Anak Krakatau Part#3 : Menjejakkan kaki di puncak purba

Camping di Lereng Anak Krakatau

Masih menyambung cerita dari Anak Kratakatu Part#2 , kali ini kami telah sampai di lereng gunung Anak Kratakau setelah perjalanan 1 jam dari Lagoon Cabe di pulau Rakatta. Perahu tidak sepenuhnya bisa merapat ke daratan karena bibir pantai yang terlalu dangkal, sehingga kami harus basah-basahan mencincing celana untuk merapat ke pulau Anak Krakatau ini. Pantai disini berpasir hitam pekat, mungkin karena pasir ini berasal dari erupsi gunung Anak Krakatau di masa lalu. Satu persatu dari kami turun dari perahu dan menurunkan semua perlengkapan berkemah. Kebetulan waktu itu kami sedang kurang beruntung, tempat yang biasa dipakai untuk camping sudah ditempati oleh rombongan fotografer yang lebih dahulu datang kesini. Akhirnya kami mencari tempat datar tepat dipinggir pantai, diatas tanah lapang berpasir yang ditumbuhi ubi jalar. Kami membawa 4 tenda, 2 untuk cewek dan 2 untuk cowok. Hmm . . .berkemah dipantai memang tidak seperti di gunung, udaranya cenderung panas, jadi kami malah asyik bermain, nongkrong, dan tiduran di luar tenda. Acara yang tidak boleh dilewatkan ketika kita berkemah di pinggir pantai adalah “Bakar Ikan”, kami pun membeli ikan segar hasil tangkapan nelayan yang bersandar di pantai ini. Satu ikan besar seberat 4 kg seharga 50 ribu rupiah cukup untuk pesta api unggun malam itu. Untuk membakar ikan ternyata ada tekniknya sendiri, kami pun diajari cara membakar ikan yang baik oleh rangger kami pak Amir. Udara pantai yang hangat membuat suasana api unggun semakin panas, lain dengan api unggun di gunung yang menghangatkan badan dari udara dingin, disini kami malah lepas baju karena kepanasan dan keringetan. Sekitar 1 jam ikan dipanaskan diatas bara api, ikan pun siap disantap bersama dengan bumbu kecap dan saus seadanya. Nasi liwet panas masakan ibu2 yang masih amatiran pun menjadi nikmat karena kebersamaan yang tercipta . . . hmmm . . . rasa ikan itu kembali terasa ketika nulis kalimat ini. Waktu sudah hampir jam 10 malam, pesta pun ditutup dengan mengambil posisi tidur masing2. Ada sebagian yg tidur di dalam tenda, ada sebagian lagi di bibir pantai, sebagian lagi di dekat api unggun. Udara pantai yang hangat membuat saya tidak ingin tidur di dalam tenda yang sumpek, saya lebih suka menggelar matras dan tiduran diluar beratapkan langit malam yang semakin menghitam karena mendung. Di tengah2 lelapnya tidur kami, tiba2 setetes dua tetes air dari langit membangunkan kami, hujan ringan turun di tengah malam, kami pun bergegas masuk ke tenda untuk melanjutkan tidur sampai pagi.

Mendaki Puncak Purba

Kami sepakat untuk bangun pukul 4 pagi untuk summit attack ke puncak Krakatau melihat Sunrise keesokan harinya. Karena hujan sepanjang malam, kami pun malas-malasan untuk bangun, karena kami berasumsi Sunrise tidak akan terlihat karena mendung. Sampai akhirnya jam 5 lebih kami baru keluar dari tenda, berkemas dan bersiap mendaki puncak Krakatau. Saya segera membangunkan Pak Amir yang bermalam di perahu untuk menuntun jalan kami trekking menuju puncak. Kami tidak terburu-buru waktu itu untuk mendaki, karena cuaca yang mendung sehingga Sunrise pun tak mungkin untuk di dapatkan. Jam setengah 6 pagi rombongan kami mulai menyusuri jalan setapak menuju puncak. Ternyata hanya butuh 10 menit untuk mencapai dasar dari kubah pasir gunung Krakatau dari bibir pantai, hanya menerobos beberapa ratus meter hutan cemara yang memisahkan antara pantai tempat kami menginap dengan dasar kubah pasir gunung Krakatau purba tersebut. Mendaki gunung ini, saya jadi teringat saat mendaki kubah pasir gunung Semeru. Bedanya di gunung semeru kita butuh waktu 2-3 jam untuk mendaki, disini kita hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai puncak. Kami berdiri persis di samping gunung anak Krakatau yang masih aktif, diatas punggungan kubah pasir yang padat. dari atas sini bisa terlihat gugusan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar gunung ini. Konon saat gunung Anak Krakatau meletus, para reporter televisi dan media mengambil gambar dan mengabadikan letusannya di pulau Rakatta agar aman dari lava panas yang dikeluarkannya. Sebenarnya pemandangan paling mengasyikkan adalah ketika gunung ini sedang meletus, kita bisa melihat percikan api yang membumbung ke langit seperti kembang api raksasa dari mulut gunung tersebut. Nah jika kita ingin menikmati moment indah sekaligus berbahaya ini, tunggu saat gunung Anak Krakatau ini meletus lalu kita camping di Pulau Rakatta untuk menikmati pesta kembang api raksasa di malam harinya.  Sekitar 2 jam kami menikmati sejuknya udara pagi dipunggungan Anak Krakatau dan juga pemandangan alam sekitarnya yang terhampar luas. Setelah puass berada di puncak, kami segera memutuskan untuk turun kembali ke tempat camping. Tidak ada lagi agenda lain setelah ini, kami memutuskan untuk pulang langsung ke Pelabuhan Canti.

Arung Jeram Ekstrim

Waktu menunjukkan pukul 10 pagi, kami segera memulai perjalanan pulang menuju pelabuhan canti. Kejutan besar diberikan pada kami, perahu meninggalkan Anak Krakatau dengan memutar mengelilinginya ke arah selatan. Tak ayal ombak besar lautan lepas samudera hindia pun menghempaskan perahu kayu sederhana milik pak Amir. Perahu dihadang ombak besar dari depan, sehingga tabrakan keras pun terjadi, perahu menghujam tajam kebawah, air laut pun terhempas ke kami yang duduk didepan moncong perahu bagian depan, basah kuyub dehh. Kami pun berteriak sekencang-kencangnya sambil berpegangan erat agar tidak jatuh ke laut (**Berlebihan :D ). Karena kapal memutar mengelilingi gunung Anak Krakatau ini, maka kami bisa melihat dengan utuh bagian gunung yang masih aktif tersebut. Pemandangan gunung Anak Krakatau dengan background langit biru pun sangat indah di depan mata kami. Perjalanan dari Anak Gunung Krakatau ke Pelabuhan Canti memakan waktu sekitar  4 jam tanpa berhenti, sampai Canti sekitar pukul 2 siang.

Meninggalkan Surga Kecil

Sampai di pelabuhan Canti sekitar pukul 2 siang, kami dipersilahkan mandi untuk membersihkan diri di  toko dekat pelabuhan. Sebagian dari kami mandi di rumah pak Wawan, ranger yang juga menemani kami. Jam 3 sore angkot yang akan membawa kami pun sudah tiba dan siap mengangkut kami kembali ke Pelabuhan Bakauheni. Ini adalah angkot sewaan yang sudah janjian mengangkut kami pulang pergi Bakauheni – Canti di hari sebelumnya waktu kami berangkat kesini. Kembali kami menyusun strategi untuk bisa memasuki angkot kecil ini, karena barang bawaan kami sudah berkurang banyak, maka angkotpun lebih longgar dan lebih nyaman (walaupun tetep umpek2an seperti sayuran :D ). Perjalanan dari Canti ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam karena kepadatan jalan dan kemacetan di jembatan yang sedang diperbaiki. Kami sampai di Bakauheni sekitar pukul 5 sore, segera kami membeli tiket kapal menuju Merak. Akhirnya kapal berangkat sekitar pukul 6 sore, sampai di pelabuhan Merak pukul 8 malam. Dari pelabuhan Merak, kami naik Bus Arimbi PATAS-AC yang memiliki tujuan akhir Kampung Rambutan. Inilah akhir petualangan kami menikmati Surga Kecil di Anak Gunung Krakatau, benar-benar petualangan yang komplit dan penuh warna . . .

Thanks to #Suddenly Community   . . . I missing traveling together with all of you . . . .

Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil


Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net :D ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air :D . Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan :D . Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3

