Rumah Adat Batad : Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah

Batad memang bukan kampung pedalaman yang sangat tradisional, tetapi sudah tersentuh modernisasi dari luar. Hampir seluruh rumah telah mendapatkan aliran listrik yang baik dari generator pembangkit mini. Rumah penduduk sudah banyak yang tersusun dari bahan bangunan dan material modern, seperti semen untuk membangun pondasi, batu-bata untuk tembok dan seng untuk membangun atap rumah. Walaupun demikian, mata pencaharian utama penduduk batad masih sebagai petani. Untuk mempertahankan budaya mereka, tidak jarang kita menjumpai rumah adat batad yang dibangun disekitar rumah utamanya, yaitu sebuah gubuk seperti rumah pedalaman di suku pedalaman Sumba di Indonesia. Rumah tradisional berbentuk kerucut, beratapkan daun rumbia, memiliki 4  tiang penyangga utama, dan memiliki tangga untuk memasukinya. Di masing-masing tiang penyangga terdapat lempengan kayu yang berbentuk bulat yang terletak di bagian atas sebelum kayu peyangga menyentuh bagian dasar rumah, fungsinya adalah untuk menghindari adanya hewan pengerat yang berusaha naik melalui tiang penyangga. Sebelah bawah rumah (diantara 4 tiang penyangga ) biasanya difungsikan sebagai dapur, tempat untuk menanak nasi dan memasak makanan. Di dalam rumah panggung ini terdapat beberapa kompartemen, ada kompartemen untuk menyimpan persedian gabah, ada kompartemen untuk menyimpan perkakas, dan ada tempat untuk tidur. Nah karena sekarang sudah semi-modern, maka rumah adat ini dilengkapi dengan kasur sederhana, dimana bisa ditempati wisatawan yang ingin merasakan hangatnya tidur dirumah seperti ini. Satu lagi yang unik, ada beberapa tengkorak dan tulang hewan buruan yang diselipkan di atap bagian dalam  rumah ini, ada tengkorak kelelawar, tengkorak babi, tulang kerbau, dan lain-lain yang katanya berfungsi sebagai tolak bala untuk  rumah ini. Senang sekali malam harinya kami ber-4 (saya & 3 orang prancis) diberi kesempatan untuk merasakan tidur di rumah panggung yang unik ini. Kami tidur ber-4 hanya diterangi oleh cahaya lampu teplok dengan minyak yang cukup remang-remang. Begitu merebahkan ke tempat tidur, saya merasakan sebuah ketenangan dan kehangatan disini. Suasana yang hening membuat mata saya cepat terpenjam dan terlelap ke alam mimpi. Kejadian lucu ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam, disaat lampu teplok yang tadinya masih nyala sekarang sudah mati tak bercahaya lagi karena kehabisan minyak. Begitu bangun saya sangat terkejut, saya sangat panik karena saya tidak bisa melihat apapun, saya seperti melihat sebuah kegelapan abadi, saya pikir mata saya buta atau saya berada di alam lain, sampai saya panik mencari bantuan cahaya sambil berkata “where i am ..??” berkali-kali dengan setengah sadar. Ketika saya menemukan handphone, memencetnya dan mata saya merasakan sebuah cahaya, saya baru ingat kalau saya sedang tidur di rumah adat di Batad bersama ketiga teman baru saya. Salah satu teman saya sampai terbangun karena ulah saya yang aneh tersebut.

