Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan Menuju Surga Kecil


Jakarta – Merak

Menyambung cerita dari Anak Krakatau Part#1, perjalanan kami untuk menjelajah keindahan gunung legendaris di selat Sunda tersebut kami awali dari Jakarta. Kami ber-14 rencana berkumpul di halte bus Slipi, tepatnya di seberang RS Harapan Kita (dekat dengan Mall Slipi Jaya). Waktu itu cuaca sempat tidak bersahabat karena awan tebal dan gerimis sempat menyelimuti jakarta menjelang malam tiba. Pepatah mendung tak berarti hujan memang kadang ada benarnya, malam itu awan hitam perlahan-lahan menghilang dan bulan pun sempat kelihatan remang2. Agak molor dari jadawal semula yang direncanakan ngumpul paling telat jam 9 malam, karena kendala lalu lintas dan pekerjaan maka kami baru bisa berkumpul dan siap berangkat pada pukul 10 malam. Kami awali perjalanan dengan naik Bus Ekonomi (tanpa-AC) jurusan Merak, dengan tanrif ekonomi sebesar Rp 15.000,-. Tidak seperti biasanya katanya, bus yang kami tumpangi meluncur begitu cepat diluar perkiraaan. Kurang dari 2 jam perjalanan kami akhirnya sampai di Pelabuhan Merak – Banten. Ternyata pelabuhan Merak cukup ramai pedagang dan juga calon penumpang kapal menuju ke Bakauheni. Kebanyakan penumpang suka menyebrang dimalam hari agar bisa tidur dijalan dan sampai di Bakauheni di pagi hari. Jalan kaki sekitar 500 meter dari tempat pemberhentian bus, kami menuju loket pembelian tiket Kapal Ferry yang akan kami tumpangi. Karena malam hari dan tidak banyak penumpang, maka loket-pun hanya di buka 1 pintu padahal ada sekitar 6 loket pembelian tiket. Cukup murah, hanya Rp 10.000,- rupiah kita sudah bisa menyebrangi selat Sunda dengan nyaman (bayangin jaman dulu pakai perahu kayu, berapa lama dan berapa duit ya…#$%^&* ). Inilah pertama kali saya menjejakkan kaki di sebuah kapal penumpang (Ferry), dan juga pertama kali sama kan menjejakkan kaki ke Pulau Sumatra. Kapal Ferry sering disebut juga Kapal Ro-Ro, mungkin kita sering mendengan istilah itu dari liputan berita di televisi kan. Nah, ternyata Ro-RO itu singkatan dari Roll On – Roll Off, yang artinya kapal ini memiliki pintu yang bisa dibuka dan disandarkan ke dermaga sehingga kendaraan keluar masuk dengan sendirinya. Selain itu kapal ini memiliki 2 buah pintu yang berada di depan dan di belakang, sehingga kapal tidak perlu berputar jika akan bersadar ke dermaga. Dengan kata lain kapal ini memiliki 2 mulut untuk memasukkan dan mengeluarkan muatan, karena itulah banyak orang yang menyangka Ro-Ro itu singkatan dari Roll in-Roll out (salah kaprah haha..).

