Marathon Hue to Hanoi : Perjalanan bukan sekedar Destinasi

Perjalanan Bukan Sekedar Destinasi

Dalam perjalanan saya ke Vietnam, inilah misi yang sejak dari awal saya prediksi paling sulit untuk diselesaikan. Selain tempatnya yang jauh dari kota, posisinya juga berada di sebuah pegunungan yang waktu tempuhnya dari Dong Hoi memakan waktu 6 jam lebih. Bagi saya, perjalanan bukan sekedar destinasi. Keluar dari stasiun Dong Hoi kembali saya disambut dengan cuaca yang tidak bersahabat, gerimis lembut menemani perjalanan saya menuju pusat kota Dong Hoi. Saya memilih untuk jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, berharap menemukan terminal bus atau travel agent yang bisa mengantar saya menuju Phong Nha Ke Bang, salah satu taman nasional di Vietnam yang memperoleh gelar Natural World Heritage oleh UNESCO. Pong Nha Ke Bang merupakan sebuah Gua kapur yang besar, terletak di pegunungan kapur sebalah barat laut kota Dong Hoi. Wisata yang ditawarkan adalah trekking menggunakan boat memasuki gua yang lebar dan panjang tersebut, sungguh mengasyikkan bukan. Dong Hoi merupakan kota kecil, tidak lebih besar dari kota Klaten, kampung halaman saya. Pagi hari masih belum banyak aktivitas warga disini, hanya terlihat tukang ojek yang bergantian menawarkan jasa kepada saya. Disamping kanan kiri terdapat ruko-ruko yang nampak baru didirikan. Hampir satu jam lebih saya berjalan kaki menyusuri pusat kota ini, pundak saya terasa terbakar memanggul backpack. Sampai pula saya di terminal Dong Hoi, terminal yang berisi minibus dan bus sebesar metromini, jumlahnya pun tak lebih dari 10 buah. Saya mencoba masuk dan bertanya kepada seseorang yang memberikan layanan tiket disana. Tak seorangpun bisa berbahasa inggris, sampai saya harus menggambar dan menunjukkan peta Phong Nha Ke Bang di print-out yang saya bawa. Lalu salah seorang dari mereka menunjukkan saya tempat, yaitu Ben Xe Namly atau Terminal Namly. Saya tidak tau apa yang dia katakan, letaknya dimana saya juga tidak tahu, dia hanya menunjuk arah dan berbicara dalam bahasa vietnam yang tidak saya mengerti. Terpaksa saya mengandalkan tukang ojek di depan terminal untuk mengantar saya. Sampai di Ben Xe Namly, suasananya tak jauh beda. Hanya ada satu bus yang parkir disana, dan saya tidak menemukan bus bertuliskan trayek ke Phong Nha Ke Bang. Sementara gerimis terus mengguyur kota ini. Tukang ojek berusaha mmbantu saya menanyakan ke petugas di terminal yang sepi tersebut. Dia kembali dengan penuh semangat memberi tahu saya dengan bahasa vietnam, percuma saja saya tidak mengerti maksudnya. Dia aku suruh menulis dan menggambar di kertas kosong tentang informasi tersebut. Baru saya paham maksudnya, bahwa untuk menuju ke Phong Nha Ke Bang memerlukan waktu kurang lebih 6-7 jam. Jika berangkat jam 8 pagi, maka sampai sana jam 2 siang. Jadi pulang ke Dong Hoi paling cepat jam 10 malam. Tambah pusing saja saya mendengar penjelasanya. Saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika saya memaksakan ke Phong Nha, bisa-bisa destinasi berikutnya akan tidak tercapai dan membahayakan kepulangan saya ke Indonesia. Sejenak saya berfikir, tukang ojek pun hanya tersenyum melihat saya terlihat putus asa. Saya memandang ke langit, cuaca kelihatanya tidak bersahabat pula untuk melanjutkan perjalanan ke Phong Nha. Kalau di Dong Hoi saja gerimis sepanjang hari, apalagi di pegunungan sana. Saya memutuskan untuk membatalkan destinasi ini, dan meminta tukang ojek mengantar saya ke jalan raya 1A untuk mencegat Bus umum jurusan Hanoi. Diantarlah saya ke jalan raya 1A, jalan raya utama yang dilewati bus antar kota. Seperempat jam saya menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bus jurusan Hanoi lewat jalan ini. Datanglah sebuah minibus dengan papan nama didepanya bertuliskan ”VINH”, merupakan ibukota Provinsi Quang Binh. Kernet bus menawari saya dengan berteriak ”Vinh….”, saya jawab dengan teriakan ” Hanoi….”. Kembali kernet tersebut berteriak ” Vinh ….Hanoi”, sambil memberikan isyarat kepada saya kalau dari Vinh nanti oper Bus ke Hanoi. Dalam keadaan seperti ini kita dituntut untuk berfikir cerdas dan cepat, karena kesempatan baik belum tentu akan datang dua kali. Yang jelas kita juga harus mempertimbangkan resiko yang ada, jangan sampai asal-asalan naik bus tanpa tau arah tujuan. Bergegas saya melompat ke dalam Minibus, meninggalkan kota Dong Hoi yang masih belum bangun dari tidurnya.

Peeing Massal

Perjalanan ini walaupun penuh rintangan dan hambatan, tetapi memberikanku pengalaman yang berharga untuk memecahkan sebuah masalah dengan cepat dan cerdas. Angkutan antar kota dalam provinsi bukannya bus besar, tetapi hanya sebuah minibus yang besarnya sama dengan ELF di Indonesia. Ongkos dari Dong Hoi ke Vinh adalah 100.000 VND, perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Vinh merupakan ibukota dari Provinsi Quang Binh. Sepanjang perjalanan dari Dong Hoi ke Vinh diselimuti dengan gerimis tebal dan sesekali menerjang hujan. Udara dingin di dalam minibus pun bertambah dingin karena udara luar yang begitu dingin. Semua orang mengenakan jaket dan meringkuk kedinginan. Minibus berhenti menaikkan penumpang dan juga kadang menurunkan penumpang di pinggir jalan, sementara penumpang keluar masuk minibus dengan berlari karena diluar sana sedang gerimis lebat. Gerimis lebat maksudnya yaitu gerimis yang sangat rapat, sehingga menyerupai hujan salju. Hujan seperti ini waktunya sangat lama, bisa seharian penuh tanpa henti seperti di Hue City kemarin. Karena udara yang semakin dingin, saya merasa kebelet kencing dan tak tertahankan lagi. Sementara minibus terus melaju dengan kecepatan penuh, mau minta berhenti sebentar saya juga tidak enak karena bangku saya berada di tengah jauh dari kernet. Tiba-tiba minibus mengurangi kecepatanya dan berhenti di dekat perkampungan penduduk, ternyata ada salah seorang penumpang yang mau turun. Inilah kesempatan saya untuk minta waktu buang air kecil. Saya ikutan turun dari bus dan memberi kode pada kondektur kalau saya mau kecing sebentar. Kondisi waktu itu masih gerimis lebat, tak peduli saya langsung mencari posisi kencing di pinggir jalan. Setelah saya selesai kencing, begitu saya mau masuk ke bus, semua orang di dalam bus berhamburan keluar dari bus. Malahan ada yang membuka jendela dan melompat keluar dari jendela. Ada apa ini, laki-laki dan perempuan semuanya keluar dari bus dan berlarian mencari posisi masing-masing. Ternyata tidak saya saja yang ”ngampet” buang air kecil, buktinya mereka sekarang malah melakukan ”Peeing Massal”. Lega sudah rasanya membuang beban satu ton yang saya bawa sejak tadi. Semua orang kembali ke posisi tempat duduk masing-masing, minibus kembali melanjutkan perjalanan ke Vinh. Saya sempat tertawa sendiri melihat kejadian lucu ini, masa’ orang satu bus cowok dan cewek buang air kecil bersama-sama di pinggir jalan raya hahaha…. Sayalah pemenang lomba buang air kecil tersebut, karena saya yang paling cepet kembali ke Bus :D . Setelah menempuh perjalanan panjang, sampai juga saya di kota Vinh. Ternyata kota Vinh itu cukup besar, banyak gedung-gedung bertingkat disini. Maklum, kota ini adalah ibukota provinsi. Saya sempat melihat Vinh University yang bangunanya megah berdiri di pingging jalan utama kota Vinh. Walaupun kota besar, Vinh bukan merupakan kota Wisata. Pemerintah Vietnam tidak mem-promote kota ini seperti 8 kota wisata lainya, mungkin memang tidak ada tempat wisata yang menarik di daerah ini. Tiba diterminal Vinh pukul 12 lebih 30 menit. Kernet bus memberitahu saya untuk membeli tiket Bus ke Hanoi di bangunan sebelah. Segera saya mengambil backpack dari bagasi dan mencari tiket Bus ke Hanoi. Terminal bus di kota Vinh cukup besar dan ruwet, persis seperti terminal bus Tirtonadi Solo. Ada beberapa loket penjualan tiket bus ke Hanoi, semuanya bertuliskan dalam bahasa Vietnam. Saya mencoba mempelajari time schedule yang dipampang di atas loket penjualan. Seperti biasanya saya mencatat diatas kertas dan berencana memberikanya ke petugas penjaga loket. Tetapi semuanya tidak berjalan dengan mulus, banyak orang lokal yang berkerumun didepan loket bergantian tanpa antrian yang jelas. Tak mungkin saya menyela mereka, terlalu ruwet untuk dijinakkan. Ada seorang bertanya pada saya mau kemana, saya jawab ke Hanoi. Saya sudah menyiapkan uang sebesar 130.000 VND sesuai dengan harga tiket yang tertera di loket. Seseorang tadi mengambil uang saya dan mengitungnya, setelah itu dia mengibaskan uang saya dan memberikan kembali ke saya seolah uang itu tidak cukup untuk pergi ke Hanoi. Saya coba keluar dari keramaian dan mencari sudut pandang lain untuk mendapatkan Bus jurusan Hanoi. Ada seseorang yang bertanya pada saya lagi ”Mau kemana..??”, saya jawab singkat ”Hanoi..”. Dia mengambil uang yang saya bawa dan mengatakan kurang, dengan bahasa Vietnam. Lalu dia mengambil uang disakunya dan menunjukkan ke saya sebesar 150.000 VND. OK, saya ambil dompet saya dan saya tambahkan 20.000 VND, kemudian saya diantar naik ke bus jurusan Hanoi. Hujan gerimis terus mengguyur kta Vinh, bus meninggalkan kota ini pukul 1 siang menuju ke kota impian berikutnya yaitu Hanoi.

