Hari Keberuntungan : Lunch GRATIS menu HAHAL di Ho Chi Minh City

Saya berniat melanjutkan perjalanan seusai Sholat Dzuhur di Masjid Jami’ah. Saat saya berfoto di depan Masjid, saya dikejutkan dengan sosok seseorang yang sudah tidak asing lagi bagi saya. ”Hai, kau disini lagi…?”, sapa laki-laki sebaya denganku. Dia adalah ”Pak Cik Jul”, salah seorang malaysian yang sedang bekerja di Vietnam. Saya pertama kali bertemu denganya saat sedang traveling bersama teman-teman akhir tahun lalu, disini pula kami bertemu sebelumnya. Saya berkenalan di akhir tahun lalu (Desember 2009), dan ternyata dia masih ingat dengan sosokku yang tidak berubah ini. ”Sendirian saja kesini..mana kawan-kawanmu??”, tanya dia kepada saya. Dia baru datang dan akan menunaikan Sholat Dzuhur terlebih dahulu, saya kembali duduk di serambi masjid dan menantinya. Senang sekali rasanya bertemu teman asing di negara asing. Seusai sholat, dia mengajak saya untuk makan siang di kedai belakang masjid. Sebenarnya perut saya masih kenyang, baru 2 jam lalu saya makan di Ben Than Market. Saya ikutin saja apa kata dia, jarang sekali kan bisa bertemu dan berteman dengan orang asing di negeri orang. Ternyata hanya persis dibelakang masjid, ada sebuah kedai Makanan Halal. Pemiliknya adalah orang Vietnam, tetapi mereka beragama Islam. Semua masakan yang ada disini dijamin Halal. Ternyata tempat ini adalah favorit bagi orang malaysia yang bekerja disini. Pak Jul menyapa teman2nya yang sedang menyantap hidangan di meja sebelah. Serombongan malaysian meninggalkan kedai ini dan bersalaman kepada saya, seraya berkenalan dan merasa saudara serumpun. Saya lunch bersama Pak Jul ditemani dengan satu orang supirnya. Saya sempat menolak untuk makan, karena masih kenyang. Tetapi akhirnya saya memutuskan untuk makan, buat cadangan energi sampai malam hari nanti. Kare ayam semangkuk, telur dadar, sayur, nasi putih dan juga pisang ambon sebagai penutupnya. Jamuan makan siang yang begitu mewah bagi seorang backpacker seperti saya. Walaupun perut sudah kenyang, tapi nasi sepiring pun habis juga. Ditengah-tengah makan kami ngobrol seputar perjalanan saya yang akan menyusuri seluruh kota di Vietnam mulai dari Selatan sampai Utara.

Mereka mencoba mendeskripsikan tempat-tempat yang akan saya kunjungi. Cukup berharga informasi yang mereka berikan pada saya. Karena tahun baru ”TET”, maka mulai vietnam memberlakukan Libur Nasional selama 4 hari. Libur yang terpanjang sejarah di Vietnam setiap tahunnya. Sama seperti libur lebaran di Indonesia yang sampai seminggu itu. Pak Jul memutuskan untuk pulang ke Malaysia dalam liburan tersebut, karena semua office, toko, dan aktivitas perdagangan lainya tutup. “Mau ngapain hari libur disini…???, Office tutup, toko tutup, warung banyak yang tutup …., lebih baik pulang kampung “, kata dia. Tak lama kemudian ada seorang malaysian datang lagi untuk makan siang, semuanya kenal dengan Pak Jul. Mungkin ada perkumpulan orang malaysia disini, atau memang mereka sering ketemu disini. Satu jam lebih kami ngobrol diwarung ini, tiba saatnya Pak Jul harus cabut dan kembali bekerja. Siapa yang harus bayar lunch ini ?!, tentu saja saya mengeluarkan dompet saya untuk mencoba membayar apa yang saya makan. Tapi sudah saya duga sebelumnya, Pak Jul akan membayar semuanya untuk kami. Tak ada yang lebih baik dari ucapan “Terima Kasih”, kepada setiap orang yang memberikan kebaikan kepada kita. Sampai bertemu lagi Pak Jul, di lain waktu dan lain kesempatan.

Bertemu Mr Miu Anggodo X

Sekelumit kisah menarik bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Anggodo, saya sebut dia Mister Miu Anggodo X. Sesaat setelah keluar keluar dari tempat pengambilan Bagasi di Bandara Saigon, saya melangkahkan kaki ke Money Exchange untuk menukarkan selembar Dollar Amerika yang saya bawa dari Tanah Air. Satu USD = 17.500 VND. Kurs dibandara memang agak rendah dibandingkan tempat lain, wajar karena kebanyakan orang butuh mata uang lokal, jadi tidak banyak yang protes. Saya tukar 100 USD menjadi 1.750.000 VND. Sekarang saya telah menjadi orang kaya untuk sementara waktu, dengan uang sejuta lebih di dompet. Saya melangkahkan kaki ke kerumunan orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing, ada yang menunggu kawanya keluar dari bandara, ada yang menunggu taksi datang, ada yanga menunggu dijemput, campur aduk jadi satu. Saya sempat memfokuskan perhatian saya pada orang Indonesia yang satu penerbangan dengan saya. Berharap mereka bisa diajak sharing taksi agar saya bayarnya bisa lebih ringan sampai pusat kota. Tapi tak satupun orang indonesia yang berbaik hati mengajak saya, walaupun saya sudah memasang tampang bego. Share Taxi adalah pilihan pertama, sebelum memutuskan tidur di bandara. Kelihatany tidak ada yang tertarik ngajak ngomong denganku, karena memang mereka semua sudah punya teman untuk diajak ngobrol. Saya memutuskan untuk duduk santai di teras. Termenung sendiri sambil menikmati sejuknya udara malam di Ho Chi Minh, tiba-tiba dari depan saya ada seorang bapak separuh baya datang menyapa dengan bahasa inggris yang tidak jelas. ” Where are you  from ? ”, sapa bapak itu padaku santai sambil meneguk air minum yang dibawanya. Mengamati gaya bicaranya tampak dia sedang mabuk, tapi saya amati yang dibawanya hanya sebotol air mineral. Dia lalu duduk disamping saya dan mulai bertanya mau kemana saya sekarang. Saya berubah pikiran, mungkin dia adalah calo yang akan menawari saya taksi ke pusat kota. Ternyata perkiraan saya salah, dia malah ngajak saya ngobrol kesana kemari dengan tema yang mengasyikkan. Dia tanya pada saya mau kemana, saya jawab saya  tidak punya tujuan dan hanya duduk disini sampai pagi besok. Diapun tertawa terbahak-bahak dikira aku bercanda. Dia menyarankan saya untuk bermalam di hotel dekat bandara saja, tarifnya murah sekitar 300.000 VND. Saya menolaknya, saya ingin tidur di bandara saja karena sudah terlalu malam untuk check-in hotel. Wajahnya mirip sekali dengan Anggodo, terpidana kasus yang sedang hangat di Indonesia. Tidak saya duga dengan santainya dia bertanya, apakah saya sudah punya pacar atau belum, Sudah pernah ”ML” dengan pacar atau belum, tinggal satu rumah dengan pacar atau orang tua. Saya jawab kalau saya muslim, jadi tidak boleh satu rumah dengan pacar, tidak boleh ciuman dengan pacar, tidak boleh ML dengan pacar sebelum menikah. Diapun terkejut, seolah apa yang saya ucapkan adalah hal yang tidak wajar. Sampai dia tanya lagi, ”Berciuman saja tidak boleh..???”. Saya tegaskan berciuman terlarang, tapi ada juga yang melanggarnya. Saya katakan hanya boleh berjabat tangan dengan pacar. Dia benar2 seperti melihat sesosok orang suci didepanya, sampai dia menyalamiku dan mengatakan ”Good Boy ” berkali-kali. Dia memberi tahu saya, kalau pada malam minggu akan ada Pesta besar-besaran diseluruh penjuru Vietnam mulai dari selatan ke utara. Karena peringatan tahun baru ”TET” di Vietnam. Akan ada pesta kembang api yang meriah ditengah malam, dan dia minta saya tidak melewatkan moment tersebut. Informasi yang sangat berhaga bagi saya, dan selalu saya ingat dan bayangkan. Setelah ngobrol lebih dari ½ jam dengannya, dia berpamitan akan menjemput temanya yang datang dari Hongkong dan Amerika malam ini. Dia mengucapkan salam perpisahan ” Goodbye, Allah bless you, Always with you  ”.

