Anak Krakatau Part#3 : Menjejakkan kaki di puncak purba

Camping di Lereng Anak Krakatau

Masih menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon Cabe di pulau Rakatta. Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat ke daratan karena bibir pantai yang terlalu dangkal, sehingga kami harus basah-basahan mencincing celana untuk merapat ke pulau Anak Krakatau ini. Pantai disini berpasir hitam pekat, mungkin karena pasir ini berasal dari erupsi gunung Anak Krakatau di masa lalu. Satu persatu dari kami turun dari perahu dan menurunkan semua perlengkapan berkemah. Kebetulan waktu itu kami sedang kurang beruntung, tempat yang biasa dipakai untuk camping sudah ditempati oleh rombongan fotografer yang lebih dahulu datang kesini. Akhirnya kami mencari tempat datar tepat dipinggir pantai, diatas tanah lapang berpasir yang ditumbuhi ubi jalar. Kami membawa 4 tenda, 2 untuk cewek dan 2 untuk cowok. Hmm . . .berkemah dipantai memang tidak seperti di gunung, udaranya cenderung panas, jadi kami malah asyik bermain, nongkrong, dan tiduran di luar tenda. Acara yang tidak boleh dilewatkan ketika kita berkemah di pinggir pantai adalah “Bakar Ikan”, kami pun membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang bersandar di pantai ini. Satu ikan besar seberat 4 kg seharga 50 ribu rupiah cukup untuk pesta api unggun malam itu. Untuk membakar ikan ternyata ada tekniknya sendiri, kami pun diajari cara membakar ikan yang baik oleh rangger kami pak Amir. Udara pantai yang hangat membuat suasana api unggun semakin panas, lain dengan api unggun di gunung yang menghangatkan badan dari udara dingin, disini kami malah lepas baju karena kepanasan dan keringetan. Sekitar 1 jam ikan dipanaskan diatas bara api, ikan pun siap disantap bersama dengan bumbu kecap dan saus seadanya. Nasi liwet panas masakan ibu2 yang masih amatiran pun menjadi nikmat karena kebersamaan yang tercipta . . . hmmm . . . rasa ikan itu kembali terasa ketika nulis kalimat ini. Waktu sudah hampir jam 10 malam, pesta pun ditutup dengan mengambil posisi tidur masing2. Ada sebagian yg tidur di dalam tenda, ada sebagian lagi di bibir pantai, sebagian lagi di dekat api unggun. Udara pantai yang hangat membuat saya tidak ingin tidur di dalam tenda yang sumpek, saya lebih suka menggelar matras dan tiduran diluar beratapkan langit malam yang semakin menghitam karena mendung. Di tengah2 lelapnya tidur kami, tiba2 setetes dua tetes air dari langit membangunkan kami, hujan ringan turun di tengah malam, kami pun bergegas masuk ke tenda untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

Mendaki Puncak Purba

Kami sepakat untuk bangun pukul 4 pagi untuk summit attack ke puncak Krakatau melihat Sunrise keesokan harinya. Karena hujan sepanjang malam, kami pun malas-malasan untuk bangun, karena kami berasumsi Sunrise tidak akan terlihat karena mendung. Sampai akhirnya jam 5 lebih kami baru keluar dari tenda, berkemas dan bersiap mendaki puncak Krakatau. Saya segera membangunkan Pak Amir yang bermalam di perahu untuk menuntun jalan kami trekking menuju puncak. Kami tidak terburu-buru waktu itu untuk mendaki, karena cuaca yang mendung sehingga Sunrise pun tak mungkin untuk di dapatkan. Jam setengah 6 pagi rombongan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Ternyata hanya butuh 10 menit untuk mencapai dasar dari kubah pasir gunung Krakatau dari bibir pantai, hanya menerobos beberapa ratus meter hutan cemara yang memisahkan antara pantai tempat kami menginap dengan dasar kubah pasir gunung Krakatau purba tersebut. Mendaki gunung ini, saya jadi teringat saat mendaki kubah pasir gunung Semeru. Bedanya di gunung semeru kita butuh waktu 2-3 jam untuk mendaki, disini kita hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai puncak. Kami berdiri persis di samping gunung anak Krakatau yang masih aktif, diatas punggungan kubah pasir yang padat. dari atas sini bisa terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar gunung ini. Konon saat gunung Anak Krakatau meletus, para reporter televisi dan media mengambil gambar dan mengabadikan letusannya di pulau Rakatta agar aman dari lava panas yang dikeluarkannya. Sebenarnya pemandangan paling mengasyikkan adalah ketika gunung ini sedang meletus, kita bisa melihat percikan api yang membumbung ke langit seperti kembang api raksasa dari mulut gunung tersebut. Nah jika kita ingin menikmati moment indah sekaligus berbahaya ini, tunggu saat gunung Anak Krakatau ini meletus lalu kita camping di Pulau Rakatta untuk menikmati pesta kembang api raksasa di malam harinya.  Sekitar 2 jam kami menikmati sejuknya udara pagi dipunggungan Anak Krakatau dan juga pemandangan alam sekitarnya yang terhampar luas. Setelah puass berada di puncak, kami segera memutuskan untuk turun kembali ke tempat camping. Tidak ada lagi agenda lain setelah ini, kami memutuskan untuk pulang langsung ke Pelabuhan Canti.