Lunch Bersama Teman Baru @Hoi An

Tempat Makan Favorit @Hoi An Ancient Town

Inside Foto (Clock Wise) : Andrian, Marijo, Anna, Saya

Sepulangnya dari My Son, saya bergegas mandi dan berkemas-kemas untuk check out. Saya sudah memesan tiket bus ke Hue City dengan harga 5 USD, berangkat pukul 2 siang nanti. Perjalanan dari Hoi An ke Hue ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam. Pilihan transportasi dari Hoi An ke Hue ada 2, yaitu memesan bus di travel agent atau naik bus umum dari Hoi An ke Danang disambung dari Danang ke Hue City. Harganya akhirnya memang lebih murah dengan transportasi umum, walaupun harus estafet dan memerlukan waktu yang lama. Saya memilih memesan bus dari hotel, karena menyangkut masalah waktu. Saya berharap sampai di Hue City belum gelap, sehingga mudah mencari hostel yang saya tuju. Setelah semuanya rapi, saya pergi Lunch bareng teman-teman baru saya (Anna, Andrian & Marijo). Punya teman baru di jalan memang satu hal yang menyenangkan, membuat perjalanan lebih berwarna. Jadi jangan sungkan-sungkan bergaul dengan orang-orang asing ketika kita berada di luar negeri, mereka juga kebanyakan solo traveler yang butuh teman. Bedanya hanya kita orang asia dan mereka orang eropa atau amerika. Kami lunch di foodcourt yang biasanya, tempat saya menyantap makan siang kemarin. Ternyata tempat ini adalah tempat favorit bagi semua orang, bukan hanya tempat favorit bagi saya. Tak jauh beda dari sebelumnya, pesanan saya hanya fried rice with shrimp dan manggo juice. Sedangkan yang lainya pesen yang aneh-aneh dan pastinya lebih mahal. Anna yang bule asli prancis memilih memesan menu bukan nasi. Sedangkan saya dan filipinos pasti memesan nasi, maklum makanan pokok orang asia tenggara kan nasi. Di sela-sela kami ngobrol dan menyantap makan siang, ada serombongan remaja hongkong atau china yang memarkir sepeda kayuhnya di depan foodcourt. Mereka rata-rata masih muda, berusia kurang dari 25 tahun. Kebanyakan dari merka adalah cewek, suaranya berisik memekakkan telinga kami. Kami ber-4 pun bengong menatap kelakuan aneh mereka yang kurang sopan. Mereka duduk dan ngobrol keras-keras dalam bahasa mandarin yang tidak semua orang ketahui. Tiba-tiba seorang dari mereka meminta air putih gratis, dia menyodorkan botol aqua kosong yang dia bawa ke pelayan. Ups……apa-apaan ini, kami ber-4 terus memperhatikanya dan ngomongin kelakuan mereka yang tidak sopan itu. Dan terkejutnya lagi, setelah dia mendapatkan air putih, dia beserta rombonganya pergi meninggalkan tempat ini tanpa memesan menu apapun. Saya tidak tau apakah dia akan kembali lagi atau memang tidak jadi makan ditempat ini, yang jelas kepergianya membuat suasanya foodcourt kembali tenang. 1 jam lebih kami ngobrol, saatnya untuk membayar apa yang kita makan. Saya sodorkan uang 50.000 VND ke Andrian, dia yang bagian membayar. Anna pamit berpisah untuk mengambil jahitanya ke Tailor. Sedangkan kami (Saya, Marijo dan Andrian) kembali ke Hotel. Disepanjang perjalanan banyak sekali dijumpai Toko Kain dan Tailor. Sebagian besar wisatawan asing yang berkunjung ke Hoi An selain mengunjungi Ancient Town, mereka juga menyempatkan diri untuk memesan pakaian di sini. Andrian juga sempat mampir ke sebuah Tailor, dan memesan jas dengan harga 470.000 VND. Kita tinggal memesan warna kain yang kita mau, penjahit akan mengambil ukuran tubuh kita, dalam dua hari kedepan pakaian akan bisa kita ambil. Jadi bagi para pecinta pakaian dan mode, jangan lewatkan untuk mampir ke salah satu Tailor di kampung Hoi An. Sampai di hotel, saya dan filipinos tersebut saling tukar menukar nomer handphone dan e-mail. Marijo dan Andrian bekerja pada sebuah perusahaan Filipina dan sekarang sedang mengerjakan proyek di Hanoi. Saya berencana untuk bertemu kembali dengan mereka di Hanoi pada Selasa depan, sebelum saya pulang ke Indonesia. Disinilah awal persahabatan saya dengan 2 orang filipinos tersebut terjalin.

Lunch Bersama Sahabat Baru @Hanoi : Bun Cha & Es Tebu


”Why so serious……”, hape saya bergetar dan ringtonenya berbunyi. Sms saya terima, Marijo menanyakan apakah kita jadi makan siang bersama hari ini. Kesempatan makan bareng dengan teman tidak mungkin saya lewatkan. Kami bertemu dia di depan pintu gerbang Ngoc Son Temple. Dia nampak memakai pakaian kerja, dandananya rapi seperti orang kantoran. Orang Filipina memang sekilas nampak seperti orang Indonesia, sampai saya kadang latah ngomong pakai bahasa Indonesia denganya. Dia sekarang sedang istirahat siang sampai jam 1 nanti. Andrian dan seorang temanya sudah menunggu di ujung jalan, kami segera menemuinya. Semula saya ditawari makan ”Bun Cha”, yaitu seperti barbeque yang berisi daging babi. Sebenarnya saya tidak tau kalau Bun Cha mengandung daging babi, dia tidak menyebutkannya tersirat. Saya hanya ngomong ke dia, lunch apa saja boleh asalkan tidak mengandung ”pork”. Begitu saya mengatakan demikian, mereka membatalkan niat untuk makan Bun Cha dan mengganti dengan makanan lain. Saya diajak makan ”Bit Tet”, yaitu semacam steak daging sapi diatas hot plate, ditambah 2 telur yang diceplok diatasnya langsung. Tidak ada nasi disini, hanya ada roti prancis sebagai pengganti nasi. Makanan ini kami temukan di pinggir jalan, seperti warung biasa saja. Memang kami mempunyai selera yang sama mengenai pemilihan tempat makan. Lebih baik makan di pinggir jalan bersama teman, daripada makan di restauran mewah sendirian. Makan diwarung pinggiran memang lebih terasa nuansa kebersamaannya. Dengan ditambah satu orang teman baru saya, yaitu seorang wanita vietnam temanya Andrian (saya lupa namanya), maka suasana semakin meriah. Kami juga tidak mengalami kesulitan saat order makanan dengan bahasa Vietnam, karena dia bisa dijadikan penerjemah. Makan siang tanpa nasi memang tidak membuat perut ini kenyang, tapi apa boleh buat kalau kebiasaan mereka seperti ini. Saya sebagi tamu di sini, ngikut aja apa kata tuan rumah yang mau men-traktir. Anehnya makan disini, kita tidak ditawari mau minum apa seperti di Indonesia. Dan di warung ini sepertinya juga tidak menyediakan minuman, kalau kita minta minum mungkin akan dicarikan di warung sebelah yang jual minuman. Setelah mencicipi lunch ringan, saya diajak mencari minuman di sisi jalan yang lain. Kini saya diajak minum minuman pinggiran khas kesukaan orang Vietnam. Siapa sih yang tidak mau diajak wisata kuliner di negara lain, nurut saja lah. Marijo menyebut minuman ini dengan nama inggris ”Sugar Juice”, kalau begitu berati mirip dengan ”Cao” di Indonesia. Begitu sampai di tempatnya, hanya ada bapak-bapak yang berjualan minuman kaleng dipinggir jalan. Teman baru saya dari vietnam itu mencoba bertanya, apakah dia menjual minuman ”jus gula” tersebut. Biasanya ditempat ini dia bisa menemukan minuman tersebut. Ternyata benar, penjual tersebut harus membuatnya dahulu didalam rumah. Saya diminta Marijo untuk masuk, melihat proses pembuatan dari jus gula tersebut. Tapi saya memilih untuk menunggu hasil jadinya saja, duduk di dingklik pendek pinggir jalan. Sekitar 10 menit kami menunggu, bapak penjual membawa segayung jus gula dan menyiapkan 3 gelas berisi es batu. Jus segayung dibagi menjadi 3 gelas, teman saya Andrian tidak begitu menyukainya jadi kami hanya memesan 3 gelas. Begitu mencicipi rasanya, lidah saya mengatakan ini adalah rasa dari air tebu. Setelah saya tanya pada Marijo tentang bahan dari jus ini, kata dia berasal dari batang pohon penghasil gula. Tak salah lagi kan, ini adalah air tebu yang sama seperti yang biasa dijual di pinggiran jalan di Indonesia. Tapi beda lah, ini kan pohon tebu dari Vietnam, bukan dari Indonesia. Ketika saya ingin mengabadikan tempat ini, saya terkejut karena kamera saku saya tidak ada. ” I am forget my camera….”, ucapku diantara perbincangan kami. ”Camera…….you forgot your camera….??, tanya Marijo tak percaya. Saya teringat terakhir kali saya menggunakan kamera adalah ketika saya mengambil gambar Bit Tet diwarung sebelumnya. Menurut perkiraan saya, kamera tertinggal di meja makan dan saya lupa membawanya saat pergi. Marijo segera berdiri dan menemani saya menuju ke warung tadi, sementara Andrian dan teman wanitanya menunggu ditempat ini. Marijo tampak serius membantu saya, dengan sepatu semi highheel dia berjalan sangat cepat. ”Are you OK…..?”, tanyaku kepadanya karena saya melihat dia tidak nyaman jalan cepat-cepat dengan sepatunya. ”Don’t worry….I am very confort use my shoes”. Sesampainya di warung, Marijo membantu saya bertanya ke penjual tentang kamera saya yang mungkin ketinggalan dimeja sini. Dengan bahasa Vietnamnya yang mesih belum lancar, penjual nampak tidak begitu paham dan mengerti masalahnya. Sementara saya sibuk mencari kamera disela-sela meja makan yang sedang ditempati oleh pengunjung lain. Tak kehilangan akal, Marijo telpon temanya orang Vietnam tadi dan menyerahkan handphonenya pada si penjual. Saya sudah menyerah, mungkin memang sudah diambil orang dan dibawa pulang. Saat si penjual sedang bicara ditelpon, tiba-tiba saya menemukan kamera saya terselip di antara kertas di tas saya. ”Marijo…..i am so sorry…..i just found my camera here….”, dia tersenyum dan mengatakan pada si penjual kalau sudah ketemu. Betapa malunya diriku, membuat semua orang menjadi repot karena keteledoranku. Kami kembali ke warung es tebu tadi, menghabiskan minuman yang tadi masih belum habis. Sepertinya waktu istirahat teman-teman saya ini sudah habis, kami berpisah disini untuk sementara waktu.

Yogyakarta 3 : Malioboro Night Bazaar

Malioboro Night Bazaar….

MalioboroMenyambung cerita dari Yogyakarta 2, dalam moment yang sama pula kami berjalan-jalan di sepanjang jalan malioboro. Malioboro terkenal dengan bazaar malam yang mejajakan beraneka macam pernak-penik khas djogja. Dagangan yang paling laris adalah kaos, mulai dari yang asli sampai bajakan. Kaos yang terkenal adalah Dagadu, yang katanya dagadu asli hanya dijual di Mal Malioboro. Banyak sekali Dagadu yang di jual di jalanan dan juga toko-toko di sekitar malioboro tetapi tidak dijamin keaslianya. Disamping kaos, malioboro juga menawarkan berbagai pernik2 dan cindera mata khas djogja yang merupakan kerajinan dari seniman setempat. Jika anda adalah penggemar batik, jangan lewatkan untuk mengunjungi pasar Bringhardjo yang berada disebelah kiri jalan malioboro.

