Marathon Hue to Hanoi : Perjalanan bukan sekedar Destinasi

Perjalanan Bukan Sekedar Destinasi

Dalam perjalanan saya ke Vietnam, inilah misi yang sejak dari awal saya prediksi paling sulit untuk diselesaikan. Selain tempatnya yang jauh dari kota, posisinya juga berada di sebuah pegunungan yang waktu tempuhnya dari Dong Hoi memakan waktu 6 jam lebih. Bagi saya, perjalanan bukan sekedar destinasi. Keluar dari stasiun Dong Hoi kembali saya disambut dengan cuaca yang tidak bersahabat, gerimis lembut menemani perjalanan saya menuju pusat kota Dong Hoi. Saya memilih untuk jalan kaki dari stasiun ke pusat kota, berharap menemukan terminal bus atau travel agent yang bisa mengantar saya menuju Phong Nha Ke Bang, salah satu taman nasional di Vietnam yang memperoleh gelar Natural World Heritage oleh UNESCO. Pong Nha Ke Bang merupakan sebuah Gua kapur yang besar, terletak di pegunungan kapur sebalah barat laut kota Dong Hoi. Wisata yang ditawarkan adalah trekking menggunakan boat memasuki gua yang lebar dan panjang tersebut, sungguh mengasyikkan bukan. Dong Hoi merupakan kota kecil, tidak lebih besar dari kota Klaten, kampung halaman saya. Pagi hari masih belum banyak aktivitas warga disini, hanya terlihat tukang ojek yang bergantian menawarkan jasa kepada saya. Disamping kanan kiri terdapat ruko-ruko yang nampak baru didirikan. Hampir satu jam lebih saya berjalan kaki menyusuri pusat kota ini, pundak saya terasa terbakar memanggul backpack. Sampai pula saya di terminal Dong Hoi, terminal yang berisi minibus dan bus sebesar metromini, jumlahnya pun tak lebih dari 10 buah. Saya mencoba masuk dan bertanya kepada seseorang yang memberikan layanan tiket disana. Tak seorangpun bisa berbahasa inggris, sampai saya harus menggambar dan menunjukkan peta Phong Nha Ke Bang di print-out yang saya bawa. Lalu salah seorang dari mereka menunjukkan saya tempat, yaitu Ben Xe Namly atau Terminal Namly. Saya tidak tau apa yang dia katakan, letaknya dimana saya juga tidak tahu, dia hanya menunjuk arah dan berbicara dalam bahasa vietnam yang tidak saya mengerti. Terpaksa saya mengandalkan tukang ojek di depan terminal untuk mengantar saya. Sampai di Ben Xe Namly, suasananya tak jauh beda. Hanya ada satu bus yang parkir disana, dan saya tidak menemukan bus bertuliskan trayek ke Phong Nha Ke Bang. Sementara gerimis terus mengguyur kota ini. Tukang ojek berusaha mmbantu saya menanyakan ke petugas di terminal yang sepi tersebut. Dia kembali dengan penuh semangat memberi tahu saya dengan bahasa vietnam, percuma saja saya tidak mengerti maksudnya. Dia aku suruh menulis dan menggambar di kertas kosong tentang informasi tersebut. Baru saya paham maksudnya, bahwa untuk menuju ke Phong Nha Ke Bang memerlukan waktu kurang lebih 6-7 jam. Jika berangkat jam 8 pagi, maka sampai sana jam 2 siang. Jadi pulang ke Dong Hoi paling cepat jam 10 malam. Tambah pusing saja saya mendengar penjelasanya. Saya dihadapkan pada pilihan yang sulit, jika saya memaksakan ke Phong Nha, bisa-bisa destinasi berikutnya akan tidak tercapai dan membahayakan kepulangan saya ke Indonesia. Sejenak saya berfikir, tukang ojek pun hanya tersenyum melihat saya terlihat putus asa. Saya memandang ke langit, cuaca kelihatanya tidak bersahabat pula untuk melanjutkan perjalanan ke Phong Nha. Kalau di Dong Hoi saja gerimis sepanjang hari, apalagi di pegunungan sana. Saya memutuskan untuk membatalkan destinasi ini, dan meminta tukang ojek mengantar saya ke jalan raya 1A untuk mencegat Bus umum jurusan Hanoi. Diantarlah saya ke jalan raya 1A, jalan raya utama yang dilewati bus antar kota. Seperempat jam saya menunggu, tapi tidak ada tanda-tanda bus jurusan Hanoi lewat jalan ini. Datanglah sebuah minibus dengan papan nama didepanya bertuliskan ”VINH”, merupakan ibukota Provinsi Quang Binh. Kernet bus menawari saya dengan berteriak ”Vinh….”, saya jawab dengan teriakan ” Hanoi….”. Kembali kernet tersebut berteriak ” Vinh ….Hanoi”, sambil memberikan isyarat kepada saya kalau dari Vinh nanti oper Bus ke Hanoi. Dalam keadaan seperti ini kita dituntut untuk berfikir cerdas dan cepat, karena kesempatan baik belum tentu akan datang dua kali. Yang jelas kita juga harus mempertimbangkan resiko yang ada, jangan sampai asal-asalan naik bus tanpa tau arah tujuan. Bergegas saya melompat ke dalam Minibus, meninggalkan kota Dong Hoi yang masih belum bangun dari tidurnya.