Arung Jeram Ekstrim

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, kami segera memulai perjalanan pulang menuju pelabuhan canti. Kejutan besar diberikan pada kami, perahu meninggalkan Anak Krakatau dengan memutar mengelilinginya ke arah selatan. Tak ayal ombak besar lautan lepas samudera hindia pun menghempaskan perahu kayu sederhana milik pak Amir. Perahu dihadang ombak besar dari depan, sehingga tabrakan keras pun terjadi, perahu menghujam tajam kebawah, air laut pun terhempas ke kami yang duduk didepan moncong perahu bagian depan, basah kuyub dehh. Kami pun berteriak sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat agar tidak jatuh ke laut (**Berlebihan :D ). Karena kapal memutar mengelilingi gunung Anak Krakatau ini, maka kami bisa melihat dengan utuh bagian gunung yang masih aktif tersebut. Pemandangan gunung Anak Krakatau dengan background langit biru pun sangat indah di depan mata kami. Perjalanan dari Anak Gunung Krakatau ke Pelabuhan Canti memakan waktu sekitar  4 jam tanpa berhenti, sampai Canti sekitar pukul 2 siang.

Meninggalkan Surga Kecil

Sampai di pelabuhan Canti sekitar pukul 2 siang, kami dipersilahkan mandi untuk membersihkan diri di  toko dekat pelabuhan. Sebagian dari kami mandi di rumah pak Wawan, ranger yang juga menemani kami. Jam 3 sore angkot yang akan membawa kami pun sudah tiba dan siap mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah angkot sewaan yang sudah janjian mengangkut kami pulang pergi Bakauheni – Canti di hari sebelumnya waktu kami berangkat kesini. Kembali kami menyusun strategi untuk bisa memasuki angkot kecil ini, karena barang bawaan kami sudah berkurang banyak, maka angkotpun lebih longgar dan lebih nyaman (walaupun tetep umpek2an seperti sayuran :D ). Perjalanan dari Canti ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam karena kepadatan jalan dan kemacetan di jembatan yang sedang diperbaiki. Kami sampai di Bakauheni sekitar pukul 5 sore, segera kami membeli tiket kapal menuju Merak. Akhirnya kapal berangkat sekitar pukul 6 sore, sampai di pelabuhan Merak pukul 8 malam. Dari pelabuhan Merak, kami naik Bus Arimbi PATAS-AC yang memiliki tujuan akhir Kampung Rambutan. Inilah akhir petualangan kami menikmati Surga Kecil di Anak Gunung Krakatau, benar-benar petualangan yang komplit dan penuh warna . . .

Thanks to #Suddenly Community   . . . I missing traveling together with all of you . . . .

Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil


Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net :D ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air :D . Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan :D . Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3

Air Terjun Cibeureum

Menghirup Udara Segar di Air Terjun Cibeureum

Air terjun Cibereum terletak di lereng Gunung Gede, tepatnya di Kecamatan Cibodas kabupaten Cianjur Jawa Barat. Di lokasi Air Terjun ini terdapat 3 Air terjun yang ketiganya memiliki ketinggian yang hampir sama. Jika anda akan melakukan pendakian Gunung Gede, sangat disayangkan jika anda tidak melewatkan waktu sejenak di air terjun ini. Setiap hari sabtu dan minggu banyak sekali orang yang berkunjung di tempat ini untuk menghirup udara segar di lereng pegunungan atau sekedar melepaskan kepenatan hidup di kota2 besar sekitarnya (jabodetabek) yang bising dan berudara kotor. Tak sedikit juga para muda mudi berkunjung ke tempat ini untuk bermesra2an dengan pasangan mereka, udara yang digin di tambah pemandangan yang cukup indah membuat tempat ini jadi favorit bagi para kawula muda yang sedang di mabuk asmara.

Sekilas tentang air terjun Cibereum diatas, saya akan mencoba menceritakan pengalaman menarik saya waktu berkunjung ke tempat ini bersama dengan rekan saya. Saya telah dua kali berkunjung ke Air Terjun ini, episode pertama saya bersama Agus dan Fauzik sedangkan episode 2 bersama Hadid dan Edo. Kedua kunjungan ke Air terjun ini sebenarnya punya misi yang sama, yaitu mengurus perijinan mendaki Gunung Gede yang menurut peraturan harus dilakukan minimal 1 minggu sebelum hari H pendakian.

Episode 1 – Sabtu, 04 Agustus 2007 ( Aku, Agus, Fauzik)

cibereum-1Perjalanan saya mulai dari tempat tinggal sementara kami di Bekasi, saya berangkat dari kost bersama Agus menuju ke UKI (Tempat populer bagi para pengguna jalan yang dari atau menuju ke daerah sebelah selatan Jakarta) dimana Fauzi berangkat dari jakarta dan akan bertemu kami di situ. Dari Bekasi aku dan agus naik Bus Maysari Bakti nomor 9B jurusan Kampung Rambutan lewat UKI. 3000 rupiah ongkosnya, setengah jam kemudian kami sudah sampai di UKI tempat kami janjian dengan Fauzi. Seperempat jam sudah kami duduk2 di halte menunggu kedatangan rekan kami yang kunjung datang itu, tidak ingin meluangkan waktu sia-sia akhirnya Agus membeli Koran harian sebagai teman membunuh waktu (Maklum Calon pejabat, bacanya koran harian). Tak lama kemudian sepintas bayangan melintas tepat di depan mataku, dengan langkah tak berdosa tanpa menyapa (memang tidak kelihatan kalee…) fauzik terlihat berjalan di depan kami. Ziiik……..teriakku sekuat tenaga…..tidak terdengar juga, maklum suaraku kalah dengan terikan2 kernek bus kota yang sedang mencari penumpang. Tak ingin ketinggalan lebih jauh lagi akhirnya kamipun lari menghampirinya, haaaaaaaah…..akhirnya terkejar juga. Fauzik, kakak angkatan kami di Elektro ITS yang sempet menjadi asisten kami sewaktu Praktikum di kampus adalah orang kunci disini karena dialah yang benar2 tau jalur menuju Pos Pendakian Gunung Gede di Cibodas.

