Nunggu Kereta datang, Kita langsung masuk dan ke tengah Gerbong siap2 duduk pake kertas Koran. Di tempat lain (St Bekasi ) Son dan Edo sudaha menunggu Kereta yang kami tumpangi Lewat. Kereta sampai St Jatinegara berhenti menaikkan penumpang lagi, Busyeeeettttttttt………….Ratusan orang naik sampai Gerbong benar2 penuh penumpang, yang tadinya kami duduk sekarang sudah benar2 berdiri (Modar aku…). Aku hubungi Edo, Plan A harus tetap berjalan kita harus berangkat bareng menggunakan Kereta.Sampai di stasiun Bekasi aku serahkan tiket Kereta Edo dan Son lewat jendela karena bener2 sudah tidak bisa gerak lagi ke Pintu. Berharap mereka bisa naik ke Pintu Gerbong lainya. Dan ternyataa………….semua pintu Gerbong kereta tidak ada yang terbuka, dan mereka sama sekali tidak ada yang ke angkut kereta. EMosi berlebihan…(Misuhi wong sak gerbong…janc…), akhirnya kita berpisah sampai disini. Edo dan Son terpaksa menjalankan Plan B.

Kereta berjalan….berbagai posisi tidur kami lewati (mulai dari tidur duduk nyelempit, duduk di sandaran tangan, dan berdiri), kata ervan tidurnya Diskrit karena cuman beberapa detik bangun lagi hahaha….Sekitar 10 Jam kami lalui penderitaan ini dengan canda, tawa, pisuhan, dan penyesalan. Jam 7 pagi kereta sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta..(Duuuh…senangnya hatiku), Tak sabar nguyuh, lungguh, raup….dll. Setelah bersih2 muka, kami langsung cari sarapan di belakang St Tugu. Soto angkringan Khas Jogja, Jan…..Mantaaaaaaaaaaaaaaaaaab coy, sambi ngeteh anget mangan gorengan dan rokok-an serasa capek, kesal, dan suntuk semalaman hilang semuanya. Kenyang coy….saatnya Chek-in Hotel, males tawar menawar dengan tukang Becak & Taksi gadungan, akhirnya kami memutuskan naik Taksi Beneran. cuman 28ribu sampai di Metro Guest Hotel. Check-In sehari, bayar sebesar 160ribu untuk 2 kamar. Sampai kamar mandi terus tidurrr………..bangun2 jam 11 siang. Lumayan rasa capek dan ngantuk sudah berkurang. Gk ada kabar berita dari Son dan edo (Gk tau dimana…kan udah besar :P )., akhirnya kami memutuskan untuk jalan2 ke Candi Prambanan.

prambanan-3 Ke Candi prambanan dari Jalan Prangtritis naik Bis Mini jurusan Bantul turun di terminal Giwangan, oper Bus Jogja-Solo langsung turun di Depan pintu Masuk Candi Prambanan. Langsung saja ke Loket pembelian tiket, 15.000 rupiah per/pengunjung ditambah tiket kamera 1000 rupiah. Masuk Candi jam 2 sore dalam kondisi hujan rintik2, daripada kamera dan pakaian basah kami menyewa Payung dengan harga 2500 ribu per Payung. Candi yang dikunjungi ada 4 Buah, yaitu Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan candi Sewu. Capek jalan2 perut juga keroncongan, kami duduk sejenak sambil menikmati Pecel Khas Prambanan (Khas Klaten), Lumayan nikmat buat ganjal perut. Ada kabar dari Son dan Edo bahwa mereka masih di perjalanan dari Semarang ke Solo. Candi tutup Jam 4.30 sore dan Harus keluar Candi jam 6 sore. Akhirnya kami memutuskan untuk Pulang ke Jogja, kali ini kami memanfaatkan Alat Transportasi baru yang Lumayan murah dan nyaman yaitu Bus Trans Jogja ( Busway nya Jogja). Hanya dengan merogoh kocek 3000 rupiah, kita bisa keliling Jogja sepuasnya. Sistemnya sama dengan Busway Jakarta cuman armadanya sedikit dan tidak memakai jalan khusus. Pelayanan lumayan ramah, khas orang jawa tengah yang lemah lembut. Kami memutuskan untuk langsung ke Kota, yaitu ke Malioboro. Menikmati sejenak jalanan malioboro dengan segala pernak penik dan keraimaianya di malam hari, laper juga jalan2 bertiga kaya orang ilang. Tak lama jalan2 datang kabar dari Son dan Edo bahwa dia sudah nyampai di dekat hotel, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Hotel menyambut kedatangan 2 pejuang dari Bekasi tersebut.

Dok..dok..dok…Kami mengetok pintu kamar hotel, dan mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sedang asyik berduaaan ( hahaha…koyo wong pacaran wae). Walaupun tadinya kita sempat berselisih, kesal marah emosi, tapi sekarang kita bertemu dalam suasana yang ceria. canda tawa gurauan dan makian mencairkan suasana haru ini….(berlenbihan). Sampai disini kami mulai begabung kembali, dan merencanakan perjalanan hari esok yang menyenangkan.

Bersambung…..=>> Yogyakarta 2 ( Borobudur)