Oleh: mantostrip | Juni 22, 2009

Mahameru : Puncak abadi para dewa


Mahameru 18-20 Mei 2007

Mahameru 5Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.

Ranu Pane

Mahameru4Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi. Mahameru 6Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.

Ranu Kumbolo

Mahameru 8

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Mahameru 7

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati

Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.

Kubah Pasir Mahameru

Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.mahameru1

Mahameru 2

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane

Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)

Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,

Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “

Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “

Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”

Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”

Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.

Numpang Truk Sayur

Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Mahameru3


Responses

  1. wow… keren
    aneh waktu perjalanan pulangnya saya juga begitu muter2 gak karuan samapi akhirnya dari ranu kumbolo ke Ranu pane butuh waktu 5 jam…

    bener2 aneh… :)

    salamkenal…

  2. Salam kenal juga mas

    Kalau menurut saya, tempat yang paling mistis itu di jembatan merah antara ranu kumbolo dan ranu pane itu. Pas sampai situ waktu Maghrib, karena merasa gak nyaman akhirnya kami teruskan saja jalan turun. Akhirnya malah diputer2in gak karuan….

    Aneh tapi nyata. ..

  3. cerita perjalanan yg mengasyikkan..
    dan mgkin tak terlupakan y…

    memang kejadian di alam tak ada yg bisa menebak..
    dan harus tetap positf thinking…

  4. Benar boss….perjalanan itu tak akan pernah terlupakan….

    salam kenal boss

  5. wah jadi inget tuh ,iya betul di jembatan merah aku dulu juga diputer puterin waktu turun menjelang magrib,sampe 4 kali muterin jembatan, terahir diketawain suwara cewek ketawa ,langsung ambil ilmu langkah seribu lariiiiiiiiiiiiiiiiiiii

  6. Wah…ternyata banyak juga pengalaman yang sama denganku yah..??? Makanya kalau Maghrib kita harus wajib berhenti s ejenak….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 428 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: