Oleh: mantostrip | Juni 24, 2009

Merbabu : Meniti Jembatan Maut


Merbabu 03-04 Nopember 2007

Gunung Merbabu terletak di Provinsi Jawa tengah dengan ketinggian 3,142 mdpl. Merbabu adalah tetangga dekat dari Gunung Merapi. Jika kita melihatnya dari kota Klaten, gunung Merapi dan Merbabu tampak seperti gunung kembar yang saling berhimpit kakinya. Lain halnya gunung Merapi yang sangat aktif, Merbabu sudah lama tertidur dan tidak pernah terbangun sampai sekarang. Gunung merbabu memiliki 2 puncak yaitu Puncak Syerif ((3.119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3.142mdpl). Jalur pendakian favorit ada dua yaitu Jalur Selo dari Boyolali dan Jalur Wekas dari Magelang. Pendakian saya kali ini bersama dengan 3 orang teman saya yang akhirnya kami sebut Quartet, yaitu Saya, Chimot, Purwo, dan Edo. Pendakian kami mulai dari Jalur Wekas dan kami akhiri melalui Jalur Selo.

Perjalanan Menuju desa Wekas

Merbabu9Saya beserta 2 orang teman saya Purwo dan Edo berangkat dari Bekasi hari jum’at naik kereta api Senja Utama Solo dan turun di Stasiun Tugu Djogja. Sementara teman saya Chimot berangkat dari Surabaya menuju ke Magelang menggunakan Bus Eka. Kami janjian ketemu di terminal Bus Magelang untuk keesokan harinya. Waktu itu kami ber-3 harus rela duduk di dekatn sambungan gerbong kereta karena kami kehabisan tiket duduk. Walaupun perjalanan kami bertiga terasa tidak nyaman tapi kami merasa enjoy karena kebersamaan. Perjalanan 8 jam menuju Djogja kami lalui, akhirnya jam 6 pagi kami sampai di Stasiun Kereta Api Tugu Djogja. Kami segera membersihkan badan di mushola untuk mengembalikan kesegara tubuh kami setelah semal tidur ala kadarnya. Setelah selesai membersihkan badan, kami menikmati sejenak sarapan pagi di belakang stasiun Tugu. Hangatnya Soto khas Djogja dan gorengan di warung angkringan terasa sangat nikmat diiringi hujan gerimis yang rintik2. Setelah perut terisi penuh, kami segera melanjutkan perjalanan ke Terminal Magelang. Merbabu2Kami naik bus kopata jurusan terminal Jombor dan selanjutnya oper Bus jurusan Jogja-Magelang. Setelah melakukan 2 jam perjalanan lebih, kami sampai di terminal Bus Magelang. Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Hujan gerimis terus menerus mengiringi perjalanan kami. Sementara Chimot masih dalam perjalanan antara Jogja dan Magelang. Setelah satu jam kami menunggu, akhirnya sahabat kami pun datang kehadapan kami juga. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus jurusan Kopeng dan turun di desa Wekas. Setelah melakukan perjalanan selama 45 menit kami sampai di desa Wekas. Sebelum melakukan pendakian, kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung seberang gerbang desa Wekas. Udara dingin dan hujan gerimis yang tak kunjung berhenti menambah nikmat masakan sederhana warung kampung tersebut. Setelah kenyang, kami segera berjalan masuk melalui gerbang desa wekas menuju Pos perijinan Pendakian. Pos perijinan berada cukup jauh dari gerbang desa Wekas, kami harus bejalalan sejauh kurang lebi 1 km. Sepanjang perjalanan ke Pos kami harus mengenakan jas hujan karena gerimis lebat terus mengguyur kami. Akhirnya kami menemukan Pos Perijinan setelah setengah jam berjalan, segera kami melakukan registrasi dan memulai Pendakian yang sesungguhnya.

Pos 2

Jalur Wekas merupakan jalur favorit para pendaki yang suka melakukan pendakian cepat. Pendaki akan disuguhi trek yang terus menerus menanjak terjal dari awal hingga akhir. Tempat favorit untuk berkemah ada di Pos 2 yang memiliki area luas dan terdapat sumber mata air yang bersih. Perjalanan awal kami lalui melewati pemukiman penduduk yang mengarah ke batas hutan. Jarak antara batas hutan dengan pemukinam penduduk ini cukup dekat, hanya berjalan beberapa menit kita sudah memasuki hutan pinus. Perjalanan terjal langsung menyambut kami sampai ke Pos 2. Untuk mencapai Pos 2 kita memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kami sampai di Pos 2 jam setengah 6 menjelang matahari tenggelam. Karena kondisi cuaca yang mendung, sunset pun tidak bisa kami nikmati dengan sempurna. Sesampainya di Pos 2 kami langsung mendirikan Tenda dan mencari sumber Air untuk menambah bahan bahan bakar kami. Udara disini sudah terasa dingin walaupun ketinggian belum seberapa. Kami mencari dahan2 dan ranting kering untuk membuat perapian. Belum sempat api unggun menyala dengan sempurna, hujan mengguyur kami lagi. Kami segera masuk ke Tenda dan menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan lagi. Rencananya jam 1 kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami tidur “umpek-umpekan” dalam tenda yang berkapasitas 3 orang tapi di paksa untuk 4 orang. Walaupun demikian, kami dapat tertidur dengan nyenyak sampai alarm jam 1 pagi berbunyi. Kami segera bangun dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan menggapai Puncak Kenteng Songo yang masih jauh.Merbabu 1

Merbabu3

Pos Geger Sapi – Jembatan Setan

Jam 2 pagi kami mulai melakukan perjalanan malam, cucaca mendung masih mengiringi kami. Jalur yang lebih terjal langsung menyambut kami. Tak jarang kami harus merangkak dan meanjat bebatuan terjal untuk menggapai tempat yang beih tinggi. Sari Pos 2 ke Geger sapi memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. . Sebelum sampai di Geger Sapi, kami sempat disuguhi pemandangan yang sangat indah, yaitu lanskap kota boyolali yang berada di antara 2 buat bukit kembar. Lanskap ini membentuk segitiga, dimana gemerlapnya kota boyolali sangat terlihat jelas disini. Kami sempat tertipu dengan bukit di samping kami yang kokoh berdiri, kami kira itu adalah puncak tertinggi Merbabu. Setelah kabut menghilang, ternyata di belakanganya masih terdapat bukit yang lebih tinggi. Ternyata kami salah perkiraan dan membuang banyak waktu di sini. Kami segera beranjak dari tempat ini dan memburu bukit tinggi yang masih jauh tersebut. Trek menaiki Geger sapi sungguh terjal, inilah trek terberat sepanjang perjalanan dari Pos 2 ke Geger Sapi. Geger sapi memiliki ketingggian sekitar 3000 mdpl. Kami sempat mendapati para pendaki yang berkemah diarea sebelum naik ke Geger Sapi. Di sini terdapat kawah belerang kecil yang masih mengeluarkan asap yang berbau cukup menyengat. Setelah melewati Geger Sapi, kami harus melewati tantangan berikutnya yaitu Jembatan Setan. Sebelum melintasi Jembatan Setan, kabut sangat tebal dan angin yang sangat kencang menghadang kami. Rupanya terjadi badai di Puncak Gunung. Benar benar menyiutkan Nyali kami, dan memaksa kami untuk duduk bersebunyi di balik tebing untuk menghindari hempasan angin. Jarak pandang hanya 5 meter, sangat riskan untuk melakukan perjalanan malam. Udara begitu dingin, kami mencoba membakar ranting2 dan tanaman2 kecil yang ada di sbelah untuk menghangatkan badan kami yang menggigil. Kami sempat tertidur dalam kondisi duduk merapat kedinginan, waktu satu jam pun kami lewatkan begitu saja. Saat kami terbangun, terdapat pendaki yang mulai mendahului kami. Walaupun angin masih bergemuruh, tapi mereka nekat menyebrangi Jembatan Setan tersebut. Akhirnya mental kami terbangun juga, dan mengikuti jejak dari para pendaki hebat tadi. Kabut sudah mulai menipis dan angin sudah mulai lambat menerpa kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati menyebrangi jalur sempit yang berada diantara jurang yang dalam di sebelah kiri dan kanan kami, itulah yang dinamakan jembatan setan. Jika kita membawa tas ransel yang berat dan angin bertiup kencang dari samping, saya sarankan untuk berhenti sejenak menunggu cuaca membaik. Jika kita memaksakan diri, bisa-bisa kita akan terhempas ke jurang dalam disamping kita. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Sunrise kali ini tidak kelihatan karena tertutup oleh mendung. Angin membawa kabut tipis menerpa kami di sepanjang jalur menuju puncak. Matahari yang masuh muda mengintip kami dari sela2 awan yang menghitam, kami segera ambil posisi untuk berfoto foto disini. Sebelum mencapai puncak sejati, kita akan melewati puncak bayangan. Kejadian menarik ketika saya memimpin rombongan menuju puncak sejati dari puncak bayangan. Di belakang kami terdapat banyak rombongan pendaki yang mengikuti kami, setelah jauh melangkah ternyata jalur yang saya tempuh keliru dan berakhir di jalan buntu. Dengan perasaan bersalah dan rasa malu, akhirnya saya meminta rombongan di belakang kami untuk berbalik dan mencari jalur yang benar. Akhirnya kami menemukan jalur memutari puncak bayangan, dan kami sekarang berada di barisan paling belakang :D.