Peeing Massal

Perjalanan ini walaupun penuh rintangan dan hambatan, tetapi memberikanku pengalaman yang berharga untuk memecahkan sebuah masalah dengan cepat dan cerdas. Angkutan antar kota dalam provinsi bukannya bus besar, tetapi hanya sebuah minibus yang besarnya sama dengan ELF di Indonesia. Ongkos dari Dong Hoi ke Vinh adalah 100.000 VND, perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam. Vinh merupakan ibukota dari Provinsi Quang Binh. Sepanjang perjalanan dari Dong Hoi ke Vinh diselimuti dengan gerimis tebal dan sesekali menerjang hujan. Udara dingin di dalam minibus pun bertambah dingin karena udara luar yang begitu dingin. Semua orang mengenakan jaket dan meringkuk kedinginan. Minibus berhenti menaikkan penumpang dan juga kadang menurunkan penumpang di pinggir jalan, sementara penumpang keluar masuk minibus dengan berlari karena diluar sana sedang gerimis lebat. Gerimis lebat maksudnya yaitu gerimis yang sangat rapat, sehingga menyerupai hujan salju. Hujan seperti ini waktunya sangat lama, bisa seharian penuh tanpa henti seperti di Hue City kemarin. Karena udara yang semakin dingin, saya merasa kebelet kencing dan tak tertahankan lagi. Sementara minibus terus melaju dengan kecepatan penuh, mau minta berhenti sebentar saya juga tidak enak karena bangku saya berada di tengah jauh dari kernet. Tiba-tiba minibus mengurangi kecepatanya dan berhenti di dekat perkampungan penduduk, ternyata ada salah seorang penumpang yang mau turun. Inilah kesempatan saya untuk minta waktu buang air kecil. Saya ikutan turun dari bus dan memberi kode pada kondektur kalau saya mau kecing sebentar. Kondisi waktu itu masih gerimis lebat, tak peduli saya langsung mencari posisi kencing di pinggir jalan. Setelah saya selesai kencing, begitu saya mau masuk ke bus, semua orang di dalam bus berhamburan keluar dari bus. Malahan ada yang membuka jendela dan melompat keluar dari jendela. Ada apa ini, laki-laki dan perempuan semuanya keluar dari bus dan berlarian mencari posisi masing-masing. Ternyata tidak saya saja yang ”ngampet” buang air kecil, buktinya mereka sekarang malah melakukan ”Peeing Massal”. Lega sudah rasanya membuang beban satu ton yang saya bawa sejak tadi. Semua orang kembali ke posisi tempat duduk masing-masing, minibus kembali melanjutkan perjalanan ke Vinh. Saya sempat tertawa sendiri melihat kejadian lucu ini, masa’ orang satu bus cowok dan cewek buang air kecil bersama-sama di pinggir jalan raya hahaha…. Sayalah pemenang lomba buang air kecil tersebut, karena saya yang paling cepet kembali ke Bus :D . Setelah menempuh perjalanan panjang, sampai juga saya di kota Vinh. Ternyata kota Vinh itu cukup besar, banyak gedung-gedung bertingkat disini. Maklum, kota ini adalah ibukota provinsi. Saya sempat melihat Vinh University yang bangunanya megah berdiri di pingging jalan utama kota Vinh. Walaupun kota besar, Vinh bukan merupakan kota Wisata. Pemerintah Vietnam tidak mem-promote kota ini seperti 8 kota wisata lainya, mungkin memang tidak ada tempat wisata yang menarik di daerah ini. Tiba diterminal Vinh pukul 12 lebih 30 menit. Kernet bus memberitahu saya untuk membeli tiket Bus ke Hanoi di bangunan sebelah. Segera saya mengambil backpack dari bagasi dan mencari tiket Bus ke Hanoi. Terminal bus di kota Vinh cukup besar dan ruwet, persis seperti terminal bus Tirtonadi Solo. Ada beberapa loket penjualan tiket bus ke Hanoi, semuanya bertuliskan dalam bahasa Vietnam. Saya mencoba mempelajari time schedule yang dipampang di atas loket penjualan. Seperti biasanya saya mencatat diatas kertas dan berencana memberikanya ke petugas penjaga loket. Tetapi semuanya tidak berjalan dengan mulus, banyak orang lokal yang berkerumun didepan loket bergantian tanpa antrian yang jelas. Tak mungkin saya menyela mereka, terlalu ruwet untuk dijinakkan. Ada seorang bertanya pada saya mau kemana, saya jawab ke Hanoi. Saya sudah menyiapkan uang sebesar 130.000 VND sesuai dengan harga tiket yang tertera di loket. Seseorang tadi mengambil uang saya dan mengitungnya, setelah itu dia mengibaskan uang saya dan memberikan kembali ke saya seolah uang itu tidak cukup untuk pergi ke Hanoi. Saya coba keluar dari keramaian dan mencari sudut pandang lain untuk mendapatkan Bus jurusan Hanoi. Ada seseorang yang bertanya pada saya lagi ”Mau kemana..??”, saya jawab singkat ”Hanoi..”. Dia mengambil uang yang saya bawa dan mengatakan kurang, dengan bahasa Vietnam. Lalu dia mengambil uang disakunya dan menunjukkan ke saya sebesar 150.000 VND. OK, saya ambil dompet saya dan saya tambahkan 20.000 VND, kemudian saya diantar naik ke bus jurusan Hanoi. Hujan gerimis terus mengguyur kta Vinh, bus meninggalkan kota ini pukul 1 siang menuju ke kota impian berikutnya yaitu Hanoi.

Belajar Naik Kereta Di Vietnam : Gara-gara penjaga Boarding Room ketiduran, penumpang panik berlarian

Inilah kali pertama saya akan naik kereta api di Vietnam. Saya harus menunggu sampai jam 2 pagi di Stasiun Hue, karena saya ingin sampai di Dong Hoi di pagi hari. Saya tidak sendirian di stasiun, banyak pula yang menunggu kereta api yang sama dengan saya. Satu perbedaan yang pertama dari sistem kereta api di Vietnam dan Indonesia adalah Ruang Tunggu. Di Indonesia begitu masuk peron, kita bisa menunggu kereta api yang akan kita tumpangi di dekat jalur rel kereta api tersebut. Di Vietnam tidak demikian, semua penumpang tidak diperbolehkan masuk ke jalur kereta api sebelum kereta api datang, sehingga pintu yang menghubungkan ruang tunggu dan jalur kereta api terkunci rapat. Saat kereta api datang, penumpang keluar dari kereta menuju pintu keluar yang telah ditentukan. Petugas membukakan pintu ruang tunggu ketika kereta yang akan kita tumpangi sudah datang, hanya tiket yang sesuai dengan kereta yang siap berangkat yang diperbolehkan menuju ke jalur kereta. Mirip seperti Boarding Room di Airport. Setelah kereta api berangkat, pintu ruang tunggu kembali ditutup dan petugas kembali berjaga di ruanganya. Ada cerita yang menarik ketik saya menunggu kereta untuk yang pertama kali ini. Petugas penjaga kereta api yang seharusnya berjaga dan memantau kedatangan kereta malah tertidur. Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi, jika tepat waktu maka kereta seharusnya sudah datang. Ada pemberitahuan melalui loud speaker dalam bahasa vietnam yang tidak saya ketahui. Semua penumpang lokal berdiri dan bersiap untuk menuju kereta api, mungkin itu adalah panggilan kereta api yang akan saya tumpangi bersama mereka. Tetapi pintu ruang tunggu masih terkunci rapat,  petugas tidak segera membukakan pintu karena tertidur. Sampai pada detik-detik terakhir dia terbangun karena keributan penumpang yang terjadi. Dia nampak kebingungan dengan mata masih kelihatan mengantuk, membuka pintu ruang tunggu dan lari menuju kereta. Kembali lagi ke  pintu ruang tunggu sambil sibuk menelepon seseorang, mungkin dia menelepon masinis yang hampir memberangkatkan kereta api meninggalkan stasiun ini. Sementara penumpang mengantri, menunggu petugas siap melakukan pengecekan tiket. Petugas itu membuat penumpang panik, dia meminta kami lari dan buru-buru naik ke kereta api. Saya ikutan lari, tetapi tidak tau kereta mana yang akan saya tumpangi, karena disitu tidak hanya ada satu kereta. Saya langsung menuju gerbong yang pintunya terbuka, menunjukkan tiket yang saya pegang dengan nafas tersengal-sengal dan jantung deg-deg an karena takut ketinggalan kereta. OK, masuklah aku ke dalam kereta. Sampai di dalam gerbong saya harus mencari tempat duduk sesuai dengan nomer yang tertera di dalam tiket. Sekarang saya berada di gerbong Hard  Seat, sungguh mengerikan gerbong ini. Hard Seat benar-benar keras kursinya, semua bagianya tersusun dari bilah kayu yang tersusun. Satu kursi hanya muat untuk 2 orang, kepala tidak bisa bersandar karena sandaran belakang terlalu pendek. Banyak manusia tergeletak di jalanan, persis seperti membawa korban perang. Jauh lebih parah daripada kereta api kelas ekonomi di Indonesia. Saya harus melangkahi puluhan orang di sepanjang gerbong Hard Seat ini. Mungkin ada 3 gerbong Hard Seat yang saya lewati, akhirnya sampai di gerbong Soft Seat. Kondisinya jauh lebih baik, kursi empuk dengan sandaran yang bisa distel. Ada AC di dalamnya, semua penumpang bisa tidur dengan nyenyak, tetapi keadaanya sama dengan kelas bisnis di Indonesia. Kali ini saya harus mencari nomer gerbong dan nomer tempat duduk di kelas ini. Tidak ada satu orang pun yang bisa berbahasa inggris, saya hanya memberikan tiket yang saya pegang ke seseorang, dengan bahasa vietnam dia menunjuk dengan jari ke arah gerbong depan. Sampai pada akhirnya saya bertemu dengan cewek yang bisa berbahasa inggris, dia duduk di depan saya persis. Lega rasanya telah mendapat tempat duduk. Rasa ngantuk sudah tak tertahankan lagi, alarm saya set pukul 4 pagi, karena sekitar pukul 5 pagi kereta api akan sampai di Dong Hoi.Rasa ngantuk membuat saya lupa akan keadaan, alarm berbunyi dan langsung dengan reflek saya matikan. Satu jam berselang, tepat pukul 5 kereta api berhenti dan saya terbangun. Begitu saya melihat jam, saya kaget setengah mati dan langsung teriak ”Dong Hoi..”. Cewek di depan dan ibu-ibu di samping saya pun terbangun, dia sibuk menoleh ke luar jendela yang gelap untuk memastikan apakah ini stasiun Dong Hoi atau bukan. Saya kebingunan sendiri, dan langsung kabur menuju pintu keluar. Disana tidak ada petugas, sialnya lagi semua pintu gerbong terkunci rapat. Saya mencoba beralih ke gerbong lainya, semua pintu gerbong juga terkunci dengan rapat. Apa –apaan ini, saya tidak bisa keluar dari kereta api kalau caranya kaya gini, gerutu saya. Ada petugas kereta api, saya bertanya dengan bahasa inggris apakah ini adalah ”Dong Hoi”, dia menjawab tetapi tidak jelas dengan bahasa vietnam. Dia menyilangkan kedua tanganya di hadapan saya, apa artinya itu, tambah bikin saya pusing saja. Ternyata artinya kereta berhenti karena Kres dengan kereta lain, sehingga harus berbagi jalur. Lalu, dimanakah stasiun Dong Hoi …???. Apakah sudah lewat atau masih jauh didepan, petugas tidak meberikan jawaban yang jelas, membuat saya semakin panik. Saya balik lagi ke gerbong sebelumnya, berharap ada pintu yang dibuka, benar-benar seperti orang gila yang mondar mandir kebingungan. Saya termenung sejenank disambungan gerbong, jika memang Dong Hoi sudah lewat dan saya tidak bisa turun dari kereta, maka saya akan ikuti kereta api ini sampai ke Hanoi. Tetapi bagaimana saya bisa keluar adri stasiun Hanoi, tiket saya bertuliskan Hue – Dong Hoi. Ditengah-tengah kebingungan saya, ada bapak-bapak yang bersiap keluar dari kereta api dengan membawa beberapa koper. Saya mencoba bertanya kepadanya, mau turun ke ”Dong Hoi” pak…???. Dia mengambil dan membaca tiket saya, lalu mengangguk dua kali. Rasanya seperti minum soda susu disaat saya sedang tidak bisa bersendawa. Lalu ada petuga kereta api wanita yang membawa segebok kunci dan membuka gembok yang mengunci pintu gerbong kereta api tersebut. Oalah, baru saya tau kalau pintu kereta api selalu di kunci jika semua penumpang telah masuk ke kereta, dan pintu akan kembali di buka ketika kereta sudah sampai di stasiun tujuan. Jam 5.30 kereta api berhenti, saya turun dan mencari tulisan ”Ga Dong Hoi” yang artinya stasiun Dong Hoi. Saat keluar dari stasiun, tiket yang kita bawa diperiksa petugas dan diambilnya. Jadi begitu keluar dari stasiun, kita tidak lagi membawa tiket kereta api yang sudah terpakai tersebut. Ternyata sistem begitu sistem kereta api di Vietnam, menurut saya lebih bagus dibanding dengan sistem kereta api di Indonesia. Kelihatanya kita harus belajar banyak dengan negara-negara tetangga kita yang sistemnya jauh lebih baik, walaupun negaranya masih belum dibilang maju pula.

Bertemu lagi dengan “Malaikat Tak Bersayap”


Ditengah keterasingan saya diantara jutaan manusia yang akan menyambut pesta kembang api pergantian tahun baru “TET” di pantai Nha Trang, pandangan saya tertuju pada dua sosok pasangan tua yang bercanda disampingku. Yang laki-laki kelihatan sudah berumur 70an, sedangkan yang perempuan kelihatan masih berumur 40an. Saya hanya tersenyum memandangi tingkah laku mereka yang lucu, mereka saling berfoto satu sama lain bergantian. Saling ejek dan bercanda dihadapanku. Sampai pada akhirnya si kakek tersenyum padaku, dan aku balas menyapanya. ”Where are you from sir….??? ”, dia jawab dari Australia. Sedangkan teman perempuanya itu merupakan warga asli Vietnam. Mereka bukan pasangan, melainkah hanya seorang teman lama. Namanya Mr Sidnry, dia dulu adalah seorang engineer. Dia tanya tentang pekerjaanku di Indonesia, saya jawab electrical engineer. Begitu mengetahui saya engineer, dia langsung mengajak saya ngobrol banyak tentang perkembangan teknologi masa kini. Dia bercerita bahwa dulu dia memiliki sebuah komputer yang sebesar lemari, televisi hanya berwarna hitam dan putih, sekarang semua sudah berubah begitu cepatnya. Dulu pesawat tidak ada perangkat elektronik untuk menghibur para penumpang, sekarang sudah ada televisi berwarna di depan bangku pesawat. Dulu digedung bertingkat, naik turun tangga manual, sekarang sudah menggunakan lift dan eskalator. Teknologi berkembang sangat cepat. Dia sekarang berusia  85 tahun, dengan kondisi fisik yang masih bagus. Dia bilang sudang pernah ke Jakarta, dimana transportasinya sangat ruwet. Dia pernah juga ke Balikpapan, Sulawesi, Bali, Solomon Island, dan juga Papua Nu Guine. Beginilah jika engineer bertemu dengan engineer, khayalan tingkat tinggi akan teknologi semakin menjadi-jadi. Dia mengatakan, bahasa indonesia itu sangat mudah di pelajari. Dia mengatakan ada seseorang yang memiliki keahlian untuk mempelajari bahasa asing, dari sekian banyak bahasa yang dia kuasai, dia mengatakan paling mudah belajar Bahasa Indonesia. Dan paling sulit adalah belajar bahasa  bahasa China. Teknologi semakin maju, suatu saat kita tidak perlu belajar bahasa Inggris atau bahasa asing lainya lagi. Kita hanya punya satu bahasa bawaan kita, bahasa asing akan diterjemahkan oleh mesin, kata dia berapi-api. Suatu saat dia yakin, dia ngomong dengan bahasa Australia dan saya ngomong dengan bahasa Indonesia, kita akan bisa mengerti satu sama lain. Bagaimana caranya..??, hanya perlu sebuah alat yang ditanam di telinga kita. Kita tinggal memilih bahasa apa yang akan kita translate,  jadi tidak perlu belajar bahasa asing lagi. Sungguh pemikiran masa depan yang luar biasa dari mantan engineer berusia 85 tahun. Tubuhnya yang sudah renta tidak mengurangi kecerdasan berfikirnya. Saya sungguh salut dan menikmati ngobrol selama kurang lebih 1 jam denganya. Sedangkan teman wanitanya entah pergi kemana meninggalkan kami yang terlihat asyik ngobrol. Dia adalah Backy, seorang wanita Vietnam yang berusia 45 tahun. Tubuhnya tinggi dan tegap, lebih tinggi dibanding standar perempuan Vietnam. Tak tau dari mana, dia kembali dan ikut nimbrung meramaikan suasana. Pembicaraan berganti tema, bukan lagi teknologi melainkan tema bebas. Dia bertanya rencanaku besok mau kemana, saya jawab mau pergi ke Danang City. Dia bertanya lagi, apakah saya sudah mempunyai tiket untuk pergi kesana. Saya jawab tidak, dan dengan raut muka seolah tidak percaya sambil mengerutkan dahi, dia bilang “ It’s terrible…”. Ini adalah malam tahun baru, dan besok adalah libur tahun baru, kamu tidak akan mendapatkan tiket kereta api ataupun bus ke Danang jika sekarang belum punya tiket, katanya penuh semangat. Saya hanya tertawa, sambil bilang “ Serious…??? “. Dia menegaskan kembali, sebaiknya sekarang juga saya mencari tiket bus ke Danang, karena dia yakin kalau tiket kereta api ke Danang sudah pasti HABIS terjual. Selanjutnya dia memberitahu saya agen bus terkenal yang bernama “Sinh Café”. Dia menjelaskan saya untuk pergi ke arah sana, belok kanan, dan tempatnya ada di kanan jalan. OK, saya akan kesana sekarang juga. Sampai disitulah saya, Mr Syndrey dan Mrs Backy saling berjabat tangan untuk berpisah. Belum jauh saya berjalan meninggalkan mereka, Mrs Backy menggandeng tangan saya dan mengantarkan saya ke Agen Bus tersebut. Sedangkan Mr Syndrey ditinggal sejenak, dan disuruh menunggu di sekitar tempat kami ngobrol tadi. Saya seperti memiliki ibu angkat yang menuntun jalan saya disini. Wajahnya keibuan, tegas dan sangat bersemangat. Walaupun   usianya 45 tahun, tetapi jalannya sangat cepat, saya sampai harus berlari-lari kecil mengimbangi langkah kakinya yang sangat cepat. Saya Tanya ke dia “Are you athlete..??”, dia jawab hanya berlatih setiap hari, berlari mengelilingi taman sebanyak 10 kali setiap pagi. Agen Bus berada cukup jauh dari tempat kami nongrong tadi, perlu waktu 10 menit berjalan kaki dengan kecepatan penuh. Sesampainya di Agen Bus, dia membantuku untuk menanyakan tiket ke Danang City. Beruntung sekali diriku, tiket ke Danang hanya tersisa 1 tempat duduk. Sleeper Bus dengan harga 450.000,- VND. Sekitar 250.000  rupiah. Harga tiket naik hampir 2,5 kali lipat harga biasanya di liburan tahun baru ini. Saya berfikir 10x mau mengambilnya, tetapi jika tidak mengambilnya saya juga belum tentu dapat tiket bus yang lebih murah keesokan harinya. Mrs Backy menunggu jawabanku, apakah mau mengambil atau tidak, saya merasa bersalah jika tidak mengambilnya, karena dia sudah jauh-jauh mengantarkan saya kesini. OK, akhirnya saya mengambilnya. Saya percaya dengan Mrs Backy yang merupakan orang Vietnam asli, dan pasti sudah tau kondisi transportasi di liburan tahun baru. Terima kasih Mrs Backy, engkau bagaikan ”Malaikat Tak Bersayap” yang telah menuntun jalanku.

Diselamatkan ” Mister Nam ” : Jadi gelandangan di pagi buta, ditengah2 dinginnya kota Dalat

Perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Dalat City memakan wakktu sekitar 7 jam, sebagaimana informasi dari travel agent kemarin malam. Tetapi keadaan berkata lain, jam 4 pagi saya dibangunkan untuk segera turun dari bus yang saya tumpangi. Apakah ini di pom bensin atau di rest area, setengah sadar aku melihat jam tanganku menunjukkan pukul 4 pagi. Saya turun dari bus, dan semua penumpang bergegas menurunkan barang bawaannya. Di pagi buta sudah sampai di Dalat City, bukanya perjalanan harusnya memakan waktu 8 jam. Turun dari Bus, udara dingin menyeruak menusuk tulang-tulang saya yang masih belum sempurna untuk menopang tubuh ini. Badanku menggigil kedinginan, kedua telapak tanganku terus aku gosok-gosokkan untuk memberikan kehangatan. Ditengah kedinginan, saya harus membongkar backpack untuk mencari print-out tentang Dalat City. Dimanakah sebenarnya saya sekarang berada. Belum sempat mempelajari maps yang aku pegang, ada 2 orang yang menawarkan diri untuk mengantar ke hotel menggunakan mobil. Saya ditanya mau ke hotel apa, saya hanya terdiam dan sibuk membolak-balik lembaran print-out sambil menahan dingin. Sampai akhirnya saya menemukan halaman tentang hotel yang akan saya tuju. Hampir semua penumpang sudah masuk ke dalam mobil, bahkan mobil yang satunya sudah mendahului berangkat meninggalkan saya. Sedangkan saya masih bengong dan tidak tau mau kemana, karena masih terlalu pagi untuk ke hotel. Saya juga belum booking hotel tersebut, dan tidak ada janji apapun kalau mau datang di pagi buta. Sopir mobil itu menghampiri saya, dan mengatakan kalau tumpanganya itu gratis, tidak dipungut biaya sama sekali. Walaupun gratis, tapi saya tidak tau mau menuju kemana, ini masih terlalu pagi untuk ke hostel. Daripada saya kedinginan dan beku di luar terminal yang sangat sunyi senyap ini, saya memutuskan untuk ikut masuk ke mobil dan menunjukkan maps hotel yang saya bawa. Di mobil saya ada 7 orang rombongan orang Vietnam, 2 orang korea dan saya sendirian. Destinasi pertama adalah mengantar orang vietnam tersebut, mobil menuju gang sempit yang menurun dan berbelok yang lebarnya seukuran mobil yang saya tumpangi. Ssssrrrtt….mobilpun sempat selip karena mengerem untuk menghindari terperosok ke jurang ditikungan. Yang bodoh siapa, gang sempit kok masih memaksakan untuk dilewati, mobilpun tidak bisa menjangkau sampai depan rumah. Dan orang vietnam itu pun terus memaksa untuk masuk, pada akhirnya mereka menyerah dan turun di gang tersebut. Tinggal saya dan 2 orang korea yang berada di mobil. Mobil mundur menikung naik, hand rem pun sering dipakai untuk menghindari mobil terperosok. Saat sudah berada dijalan raya, saya mencium bau yang tidak sedap dari mobil tersebut. Dan setiap kali ganti presneling, akan berbunyi ”Groook…kretek2….”, dan supir hanya menatap saya sambil geleng-geleng kepala. Saya tau maksudnya, mobil ini bermasalah karena dipaksakan oleh orang vietnam tadi. Mobil berhenti ditengah jalan raya yang masih sepi, si supir menelepon temannya untuk menjemput kami. Saya dan orang korea tersebut dioper ke mobil yang satunya, yang telah selesai mengantar rombongan yang satunya tadi. Sekarang giliran saya duluan yang diantar di Villa Park hotel, sesuai dengan maps yang saya sodorkan ke si supir tadi. Sampai di Villa Park Hotel, kondisi gelap gulita dan sepi senyap tanpa kehidupan, dan saya harus turun disini dalam kedinginan. Supir mengangguk dan menurunkan tas saya dari bagasi. Dia mencoba membantu saya untuk memencet bel yang ada di depan gerbang, saya bilang ”Don’t….!!!”. Saya belum booking hotel ini, jadi saya akan menunggu disini saja sampai hotel ini buka. Mobil meninggalkanku sendirian dalam kegelapan, berselimut udara dingin menusuk tulang dibawah remang-remang sinar bintang. Didepan Villa Park Hotel ada Hotel yang bertuliskan Recomended by Lonely Planet”. Disini banyak sekali hotel, jadi keesokan harinya saya bisa memilih hotel mana saja yang murah. Saya duduk termenung di pinggir gang yang sempit sambil membolak-balik print-out saya tentang Dalat City. Setengah jam saya jadi gelandangan di pagi buta yang kedinginan, sampai pada akhirnya saya mendengar bunyi gerbang hotel dibuka kunci gemboknya. Tak nampak jelas gerbang yang mana yang dibuka, karena kondisi gelap. Saya melihat bayangan meninggalkan gerbang Villa Park Hostel, segera saya menghampirinya. ”Hello…..are you have one room for me..??”, saya mencoba menyapanya yang belum jauh meninggalkan gerbang. Dia berbalik dan menjawab sambil menghampiri saya, “I am sorry, ..Full “. Lemas sudah kaki saya mendengar ucapan itu, terima kasih dan saya mencoba meninggalkan gerbang itu. Tapi dia malah menawariku masuk, agar tidak kedinginan diluar, “Come in…” . Dengan senang hati saya menerima tawaranya dan masuk ke lobby hotel. Dia adalah “Mr Nam”, salah satu pengelola Villa Park Hotel ini. Saya mencoba bertanya apakah ada hotel murah disekitar sini yang tarifnya dibawah 10 USD. Dia akan mencarikan untuk saya disekitar sini, mungkin didepan ada kamar kosong yang harganya murah. Ngobrol banyak dengan Mister Nam yang baik hati tersebut, tukar menukar mata uang, dan saya banyak diterangkan mengenai wisata di kota Dalat. Sungguh bersyukur sekali, Tuhan telah mempertemukan saya dengan orang-orang yang baik sepanjang perjalanan ini. Saya juga ditawari untuk menggunakan internet gratis yang tersedia di hotel tersebut, sambil menunggu saya mendapatkan konfirmasi mengenai hotel yang dicarikanya. Satu jam kemudian saya direkomendasikan oleh Mister Nam untuk menempati hotel milik paman dia yang terletak disampingnya persis. Jam 7 pagi saya diantarkan untuk check-in ke hotel milik pamanya tersebut. Tarifnya 10 USD/kamar, dimana kamar tersebut adalah Double Bed Private Ensuite. Jadi ada 2 buah tempat tidur di kamar tersebut, memang seharusnya dipakai untuk 2 orang bukan satu orang. Seharusnya saya membayar untuk 2 orang, bukan satu orang. Tapi saya tidak tau apakah tariff 10 USD itu standar atau memang rekomendasi dari Mr Nam, yang jelas cukup murah untuk ukuran double bed seperti itu. Saya tidak tahu check-in time nya jam berapa, biasanya afternoon baru bisa check-in. Tapi sekali lagi keberuntungan bagi saya, bisa check-in jam 8 pagi. Selanjutnya bisa mandi, istirahat sejanak, dan meninggalkan backpack untuk jalan-jalan ke tempat wisata kota Dalat. Terima kasih Mister Nam, engkau telah menyelamatkan diriku dari dinginya udara malam waktu itu.

Anak Krakatau Part#1 : Menyusun rencana petualangan

Menjelajah Gunung Anak Krakatau (21-23 Mei 2010)

Siapa orang Indonesia yang gak kenal dengan Gunung Krakatau..??? Peramal dari Italia pun dulu sempat meramal adanya gunung yang akan meletus dasyat pada tahun 1883, itulah gunung Krakatau. Gak lengkap rasanya petualangan ini sebelum bisa menjelajah gunung legendaris tersebut. Gunung Krakatau terletak diantara pulau Jawa dan Sumatra, tepatnya di Selat Sunda sebelah selatan. Setelah gunung Krakatau meletus dasyat untuk yang terakhir kalinya pada 27 Agustus 1883 (Sumber : Wikipedia), gunung tersebut tidur lama dan tidak lagi melakukan aktivitas vulkanik. Setelah tidur nyenyak selama lebih dari 40 tahun, pada tahun 1927 munculah Anak Krakatau dari permukaan laut. Percepatan pertumbuhan gunung ini adalah 20-40 kaki per tahunnya. Sampai sekarang gunung ini merupakan salah satu gunung teraktif di Indonesia dan sering mengeluarkan lava pijar. Bahkan akhir2 ini sering terjadi gempa yang disebabkan karena aktivitas Gunung Anak Krakatau tersebut. Walaupun tergolong gunung yang berbahaya untuk di daki, tetapi hal tersebut malah menjadi daya tarik bagi penjelajah alam seperti kami. Dan kami yang tergabung dalam “Suddenly Community” (Komunitas dadakan) adalah sebagian orang yang tertarik untuk mengunjungi “Surga Kecil” itu.

Atas (Dari Kiri) : Andik, Hevy, Shinta, Nanett, Flow, Ferna, Dewik, Chandra (Ranger), Bawah (Dari Kiri) : Andri, Nova, Yenny, Mantos, Andrea, Banjar, Amir (ranger)

Di balik rencana ke Anak Krakatao

Mendaki gunung Anak Krakatau adalah salah satu impian saya sebagai seorang pendaki gunung. Setelah mendaki banyak gunung di Jawa, saya ingin mencoba menjajaki atap2 dunia di luar pulau Jawa. Rencana pertama adalah mendaki gunung Rinjani di NTB, tetapi sayang rencana itu selalu gagal setelah sekian lama pendakian gunung Rinjani ditutup akibat aktivitas gunung Barujuri. Sudah 3 tahun terakhir ini saya selalu gagal mendaki Rinjani, sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk mengganti target. Tak disangaka, saya mendapat kabar baik dari teman saya bahwa karakatau boleh dikunjungi dalam waktu dekat ini. Tapi sial bagi saya yang masih baru tinggal di jakarta dan belum memiliki banyak teman untuk berpetualang. Saya memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Krakatau sendirian, backpacking kesana mode “gembell”. Target saya semula hanya bisa mendaki ke gunung anak krakatau tersebut, padahal banyak yang bisa dilakukan selain hanya sekedar mendaki gunung, yaitu snorkeling, mancing dan camping. Tak sengaja saya chat dengan teman lama saya yang dulu pernah naik gunung bareng di Semeru tahun 2007. Sudah 3 tahun kami tidak bertemu, dan waktu pendakian Semeru itupun saya hanya kenal2an saja dan bisa dibilang tidak akrab. Tapi entah mengapa, kami ngobrol selayaknya sahabat lama yang sangat akrab. Dia adalah “Nanett”, yang akhirnya menjadi partner baik saya untuk merencanakan petualangan ini. Hanya dalam hitungan hari, dengan kesaktianya “Nanett” berhasil menarik perhatian banyak anggota mailing list “Woi Communitty” untuk ikut dalam ekspedisi kali ini. Sedangkan saya hanya bersantai menunggu kabar baik darinya (sorry yo nett…..hahaha), sambil mencari info tentang perjalanan ke Krakatau. Singkat cerita, terdapat 19 calon peserta yang akan ikut dalam ekspedisi kali ini. Waktu di set tanggal 21-23 Mei 2010, hanya memanfaatkan weekend biasa. Akhirnya di hari-H hanya tersisa 14 peserta yang benar2 ikut dalam ekspedisi ini. Ke-14 orang tersebut adalah Saya, Nanet, Nova, Andri, Dewik, Flow, Yenny, Andrea, Ferna, Shinta, Banjar, Andik, Hevy, Bu Suwarti.

Itinerary Perjalanan

Untuk mengunjungi Anak Krakatau memang mahal jika dilakukan oleh satu orang, tetapi bisa sangat murah jika kita jalan bareng bersama rombongan orang banyak. Berikut ini adalah itinerary perjalanan yang kami buat,

Jum’at, 21 May 2010:
20:00 – 22:00 : Kumpul di Halte Sebrang RS Harapan Kita –> setelah Slipi Jaya.
22:00 – 24:00 : Jakarta – Merak

Sabtu, 22 May 2010
24:30 – 02:30 : Ferry Merak – Bakauheni
03:00 – 04:30 : Angkot Bakauheni – Canti
07:30 – 09:30 : Perjalanan Canti – Sebesi (Sarapan di perjalanan)
10:00 – 12:00 : Snorkling di Pulau Umang2 (dekat dengan P Sebesi)
12:00 – 14:00 : Menuju ke Lagoon Cabe (di sekitar P Rakata)
14:00 – 16:00 : Snorkeling
16:00 – 17:00 : Perjalanan menuju Pulau Anak Krakatau
17:00 – 18:00 : Mendirikan tenda untuk Camping
18:00 – 23:00 : Makan malam, Api Unggun & Bakar2 ikan

Minggu, 23 May 2010

04:00 – 05:00 : Perjalanan ke puncak Gunung Anak Krakatau (Berburu Sunrise)
05:00 – 08:00 : Menikmati panorama dari puncak gunung
08:00 – 09:00 : Turun gunung
09:00 – 11:00 : Sarapan pagi, berkemas2 & packing persiapan pulang
11:00 – 14:00 : Perjalanan menuju Pelabuhan Canti
14:00 – 16:00 : Mandi, makan siang, & persiapan pulang menuju Bakauheni
16:00 – 18:00 : Angkot Pelabuhan Canti ke Bakauheni
18:30 – 20:30 : Ferry Bakauheni – Merak
21:00 – 23:00 : Bus Merak-Jakarta

Rincian Biaya

  • Bus Jakarta – Merak (Ekonomi Non-AC) : Rp 15.000,-
  • Ferry Merak – bakauheni (Ekonomy : Rp 10.000,-
  • Carter Angkot Bakauheni – Pelabuhan Canti : Rp 170.000,- (Rp 12.000.-/orang)
  • Carter Perahu Kayu Canti – Anak Krakatau PP : Rp 2.800.000,- (Rp 200.000,-/orang)
  • Katering 2x (Sarapan & Makan Siang) : Rp 25.000,-
  • Galon Air Aqua 3x : Rp 45.000,- (Rp 3.200,-/orang)
  • Ikan Segar : Rp 50.000,- (RpRp 3.500,-/orang)
  • Carter Angkot Canti – Bakauheni : Rp 150.000,- (Rp 10.700,-)
  • Ferry Bakauheni – Merak : Rp 10.000,- (+ Rp 7.000,- jika mau masuk ke kelas Bisnis ber-AC)
  • Bus Merak – Jakarta : Rp 20.000,- (Ekonomi AC)

TOTAL Pengeluaran : Rp 316.000,-/orang + Sewa alat Snorkeling Rp 50.000,- bagi yg tidak membawa dari rumah

CATATAN :

  1. Bus dari Jakarta – Merak dapat diperoleh dari terminal Kampung Rambutan atau dari seberang RS Hrapan Kita Slipi ->dekat Mall Slipi Jaya. Tarif Ekonomi Rp 15.000,- & Tarif AC Ekonomi Rp 17.000 – 20.000,-. Bus di Slipi sampai sekitar jam 10 malam.
  2. Kapal Ferry untuk penyeberangan Merak – Bakauheni ada setiap 45 menit sekali. Tarif Ekonomi Rp 10.000,- sedangkan untuk kelas Bisnis ber-AC nambah Rp 7.000,- (bayar diatas kapal)
  3. Jika traveling sendirian, Dari Bakauheni ke Pelabuhan Canti bisa naik Angkot warna Kuning dari Terminal Angkot di Pelabuhan Bakauheni menuju Terminal Bus Kalianda (+- Rp 6.000,- lama perjalanan sekitar 1 jam). Dari Kalianda ke pelabuhan canti naik Angkot warna Merah (+- Rp 3.000,- lama perjalanan sekitar 30 menit). Angkot beroperasi mulai dari jam 05.00 – 18.00
  4. Harga carter perahu kayu Rp 2.800.000,- Tanpa Nego (jika nego mungkin bisa lebih murah), penumpang max 25 orang. Contact Person Pak Amir : 081379373789
  5. Perahu Reguler dari Pelabuhan Canti ke Pulau Sebesi belum terjadwal dengan baik, sebaiknya datang pagi hari agar bisa menunggu kapal reguler yang biasa digunakan untuk angkutan barang2 komoditi perdagangan.
  6. Harga sewa Angkot standarnya Rp 150.000,- , Idealnya diisi oleh 10 penumpang. Contact Person Pak Ferri : 081273376971 :
  7. Peralatan Snorkeling hanya tersedia 5 buah, harga sewa Rp 50.000,- (tanpa nego)

Cerita2 menarik selama di Anak Krakatao akan segera hadir di : Anak Krakatau Part#2 : Perjalanan menuju Surga Kecil

Ini Mimpiku : OST dalam kehidupanku

Ini Mimpiku

Setiap orang pasti punya lagu yang disukainya, entah karena itu lagu yang dibawakan oleh musisi legendaris, lagu yang memang ngetop dizamannya, lagu yang memiliki kenangan indah bersama sahabat atau orang2 terdekat kita, lagu yang menyejukkan hati, atau juga lagu yang sangat menginspirasi kehidupan kita. Begitu pula saya, saya mempunyai lagu yang membuat saya terasa dekat dan bersemangat untuk mengejar impian saya setiap kali saya mendengarkannya dimanapun dan kapanpun saya berada. Lagu itu adalah OST Sang Pemimpi yang berjudul Ini Mimpiku yang dibawakan oleh Claudia Sinaga.

Aku berada
di tengah keramaian
orang-orang yang sibuk
mengejar mimpinya

Aku melihat
indahnya dunia
di kota-kota yang berbeda
nyata sekali…

Ini mimpiku…
yang tak pernah berhenti
ini mimpiku…

Aku percaya
di dalam hidupku
kan ada mimpi
yang Tuhan izinkan terjadi

Tangis air mata
pengorbananku
takkan pernah membuatku
berbenti percaya

Ini mimpiku…
yang tak pernah berhenti
ini hidupku…

Semangatku juga karena
semua yang ku cinta…
aku masih
sanggup trus percaya…

Ini mimpiku…

Ini mimpiku…

Ini mimpiku…
yang tak pernah berhenti…
ini hidupku…
yang kuyakin terjadi…

Ini mimpiku…

Lagu ini juga menjadi OST Selama Perjalanan saya backpacking sendirian ke Vietnam, dan membuat saya semakin semangat untuk menyelesaikan impianku sebagai penulis buku traveling. Membuatku terus menjaga impian yang kadang goyah karena terpaan badai kehidupan ini…….

Bertemu Mr Miu Anggodo X

Sekelumit kisah menarik bertemu dengan seseorang yang mirip dengan Anggodo, saya sebut dia Mister Miu Anggodo X. Sesaat setelah keluar keluar dari tempat pengambilan Bagasi di Bandara Saigon, saya melangkahkan kaki ke Money Exchange untuk menukarkan selembar Dollar Amerika yang saya bawa dari Tanah Air. Satu USD = 17.500 VND. Kurs dibandara memang agak rendah dibandingkan tempat lain, wajar karena kebanyakan orang butuh mata uang lokal, jadi tidak banyak yang protes. Saya tukar 100 USD menjadi 1.750.000 VND. Sekarang saya telah menjadi orang kaya untuk sementara waktu, dengan uang sejuta lebih di dompet. Saya melangkahkan kaki ke kerumunan orang yang sibuk dengan dunianya masing-masing, ada yang menunggu kawanya keluar dari bandara, ada yang menunggu taksi datang, ada yanga menunggu dijemput, campur aduk jadi satu. Saya sempat memfokuskan perhatian saya pada orang Indonesia yang satu penerbangan dengan saya. Berharap mereka bisa diajak sharing taksi agar saya bayarnya bisa lebih ringan sampai pusat kota. Tapi tak satupun orang indonesia yang berbaik hati mengajak saya, walaupun saya sudah memasang tampang bego. Share Taxi adalah pilihan pertama, sebelum memutuskan tidur di bandara. Kelihatany tidak ada yang tertarik ngajak ngomong denganku, karena memang mereka semua sudah punya teman untuk diajak ngobrol. Saya memutuskan untuk duduk santai di teras. Termenung sendiri sambil menikmati sejuknya udara malam di Ho Chi Minh, tiba-tiba dari depan saya ada seorang bapak separuh baya datang menyapa dengan bahasa inggris yang tidak jelas. ” Where are you  from ? ”, sapa bapak itu padaku santai sambil meneguk air minum yang dibawanya. Mengamati gaya bicaranya tampak dia sedang mabuk, tapi saya amati yang dibawanya hanya sebotol air mineral. Dia lalu duduk disamping saya dan mulai bertanya mau kemana saya sekarang. Saya berubah pikiran, mungkin dia adalah calo yang akan menawari saya taksi ke pusat kota. Ternyata perkiraan saya salah, dia malah ngajak saya ngobrol kesana kemari dengan tema yang mengasyikkan. Dia tanya pada saya mau kemana, saya jawab saya  tidak punya tujuan dan hanya duduk disini sampai pagi besok. Diapun tertawa terbahak-bahak dikira aku bercanda. Dia menyarankan saya untuk bermalam di hotel dekat bandara saja, tarifnya murah sekitar 300.000 VND. Saya menolaknya, saya ingin tidur di bandara saja karena sudah terlalu malam untuk check-in hotel. Wajahnya mirip sekali dengan Anggodo, terpidana kasus yang sedang hangat di Indonesia. Tidak saya duga dengan santainya dia bertanya, apakah saya sudah punya pacar atau belum, Sudah pernah ”ML” dengan pacar atau belum, tinggal satu rumah dengan pacar atau orang tua. Saya jawab kalau saya muslim, jadi tidak boleh satu rumah dengan pacar, tidak boleh ciuman dengan pacar, tidak boleh ML dengan pacar sebelum menikah. Diapun terkejut, seolah apa yang saya ucapkan adalah hal yang tidak wajar. Sampai dia tanya lagi, ”Berciuman saja tidak boleh..???”. Saya tegaskan berciuman terlarang, tapi ada juga yang melanggarnya. Saya katakan hanya boleh berjabat tangan dengan pacar. Dia benar2 seperti melihat sesosok orang suci didepanya, sampai dia menyalamiku dan mengatakan ”Good Boy ” berkali-kali. Dia memberi tahu saya, kalau pada malam minggu akan ada Pesta besar-besaran diseluruh penjuru Vietnam mulai dari selatan ke utara. Karena peringatan tahun baru ”TET” di Vietnam. Akan ada pesta kembang api yang meriah ditengah malam, dan dia minta saya tidak melewatkan moment tersebut. Informasi yang sangat berhaga bagi saya, dan selalu saya ingat dan bayangkan. Setelah ngobrol lebih dari ½ jam dengannya, dia berpamitan akan menjemput temanya yang datang dari Hongkong dan Amerika malam ini. Dia mengucapkan salam perpisahan ” Goodbye, Allah bless you, Always with you  ”.

Nikmatnya Tidur di Airport HCMC


Foto : Terminal Domestik Saigon (Tan Son Nhat)

Perjalanan di Vietnam saya awali dari Selatan menuju ke Utara. Menyusuri semua Kota Wisata mulai dari Ho Chi Minh City sampai Sa Pa di perbatasan Vietnam dengan China. Saya memilih penerbangan langsung dari Jakarta ke Saigon dengan pesawat Air Asia tarif economy promo. Booking tiket sebulan sebelum keberangkatan, saya mendapatkan harga yang cukup murah, yaitu Rp 494.000,- (sudah termasuk bagasi 15 kg). Berangkat dari Jakarta tanggal 10 Februari 2010 dan rencana kembali ke Jakarta pada tanggal 24 Februari 2010. Tinggal di Bekasi, saya memilih naik angkutan umum Airport Bus dari Bekasi ke Terminal 2 Bandar Udara Soekarno Hatta. Perjalanan dari bekasi memakan waktu kurang lebih 1 jam, jika kondisi jalan tidak macet. Pesawat terbang dari Jakarta pukul 16.35 jika sesuai jadwal di tiket. Tetapi pagi sebelum keberangkatan, saya mendapatkan pemberitahuan akan penundaan keberangkatan dari pihak maskapai. Inilah ujian pertama saya, dengan penundaan selama 2 jam maka saya akan tiba di Ho Chi Minh City sekitar jam 10 malam. Sudah tidak ada Airport Bus dari Bandara Saigon ke Pusat Kota karena Airport Bus paling akhir pada jam 8 malam. Saya berencana akan menginap di Yellow House Hotel di pusat kota Ho Chi Minh setelah sampai disana. Saya akan mamilih Dormitory yang tarifnya lumayan murah, yaitu 5 USD/malam. Tetapi sekali lagi keadaan membuat saya harus berfikir dan merubah itinerary yang masih hangat ini. Pesawat berangkat sekitar jam 18.30 WIB, sehingga sampai di Saigon sekitar pukul 21.30 tanpa perbedaan waktu dengan jakarta. Begitu sampai di bandara Tan Son Nhat Saigon, saya memutuskan untuk menginap di Airport saja. Karena jika saya menggunakan Taksi ke pusat kota sendirian bisa menghabiskan uang 200.000 VND (setara dengan 100.000 rupiah). Padahal jika kita menggunakan Airport Bus, hanya membayar 3.000 VND (setara dengan 1.500 rupiah). Perbandinganya sangat amat jauh sekali bukan ..???!!!. Transportasi dari Saigon Airport ke Pusat Kota hanya ada 3 pilihan sebagai berikut,

  1. Airport Bus : Berada di Depan Domestic Terminal (200 meter dari International Terminal) yang beroperasi mulai jam 7 AM – 8 PM. Nomor bus 152 yang berakhir di Terminal Ben Than, persis diseberang Ben Than Market. Bus ini juga melewati Pham Ngu Lao St, dimana disepanjang jalan ini adalah pusatnya backpacker di Ho Chi Minh City. Banyak sekali Hostel murah disekitar jalan ini, ditandai dengan padatnya lalu lintas dan banyaknya turis barat bersliweran disepanjang jalan. Tarif murah meriah, hanya VND 3.000,- yang setara dengan Rp 1.500,-. Sangat murah karena transportasi ini milik negara, atau jika di Indonesia adalah Bus Damri. Bus melintas di Airport sekitar ½ jam sekali, hanya berhenti selama kurang dari 10 menit di depan Domestic Terminal.
  2. Taksi : Pilihan cepat dan mudah adalah menggunakan jasa taksi, tetapi jatuhnya akan mahal. Jika sendirian akan terasa sangat mahal, tetapi jika rombongan atau gabung dengan orang lain akan menjadi lebih murah jatuhnya per orang. Taksi berada disepanjang pintu keluar bandara, tinggal memilih saja sesuka kita. Taksi yang direkomendasikan adalah Mai Linh Taxi, yang terkenal dengan pelayananya yang bagus, tetapi tarifnya agak lebih malah. Mungkin sebanding dengan Blue Bird di indonesia. Taksi Mai Linh ada di sepanjang Kota Wisata Vietnam mulai dari selatan hingga utara. Taksi ini meliliki warna putih strip hijau di bawah, dan tulisan Mai Linh berwana hijau di lambung Taksi. Alternatif lainya di Ho Chi Minh adalah Vinasun Taxi, yang mungkin lebih murah daripada Mai Linh.
  3. Ojek : Pilihan ketiga dalah Ojek sepeda motor yang berada di luar area bandara. Cukup berjalan 1 km ke jalan raya, dipinggir jalan dekat perempatan pasti ada tukang ojek yang nongrong dan baik hati menawarkan jasanya. Vietnam merupakan negara yang banyak memiliki tukang Ojek mulai vietnam selatan hingga vietnam utara. Menggunakan jasa Ojek akan lebih murah daripada Taksi, mungkin bisa separohnya. Jika berpergian sendiri, tidak ada salahnya mencoba armada ini. Tawar menawar adalah kuncinya, jika anda tidak malas menawar pasti akan mendapatkan harga yang bagus. Tapi tidak semua tukang ojek bisa bahasa inggris, sebagian besar tidak bisa

Mencari tempat tidur yang nyaman di bandara ternyata susah juga. Saya 3 kali harus berpindah tempat, sampai pada akhirnya menemukan tempat yang sunyi, nyaman dan tanpa gangguan. Sebelumnya saya tidur di ruang tunggu kedatangan, banyak sekali orang disana, sehingga berisik dan saya tidak bisa tidur.Saya memperhatikan layar informasi keberangkatan dan kedatangan pesawat yang terpampang di layar monitor ruang tunggu tersebut. Saya berharap ada penerbangan internasional dini hari atau pagi hari, sehingga saya bisa masuk ke ruangan check in dan berpura-pura menunggu pesawat. Ternyata benar, ada penerbangan sampai jam 4 pagi. Setidaknya saya bisa pura-pura menunggu sampai jam 4 pagi, habis itu bangun dan pura-pura menunggu penerbangan paginya lagi. Bandara Saigon tidak seperti Soekarno Hatta, dimana setiap masuk ruang keberangkatan tidak dilakukan pemeriksaan tiket dan bagasi. Di Saigon siapapun bisa bebas keluar masuk ruang check-in tanpa harus membawa tiket pesawat dan melewati pemeriksaan bagasi. Beruntung sekali saya bisa masuk ruangan check in, dan berpura-pura menunggu penerbangan untuk keesokan harinya dengan tidur pulas di bangku dengan posisi terlentang. Bangun jam 4 pagi sesuai rencana, ruangan remang-remang dan tidak ada satu orang pun yang berada bersama saya untuk menunggu pesawat. Waktu yang tepat untuk melanjutkan tidur yang belum puas, sampai suara sepatu yang mengetok ubin membangunkan saya. Ada satu dua orang datang dan duduk di seberang bangku yang saya tempati. Segar rasanya membasuh muka degan air, menggosok gigi, dan merapikan rambut dengan sisir mungil. Lalu melangkahkan kaki selayaknya orang lain yang akan bergegas check in untuk penerbangan pagi. Tetapi kakiku bukan menuju ke meja check-in, melainkan melangkah meninggalkan ruangan dan menuju Domestic Terminal. Jam 7 pagi lebih Bus Kota Nomor 152 terlihat parkir didepan Bandara, bergegas mempercepat langkah untuk menggapainya. Menuju ke pusat kota Ho Chi Minh City

Telah Beredar : 2 juta keliling Vietnam dalam 15 hari

Setelah sekian lama menunggu dengan penuh kesabarn, pulang kerja kemarin saya iseng2 main ke toko buku Gramedia di D-Best PlazaFatmawati bersama teman SMA saya (Agus). Ternyata buku saya telah tertata rapi di rak buku bersama buku-buku traveling lainya di sebuah rak buku. Semula saya mencari di rak buku baru tidak ketemu, malahan teman SMA saya yang menemukan buku saya terletak di rak bareng buku2 traveling lainya tersebut. Betapa senangnya hati ini bisa menyaksikan langsung keberadaan buku karya perdana saya telah beredar di toko buku. Teman saya pun membeli buku tersebut, dan mendapat tanda tangan pertama dari saya selaku penulis hehe……ini tanda tangan pertamaku di buku perdanaku lh :D (banggga dunk pastinya sebagai pembeli hehe..)


Ayoo teman2….buruan beli bukunya, dan buruan jalan-jalan ke Vietnam yang eksotis, unik, dan menarik …..!!!



Bookmark and Share