Belajar Naik Kereta Di Vietnam : Gara-gara penjaga Boarding Room ketiduran, penumpang panik berlarian

Inilah kali pertama saya akan naik kereta api di Vietnam. Saya harus menunggu sampai jam 2 pagi di Stasiun Hue, karena saya ingin sampai di Dong Hoi di pagi hari. Saya tidak sendirian di stasiun, banyak pula yang menunggu kereta api yang sama dengan saya. Satu perbedaan yang pertama dari sistem kereta api di Vietnam dan Indonesia adalah Ruang Tunggu. Di Indonesia begitu masuk peron, kita bisa menunggu kereta api yang akan kita tumpangi di dekat jalur rel kereta api tersebut. Di Vietnam tidak demikian, semua penumpang tidak diperbolehkan masuk ke jalur kereta api sebelum kereta api datang, sehingga pintu yang menghubungkan ruang tunggu dan jalur kereta api terkunci rapat. Saat kereta api datang, penumpang keluar dari kereta menuju pintu keluar yang telah ditentukan. Petugas membukakan pintu ruang tunggu ketika kereta yang akan kita tumpangi sudah datang, hanya tiket yang sesuai dengan kereta yang siap berangkat yang diperbolehkan menuju ke jalur kereta. Mirip seperti Boarding Room di Airport. Setelah kereta api berangkat, pintu ruang tunggu kembali ditutup dan petugas kembali berjaga di ruanganya. Ada cerita yang menarik ketik saya menunggu kereta untuk yang pertama kali ini. Petugas penjaga kereta api yang seharusnya berjaga dan memantau kedatangan kereta malah tertidur. Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, jika tepat waktu maka kereta seharusnya sudah datang. Ada pemberitahuan melalui loud speaker dalam bahasa vietnam yang tidak saya ketahui. Semua penumpang lokal berdiri dan bersiap untuk menuju kereta api, mungkin itu adalah panggilan kereta api yang akan saya tumpangi bersama mereka. Tetapi pintu ruang tunggu masih terkunci rapat,  petugas tidak segera membukakan pintu karena tertidur. Sampai pada detik-detik terakhir dia terbangun karena keributan penumpang yang terjadi. Dia nampak kebingungan dengan mata masih kelihatan mengantuk, membuka pintu ruang tunggu dan lari menuju kereta. Kembali lagi ke  pintu ruang tunggu sambil sibuk menelepon seseorang, mungkin dia menelepon masinis yang hampir memberangkatkan kereta api meninggalkan stasiun ini. Sementara penumpang mengantri, menunggu petugas siap melakukan pengecekan tiket. Petugas itu membuat penumpang panik, dia meminta kami lari dan buru-buru naik ke kereta api. Saya ikutan lari, tetapi tidak tau kereta mana yang akan saya tumpangi, karena disitu tidak hanya ada satu kereta. Saya langsung menuju gerbong yang pintunya terbuka, menunjukkan tiket yang saya pegang dengan nafas tersengal-sengal dan jantung deg-deg an karena takut ketinggalan kereta. OK, masuklah aku ke dalam kereta. Sampai di dalam gerbong saya harus mencari tempat duduk sesuai dengan nomer yang tertera di dalam tiket. Sekarang saya berada di gerbong Hard  Seat, sungguh mengerikan gerbong ini. Hard Seat benar-benar keras kursinya, semua bagianya tersusun dari bilah kayu yang tersusun. Satu kursi hanya muat untuk 2 orang, kepala tidak bisa bersandar karena sandaran belakang terlalu pendek. Banyak manusia tergeletak di jalanan, persis seperti membawa korban perang. Jauh lebih parah daripada kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Saya harus melangkahi puluhan orang di sepanjang gerbong Hard Seat ini. Mungkin ada 3 gerbong Hard Seat yang saya lewati, akhirnya sampai di gerbong Soft Seat. Kondisinya jauh lebih baik, kursi empuk dengan sandaran yang bisa distel. Ada AC di dalamnya, semua penumpang bisa tidur dengan nyenyak, tetapi keadaanya sama dengan kelas bisnis di Indonesia. Kali ini saya harus mencari nomer gerbong dan nomer tempat duduk di kelas ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa berbahasa inggris, saya hanya memberikan tiket yang saya pegang ke seseorang, dengan bahasa vietnam dia menunjuk dengan jari ke arah gerbong depan. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan cewek yang bisa berbahasa inggris, dia duduk di depan saya persis. Lega rasanya telah mendapat tempat duduk. Rasa ngantuk sudah tak tertahankan lagi, alarm saya set pukul 4 pagi, karena sekitar pukul 5 pagi kereta api akan sampai di Dong Hoi.Rasa ngantuk membuat saya lupa akan keadaan, alarm berbunyi dan langsung dengan reflek saya matikan. Satu jam berselang, tepat pukul 5 kereta api berhenti dan saya terbangun. Begitu saya melihat jam, saya kaget setengah mati dan langsung teriak ”Dong Hoi..”. Cewek di depan dan ibu-ibu di samping saya pun terbangun, dia sibuk menoleh ke luar jendela yang gelap untuk memastikan apakah ini stasiun Dong Hoi atau bukan. Saya kebingunan sendiri, dan langsung kabur menuju pintu keluar. Disana tidak ada petugas, sialnya lagi semua pintu gerbong terkunci rapat. Saya mencoba beralih ke gerbong lainya, semua pintu gerbong juga terkunci dengan rapat. Apa –apaan ini, saya tidak bisa keluar dari kereta api kalau caranya kaya gini, gerutu saya. Ada petugas kereta api, saya bertanya dengan bahasa inggris apakah ini adalah ”Dong Hoi”, dia menjawab tetapi tidak jelas dengan bahasa vietnam. Dia menyilangkan kedua tanganya di hadapan saya, apa artinya itu, tambah bikin saya pusing saja. Ternyata artinya kereta berhenti karena Kres dengan kereta lain, sehingga harus berbagi jalur. Lalu, dimanakah stasiun Dong Hoi …???. Apakah sudah lewat atau masih jauh didepan, petugas tidak meberikan jawaban yang jelas, membuat saya semakin panik. Saya balik lagi ke gerbong sebelumnya, berharap ada pintu yang dibuka, benar-benar seperti orang gila yang mondar mandir kebingungan. Saya termenung sejenank disambungan gerbong, jika memang Dong Hoi sudah lewat dan saya tidak bisa turun dari kereta, maka saya akan ikuti kereta api ini sampai ke Hanoi. Tetapi bagaimana saya bisa keluar adri stasiun Hanoi, tiket saya bertuliskan Hue – Dong Hoi. Ditengah-tengah kebingungan saya, ada bapak-bapak yang bersiap keluar dari kereta api dengan membawa beberapa koper. Saya mencoba bertanya kepadanya, mau turun ke ”Dong Hoi” pak…???. Dia mengambil dan membaca tiket saya, lalu mengangguk dua kali. Rasanya seperti minum soda susu disaat saya sedang tidak bisa bersendawa. Lalu ada petuga kereta api wanita yang membawa segebok kunci dan membuka gembok yang mengunci pintu gerbong kereta api tersebut. Oalah, baru saya tau kalau pintu kereta api selalu di kunci jika semua penumpang telah masuk ke kereta, dan pintu akan kembali di buka ketika kereta sudah sampai di stasiun tujuan. Jam 5.30 kereta api berhenti, saya turun dan mencari tulisan ”Ga Dong Hoi” yang artinya stasiun Dong Hoi. Saat keluar dari stasiun, tiket yang kita bawa diperiksa petugas dan diambilnya. Jadi begitu keluar dari stasiun, kita tidak lagi membawa tiket kereta api yang sudah terpakai tersebut. Ternyata sistem begitu sistem kereta api di Vietnam, menurut saya lebih bagus dibanding dengan sistem kereta api di Indonesia. Kelihatanya kita harus belajar banyak dengan negara-negara tetangga kita yang sistemnya jauh lebih baik, walaupun negaranya masih belum dibilang maju pula.

Telah Beredar : 2 juta keliling Vietnam dalam 15 hari

Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabarn, pulang kerja kemarin saya iseng2 main ke toko buku Gramedia di D-Best PlazaFatmawati bersama teman SMA saya (Agus). Ternyata buku saya telah tertata rapi di rak buku bersama buku-buku traveling lainya di sebuah rak buku. Semula saya mencari di rak buku baru tidak ketemu, malahan teman SMA saya yang menemukan buku saya terletak di rak bareng buku2 traveling lainya tersebut. Betapa senangnya hati ini bisa menyaksikan langsung keberadaan buku karya perdana saya telah beredar di toko buku. Teman saya pun membeli buku tersebut, dan mendapat tanda tangan pertama dari saya selaku penulis hehe……ini tanda tangan pertamaku di buku perdanaku lh :D (banggga dunk pastinya sebagai pembeli hehe..)


Ayoo teman2….buruan beli bukunya, dan buruan jalan-jalan ke Vietnam yang eksotis, unik, dan menarik …..!!!



Bookmark and Share

Buku Terbaru : 2 Juta Keliling Vietnam dalam 15 Hari

Backpacking to Vietnam (10 – 24 Februari 2010)

Alhamdulilah, akhirnya karya pertama saya terbit juga. Buku  berjudul ” 2  Jutaan Keliling Vietnam Dalam 15 Hari “ telah beredar di toko buku Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung dan toko buku opnline inibuku.com dan bukukita.com. Berawal menjadi pemenang “Lomba Keliling Dunia Bersama Bentang”, selama 15 hari saya backpacking sendirian menyusuri Vietnam mulai dri Selatan hingga Utara. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh Bentang Pustaka dan cerita perjalanan diabadikan dalam sebuah buku yang diterbitkan langsung oleh Penerbit B-First (Bentang Pustaka)

Cover Buku

Deskripsi Buku :

Buku ini berisi tentang perjalanan backpacking saya menyusuri 8 Kota Wisata (Ho Chi Minh, Dalat, Nhatrang, Danang, Hue, Hanoi, Halong, Sapa) dan 4 Situs UNESCO World Heritage (Hoi An, My SOn, Hue, Halong Bay) yang tersebar mulai dari Vietnam Selatan sampai Vietnam Utara selama 15 hari. Memang Vietnam belum se-populer Thailand, Singapura, Malaysia, & Hongkong sebagai daerah tujuan wisata bagi para traveler dari Indonesia. Mungkin seperti peribahasa ” Gajah dipelupuk mata tidak tampak “, seperti halnya Vietnam yang jaraknya cukup dekat dengan Indonesia tetapi kecantikanya tidak terlihat oleh kita yang berada di Indonesia. Dengan tersedianya penerbangan langsung dari Jakarta ke Ho CHi Minh City, tak ada salahnya kita mengintip kecantikan Vietnam yang tidak kalah dari negara-negara tetangganya.

Buku ini mengulas ragam destinasi wisata Vietnam yang sangat lengkap, yaitu mulai dari wisata sejarah, wisata perang vietnam, wisata kota, wisata kota tua, wisata kampung tua, wisata kebun bunga, wisata pantai, wisata gua, wisa teluk, wisata gunung, wisata candi, wisata ziarah, wisata budaya tradisional, dan tentu saja wisata kuliner khas setempat.

Dalam buku dijelaskan berbagai macam penginapan yang ditempati, mulai dari menginap di bandara, room for rent, hostel dormitory, hotel private room, dan juga nebeng di apartemen milik kenalan di perjalanan. Dijelaskan pula berbagai macam transportasi yang dipakai, mulai dari ojek sepeda motor, minivan, bus kota, taksi, bus antar kota antar provinsi, bus wisata, kereta api dengan berbagai kelas dan juga pesawat. Tidak lupa, cara singkat belajar bahasa Vietnam dan kosakata sehari-hari dituliskan di buku ini.

Pengeluaran total keliling Vietnam dalam 15 hari adalah 2,6 juta rupiah. Sedangkan tiket pesawat Jakarta-Vietnam PP mencapai 1,9 juta rupiah (3 kali penerbangan). Mode perjalanan yang ditempuh adalah Backpacking dengan meminimalisasi dan mensiasati pengeluaran sehemat mungkin.

Rute Perjalanan

Berikut rute perjalanan saya selama backpacking ke Vietnam selama 15 hari,

Rute Perjalanan

DATA BUKU :

  • Penulis    :      Sihmanto
  • Penerbit    :    B-First (Bentang Pustaka)
  • Harga    :     Rp 34000.00
  • ISBN    :     978-979-24-3891-8

Beli bukuku yaa, terima kasih . . . .jangan lupa kritik & sarannya setelah membaca…

Terima Kasih :)

Happy Backpacking……

Sihmanto (Mantos)

15 hari keliling Vietnam : Itinerary Perjalanan

Itinerary Perjalanan (10-23 Februari / 13 hari) Lanjut membaca

15 hari keliling Vietnam : Profil Tujuan Wisata

PROFIL TUJUAN WISATA


KOTA WISATA

1. Ho Chi Minh City

Berabad-abad yang lalu, Saigon sudah menjadi pusat komersial yang sibuk. Pedagang dari Cina, Jepang dan banyak negara Eropa akan berlayar ke hulu Sungai Saigon untuk mencapai pulau di Pho, yang merupakan sebuah pusat perdagangan. Pada tahun 1874, Cho Lon bergabung dengan Saigon, membentuk kota terbesar di Indocina. Sudah bertahun-kali dirayakan sebagai Mutiara dari Timur Jauh. Setelah penyatuan kembali negara, ke-6 Majelis Nasional dalam pertemuan 2 Juli 1976, secara resmi telah membaptis ulang Saigon menjadi Ho Chi Minh City. Lanjut membaca