Nikmatnya Tidur di Airport HCMC


Foto : Terminal Domestik Saigon (Tan Son Nhat)

Perjalanan di Vietnam saya awali dari Selatan menuju ke Utara. Menyusuri semua Kota Wisata mulai dari Ho Chi Minh City sampai Sa Pa di perbatasan Vietnam dengan China. Saya memilih penerbangan langsung dari Jakarta ke Saigon dengan pesawat Air Asia tarif economy promo. Booking tiket sebulan sebelum keberangkatan, saya mendapatkan harga yang cukup murah, yaitu Rp 494.000,- (sudah termasuk bagasi 15 kg). Berangkat dari Jakarta tanggal 10 Februari 2010 dan rencana kembali ke Jakarta pada tanggal 24 Februari 2010. Tinggal di Bekasi, saya memilih naik angkutan umum Airport Bus dari Bekasi ke Terminal 2 Bandar Udara Soekarno Hatta. Perjalanan dari bekasi memakan waktu kurang lebih 1 jam, jika kondisi jalan tidak macet. Pesawat terbang dari Jakarta pukul 16.35 jika sesuai jadwal di tiket. Tetapi pagi sebelum keberangkatan, saya mendapatkan pemberitahuan akan penundaan keberangkatan dari pihak maskapai. Inilah ujian pertama saya, dengan penundaan selama 2 jam maka saya akan tiba di Ho Chi Minh City sekitar jam 10 malam. Sudah tidak ada Airport Bus dari Bandara Saigon ke Pusat Kota karena Airport Bus paling akhir pada jam 8 malam. Saya berencana akan menginap di Yellow House Hotel di pusat kota Ho Chi Minh setelah sampai disana. Saya akan mamilih Dormitory yang tarifnya lumayan murah, yaitu 5 USD/malam. Tetapi sekali lagi keadaan membuat saya harus berfikir dan merubah itinerary yang masih hangat ini. Pesawat berangkat sekitar jam 18.30 WIB, sehingga sampai di Saigon sekitar pukul 21.30 tanpa perbedaan waktu dengan jakarta. Begitu sampai di bandara Tan Son Nhat Saigon, saya memutuskan untuk menginap di Airport saja. Karena jika saya menggunakan Taksi ke pusat kota sendirian bisa menghabiskan uang 200.000 VND (setara dengan 100.000 rupiah). Padahal jika kita menggunakan Airport Bus, hanya membayar 3.000 VND (setara dengan 1.500 rupiah). Perbandinganya sangat amat jauh sekali bukan ..???!!!. Transportasi dari Saigon Airport ke Pusat Kota hanya ada 3 pilihan sebagai berikut,

  1. Airport Bus : Berada di Depan Domestic Terminal (200 meter dari International Terminal) yang beroperasi mulai jam 7 AM – 8 PM. Nomor bus 152 yang berakhir di Terminal Ben Than, persis diseberang Ben Than Market. Bus ini juga melewati Pham Ngu Lao St, dimana disepanjang jalan ini adalah pusatnya backpacker di Ho Chi Minh City. Banyak sekali Hostel murah disekitar jalan ini, ditandai dengan padatnya lalu lintas dan banyaknya turis barat bersliweran disepanjang jalan. Tarif murah meriah, hanya VND 3.000,- yang setara dengan Rp 1.500,-. Sangat murah karena transportasi ini milik negara, atau jika di Indonesia adalah Bus Damri. Bus melintas di Airport sekitar ½ jam sekali, hanya berhenti selama kurang dari 10 menit di depan Domestic Terminal.
  2. Taksi : Pilihan cepat dan mudah adalah menggunakan jasa taksi, tetapi jatuhnya akan mahal. Jika sendirian akan terasa sangat mahal, tetapi jika rombongan atau gabung dengan orang lain akan menjadi lebih murah jatuhnya per orang. Taksi berada disepanjang pintu keluar bandara, tinggal memilih saja sesuka kita. Taksi yang direkomendasikan adalah Mai Linh Taxi, yang terkenal dengan pelayananya yang bagus, tetapi tarifnya agak lebih malah. Mungkin sebanding dengan Blue Bird di indonesia. Taksi Mai Linh ada di sepanjang Kota Wisata Vietnam mulai dari selatan hingga utara. Taksi ini meliliki warna putih strip hijau di bawah, dan tulisan Mai Linh berwana hijau di lambung Taksi. Alternatif lainya di Ho Chi Minh adalah Vinasun Taxi, yang mungkin lebih murah daripada Mai Linh.
  3. Ojek : Pilihan ketiga dalah Ojek sepeda motor yang berada di luar area bandara. Cukup berjalan 1 km ke jalan raya, dipinggir jalan dekat perempatan pasti ada tukang ojek yang nongrong dan baik hati menawarkan jasanya. Vietnam merupakan negara yang banyak memiliki tukang Ojek mulai vietnam selatan hingga vietnam utara. Menggunakan jasa Ojek akan lebih murah daripada Taksi, mungkin bisa separohnya. Jika berpergian sendiri, tidak ada salahnya mencoba armada ini. Tawar menawar adalah kuncinya, jika anda tidak malas menawar pasti akan mendapatkan harga yang bagus. Tapi tidak semua tukang ojek bisa bahasa inggris, sebagian besar tidak bisa

Mencari tempat tidur yang nyaman di bandara ternyata susah juga. Saya 3 kali harus berpindah tempat, sampai pada akhirnya menemukan tempat yang sunyi, nyaman dan tanpa gangguan. Sebelumnya saya tidur di ruang tunggu kedatangan, banyak sekali orang disana, sehingga berisik dan saya tidak bisa tidur.Saya memperhatikan layar informasi keberangkatan dan kedatangan pesawat yang terpampang di layar monitor ruang tunggu tersebut. Saya berharap ada penerbangan internasional dini hari atau pagi hari, sehingga saya bisa masuk ke ruangan check in dan berpura-pura menunggu pesawat. Ternyata benar, ada penerbangan sampai jam 4 pagi. Setidaknya saya bisa pura-pura menunggu sampai jam 4 pagi, habis itu bangun dan pura-pura menunggu penerbangan paginya lagi. Bandara Saigon tidak seperti Soekarno Hatta, dimana setiap masuk ruang keberangkatan tidak dilakukan pemeriksaan tiket dan bagasi. Di Saigon siapapun bisa bebas keluar masuk ruang check-in tanpa harus membawa tiket pesawat dan melewati pemeriksaan bagasi. Beruntung sekali saya bisa masuk ruangan check in, dan berpura-pura menunggu penerbangan untuk keesokan harinya dengan tidur pulas di bangku dengan posisi terlentang. Bangun jam 4 pagi sesuai rencana, ruangan remang-remang dan tidak ada satu orang pun yang berada bersama saya untuk menunggu pesawat. Waktu yang tepat untuk melanjutkan tidur yang belum puas, sampai suara sepatu yang mengetok ubin membangunkan saya. Ada satu dua orang datang dan duduk di seberang bangku yang saya tempati. Segar rasanya membasuh muka degan air, menggosok gigi, dan merapikan rambut dengan sisir mungil. Lalu melangkahkan kaki selayaknya orang lain yang akan bergegas check in untuk penerbangan pagi. Tetapi kakiku bukan menuju ke meja check-in, melainkan melangkah meninggalkan ruangan dan menuju Domestic Terminal. Jam 7 pagi lebih Bus Kota Nomor 152 terlihat parkir didepan Bandara, bergegas mempercepat langkah untuk menggapainya. Menuju ke pusat kota Ho Chi Minh City

