Dalat to Nha Trang : Perjalanan berliku dan berselimut debu

Udara pagi yang dingin membuat saya enggan beranjak dari tempat tidur. Dengan teramat sangat terpaksa, sayapun keluar dari kamar untuk mengirup udara ppagi yang segar. Seusai sarapan dengan roti gabon prancis, telor dadar, secangkir nescafe dan ditutup pisang ambon, saya mengemasi backpack saya untuk check out. Bus dijadwalkan berangkan jam 12 siang, masih banyak waktu luang untuk menunggu. Harga tiket Bus ke Nha Trang adalah 5 USD, dengan waktu tempuh perjalanan sekitar 6 jam. Waktu masih pagi, saya menghabiskan waktu dengan membaca buku dan browsing internet. Jam 12.30 minibus menjemput saya dari hotel, telah banyak penumpang di dalam minibus tersebut. Kami di drop di Pick-up point, dipinggir jalan raya di pusat kota Dalat. Tak lama kemudian Bus yang kami tunggu datang, tampak serombongan turis asing turun dari bus membawa tas ransel selayaknya backpacker. Ternyata bus ini baru saja dari Nha Trang, dan sekarang mau berangkat lagi kesana membawa kami. Sebelum naik, bus terlebih dahulu dibersihkan. Teman saya hanya sekitar 16 orang, ada 2 orang cewek dari spanyol yang katanya berlibur 4 bulan disini, mengelilingi singapura, malaysia, thailand, kamboja dan sekarang di vietnam. Waktu 4 bulan hanya dihabiskan untuk jalan-jalan berkeliling asia tenggara, sungguh menyenangkan. Ada 2 orang dari macedonia, 1 dari austria, 1 dari thailand, 6 dari jepang, dan lainya saya tidak tahu. Dalat meskipun musim kemarau, udaranya tetap dingin. Hotel disini tidak ada yang memiliki AC. Rumah-rumah penduduk bergaya prancis, ada cerobong perapian di atap rumah. Bus tidak pernah menghidupkan AC yang dimilikinya. Jam 1 siang bus mulai berangkat meninggalkan Dalat yang dingin, menuju Kota Impian berikutnya. Nha Trang terkenal dengan pantainya yang indah, itulah kota pantai impian yang akan saya tuju.

Perjalanan keluar dari kota Dalat melewati perbukitan dengan jalan berkelok-kelok ditengah-tengah hutan pinus yang lebat. Jalanya cukup sempit, sehingga supir harus berhati-hati jika melewati belokan. Perjalanan semakin menegangkan dan mengasyikan ketika menyisir pegunungan yang tinggi. Disebelah kiri kokoh berdiri dinding kapur pegunungan, sedangkan di sebelah kanan jurang menganga sedalam ratusan meter. Bus berjalan menggunakan lajur kanan pula, begitu selip dari badan jalan, tamatlah riwayat kami. Jalanan ini masih tergolong baru, masih terlihat pembangunan di sisi kanan dan kiri jalan. Saya sungguh takjub melihat hamparan pegunungan yang sangat luas dan hijau sepanjang perjalanan. Ingin rasanya saya berhenti sejenak, turun, dan menghirup segarnya udara pegunungan dan menikmati indahnya panorama hijau yang terhampar luas. Inilah kekayaan yang di miliki oleh Vietnam, kekayaan alam yang melimpah di sederet pegunungan kapur. Dua pertiga perjalanan kami lewatkan dengan lika liku naik turun jalur pegunungan, tiba-tiba kondektur bus meminta semua penumpang menutup jendelanya. Saya mengira udara diluar sudah cukup panas, sehingga AC di dalam bus akan s egera dinyalakan. Ternyata dugaan saya salah, tiba-tiba bus menerjang jalan tak beraspal didepan sana, dan debu jalanan yang tebal pun seketika menutup pandangan didepan bus. Sebagian penumpang belum menutup jendelanya, debu pun masuk ke dalam bus, semua penumpang didalam bus berteriak untuk menutup jendela. Walaupun jendela telah tertutup semua, tetapi debu yang jumlahnya jutaan itu pun tetap bisa masuk ke dalam bus, sebagian besar penumpang pun terbatuk-batuk tak kuasa menahan sesak. Saya segera mengenakan slayer, sedangkan yang lainya ada yang menutup hidung dengan kaos yang mereka kenakan. Kami benar-benar seperti kembali ke jaman dulu, dimana belum ada jalanan ber-aspal. Rasanya pun sama seperti naik kuda, jalanan tak ber-aspal membuat bus bergoyang kekanan kekiri hebat karena jalan tidak rata, perjalanan menjadi sangat lambat. Tak hanya sebentar musibah ini berlangsung, hampir 1 jam perjalanan kami berselimut debu. Memang sedang ada proyek pelebaran jalan oleh pemerintah Vietnam, terlihat disamping kanan kiri jalan banyak alat berat. Mungkin pembangunan jalan ini akan selesai dalam 2 tahun kedepan. Jadi jika anda mengambil jalan ini untuk 1-2 tahun kedepan, selamat bermandi dengan debu jalanan. Satu jam perjalanan melewati jalan berdebu, kami sampai di perbatasan kota Nha Trang. Jam 5.30 sore kami sampai di pusat kota Nha Trang. Saya sangat beruntung, karena bus berhenti di jalan Nguyen Thien Tuat, dekat dengan Nha Trang Backpacker House yang akan saya tinggali.