Merak – Pelabuhan Canti

Kapal Ferry penyebrangan Merak – Bakauheni adalah kapal reguler yang ada setiap 45 menit sekali. Armada kapalnya pun cukup banyak, sehingga gak perlu takut kehabisan kapal untuk menyebrang kecuali pada hari raya atau libur panjang. Kami memutuskan untuk beli tiket ekonomi dalam rangka ngirit ongkos, lagipula kita memang sudah backpacker mode. Tempat duduk kelas ekonomi memang keras, seperti di ruang tunggu stasiun yang terbuat dari  besi, hanya terdapat kipas angin dan angin cendela. Cuaca waktu itu begitu tenang,sepertinya tak ada angin sedikitpun yang memberikan kesejukan pada kami. Kami pun  memutuskan untuk naik ke dek-kapan bagian atas, nah disinilah kami bisa agak lega karena langsung berhubungan dengan udara luar. Ternyata tempat ini adalah  favorit bagi para penumpang, disamping kita bisa lega menghirup udara luar, pemandangan sepanjang perjalanan bisa kita nikmati dari sini. Berhubung waktu itu kami berangkat dini hari, jadi yang nampak hanya lampu-lampu pinggir laut yang kelap-kelip. Perjalanan dari Merak ke Bakauheni memakan waktu kurang lebih 2 jam. Dengan keterbatasan dan ketidaknyamanan tempat duduk yang ada, kami pun sempat tertidur pulas. Karena cuaca yang sangat baik, hampir tidak terasa kalau naik kapal karena ombak sangat kecil, kami sampai di Bakauheni jam 3 pagi. Masih sangat pagi untuk melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Canti. Keluar dari pelabuhan Bakauheni, kami mencoba bertanya pada petugas Cleaning Service tentang angkutan menuju Canti. Dari Bakauheni kita bisa nyarter Angkot kecil menuju ke Canti, biasanya angkot bisa didapat di depan pelabuhan. Cukup minta tolong pada petugas security pelabuhan, kita bisa dipanggilkan sopir angkot yang siap mengantar kita ke Canti. Proses tawar menawar harga pun harus dilakukan disini jika tidak ingin mendapatkan harga yang mahal. Kami mendapatkan harga sebesar Rp 170.000,- untuk berangkatnya dan Rp 150.000,- untuk baliknya. Selisih 20 ribu katanya untuk membayar calo pelabuhan yang menarik ongkos bagi Angkot yang masuk di luar jam operasional. Angkot kecil itu idealnya diisi oleh maksimal 14 orang tanpa barang, tapi kali ini diisi oleh 14 orang dengan masing2 orang membawa backpack minimal 40 liter. Sama saja angkot diisi oleh 28 orang, bayangin saja betapa sumpeknya itu. Dengan berbagai macam teknik, akhirnya angkot pun muat untuk menampung kami semua. Saya sarankan lain kali kalau ke Krakatau ajak teman kelipatan 10 orang, jadi sewa angkotnya lebih nyaman, 1 angkot idealnya untuk 10 orang + backpack. Walaupun umpek-umpekan seperti pindang, tetapi kami pun sempat ada yang tertidur pulas sepanjang perjalanan. Dari Bakauheni ke Canti memakan waktu sekitar 1,5 jam jika tanpa hambatan dan kemacetan. Jika siang hari atau waktu normal bisa mencapai 2-3 jam karena padatnya lalu lintas dan adanya kemacetan di jembatan yang ambles. Akhirnya kami sampai juga di pelabuhan Canti jam 04.30, suasana pelabuhan masih sepi dan remang2. Di pinggir pelabuhan terdapat sebuah aula yang bisa kita tempati untuk membeber matras, melanjutkan tidur malam yang diskrit. Tak lama kami tidur, Pak Amir si pemilik kapal sewaan pun datang menghampiri kami untuk membicarakan  rencana perjalanan ke surga kecil setelah matahari terbit.

