”Why so serious……”, hape saya bergetar dan ringtonenya berbunyi. Sms saya terima, Marijo menanyakan apakah kita jadi makan siang bersama hari ini. Kesempatan makan bareng dengan teman tidak mungkin saya lewatkan. Kami bertemu dia di depan pintu gerbang Ngoc Son Temple. Dia nampak memakai pakaian kerja, dandananya rapi seperti orang kantoran. Orang Filipina memang sekilas nampak seperti orang Indonesia, sampai saya kadang latah ngomong pakai bahasa Indonesia denganya. Dia sekarang sedang istirahat siang sampai jam 1 nanti. Andrian dan seorang temanya sudah menunggu di ujung jalan, kami segera menemuinya. Semula saya ditawari makan ”Bun Cha”, yaitu seperti barbeque yang berisi daging babi. Sebenarnya saya tidak tau kalau Bun Cha mengandung daging babi, dia tidak menyebutkannya tersirat. Saya hanya ngomong ke dia, lunch apa saja boleh asalkan tidak mengandung ”pork”. Begitu saya mengatakan demikian, mereka membatalkan niat untuk makan Bun Cha dan mengganti dengan makanan lain. Saya diajak makan ”Bit Tet”, yaitu semacam steak daging sapi diatas hot plate, ditambah 2 telur yang diceplok diatasnya langsung. Tidak ada nasi disini, hanya ada roti prancis sebagai pengganti nasi. Makanan ini kami temukan di pinggir jalan, seperti warung biasa saja. Memang kami mempunyai selera yang sama mengenai pemilihan tempat makan. Lebih baik makan di pinggir jalan bersama teman, daripada makan di restauran mewah sendirian. Makan diwarung pinggiran memang lebih terasa nuansa kebersamaannya. Dengan ditambah satu orang teman baru saya, yaitu seorang wanita vietnam temanya Andrian (saya lupa namanya), maka suasana semakin meriah. Kami juga tidak mengalami kesulitan saat order makanan dengan bahasa Vietnam, karena dia bisa dijadikan penerjemah. Makan siang tanpa nasi memang tidak membuat perut ini kenyang, tapi apa boleh buat kalau kebiasaan mereka seperti ini. Saya sebagi tamu di sini, ngikut aja apa kata tuan rumah yang mau men-traktir. Anehnya makan disini, kita tidak ditawari mau minum apa seperti di Indonesia. Dan di warung ini sepertinya juga tidak menyediakan minuman, kalau kita minta minum mungkin akan dicarikan di warung sebelah yang jual minuman. Setelah mencicipi lunch ringan, saya diajak mencari minuman di sisi jalan yang lain. Kini saya diajak minum minuman pinggiran khas kesukaan orang Vietnam. Siapa sih yang tidak mau diajak wisata kuliner di negara lain, nurut saja lah. Marijo menyebut minuman ini dengan nama inggris ”Sugar Juice”, kalau begitu berati mirip dengan ”Cao” di Indonesia. Begitu sampai di tempatnya, hanya ada bapak-bapak yang berjualan minuman kaleng dipinggir jalan. Teman baru saya dari vietnam itu mencoba bertanya, apakah dia menjual minuman ”jus gula” tersebut. Biasanya ditempat ini dia bisa menemukan minuman tersebut. Ternyata benar, penjual tersebut harus membuatnya dahulu didalam rumah. Saya diminta Marijo untuk masuk, melihat proses pembuatan dari jus gula tersebut. Tapi saya memilih untuk menunggu hasil jadinya saja, duduk di dingklik pendek pinggir jalan. Sekitar 10 menit kami menunggu, bapak penjual membawa segayung jus gula dan menyiapkan 3 gelas berisi es batu. Jus segayung dibagi menjadi 3 gelas, teman saya Andrian tidak begitu menyukainya jadi kami hanya memesan 3 gelas. Begitu mencicipi rasanya, lidah saya mengatakan ini adalah rasa dari air tebu. Setelah saya tanya pada Marijo tentang bahan dari jus ini, kata dia berasal dari batang pohon penghasil gula. Tak salah lagi kan, ini adalah air tebu yang sama seperti yang biasa dijual di pinggiran jalan di Indonesia. Tapi beda lah, ini kan pohon tebu dari Vietnam, bukan dari Indonesia. Ketika saya ingin mengabadikan tempat ini, saya terkejut karena kamera saku saya tidak ada. ” I am forget my camera….”, ucapku diantara perbincangan kami. ”Camera…….you forgot your camera….??, tanya Marijo tak percaya. Saya teringat terakhir kali saya menggunakan kamera adalah ketika saya mengambil gambar Bit Tet diwarung sebelumnya. Menurut perkiraan