Di pagi harinya ketika saya cerita tentang kejadian saya tersebut, dia mengiyakan dengan berkata “ Yes i see  you turn on your mobile phone “, malunya saya setelah tahu ternyata dia terbangun dan melihat saya L. Kejadian seperti itu memang bukan pertama kalinya saya alami, saya pernah juga terbangun dengan kondisi setengah sadar dan hilang ingatan (baca: amnesia) ketika di Bekasi, begitu bangun saya tidak tahu saya berada dimana dan kebingungan mencari tau tentang keberadaan saya. Saya pun melanjutkan  tidur lagi setelah berhasil menenangkan diri, sampai pagi hari menjelang. Kebiasaan  buruk yang  tak pantas ditiru, saya bangun “kepluk” alis kesiangan, sampai dibangunin untuk sarapan pagi oleh teman saya. “Mantosss…wake uppp…breakfast ready…”, aaahh……malunya diriku. Secara semua teman saya sudah bangun sejak menjelang sunrise, mereka malah sudah jalan-jalan ke sawah untuk melihat cahaya pagi tersebut. Nah kejadian lucu ketika saya bangun tidur, begitu bangun saya langsung mengambil handuk untuk mandi, maklum tadi malem ”mimpi indah”, jadi wajib hukumnya untuk mandi biar suci dan segar J. Habis mandi spontan teman saya filipino komentar pada saya “You take a shower in this morning.. ??”, sambil memandang saya dengan ekspresi wajah yang aneh, emang mandi pagi salah yah. Saya jawab saja “ Yess…why ??”, dia pun menjawab “ This is early morning ..mantos”. Ternyata memang udara masih dingin dan semua teman saya belum mandi, jadi saya seperti orang aneh saja mandi terlalu pagi. Karena saya gak mungkin membuka rahasia saya kalau habis “mimpi indah”, dan sulit rasanya menjelaskan dalam bahasa inggris, akhirnya saya jawab “ Yess…beacause i got a bad dream overnight, so i have to refresh my mind”. Saya pikir cukup sampai disitu saya ditanya, eh ternyata masih ada pertanyaan selanjutnya “ Ohh..So in your country believe, when you get a bad dream, you must take a shower after that ?? “, busyettt…ngapain juga dikaitkan dengan kepercayaan, saya jawab dengan diplomatis saja “ No…just for me, i just want to refresh my body and my mind”. Akhirnya selesai juga interogasi kepada saya di pagi hari ini, lega J.

Hati-hati dengan kalimat “Depand on Situation” di Manila

Sopir Taksi yang konyol . . . .

Sedikit cerita konyol ketika saya naik taksi tanpa Argo di Filipina, tepatnya di Manila. Ceritanya bermula ketika saya mencari terminal Bus yang memiliki trayek ke Benaue dari Manila.  Saya melakukan sedikit kebodohan disini, yaitu kurangnya membawa informasi mengenai bus yang memiliki trayek ke Benaue. Karena kurang informasi, akhirnya saya percaya pada teman-teman baru saya dari Filipina yang mengatakan bus jurusan Benaue banyak ditemukan di Pasay, tepatnya di sekitar EDSA. Satu catatan penting tentang sistem bus di filipina adalah tidak ada terminal terpusat untuk bus umum, jadi setiap armada bus memiliki pangkalan sendiri dan memiliki trayek sendiri-sendiri pula. Jangan dibayangkan seperti di Indonesia dimana setiap kota memiliki terminal central, sehingga kita tinggal datang ke terminal jika mau naik bus apa ke jurusan mana. Di Filipina, kita harus tau bus mana yang memiliki trayek kemana dan terminalnya dimana.Di Manila sendiri ada puluhan terminal bus yang tersebar di berbagai tempat dengan anama Armada atau PO Bus yang berbeda. Nah, karena saya kurang melengkapi informasi, akhirnya saya naik LRT dari Coriedo menuju EDSA, selanjutnya saya mencari pangkalan bus Victoria Liner sesuai dengan saran teman-teman saya. Sampai di EDSA Station cukup jalan kaki 500 meter menuju pangkalan bus Victoria Liner tersebut. Begitu sampai di pangkalan bus, saya langsung menuju pusat informasi dan menanyakan trayek bus untuk hari itu juga. Alangkah terkejutnya saya ketika petugas informasi mengatakan “No bus to Benaue”, muka ini rasanya seperti ditampar pakai sandal jepit mendengar jawaban itu. Bercanda nih orang, saya masih belum percaya dan mencoba menuju loket penjualan tiket bus, dan ternyata memang benar tidak ada bus jurusan Benaue. Lemes  sudah kaki ini, saya pun duduk di ruang tunggu penumpang untuk sedikit menenangkan diri dan mencari inspirasi. Bayangan pegunungan Ifugao yang hijau dan sejuk sekarang menjadi gelap gulita tak berwarna. Sampai pada akhirnya saya membuka print-out itinerary dan informasi yang saya bawa. Tertulis “Florida Bus to Benaue” di itinerary saya, disitu hanya mencantumkan alamat dan nomor telpon tanpa menyertakan peta (ini kebodohan saya). Agar  tidak kecewa untuk yang kedua kalinya, saya pastikan dulu memalui telepon apakah dia memiliki bus jurusan Benaue atau tidak. Sedikit lega ketika saya mendengar jawaban “ Yes sir, we have bus to Benau” , rasanya seperti minum es buah di siang hari yang terik. Satu kebodohan saya lagi adalah, saya tidak tau posisi terminal bus tersebut, saya coba membuka peta Metro Manila tetapi tidak ketemu juga.

Saya memutuskan untuk naik Taksi saja, daripada saya kesasar kemana mana karena tidak tahu jalan dan waktu sudah malam. Ada lagi kesialan saya karena terlalu percaya pada supir taksi, dengan negosiasi yang alot saya menyerah dengan harga  450 PHP. Sebelum memutuskan harga, terlebih dahulu saya telpon Bus Florida tentang waktu perjalanan dari Pasay ke terminalnya, karena jawabanya adalah sekitar 1 jam tergantung kondisi lalu-lintas maka saya sepakati harga itu dengan membandingkan tarif taksi di Jakarta. Pelajaran kali ini adalah jangan terlalu baik dan percaya pada supir taksi umum, usahakan mengetahui posisi tempat yang dituju dan menyarankan Taksi menyalakan Argo. Dalam kasus ini, Taksi memang tidak memiliki Argo, jadi terpaksa kita melakukan tawar-menawar yang sengit. Dengan dalih sebagai taksi resmi untuk Victoria Liner, dia akan memberi kita berbagai macam argumen yang membuat kita percaya. Hati-hati dengan kalimat “Depend on the traffic situation”, itu artinya supir taksi akan meminta tambahan ongkos dari harga kesepakatan semula ketika kondisi lalu lintas macet. Nah anehnya, definisi macet disini yang menentukan adalah si supir taksi tersebut bukan kita. Hati-hati juga dengan  rayuan gombal supir taksi yang super melow, saat sedang diperjalanan si supir taksi cerita mengenai kehidupan ekonomi keluarganya yang sulit, anaknya banyak, sulit mencari penumpang, baru sekali ini mendapatkan penumpang, biasanya memberi tarif sekian, dsb, menurut saya itu hanya jebakan agar kita belas kasihan pada dia dan ujung-ujungnya dimanfaatkan untuk meminta ongkos tambahan. Terbukti ketika saya sudah sampai di terminal bus, begitu saya memberikan uang 500 PHP, supir taksi tidak mau memberikan kembalian dan bilang “ I hope you known the situation, the traffic is heavy”. Heavy dari hongkong…!!!, perjalanan perasaaan lancar-lancar saja dan hanya memakan waktu ½ jam, harusnya saya cuman bayar 300 PHP jika menggunakan Argo, kok dikasih 450 masih saja merengek minta tambahan. Dengan nada marah saya pun bilang “ Not Heavyyy, No traffic jump, we only took 30 minutes…give me my changes ..!! “, dan supir  taksi itu pun “ngedumel” dengan bahasa tagalog yang tidak saya mengerti sambil memberikan kembalian ke saya. Begitu dapat kembalian, saya segera keluar dan meninggalkan taksi konyol tersebut. Setelah tau tempatnya, saya baru sadar kalau saya melakukan hal yang sangat bodoh. Ternyata terminalnya berada di dekat District Quiapo, tempat saya jalan-jalan siang tadi, bodoh sekali saya  !!!.