Pelabuhan Canti – Pulau Sebesi

Perjalanan etape ketiga kami mulai dari pelabuhan Canti menggunakan perahu kayu bermesin disel milik Pak Amir. Matahari mulai bersinar, kami segera bersiap untuk berlayar menuju pulau Sebesi, yaitu pulau terdekat tujuan pertama kami. Berangkat dari Canti pukul 7.30, perjalanan diperkirakan memakan waktu kurang lebih 2 jam. Jika hari sebelumnya ombak tidak begitu besar, hari ini ombak sungguh membuat perjalanan ini semakin menantang. Kami sebagian besar duduk diatas dek kapal, sehingga bisa menikmati sejuknya udara laut dan indahnya pemandangan di pagi hari. Kami pun  sering berteriak jika perahu terguncang hebat setelah memecah ombak yang tinggi. Nikmatnya lagi, kita sarapan di atas dek kapal ditengah-tengah perjalanan dengan pemandangan indah di lautan . . . hmm . . . .mantabbb jaya!!! Tapi mesti hati-hati, sewaktu2 bisa muntah kalau tidak tahan dengan guncangan akibat ombak laut. Ditengah perjalanan tiba-tiba hujan turun, kami segera turun dari dek dan masuk ke dalam perahu. Karena didalam perahu tidak bisa leluasa memandang keluar, goyangan perahu akibat ombak pun membuat perut kami agak mual. Alhasil, salah satu teman kami yaitu “Yenni” mengalami mabuk laut, dia muntah2 beberapa kali di sepanjang perjalanan. Hujan ternyata hanya lewat, kami kembali ke atas dek perahu lagi untuk menghilangkan pusing di dalam ruangan. Dua jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Sebesi. Pulau ini merupakan pulau berpenghuni, memiliki sekitar 200 kepala keluarga, memiliki aliran listrik walaupun hanya nyala mulai jam 6 sore. Nah di pulau ini juga ada sebuah penginapan murah, hanya 100  ribu per kamar, bisa ditempati sampai orang lima per kamar. Kami menuju pulau ini untuk mengambil ketering makan siang dan mengambil peralatan snorkeling. Setelah semuanya lengkap, kami segera melakukan menuju surga kecil yang pertama, yaitu Pulau Umang-umang.

Snorkeling @ Pulau Umang-Umang

Pulau umang-umang adalah destinasi pertama kami untuk melakukan aktifitas  Snorkeling. Pulau ini sangat dekat dengan Pulau Sebesi, bahkan kelewatan perahu kita sebelum sampai di dermaga Sebesi. Pulau umang-umang hanya berukuran 50×50 meter persegi, tetapi memiliki keindahan gugusan karang dan pantai pasir putihnya yang masih alami. Inilah pengalaman pertama kali saya snorkeling, pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Saya adalah anak gunung yang tidak bisa berenang, dan tidak ada niatan untuk nyebur berenang melihat ikan-ikan dibawah air. Pikiran awal saya ke Krakatau adalah mendaki gunungnya, itulah tujuan utama dari saya. Tetapi karena semua teman-teman saya nyebur untuk snorkeling, saya pun ngiler dan penasaran untuk mencobanya. Dengan perasaan takut tenggelam, takut mati, takut gak kebawa arus, saya pun terus diteriakin teman2 saya untuk nyebur, terutama oleh Nanet dan Nova. Akhirnya saya pun mengiyakan mereka, dengan catatan mereka mau menjadi asisten saya untuk snorkeling. Mulailah saya memakai life vest dan memberanikan diri untuk nyebur. Nanet pun mendekat dan membantu saya berenang dari kapal menuju pulau kecil tersebut. Kepanikan pertama saya pun terjadi ketika tiba2 badan saya terperosok ke bawah lambung perahu, untung ada Nanet yang bisa menarikku (makasih ya net :D ). Akhirnya sampai juga saya di pinggir pulau umang-umang dengan berenang  dan ditarik oleh instruktur cantik yang bernama Nanet tersebut. Selanjutnya, saya selalu dikawal oleh 2 orang instruktur snorkeling yang cantik-cantik, yaitu Nova dan Nanet. Saya mulai bisa mengambang dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah, walaupun sesekali saya “glagepen” meminum air laut krn salah bernafas. Mulai saat inilah saya ketagihan untuk menikmati keindahan bawah laut. Terumbu karang di pulau ini memang tidak seberapa bagus, ikannnya pun tidak seberapa banyak, mungkin karena dekat dengan Pulau Sebesi yang telah banyak terpengaruh oleh aktivitas manusia. Satu jam lebih kami snorkeling dan menikmati keindahan pulau kecil ini, kami pun kembali ke perahu untuk melanjutkan perjalanan ke spot snorkeling kedua, yaitu Lagoon Cabe di Pulau Rakata.

