Merapi : Perjuangan antara Hidup dan Mati

Merapi 07-08 Juni 2008

Merapi 2

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.

Perjalanan menuju Selo

Merapi 5Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.Merapi 3 Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.

Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu

Merapi6Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.

Pasar Bubrah & Puncak Garuda

Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.

Merapi9

Merapi8

Merapi10

Merapi11

Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami

Merapi12Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.

Selamat dari Tebing Curam

Merapi13Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.

Selamat dari Lautan Pasir

merapi20Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.

Diantara Tebing Runtuh

Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….

Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir

Merapi18Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,

Kembalinya Quartet di Babakan

merapi 21Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….

Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..

Merbabu : Meniti Jembatan Maut

Merbabu 03-04 Nopember 2007

Gunung Merbabu terletak di Provinsi Jawa tengah dengan ketinggian 3,142 mdpl. Merbabu adalah tetangga dekat dari Gunung Merapi. Jika kita melihatnya dari kota Klaten, gunung Merapi dan Merbabu tampak seperti gunung kembar yang saling berhimpit kakinya. Lain halnya gunung Merapi yang sangat aktif, Merbabu sudah lama tertidur dan tidak pernah terbangun sampai sekarang. Gunung merbabu memiliki 2 puncak yaitu Puncak Syerif ((3.119 mdpl) dan Puncak Kenteng Songo (3.142mdpl). Jalur pendakian favorit ada dua yaitu Jalur Selo dari Boyolali dan Jalur Wekas dari Magelang. Pendakian saya kali ini bersama dengan 3 orang teman saya yang akhirnya kami sebut Quartet, yaitu Saya, Chimot, Purwo, dan Edo. Pendakian kami mulai dari Jalur Wekas dan kami akhiri melalui Jalur Selo.

Perjalanan Menuju desa Wekas

Merbabu9Saya beserta 2 orang teman saya Purwo dan Edo berangkat dari Bekasi hari jum’at naik kereta api Senja Utama Solo dan turun di Stasiun Tugu Djogja. Sementara teman saya Chimot berangkat dari Surabaya menuju ke Magelang menggunakan Bus Eka. Kami janjian ketemu di terminal Bus Magelang untuk keesokan harinya. Waktu itu kami ber-3 harus rela duduk di dekatn sambungan gerbong kereta karena kami kehabisan tiket duduk. Walaupun perjalanan kami bertiga terasa tidak nyaman tapi kami merasa enjoy karena kebersamaan. Perjalanan 8 jam menuju Djogja kami lalui, akhirnya jam 6 pagi kami sampai di Stasiun Kereta Api Tugu Djogja. Kami segera membersihkan badan di mushola untuk mengembalikan kesegara tubuh kami setelah semal tidur ala kadarnya. Setelah selesai membersihkan badan, kami menikmati sejenak sarapan pagi di belakang stasiun Tugu. Hangatnya Soto khas Djogja dan gorengan di warung angkringan terasa sangat nikmat diiringi hujan gerimis yang rintik2. Setelah perut terisi penuh, kami segera melanjutkan perjalanan ke Terminal Magelang. Merbabu2Kami naik bus kopata jurusan terminal Jombor dan selanjutnya oper Bus jurusan Jogja-Magelang. Setelah melakukan 2 jam perjalanan lebih, kami sampai di terminal Bus Magelang. Waktu baru menunjukkan pukul 10 pagi. Hujan gerimis terus menerus mengiringi perjalanan kami. Sementara Chimot masih dalam perjalanan antara Jogja dan Magelang. Setelah satu jam kami menunggu, akhirnya sahabat kami pun datang kehadapan kami juga. Satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus jurusan Kopeng dan turun di desa Wekas. Setelah melakukan perjalanan selama 45 menit kami sampai di desa Wekas. Sebelum melakukan pendakian, kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung seberang gerbang desa Wekas. Udara dingin dan hujan gerimis yang tak kunjung berhenti menambah nikmat masakan sederhana warung kampung tersebut. Setelah kenyang, kami segera berjalan masuk melalui gerbang desa wekas menuju Pos perijinan Pendakian. Pos perijinan berada cukup jauh dari gerbang desa Wekas, kami harus bejalalan sejauh kurang lebi 1 km. Sepanjang perjalanan ke Pos kami harus mengenakan jas hujan karena gerimis lebat terus mengguyur kami. Akhirnya kami menemukan Pos Perijinan setelah setengah jam berjalan, segera kami melakukan registrasi dan memulai Pendakian yang sesungguhnya.

Pos 2

Jalur Wekas merupakan jalur favorit para pendaki yang suka melakukan pendakian cepat. Pendaki akan disuguhi trek yang terus menerus menanjak terjal dari awal hingga akhir. Tempat favorit untuk berkemah ada di Pos 2 yang memiliki area luas dan terdapat sumber mata air yang bersih. Perjalanan awal kami lalui melewati pemukiman penduduk yang mengarah ke batas hutan. Jarak antara batas hutan dengan pemukinam penduduk ini cukup dekat, hanya berjalan beberapa menit kita sudah memasuki hutan pinus. Perjalanan terjal langsung menyambut kami sampai ke Pos 2. Untuk mencapai Pos 2 kita memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kami sampai di Pos 2 jam setengah 6 menjelang matahari tenggelam. Karena kondisi cuaca yang mendung, sunset pun tidak bisa kami nikmati dengan sempurna. Sesampainya di Pos 2 kami langsung mendirikan Tenda dan mencari sumber Air untuk menambah bahan bahan bakar kami. Udara disini sudah terasa dingin walaupun ketinggian belum seberapa. Kami mencari dahan2 dan ranting kering untuk membuat perapian. Belum sempat api unggun menyala dengan sempurna, hujan mengguyur kami lagi. Kami segera masuk ke Tenda dan menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan lagi. Rencananya jam 1 kami melanjutkan perjalanan ke Puncak. Kami tidur “umpek-umpekan” dalam tenda yang berkapasitas 3 orang tapi di paksa untuk 4 orang. Walaupun demikian, kami dapat tertidur dengan nyenyak sampai alarm jam 1 pagi berbunyi. Kami segera bangun dan berkemas untuk melanjutkan perjalanan menggapai Puncak Kenteng Songo yang masih jauh.Merbabu 1