Diselamatkan ” Mister Nam ” : Jadi gelandangan di pagi buta, ditengah2 dinginnya kota Dalat

Perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Dalat City memakan wakktu sekitar 7 jam, sebagaimana informasi dari travel agent kemarin malam. Tetapi keadaan berkata lain, jam 4 pagi saya dibangunkan untuk segera turun dari bus yang saya tumpangi. Apakah ini di pom bensin atau di rest area, setengah sadar aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 pagi. Saya turun dari bus, dan semua penumpang bergegas menurunkan barang bawaannya. Di pagi buta sudah sampai di Dalat City, bukanya perjalanan harusnya memakan waktu 8 jam. Turun dari Bus, udara dingin menyeruak menusuk tulang-tulang saya yang masih belum sempurna untuk menopang tubuh ini. Badanku menggigil kedinginan, kedua telapak tanganku terus aku gosok-gosokkan untuk memberikan kehangatan. Ditengah kedinginan, saya harus membongkar backpack untuk mencari print-out tentang Dalat City. Dimanakah sebenarnya saya sekarang berada. Belum sempat mempelajari maps yang aku pegang, ada 2 orang yang menawarkan diri untuk mengantar ke hotel menggunakan mobil. Saya ditanya mau ke hotel apa, saya hanya terdiam dan sibuk membolak-balik lembaran print-out sambil menahan dingin. Sampai akhirnya saya menemukan halaman tentang hotel yang akan saya tuju. Hampir semua penumpang sudah masuk ke dalam mobil, bahkan mobil yang satunya sudah mendahului berangkat meninggalkan saya. Sedangkan saya masih bengong dan tidak tau mau kemana, karena masih terlalu pagi untuk ke hotel. Saya juga belum booking hotel tersebut, dan tidak ada janji apapun kalau mau datang di pagi buta. Sopir mobil itu menghampiri saya, dan mengatakan kalau tumpanganya itu gratis, tidak dipungut biaya sama sekali. Walaupun gratis, tapi saya tidak tau mau menuju kemana, ini masih terlalu pagi untuk ke hostel. Daripada saya kedinginan dan beku di luar terminal yang sangat sunyi senyap ini, saya memutuskan untuk ikut masuk ke mobil dan menunjukkan maps hotel yang saya bawa. Di mobil saya ada 7 orang rombongan orang Vietnam, 2 orang korea dan saya sendirian. Destinasi pertama adalah mengantar orang vietnam tersebut, mobil menuju gang sempit yang menurun dan berbelok yang lebarnya seukuran mobil yang saya tumpangi. Ssssrrrtt….mobilpun sempat selip karena mengerem untuk menghindari terperosok ke jurang ditikungan. Yang bodoh siapa, gang sempit kok masih memaksakan untuk dilewati, mobilpun tidak bisa menjangkau sampai depan rumah. Dan orang vietnam itu pun terus memaksa untuk masuk, pada akhirnya mereka menyerah dan turun di gang tersebut. Tinggal saya dan 2 orang korea yang berada di mobil. Mobil mundur menikung naik, hand rem pun sering dipakai untuk menghindari mobil terperosok. Saat sudah berada dijalan raya, saya mencium bau yang tidak sedap dari mobil tersebut. Dan setiap kali ganti presneling, akan berbunyi ”Groook…kretek2….”, dan supir hanya menatap saya sambil geleng-geleng kepala. Saya tau maksudnya, mobil ini bermasalah karena dipaksakan oleh orang vietnam tadi. Mobil berhenti ditengah jalan raya yang masih sepi, si supir menelepon temannya untuk menjemput kami. Saya dan orang korea tersebut dioper ke mobil yang satunya, yang telah selesai mengantar rombongan yang satunya tadi. Sekarang giliran saya duluan yang diantar di Villa Park hotel, sesuai dengan maps yang saya sodorkan ke si supir tadi. Sampai di Villa Park Hotel, kondisi gelap gulita dan sepi senyap tanpa kehidupan, dan saya harus turun disini dalam kedinginan. Supir mengangguk dan menurunkan tas saya dari bagasi. Dia mencoba membantu saya untuk memencet bel yang ada di depan gerbang, saya bilang ”Don’t….!!!”. Saya belum booking hotel ini, jadi saya akan menunggu disini saja sampai hotel ini buka. Mobil meninggalkanku sendirian dalam kegelapan, berselimut udara dingin menusuk tulang dibawah remang-remang sinar bintang. Didepan Villa Park Hotel ada Hotel yang bertuliskan Recomended by Lonely Planet”. Disini banyak sekali hotel, jadi keesokan harinya saya bisa memilih hotel mana saja yang murah. Saya duduk termenung di pinggir gang yang sempit sambil membolak-balik print-out saya tentang Dalat City. Setengah jam saya jadi gelandangan di pagi buta yang kedinginan, sampai pada akhirnya saya mendengar bunyi gerbang hotel dibuka kunci gemboknya. Tak nampak jelas gerbang yang mana yang dibuka, karena kondisi gelap. Saya melihat bayangan meninggalkan gerbang Villa Park Hostel, segera saya menghampirinya. ”Hello…..are you have one room for me..??”, saya mencoba menyapanya yang belum jauh meninggalkan gerbang. Dia berbalik dan menjawab sambil menghampiri saya, “I am sorry, ..Full “. Lemas sudah kaki saya mendengar ucapan itu, terima kasih dan saya mencoba meninggalkan gerbang itu. Tapi dia malah menawariku masuk, agar tidak kedinginan diluar, “Come in…” . Dengan senang hati saya menerima tawaranya dan masuk ke lobby hotel. Dia adalah “Mr Nam”, salah satu pengelola Villa Park Hotel ini. Saya mencoba bertanya apakah ada hotel murah disekitar sini yang tarifnya dibawah 10 USD. Dia akan mencarikan untuk saya disekitar sini, mungkin didepan ada kamar kosong yang harganya murah. Ngobrol banyak dengan Mister Nam yang baik hati tersebut, tukar menukar mata uang, dan saya banyak diterangkan mengenai wisata di kota Dalat. Sungguh bersyukur sekali, Tuhan telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik sepanjang perjalanan ini. Saya juga ditawari untuk menggunakan internet gratis yang tersedia di hotel tersebut, sambil menunggu saya mendapatkan konfirmasi mengenai hotel yang dicarikanya. Satu jam kemudian saya direkomendasikan oleh Mister Nam untuk menempati hotel milik paman dia yang terletak disampingnya persis. Jam 7 pagi saya diantarkan untuk check-in ke hotel milik pamanya tersebut. Tarifnya 10 USD/kamar, dimana kamar tersebut adalah Double Bed Private Ensuite. Jadi ada 2 buah tempat tidur di kamar tersebut, memang seharusnya dipakai untuk 2 orang bukan satu orang. Seharusnya saya membayar untuk 2 orang, bukan satu orang. Tapi saya tidak tau apakah tariff 10 USD itu standar atau memang rekomendasi dari Mr Nam, yang jelas cukup murah untuk ukuran double bed seperti itu. Saya tidak tahu check-in time nya jam berapa, biasanya afternoon baru bisa check-in. Tapi sekali lagi keberuntungan bagi saya, bisa check-in jam 8 pagi. Selanjutnya bisa mandi, istirahat sejanak, dan meninggalkan backpack untuk jalan-jalan ke tempat wisata kota Dalat. Terima kasih Mister Nam, engkau telah menyelamatkan diriku dari dinginya udara malam waktu itu.

Telah Beredar : 2 juta keliling Vietnam dalam 15 hari

Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabarn, pulang kerja kemarin saya iseng2 main ke toko buku Gramedia di D-Best PlazaFatmawati bersama teman SMA saya (Agus). Ternyata buku saya telah tertata rapi di rak buku bersama buku-buku traveling lainya di sebuah rak buku. Semula saya mencari di rak buku baru tidak ketemu, malahan teman SMA saya yang menemukan buku saya terletak di rak bareng buku2 traveling lainya tersebut. Betapa senangnya hati ini bisa menyaksikan langsung keberadaan buku karya perdana saya telah beredar di toko buku. Teman saya pun membeli buku tersebut, dan mendapat tanda tangan pertama dari saya selaku penulis hehe……ini tanda tangan pertamaku di buku perdanaku lh :D (banggga dunk pastinya sebagai pembeli hehe..)


Ayoo teman2….buruan beli bukunya, dan buruan jalan-jalan ke Vietnam yang eksotis, unik, dan menarik …..!!!



Bookmark and Share

Buku Terbaru : 2 Juta Keliling Vietnam dalam 15 Hari

Backpacking to Vietnam (10 – 24 Februari 2010)

Alhamdulilah, akhirnya karya pertama saya terbit juga. Buku  berjudul ” 2  Jutaan Keliling Vietnam Dalam 15 Hari “ telah beredar di toko buku Gramedia, Toga Mas, Gunung Agung dan toko buku opnline inibuku.com dan bukukita.com. Berawal menjadi pemenang “Lomba Keliling Dunia Bersama Bentang”, selama 15 hari saya backpacking sendirian menyusuri Vietnam mulai dri Selatan hingga Utara. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh Bentang Pustaka dan cerita perjalanan diabadikan dalam sebuah buku yang diterbitkan langsung oleh Penerbit B-First (Bentang Pustaka)

Cover Buku

Deskripsi Buku :

Buku ini berisi tentang perjalanan backpacking saya menyusuri 8 Kota Wisata (Ho Chi Minh, Dalat, Nhatrang, Danang, Hue, Hanoi, Halong, Sapa) dan 4 Situs UNESCO World Heritage (Hoi An, My SOn, Hue, Halong Bay) yang tersebar mulai dari Vietnam Selatan sampai Vietnam Utara selama 15 hari. Memang Vietnam belum se-populer Thailand, Singapura, Malaysia, & Hongkong sebagai daerah tujuan wisata bagi para traveler dari Indonesia. Mungkin seperti peribahasa ” Gajah dipelupuk mata tidak tampak “, seperti halnya Vietnam yang jaraknya cukup dekat dengan Indonesia tetapi kecantikanya tidak terlihat oleh kita yang berada di Indonesia. Dengan tersedianya penerbangan langsung dari Jakarta ke Ho CHi Minh City, tak ada salahnya kita mengintip kecantikan Vietnam yang tidak kalah dari negara-negara tetangganya.

Buku ini mengulas ragam destinasi wisata Vietnam yang sangat lengkap, yaitu mulai dari wisata sejarah, wisata perang vietnam, wisata kota, wisata kota tua, wisata kampung tua, wisata kebun bunga, wisata pantai, wisata gua, wisa teluk, wisata gunung, wisata candi, wisata ziarah, wisata budaya tradisional, dan tentu saja wisata kuliner khas setempat.

Dalam buku dijelaskan berbagai macam penginapan yang ditempati, mulai dari menginap di bandara, room for rent, hostel dormitory, hotel private room, dan juga nebeng di apartemen milik kenalan di perjalanan. Dijelaskan pula berbagai macam transportasi yang dipakai, mulai dari ojek sepeda motor, minivan, bus kota, taksi, bus antar kota antar provinsi, bus wisata, kereta api dengan berbagai kelas dan juga pesawat. Tidak lupa, cara singkat belajar bahasa Vietnam dan kosakata sehari-hari dituliskan di buku ini.

Pengeluaran total keliling Vietnam dalam 15 hari adalah 2,6 juta rupiah. Sedangkan tiket pesawat Jakarta-Vietnam PP mencapai 1,9 juta rupiah (3 kali penerbangan). Mode perjalanan yang ditempuh adalah Backpacking dengan meminimalisasi dan mensiasati pengeluaran sehemat mungkin.

Rute Perjalanan

Berikut rute perjalanan saya selama backpacking ke Vietnam selama 15 hari,

Rute Perjalanan

DATA BUKU :

  • Penulis    :      Sihmanto
  • Penerbit    :    B-First (Bentang Pustaka)
  • Harga    :     Rp 34000.00
  • ISBN    :     978-979-24-3891-8

Beli bukuku yaa, terima kasih . . . .jangan lupa kritik & sarannya setelah membaca…

Terima Kasih :)

Happy Backpacking……

Sihmanto (Mantos)

15 hari keliling Vietnam : Itinerary Perjalanan

Itinerary Perjalanan (10-23 Februari / 13 hari) Lanjut membaca

15 hari keliling Vietnam : Profil Tujuan Wisata

PROFIL TUJUAN WISATA


KOTA WISATA

1. Ho Chi Minh City

Berabad-abad yang lalu, Saigon sudah menjadi pusat komersial yang sibuk. Pedagang dari Cina, Jepang dan banyak negara Eropa akan berlayar ke hulu Sungai Saigon untuk mencapai pulau di Pho, yang merupakan sebuah pusat perdagangan. Pada tahun 1874, Cho Lon bergabung dengan Saigon, membentuk kota terbesar di Indocina. Sudah bertahun-kali dirayakan sebagai Mutiara dari Timur Jauh. Setelah penyatuan kembali negara, ke-6 Majelis Nasional dalam pertemuan 2 Juli 1976, secara resmi telah membaptis ulang Saigon menjadi Ho Chi Minh City. Lanjut membaca