saya, kamera tertinggal di meja makan dan saya lupa membawanya saat pergi. Marijo segera berdiri dan menemani saya menuju ke warung tadi, sementara Andrian dan teman wanitanya menunggu ditempat ini. Marijo tampak serius membantu saya, dengan sepatu semi highheel dia berjalan sangat cepat. ”Are you OK…..?”, tanyaku kepadanya karena saya melihat dia tidak nyaman jalan cepat-cepat dengan sepatunya. ”Don’t worry….I am very confort use my shoes”. Sesampainya di warung, Marijo membantu saya bertanya ke penjual tentang kamera saya yang mungkin ketinggalan dimeja sini. Dengan bahasa Vietnamnya yang mesih belum lancar, penjual nampak tidak begitu paham dan mengerti masalahnya. Sementara saya sibuk mencari kamera disela-sela meja makan yang sedang ditempati oleh pengunjung lain. Tak kehilangan akal, Marijo telpon temanya orang Vietnam tadi dan menyerahkan handphonenya pada si penjual. Saya sudah menyerah, mungkin memang sudah diambil orang dan dibawa pulang. Saat si penjual sedang bicara ditelpon, tiba-tiba saya menemukan kamera saya terselip di antara kertas di tas saya. ”Marijo…..i am so sorry…..i just found my camera here….”, dia tersenyum dan mengatakan pada si penjual kalau sudah ketemu. Betapa malunya diriku, membuat semua orang menjadi repot karena keteledoranku. Kami kembali ke warung es tebu tadi, menghabiskan minuman yang tadi masih belum habis. Sepertinya waktu istirahat teman-teman saya ini sudah habis, kami berpisah disini untuk sementara waktu.
Arsip Kategori: Hanoi
Halong Bay : Dari nenek2 yang bikin bete sampai Bocah2 yang bikin ceria…
1 Day Tour to Halong Bay
Pagi hari jam 7 saya sudah keluar dari kamar hotel, menunggu jemputan minbus yang akan membawa saya menuju dermaga perahu wisata. Pintu hotel nampak masih terkunci, penjaga hotel juga masih terlelap tidur di kamar depan. Begitu saya menampakkan suara, penjaga pun bangun dan membukakan pintu hotel untuk saya. Satu jam saya menunggu di loby hotel, tapi tak satupun minibus yang mampir menjemput saya. Kelihatanya saya memang sendirian dihotel ini yang mengambil paket tour tersebut. Jam 8.15 seseorang membawa sepeda motor berhenti didepan hotel, selanjutnya bertanya pada saya tentang paket tour. Mungkin karena saya hanya sendiri, jadi tidak efektif bila dijemput dengan minivan. Saya diantarkan menggunakan sepeda motor ke dermaga perahu. Sebenarnya memang tidak jauh dari hotel, jalan kaki mungkin cuman 20 menit. Perahu sudah terisi oleh beberapa orang, kebanyakan dari mereka adalah wisatawan lokal. Saya melihat ada seorang britanian yang asyik membaca sebuah buku. Saya punya teman sesama orang asing disini, lumayan bisa jadi teman ngobrol. Perahu berangkat jam 9, tidak sesuai yang dijadwalkan. Cuaca terlihat kurang bersahabat, kabut nampak menyelimuti kota ini. Perahu mulai berjalan meninggalkan dermaga menuju Halong Bay. Saya tidak tau rute sebenarnya yang akan diambil oleh perahu ini. Lima belas menit perjalanan, perahu mulai merapat ke sebuah dermaga yang terletak di pinggir bukit kapur yang terdekat. Banyak sekali perahu yang bersandar disana, diatas bukit nampak lambang UNESCO World Heritage terpampang dengan jelas. Penumpang perahu mulai turun ke dermaga, menuju sebuah pintu masuk keramaian. Ternyata disana terdapat sebuah Gua besar, inilah destinasi pertama tour kali ini. Nahkoda perahu membagikan tiket kepada semua penumpang, kecuali saya. Saya sempat protes kepadanya, kenapa saya tidak diberikan tiket gratis. Tetapi dia bersikeras tidak memberikannya pada saya, membuat saya sedikit kehilangan mood untuk berwisata. Saya mencoba pinjam tiket yang dibawa teman saya dari inggris tersebut, ternyata tiket yang dia bawa bertuliskan included entrace ticket. OK, saya menyerah karena kesalah pahaman pemesanan paket tour ini. Saya tidak akan masuk Caves ini, saya tidak tertarik untuk masuk Gua ini. Teman saya dari Inggris setia menunggu saya, tetapi saya persilahkan untuk masuk duluan saja. Tinggal saya sendirian disini, sedangkan nahkoda perahu telah memindahkan perahunya ke pintu keluar Gua. Sekian lama saya larut dalam ke-betean ini, akhirnya saya berfikir logis. Jika saya tidak masuk Gua ini, saya tidak akan bisa kembali ke perahu saya, karena perahu sudah pindah ke dermaga depan pintu keluar Gua dibalik bukin kapur ini. Tiket seharga 40.000 VND akhirnya terpaksa saya beli, segera saya berlari menaiki anak tangga menuju pintu masuk gua ini. Mempercepat langkah untuk menemukan teman serombongan tadi. Ditengah Gua saya akhirnya menemukan teman saya dari Inggris. Gua ini memang sangat besar, memiliki stalaktit dan stalakmit yang indah. Lampu hias warna warni sengaja ditambahakan sebagai penerangan dan mempercantik interior gua. Manusia berjejal didalam berjumlah ratusan. Saya adalah orang yang memiliki penyakit ”Panic Room”, syndrome perasaan tidak tenang jika berada di ruang tertutup. Jadi saya tidak betah lama-lama di tempat tertutup seperti ini. Sampai di pintu keluar, perahu sudah menunggu, jika rombongan sudah berkumpul maka perahu akan melanjutkan perjalanan mengililingi bukit-bukit kapur yang tersebar di Halong Bay.
Serombongan dengan Nenek2 yang bikin bete
Semua rombongan sudah lengkap, saatnya melanjutkan perjalanan mengelilingi bukit kapur di Halong Bay. Nahkoda kapal menginstruksikan kepada rombongan untuk naik perahu yang sudah bersandar. Nampaknya ini bukan hari baik bagi saya, kembali saya mendapat ketidaknyamanan. Yang memilih paket tour 6 jam saja yang boleh masuk ke perahu, sedangkan yang memilih paket tour 4 jam dioper ke perahu lain. Dan sialnya, ternyata hanya saya saja yang mengambil paket 4 jam di rombongan tersebut. Saya di oper ke perahu lain yang masih bersandar dan menunggu rombongan lain datang. Dengan sabar saya menerima keadaan yang tidak mengenakkan ini. Setelah sekian lama menunggu, tak juga nampak tanda-tanda perahu mau berangkat. Sementara perahu-perahu di sebalah saya satu demi satu meninggalkan dermaga. Saya mencoba bertanya pada 2 orang awak perahu ini, jam berapa akan berangkat ke Halong Bay. Tak seorangpun dari mereka bisa bahasa Inggris, ngomong cas cis cus yang tidak saya mengerti makksudnya. Dua orang awak perahu tersebut lalu keluar dari dalam perahu, seolah-olah resah menunggu rombongan yang lama sekali belum keluar dari gua. Kembali saya bertanya pada awak perahu yang lain, dia perempuan, siapa tau bisa bahasa Inggris. Kapan perahu ini akan berangkat ??, dia hanya menjawab dengan satu kata ” Now….”. Kuping saya yang sudah sensitif sulit menerima kata yang dia ucapkan, dia bilang ”Now” atau ”No” ya, keduanya memiliki arti yang sangat berbeda. Saya kembali bertanya padanya, dan dia jawab lagi dengan berteriak ”Now…”, kali ini saya tidak salah dengar nampaknya. Dia kelihatan melihat serombongan yang menuju ke perahu ini. Alahkah terkejutnya ketika saya melihat seorang nenek yang usianya sudah lebih dari 80 berada dalam satu rombongan tersebut. Nenek itu berjalan dengan sangat lambat, maklum sudah lanjut usia. Baru saya tahu kenapa rombongan ini begitu lambat. Bayangin saja, seorang nenek berusia 80 tahun harus trekking didalam gua yang memiliki anak tangga naik dan turun. Harap maklum dan bersabar saja satu rombongan dengan lansia ini. Perahu meninggalkan dermaga sekitar pukul 11.30, itu artinya pukul 14.00 saya baru sampai di dermaga Halong City. Cuaca yang kurang bersahabat membuat keindahan Halong Bay berkurang, kabut putih membuat bukit-bukit kapur yang tersebar di teluk tersebut terlihat suram. Saya tidak bisa mengambil foto lanskap yang bagus, karena jika dari kejauhan pemandangan akan nampak suram. Sungguh indah sebenarnya pemandangan disini, air tenang dan gugusan bukit kapur membuat kita serasa berada di negeri Avatar. Ini adalah musim Autumm di daerah ini, waktu paling bagus berkunjung adalah pada musim panas diantara bulan Mei – Agustus. Saya ingin kembali kesini pada bulan tersebut untuk waktu mendatang, dan memilih paket tour untuk 6 jam atau 3 hari, pasti mantab dan puas.
Di tengah perjalanan perahu bersandar pada sebuah keramba ikan di tengah teluk. Semua penumpang dipersilahkan turun untuk berbelanja hasil laut di teluk ini. Tempat ini adalah pasar apung yang menjual ikan, udang, lobster, cumi, kerang, dan kepiting dalam keadaan masih hidup. Ada berbagai jenis ikan disini, mulai dari yang kecil sampai yang sebesar paha. Para pengunjung bebas memilih mana saja yang hendak dibeli, selanjutnya penjual akan menimbangnya dan meberikan harga. Awak kapal menyuruh saya membeli untuk makan siang nanti, tapi saya hanya tersenyum menolaknya. Disamping keramba, terdapat pula ibu dan anak kecilnya yang menjajakan daganganya berupa buah-buahan menggunakan sampan kecil. Diantara buah buahan yang dijual adalah buah naga, pisang, jambu, nanas, surikaya, apel, jeruk dan lain-lain. Saya salut dengan perjuangan ibu dan anak perempuanya yang masih berusia kurang dari 12 tahun tersebut. Hanya bermodal sampan kecil yang muat dua orang dan barang daganganya, tanpa pengaman apapun mereka berlayar keliling keramba ikan yang ada disini. Perlahan lahan ibu itu mendayung sampan menjauhi kami, menuju keramba ikan yang lainya untuk menjajakan daganganya. Rombongan penumpang perahu saya juga sudah mulai kembali masuk ke perahu, membawa sekantong kresek hasil laut yang mmereka beli dari tempat ini. Saya adalah satu-satunya orang asing ditempat ini, sepertinya yang berada dalam satu perahu ini adalah sekeluarga.
Anak2 Vietnam yang membuatku kembali Ceria
Perahu perlahan meninggalkan dermaga ini, berputar mengelilingi bukit-bukit kapur selanjutnya. Jika kita membeli hasil laut dikeramba tadi, awak perahu akan memasakkan untuk kita. Saya melihat awak perahu sibuk mengolah hasil laut yang dibeli oleh serombongan penumpang perahu ini. Setengah jam kemudian masakan siap dihidangkan, semua penumpang bergegas ambil posisi untuk menikmati makan siang di perahu ini. Saya tetap pada posisi saya di depan dek kapal, menikmati indahnya hamparan bukit kapur di sepanjang perjalanan. Anak-anak vietnam yang lucu-lucu menghampiri saya dan bertanya dalam bahasa inggris sekolah dasar yang mereka punya ” What your name…??? ”, tanya mereka pada saya. Anak – anak itu bisa bahasa inggris dengan baik, walaupun kosakatanya masih minim, kenapa orang tua mereka sama sekali tidak bisa ya. ” Are you hungry….???”, anak lain keluar dari dalam perahu dan bertanya pada saya. Sudah jalas saya lapar, dengan mantabnya saya menjawab ”Yes, i am hungry…”. Bocah itu masuk lalu keluar lagi, mengajak saya ikut makan bersama mereka. Saya merasa tidak nyaman saja, mungkin hanya basa-basi dari orang tua mereka, saya menolaknya dengan lembut. Bocah-bocah Vietnam ini sangat lucu, ada 3 orang bocah berusia 9 tahunan yang selanjutnya selalu menemaniku sepanjang perjalanan pulang. Mereka silih berganti bertanya pada saya, ”Do you like fish..??”, ”Do you like bird..??”, “Do you like Halong Bay..??”, “Do you like Vietnam….”. Bocah bocah ini masih lugu, dan suka sekali di foto. Begitu saya mengambil posisi memotret dengan kamera, mereka langsung ambil posisi dan ACTION. Malahan bocah ini mengajak saya foto bersama-sama. OK, kamera saya set timer dan saya pun berfoto bareng bersama bocah-bocah polos dari anak negeri ini. Tak terasa perahu sudah semakin dekat dengan dermaga Halong City. Bocah-bocah itu menyampaikan salam perpisahan dan melambaikan tangan pada saya saat saya meninggalkan perahu ini. Waktu sudah menunjukkan jam 2 siang, saya buru-buru kembali ke hostel untuk melanjutkan perjalanan ke Hanoi. Ini adalah kesialan saya yang ketiga sepanjang hari ini. Bus ke Hanoi sudah berangkat pukul 12.30 siang tadi, jadi saya terlambat. Memang sewaktu booking tiket tour kemarin, Bus dijadwalkan berangkat pukul 12.30. Perkiraan tour dengan boat selama 4 jam mulai dari jam 8 pagi sampai jam 12 siang. Nyatanya saya mendapat berbagai rintangan di lapangan, mulai dari keterlambatan keberangkatan, di oper ke perahu lain, sampai yang paling menentukan keterlambatan adalah gara-gara “Serombongan dengan Nenek Lansia”. Akhirnya saya harus menunggu bus berikutnya pukul 16.00, yang akan membawa saya pulang ke Hanoi.
Marathon Hue to Hanoi : Perjalanan bukan sekedar Destinasi
Perjalanan Bukan Sekedar Destinasi
Dalam perjalanan saya ke Vietnam, inilah misi yang sejak dari awal saya prediksi paling sulit untuk diselesaikan. Selain tempatnya yang jauh dari kota, posisinya juga berada di sebuah pegunungan yang waktu tempuhnya dari Dong Hoi memakan waktu 6 jam lebih. Bagi saya, perjalanan bukan sekedar destinasi. Keluar dari stasiun Dong Hoi kembali saya disambut dengan cuaca yang tidak bersahabat, gerimis lembut menemani perjalanan saya menuju pusat kota Dong Hoi. Saya memilih untuk jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, berharap menemukan terminal bus atau travel agent yang bisa mengantar saya menuju Phong Nha Ke Bang, salah satu taman nasional di Vietnam yang memperoleh gelar Natural World Heritage oleh UNESCO. Pong Nha Ke Bang merupakan sebuah Gua kapur yang besar, terletak di pegunungan kapur sebalah barat laut kota Dong Hoi. Wisata yang ditawarkan adalah trekking menggunakan boat memasuki gua yang lebar dan panjang tersebut, sungguh mengasyikkan bukan. Dong Hoi merupakan kota kecil, tidak lebih besar dari kota Klaten, kampung halaman saya. Pagi hari masih belum banyak aktivitas warga disini, hanya terlihat tukang ojek yang bergantian menawarkan jasa kepada saya. Disamping kanan kiri terdapat ruko-ruko yang nampak baru didirikan. Hampir satu jam lebih saya berjalan kaki menyusuri pusat kota ini, pundak saya terasa terbakar memanggul backpack. Sampai pula saya di terminal Dong Hoi, terminal yang berisi minibus dan bus sebesar metromini, jumlahnya pun tak lebih dari 10 buah. Saya mencoba masuk dan bertanya kepada seseorang yang memberikan layanan tiket disana. Tak seorangpun bisa berbahasa inggris, sampai saya harus menggambar dan menunjukkan peta Phong Nha Ke Bang di print-out yang saya bawa. Lalu salah seorang dari mereka menunjukkan saya tempat, yaitu Ben Xe Namly atau Terminal Namly. Saya tidak tau apa yang dia katakan, letaknya dimana saya juga tidak tahu, dia hanya menunjuk arah dan berbicara dalam bahasa vietnam yang tidak saya mengerti. Terpaksa saya mengandalkan tukang ojek di depan terminal untuk mengantar saya. Sampai di Ben Xe Namly, suasananya tak jauh beda. Hanya ada satu bus yang parkir disana, dan saya tidak menemukan bus bertuliskan trayek ke Phong Nha Ke Bang. Sementara gerimis terus mengguyur kota ini. Tukang ojek berusaha mmbantu saya menanyakan ke petugas di terminal yang sepi tersebut. Dia kembali dengan penuh semangat memberi tahu saya dengan bahasa vietnam, percuma saja saya tidak mengerti maksudnya. Dia aku suruh menulis dan menggambar di kertas kosong tentang informasi tersebut. Baru saya paham maksudnya, bahwa untuk menuju ke Phong Nha Ke Bang memerlukan waktu kurang lebih 6-7 jam. Jika berangkat jam 8 pagi, maka sampai sana jam 2 siang. Jadi pulang ke Dong Hoi paling cepat jam 10 malam. Tambah pusing saja saya mendengar penjelasanya. Saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika saya memaksakan ke Phong Nha, bisa-bisa destinasi berikutnya akan tidak tercapai dan membahayakan kepulangan saya ke Indonesia. Sejenak saya berfikir, tukang ojek pun hanya tersenyum melihat saya terlihat putus asa. Saya memandang ke langit, cuaca kelihatanya tidak bersahabat pula untuk melanjutkan perjalanan ke Phong Nha. Kalau di Dong Hoi saja gerimis sepanjang hari, apalagi di pegunungan sana. Saya memutuskan untuk membatalkan destinasi ini, dan meminta tukang ojek mengantar saya ke jalan raya 1A untuk mencegat Bus umum jurusan Hanoi. Diantarlah saya ke jalan raya 1A, jalan raya utama yang dilewati bus antar kota. Seperempat jam saya menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bus jurusan Hanoi lewat jalan ini. Datanglah sebuah minibus dengan papan nama didepanya bertuliskan ”VINH”, merupakan ibukota Provinsi Quang Binh. Kernet bus menawari saya dengan berteriak ”Vinh….”, saya jawab dengan teriakan ” Hanoi….”. Kembali kernet tersebut berteriak ” Vinh ….Hanoi”, sambil memberikan isyarat kepada saya kalau dari Vinh nanti oper Bus ke Hanoi. Dalam keadaan seperti ini kita dituntut untuk berfikir cerdas dan cepat, karena kesempatan baik belum tentu akan datang dua kali. Yang jelas kita juga harus mempertimbangkan resiko yang ada, jangan sampai asal-asalan naik bus tanpa tau arah tujuan. Bergegas saya melompat ke dalam Minibus, meninggalkan kota Dong Hoi yang masih belum bangun dari tidurnya.
Peeing Massal
Perjalanan ini walaupun penuh rintangan dan hambatan, tetapi memberikanku pengalaman yang berharga untuk memecahkan sebuah masalah dengan cepat dan cerdas. Angkutan antar kota dalam provinsi bukannya bus besar, tetapi hanya sebuah minibus yang besarnya sama dengan ELF di Indonesia. Ongkos dari Dong Hoi ke Vinh adalah 100.000 VND, perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Vinh merupakan ibukota dari Provinsi Quang Binh. Sepanjang perjalanan dari Dong Hoi ke Vinh diselimuti dengan gerimis tebal dan sesekali menerjang hujan. Udara dingin di dalam minibus pun bertambah dingin karena udara luar yang begitu dingin. Semua orang mengenakan jaket dan meringkuk kedinginan. Minibus berhenti menaikkan penumpang dan juga kadang menurunkan penumpang di pinggir jalan, sementara penumpang keluar masuk minibus dengan berlari karena diluar sana sedang gerimis lebat. Gerimis lebat maksudnya yaitu gerimis yang sangat rapat, sehingga menyerupai hujan salju. Hujan seperti ini waktunya sangat lama, bisa seharian penuh tanpa henti seperti di Hue City kemarin. Karena udara yang semakin dingin, saya merasa kebelet kencing dan tak tertahankan lagi. Sementara minibus terus melaju dengan kecepatan penuh, mau minta berhenti sebentar saya juga tidak enak karena bangku saya berada di tengah jauh dari kernet. Tiba-tiba minibus mengurangi kecepatanya dan berhenti di dekat perkampungan penduduk, ternyata ada salah seorang penumpang yang mau turun. Inilah kesempatan saya untuk minta waktu buang air kecil. Saya ikutan turun dari bus dan memberi kode pada kondektur kalau saya mau kecing sebentar. Kondisi waktu itu masih gerimis lebat, tak peduli saya langsung mencari posisi kencing di pinggir jalan. Setelah saya selesai kencing, begitu saya mau masuk ke bus, semua orang di dalam bus berhamburan keluar dari bus. Malahan ada yang membuka jendela dan melompat keluar dari jendela. Ada apa ini, laki-laki dan perempuan semuanya keluar dari bus dan berlarian mencari posisi masing-masing. Ternyata tidak saya saja yang ”ngampet” buang air kecil, buktinya mereka sekarang malah melakukan ”Peeing Massal”. Lega sudah rasanya membuang beban satu ton yang saya bawa sejak tadi. Semua orang kembali ke posisi tempat duduk masing-masing, minibus kembali melanjutkan perjalanan ke Vinh. Saya sempat tertawa sendiri melihat kejadian lucu ini, masa’ orang satu bus cowok dan cewek buang air kecil bersama-sama di pinggir jalan raya hahaha…. Sayalah pemenang lomba buang air kecil tersebut, karena saya yang paling cepet kembali ke Bus
. Setelah menempuh perjalanan panjang, sampai juga saya di kota Vinh. Ternyata kota Vinh itu cukup besar, banyak gedung-gedung bertingkat disini. Maklum, kota ini adalah ibukota provinsi. Saya sempat melihat Vinh University yang bangunanya megah berdiri di pingging jalan utama kota Vinh. Walaupun kota besar, Vinh bukan merupakan kota Wisata. Pemerintah Vietnam tidak mem-promote kota ini seperti 8 kota wisata lainya, mungkin memang tidak ada tempat wisata yang menarik di daerah ini. Tiba diterminal Vinh pukul 12 lebih 30 menit. Kernet bus memberitahu saya untuk membeli tiket Bus ke Hanoi di bangunan sebelah. Segera saya mengambil backpack dari bagasi dan mencari tiket Bus ke Hanoi. Terminal bus di kota Vinh cukup besar dan ruwet, persis seperti terminal bus Tirtonadi Solo. Ada beberapa loket penjualan tiket bus ke Hanoi, semuanya bertuliskan dalam bahasa Vietnam. Saya mencoba mempelajari time schedule yang dipampang di atas loket penjualan. Seperti biasanya saya mencatat diatas kertas dan berencana memberikanya ke petugas penjaga loket. Tetapi semuanya tidak berjalan dengan mulus, banyak orang lokal yang berkerumun didepan loket bergantian tanpa antrian yang jelas. Tak mungkin saya menyela mereka, terlalu ruwet untuk dijinakkan. Ada seorang bertanya pada saya mau kemana, saya jawab ke Hanoi. Saya sudah menyiapkan uang sebesar 130.000 VND sesuai dengan harga tiket yang tertera di loket. Seseorang tadi mengambil uang saya dan mengitungnya, setelah itu dia mengibaskan uang saya dan memberikan kembali ke saya seolah uang itu tidak cukup untuk pergi ke Hanoi. Saya coba keluar dari keramaian dan mencari sudut pandang lain untuk mendapatkan Bus jurusan Hanoi. Ada seseorang yang bertanya pada saya lagi ”Mau kemana..??”, saya jawab singkat ”Hanoi..”. Dia mengambil uang yang saya bawa dan mengatakan kurang, dengan bahasa Vietnam. Lalu dia mengambil uang disakunya dan menunjukkan ke saya sebesar 150.000 VND. OK, saya ambil dompet saya dan saya tambahkan 20.000 VND, kemudian saya diantar naik ke bus jurusan Hanoi. Hujan gerimis terus mengguyur kta Vinh, bus meninggalkan kota ini pukul 1 siang menuju ke kota impian berikutnya yaitu Hanoi.
Telah Beredar : 2 juta keliling Vietnam dalam 15 hari
Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabarn, pulang kerja kemarin saya iseng2 main ke toko buku Gramedia di D-Best PlazaFatmawati bersama teman SMA saya (Agus). Ternyata buku saya telah tertata rapi di rak buku bersama buku-buku traveling lainya di sebuah rak buku. Semula saya mencari di rak buku baru tidak ketemu, malahan teman SMA saya yang menemukan buku saya terletak di rak bareng buku2 traveling lainya tersebut. Betapa senangnya hati ini bisa menyaksikan langsung keberadaan buku karya perdana saya telah beredar di toko buku. Teman saya pun membeli buku tersebut, dan mendapat tanda tangan pertama dari saya selaku penulis hehe……ini tanda tangan pertamaku di buku perdanaku lh
(banggga dunk pastinya sebagai pembeli hehe..)
Ayoo teman2….buruan beli bukunya, dan buruan jalan-jalan ke Vietnam yang eksotis, unik, dan menarik …..!!!
Buku Terbaru : 2 Juta Keliling Vietnam dalam 15 Hari
Backpacking to Vietnam (10 – 24 Februari 2010)
Alhamdulilah, akhirnya karya pertama saya terbit juga. Buku berjudul ” 2 Jutaan Keliling Vietnam Dalam 15 Hari “ telah beredar di toko buku Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung dan toko buku opnline inibuku.com dan bukukita.com. Berawal menjadi pemenang “Lomba Keliling Dunia Bersama Bentang”, selama 15 hari saya backpacking sendirian menyusuri Vietnam mulai dri Selatan hingga Utara. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh Bentang Pustaka dan cerita perjalanan diabadikan dalam sebuah buku yang diterbitkan langsung oleh Penerbit B-First (Bentang Pustaka)
Deskripsi Buku :
Buku ini berisi tentang perjalanan backpacking saya menyusuri 8 Kota Wisata (Ho Chi Minh, Dalat, Nhatrang, Danang, Hue, Hanoi, Halong, Sapa) dan 4 Situs UNESCO World Heritage (Hoi An, My SOn, Hue, Halong Bay) yang tersebar mulai dari Vietnam Selatan sampai Vietnam Utara selama 15 hari. Memang Vietnam belum se-populer Thailand, Singapura, Malaysia, & Hongkong sebagai daerah tujuan wisata bagi para traveler dari Indonesia. Mungkin seperti peribahasa ” Gajah dipelupuk mata tidak tampak “, seperti halnya Vietnam yang jaraknya cukup dekat dengan Indonesia tetapi kecantikanya tidak terlihat oleh kita yang berada di Indonesia. Dengan tersedianya penerbangan langsung dari Jakarta ke Ho CHi Minh City, tak ada salahnya kita mengintip kecantikan Vietnam yang tidak kalah dari negara-negara tetangganya.
Buku ini mengulas ragam destinasi wisata Vietnam yang sangat lengkap, yaitu mulai dari wisata sejarah, wisata perang vietnam, wisata kota, wisata kota tua, wisata kampung tua, wisata kebun bunga, wisata pantai, wisata gua, wisa teluk, wisata gunung, wisata candi, wisata ziarah, wisata budaya tradisional, dan tentu saja wisata kuliner khas setempat.
Dalam buku dijelaskan berbagai macam penginapan yang ditempati, mulai dari menginap di bandara, room for rent, hostel dormitory, hotel private room, dan juga nebeng di apartemen milik kenalan di perjalanan. Dijelaskan pula berbagai macam transportasi yang dipakai, mulai dari ojek sepeda motor, minivan, bus kota, taksi, bus antar kota antar provinsi, bus wisata, kereta api dengan berbagai kelas dan juga pesawat. Tidak lupa, cara singkat belajar bahasa Vietnam dan kosakata sehari-hari dituliskan di buku ini.
Pengeluaran total keliling Vietnam dalam 15 hari adalah 2,6 juta rupiah. Sedangkan tiket pesawat Jakarta-Vietnam PP mencapai 1,9 juta rupiah (3 kali penerbangan). Mode perjalanan yang ditempuh adalah Backpacking dengan meminimalisasi dan mensiasati pengeluaran sehemat mungkin.
Rute Perjalanan
Berikut rute perjalanan saya selama backpacking ke Vietnam selama 15 hari,
DATA BUKU :
- Penulis : Sihmanto
- Penerbit : B-First (Bentang Pustaka)
- Harga : Rp 34000.00
- ISBN : 978-979-24-3891-8
Beli bukuku yaa, terima kasih . . . .jangan lupa kritik & sarannya setelah membaca…
Terima Kasih
Happy Backpacking……
Sihmanto (Mantos)
15 hari keliling Vietnam : Itinerary Perjalanan
Itinerary Perjalanan (10-23 Februari / 13 hari) Lanjut membaca
15 hari keliling Vietnam : Profil Tujuan Wisata
PROFIL TUJUAN WISATA
KOTA WISATA
1. Ho Chi Minh City
Berabad-abad yang lalu, Saigon sudah menjadi pusat komersial yang sibuk. Pedagang dari Cina, Jepang dan banyak negara Eropa akan berlayar ke hulu Sungai Saigon untuk mencapai pulau di Pho, yang merupakan sebuah pusat perdagangan. Pada tahun 1874, Cho Lon bergabung dengan Saigon, membentuk kota terbesar di Indocina. Sudah bertahun-kali dirayakan sebagai Mutiara dari Timur Jauh. Setelah penyatuan kembali negara, ke-6 Majelis Nasional dalam pertemuan 2 Juli 1976, secara resmi telah membaptis ulang Saigon menjadi Ho Chi Minh City. Lanjut membaca