Snorkeling @ Lagoon Cabe

Dengan kondisi badan yang masih basah kuyub, kami melanjutkan perjalanan ke Spot snorkeling yang kedua, yaitu di lagoon cabe yang berada di Pulau Rakata. Pejalanan kami mulai sekitar pukul 12 siang, memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke P Rakata. Perjalanan kali ini lebih keras daripada perjalanan sebelumnya, ombak makin tinggi dan perahu bergoyang makin hebat. Di sepanjang perjalanan, kami sempat melihat jelas kubah gunung Anak Krakatau yang menghitam di kejauhan. Sesampainya di Lagoon Cabe, kami menjumpai serombongan turis asing yang juga sedang snorkeling di tempat itu juga. Mereka membawa kapal pesiar kecil yang bertuliskan Ujung Genteng, berarti kapal itu berlabuh dari Sukabumi menuju ke Krakatau. Begitu kapal kami berhenti, teman2 tidak sabar langsung meloncat dari perahu nyebur ke laut, sedangkan saya masih harus pasang pelampung, dan berdoa sebelum terjun ke air :D . Lagoon Cabe memiliki terubu karang yang lebih bagus dibandingkan dengan P Umang-Umang, ikan disini pun lebih banyak dan lebih bervariasi. Seperti biasanya, saya selalu dikawal oleh 2 orang bidadari untuk snorkeling, tak jarang saya dikerjain oleh kedua instruktur saya tersebut. Nah, kejadian menarik ketika mengakhiri acara snorkeling di tempat ini. Semua sudah naik ke perahu tinggal saya yang bersusah payah berenang menuju ke perahu digandeng oleh Nova. Dengan penuh percaya diri bercampur rasa gengsi, saya minta Nova duluan saja ke perahu, dan saya yakin saya bisa renang sendiri sampai kapal. Karena posisi jaket pelampung saya yang tidak terpakai di badan, saya lepas dan saya buat tumpuan dada saya agar mengambang, maka saya tidak bisa berenang dengan bebas. Sebenarnya saya mau memakai pelampung saya dengan benar, tapi karena takut tenggelam maka saya hanya bisa pasrah terombang ambing ombak diatas jaket pelampung tersebut. Tidak cuman masalah pemakaian pelampung yang tidak benar, arus air pun semakin deras sehingga saya tidak mampu melawannya. Hampir 10 menit saya terapung-apung di air sendirian, akhirnya teman saya Andik lah sebagai pahlawan yang menarik saya ke kapal. Duuuh . . . .benar2 memalukan :D . Waktu sudah jam 4 sore, kami rencana bermalam di lereng pulau Anak Krakatau, persis disamping gunung  Anak Krakatau. Perjalanan dari Lagoon Cabe ke pulau Anak Krakatau hanya sekitar 1 jam, pukul 5 sore kami sudah sampai disana. Di pinggir pantai berpasir putih kami mendirikan tenda untuk menginap semalam, berencana melanjutkan trekking ke puncak Anak Krakatau keesokan paginya.

 

Cerita selanjutnya di : Anak Krakatau Part# 3

Backpacking around Philippines for 10 Days

 

Peta Perjalanan  Backpacking Filipina

(31 Juli – 09 Agustus 2010)

 

Alhamdulilah . . .untuk yang kedua kalinya (setelah Vietnam) saya menyelesaikan misi solo backpacking ke negara tetangga yaitu Filipina. Sebagian besar orang mengenal Filipina dengan keindahan pantai dan alam bawah lautnya, padahal masih banyak sisi lain yang menarik di negeri tetangga kita tersebut. Karena kolonialisme Spanyol di masa lampau, Filipina banyak memiliki situs kota tua yang bernuansa Eropa. Intramuros dan Vigan merupakan situs kota tua yang telah diresmikan oleh UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia. Jauh 3000 tahun yang lalu, nenek moyang orang Filipina juga telah membangun sebuah terasiring padi yang sangat memukau di kota Benaue, yang dikenal dengan Benaue Rice  Terraces. Sekarang Rice Terraces tersebut telah menjadi Icon kebanggan Filipina yang juga telah dinobatkan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Perang Dunia 2 juga membuat Filipina memiliki sejumlah peninggalan bersejarah, salah satu yang paling terkenal adalah Corregidor Island yang kini menjadi objek wisata favorit bagi para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Seiring dengan modernisasi global, ibukota Filipina yaitu Manila juga telah menjadi kota Metropolitan yang sangat sibuk.

Filipina merupakan negara kepulauan seperti Indonesia, dimana totalnya  memiliki 7.100 pulau. Dari pulau sebanyak itu, pemerintah Filipina membaginya menjadi 3 Grup Pulau, yaitu Luzon mewakili kepulauan disebelah utara, Visayas mewakili bagian tengah, dan Mindanao mewakili bagian selatan. Dari setiap pulau tersebut dibagi lagi menjadi beberapa Region atau Wilayah, dimana pembagianya adalah 8 Region di Luzon, 3 Region di Visayas, dan 6 Region di Mindanao. Lalu dari setiap Region akan dibagi lagi menjadi beberapa  Provinsi, baru kemudian dibagi menjadi beberapa Kota yang lebih kecil. Dalam buku ini menceritakan pengalaman saya traveling menyusuri 4 Region yang ada di pulau Luzon, yaitu di National Capital Region (NCR), Cordillera Administrative Region (CAR), Calabarzon Region, dan Ilocos Region. Dari perjalanan menyusuri keempat region tersebut, kita bisa menikmati beberapa tipe objek wisata mulai dari Wisata Kota, Wisata Kota Tua, Wisata Religi, Wisata Pantai, Wisata Gunung, Wisata Bawah Laut, Wisata Perang, dan tentunya juga Wisata Kuliner. Cukup dalam waktu 10 hari, kita bisa mengenal secara merata tentang keindahan Filipina dari berbagai tipe objek wisata.

Memang pariwisata Filipina bisa dibilang masih tertinggal dari negara-negara tetangganya di Asia Tenggara lainnya seperti Thailand, Malaysia, Singapura, dan Vietnam, tetapi kekayaan dan keragaman objek wisata yang tersimpan di negara tersbut patut mendapatkan predikat sebagai negara tujuan pariwisata bagi para traveler dan backpacker dari Indonesia. Hampir mirip dengan Indonesia, pembangunan infrastruktur dan transportasi ke objek wisata masih belum bisa dikatakan bagus sehingga menjadi masalah bagi wisatawan untuk berkunjung ke tempat-tempat wisata. Dengan adanya penerbangan langsung dari Indonesia ke Filipina, maka semakin memudahkan bagi para traveler dan backpacker dari Indonesia untuk menjelajah negara tetangga dekat kita itu. Traveling selama 10 hari di Filipina tidak hanya membuat saya mengerti tentang idahnya objek wisata, melainkan membuat saya mengerti juga akan nikmatnya sebuah perjalanan.

Seperti halnya Vietnam, kisah perjalanan saya menjelajah Filipina kali ini rencananya juga akan diterbitkan dalam bentuk buku semi Travel Guide. Semoga proses pembuatan buku dapat berjalan dengan lancar, sehingga di bulan November 2010 sudah bisa terbit dan beredar di toko buku. Dan pastinya, semoga buku ke-2 kali ini bisa bermanfaat untuk berbagi pengalaman kepada pembaca. Sebagian cerita-cerita menarik akan saya upload di blog ini, jadi silahkan tunggu cerita-cerita menarik tentang Filipina dari saya . . . .

Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah @ Rumah Adat Batad

Kegelapan Abadi dan Mimpi Indah @ Rumah Adat Batad

Batad memang bukan kampung pedalaman yang sangat tradisional, tetapi sudah tersentuh modernisasi dari luar. Hampir seluruh rumah telah mendapatkan aliran listrik yang baik dari generator pembangkit mini. Rumah penduduk sudah banyak yang tersusun dari bahan bangunan dan material modern, seperti semen untuk membangun pondasi, batu-bata untuk tembok dan seng untuk membangun atap rumah. Walaupun demikian, mata pencaharian utama penduduk batad masih sebagai petani. Untuk mempertahankan budaya mereka, tidak jarang kita menjumpai rumah adat batad yang dibangun disekitar rumah utamanya, yaitu sebuah gubuk seperti rumah pedalaman di suku pedalaman Sumba di Indonesia. Rumah tradisional berbentuk kerucut, beratapkan daun rumbia, memiliki 4  tiang penyangga utama, dan memiliki tangga untuk memasukinya. Di masing-masing tiang penyangga terdapat lempengan kayu yang berbentuk bulat yang terletak di bagian atas sebelum kayu peyangga menyentuh bagian dasar rumah, fungsinya adalah untuk menghindari adanya hewan pengerat yang berusaha naik melalui tiang penyangga. Sebelah bawah rumah (diantara 4 tiang penyangga ) biasanya difungsikan sebagai dapur, tempat untuk menanak nasi dan memasak makanan. Di dalam rumah panggung ini terdapat beberapa kompartemen, ada kompartemen untuk menyimpan persedian gabah, ada kompartemen untuk menyimpan perkakas, dan ada tempat untuk tidur. Nah karena sekarang sudah semi-modern, maka rumah adat ini dilengkapi dengan kasur sederhana, dimana bisa ditempati wisatawan yang ingin merasakan hangatnya tidur dirumah seperti ini. Satu lagi yang unik, ada beberapa tengkorak dan tulang hewan buruan yang diselipkan di atap bagian dalam  rumah ini, ada tengkorak kelelawar, tengkorak babi, tulang kerbau, dan lain-lain yang katanya berfungsi sebagai tolak bala untuk  rumah ini. Senang sekali malam harinya kami ber-4 (saya & 3 orang prancis) diberi kesempatan untuk merasakan tidur di rumah panggung yang unik ini. Kami tidur ber-4 hanya diterangi oleh cahaya lampu teplok dengan minyak yang cukup remang-remang. Begitu merebahkan ke tempat tidur, saya merasakan sebuah ketenangan dan kehangatan disini. Suasana yang hening membuat mata saya cepat terpenjam dan terlelap ke alam mimpi.

Kejadian lucu ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam, disaat lampu teplok yang tadinya masih nyala sekarang sudah mati tak bercahaya lagi karena kehabisan minyak. Begitu bangun saya sangat terkejut, saya sangat panik karena saya tidak bisa melihat apapun, saya seperti melihat sebuah kegelapan abadi, saya pikir mata saya buta atau saya berada di alam lain, sampai saya panik mencari bantuan cahaya sambil berkata “where i am ..??” berkali-kali dengan setengah sadar. Ketika saya menemukan handphone, memencetnya dan mata saya merasakan sebuah cahaya, saya baru ingat kalau saya sedang tidur di rumah adat di Batad bersama ketiga teman baru saya. Salah satu teman saya sampai terbangun karena ulah saya yang aneh tersebut. Di pagi harinya ketika saya cerita tentang kejadian saya tersebut, dia mengiyakan dengan berkata “ Yes i see  you turn on your mobile phone “, malunya saya setelah tahu ternyata dia terbangun dan melihat saya malam itu. Kejadian seperti itu memang bukan pertama kalinya saya alami, saya pernah juga terbangun dengan kondisi setengah sadar dan hilang ingatan (baca: amnesia) ketika di Bekasi, begitu bangun saya tidak tahu saya berada dimana dan kebingungan mencari tau tentang keberadaan saya. Saya pun melanjutkan  tidur lagi setelah berhasil menenangkan diri, sampai pagi hari menjelang.

Kebiasaan  buruk yang  tak pantas ditiru, saya bangun “kepluk” alis kesiangan, sampai dibangunin untuk sarapan pagi oleh teman saya. “Mantosss…wake uppp…breakfast ready…”, aaahh……malunya diriku. Secara semua teman saya sudah bangun sejak menjelang sunrise, mereka malah sudah jalan-jalan ke sawah untuk melihat cahaya pagi tersebut. Nah kejadian lucu ketika saya bangun tidur, begitu bangun saya langsung mengambil handuk untuk mandi, maklum tadi malem ”mimpi indah”, jadi wajib hukumnya untuk mandi biar suci dan segar J. Habis mandi spontan teman saya filipino komentar pada saya “You take a shower in this morning.. ??”, sambil memandang saya dengan ekspresi wajah yang aneh, emang mandi pagi salah yah. Saya jawab saja “ Yess…why ??”, dia pun menjawab “ This is early morning ..mantos”. Ternyata memang udara masih dingin dan semua teman saya belum mandi, jadi saya seperti orang aneh saja mandi terlalu pagi. Karena saya gak mungkin membuka rahasia saya kalau habis “mimpi indah”, dan sulit rasanya menjelaskan dalam bahasa inggris, akhirnya saya jawab “ Yess…beacause i got a bad dream overnight, so i have to refresh my mind”. Saya pikir cukup sampai disitu saya ditanya, eh ternyata masih ada pertanyaan selanjutnya “ Ohh..So in your country believe, when you get a bad dream, you must take a shower after that ?? “, busyettt…ngapain juga dikaitkan dengan kepercayaan, saya jawab dengan diplomatis saja “ No…just for me, i just want to refresh my body and my mind”. Akhirnya selesai juga interogasi kepada saya di pagi hari ini, lega  . . . .

IBF 2010 :Talkshow Bersama Penulis Buku Traveling Bentang Pustaka

Manggung Pertama Kali
Inilah pengalaman pertama kali saya Talkshow diatas panggung yang ditonton puluhan orang dan disaksikan pula oleh para wartawan (walaupun tak sengaja kalau ternyata disaksikan :D ). Biasanya talkshow hanya di toko buku dan hanya menghadapi belasan pembaca, benar-benar ini adalah pengalaman saya Mangung untuk pertama kalinya di depan umum. Sedikit nervous juga ketika naik panggung dan memperkenalkan diri kepada peserta Talkshow. Tapi selanjutnya saya merasa menikmati berbagi pengalaman dan bertukar pikiran dengan para pembaca yang hadir di acara itu. Adalah Talkshow “Travelling Asyik dengan Kocek Irit!” di Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan – Jakarta yang di gelar oleh Penerbit Bentang Pustaka. Berikut dibawah ini ulasan dari Media Kompas dalam acara tersebut :
Mudahnya Cari Liburan Panjang
Minggu, 10 Oktober 2010 | 21:10 WIB

***Foto Dari Kiri : Ditta (moderator), Ariyanto, Rini Raharjanti, Trinity, Claudia Kaunang, Sihmanto (saya)

Penerbit Bentang Pustaka menggelar Talkshow “Travelling Asyik dengan Kocek Irit!” di Indonesia Book Fair 2010, Istora Senayan, Jakarta. Lima penulis buku mengungkapkan tips dan trik perjalanan wisata yang hemat.

JAKARTA, KOMPAS.com - Seseorang tidak akan sulit untuk menemukan masa libur panjang di tengah kesibukan pekerjaan, asalkan bisa mengatur libur dan cuti kerja sedemikian rupa. Kunci utamanya, membereskan pekerjaan utama sesegera mungkin.

“Bos saya santai. Asalkan kerjaan beres, kita bisa cuti sesuka hati,” ungkap penulis buku The Naked Traveller, Trinity, dalam sebuah talkshow Indonesia Book Fair (IBF) 2010 , Minggu ( 10/10/2010 ) di Istora Senayan, Jakarta.

Dengan sebuah perencanaan liburan yang baik, Trinity mengaku dapat waktu bebas selama dua bulan. “Dalam waktu 2 bulan itu, saya dapat bertamasya ke Bali, Flores, Wakatobi dan Makassar,” tuturnya.

Hal serupa dialami Rini, penulis buku Tiga Jutaan Keliling India dalam 8 Hari. Untuk mendapatkan libur yang lama, dia merencanakan dan menyusun plot libur kerja hingga memperoleh masa libur sampai 25 hari dalam setahun.

Bagi yang kerjanya full time, Anda tak perlu khawatir. Claudia Kaunang mengatakan, asalkan diri kita bisa mengatur akhir pekan, liburan bisa dirasakan. Penulis buku Dua Juta Keliling Thailand, Malaysia dan Singapura ini menyarankan supaya kita mengumpulkan masa cuti. “Dengan cuti yang terkumpul menjadi satu rangkaian, Anda akan mendapatkan hari libur yang lebih lama dari hari yang disediakan oleh perusahaan,” ujar wanita yang menetap di Singapura ini.

