Story of Thailand – Malaysia – Singapore
Rokok bagaikan makanan pokok
Bagi para perokok, tidaklah berlebihan jika rokok merupakan kebutuhan pokok bagaikan nasi putih. Sebelum keberangkatan ke SMT, saya berfikir apakah di luar sana terdapat rokok yang sama enaknya dengan rokok buatan negeri kita tercinta. Saya pikir tidak, kecuali rokok kita telah menembus pasar internasional atau dengan kata lain telah di ekspor ke Negara yang akan kita kunjungi. Untuk itu saya tidak mau gambling untuk masalah ini, saya membawa 2 bungkus rokok kretek Djarum Super. Kenapa hanya 2 bungkus, karena saya tidak mau ambil resiko teratangkap di bandara gara2 kebanyakan membawa rokok. Dalam pikiran saya, di Thailand dan negara2 yang lebih maju dari Indonesia, merokok di sembarang tempat akan dapat terkena sanksi hukum yang besar dan penerapanya sudah benar2 ketat tidak seperti di Jakarta yang baru2 ini ada undang2 yang mengatur sanksi bagi orang yang merokok di tempat umum. Dua bungkus untuk 4 hari, itu perkiraan saya semula. Jika memang kurang nanti beli saja di sana, mudah2an ada rokok kretek yang sama nikmatnya dengan rokok made in Indonesia.
Pesawat berangkat dari Soekarno Hatta ke LCCT Kuala Lumpur, sampai di LCCT masih punya banyak waktu untuk penerbangan berikutnya ke Bangkok. Keluar bandara dan melihat sekeliling, hmm…ternyata banyak juga orang yang meluangkan waktu untuk merokok di area terbuka di luar bandara. Hmmm…mantabbb coy, akhirnya punya tempat juga buat menyalurkan bakat sebagai ahli hisap. Habis makan siang di Garden Food, hasrat untuk menyalurkan hobby pun semakin tak tertahan. Hari itu jam 12 waktu setempat, penerbangan selanjutnya jam 15.00 waktu setempat. Masih punya waktu 2 jam untuk duduk2 santai dan ngobrol dengan teman2. Saya dan rekan saya yang juga perokok berat yaitu Edo segera ambil posisi di lokasi pemberangkatan bus bandara, disitu adalah lokasi terbaik bagi para perokok. Jadi kalau ke LCCT, saya sarankan hukumnya wajib untuk makan di Garden Food dan menyempurnakan menu (baca : merokok) di tempat pemberhentian bus bandara depan Garden Food.
Penerbangan selanjutnya ke bandara suvarnabhumi Bangkok, sayang sekali kami langsung ke hostel jadi tidak sempat menemukan tempat bagus untuk merokok. Sampai hostel saya kagum dengan suasananya yang benar2 seperti kampung, padahal lokasinya di pusat kota Bangkok. Tapi aneh juga, dimana2 terdapat tanda larangan merokok. Huh…sialan, ternyata hanya diperbolehkan merokok di serambi depan hostel. Masih untung lah, daripada tidak ada tempat sama sekali. Di sepanjang kota Bangkok dan Thailand tanda larangan merokok lumayan banyak juga. Tapi seperti layaknya di Indonesia, masih banyak orang yang tidak menghiraukan aturan tersebut.
Djarum Super menurut Bule Inggris
Kejadian yanga menarik ketika saya dan edo sedang menghisap Djarum Super asli Indonesia di depan Hostel Suk 11 sehabis sarapan. Datang Bule Inggris dan duduk se meja dengan kami, dia mengeluarkan rokok putih berlabel Land Mark atau sering di singkat LM. Baru saja dia pinjem korek ke kami dan menyalakan rokok idolanya, hesss.s……suara hisapan dari mulutnya terdengar lirih. Saya iseng saja menawari dia cigarette yang sedang saya hisap,
“Do you want to try this…??” (sambil menyodorkan sebatang djarum super dari bungkus ), “ OK…“ jawab si bule sambil mematikan rokoknya di asbak di depan kami.
“Hesss……uhuk uhuk….Hmm….Very strong….very strong.” ekspresi si Bule setelah mengisap sebatang rokok saya.