Dari UKI kami mencoba mencari bus ke Arah Cianjur yang melewati puncak yang natinya kita bisa turun didepan jalan masuk menuju kawasan Kebun Raya Cibodas. Mondar mandir kami mencari bus itu, tapi tak satupun kami temukan bus jurusan Cianjur. Waktu sudah hampir tengah hari, jam 11 siang kira2 kami memutuskan untuk naik Bis Jurusan Bogor. Karena sudah kepanasan, kami memilih bus AC walaupun tarifnya sedikit mahal toh yang penting nyaman dan cepat sampai. Bus dari UKI ke bogor melewati Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi), perjalanan hanya sekitar 45 menit dengan ongkos 10 ribu rupiah. Sampai di terminal bogor, kami langsung mencari Bus jurusan Cianjur yang melewati Puncak. Berjalan sedikit di pintu keluar terminal kami langsung naik Bus AC Ekonomi jurusan Cianjur yang sebentar lagi akan berangkat. Sampai di dalam bus ada sedikit keanehan, baru kali ini Restribusi Terminal di tarik oleh petugas di dalam Bus (benar2 terminal yang aneh). Kami akan segera melakukan perjalanan panjang menuju Cibodas. Perjalanan kira2 sekitar 2 jam dengan kondisi jalan yang biasa (tidak macet dan tidak lancar). Satu hal yang menarik perhatian saya, dimana kernek, supir, kondektur, pengamen dan pedagang semua menggunakan bahasa Sunda (maklum kita berada di tanah Pasundan). Satu keanehan lagi terjadi didalam bus, dimana ongkos perjalanan bisa di tawar (gilaaa….), bayangkan ada mbak2 (cewek) di bangku sebelah membayar ongkos yang lebih tinggi daripada kami dimana kami turun lebih jauh jaraknya daripada cewek itu (mungkin salah ngasih kembalian atau memang ketipu :P ). Ongkos dari Bogor-Cibodas kurang lebih 30 ribu rupiah, maklum perjlanan panjang naik turun bukit dan jalanya berkelok2. Sepnjang perjalanan di kanan kiri jalan penuh dengan Vila2 mewah, Pusat Diklat, Restoran dan juga Pedagang2 kecil yang menjajakan makanan hasil bumi kota Bogor. Puncak bogor yang harusnya hijau lebat dengan kebun teh yang terbentang luas, kini hmpir penuh dengan bangunan2 hasil keserakahan para pebisnis alam. Sungguh sedih aku melihat pemandangan ini, tak kuasa aku meneteskan air mata kesedihan ini karena orang2 biadab telah merampas keindahan alam yang kita punya (Berlebihan Mode ON).

Dua jam perjalanan kami lalui, akhrnya kami sampai di jalan masuk Kebun Raya Cibodas. Jarak antara jalan raya dan kebun raya masih jauh, sekitar 5 kilometer perjalanan menanjak. Dari pertigaan itu kami naik angkot menuju Cibodas, ongkos 2500 rupiah dalam waktu 15 menit kami sudah sampai di gerbang masuk Cibodas. Legaa…….pengen segera ke Pos Pendakian guna mengurus ijin pendakian ke Gunung Gede, sampai depan Pos kami dikejutkan oleh tulisan di spanduk yang di pampang di depan halaman Pos Pendakian yang bertuliskan ” Pendakian Gunung Gede untuk sementara di TUTUP selama bulan Agustus, dalam rangka pembersihan dan pemeliharaan Hutan”, seketika nafas kami tertahan……..Haaaaaaaaaaaah, sia sia sudah pejuanganku ini (bisik dalam hatiku). Akupun lesu lemah dengan penuh penyesalan, tapi tak lama kemudia Fauzik nyeletuk ” Bagaimana kalau kita ke Air Terjun Cibereum saja…”. Deeg…jantungku kembali berdetak setelah selama beberapa detik terhenti (berlebihan…:D), betapa senangnya hatiku saat mendengar kalimat itu. Tak pikir panjang lagi, kami segera menuju ke Air terjun Cibeureum, jarak pos pendaftaran pengunjung sekitar 1km dari Pos Pendakian. Sampai di depan gerbang pendaftaran, kami dikejutkan lagi dengan tulisan “Air Terjun Tutup Jam 14.00″, Siaaaalllllll………………………..gk mau kecewa yang kedua kali akhirnya kami nekat naik kesana, sampai di Pos Pendaftaran kami melakukan registrasi dan membayar ongkos sebesar 2000 rupiah/pengunjung. Dari pihak Pos hanya berpesan untuk tidak terlalu lama di air terjun mengingat waktu sudah sore. Pendakian di mulai…..2 kilometer perjalanan menanjak menyusuri jalan bebatuan kami mulai. Target 1 jam sudah sampai di Puncak..(Upss…maksudnya di Air Terjun). Maklum anak kost yang jarang berolahraga, baru mendaki selama 5 menit saja nafas sudah terengah2 dan keringat sudah bercucuran…(Ampuuun toss….terucap dari mulut Agus). Sampai separuh perjalanan, saya terkejut bukan main berpapasan dengan seorang cewek yang sepertinya aku kenal. Bunga…..(bukan nama sebenarnya) aku panggil namanya, diapun menoleh dan balas menyapaku. Duuuh… dunia memang cuman selebar daun kelor (pepatah orang jawa), aku ketemu dengan teman SMA ku yang kebetulan sekarang juga kerja di jakarta. Fauzik dan Agus yang berjalan di depankupun seketika menoleh dan menatap kami berdua seolah tak percaya (berlebihan…). Ngobrol dikit dengan teman SMA sambil mengobati lelah kami lanjutkan kembali perjalanan ke Air Terjun. 1 jam perjalanan lagi, akhirnya kami nyampai juga di Air Terjun yang indah itu. Wouuu….sungguh mengagumkan, air terjun dengan ketinggian hampir 30 meter dan debit air yang besar menyapa kami dan mendinginkan badan kami yang terbakar selama perjalanan. Setelah puass berfoto2 di depan Air terjun pertama, kamai lanjutkan ke Air terjun yang kedua yang jaraknya cuman sekitar 20 meter. Dua puluh meter lagi kami menemukan Air Terjun ke-3 yang tempatnya agak tersembunyi di antara tebing yang curam. Inilah yang dinamakan Air Terjun Cibeureum, gak nyangka justru air terjun yang tersembunyi dan yang paling kecil malah menjadi Nama Besar dari ke-3 Air terjun yang ada di tempat itu.

Sambil menikmati pemandangan sekitar, kami menyantap Rempeyek Bayam yang kami beli dari dekat Pos Pendakian tadi siang. Setengah jam sudah kami di tempat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 4 Sore, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang. Perjalanan turun jauh lebih cepat , cukup 30 menit kami sudah sampai di Pos pendaftaran. Sampai di sepanjang jalan dekat Pos Pendakian, kami sempatkan dulu belanja hasil bumi lereng Gunung Gede ini. Rempeyek Bayam, Keripik Tempe, dan Sale adalah jajanan khas daerah ini. Setelah puass belanja jajanan, kami segera naik angkot turun menuju Jalan Raya. Sampai Jalan Raya kami mencari Bus Jurusan Bogor, alangkah beruntungnya kami karena yang lewat justru Bus Jurusan Bandung-Kampung Rambutan. Tak berfikir panjang kamipun langsung naik dan menikmati penjalan panjang ke Jakarta. Penjalanan sekitar 3 jam, dengan ongkos 30 ribu rupiah (Bus Ekonomi).

Sampai di Kampung Rambutan sekitar pukul 9 malam, sampai disini Fauzik berpisah dari Aku dan Agus untuk pulang ke tempat tinggalnya di Daerah Duren Tiga – Jakarta Selatan. Mondar mandir di terminal mencari bus jurusan bekasi, hampir setengah jam kami tidak juga menemukanya. Mungkin armadanya sudah habis, maklum sudah jam 9.30 malam lebih. Tak mau kemalaman di terminal kami memutuskan untuk menyebrang melalui jembatan Tol, berharap ada bus atau angkot yang langsung mengarah ke Bekasi di seberang jalan. Akhirnya kami menemukan bus 9B jurusan Bekasi Barat, Alhamdulilah……akhirnya perjuangan terakhir hampir terlewati. Jam 11 malam kami sampai di Kost tercinta, Jl Lele 1 Perumnas 2 Bekasi. Sampai disinilah akhir dari ceritaku di Cibereum Episode 1, cerita selanjutnya akan segera di release…

Episode 2, Sabtu, 25 Agustus 2007( Aku, Edo, Hadid, Fauzik)