Sementara penulis buku Dua Jutaan Keliling Vietnam, Sihmanto, punya kiat yang lebih unik. Menurut dia, jalan-jalan harus dianggap sebagai pekerjaan utama, sebaliknya bekerja di kantor itu usaha sampingan. “Pola kita semestinya ditukar,” tegas dia.

Dengan pola hidup begitu, lanjut pria yang disapa Mantos ini, ia bisa cuti sesuai keinginan di saat kita sudah tidak ada pekerjaan. “Padahal saya juga pekerja kantoran loh yang jatah cutinya 12 hari,” katanya.

Agar Nyaman Keliling Dunia, Ini Tipsnya
Laporan wartawan KOMPAS.com Adi Dwijayadi
Senin, 11 Oktober 2010 | 00:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Bila Anda berencana jalan-jalan ke luar negeri, dianjurkan membawa yang ringan-ringan dan seperlunya saja. Ini penting untuk menekan biaya pada saat keberangkatan.
“Jika tidak ketemu, ya cuci pakai tangan. Saya kalau jalan-jalan lebih dari dua minggu, akan diusahakan ada hari khusus untuk cuci sendiri.”
– Trinity, penulis buku The Naked Traveller

Rini, penulis buku 3 Jutaan Keliling India dalam 8 Hari, mengaku hanya membawa barang seberat 7 kg dalam backpack-nya yang bisa memuat sampai 40 liter.

“Barang seperlunya saja yang kubawa untuk mengantisipasi additional charge pada sebagian maskapai penerbangan,” kata Rini ketika berbicara pada talkshow Travelling Asyik dengan Kocek Irit!, dalam Indonesia Book Fair 2010 di Istora Senayan, Jakarta, Minggu ( 10/10/2010).

Selain membawa yang tidak berat-berat, dianjurkan untuk menyiapkan dua jenis backpack, yaitu tas gunung dan tas kecil. Menurut Sihmanto, tas gunung 45 liter cukup membawa barang yang diperlukan saja. “Beratnya 12 kg saja,” ujarnya.

Sihmanto yang juga pengarang buku Dua Jutaan Keliling Vietnam itu menambahkan, orang-orang biasanya menenteng bawaan yang lebih berat ketika kembali dari luar negeri. “Karena di sana teman-teman pasti akan membeli pakaian atau pernak-pernik khas yang bisa untuk dibagikan,” katanya.

“Selain tas gunung, kita perlu tas kecil. Fungsinya untuk menyimpan paspor, uang dan surat berharga,” imbuh Sismanto.

Soal mencuci baju di luar negeri, tak perlu khawatir. Laundry kiloan mudah ditemukan di sana. “Jika tidak ketemu, ya cuci pakai tangan. Saya kalau jalan-jalan lebih dari dua minggu, akan diusahakan ada hari khusus untuk cuci sendiri,” imbuh Trinity, penulis buku The Naked Traveller.

Perlu diingat, lanjut Trinity, ada hostel yang tidak membolehkan penghuninya cuci sendiri. “Untuk menyiasatinya, saya mencicil cuci pakaian per hari. Lalu, diangin-angini di atas kasur supaya pakaian cepat kering,” ungkap perempuan yang juga mengarang buku Duo Hippo Dinamis: Tersesat di Byzantium ini.

Berbeda dengan penginapan di negara lain, pembiacara lain, Claudia Kaunang, pernah mencoba laundry gratis di salah satu hostel di Korea Selatan.

“Terserah berapa potong pakaian, tapi nanti setelah pakaian sudah kering tidak disetrika, loh dan saya nggak mempersoalkan hal itu,” ujar perempuan berkacamata yang pernah menjelajahi tiga negara ASEAN hanya dengan Rp 2 juta itu.

Dikutip dari sumber :

http://travel.kompas.com/read/2010/10/10/21105078/Mudahnya.Cari.Liburan.Panjang

http://travel.kompas.com/read/2010/10/11/00135983/Agar.Nyaman.Keliling.Dunia.Ini.Tipsnya