“Hehe….Yah, it is very strong for you, this cigarette made in indonesia sir “ jawabku…..
“ ehmm….disgusting” sambil mematikan rokok yang baru sekali hisap, dan menyalakan kembali rokok idolanya yang tadi sudah di matikan. Bule kok kere & kemproh….:p
Dasar bule kacangan……badan besar, tapi rokoknya putihan yang tidak ada rasanya sama sekali. Setelah itu saya di tawari mencoba rokoknya, saya jawab saja saya tidak suka rokoknya karena terlalu ringan untuk orang indonesia :p. Sedikit nyombong masalah rokok ke bule kan gpp….
Tak sengaja menemukan rokok tanah air
Setelah 3 hari di Bangkok, cadangan rokok tanah air pun menipis. Akhirnya saya mencoba hunting rokok yang sejenis waktu jalan2 di Khao San Road. Saya coba cari di minimarket, kebanyakan rokok yang dijual adalah Marlboro, Land Mark dan rokok lokal yang semuanya adalah rook putih. Ada kejadian lucu ketika teman saya menanyakan ke pelayan, apakah ada rokok kretek yang di jual di minimarket tersebut. Karena pelayan yang tidak bisa bahasa inggris, akhirnya bahasa inggrisnya edo yang bagus itu tak ada gunanya. Maksud hati menunjukkan rokok kretek yang memakai filter, eh malah di kasih “Filter” nya saja…..Ups….emang mau ngeracik tembakau sendiri. Putus asa cari rokok di minimarket, kami memutuskan untuk puasa rokok dalam beberapa hari. Tak disengaja sewaktu berjalan pulang meninggalkan Khao San Road teman saya melihat rokok Gudang Garam, dan berucap “iku ono gudang garam”. Telingaku yang sudah sensitip dengan rokok tanah air, sepontan mengklarifikasi ucapan teman saya tadi. Hmm…tepat di samping belakang saya ada penjual rokok jalanan, di situ terdapat rokok Gudang Garam made in Indonesia dan Malaysia. Saya langsung menanyakan harganya, 9 Baht kata si penjual. Busyet..kalau di konversi ke rupiah sudah Rp 21.000, padahal harga di Indonesia cuman Rp 8.000,-. Tawar menawar tetap saja tidak turun, daripada stress karena tidak bisa merokok akhirnya saya memutuskan beli. Satu bungkus saja dulu, edo mengeluarkan kocek dan membayarnya dan dapat bonus sebatang Gudang Garam made in Malaysia. Legaa….Akhirnya bisa menyalurkan bakat lagi hehe.
Berburu rokok kretek di Bangkok
Gudang garam sebungkus untuk dua orang dalam sehari, ngirit mas….maklum harganya mahal. Di stasiun Hua Lamphong Bangkok, kami sudah kehabisan stok rokok tanah air setelah kepulangan dari Chiang Mai. Kami mencoba hunting di sekitar stasiun, dan sempat mencoba membeli rokok eceran Land Mark rasa menthol. Rasanya benar2 tidak nikmat, huh…..asap cuman dihisap sampai mulut dan hidung. Saking kepepetnya, kami memutuskan untuk gambling membeli rokok lokal. Dari bungkusnya, saya nebak itu adalah rokok kretek tanpa filter. Labelnya adalah Krong Tit, rokok bergambar gigi keropos yang merupakan peringatan keras bagi para perokok. Rokok lokal Bangkok sangat menjijikkan kalau di lihat dari covernya, ada yang bergambar gigi keropos ke cokelat2an dan ada pula yang bergambar paru2 gosong dan berlubang. Hii…..sebegitu kerasnya peringatan terhadap para perokok, kalau di Indonesia kan hanya di tulis kota kecil yang terpampang di belakang bungkus rokok. Dari segi estetika, Indonesia nomer 1 untuk masalah rokok. Kembali ke Krong Tit, setelah kami buka ternyata rokok putih juga, wueek……kami tertipu. Mencoba bertahan dengan rokok tak bercengkeh, begitu di hisap sampai tenggorokan hasilnya adalah ..uhuk…uhuk..uhuk……kami berdua semuanya batuk. Rokok sialan….harganya murah kualitas murahan. Hrganya cuman Rp.6000,-, setara dengan rokok palsu di Indonesia lah.
Surga kedua setelah Indonesia
Dari Bangkok menuju ke Malaysia kami berdua benar2 puasa merokok. Daripada terbatuk batuk menghisap rokok murahan bergambar gigi keropos tersebut mendingan kami berpuasa sejenak. Tiba di terminal Komtar Penang, kami langsung berburu rokok kretek seperti biasa. Feeling so good, malaysia adalah tetangga terdekat indonesia. Dengan asumsi tersebut, pasti rokok indonesia banyak yang di ekspor ke malaysia. Mendekati pedagang kelontong saya bertanya,
“ Ada Gudang Garam…??? “, tanyaku
“ Ade…”, jawab si pedagang
“ Berapa harganya..?”, tanyaku kembali
“ 4 ringgit..”, jawab si pedagang
Yess……tak seberapa mahal juga, kurang lebih satu setengah kalinya harga di indonesia. Beli 2 bungkus sekaligus mumpung murah. Di malaysia terdapat dua jenis rokok dengan merk yang sama, rokok Gudang Garam buatan indonesia dan malaysia. Rasanya tidak jauh berbeda, cuman tulisan di bungkusnya berbahasa melayu. Terdapat juga rokok Djarum Super dengan harga 5 ringgit untuk twin pack 16 batang.
Rokok termahal sepanjang sejarah S-M-T
Singapura adalah negeri yang paling mahal dalam segala hal, termasuk salah satunya adalah rokok. Rokok bawaan dari Malaysia sudah habis setelah sarapan pagi di Hostel ABC, tak pelak kami mencoba hunting kretek seperti biasanya. Di minimarket saya mencoba cari rokok Gudang Garam atau Djarum Super yang kami banggakan akan rasanya. Walaupun singapura juga tetangga dekat Indonesia dan Malaysia, tapi untuk soal rokok hanya ada satu merk yang sama dengan merk di Indonesia. A Mild, hanya rokok tersebut yang bisa saya jumpai di minimarket seantero singapura. Mild adalah rokok second line bagi kami, karena rasanya yang kurang mantab untuk sorang traveler seperti kami. Tak ada gudang garam a mild pun jadi, itu saja yang kami pikirkan. Alangkah terkejutnya ketika saya menanyakan harganya, 10 Dollar Singapura atau setara dengan 70 ribu rupiah….gilaaaaaaaaa……….kan. Inilah rokok termahal yang pernah saya lihat. Memang di singapura larangan merokok juga sama kerasnya dengan di Thailand. Saya menjumpai rokok yang tanda larangan tertulis besar di cover depan bungkus rokok sebagai berikut
“ SMOKING MAKE YOU DIE YOUNGER”
Wouu…sadis juga tuh peringatanya, saya kurang tau merek rokoknya apa, yang jelas itu adalah peringatan yang paling sadis yang pernah aku lihat.
Tips bagi para perokok yang akan berpergian ke luar negeri
Bawalah rokok dari Indonesia sebanyak mungkin, tapi jangan sampai over limit. Bisa di tangkap dan di suruh membayar cukai yang mahalnya minta ampun per batangnya.
- Bawalah rokok dari Indonesia sebanyak mungkin, tapi jangan sampai over limit. Bisa di tangkap dan di suruh membayar cukai yang mahalnya minta ampun per batangnya.
- Berhati-hatilah memilih rokok lokal yang tidak anda kenal sebelumnya, karena rasanya bisa membuat anda kehilangan nafsu merokok.
- Jika menemukan rokok tanah air, segera beli se banyak2nya walaupun harganya agak lebih mahal dari harga di Indonesia.
- Jangan korbankan uang anda hanya untuk membeli rokok yang harganya 10 kali lebih mahal dari harga di Indonesia. Belajarlah berpuasa merokok dalam beberapa hari, daripada anda harus berpuasa makan nasi gara-gara membeli rokok super mahal.
- Berbanggalah karena Indonesia adalah surganya para perokok, sekiranya rokok bisa menumbuhkan kembali Rasa Cinta Tanah Air Indonesia saat anda sedang berada di luar negeri.

Kurang lengkap jika kita sebagai orang jawa berpergian ke Bangkok tetapi tidak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Djawa. Dari hostel kami di suk 11, perjalanan ke masjid djawa dapat di tempuh menggunakan MRT & BTS. Walaupun namanya masjid djawa, tapi tak seorangpun yang sholat di situ bisa berbahasa djawa s eperti kita. Setelah sholat kami bertanya ke takmir
masjid tersebut tentang masakan halal di sekitar masjid. Dengan baik hati kami di antarkan oleh seseorang anggota dari pengurus masjid tersebut ke warung muslim. Warungnya cukup sederhana sekali, tak jauh beda dengan WARTEG yang sering kita jumpai di Jakarta. Di warung tersebut terdapat logo halal yang mungkin telah di sertifikasi oleh majelis masjid setempat. Menu yang di tawarkanpun sederhana pula, yaitu Nasi goreng, Nasi Omelet, Kwetiaw dan Soup Tomyang. Saya dan Edo pesan nasi goreng, chimot dan son seperti bisanya yaitu nasi omelet, sedangkan ervan memesan kwetiaw. Walaupun lidahnya tidak memiliki indera perasa, tapi purwo mencoba memesan Soup Tomyang. Soup tomyang adalah masakan khas Thailand yang sangat kental dengan aroma bumbu dari rempah2 asli Thailand. Rasanya mantab coy….harganya sekitar 12 ribu rupiah untuk satu menu, murah kan..??. Makanya jangan lewatkan wisata kuliner yang satu ini kalau kamu adalah orang jawa dan muslim.
Chiang Mai adalah kota kecil di thailand bagian utara, sering pula di sebut2 sebagai Djogja-nya thailand. Di Chiang Mai terdapat sebuah masjid besar dimana di sekitar masjid tersebut banyak sekali di jumpai masakan muslim yang tersertifikasi oleh Majelis Muslim Thailand. Jika anda berjalan di sepanjang Chiang Mai Night Bazaar, sempatkanlah mampir ke masjid yang berada di gang sebelum ujung jalan yang digunakan sebagai bazaar setiap malam tersebut. Masjidnya cukup besar yang tergabung dengan madrasah islam di depannya. Di sepanjang jalan masuk ke masjid kita bisa dengan mudah menemukan warung yang berlabel halal, yang kami kunjungi adalah warung Sophia. Asyiknya lagi, warung tersebut menawarkan menu yang bertuliskan bahasa melayu/bahasa Indonesia. Menu yang ditawarkan seperti, Nasi Goreng, Mie Goreng dan masih banyak lagi. Harganya pun juga tidak terlalu mahal, sekitar 20 ribu rupiah. Mahal juga yaah……:D. Tidak juga sebenarnya, karena sekali kita menemukan makanan halal, kita sering sekali berlebihan dalam hal makan.
Ketika kami sedang berada di stasiun kereta api Hua Lamphong, kami sempat bingung menentukan tempat makan yang akan kami kunjungi untuk makan siang. Sambil menghisap rokok di depan stasiun. Aku dan edo mengamati gerak gerik orang di sekitar kami. Tak lama kemudian, ada beberapa wanita berjilbab yang berjalan menyeberang jalan di depan stasiun hua lamphong. Feelingku bermain disini, aku menduga rombongan wanita berjilbab tersebut pasti sedang mencari makan siang. Aku dan Edo segera beraksi membuntuti dari belakang pergerakan serombongan orang tersebut, dan seperti yang aku duga sebelumnya ternyata benar mereka menuju warung muslim yang berada di dalam gang depan stasiun. Di daerah tersebut banyak sekali di temukan muslim food, dimana penjualnya juga sedikit bisa bahasa melayu. Segera saya dan edo mengajak teman2 untuk segera mengisi perut yang sudah lama keroncongan. Hmm….lagi2 saya pesan nasi goreng, menu yang paling simple dan paling popular bagi setiap orang melayu. Harganya cukup murah, sekitar 15 ribu rupiah untuk satu menu spesial.