Perjalanan dari magelang

Dari borobudur kami kembali ke djogja naik bus borobudur – djogja dengan ongkos 10 ribu rupiah, turun di terminal Jombor. Dari terminal jombor kami melanjutkan perjalanan ke malioboro menggunakan busway transdjogja. Transdjogja adalah sistem angkutan perkotaan djogja yang baru dengan mengadopsi sistem busway transjakarta. Transjogja menggunakan armada bus jenis tiga per empat, sebesar metromini tetapi ber AC dan nyaman. Terminalnya lebih kecil dan jalur busway tidak menggunakan jalur sendiri, melainkan menggunakan jalan umum. Tarif tiketnya pun tergolong murah, yaitu 3ribu rupiah. Perjalanan dari jombor ke jalan malioboro sekitar 20 menit dengan kondisi lalu lintar yang biasa dan tidak macet. Jika anda ke malioboro pada hari libur atau weekend, sudah dapat dipastikan anda harus bersabar mulai dari belokan ke stasiun tugu.

Keraton & Alun-alun Kidul

Jalan malioboro selalu ramai dengan pengunjung karena letaknya yang strategis. Selain berdekatan dengan stasiun kereta api Tugu, malioboro juga dekat dengan Keraton Yogyakarta tempat Sultan Hamangkubuwono bertahta. Dari jalan malioboro kami menyempatkan untuk berwisata keraton, tapi sayang sekali waktu sudah terlalu malam sehingga kami mengurungkan niat untuk masuk keraton. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Alun-alun kidul yang lebih dikenal dengan sebutan Alkid. Ada satu hal yang istimewa di alun-alun ini, sebuah pohon beringin kembar yang berada di tengah2 alun-alun. Dipercaya pohon ini sangat sakral, katanya jika kita bisa berjalan melewati jalan diantara beringin kembar ini dengan mata tertutup maka apapun permintaan kita akan terkabul. Dan anehnya banyak sekali orang yang gagal melewatinya, termasuk saya yang melenceng ke sebelah kanan pohon. Teman saya malahan ada yang mencoba 3 kali dan selalu gagal dan anehnya melenceng ke kanan terus. Cuman sekedar permainan, cukup menarik untuk di coba jika anda berkunjung ke sini. Siapa tau permintaan anda benar2 terkabul, walaupun anda mungkin tidak percaya. Alun-alun kidul selalu dipadati pengunjung sampai larut malam, hanya sekedar bercengkrama bersama sahabat, kekasih atau menikmati langit cerah sendirian. Sebelum pulang ke penginapan, kami menyempatkan diri untuk request lagu Yogyakarta ciptaan Kla Project ke seorang pengamen yang datang ke kami. Senengnya bisa nyanyi bareng dan benar2 menikmati suasana djogja yang tenang dan menghanyutkan…..

Alun-Alun kidul

Keraton

Alkid 2

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …
…………
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Paris : My First Flight & My Greatest Surprise

France : 15 – 23 September 2007

Waktu itu saya sedang di ruang meeting bersama rekan2 staf saya se kantor, handphone saya tiba2 bergetar mendapat panggilan telepon dari nomer tak di kenal,

Aku : “Hallo…..”

Mr X : ” Halo …mantos ya..??”

Aku : “Iya pak saya mantos.. “

Mr X : ” Mantos ..kamu sudah punya Passport..?? “

Aku : ” Belum pak….” , sambil menebak-nebak suara siapa..?

Mr X : ” Kamu segera ngurus Passport ya…”

“Tanggal 15 september kamu berangkat ke Prancis ” , Glodak…..apa..??

Aku : ” Passport…??, ke Pranciss…??? “, Bingung…@#%@$#@2

Mr X : ” Iya… kamu langsung ke HRD, nanti akan dijelaskan …”

Aku : ” Maaf…dengan siapa ya saya bicara..?? “

Mr X : ” Ini Binsarrrrrrrrrrrrrr…..Binsarr….bosmu, gmna toh kamu …”, ups…………maaf pak

Aku : ” Oh….maaf banget pak, nomer bapak gk ada di hape saya”

Dst…..

Gilaaaaaaaaaaa………..benar2 kejutan yang luar biasa, belum pernah naik pesawat, belum pernah pergi ke luar negeri, di suruh sendirian ke luar negeri pula. Dengan hati yang berbunga-bunga karena akan jalan-jalan ke luar negeri dan ketakutan karena belum pernah naik pesawat dan sendirian ke luar negeri, akhirnya aku segera menghadap ke HRD untuk mengurus segala prosedur pemberangkatan. Manager HRD saya memberikan saya ceramah singkat mulai dari bagaimana Check In pesawat sampai materi yang akan saya peroleh selama mengikuti training di Prancis.

Mengurus Tetek Mbengek

Tetek Mbengek adalah istilah jawa yang artinya segala sesuatu yang macam-macam dan semrawut. Yang harus saya siapkan paling awal adalah Passport, syarat mutlak untuk identitas seseorang jika hendak berpergian ke luar negeri. Saya tidak mengerti prosedur mengurus passport yang sebenarnya kaya apa, yang jelas saya menggunakan calo yang sudah di tunjuk oleh perusahaan. Harap maklum karena waktu yang sangat mepet sekali, h-25 dari waktu pemberangkatan. Syarat2 untuk membuat passport adalah ijazah dari SD sampai pendidikan terakhir, semuanya harus asli. Saya pontang panting telepon ke rumah untuk segera mengirimkan semua dokumen saya tersebut melalui layanan TIKI. Pagi2 sekali jam setengah 6 pagi saya bergegas ke kantor TIKI di Bekasi, bongkar sana bongkar sini akhirnya paketan saya di temukan juga oleh mas2 pembongkar paket. Legaa….segera cabut dan berangkat kerja untuk mengurus ke kantor imigrasi. Sekali lagi saya tidak tau persis prosedur sebenarnya seperti apa, yang jelas saya datang ke kantor imigrasi ketemu calo dan di suruh foto, interview, cap jari tangan, dan tiba2 saja passport saya jadi keesokan harinya. Setelah passport selesai, saya harus mengurus Visa kunjungan di kedutaan besar prancis. Waktu itu saya tidak perlu ke kantor kedutaan langsung, saya hanya mengisi formulir dan selanjutnya di urus oleh kantor. Syaratnya cuman foto background putih dengan baju sopan, yang nantinya akan ditempel di passport kita. Pembuatan Visa memakan waktu 20 hari kerja, itu waktu minimal. Setelah mendapatkan Visa, saya diberi tiket pesawat Thai Airways pulang pergi Indonesia – Prancis yang transit di Thailand. Belum usai perjuanganku untuk bisa berangkat, saya haru pontang panting ke Money Changer untuk menukarkan uang rupiah saya. Waktu itu saya diberi uang dinas sebesar 10 juta rupiah. Uang 10 juta yang sebendel amplop menjadi hanya beberapa lembar Euro, rupiah benar2 tidak ada harganya di negara maju (pikirku). Setelah semuanya beres, tinggal saya yang harus mempersiapkan mental untuk terbang sendirian ke Paris. Dengan bermodalkan mental baja dan bahasa inggris yang pas2an akhirnya saya memutuskan untuk berangkat. Waktu itu bulan ramadhan, dan saya memutuskan untuk tetap berpuasa selama di prancis.

Katrok di Bandara Soekarno Hatta – Cengkareng

Pengalaman pertama begitu mengesankan, itulah yang aku alami selama pemberangkatan dari bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Berangkat dari bekasi ke cengkareng naik taksi turun di terminal 2 untuk penerbangan internasional. Di depan terdapat logo Thai Airways, begitu saya masuk, suasana begitu ramai dan kebingunganku mulai muncul. Mondar mandir kesana kemari mencari pintu masuk penerbanganku, akhirnya ketemu juga setelah bertanya ke petugas. Sampai di dalam aku masih bisa bersantai, karena datang terlalu dini dari jadwal penerbangan. Daripada terlambat lebih baik datang lebih awal, lagian ini penerbangan pertamaku dan saya pasti banyak menemui hal baru yang membingungkan. Meja Check in di buka, saya di barisan awal di belakang sorang Bule eropa. Saya perhatikan dengan seksama cara melakukan check-in, dan ternyata cukup mudah. Aku minta tempat duduk dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan dari atas pesawat, kesempatan pertama harus dimanfaatkan dengan sebaik2nya lah. Setelah Check-in saya menuju ke loket pembayaran fiskal, waktu itu bayar 1 juta rupiah di Bank Mandiri. Hanya indonesia yang memberlakukan biasa Fiscal bagi warga yang hendak pergi ke luar negeri, menyedihkan. Selanjutnya saya menuju ke gerbang imigrasi pemberangkatan, menunjukkan tiket pesawat, passport dan bukti pembayaran fiscal. Mungkin karena wajah saya yang polos, ndeso, dan passport saya yang masih perawan, sehingga petugas imigrasi bertanya,

Imigrasi : ” Mau kemana mas..?? “

Aku : ” Prancis pak..”

Imigrasi : ” Belum pernah ke luar negeri ya..?? “

Aku : ” Belum pak…..naik pesawat aja belum pernah”

Imigrasi : ” Yang bener mas…sekarang sendirian saja…?? “

Aku : ” Iya pak…memang ditugaskan sendiri “

Imigrasi : ” Wah…pertama kali naik pesawat langsung ke prancis….ati-ati ya mas…” , sambil geleng-geleng kepala…:D

Aku : ” Iya pak….makasih……doain aja lancar..”

Dengan langkah penuh percaya diri, aku menuju ke boarding room. Setelah agak lama menunggu, akhirnya aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya ke lantai pesawat. Satu step lagi menuju ke angkasa, waktu itu pesawat nya Boeing 737-400. Kejadian memalukan sempat aku alami ketika pesawat sebentar lagi take-off, aku berniat mengambil buku dari tas didalam rak dan gubrak…….tas yang berada di sebelah kanan tasku jatuh menimpa Bule disampingku…..i am sorry sir…sambil memasukkan kembali tasku, dan gubrakkk…………gantian tas yang disebelah kiri tasku yang jatuh, dan semua orang di pesawat menatapku dengan mata tajam. Duh malunya diriku……salah sendiri naruh tas di rak yang jelas2 sudah penuh sesak (ngomel di dalam hati). Tak lama kemudian pesawat take-off…

Aku pasrah akan apa yang akan terjadi pada penerbangan ini……………Bismillah……akhirnya pesawat terbang ke angkasa dan dalam waktu 3 telah mendarat di bandara suvarnabhumi – Bangkok.