Puncak Kenteng Songo

Perjalanan terjal bebatuan kami lewati untuk menggapai puncak Kenteng Songo. Dua puluh menit dari puncak bayangan, akhirnya kami sampai juga di puncak tertinggu gunung Merbabu ini. Puncak Keteng Songo berupa gundunkan tanah yang luasnya sekitar 25 meter persegi. Dari puncak ini kita bisa melihat Gunung Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap di sebelah tenggara kami. Kami benar2 terasa berada di negeri di atas awan, sungguh menabjubkan. Setelah berfoto-foto dan puas menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk segera turun melalui jalur Selo.

merbabu4

Merbabu7

Merbabu5

Jalur Selo

Perjalanan turun kami melewati Jalur Selo yang berakhir di desa Selo Boyolali. Perjalanan dari Puncak kami mulai jam 9 pagi, dengan perkiraan kami akan sampai bawah jam 2 siang. Perjalanan kami awali dengan turunan terjal melewati sabana yang luas. Pemandangan menuruni puncak sungguh indah, dengan background gunung merapi dan awan di atas sabana yang luas benar2 membuat kami tidak ingin cepat melewatkanya begitu saja. Kami juga sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang berjuang naik melewati jalur ini. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit, kami sampai di Pos terakhir sebelum puncak untuk jalur Selo ini. Pos ini cukup terlindung oleh hutan Edelweis yang rapat, para pendaki banyak yang berkemah disini sebelum menggapai Puncak. Selanjutnya perjalanan mengarungi sabana yang luas dengan trek yang landai kami lewati. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di batas sabana dan hutan tropis. Selanjutnya perjalanan turun melalui hutan kami jalani selama 3 jam. Akhirnya jam 2 siang kami sampai di perkampungan desa Selo – Boyolali. Kami mampir sejenak ke Pos Pendakian Selo sebelum melanjutkan perjalanan turun ke Jalan Raya. Penduduk di desa ini sangat ramah, sepanjang perjalanan sapaan ramah sering kami terima saat kami melintas di depan rumah penduduk. Sampai di jalan raya, kami menunggu Bus Jurusan Boyolali. Perjalanan 1 jam lebih kami sampai di Boyolali. Sampai di terminal boyolali kami membersihkan diri dan menikmati Soto Khas Boyolali yang nikmat. Selanjutnya kami naik Bus menuju terminal Kartosuro untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Sementara Chimot berpisah dengan kami di kartosuro untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Kartosuro kami ber-3 naik bus jurusan Djogja untuk memburu Kereta Api di Stasiun Tugu. Sampai stasiun tugu jam setengah 6 sore, kami menyempatkan makan di warung Gudeg Khas Djogja yang berada di dalam stasiun Tugu. Tak lama setelah kami selesai amkan, kereta api sudah datang dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan malam menuju Kota tempat kami mencari nafkah yaitu Bekasi.

Merbabu8

Merbabu6


Responses

  1. setelah buka-buka foto pendakian gunung rinjani dan argo puro di mbah google, lah kok pas ketemu cerita dari mas mantos jadi semangat lagi tuk…..
    pa lagi banyak kemiripan.
    thanks!

  2. Semangat ngapain mas..???

  3. mantabs..MERBABU tidak pernah bosan..jalur wekas paling asik n mudah..hehe
    lanjutkan petualanganmu bro!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 427 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: