Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila

Menjejakkan kaki di perkampungan muslim di manila


Matahari sudah semakin tergelincir ke barat, saya terus menggendong backpack tak kenal lelah untuk mencari keberadaan Golden Mosque. Setelah menerobos pasar tradisional depan Quiapo Church, saya mengambil arah kiri untuk menuju ke Masjid Kubah Emas, atau yang terkenal dengan sebutan Golden Mosque. Dari kejauhan tampak sebuah menara masjid berwarna hijau, tetapi kubahnya tidak kelihatan. Saya terus menyusuri jalan besar menuju ke arah menara masjid tersebut. Pundak terasa seperti terbakar, menara masjid masih kelihatan cukup jauh. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebuah gang sempit yang bertuliskan “Welcome to Barangay 648 – Zone 67. District VI, San Miguel – Manila “, dan di dalam gang nampak sebuah menara masjid hijau yang lebih kecil. Saya sepertinya pernah mendengar nama daerah ini sebelumnya di sebuah acara backpacker yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Dengan sedikit rasa was-was dan penasaran, saya mencoba memasuki gang utama perkampungan ini. Saya sering berpapasan dengan wanita-wanita yang mengenakan kerudung, sedangkan laki-lakinya mengenakan kopyah, dan juga tricycle yang dihias dengan tulisan-tulisan islami.

Begitu sampai di perkampungan, saya seperti mengalami dejavu karena apa yg saya lihat di tv sekarang saya alami sendiri. Inilah perkampungan muslim yang padat penduduk, warganya tinggal di rumah sederhana yang berhimpitan antara rumah satu dengan yang lainnya, seperti rumah susun padat penduduk di Jakarta. Begitu saya melintas, perhatian warga yang sedang duduk-duduk dipinggir jalan otomatis tertuju pada saya, saya mesara seperti orang aneh jadinya. Dengan backpack yang saya gendong dan kamera dslr yang tertenteng di tangan, sudah pasti saya teridentifikasi sebagai orang asing disini. Saya hanya berjalan dengan penuh waspada, melintasi kerumunan warga dan anak-anak yang sedang bermain dijalan. Ada bapak-bapak yang nongkrong di warung mengacungkan jempol tangannya kepada saya sambil merapatkan kedua bibirnya seakan memberi ucapan “Salut” sudah berani masuk ke kampung ini. Begitu sampai di Masjid Hijau, saya melihat ada dua orang bapak-bapak yang sedang nongkrong di depan masjid. Saya mencoba ramah untuk senyum dan mengucap salam kepada mereka berdua, tapi jawabanya hanya senyum kecut dan tidak membalas salam dari saya dengan baik. Suasana terasa semakin mencekam, karena saya sudah tau sebelumnya tentang distrik ini yang konon merupakan distrik yang sangat rawan kriminalitas. Saya mencoba masuk ke masjid untuk sholat, mencoba untuk tenang dan santai menghadapi suasana yang agak aneh ini. Begitu masuk masjid saya terkejut karena kondisinya yang kurang terawat. Sialnya lagi, tidak tersedia air setetespun di masjid ini ketika saya hendak mengambil wudhu. Semua bak mandi dan tempat wudhu kering kerontang tanpa air, hanya ada selang yang masuk ke bak yang tidak mengalirkan air sama sekali. Akhirnya saya keluar lagi dari masjid, mencoba bertanya pada 2 orang bapak-bapak yang ada di luar tadi. Dengan tanggapan yang dingin, saya pun diantar salah satu temannya untuk mengambil air wudhu di rumah warga. Sambil bejalan di rumah warga, saya mencoba ngobrol dengan seorang pemuda yang mengantar saya tersebut seputar perkampungan ini. Ternyata saya diantar ke rumah ketua pengurus masjid tersebut dan dipersilahkan mengambil air wudhu disebuah kamar mandi. Setelah itu saya diantar kembali lagi ke masjid untuk menunaikan sholat. Setelah sholat selesai, saya mencoba ngobrol dan memperkenalkan diri dengan kedua bapak yang duduk di depan masjid tadi. Kampung ini ternyata sudah ada sejak tahun 1964, dihuni oleh pendatang muslim dari Mindanao. Ada sekitar 400 kepala keluarga yang menghuni kampung ini, kesemua warganya beragama Islam. Karena mungkin mencium keluguan saya, bapak itu memperingatkan kepada saya untuk tidak masuk ke gang-gang sempit yang ada di kampung ini. Saya disarankan untuk melintasi jalan utama di kampung ini saja, karena sangat berbahaya jika masuk ke gang yang lebih dalam. Kata beliau, saya bisa ditusuk dan dirampok oleh warga yang berniat jahat disini. Wah, ternyata benar juga info yang saya dengar sebelumnya tentang kampung ini. Kampung ini diketuai oleh seorang wanita, yaitu Chairwomen Bae Norhaina Macabato. Dan ternyata bapak yang ngobrol dengan saya tadi adalah adik dari bu Norhaina tersebut, saya sedikit lega ketika tahu hal itu, setidaknya saya ngobrol dengan orang yang baik.

Tak lama kemudian saya undur diri untuk meninggalkan kampung ini, cukup sudah menjejakan kaki ke distrik perkampungan muslim mindanao di kota manila ini. Diperjalanan pulang, saya tertarik dengan sebuah kedai sederhana yang menjual bungkusan nasi putih dengan lauk sepotong daging ayam. Mumpung di distrik muslim, pasti semua makanan disini dijamin 100% HALAL. Hanya 10 PHP atau sekitar Rp 2.000,- untuk sebungkus “Sego Kucing” di kedai Yusuf ini. Setelah kenyang, saya disarankan penjual nasi ini untuk naik tricycle menuju stasiun LRT Coriedo untuk melanjutkan perjalanan menuju stasiun EDSA di Pasay City. Ini kali pertama saya naik Tricycle, yaitu sebuah kendaraaan bermotor cowok (Honda GL-100) yang dimodif dengan menambahkan tempat penumpang disebelah kanannya. Ada tambahan satu roda untuk ruang penumpang, sehingga kendaraan ini memiliki 3 roda, oleh karena itu diberi nama Tricycle. Cukup unik dan kreatif, dan pastinya cukup nyaman naik kendaraan ini untuk berpegian jarak dekat. Sebenarnya angkutan ini menggantikan fungsi ojek, cuman penumpang dibuat lebih nyaman duduk ruangan tersendiri. Tarifnya pun hanya 10-20 Piso atau Rp 4.000,- untuk jarak sekitar 3 km, cukup murah bukan daripada capek jalan kaki ½ jam.

Nha Trang : Meriahnya Pesta Malam Tahun Baru “TET” di Pantai Nha Trang

Foto (Clock Wise) : Bendera Vietnam di pusat pantai Nha Trang, Pesta kembang api malam tahun baru, keramaian pantai nha trang menjelang pergantian tahun, anak-anak Vietnam

Nha Trang terkenal dengan pantainya, letaknya di daerah tropis, meliliki garis pantai yang panjang sejauh kurang lebih 5 km, sudah pantas menjadi tempat favorit bagi bule berkulit merah yang ingin berjemur untuk kesehatan kulitnya. Turun dari bus, saya segera mencari Nha Trang Backpacker House sesuai dengan print-out yang saya bawa. Lokasi yang ditunjukkan di maps hostel tersebut ternyata salah, tidak persis di titik yang di gambarkan di maps. Saya terpaksa bertanya dengan pemilik toko kelontong, sambil membeli sebotol twister (minuman orange juice) dan satu sachet shampo untuk keramas, menghilangkan debu di sepanjang perjalanan siang tadi. Akhirnya saya menemukan hostel yang saya cari, tak jauh dari toko kelontong tersebut. Saya minta satu buah tempat tidur dalam Dormitory, harganya tertera di print-out saya adalah 7 USD. Tapi keadaan berkata lain, karena ini adalah hari libur tahun baru, maka tarifnya naik sampai tanggal 22 Februari menjadi 9 USD/bed. OK, daripada saya harus bingung mencari hostel lain yang harganya belum tentu lebih murah. Inilah pertama kali saya tidur didalam Mix Dormitory, bersama banyak bule barat cowok maupun cewek. Satu kamar ada 6 buah bed, dengan sususan tempat tidur tingkat dua. Saya kebagian di bed atas, dibawah saya ditempati bule cowok. Waktu sudah malam, perut lapar, dan kamar mandi terpakai. Saya memutuskan untuk jalan-jalan malam ke pusat kota Nha Trang sambil mencari santapan makan malam di jalanan. Jarak dari hotel ke pantai hanya sekitar 1 km, cukup dekat bukan. Disepanjang pinggir jalan menuju pantai banyak sekali warung setara ”Warung Tegal” yang menjajakan menu sederhana. Makan malam tak harus yang mewah, yang penting bisa mengganjal perut yang lapar. Saya memilih nasi lauk telur dadar plus sayur yang sudah terjamin Halal. Makan di pinggir jalan jauh lebih nikmat daripada makan di restaurant, karena nuansa petualanganya lebih terasa. Cukup membayar dengan 20.000 VND, perut sudah kenyang dan siap begadang sampai malam utnuk menyambut meriahnya malam tahun baru. Saya berjalan menuju pantai, disana terdapat panggung gembira yang diisi oleh live music dan acara hiburan lainya. Suasana pinggir pantai nampak masih sepi, hanya ada satu gerombol orang datang dan memarkir sepeda motornya di depan panggung. Di jalan utama sepanjang pantai diwarnai lampu hias yang gemerlap, banyak sekali satu keluarga yang berhenti dan berfoto di antara gemerlapnya lampu hias tersebut. Semakin malam, pengunjung pantai semakin banyak pula. Yang tadinya cuman ada puluhan, sekarang sudah ada ratusan orang memadati panggung gembira tersebut. Diseberang jalan, terdapat sebuah night market dadakan. Disana ada penjual souvenir, bunga, dan juga makanan khas vietnam. Walaupun belum lapar, tapi penasaran dengan makanan yang menggoda. Mencicipi sebuah lemper yang berisi sayuran dan mie putih. Cara makanya dicocol ke dalam larutan yang rasanya asin pedas dan nyegrak di mulut. Saya lupa tanya namanya apa, yang jelas saya tidak menyukainya karena belum terbiasa. Harganya 10.000 VND. Waktu menuju pergantian tahun pun semakin dekat, 1 jam lagi pesta kembang api terbesar sepanjang tahun akan di gelar di pantai ini. Saya segera ambil posisi ditengah jutaan manusia yang telah memadati pantai utama ini. Semua orang berkumpul disini untuk menyambut pergantian tahun baru dengan penuh harap agar tahun depan lebih baik dari tahun sekarang. Saya duduk sendirian di tengah jutaan orang asing disekitarku, walaupun sebenarnya saya adalah orang asing bagi mereka. Tua, muda, anak-anak, laki-laki dan perempuan pun tumpah ruah dijalanan sepanjang pantai utama Nha Trang ini. Jam 12 malam tiba, semua orang berdiri, bangkit dari tempat duduknya dan menanti letusan pertama kembang api di depan sana. Dan ”Triiiiiuuung…………………….Dooorr..tret tetetet……byuurrr…”, kembang api pertama meluncur ke udara disambut sorakan dan tepuk tangan jutaan manusia disini. Dan kembang api selanjutnya terus meluncur di udara tanpa henti-hentinya. Setiap kali kembang api raksasa meletus, kembali suara sorakan dan tepuk tangan yang meriah membahana di antara rentetan letusan kembang api tersebut. Sungguh pesta tahun baru yang sangat meriah, dan disambut dengan rasa antusias yang tinggi oleh rakyat Vietnam. Mungkin ada 1 ton kembang api yang diluncurkan ke udara, lebih dari 15 menit tanpa henti-hentinya menghiasi langit diatas pantai yang gelap. Setelah kembang api terakhir berhenti, semua orang berteriak ” Huuuuuuuuuuu…….”, dan semuanya membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing, termasuk saya.

Kabarinews.com : Wisata Keluar Negeri dengan Budged Minim

Kutipan wawancara dengan Majalah Kabarinews.com (Majalah Indonesia di Amerika) tentang budged traveling . . . Sumber : www.kabarinews.com