Bertemu bidadari di Bandara Suvarnabhumi – Bangkok

Waktu itu sampai bangkok jam 10 malam waktu setempat, dimana waktu bangkok sama dengan waktu jakarta. Saya harus ganti pesawat untuk melanjutkan penerbangan ke Paris tanpa harus mengambil tas yang ada di bagasi pesawat. Penerbangan selanjutnya jam 12 malam, saya punya waktu 2 jam untuk menemukan Gate dimana pesawat saya parkir. Bandara yang besar sekali, saya harus berjalan sejauh 500 meter naik turun eskalator. Dalam usahaku mencari Gate, saya bertemu dengan cewek asli Indonesia yang hendak terbang ke Jepang. Saya lupa namanya siapa, yang jelas saya begitu gembira menemukan teman se-negara di negara asing. Ngobrol sepanjang perjalanan akhirnya saya harus berpisah dengan bidadari manis dari djogja itu. Sedih………walaupun baru kenal beberapa menit, rasanya sudah kenal beberapa tahun. Jam 12 malam lebih 5 menit akhirnya aku harus terbang ke Paris dengan pesawat Thai Airways yang lebih besar dengan type Boeing 747-400. Saya akan menempuh perjalanan udara selama 13 jam tanpa henti menuju Paris.

Makanan Halal di Pesawat

Penerbangan luar negeri menggunakan pesawat yang berasal dari negara yang penduduk muslimnya minoritas memaksaku untuk berhati-hati memilih menu makanan. Kerena kebanyakan makanan yang ditawarkan adalah “Pork”, dimana hukumnya haram bagi umat muslim. Saya selalu menanyakan semua makanan yang di tawarkan,

Is it halal food..?? “

” Can you give me halal food..”

Dengan 2 kalimat tersebut, setidaknya pramugari dari thailand mengerti kalau kita adalah muslim. Dengan ramah pramugari memilihkan menu masakan yang tepat bagi kita.

Meloloskan diri dari Bandara Charles de Gaulle – Paris

Setelah perjalanan panjang selama 13 jam akhirnya saya sampai juga di bandara Charle de Gaulle Paris, jam 6 pagi waktu setempat. Ujian baru akan saya lalui disini, bagaimana cara meloloskan diri dari bandara sebesar ini menuju ke lokasi yang saya tuju. Keluar dari pesawat saya langsung mengikuti rombongan Bule yang sepertinya menuju ke tempat pengambilan Bagasi. Setelah sampai di tempat pengambilan bagasi, saya langsung melototin setiap tas yang berputar di atas rak berjalan. Inilah pertama kali saya mengambil tas dari bagasi pesawat. Saya tidak punya waktu banyak karena jam 8 pagi saya harus sudah berada di stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke kota Poitier. Satu jam berlalu untuk mengambil tas, aku segera bergegas menuju pintu keluar. Pengecekan imigrasi untuk warga negara indonesia sungguh menegangkan. Petugas imigrasi membolak balik passport saya sambil menatap muka saya, dan akhirnya….Jedok…Jedok….!!!, stempel imigrasi membekas di passport saya. Sebelum keluar dari bandara, ada pemeriksaan polisi bandara bagi orang asing.

” Where are you come from..???” tanya polisi ke saya sambil menggeledah tas yang saya bawa. Setelah itu mereka menanyakan keperluan saya berpergian, saya langsung menyodorkan surat sakti berbahasa prancis yang saya bawa. Untuk tugas dinas ke luar negeri, paling aman membawa Invitation Letter dari perusahaan yang akan kita tuju. Setengah jam lagi waktu tersisa saya harus sampai di stasiun kereta api Paris. Dari bandara saya naik KRL antar bandara-stasiun kereta, kurang lebih 10 menit akhirnya saya sampai di stasiun. Sampai di stasiun saya benar2 seperti orang aneh, semua petunjuk umum menggunakan bahasa prancis. Prancis memang negara yang nasionalismenya tergolong tinggi, mereka jarang sekali menggunakan bahasa inggris di dalam negaranya sendiri.

Kereta api yang disiplin waktu

Tiket kereta sudah saya bawa dari indonesia, saya tidak tau persis dapetnya dari mana. Akhirnya saya bertanya ke information mengenai keberangkatan kereta saya, dan alhamdulilah saya belum ketinggalan kereta. Saya segera menyalakan handphone saya sembari menunggu kereta datang, waktu itu saya membawa kartu Mentari Indosat. Dan alhamdulilah dapat sinyal kuat dari operator setempat. tak lama kemudian kereta datang, dan saya segera masuk dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan yang tertera pada tiket yang saya bawa. Perjalanan selama dua jam akan saya lalui menuju Poitier. Saya mencoba menelepon Ibu tercinta di rumah dan mengabarkan kalau saya selamat sampai di prancis, saya yakin ibuku akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini. . . mengharukan. Saya berpegang teguh bahwa kereta akan datang tepat waktu, sehingga saya hanya melihat jam bukan melihat stasiun pemberhentian. Dan seperti yang saya perkirakan, ternyata kereta benar2 datang tepat waktu. Emang ada kereta api di indonesia yang datang tepat waktu..???

Katrok di Hotel Campanille – Chasseneuil

DSCN1915Perjuangan masih panjang, sesampainya di stasiun Poitier saya harus mencari supir taksi yang menjemput saya entah dimana. Saya mencoba mengikuti rombongan orang keluar stasiun, suasananya seperti di stasiun pasar turi tapi lebih sepi. Setelah naik ke atas menggunakan lift, saya harus menentukan pilihan apakah harus ke kanan atau ke kiri. Gambling saya ambil jalan kebenaran, dan sesampainya di ujung lorong seorang Supir Taksi telah memampang nama saya ” Mr. Sihmanto – Actaris “, Sedaaaap……………..langsung saja saya meminta di antarkan ke Hotel Champanille tempat saya menginap. Sesampainya di hotel, saya langsung menuju ke resepsionis dan menyodorkan print out imel yang menunjukkan kalau saya sudah booking satu kamar di hotel itu. Perjuangan pertama telah selesai………saking senengnya aku langsung tutup pintu hotel dan berfoto2 di luar. Dan setelah puas berfoto2, saya bermaksud kembali masuk kamar karena udaranya yang sangat dingin. Dan ternyata kamarnya terkunci otomatis ketika saya menutup pintu dari luar, padahal kunci saya ada di dalam. Stupid indonesian………..dengan wajah tersipu malu saya harus meminta ke recepsionis untuk dibukakan kamar saya.

Jalan-jalan di pusat kota Poitier

100_1348Waktu itu training yang saya jalani berlangsung selama 5 hari kerja, dari senin – jum’at. Di hari rabu malam kami peserta training di beri kesempatan untuk jalan-jalan dan makan malam bersama para trainer ke pusat kota Poitier. Kota Poitier merupakan kota kecamatan yang memiliki banyak bangunan tua bersejarah. karena udaranya yang dingin dan segar, jalan2 pun terasa sangat nyaman. Setalah jalan-jalan dan foto2, kami di ajak makan malam di sebuah restoran. Menu yang disajikan tidak lepas dari daging babi, dan saya adalah satu-satunya orang muslim yang berada disitu. Tapi trainer dan teman2ku semuanya paham kalau babi adalah terlarang untuk saya. Satu hal yang saya salut adalah cara mereka menghargai saya sebagai muslim yang sedang berpuasa. Waktu makan malampun disesuaikan dengan jadwal buka puasa saya, yaitu sekitar jam 8 malam. Karena tau saya muslim, trainerku pun memilihkan menu spesial untuk saya yaitu ikan. Sebelum makan menu utama, orang prancis biasanya menyantap makanan pembuka,setelah itu baru menu utama, dan di tutup dengan desert atau makanan penutup. Tidak seperti di indonesia dimana menu yang dipesan adalah menu utama semua. Menu pembuka biasanya berupa sayur2an mentah yang diberi bumbu asinan, hiiii…..aku gak doyan makan makanan seperti ini. Menu utamanya pun tidak senikmat di indonesia, masakanya aneh banget di lidahku. Sedangkan menu penutup adalah es krim dan agar-agar. Orang prancis sangat hobi minum bir, mungkin untuk menghangatkan badan dari udara yang begitu dingin. Se enak2nya makanan di prancis, jauh lebih enak makanan di Warteg lah hehe…

Mengatur waktu pergi ke Paris

Tidaklah mudah bagi saya untuk mencuri waktu agar bisa mengunjungi icon terbesar di negara Prancis, yaitu menara Eiffel. Jadwal training begitu padat dari hari senin sampai jum’at, dimana saya sudah dibookingkan hotel di dekat pabrik selama 5 hari penuh. Tiket kereta api dari Poitier ke Bandara pun telah terbeli, aku benar2 harus pandai memutar otak supaya tidak kehilangan icon terbesar di Paris tersebut. Sebelumnya saya sudah meminta untuk di berikan penginapan 1 malam di Paris supaya saya bisa jalan-jalan di kota cantik itu, tapi management tidak menyetujui dengan alasan ini adalah tugas dinas bukan acara jalan-jalan. Setelah saya membaca kembali jadwal training saya, ternyata training selesai hari jum’at siang. Saya segera menghubungi admin Actaris untuk membantu saya membatalkan tiket kereta api yang sudah ditangan dan menukarnya dengan tiket kereta pada jum’at siang. Usahakupun tidak sia2, Mrs Annie yang baik hati merefund tiket kereta saja dan memesankan hotel untuk 1 malam di Paris. Yuuuui…..sepulang dari training hari kamis, paginya saya langsung Check-Out dan membatalkan untuk hari Jum’at. Setelah selesai training hari jum’at, saya bersama teman saya orang swedia berangkat ke Paris via kereta dari stasiun Poitier. Kebetulan teman saya Johnson dari swedia tersebut hotelnya berada beberapa blok dari hotel saya, beruntung banget karena dia membawa GPS yang bisa di gunakan untuk mencari keberadaan Hotel saya. Satu langkah lagi menuju Eiffel….

Welcome to Paris

Paris adalah kota yang cantik, kota yang memiliki ciri khas bangunan yang unik dan menarik. Dengan panduan peta wisata kota Paris yang saya dapatkan dari Mrs Annie, saya memberanikan diri untuk keluar hotel menuju ke Menara Eiffel. Saya menuju ke stasiun kereta Subway (LRT) yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel saya. Membeli tiket kereta cukup membuatku bingung karena tidak ada versi bahasa inggrisnya. Tiket dibeli melalui vending machine seperti ATM, prosedurnya cukup mudah jika kita tahu bahasanya. Berhubung tidak tau, maka saya mengamati dengan seksama orang2 yang menggunakan mesin tersebut. Dengan memasukkan uang koin 2 euro, kita akan mendapatkan 1 tiket kertas karton dan kembalian 50 sen. Dengan pedenya saya masuk ke dalam kereta, sambil membolak-balik peta yang saya bawa, dan ternyata saya kelewatan……begitu kereta berhenti saya langsung turun dan mencari kereta dengan arah sebaliknya tanpa harus membeli lagi tiket kereta jika kita tidak keluar dari stasiun. Tak lama kemudian saya tiba di stasiun dekat menara eiffel, saya lupa nama stasiunnya.

Eiffel I am Coming…..

DSCN1944DSCN1985Untuk menuju menara eiffel, dari stasiun kereta kita hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Atau sekitar 800 meter jaraknya. Wouu….wouuu………hatiku berbunga-bunga melihat pucuk menara eiffel dari kejauhan. Akhirnya…..sampai juga aku tepat di depan menara eiffel yang fenomenal itu. Tak sabar untuk berfoto, saya meminta tolong seseorang untuk memotret saya dengan kamera saya. Cepreet……………manteeeeebbbb coy, rasane marem tenaaan.

Waktu itu hari masih remang2 menjelang maghrib, pengunjung memadati pelataran menara dan mengantri untuk naik. Antrian mengular panjang banget yang membuat saya mengurungkan niat untuk naik ke atas. Ada dua buah pintu masuk untuk naik ke atas menara, yang satu menggunakan Lift sampai tingkat 3 dan yang satunya lagi menaiki tangga manual. Untuk harga tiket masuknya sekitar 20 Euro untuk sampai di tingkat 3. Di depan menara eiffel terdapat taman yang biasa di gunakan untuk menikmati keindahan menara eiffel di waktu malam hari, dimana lampu hijau akan menyala mengikuti bentuk ruas menara. Sungguh indah pemandangan di malam hari, saya menyempatkan berfoto tapi sayang tidak bisa mengambil foto terbaik karena gelap. Jika menggunakan Blitz akan mengurangi keindahan menara karen titik2 kabut akan menimbulkan dot-dot cahaya yang dipantulkan oleh kilatan blitz kamera kita. Saya puas karena bisa berbuka puasa sambil menikmati indahnya menara eiffel di malam hari. Di sekitar menara juga terdapat pertunjukan opera, saya sempat menonton sebentar karena tidak bisa menikmatinya. Setelah puas jalan2 di sepanjang pelataran menara, saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Sepanjang perjalanan pulang saya menyempatkan untuk mebeli souvenir sebagai kenang2an. Penjualnya yang ramah sempat bertanya kepada saya,

” Where are you come from..?”

” Indonesia….”, jawabku…..dan si penjual membalasnya lagi

” Indonesia….selamat pagiii……”, wou…….mungkin penjual souvenir ini sering di kunjungi oleh turis dari indonesia

Suatu kesialan bagi saya karena lupa arah jalan menuju ke hotel tempat saya bermalam, hal itu di karenakan pintu keluar stasiun berbeda dengan pintu masik stasiun. Muter2 sendirian malam2 selama satu jam, akhirnya saya menmukan hotel saya. Haaah….legaaaanyaa……..tapi perut keroncongan karena belum makan makanan berat. Baru masuk hotel saya sudah terkena semprot oleh resepsionis hotel karena saya pergi keluar hotel dengan membawa kunci hotel, seharusnya kunci gak boleh dibawa. . .huh mana saya tau. Saya mencoba mengetok2 kamar depan saya, dimana teman saya dari china menginap disitu juga tetapi datangnya lebih dulu saya karena dia masih ada keperluan di office seusai training. Shin Chao namanya, seneng banget ada teman ngobrol lagi…..karena kelaparan, saya ngajakin dia cari makan di sekitar hotel. Muter kemana2 tidak ada yang menjual makanan halal, adanya cuman restoran china……hampir saja saya putus asa. Tak sengaja aku melihat restaurant Kebab Turki yang berlabel Halal…..Wuihhh…..santapan nikmat nih. Tak pikir panjang saya langsung memesan kebab turki dengan potongan daging sapi, manteb coy….porsi bule besar bangets. Dan temanku hanya melihatku menikmati makan besar itu…hehehe….

Perjalanan pulang ke Tanah Air

Menginap semalam, keesokan harinya aku harus bangun pagi karena sudah pesan taksi bandara pukul 9 pagi. Pesawat saya Thai Airways penerbangan jam 2 siang. Seperti biasanya saya mencoba datang lebih awal di bandara agar bisa santai dan memilih tempat duduk di deket jendela. Begitu selesai Check-in, antrian menuju loket imigrasi mengular panjangnya hingga 100 meter. Di sebelah saya berdiri warga negara malaysia yang hendak pulang juga, saya sempat ngobrol dalam bahasa inggris walaupun kemudian kami sambung dengan bahasa melayu yang mirip dengan bahasa indonesia. Penerbangan 13 jam saya lalui kembali, transit ke thailand selama 2 jam. Saya benar2 merasakan kerinduan yang dalam pada Tanah Air Tercinta Indonesia……….Rindu akan keluarga, teman, makanan, dan juga udaranya yang hangat di kulitku.

Tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 6 sore, rasanya saya sudah berada di eropa beberapa bulan lamanya. Benar2 petualangan yang mengagumkan bagiku dan tak akan pernah hilang dari ingatanku. . . dan sekarang, aku benar2 rindu kota Paris nan Indah itu.

Yogyakarta 2: Candi Borobudur

Jalan2 di Djogja (7 – 8 – 9 maret 2009)

Menyambung cerita sebelumnnya, dimana kami ber-5 (AKu,Ervan,Son, Edo, Hadis) terlah bertemu di Metro Guest Hotel sekitar jam 9 malam 7 maret 2009. Dalam suasana santai, kami berlima jalan2 di dekat hotel sekedar mencari santapan malam karena seharian telah berkelahi dengan waktu dan jalanan. Sate Madura, agak aneh juga kalau di logika knp kita jauh2 di Jogja pilihan makanannya adalah Sate Madura, yah mungkin karena otak sudah males berfikir dan kaki sudah males untuk cari tempat makan yang agak jauh ya gk ada pilihan lain kecuali yang terdekat dari hotel. Makan malam usai, kita kembali ke jotel dan merencanakan agenda keesokan hari. Kami berencana ke Candi Borobudur, Yaitu Candi Budha terbesar se Asia tenggara (mkn juga terbesar se-Dunia, gk tau lah…).

borobudur-21Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang – Jawa tengah. 1 jam lebih perjalanan di tempuh dari kota Jogja menggunakan angkutan umum. Perjalanan dimulai dari jalan parangtritis, jalan terdekat dari hotel tempat kami menginap. Dari jalan parangtritis kita bisa naik Bus Jurusan bantul atau bus yang lewat terminal Giwangan. Cuman merogoh kocek 2.000 rupiah per orang, seperempat jam perjalanan kami sudah nyampai terminal Giwangan. Sampai terminal Giwangan kami langsung menuju ke Pangkalan Bus Jurusan Borobudur yang terletak bersebrangan dengan tempat pemberhentian bus yang kami tumpangi tadi. Bus tiga/empat atau Bus tanggung berpintu dua siap berangkat ke Borobudur, di tengah2 perjalanan kondektur menarik ongkos perjalanan. Tak seberapa mahal untuk ukuran orang kerja, cuman 10 ribu rupiah. Bus transit dulu di Terminal Jombor (ring road utara jogja), terminal ini dekat dengan jalan Magelang yang mengarah ke Borobudur. Cuman Ngetem 10 menit bus melanjutkan perjalanan ke Borobudur, dan bus kembali Transit di Terminal Muntilan. Terbangun oleh suara pengamen yang ramai dan sedikit mengganggu, kamipun bangun dari tidur yang dan Edo turun untuk membeli Djarum Super sebagai pelengkap kami di waktu senggang. Perutpun tergoda dengan Gorengan Khas Mahelang yaitu Mendoan (tempe goreng yang lebar dan dilapisi gandum yang tebal). Tak pikir panjang akhirnya kami ber-5 segera menikmati jajanan jalanan tersebut, nikmaaaaaaat……..hmmm, lebih nikmat daripada Pizza Hutt (berlebihan). Sperempat jam berlalu, kondekturpun sudah teriak2 tanda bus mau melanjutkan perjalanan, kamipun bergegas menyelesaikan urusan perut ini. Sudah sepertiga perjalanan kami lalui, 20 menit perjalanan kami sudah nyampai di Terminal Borobudur. Jarak terminal dengan Candi kira2 1 km, lumayan dekat bila kita jalan santai.

Borobudur we are coming…..Sampai saat ini kami masih tetap ber-a5, belum ada tanda2 kehidupan satu orang teman kami yanag luar biasa. Aku hubungi dia, sejak kami sampai terminal muntilan tapi dia belum datang juga, akhirnya kami memutuskan untuk menunggunya sambil sarapan Soto Sapi khas Magelang, tepat di depan seberang jalan Parkiran Candi. Belum lima menit kami duduk, sahabat kamipun datang dengan muka dan wajah tak berdosa ( Memang gk ada dosa ke kita2…hahaha). Dialah Agus, Seorang karyawan dari salah satu perusahaan milik negara terkemuka di Indonesia. Agus Prasetyo Nama lengkapnya, yang kebetulan sedang pulang kampung di magelang. Dia adalah salah satu Founding Father dari Elits-41 yang memiliki wawasan luas mengenai konflik di Timur Tengah (iyo to gus…koe dukung Hamas gak?). Lengkap sudah Formasi kami, kalau bahasa Sundanya Genap yang artinya bilangan 6. Setelah menyantap Soto Sapi yang mantabb….kamipun segera bergegas menuju Candi. Tiket masuk Candi Borobudur sama dengan Candi Prambanan yaitu 15.000/pengunjung ditambah Tiket Kamera 1000 rupiah. Antrian pun berjejal di pintu masuk Candi, maklum lah long weekend banyak keluarga yang meluangkan waktu jalan2 ke Candi sekedar Refreshing. Perjalanan dari loket Candi sampai Stupa Pertama cukup jauh sekitar 500 meter mkn lebih.

borobudur-3Sampai di Candi kami segera membuka kamera kami dan hunting objectpun di mulai, walaupun kebanyakan object adalah kita sendiri (maklum wong NARSIS). Setelah keliling 1 putaran di pelataran candi, kami berhenti sejenak meluruskan kaki. Sekelumit ucapan terucap dari mulut sahabat kami Agus, ” Sorry rek, aku kudu muleh…wes jam setengah 10 iki”. Memang Agus sudah bilang ke kami kalau tidak bisa menemani kami berlama2 di candi karena ada keperluan keluarga. Suasana haru pun menerpa kami, isak tangis dan hembusan nafas panjang pun mewarnai perpisahan yang benar2 menyedihkan ini (Berlebihan Mode ON…hahahaha). Formasi tinggal ber-5 lagi, kami melanjutkan dengan berbagai gaya dan tingkah laku yang aneh2 di Candi ini. Karena long weekend Candi bener2 penuh pengunjung sehingga kami kesulitan mencari posisi untuk berfoto bareng tanpa ada halangan orang di sekitar. Terik matahari semakin menyengat, capek di kaki juga mulai terasa. Akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Jogja, Borobudur Completed…..Sampai luar candi sebelum naik Bus kami pun hunting makanan ringan untuk sekedar mengisi perut dan mempertahankan stamina.ipilih, Mie Ayam dan Bakso Tahu khas Magelang (Pokok kalau di magelang ya khas magelang ..:D). Lumayan mantab, tapi lebih mantab Soto Pagi tadi. Ngobrol2 sebentar, sambil rokok-an dan bersenda gurau kami segera selesaikan urusan perut ini lagi. Beranjak ke Terminal Borobudur dengan hati gembira karen Misi telah terpenuhi. Nunggu sebentar di Terminal, Bus datang dan kami segera naik untuk melanjutkan perjalanan ke terminal Jombor – Jogja. Ongkos perjalanan masih tetap sama yaitu 10 ribu rupiah per penumpang, 1 jam lebih perjalanan ke Jombor. Sampai di Jombor kami langsung meneruskan Perjalanan Malam kami ke Pusat Kota Jogja yaitu Malioboro…

Kelanjutan Cerita ini segera di release di Yogyakarta 3

Bersambung …=>>

Air Terjun Cibeureum

Menghirup Udara Segar di Air Terjun Cibeureum

Air terjun Cibereum terletak di lereng Gunung Gede, tepatnya di Kecamatan Cibodas kabupaten Cianjur Jawa Barat. Di lokasi Air Terjun ini terdapat 3 Air terjun yang ketiganya memiliki ketinggian yang hampir sama. Jika anda akan melakukan pendakian Gunung Gede, sangat disayangkan jika anda tidak melewatkan waktu sejenak di air terjun ini. Setiap hari sabtu dan minggu banyak sekali orang yang berkunjung di tempat ini untuk menghirup udara segar di lereng pegunungan atau sekedar melepaskan kepenatan hidup di kota2 besar sekitarnya (jabodetabek) yang bising dan berudara kotor. Tak sedikit juga para muda mudi berkunjung ke tempat ini untuk bermesra2an dengan pasangan mereka, udara yang digin di tambah pemandangan yang cukup indah membuat tempat ini jadi favorit bagi para kawula muda yang sedang di mabuk asmara.

Sekilas tentang air terjun Cibereum diatas, saya akan mencoba menceritakan pengalaman menarik saya waktu berkunjung ke tempat ini bersama dengan rekan saya. Saya telah dua kali berkunjung ke Air Terjun ini, episode pertama saya bersama Agus dan Fauzik sedangkan episode 2 bersama Hadid dan Edo. Kedua kunjungan ke Air terjun ini sebenarnya punya misi yang sama, yaitu mengurus perijinan mendaki Gunung Gede yang menurut peraturan harus dilakukan minimal 1 minggu sebelum hari H pendakian.

Episode 1 – Sabtu, 04 Agustus 2007 ( Aku, Agus, Fauzik)

cibereum-1Perjalanan saya mulai dari tempat tinggal sementara kami di Bekasi, saya berangkat dari kost bersama Agus menuju ke UKI (Tempat populer bagi para pengguna jalan yang dari atau menuju ke daerah sebelah selatan Jakarta) dimana Fauzi berangkat dari jakarta dan akan bertemu kami di situ. Dari Bekasi aku dan agus naik Bus Maysari Bakti nomor 9B jurusan Kampung Rambutan lewat UKI. 3000 rupiah ongkosnya, setengah jam kemudian kami sudah sampai di UKI tempat kami janjian dengan Fauzi. Seperempat jam sudah kami duduk2 di halte menunggu kedatangan rekan kami yang kunjung datang itu, tidak ingin meluangkan waktu sia-sia akhirnya Agus membeli Koran harian sebagai teman membunuh waktu (Maklum Calon pejabat, bacanya koran harian). Tak lama kemudian sepintas bayangan melintas tepat di depan mataku, dengan langkah tak berdosa tanpa menyapa (memang tidak kelihatan kalee…) fauzik terlihat berjalan di depan kami. Ziiik……..teriakku sekuat tenaga…..tidak terdengar juga, maklum suaraku kalah dengan terikan2 kernek bus kota yang sedang mencari penumpang. Tak ingin ketinggalan lebih jauh lagi akhirnya kamipun lari menghampirinya, haaaaaaaah…..akhirnya terkejar juga. Fauzik, kakak angkatan kami di Elektro ITS yang sempet menjadi asisten kami sewaktu Praktikum di kampus adalah orang kunci disini karena dialah yang benar2 tau jalur menuju Pos Pendakian Gunung Gede di Cibodas.

Dari UKI kami mencoba mencari bus ke Arah Cianjur yang melewati puncak yang natinya kita bisa turun didepan jalan masuk menuju kawasan Kebun Raya Cibodas. Mondar mandir kami mencari bus itu, tapi tak satupun kami temukan bus jurusan Cianjur. Waktu sudah hampir tengah hari, jam 11 siang kira2 kami memutuskan untuk naik Bis Jurusan Bogor. Karena sudah kepanasan, kami memilih bus AC walaupun tarifnya sedikit mahal toh yang penting nyaman dan cepat sampai. Bus dari UKI ke bogor melewati Tol Jagorawi (Jakarta-Bogor-Ciawi), perjalanan hanya sekitar 45 menit dengan ongkos 10 ribu rupiah. Sampai di terminal bogor, kami langsung mencari Bus jurusan Cianjur yang melewati Puncak. Berjalan sedikit di pintu keluar terminal kami langsung naik Bus AC Ekonomi jurusan Cianjur yang sebentar lagi akan berangkat. Sampai di dalam bus ada sedikit keanehan, baru kali ini Restribusi Terminal di tarik oleh petugas di dalam Bus (benar2 terminal yang aneh). Kami akan segera melakukan perjalanan panjang menuju Cibodas. Perjalanan kira2 sekitar 2 jam dengan kondisi jalan yang biasa (tidak macet dan tidak lancar). Satu hal yang menarik perhatian saya, dimana kernek, supir, kondektur, pengamen dan pedagang semua menggunakan bahasa Sunda (maklum kita berada di tanah Pasundan). Satu keanehan lagi terjadi didalam bus, dimana ongkos perjalanan bisa di tawar (gilaaa….), bayangkan ada mbak2 (cewek) di bangku sebelah membayar ongkos yang lebih tinggi daripada kami dimana kami turun lebih jauh jaraknya daripada cewek itu (mungkin salah ngasih kembalian atau memang ketipu :P ). Ongkos dari Bogor-Cibodas kurang lebih 30 ribu rupiah, maklum perjlanan panjang naik turun bukit dan jalanya berkelok2. Sepnjang perjalanan di kanan kiri jalan penuh dengan Vila2 mewah, Pusat Diklat, Restoran dan juga Pedagang2 kecil yang menjajakan makanan hasil bumi kota Bogor. Puncak bogor yang harusnya hijau lebat dengan kebun teh yang terbentang luas, kini hmpir penuh dengan bangunan2 hasil keserakahan para pebisnis alam. Sungguh sedih aku melihat pemandangan ini, tak kuasa aku meneteskan air mata kesedihan ini karena orang2 biadab telah merampas keindahan alam yang kita punya (Berlebihan Mode ON).

Dua jam perjalanan kami lalui, akhrnya kami sampai di jalan masuk Kebun Raya Cibodas. Jarak antara jalan raya dan kebun raya masih jauh, sekitar 5 kilometer perjalanan menanjak. Dari pertigaan itu kami naik angkot menuju Cibodas, ongkos 2500 rupiah dalam waktu 15 menit kami sudah sampai di gerbang masuk Cibodas. Legaa…….pengen segera ke Pos Pendakian guna mengurus ijin pendakian ke Gunung Gede, sampai depan Pos kami dikejutkan oleh tulisan di spanduk yang di pampang di depan halaman Pos Pendakian yang bertuliskan ” Pendakian Gunung Gede untuk sementara di TUTUP selama bulan Agustus, dalam rangka pembersihan dan pemeliharaan Hutan”, seketika nafas kami tertahan……..Haaaaaaaaaaaah, sia sia sudah pejuanganku ini (bisik dalam hatiku). Akupun lesu lemah dengan penuh penyesalan, tapi tak lama kemudia Fauzik nyeletuk ” Bagaimana kalau kita ke Air Terjun Cibereum saja…”. Deeg…jantungku kembali berdetak setelah selama beberapa detik terhenti (berlebihan…:D), betapa senangnya hatiku saat mendengar kalimat itu. Tak pikir panjang lagi, kami segera menuju ke Air terjun Cibeureum, jarak pos pendaftaran pengunjung sekitar 1km dari Pos Pendakian. Sampai di depan gerbang pendaftaran, kami dikejutkan lagi dengan tulisan “Air Terjun Tutup Jam 14.00″, Siaaaalllllll………………………..gk mau kecewa yang kedua kali akhirnya kami nekat naik kesana, sampai di Pos Pendaftaran kami melakukan registrasi dan membayar ongkos sebesar 2000 rupiah/pengunjung. Dari pihak Pos hanya berpesan untuk tidak terlalu lama di air terjun mengingat waktu sudah sore. Pendakian di mulai…..2 kilometer perjalanan menanjak menyusuri jalan bebatuan kami mulai. Target 1 jam sudah sampai di Puncak..(Upss…maksudnya di Air Terjun). Maklum anak kost yang jarang berolahraga, baru mendaki selama 5 menit saja nafas sudah terengah2 dan keringat sudah bercucuran…(Ampuuun toss….terucap dari mulut Agus). Sampai separuh perjalanan, saya terkejut bukan main berpapasan dengan seorang cewek yang sepertinya aku kenal. Bunga…..(bukan nama sebenarnya) aku panggil namanya, diapun menoleh dan balas menyapaku. Duuuh… dunia memang cuman selebar daun kelor (pepatah orang jawa), aku ketemu dengan teman SMA ku yang kebetulan sekarang juga kerja di jakarta. Fauzik dan Agus yang berjalan di depankupun seketika menoleh dan menatap kami berdua seolah tak percaya (berlebihan…). Ngobrol dikit dengan teman SMA sambil mengobati lelah kami lanjutkan kembali perjalanan ke Air Terjun. 1 jam perjalanan lagi, akhirnya kami nyampai juga di Air Terjun yang indah itu. Wouuu….sungguh mengagumkan, air terjun dengan ketinggian hampir 30 meter dan debit air yang besar menyapa kami dan mendinginkan badan kami yang terbakar selama perjalanan. Setelah puass berfoto2 di depan Air terjun pertama, kamai lanjutkan ke Air terjun yang kedua yang jaraknya cuman sekitar 20 meter. Dua puluh meter lagi kami menemukan Air Terjun ke-3 yang tempatnya agak tersembunyi di antara tebing yang curam. Inilah yang dinamakan Air Terjun Cibeureum, gak nyangka justru air terjun yang tersembunyi dan yang paling kecil malah menjadi Nama Besar dari ke-3 Air terjun yang ada di tempat itu.

Sambil menikmati pemandangan sekitar, kami menyantap Rempeyek Bayam yang kami beli dari dekat Pos Pendakian tadi siang. Setengah jam sudah kami di tempat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 4 Sore, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang. Perjalanan turun jauh lebih cepat , cukup 30 menit kami sudah sampai di Pos pendaftaran. Sampai di sepanjang jalan dekat Pos Pendakian, kami sempatkan dulu belanja hasil bumi lereng Gunung Gede ini. Rempeyek Bayam, Keripik Tempe, dan Sale adalah jajanan khas daerah ini. Setelah puass belanja jajanan, kami segera naik angkot turun menuju Jalan Raya. Sampai Jalan Raya kami mencari Bus Jurusan Bogor, alangkah beruntungnya kami karena yang lewat justru Bus Jurusan Bandung-Kampung Rambutan. Tak berfikir panjang kamipun langsung naik dan menikmati penjalan panjang ke Jakarta. Penjalanan sekitar 3 jam, dengan ongkos 30 ribu rupiah (Bus Ekonomi).

Sampai di Kampung Rambutan sekitar pukul 9 malam, sampai disini Fauzik berpisah dari Aku dan Agus untuk pulang ke tempat tinggalnya di Daerah Duren Tiga – Jakarta Selatan. Mondar mandir di terminal mencari bus jurusan bekasi, hampir setengah jam kami tidak juga menemukanya. Mungkin armadanya sudah habis, maklum sudah jam 9.30 malam lebih. Tak mau kemalaman di terminal kami memutuskan untuk menyebrang melalui jembatan Tol, berharap ada bus atau angkot yang langsung mengarah ke Bekasi di seberang jalan. Akhirnya kami menemukan bus 9B jurusan Bekasi Barat, Alhamdulilah……akhirnya perjuangan terakhir hampir terlewati. Jam 11 malam kami sampai di Kost tercinta, Jl Lele 1 Perumnas 2 Bekasi. Sampai disinilah akhir dari ceritaku di Cibereum Episode 1, cerita selanjutnya akan segera di release…

Episode 2, Sabtu, 25 Agustus 2007( Aku, Edo, Hadid, Fauzik)

cibereum-2Pada Episode 2 kali ini, saya bersama ke-2 teman saya akan menceritakan perjalanan menuju ke Air Terjun Cibeereum dengan tujuan mengurus perijinan pendakian Gunung Gede dan juga menikmati udara segar sepanjang perjalanan menuju Air Terjun. Perjalan kali ini di tempuh dengan jalur transportasi yang berbeda dengan Episode 1. Aku, Edo dan Hadid berangkat dari Bekasi jam 8 pagi, keluar kost kami bertiga menyempatkan dulu untuk sarapan di warteg favorit kami yang terkenal dengan sebutan “Warung Semi Padang” atau “Warung Hadid”. Setelah perut cukup kenyang, jam setengah sembilan kami meninggalkan warteg menuju halte bus depan Ramayana, tak lama kemudian bus 9B jurusan kampung Rambutan melintas di depan dan kamipun langsung naik tanpa pikir panjang. Kurang lebih 45 Menit perjalanan kami sampai di Terminal Bus Kampung Rambutan, kami janjian dengan Fauzik lagi di terminal ini. Kami coba hubungi Fauzik berkali2, tapi gk diangkat olehnya (gak tau kenapa gk diangkat, mkn hpnya di silent). Akhirnya kami putuskan untuk menuju Terminal Bus Antar Kota, para Calo bus pun langsung menyerbu kami bertubi tubi sampai kami benar2 muak (berlebihan). Stelah bayar peron terminal, kami coba telpon fauzik lagi dan menunggu di depan pintu masuk berharap jika fauzik datang kami bisa langsung melihatnya. Cukup lama kami menunggu, capek juga berdiri terus kamipun coba cari tempat duduk. Selintas mata memandang mencari bangku kosong buat duduk, mata kami menangkap sosok seseorang yang kami kenal sedang duduk diam dengan kepala tertunduk bersandar tas kecil yang di bawanya. Seketika itu kami menghampirinya, dan………………..”ziiik…….” sapaku, ” eh,….tos” dia balas menyapaku.Mkn saking lamanya dia nunggu kami, dia sampai ngantuk dan tertidur. Waktu sudah menujukkan pukul 10 lebih. Kamipun segera mencari bus jurusan Cianjur yang melewati Puncak, langsung dapat bus ekonomi tanpa AC.

Perjalanan dari Kampung rambutan ke Cibodas memakan waktu kurang lebih 3 jam, dalam kondisi jalan yang normal. Ongkos perjalanan sekitar 30 ribu rupiah per penumpang. Tiga jam perjalanan kami tempuh akhirnya kami sampai juga di Cibodas, seperti pada episode 1 kami langsung cari angkot jurusan Kebun Raya Cibodas. Sampai di Pos Pendakian pukul 1 Siang lebih, kami langsung menuju ke Loket Pendaftaran pendakian Gunung Gede. Biaya pendakian Per orang adalah 20 ribu rupiah, biaya pendakian termahal yang pernah aku alami. Saat melakukan pendakian, kami menemui juga sorang turis asing yang juga sedang mendaftarkan diri. Ternyata, ada juga bule yang suka naik Gunung yah..:D. Setelah selesai mendaftar, kami menyempatkan dulu untuk Sholat Dzuhur di Mushola dekat Pos tersebut. Setelah sholat, fauzik pamit pada kami untuk pulang lebih dulu karena ada urusan pribadi. AKu, Edo dan Hadid bersiap untuk menuju ke Air Terjun Cibeureum. Perjalanan dimulai, seperti biasanya kami membayar restribusi Air Terjun sebesar 2 ribu rupiah per pengunjung. Dua jam perjalanan kami tempuh, sampai juga di Air Terjun sekitar pukul setengah 3 sore. Kami bertiga langsung pasang action NARSIS walaupun hanya bawa kamera HP Ony Ericssonku :D . Setelah puas bermain air di bawah air terjun dan foto2 bersama di sana, kami segera turun mengejar waktu yang hampir gelap. Sampai di jalan raya sekitar pukul 4 sore, kami mencoba mencari Bus Jurusan Jakarta. Karena tidak dapat bus jurusan Jakarta, kami naik bus jurusan Bogor yang berhenti di depan kami. Ongkos perjalanan sampai bogor sekitar 20 ribu rupiah, perjalanan di tempuh dalam waktu 2 jam lebih karena macet. Sampai di Terminal Bogor, kami mencari Bus jurusan Kampung Rambutan, nasib kali ini agak mujur karena kami menemukan Bus Jurusan Bekasi Timur. Tak berfikir panjang kamipun langsung naik, bus ekonomi AC dengan ongkos 15 ribu rupiah. Sampai di pintu Tol Bekasi timur kami turun, segera kami mencari angkot jurusan bekasi barat. Perjuangan terakhir hampir usai, sekitar jam 9 malam kami sampai di Kost dengan selamat dan hati Gembira. Demikian perjalanan kami di Air Terjun Cibeureum, semoga anda tertarik dengan cerita2 dari kami.

The End

Yogyakarta 1 : Candi Prambanan

Jalan2 di Djogja (7 – 8 – 9 maret 2009)

Kali ini rekan2 yang tergabung dalam Elits-41 mengadakan hajatan ringan untuk sekedar jalan2 ke kota budaya di Indonesia yaitu Yogyakarta atau lebih terkenal dengan sebutan Djogja. Djogja terkenal dengan eksotisme budayanya yang banyak memikat wisatawan lokal maupun manca negara. Dengan beragam wisata Budaya, Keraton, Candi, dan Pantai nya tidak diragukan lagi jika setiap akhir pekan ataupun libur panjang banyak anak muda yang meluangkan waktu untuk sekedar jalan2 di kota ini. Selain mendapatkan sebutan kota budaya, Djogja juga di juluki sebagai kota Pelajar dikarenakan kota Djogja banyak memiliki Universitas maupun Sekolah Tinggi baik negeri maupun swasta. Wajar jika Djogja memiliki kesan sebagai kotanya anak muda, yang kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar.

Diatas adalah sekilas tentang Djogja, selanjutnya akan saya ulas dalam serangkaian perjalanan saya dan teman2 di kota Gudeg ini. Peserta dari Perjalanan ini adalah 6 orang, 5 orang berangkat dari Bekasi (Aku”mantos”, Edo, Hadist, Edo, Ervan, dan Son) 1 Orang (Agus) stay di Magelang. Sehubungan dengan Long-weekend dan hajatan Maulud Nabi Muhammad SAW yang merupakan hajatan besar bagi masyarakat di Jawa Tengah khususnya Keraton yogyakarta yang mengadakan Grebeg tumpeng, tiket kereta api dari Bekasi – Yogyakarta ludes tak tersisa sejak H-28 hari (Benar2 gilaaa….). Gak tau yang salah saya tidak beli pada pembukaan tiket pertama di H-30 atau memang Pihak PT KAI yang tidak melakukan perbaikan pada sistem perkereta apian Indonesia (Mudah2an Pak Presiden membaca tulisan ini…Gak mungkin…:D).

H-1 hari ( Menjelang keberangkatan dari bekasi – jogja)

Tiket kereta api tidak ada di Tangan, akhirnya kita sepakat untuk membuat Plan A dan Plan B. Dengan dua Plan tersebut kita sangat yakin kalau semuanya akan lancar.

PLAN A : Membeli Tiket berdiri Senja Utama Solo ( berhenti di Bekasi ), Aku dan Ervan ke Stasiun Pasar Senen untuk membeli Tiket di Hari-H dan sekaligus naik dari St.Pasar Senen, Son & Edo menunggu di Bekasi sampai Kereta Api berhenti di Bekasi.

PLAN B: Jika Tiket kereta Api tidak dapat atau tidak dapat masuk ke dalam kereta karena kereta penuh, kita langsung bertolak ke pangkalan Bus Sinar Jaya di Cibitung.

Hari H ( Perjuangan Pertama )

prambanan-2Di hari H Aku dan Ervan mencoba untuk berjuang demi teman2 yang lainya (sok pahlawan :) , dengan segala bujuk rayu canda tawa kami berhasil meloloskan diri dari jerat mesin perusahaan yang begitu keras di telinga (berlebihan…) Puku 2 Siang habis jum’atan Aku dan Ervan pulang ke Kost naik K-45 dari Lemah Abang. Di Pesawat K-45 yang begitu panasnya dan full body contact (huuu…puanaasss banget) kami mencoba bertahan dan hasilnya sampai Kost jam 3 sore. Tidak berfikir panjang kami segera meluncur ke stasiun Bekasi menggunakan Koasi 05A. Sepuluh menit perjalanan kami sampai di Stasiun Bekasi. Di sana kita segera menuju ke bagian reservasi kereta api, belum sempet saya memesan tiket kami sudah tercengan melihat tulisan dikaca depan loket ” Komputer Rusak, Pemesanan kereta api Offline” (Jian…….). Emosi pun meledak-ledak dar der dor…(kaya petasan saja). mkn ini tantangan pertama kami, tidak berfikir panjang kami langsung menuju loket pembelian tiket KRL yang tidak jauh dari situ. Pesen tiket KRL Ekonomi seharga 5000 rupiah/penumpang Jurusan pasar Senen, sialnya lagi pemberangkatan jam 4.30 (busyeett…masih lama jeeh). Sambil menunggu KRL lewat kami mondar mandir kaya orang gila (emang benar2 gila kalee…:D). Tiba2 dari kejauhan terdengar suara kereta api dari arah Timur, loudspeaker pun berkumandang (kaya adzan aja..) memberitahukan kalau kereta api fajar Utama Jogja akan melewati jalur 1. Yesssssss………….Langsung aja aku samperin si Ervan untuk naik kereta ini (Tiket KRL keretanya Fajar Utama Jogja…gk ngurus), lumayan lah selisih waktu setengah jam dari KRL. Perjalanan sekitar 45 menit sampai di stasiun Ps Senen jam 5 sore. Tak pikir panjanga bergegas ke Loket Penjualan Tiket Kereta Senja Utama Solo, berharap masih ada tket duduk. Terlihat antrian lengang, tapi ternyata Tiket Duduk juga sudah Habis…(Busyeeeettt…), Akhirnya beli juga tiket kereta berdiri seharga 110ribu (sama dengan tiket duduk, gak logis….). Pesan tiket 5 lembar, habis dah uangku 560 ribu di rampas oleh PT KAI. Sedikit Lega sudah dapat tiket, saking senengnya ervan langsung ngajak makan soto Lamonga (Gk ada rasa lamonganya sama sekali..PALSUUU). Sambil menunggu Hadis dan Kereta berangkat jam 8.20 malam, kami meluangkan waktu untuk jalan2 ke Plaza Atrium Senen..( Maklum anak Mal jeeh..:P). Jam 7 balik ke Stasiun, ketemu sama Hadis……singkat cerita Nunggu Kereta datang, Kita langsung masuk dan ke tengah Gerbong siap2 duduk pake kertas Koran. Di tempat lain (St Bekasi ) Son dan Edo sudaha menunggu Kereta yang kami tumpangi Lewat. Kereta sampai St Jatinegara berhenti menaikkan penumpang lagi, Busyeeeettttttttt………….Ratusan orang naik sampai Gerbong benar2 penuh penumpang, yang tadinya kami duduk sekarang sudah benar2 berdiri (Modar aku…). Aku hubungi Edo, Plan A harus tetap berjalan kita harus berangkat bareng menggunakan Kereta.Sampai di stasiun Bekasi aku serahkan tiket Kereta Edo dan Son lewat jendela karena bener2 sudah tidak bisa gerak lagi ke Pintu. Berharap mereka bisa naik ke Pintu Gerbong lainya. Dan ternyataa………….semua pintu Gerbong kereta tidak ada yang terbuka, dan mereka sama sekali tidak ada yang ke angkut kereta. EMosi berlebihan…(Misuhi wong sak gerbong…janc…), akhirnya kita berpisah sampai disini. Edo dan Son terpaksa menjalankan Plan B.

Kereta berjalan….berbagai posisi tidur kami lewati (mulai dari tidur duduk nyelempit, duduk di sandaran tangan, dan berdiri), kata ervan tidurnya Diskrit karena cuman beberapa detik bangun lagi hahaha….Sekitar 10 Jam kami lalui penderitaan ini dengan canda, tawa, pisuhan, dan penyesalan. Jam 7 pagi kereta sampai di Stasiun Tugu Yogyakarta..(Duuuh…senangnya hatiku), Tak sabar nguyuh, lungguh, raup….dll. Setelah bersih2 muka, kami langsung cari sarapan di belakang St Tugu. Soto angkringan Khas Jogja, Jan…..Mantaaaaaaaaaaaaaaaaaab coy, sambi ngeteh anget mangan gorengan dan rokok-an serasa capek, kesal, dan suntuk semalaman hilang semuanya. Kenyang coy….saatnya Chek-in Hotel, males tawar menawar dengan tukang Becak & Taksi gadungan, akhirnya kami memutuskan naik Taksi Beneran. cuman 28ribu sampai di Metro Guest Hotel. Check-In sehari, bayar sebesar 160ribu untuk 2 kamar. Sampai kamar mandi terus tidurrr………..bangun2 jam 11 siang. Lumayan rasa capek dan ngantuk sudah berkurang. Gk ada kabar berita dari Son dan edo (Gk tau dimana…kan udah besar :P )., akhirnya kami memutuskan untuk jalan2 ke Candi Prambanan.

prambanan-3 Ke Candi prambanan dari Jalan Prangtritis naik Bis Mini jurusan Bantul turun di terminal Giwangan, oper Bus Jogja-Solo langsung turun di Depan pintu Masuk Candi Prambanan. Langsung saja ke Loket pembelian tiket, 15.000 rupiah per/pengunjung ditambah tiket kamera 1000 rupiah. Masuk Candi jam 2 sore dalam kondisi hujan rintik2, daripada kamera dan pakaian basah kami menyewa Payung dengan harga 2500 ribu per Payung. Candi yang dikunjungi ada 4 Buah, yaitu Candi Prambanan, Candi Lumbung, Candi Bubrah, dan candi Sewu. Capek jalan2 perut juga keroncongan, kami duduk sejenak sambil menikmati Pecel Khas Prambanan (Khas Klaten), Lumayan nikmat buat ganjal perut. Ada kabar dari Son dan Edo bahwa mereka masih di perjalanan dari Semarang ke Solo. Candi tutup Jam 4.30 sore dan Harus keluar Candi jam 6 sore. Akhirnya kami memutuskan untuk Pulang ke Jogja, kali ini kami memanfaatkan Alat Transportasi baru yang Lumayan murah dan nyaman yaitu Bus Trans Jogja ( Busway nya Jogja). Hanya dengan merogoh kocek 3000 rupiah, kita bisa keliling Jogja sepuasnya. Sistemnya sama dengan Busway Jakarta cuman armadanya sedikit dan tidak memakai jalan khusus. Pelayanan lumayan ramah, khas orang jawa tengah yang lemah lembut. Kami memutuskan untuk langsung ke Kota, yaitu ke Malioboro. Menikmati sejenak jalanan malioboro dengan segala pernak penik dan keraimaianya di malam hari, laper juga jalan2 bertiga kaya orang ilang. Tak lama jalan2 datang kabar dari Son dan Edo bahwa dia sudah nyampai di dekat hotel, akhirnya kami memutuskan untuk pulang ke Hotel menyambut kedatangan 2 pejuang dari Bekasi tersebut.

Dok..dok..dok…Kami mengetok pintu kamar hotel, dan mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sedang asyik berduaaan ( hahaha…koyo wong pacaran wae). Walaupun tadinya kita sempat berselisih, kesal marah emosi, tapi sekarang kita bertemu dalam suasana yang ceria. canda tawa gurauan dan makian mencairkan suasana haru ini….(berlenbihan). Sampai disini kami mulai begabung kembali, dan merencanakan perjalanan hari esok yang menyenangkan.

Bersambung…..=>> Yogyakarta 2 ( Borobudur)