Telah Beredar : 2 juta keliling Vietnam dalam 15 hari

Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabarn, pulang kerja kemarin saya iseng2 main ke toko buku Gramedia di D-Best PlazaFatmawati bersama teman SMA saya (Agus). Ternyata buku saya telah tertata rapi di rak buku bersama buku-buku traveling lainya di sebuah rak buku. Semula saya mencari di rak buku baru tidak ketemu, malahan teman SMA saya yang menemukan buku saya terletak di rak bareng buku2 traveling lainya tersebut. Betapa senangnya hati ini bisa menyaksikan langsung keberadaan buku karya perdana saya telah beredar di toko buku. Teman saya pun membeli buku tersebut, dan mendapat tanda tangan pertama dari saya selaku penulis hehe……ini tanda tangan pertamaku di buku perdanaku lh :D (banggga dunk pastinya sebagai pembeli hehe..)


Ayoo teman2….buruan beli bukunya, dan buruan jalan-jalan ke Vietnam yang eksotis, unik, dan menarik …..!!!



Bookmark and Share

Buku Terbaru : 2 Juta Keliling Vietnam dalam 15 Hari

Backpacking to Vietnam (10 – 24 Februari 2010)

Alhamdulilah, akhirnya karya pertama saya terbit juga. Buku  berjudul ” 2  Jutaan Keliling Vietnam Dalam 15 Hari “ telah beredar di toko buku Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung dan toko buku opnline inibuku.com dan bukukita.com. Berawal menjadi pemenang “Lomba Keliling Dunia Bersama Bentang”, selama 15 hari saya backpacking sendirian menyusuri Vietnam mulai dri Selatan hingga Utara. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh Bentang Pustaka dan cerita perjalanan diabadikan dalam sebuah buku yang diterbitkan langsung oleh Penerbit B-First (Bentang Pustaka)

Cover Buku

Deskripsi Buku :

Buku ini berisi tentang perjalanan backpacking saya menyusuri 8 Kota Wisata (Ho Chi Minh, Dalat, Nhatrang, Danang, Hue, Hanoi, Halong, Sapa) dan 4 Situs UNESCO World Heritage (Hoi An, My SOn, Hue, Halong Bay) yang tersebar mulai dari Vietnam Selatan sampai Vietnam Utara selama 15 hari. Memang Vietnam belum se-populer Thailand, Singapura, Malaysia, & Hongkong sebagai daerah tujuan wisata bagi para traveler dari Indonesia. Mungkin seperti peribahasa ” Gajah dipelupuk mata tidak tampak “, seperti halnya Vietnam yang jaraknya cukup dekat dengan Indonesia tetapi kecantikanya tidak terlihat oleh kita yang berada di Indonesia. Dengan tersedianya penerbangan langsung dari Jakarta ke Ho CHi Minh City, tak ada salahnya kita mengintip kecantikan Vietnam yang tidak kalah dari negara-negara tetangganya.