cibereum-2Pada Episode 2 kali ini, saya bersama ke-2 teman saya akan menceritakan perjalanan menuju ke Air Terjun Cibeereum dengan tujuan mengurus perijinan pendakian Gunung Gede dan juga menikmati udara segar sepanjang perjalanan menuju Air Terjun. Perjalan kali ini di tempuh dengan jalur transportasi yang berbeda dengan Episode 1. Aku, Edo dan Hadid berangkat dari Bekasi jam 8 pagi, keluar kost kami bertiga menyempatkan dulu untuk sarapan di warteg favorit kami yang terkenal dengan sebutan “Warung Semi Padang” atau “Warung Hadid”. Setelah perut cukup kenyang, jam setengah sembilan kami meninggalkan warteg menuju halte bus depan Ramayana, tak lama kemudian bus 9B jurusan kampung Rambutan melintas di depan dan kamipun langsung naik tanpa pikir panjang. Kurang lebih 45 Menit perjalanan kami sampai di Terminal Bus Kampung Rambutan, kami janjian dengan Fauzik lagi di terminal ini. Kami coba hubungi Fauzik berkali2, tapi gk diangkat olehnya (gak tau kenapa gk diangkat, mkn hpnya di silent). Akhirnya kami putuskan untuk menuju Terminal Bus Antar Kota, para Calo bus pun langsung menyerbu kami bertubi tubi sampai kami benar2 muak (berlebihan). Stelah bayar peron terminal, kami coba telpon fauzik lagi dan menunggu di depan pintu masuk berharap jika fauzik datang kami bisa langsung melihatnya. Cukup lama kami menunggu, capek juga berdiri terus kamipun coba cari tempat duduk. Selintas mata memandang mencari bangku kosong buat duduk, mata kami menangkap sosok seseorang yang kami kenal sedang duduk diam dengan kepala tertunduk bersandar tas kecil yang di bawanya. Seketika itu kami menghampirinya, dan………………..”ziiik…….” sapaku, ” eh,….tos” dia balas menyapaku.Mkn saking lamanya dia nunggu kami, dia sampai ngantuk dan tertidur. Waktu sudah menujukkan pukul 10 lebih. Kamipun segera mencari bus jurusan Cianjur yang melewati Puncak, langsung dapat bus ekonomi tanpa AC.

Perjalanan dari Kampung rambutan ke Cibodas memakan waktu kurang lebih 3 jam, dalam kondisi jalan yang normal. Ongkos perjalanan sekitar 30 ribu rupiah per penumpang. Tiga jam perjalanan kami tempuh akhirnya kami sampai juga di Cibodas, seperti pada episode 1 kami langsung cari angkot jurusan Kebun Raya Cibodas. Sampai di Pos Pendakian pukul 1 Siang lebih, kami langsung menuju ke Loket Pendaftaran pendakian Gunung Gede. Biaya pendakian Per orang adalah 20 ribu rupiah, biaya pendakian termahal yang pernah aku alami. Saat melakukan pendakian, kami menemui juga sorang turis asing yang juga sedang mendaftarkan diri. Ternyata, ada juga bule yang suka naik Gunung yah..:D. Setelah selesai mendaftar, kami menyempatkan dulu untuk Sholat Dzuhur di Mushola dekat Pos tersebut. Setelah sholat, fauzik pamit pada kami untuk pulang lebih dulu karena ada urusan pribadi. AKu, Edo dan Hadid bersiap untuk menuju ke Air Terjun Cibeureum. Perjalanan dimulai, seperti biasanya kami membayar restribusi Air Terjun sebesar 2 ribu rupiah per pengunjung. Dua jam perjalanan kami tempuh, sampai juga di Air Terjun sekitar pukul setengah 3 sore. Kami bertiga langsung pasang action NARSIS walaupun hanya bawa kamera HP Ony Ericssonku :D . Setelah puas bermain air di bawah air terjun dan foto2 bersama di sana, kami segera turun mengejar waktu yang hampir gelap. Sampai di jalan raya sekitar pukul 4 sore, kami mencoba mencari Bus Jurusan Jakarta. Karena tidak dapat bus jurusan Jakarta, kami naik bus jurusan Bogor yang berhenti di depan kami. Ongkos perjalanan sampai bogor sekitar 20 ribu rupiah, perjalanan di tempuh dalam waktu 2 jam lebih karena macet. Sampai di Terminal Bogor, kami mencari Bus jurusan Kampung Rambutan, nasib kali ini agak mujur karena kami menemukan Bus Jurusan Bekasi Timur. Tak berfikir panjang kamipun langsung naik, bus ekonomi AC dengan ongkos 15 ribu rupiah. Sampai di pintu Tol Bekasi timur kami turun, segera kami mencari angkot jurusan bekasi barat. Perjuangan terakhir hampir usai, sekitar jam 9 malam kami sampai di Kost dengan selamat dan hati Gembira. Demikian perjalanan kami di Air Terjun Cibeureum, semoga anda tertarik dengan cerita2 dari kami.

The End