Merbabu3

Pos Geger Sapi – Jembatan Setan

Jam 2 pagi kami mulai melakukan perjalanan malam, cucaca mendung masih mengiringi kami. Jalur yang lebih terjal langsung menyambut kami. Tak jarang kami harus merangkak dan meanjat bebatuan terjal untuk menggapai tempat yang beih tinggi. Sari Pos 2 ke Geger sapi memerlukan waktu kurang lebih 2 jam. . Sebelum sampai di Geger Sapi, kami sempat disuguhi pemandangan yang sangat indah, yaitu lanskap kota boyolali yang berada di antara 2 buat bukit kembar. Lanskap ini membentuk segitiga, dimana gemerlapnya kota boyolali sangat terlihat jelas disini. Kami sempat tertipu dengan bukit di samping kami yang kokoh berdiri, kami kira itu adalah puncak tertinggi Merbabu. Setelah kabut menghilang, ternyata di belakanganya masih terdapat bukit yang lebih tinggi. Ternyata kami salah perkiraan dan membuang banyak waktu di sini. Kami segera beranjak dari tempat ini dan memburu bukit tinggi yang masih jauh tersebut. Trek menaiki Geger sapi sungguh terjal, inilah trek terberat sepanjang perjalanan dari Pos 2 ke Geger Sapi. Geger sapi memiliki ketingggian sekitar 3000 mdpl. Kami sempat mendapati para pendaki yang berkemah diarea sebelum naik ke Geger Sapi. Di sini terdapat kawah belerang kecil yang masih mengeluarkan asap yang berbau cukup menyengat. Setelah melewati Geger Sapi, kami harus melewati tantangan berikutnya yaitu Jembatan Setan. Sebelum melintasi Jembatan Setan, kabut sangat tebal dan angin yang sangat kencang menghadang kami. Rupanya terjadi badai di Puncak Gunung. Benar benar menyiutkan Nyali kami, dan memaksa kami untuk duduk bersebunyi di balik tebing untuk menghindari hempasan angin. Jarak pandang hanya 5 meter, sangat riskan untuk melakukan perjalanan malam. Udara begitu dingin, kami mencoba membakar ranting2 dan tanaman2 kecil yang ada di sbelah untuk menghangatkan badan kami yang menggigil. Kami sempat tertidur dalam kondisi duduk merapat kedinginan, waktu satu jam pun kami lewatkan begitu saja. Saat kami terbangun, terdapat pendaki yang mulai mendahului kami. Walaupun angin masih bergemuruh, tapi mereka nekat menyebrangi Jembatan Setan tersebut. Akhirnya mental kami terbangun juga, dan mengikuti jejak dari para pendaki hebat tadi. Kabut sudah mulai menipis dan angin sudah mulai lambat menerpa kami. Kami melanjutkan perjalanan dengan sangat hati-hati menyebrangi jalur sempit yang berada diantara jurang yang dalam di sebelah kiri dan kanan kami, itulah yang dinamakan jembatan setan. Jika kita membawa tas ransel yang berat dan angin bertiup kencang dari samping, saya sarankan untuk berhenti sejenak menunggu cuaca membaik. Jika kita memaksakan diri, bisa-bisa kita akan terhempas ke jurang dalam disamping kita. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi, Sunrise kali ini tidak kelihatan karena tertutup oleh mendung. Angin membawa kabut tipis menerpa kami di sepanjang jalur menuju puncak. Matahari yang masuh muda mengintip kami dari sela2 awan yang menghitam, kami segera ambil posisi untuk berfoto foto disini. Sebelum mencapai puncak sejati, kita akan melewati puncak bayangan. Kejadian menarik ketika saya memimpin rombongan menuju puncak sejati dari puncak bayangan. Di belakang kami terdapat banyak rombongan pendaki yang mengikuti kami, setelah jauh melangkah ternyata jalur yang saya tempuh keliru dan berakhir di jalan buntu. Dengan perasaan bersalah dan rasa malu, akhirnya saya meminta rombongan di belakang kami untuk berbalik dan mencari jalur yang benar. Akhirnya kami menemukan jalur memutari puncak bayangan, dan kami sekarang berada di barisan paling belakang :D .

Puncak Kenteng Songo

Perjalanan terjal bebatuan kami lewati untuk menggapai puncak Kenteng Songo. Dua puluh menit dari puncak bayangan, akhirnya kami sampai juga di puncak tertinggu gunung Merbabu ini. Puncak Keteng Songo berupa gundunkan tanah yang luasnya sekitar 25 meter persegi. Dari puncak ini kita bisa melihat Gunung Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap di sebelah tenggara kami. Kami benar2 terasa berada di negeri di atas awan, sungguh menabjubkan. Setelah berfoto-foto dan puas menikmati suasana puncak, kami memutuskan untuk segera turun melalui jalur Selo.

merbabu4

Merbabu7

Merbabu5

Jalur Selo

Perjalanan turun kami melewati Jalur Selo yang berakhir di desa Selo Boyolali. Perjalanan dari Puncak kami mulai jam 9 pagi, dengan perkiraan kami akan sampai bawah jam 2 siang. Perjalanan kami awali dengan turunan terjal melewati sabana yang luas. Pemandangan menuruni puncak sungguh indah, dengan background gunung merapi dan awan di atas sabana yang luas benar2 membuat kami tidak ingin cepat melewatkanya begitu saja. Kami juga sering berpapasan dengan pendaki lain yang sedang berjuang naik melewati jalur ini. Setelah berjalan selama kurang lebih 20 menit, kami sampai di Pos terakhir sebelum puncak untuk jalur Selo ini. Pos ini cukup terlindung oleh hutan Edelweis yang rapat, para pendaki banyak yang berkemah disini sebelum menggapai Puncak. Selanjutnya perjalanan mengarungi sabana yang luas dengan trek yang landai kami lewati. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di batas sabana dan hutan tropis. Selanjutnya perjalanan turun melalui hutan kami jalani selama 3 jam. Akhirnya jam 2 siang kami sampai di perkampungan desa Selo – Boyolali. Kami mampir sejenak ke Pos Pendakian Selo sebelum melanjutkan perjalanan turun ke Jalan Raya. Penduduk di desa ini sangat ramah, sepanjang perjalanan sapaan ramah sering kami terima saat kami melintas di depan rumah penduduk. Sampai di jalan raya, kami menunggu Bus Jurusan Boyolali. Perjalanan 1 jam lebih kami sampai di Boyolali. Sampai di terminal boyolali kami membersihkan diri dan menikmati Soto Khas Boyolali yang nikmat. Selanjutnya kami naik Bus menuju terminal Kartosuro untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Jogja. Sementara Chimot berpisah dengan kami di kartosuro untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Dari Kartosuro kami ber-3 naik bus jurusan Djogja untuk memburu Kereta Api di Stasiun Tugu. Sampai stasiun tugu jam setengah 6 sore, kami menyempatkan makan di warung Gudeg Khas Djogja yang berada di dalam stasiun Tugu. Tak lama setelah kami selesai amkan, kereta api sudah datang dan kami harus melanjutkan kembali perjalanan malam menuju Kota tempat kami mencari nafkah yaitu Bekasi.

Merbabu8

Merbabu6

Mahameru : Puncak abadi para dewa

Mahameru 18-20 Mei 2007

Mahameru 5Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.

Ranu Pane

Mahameru4Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi. Mahameru 6Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.

Ranu Kumbolo

Mahameru 8

Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami berdoa untuk meminta petunjuk dan keselamatan kepada Sang Pencipta. Perjalanan dimulai dengan jalanan datar sepanjang 500 meter menyisir ladang penduduk. Selanjutnya kita mengambil arah jalan setapak disebelah kiri dimana treknya langsung terjal. Disini adalah tanjakan awal sebagai sambutan panas untuk para pendaki. Setelah tanjakan awal berlalu, kita akan melakukan perjalanan kurang lebih 3 jam untuk mencapai Ranu Kumbolo dengan Trek yang lumayan landai. Vegetasi sepanjang perjalanan berupa Hutan Tropis yang kering. Perjalanan menyiris bukit demi bukit kami lalui tanpa henti selama 3 jam. Akhirnya kami sampai di Ranu Kumbolo sekitar pukul 3 sore.