Buku ini mengulas ragam destinasi wisata Vietnam yang sangat lengkap, yaitu mulai dari wisata sejarah, wisata perang vietnam, wisata kota, wisata kota tua, wisata kampung tua, wisata kebun bunga, wisata pantai, wisata gua, wisa teluk, wisata gunung, wisata candi, wisata ziarah, wisata budaya tradisional, dan tentu saja wisata kuliner khas setempat.

Dalam buku dijelaskan berbagai macam penginapan yang ditempati, mulai dari menginap di bandara, room for rent, hostel dormitory, hotel private room, dan juga nebeng di apartemen milik kenalan di perjalanan. Dijelaskan pula berbagai macam transportasi yang dipakai, mulai dari ojek sepeda motor, minivan, bus kota, taksi, bus antar kota antar provinsi, bus wisata, kereta api dengan berbagai kelas dan juga pesawat. Tidak lupa, cara singkat belajar bahasa Vietnam dan kosakata sehari-hari dituliskan di buku ini.

Pengeluaran total keliling Vietnam dalam 15 hari adalah 2,6 juta rupiah. Sedangkan tiket pesawat Jakarta-Vietnam PP mencapai 1,9 juta rupiah (3 kali penerbangan). Mode perjalanan yang ditempuh adalah Backpacking dengan meminimalisasi dan mensiasati pengeluaran sehemat mungkin.

Rute Perjalanan

Berikut rute perjalanan saya selama backpacking ke Vietnam selama 15 hari,

Rute Perjalanan

DATA BUKU :

  • Penulis    :      Sihmanto
  • Penerbit    :    B-First (Bentang Pustaka)
  • Harga    :     Rp 34000.00
  • ISBN    :     978-979-24-3891-8

Beli bukuku yaa, terima kasih . . . .jangan lupa kritik & sarannya setelah membaca…

Terima Kasih :)

Happy Backpacking……

Sihmanto (Mantos)

15 hari keliling Vietnam : Itinerary Perjalanan

Itinerary Perjalanan (10-23 Februari / 13 hari) Lanjut membaca

15 hari keliling Vietnam : Profil Tujuan Wisata

PROFIL TUJUAN WISATA


KOTA WISATA

1. Ho Chi Minh City

Berabad-abad yang lalu, Saigon sudah menjadi pusat komersial yang sibuk. Pedagang dari Cina, Jepang dan banyak negara Eropa akan berlayar ke hulu Sungai Saigon untuk mencapai pulau di Pho, yang merupakan sebuah pusat perdagangan. Pada tahun 1874, Cho Lon bergabung dengan Saigon, membentuk kota terbesar di Indocina. Sudah bertahun-kali dirayakan sebagai Mutiara dari Timur Jauh. Setelah penyatuan kembali negara, ke-6 Majelis Nasional dalam pertemuan 2 Juli 1976, secara resmi telah membaptis ulang Saigon menjadi Ho Chi Minh City. Lanjut membaca

Ben Thanh Market : The Bigest Market @ Ho Chi Minh City, tendangan maut mendarat di bokongku

Ben Thanh Market (19 Desember 2009)

Ben Thanh Market

Kejadian kekerasan pada pembeli terjadi pada saya waktu mengunjungi pasar tradisional terbesar di Ho Chi Minh City – Vietnam. Setelah sarapan pagi di guest house, kami ber-5 memutuskan jalan kaki menikmati kota Ho Chi Minh City yang sedang sibuk di pagi hari. Tujuan pertama saya dan teman2 adalah Ben Thanh Market yang letaknya paling dekat dengan guest house kami. Ben Thanh Market merupakan pasar tradisional yang tersbesar di kota ini. Bentuk bangunan kuno yang khas menjadi daya tarik sendiri bagi para fotografer untuk membidik dengan kameranya. Ben Thanh market berbentuk persegi yang panjang sisinya sekitar 200 meter. Didalam pasar terdapat banyak barang dagangan mulai dari perabot rumah tangga, kaos, kain, bahan makanan pokok, sampai, souvenir menarik. Lanjut membaca