Mahameru 7

Kami menyempatkan waktu sebentar untuk menjemur perlengkapan kami yang basah karena kehujanan sepanjang perjalanan ke ranu Pane tadi. Ranu kumbolo terletak pada ketinggian kurang lebih 2300 mdpl. Di malam hari, suhu udara disini bisa mencapai minus 2 derajad celcius dan dipagi harinya kita dapat melihat es yang menutupi rerumputan. Kita bisa mendirikan tenda di sepanjang pingggiran danau yang sangat luas ini. Setiap tanggal 17 Sgustus, tidak jarang di tempat ini berlangsung upacara bendera memperingati hari kemerdekaan bangsa indonesia. Danau ini banyak ditumbuhi ganggang hijau yang menyebabkan warna air menjadi hijau ketika terkena sinar matahari pagi. Setelah semua perlengkapan kami kering, segera kami melanjutkan perjalanan ke Kali mati. Yaitu Pos selanjutnya setelah ranu Kumbolo.

Tanjakan Cinta – Oro-Oro Ombo – Kali Mati

Perjalanan meninggalkan Ranu Kumbolo di mulai dengan tanjakan yang sangat terjal dan panjang yang sering dikenal dengan nama Tanjakan Cinta. Setelah selesai menaklukkan tanjakan cinta, kita akan di suguhi padang sabana yang luas yang sering di sebut Oro-Oro Ombo yang artinya padang yang luas. Untuk melanjutkan perjalanan kita dapat menyisir bukit di samping oro-oro ombo atau untuk mempersingkat waktu kita bisa menyebrangi oro2 ombo tersebut. Tapi jangan sampai anda terkena sial seperti saya yang akhirnya terjebak di lumpur dan terpaksa balik ke atas bukit. Di musim hujan, oro-oro ombo akan digenangi oleh air hujan yang menyebabkan tanah di dalamnya akan lembek mejadi lumpur. Waktu itu saya bersama teman saya dari Woi dengan pede melintas di oro-oro ombo dan hasilnya kaki kami masuk sedalam betis. Kenangan buruk untuk saya dan mbak Heti yang saling berpegangan tangan untuk melepaskan sepatu dan sandal dari kaki kami yang terjebak di dalam lumpur. Setelah lepas dari jebakan lumpur ganas di oro-oro ombo, kami berhenti sejenak mebersihkan sandal dan sepatu kami menggunakan pasir kering di ujung batas oro-oro ombo. Selanjutnya perjalanan akan melewati hutan tropis dengan trek yang lumayan terjal. Di tengah perjalanan kembali kami di guyur hujan gerimis. Perjalanan selama kurang lebih 4 jam telah kami lewati, tetapi Pos Kali Mati belum juga kami temukan. Kami segera mengeluarkan senter karena hari telah malam. Setelah melakukan 3 jam perjalanan malam akhirnya kami sampai juga di Pos Kali mati. Total waktu perjalanan yang kami tempuh kurang lebih 6 jam. Kami sampai di Pos Kalimati sekitar jam 9 Malam. Pos Kalimati berada dipinggiran sabana yang luas, disini terdapat bangunan kayu yang bisa kita tempati untuk berteduh dan bermalam. Dari pos ini ke puncak Mahameru membutuhkan waktu paling sedikit 5 jam. 3 jam perjalanan melintasi hutan tropis ditambah 2 jam merayap mendaki kubah pasir yang terjal. Sambil menunggu waktu yang tepat untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, saya bersama teman2 Woi bergabung menikmati hangatnya api unggun di serambi pos. Setelah ngobrol panjang dengan rekan2 pendaki yang lain, kami memutuskan untuk langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 11 Malam. Belum sempat kami tidur, kami harus memburu sunrise di keesokan harinya.

Kubah Pasir Mahameru

Setelah hujan gerimis reda dan waktu sudah menunjukkan jam 11 malam, kami memutuskan untuk mulai melanjutkan pendakian. Pendakian ini kami lakukan ber-6, yaitu trio saya, chimot, ifa ditambah 3 anggota dari Woi Community. Perjalanan menanjak menyusuri hutan tropis kembali kami lalui bersama. Setelah berjalan selama 1 jam, salah satu teman kami dari Woi mengalami sakit ringan. Mungkin karena kurang tidur dan memaksakan diri untuk naik, akhirnya jatuh sakit. Kami berhenti sejenak untuk memberi waktu kepada teman kami yang sedang sakit tersebut istirahat. Setelah agak lama kami berhenti, kami lanjutkan perjalanan menuju pos terakhir sebelum keluar dari hutan. Sampai di post terakhir jam 3 pagi, kami mencoba meminta secangkir teh hangat ke pendaki yang sedang berkemah disini untuk teman kami yang masih sakit. Istirahat sejenak, kami melanjutkan perjalanan keluar hutan menuju Puncak Mahameru. Sesampainya di titik pertama pendakian kubah pasir, saya mengganti sandal gunung saya dengan sepatu pull yang saya bawa. Sekilas memandang ke atas kelihatanya dekat, tetapi kenyataan berkata lain. Setiap maju 2 langkah, kita akan turun 1 langkah karena medannya adalah pasir. Kami harus berjalan ekstra hati-hati disini karena pasir yang licin dan jalur yang sempit. Bisa bisa kita terpeleset dan jatuh berguling ke dasar kubah jika tidak berhati hati berjalan di jalur pasir ini. Kita harus berhenti memberi jalan jika ada pendaki lain yang ingin mendahului kita. Pijakan kaki untuk berhenti pun tidak mudah, kita harus menginjak2 pasir tersebut dengan pangkal kaki sebagai tautan agar kita tidak melorot ke bawah saat duduk. Jarang sekali ada pendaki yang membawa tas ransel yang berat disini, kebanyakan pendaki hanya membawa tas ringan yang berisi air minum dan senter. Angin dari samping juga membuat nyali kami semakin menciut karena membuat badan ini menggigil kedinginan. Teman saya yang sakit akhirnya memutuskan untuk berhendi di sela2 batu pasir yang yang melindungi dari terpaan angin dari samping. Sementara Chimot dan Ifa telah jauh meninggalkan saya. Dengan langkah seribu, saya segera mempercepat langkah mengejar mereka berdua. Fajar sudah mulai mengintip di ufuk timur tepatnya di samping kiri jalur pendakian. Akhirnya saya, chimot dan ifa bertemu kembali menjelang sampai di puncak. beberapa meter sampai puncak, chimot mengalami cidera engsel kaki sebelah kiri.mahameru1

Mahameru 2

Tak beberapa lama akhirnya Saya dan Ifa sampai puncak lebih dulu jauh meninggalkan Chimot yang berjalan tertatih-tatih. Yeesss……….akhirnya kaki kami menginjak tempat tertinggi di tanah jawa ini. Benar-benar menakjubkan pemandangan dari atas puncak abadi para dewa ini. Di depan terlihat dapur magma gunung semeru yang setiap 15 menit meletup mengeluarkan asap adari dalam perut bumi. Lima menit kemudian saya bisa melihat Sunrise muncul perlahan2 dari ufuk timur, sayang sekali saya dan ifa tidaak membawa kamera untuk mengabadikan moment berharga tersebut. Sementara Chimot masih berjuang mengatasi rasa sakitnya menuju puncak. Tak lama kemudian akhirnya chimot sampai juga ke puncak. Setiap terjadi letupan, para pendaki memanfaatkan untuk berfoto2 bersama. kami benar2 menyesal tidak membawa kamera waktu itu, sampai pada akhirnya teman kami dari Woi datang menyusul kami. Akhirnya kami bisa berfoto bersama di depan kepulan asap Mahameru.Ada kejadian menarik saat terjadi letupan waktu itu. Duuuuum…….asap hitam tebal membumbung tinggi bercampur dengan bebatuan besar seakan akan mengarah ke kami. Tidak seperti biasanya saat terjadi letupan dimanfaatkan untuk foto-foto, kali ini para pendaki lari kocar kacir sambil memegangi kepala bagian atas dan tiarap ke tanah. Hahahaha…..bisa dibilang lucu dan bisa pula di bilang mengerikan. Ternyata bebatuan besar tadi tidak mengarah ke kami, syukurlah. Setelah puas menikmati pemandangan dari puncak, kami segera turun karena angin sudah mulai berbalik ke arah kami dan abu vulkanik sudah mulai bertaburan menghujani kami. Perjalanan turun jauh lebih cepat daripada perjalanan naik. Kita ahanya perlu meluncur di jalur pasir yang licin tersebut. Tapi kita harus ekstra hati2 juga, jika tidak hati2 bisa2 kita akan nyasar ke jalur pasir yang lain dan tersasar entah ke mana. Tidak jarang pendaki yang tersasar gara2 salah memilih jalur pasir saat turun. Satu hal lagi yang penting untuk dibawa adalah kacamata pelindung mata. Saat turun diiringi hujan abu vulkanik, mata kita akan sering terkena debu dan hasilnya adalah iritasi. SAya sendiri mengalaminya, sempet beberapa kali harus berhenti “ngucek” mata saya yang “kelilipan” pasir lembut dari abu vulkanik. Setelah menuruni kubah pasir, kami segera melanjutkan perjalanan ke Kali Mati. Sampai Pos Kali Mati sekitar pukul 12 siang, kami ber-3 segera ambil posisi tidur. Tidur selama 1 jam cukup untuk mengobati rasa ngantuk karena sudah sehari semalam tidak tidur sama sekali. Bangun tidur kaki sebelah kiri saya tiba2 nyeri, pas di bagian lutut. Sementara Ifa juga mengalami sakit di kaki sebelah kanan. Rasa sakit akan terasa saat kita jalan menurun, karena otot kaki akan tertarik dan rasanya sangat nyeri. Setelah packing dan sedikit makan siang, kami segera melanjutkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Sementara sebagian teman2 Woi masih berkemah di situ, rencananya mereka akan mendaki puncak pada malam harinya. Saya bertiga sengaja langsung turun karena memburu jadwal kereta api Gumarang pada sore hari besoknya. Dengan langkah tertatih2 dan santai kami bertiga melanjtkan perjalanan ke Ranu Kumbolo. Empat jam perjalanan akhirnya kami ber-3 sampai di Ranu Kumbolo, tepatnya jam 4 sore. Perut kami terasa keroncongan, mie instant tanpa di rebuspun ludes kami makan ber-3. Pukul 5 sore kami mulai melanjutkan perjalanan turun ke Pos Ranu Pane

Perjalanan Mistis (Misteri Patok 9)

Perjalanan turun dari Ranu Kumbolo ke Ranu Pane dapat di tempuh dalam waktu maksimal 3 jam. Karena kaki kami semakin terasa sakit, kami memutuskan untuk jalan santai tanpa henti. Menurut prediksi, kami akan nyampai ke Ranu Pane kurang lebih pukul 9 malam. Di dalam perjalalanan malam bertiga, kami sering di dahului oleh para pendaki lain yang sedang turun dengan berlari. Kami sengaja tidak mau melihat jam, yang kami lakukan hanya jalan dan jalan tanpa henti. Ada kejadian aneh ketika kami melewati patok 9 Hm yang ada di sebelah kanan jalan, dan juga pohon palem yang berada di sebelah kiri jalan. Saya sebagai yang paling depan juga merasakan keanehan ketika saya mersa melihat patok 9 dan pohon palem 3 kali berturut2 seperti layaknya dejavu. Perasaan saya sudah merasa tidak enak waktu itu, tapi saya mencoba memendam dalam hati agar teman2 tetap tenang dan tidak berfikiran macam2. Sampai pada akhirnya teman kami ifa nyeletuk pada saya,

Ifa : ” Tos, perasaan aku wes ping 3 lewat patok 9 “

Saya : ” Sttt….wes menengo wae fa, dilut kas nyampai kok “

Chimot : ” Iyo mlaku terus wae lak tekan”

Saya : ” Gari nglewati sak bukit ngarep iku tok kok rek”

Setelah beberapa menit berjalan, kami tidak lagi menemukan patok 9 dan pohon palem tadi. Hmm….Saya tidak tau persis apakah perjalanan kami yang sangat lambat atau memang kami di ganggu oleh sesuatu hingga akhirnya kami berputar2 selama 3 kali di jalur yang sama. Yang jelas kesalahan yang kami lakukan adalah ketika Maghrib kami tidak berhenti, biasanya menjelang Maghrib kita harus berhenti sejenak sebelum melakukan perjalanan lagi. Setelah 1 jam lebih perjalanan, akhirnya kami sampai di Ranu Pane. Ingin rasanya kami segera ke warung dan makan sepuasnya. Tapi apa yang terjadi, kami benar2 kaget ketika melihat suasana Ranu Pane seperti Kota Mati. Tidak ada satu orangpun yang berada di luar, benar2 sepi senyap dan menyeramkan. Setelah kami mengeluarkan hp, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12. Haaaaaaa…………benar2 waktu yang sangat lama untuk perjalanan turun. Seharusnya hanya 3 jam, tapi kami lewatkan 6 jam lebih. Saya sejenak berfikir tentang patok 9 yang misterius tadi, saya semakin yakin saat itu benar2 di ganggu oleh makluk yang tak tampak.Karena tidak ada wrung yang buka jam segitu, dan kondisi luar yang sepi senyap. Kami emutuskan untuk menginap di dalam Pos. Waktu itu pintu hanya di ganjal oleh sof jadi kami bisa mendorongnya.

Numpang Truk Sayur

Pagi hari menjelang, kami terbangun dari tidur yang cukup nyaman. Segera kami membasuh muka dan membersihkan tubuh dari lelahnya petualangan. Selagi nongkrong di depan pos, ada truk sayur yang datang mengangkut sayur Kol hasil panen petani setempat. Saya mencoba bertanya pada sopirnya, apakah truk akan turun sampai tumpang. Ternyata benar, truk akan turun ke pasar tumpak setelah menaikkan sayur hasil petani setempat. Selagi menunggu truk menaikkan barang bawaan, kami menikmati sarapan pagi di warung nasi depan pos. Hmm…benar2 nikmat masakan pegunungan pasca pendakian. Tak lama setelah kami selesai sarapan, sopir truk memanggil kami untuk segera menaikkan tas kami ke dalam truk dan kami ber-3 juga ikut naik di kap truk. Sebelum truk penuh, kami harus mengikuti truk menaikkan sayuran kentang di ladang lain. Stelah truk penuh berisi kentang, kami segera naik ke atas kap truk dan duduk manis di atas tumpukan kentang. Hmm….asyiiik juga ternyata berpetualang seperti ini. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di desa tumpang. Kami turun di perempatan sebelum masuk ke pasar sayur dan memberi ongkos 30 ribu /0rang. Selanjutnya kami meneruskan perjalanan ke Terminal Arjosari Malang menggunakan angkot. Dari Arjosari kami lanjutkan naik bus Malang – Surabaya turun di Bungurasih. Selanjutnya dari bungur kami memutuskan untuk naik taksi menuju rumahnya Chimot. Sampai di rumahnya chimot sekitar jam 2 siang. Sebagai penutup, kami membeli makan siang di Ikan Bakar Sunda. Hmmm…..lengkap sudah petualangan kami. Selanjutnya jam 4 sore saya diantar Chimot ke Stasiun Pasar Turi untuk bertolak ke Bekasi. Selamat tinggal Surabaya……

Mahameru3

Argopuro : Singgasana Dewi Rengganis…

Argopuro 06-09 Agustus 2005

Argopuro 2Gunung argopuro merupakan salah satu gunung yang terletak di deretan Pegunungan Yang. Gunung ini membentang dari kabupaten Probolingo sampai ke Kabupaten Situbondo yang memiliki ketinggian 3,088 mdpl. Pendakian dari kabupaten probolinggo melalui desa Bremi sedangkan dari situbondo melalui desa Baderan. Gunung Argopuro merupakan gunung yang memiliki trek lintasa terpanjang di jawa. Kebanyakan pendaki memilih untuk melintasi gunung atau naik dan turun pada jalur yang berbeda. Jarur Bremi lebih singkat daripada jalur Baderan tetapi trek yang dilewati cenderung lebih Terjal. Gunung Argopuro memiliki Vegetasi terlengkap, mulai dari hutan Tropis, Hutan Hujan, Hutan Cemara, dan juga padang sabana yang sangat luas. Gunung ini memiliki kisah legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama dayang-dayangnya, ada tempat yang dikenal dengan Taman Rengganis yang diyakini sangat Angker. Di ketinggian sekitar 1200 mdpl dari jalur Bremi, anda bisa menemukan Danau Taman hidup yang cukup luas. Danau ini sangat indah di pagi hari, banyak ikan di dalamnya dan anda bisa memancing untuk di bakar dan di makan. Jika anda turun melalui jalur Baderan, saya yakin anda akan terbius oleh keindahan padang sabana yang sangat luas. Padang Sabana ini konon merupakan bekas pangkalan udara Tentara Jepang yang diyakini sangat angker juga. Jangan sampai anda menginap atau bermalam disini, bisa2 anda di datangi tentara jepang yang sedang patroli. Konon masih ada pendaki yang mendengar derap langkah kaki para tentara saat menginap disini. Gunung yang lengkap keindahanya dan membuat frustasi karena treknya yang begitu panjang.

Pendakian jalur Bremi (Probolinggo)

Argopuro 1Kami sengaja meluangkan waktu di semester akhir menjelang kelulusan kami. Sekedar melepas stress karena mengerjakan Tugas Akhir yang tak kunjung selesai, akhirnya kami ber-6 (Saya, Chimot, Edo, Ucup, Dhani, Sri) merencanakan untuk mendaki Argopuro melalui jalur Bremi dan turun melalui jalur Baderan. Kami berangkat dari Lab ber-6 dengan perbekalan sederhana yang kami punya. Seperti biasanya kami hanya membawa Terpal dan Ponco tanpa Tenda, maklum mahasiswa kere belum mampu beli tenda. Minimnya perlengkapan bukan penghalang untuk melakukan pendakian. Pagi itu kami berangkat ke Bungurasih naik taksi 4 orang dan naik sepeda motor 2 orang. Dari bungurasih kami naik bus jurusan probolinggo, dan turun di terminal probolinggo. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami lewati. Argopuro 4Sampai probolinggo kami menuju terminal bus AKAZ , dimana dari terminal ini kita bisa naik bus jurusan Bremi. Perjalanan ke desa bremi memerlukan waktu kurang lebi 1 jam. Sesampainya di Desa Bremi kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung setempat. Pos perijinan berada di kantor polisi setempat, salah satu dari anggota kami melakukan registrasi di kantor polisi. Setelah semua administrasi beres, kami segera melakukan pendakian melewati ladang penduduk. Setelah melalui ladang penduduk, kita akan masuk ke hutan damar yang sangat lebat. Target pertama kami adalah Danau Taman Hidup yang terletak pada ketinggian 1200 mdpl. Perjalanan 3 jam kami lalui di tengah hutan yang lebat dan trek yang mulai menanjak. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan tak kunjung kami temukan danau taman hidup yang kami cari. Hari sudah beranjak gelap, kami bergegas mengeluarkan senter yang kami bawa. Dengan sangat berhati2 kami melanjutkan perjalanan malam itu. Di tengah hutan kami mencoba berhenti karena semua anggota tim kelelelahan dan lapar. Sejenak menikmati mie instant dan energen, rasa lelah dan lapar kamipun terobati sedikit. Tak mau berlama-lama di hutan kami melanjutkan kembali perjalanan. Sebelum menemukan Danau Taman Hidup, kami menemukan pertigaan. Menurut informasi, untuk mencapai danau taman hidup kita harus mengambil arah ke kanan. Jalanan menurun kami lalui, sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di Danau yang kami cari tersebut.

Danau Taman Hidup

Argopuro 5Danau taman hidup merupakan tempat favorit bagi para pendaki yang memilih jalur Bremi. Ada juga para pendaki yang sengaja hanya nge camp disini beberapa hari. Di area sekitar danau memang cukup nyaman untuk nge camp, tempatnya cukup hangat dan terlindung oleh pohon pinus yang tinggi. Waktu itu kami mendaki pada tanggal muda jawa, sehingga kami bisa menikmati gugusan Galaxi Bima Sakti yang nampak jelas di gelapnya malam. Di dukung dengan cuaca yang cerah dan lokasi yang cukup luas, kami serasa berada sangat dekat dengan bintang2 di angkasa tersebut. Sesekali melihat bintang meteror yang Argopuro 6jatuh, hmm….sungguh mengagumkan alam semesta ciptaan Tuhan itu. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda amatir kami, mengaitkan terpal ke batang pohon pinus. Bermalam di sini tidak begitu dingin, sehingga saya memutuskan untuk tidur di luar beralaskan matras. Kami membuat perapian sebagai penghangat kami menikmati malam. Tidurpun terasa puas, tak terasa pagi menjelang. Kami segera beranjak menikmati pemandangan danau yang sangat indah. Air danau yang di ambil oleh sinar matahari pagi menimbulkan keindahan yang luar biasa di atas danau. Saya menyempatkan diri untuk mencoba memancing ikan disana, dengan kail yang sudah tersedia entah punya siapa. Ternyata sulit juga mancing disini kalau belum berpengalaman. Karena kasihan dengan saya yang gak dapet2, ada mas2 yang menawari ikan untuk saya bawa. dengan malu2 tapi mau, aku terima saja ikan itu untuk di bakar daripada mancing tanpa hasil. Bakar2 ikanpun dimulai, dan rasanya….mak nyissss…….uenak coy. Setelah sarapan pagi dan bakar2 ikan, kami segra beres2 tenda dan packing untuk melanjutkan perjalanan.

Sicentor & Fucking Plant

Tepat pukul 9 pagi kami memulai perjalanan dari taman hidup menuju ke puncak. Perjalanan menanjak dan menurun kami lalui. Sepertiga perjalanan trek yang kami lalui cenderung menanjak dengan vegetasi hutan yang tidak begitu lebat. Dua pertiga perjalanan kami lalui dengan trek cenderung menurun. Kami sempat frustasi karena perjalanan menurun dan datar yang sangat lama padahal kami berencana menuju puncak. Perjalanan ini melintasi vegetasi ilalang dan tanaman pendek dan rapat. Tak jarang kami melintas diantara Funcing Plant atau Jancukan. Tanaman ini adalah tanaman yang paling di benci oleh para pendaki di gunung argopuro. Begitu kulit anda menempel di tanaman ini, dijamin anda akan teriak kesakitan. Saya sendiri sempat merasakannya ketika sedang berlari menurun, dan “plak”…..kaki saya nyerempet tanaman tersebut dan rasa panas campur gatal membuat saya jatuh tersungkur. Tanaman ini merupakan tanaman perdu vegetasi bawah, tingginya tidak lebih dari 2 meter. Memiliki daun menyerupai daun ganja dan bersisik. Mungkin sisik daun tersebut yang menusuk kulit dan menyebarkan racun sehingga terasa gatal dan panas. Tak terasa 6 jam perjalanan kami lalui. Waktu sudah menunjukkan puku 3 sore, dan cadangan bahan bakar kamipun mulai menipis. Target kami adalah Aing Kenik, atau air putih yang katanya berada sebelum pos Sicentor. Perjalanan sebenarnya tidak melelahkan, melainkan membosankan. Rasa frustasi telah menghantui semua anggota. Akhirnya pukul 4 sore kami menemukan aliran sungai kecil yang menghalangi jalan kami. Huh…leganya bisa minum sepuasnya. Seberapa jauh lahi Pos Sicentor kami tidak tau, yang jelas kami hanya berjalan dan berjalan. Gelappun mulai terasa, kami segera mempercepat langkah. Senter kami keluarkan, dan pada akhirnya tepat puku 7 malam kami menemukan Pos yang namanya Sicentor. Udara disini sangat dingin, dan hanya kami ysatu2 pendaki yang ada di pos ini. Lega rasanya menemukan Pos yang kami cari, pos terakhir menuju puncak. Pos Sicentor ini adalah pertemuan antara jalur Bremi dan jalur Baderan. Terdapat aliran Sungai kecil yang cukup deras yang membelah jalur dari arah baderan. Areanya cukup luas untuk mendirikan tenda dan bermalam disini. Terdapat juga bangunan kayu yang cukup lebar dan muat untuk tidur 10 orang. Kami cukup beruntung dengan adanya bangunan kayu tersebut karena kami memang tidak membawa tenda. Kami tidur berjajar di dalam Pos dan berencana bangun subuh untuk mengejar Sunrise. Alarm berbunyi dan kami tidak pula beranjak bangun karena kelelahan. Sehabis sholat subuh kami melanjutkan perjalanan ke puncak, dimana menurut informasi dapat di tempuh dalam waktu 3 jam dari sini.

Sensasi Puncak Rengganis

Perjalanan menuju puncak diawali dengan jalur yang cukup landai melewai sabana yang cukup luas. 1 jam perjalanan kami menemukan Pos sebelum puncak, dinamakan Rawa Embik. Disni terdapat sungai kecil yang mengalir, anda bisa mengambil air di sini sebagi air minum. Setelah Rawa Embik, perjalanan melalui hutan tropis kering yang jarak tanamanya agak renggang. Setelah itu kita akan melewati Hutan cemara yang sejuk dan hijau. Tidak jauh dari sini kami melewati hutan tropis kering lagi sampai puncak Rengganis. Setelah 4 jam perjalanan dari Sicentor akhirnya kami sampai di puncak Rengganis. Kami sedikit bertanya apakah ini benar2 puncak atau puncak bayangan karena masih terdapat pohon yang lebih tinggi dari puncak. Tapi tanda tanya kami terjawab ketika kami menemukan batu yang merupakan titik puncak gunung Argopuro ini. Sunrise telah lewat beberapa jam yang lalu, tapi kami cukup puas bisa mengakhiri rasa frustasi kami. Kami segera foto2 dan mengibarkan bedera kemenangan kami di atas pohon di dekat puncak. Satu jam menikmati puncak, kami segera turun dan melanjutkan perjalanan ke Baderan

Argopuro 8

Argopuro 9

Jalur Baderan

Sebelum turun melalui jalur Baderan, kami singgah sebentar di Sicentor lagi. Istirahat sebentar, makan siang, dan membersihkan diri di sungai. Tengah hari kami mulai melakukan perjalanan panjang sekali melalui jalur baderan. Perjalanan dari Sicentor ke baderan cukup landai tetapi sangat panjang. Kami melintasi hutan yang kering dan hangus terbakar. Mungkin terbakar oleh matahari atau sengaja di bakar oleh tangan jahil. Lima jam perjalanan akhirnya kami menemukan padang savana yang sangat luas yang terkenal sebagai lapangan terbang nipon jepang. Memang di sabana ini masih tersisa bangunan2 berupa benteng dan juga gundukan2 tanah sebagai tempat latihan militer jepang. Jangan sampai anda tersasar memilih jalur di sabana ini. Dari Sicentor kita harus mengambil arah kiri dan melintas Sungai yang airnya di penuhi dengan enceng gondok dan tanaman air lainya. Perjalanan melintasi sabana ini cukup panjang, jika anda beruntung makan anda bisa menemukan Burung Merak disini. Saya sempat bertemu dengan Merak jantan yang terbang pas dihadapan kami. Kami sarankan untuk berhati2 karena jika anda mendapai merak, tidak jauh dari situ harimau akan menjadi ancaman serius anda. Hari gelap mulai menghantui perjalanan kami, dan kami berjalan tanpa henti sampai kaki ini sendiri yang menghentikan perjalanan kami karena kelelahan. Jam 10 malam kami terkapar tak berdaya di tengah hutan dan memutuskan untuk bermalam disitu. Segera kami membeber terpal dan memasak mie instant yang tersisa. Ada yang makan dan ada pula yang langsung tertidur pulas karena kecapekan. Udara di sini tidak dingin, menandakan tempatnya tidak begitu tinggi. Pagi menjelang dan kami segera melanjutkan perjalanan yang masih panjang. Empat jam perjalanan kami mulai kehabisan bahan bakar, dan dehidrasi pun mulai terasa. Akhirnya kami menemukan ladang penduduk dimana ditengah2nya terdapat aliran pet yang bocor. Terobati sudah rasa lelah dan dehidrasi yang mendera kami. Tengah hari kami sampai di desa Baderan. Kami segera hunting warung untuk mengisi perut kami yang sudahkangen dengan nasi. Di pertigaan dekat pangkalan angkot, kami menyantap nikmatnya masakan kampung Baderan. Perjalanan pulang kami lanjutkan dengan angkot dari Baderan ke Terminal Situbondo. Di terminal situbondo kami menyempatkan diri untuk Mandi dan Membersihkan diri. Perjalanan selanjutnya kami tempuh menggunakan Bus jurusan Situbondo – Surabaya. Sampai di Terminal Bungurasih sekitar puku 7 malam. Perjuangan panjang telah kami lewati bersama, dan kami benar2 kapok mendaki gunung Argopuro yang indah itu.

Argopuro 12

Argopuro 10

Argopuro 11

Ajuno : Duet Menantang maut…..

Arjuno xx-yy Mei 2006

Gunung Arjuno terletak di kabupaten Malang, yang memiliki ketinggian 3.339 mdpl. Gunung Arjuno merupakan gunung yang berdampingan dengan Gunung Welirang, bisa dinyatakan berhimpit karena titik temu dari pendakian kedua gunung ini ada di tengah. Jika ingin melintas Gunung Arjuno-Welirang kita bisa terlebih dulu mendaki Arjuno dilanjutkan ke Gunung welirang atau sebaliknya. Di puncak Gunung Arjuno anda bisa melihat pemandangan indah hamparan gunung Semeru yang kokoh berdiri lebih tinggi di depan kita, dan juga gunung welirang yang mengepul di samping kita. Jalur Purwosari juga dikenal sebagai jalur To the Point, karena jalur ini melewati trek yang terus menerus naik dan terjal tetapi cepat sampai menuju Puncak.

Pendakian Jalur Ziarah (Purwosari)

Arjuno 1Pendakian saya kali ini hanya di temani oleh seorang sahabat saya dari awal kuiah, yaitu ahmad nawawi yang akrab di panggi Chimot. Waktu itu kami telah lulus kuliah dan sama2 belum mendapatkan pekerjaan, jadi keseharian dihabiskan dengan ngelamar kerja dan berburu wanita :D . Berawal dari keinginan masing2 untuk melepas kepenatan di lab, akhirnya kami berdua memutuskan untuk melakukan pendakian. Sebenernya kami mengajak teman2 yang lain juga, tap karena teman2 punya kesibukan lain akhirnya kamipun harus siap untuk berduet. Bekal yang kami bawapun tidak lebih baik dari pendakian pertama kami di Gn Welirang. Kami memutuskan untuk mendaki melalui jalur Purwosari, yaitu jalur yang terkenal Mistis. Jalur ini memiliki banyak sekali situs2 bersejarah peninggalan kerajaan majapahit yang telah runtuh. Di sepanjang perjalanan masih banyak di temukan tempat2 bertapa dan pemujaan kepada leluhur kerajaan Majapahit. Sehabis sholat subuh, kami berdua bergegas mengangkat ransel yang sudah terpacking dengan sempurna di lab. Berangkat dari kampus elektro ITS menuju ke terminal bungurasih menggunakan sepeda moto Chimot berboncengan dengan saya. Sampai di bungurasih kami mencari Bus Ekonomi jurusan Malang yang nantinya kami akan turun didepan pasar Purwosari. Selama perjalanan, didalam bus kami bertemu dengan bapak2 yang pernah berziarah ke gunung Arjuno. Saya diberikan banyak petunjuk untuk bisa mencapai puncak gunung Arjuno. Kami sangat bersyukur ada malaikat penolong sebelum kami melakukan pendakian, sampai di pertigaan purwosari kamipun turun. Dari situ kami naik Ojek ke Desa Tambak Watu, yaitu desa yang menjadi titik awal pendakian. Sampai dititu kami terlalu pagi, pukul 7 pagi pos pendakianpun belum buka. Kami berusaha mencari tempat untuk bisa sarapan pagi, tapi warung setempat pun belum juga buka. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung melakukan pendakian dalam keadaan perut kosong. Baru berjalan 10 menit pun perut rasanya sudah tidak kuat menahan lapar, kamipun terpaksa membuka bungkusan roti di dalam ransel.

Gua Ontoboego

Arjuno 9Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kami sampai di Gua Ontoboego. Di tempat ini terdapat Gua kecil yang biasanya digunakan untuk bertapa. Disekitarnya terdapat bangunan terbuat dari kayu yang digunakan untuk beristirahat dan berlindung dari hujan. Sampai di pos ini kami berhenti sejenak menikmati segarnya udara pegunungan dan merenggangkan otot2 kaki yang mulai tegang. Setelah seperempat jam kami berjalan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Di tengah perjalanan kami di bingungkan dengan 2 jalur yang terpisah, berfikir sejenak akhirnya kami memutuskan mengambil arah kanan yang jalurnya cenderung naik. Belum jauh berjalan kami berpapasan dengan bapak2 pencari rumput dan bertanya pada kami hendak kemana. Ternyata jalur yang kami lewati salah, jalur kekanan adalah jalan menuju Air Terjun. Walaupun jaur yang kekiri menurun, tapi itu adalah jalur menuju puncak. Hmm…satu malaikat lagi telah menolong kami di perjalanan. 2 jam perjalanan kami sampai di Tampuono. Disini terdapat juga situs2 peninggalan jaman kerajaan Majapahit berupa arca2 dan tempat pemujaan. Tempatnya memang mistis dan berbau menyan. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos berikutnya yaitu Eyang Sokri, disini juga terdapat situs2 pemujaan seperti di tampuono. Dari tampuono ke Eyang Sokri cukup jaraknya cukup dekat, bisa di tempuh dalam waktu 30 menit. Kami memutuskan untuk tidak berlama2 di pos2 mistis tersebut karena banyak sekali orang2 yang sedang bertapa dan melakukan pemujaan. Setelah 2 jam perjalanan, kami menemukan pos berikutnya yaitu Eyang Semar. Seperti halnya pos yang lain, pos eyang semar ini juga masih banyak ditempati oleh para pertapa.

Makuthoromo

Arjuno2Dari Eyang Semar ke Makuthoromo perjalanan mulai menanjak. Kita bisa menikmati indahnya hampara gunung Semeru beserta gugusanya di sepanjang perjalanan. Trek berupa panjat tebing batu besar akan kita lalui sebelum mencapai Makuthoromo. Perjalanan dari Eyang semar ke Makuthoromo kami ditempuh dalam waktu 1 jam. sebelum masuk lokasi makuthoromo, silahkan anda menghadap ke belakang dan rasakan sensasi pemandangan alam yang sungguh mempesona. Sampai di sini kami isturahat sejenak untuk mengisi perut dan bahan bakar kami yang sudah mulai menipis. Persedian air di sini cukup melimpah, anda bisa mengambilnya di belakang pos. Pos Makuthoromo ini adalah pos terbesar dan terakhir di jalur ini. Jika anda memiliki waktu yang cukup panjang, saya rekomendasikan untuk menginap di sini. Selain tempatnya yang luas dan datar, disini terdapat bangunan kayu yang bisa menampung banyak orang jika anda tidak membawa tenda. Pemandangan yang indah akan anda saksikan dari sini, mulai dari gemerlapnya kota lawang di bawah sewaktu malam hari sampai pemandangan dengan view gugusan gunung semeru di pagi hari yang cerah.

Satu jam kami berisitirahat, akhirnya kami memutuskan untuk beranjak dari tempat ini dan mncari tempat untuk mengintai puncak Arjuno. Menurut informasi, puncak arjuno dapat dicapai dalam waktu 4 jam dari sini. Tak jauh dari Makuthoromo kami menemukan tempat lapang untuk berteduh dari terik matahari dan menikmati makan siang. Setelah makan mie instant dan minum energen, kami beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Waktu itu gerimis turun, terasa nikmat tidur siang kala itu. Tak terasa 1 jam telah kami lalui di dalam mimpi, kami bangun pukul 3 sore. Segera kami melipat kembali mantol dan memasukkan ke dalam ransel. Kami lanjutkan perjalanan menyusuri pinggiran bukit dengan jalur yang terus menanjak. Dua jam perjalanan kami sudah bisa melihat punggungan puncak gunung arjuno yang menghitam. Semangat kami pun terpacu untuk terus berjalan mendekat dan segera mencari tempat terbaik untuk mengintainya dari dekat. Waktu itu maghrib telah menjelang, kami memutuskan untuk bermalam di tengah jalan. Kami berencana melanjutkan perjalanan pukul 2 pagi agar bisa menikmati munculnya Sunrise di ufuk timur dari puncak. Hanya bermodal Sleeping bag dan ponco, kamipun terlelap tidur beratap langit. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun untuk meneruskan perjalanan. Waktu itu purnama tanggal 15 jawa, sehingga jalanan malam tidak terasa gelap melainkan terang benderang oleh sinar bulan yang marun. 2 jam perjalanan kami sampai di puncak Arjuno. Udara dingin menusuk tulang2 dan mematikan sendi2 di kakiku, tapi semangat bergejolak dalam jiwaku yang selalu menghangatkan tubuhku dan menegakkan kakiku. Masih cukup lama menunggu sunrise, kami menikmati gemerlapnya lampu malam kota malang dan sekitarnya yang indah. Bulan purnama terasa dekat di atas kepala kami, seakan menyambut pencaipaan besar kami. Akhirnya fajar mulai menyingsing dari ufuk timur, kami bergegas menyongsong sinarnya yang temaram. Tak lama kemudian mataharipun mulai mengintip dari bali cakrawala yang membenatang. Sungguh pertunjukan Yang Maha Kuasa yang sangat mempesona. Dan semua itu hanya kami lewatkan berdua, tidak ada satu pendakipun yang menikmati Sunrise waktu itu kecuali kami. Setelah matahari mulai naik, kami bisa menikmati hamparan luar cakrawala yang bergambar gugusan gunung semeru nan elok. Di samping terlihat gunung Welirang yang mengepulkan asap belerangnya, sesekali baunya tercium juga. Setelah itu puas menikmati semuanya, ada seorang pendaki datang terlambat. Dia terlihat sangat kecewa karena terlambat mendapatkan Sunrise sampai2 dia meminta kami mengirimkan foto Sunrise kami ke dia.

Dehidrasi pasca Euforia

Setelah puas menikmati Puncak Gunung Arjuno dengan segala keindahanya, kami tak sadar kalau cadangan air minum kami sudah habis. Dan perjalanan turun gunungpun kami jalani tanpa air setetespun membasahi tenggorokan. Setengah perjalnan, saya mengalami dehidrasi yang menyiksa. Badan saya terasa lemas, kaki terasa berat menyangga berat badan. Pikiran sayapun mulai melayang dan yang terbayang adalah bagaimana jika ditengah jalan saya terjatuh dan tewas. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sejenak dan tidur di atas batu. Tak ada satu orangpun yang memberiku minum, seperti yang aku harapkan. Dengan langkah gontai dan pikiran yang kacau akhirnya saya kuatkan untuk menggapai Pos Makuthoromo. Perjalanan turun cukup curam dan berbahaya jika kita tidak berhati2 dan dalam kondisi yang tidak fit, bisa2 tergelincir ke bawah dan tewas. Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pos makuthoromo. Saya langsung merebahkan tubuh saya di terasa bangunan kayu, sedangkan chimot memasak air dan makanan untukku. Satu jam sudah tidur aku lalui, chimot membangunkanku dan menyuruhku minum dan makan siang. Bdanku sudah beranjak pulih kembali setelah makan siang. Pukul 2 siang kami melanjutkan perjalanan turun, sampai bawah jam 5 sore. Dari Tambak Watu ke Purwosari kami diantarkan warga setempat selayaknya tukang ojek. Dari purwosari naik bus jurusan surabaya turun di bungurasih dan mengambil sepeda motor yang dititipkan. Perjuanganpun berakhir ketika saya telah sampai dikost. Hmmm….sunggu Duet menantang Maut.

Arjuno 6

Menikmati Sunrise

Arjuno 7

Obsesi menaklukkan Mahameru

Arjuno 3

Mengukuhkan Penaklukan Arjuno


Arjuno 8

Gunung Welirang yang Mengepul

Welirang : Gunung pertama yang meracuniku

Welirang ( 20-22 Juni 2004 )

Welirang adalah gunung pertama yang aku daki, dan meracuniku hingga kini. Saya tidak ingat persis kapan saya mendaki gunung ini, yang jelas sewaktu saya masih masa-masa kuliah tingkat akhir. Dari propertis foto yang saya punyapun saya tidak bisa memastikan tanggal berapa bulan apa saya mendaki, karena kamera yang saya pakai masih kamera analog. Waktu itu memang belum banyak kamera digital atau memang kami gaptek yang jelas belum seorangpun dari kami ber-6 yang sudah memiliki kamera digital. Ajakan datang dari teman saya Agus waktu saya sedang bermain ke kostnya dia. Ngobrol kesana-kemari ternyata dia adalah mantan pemimpin oraganisasi pecinta alam di eks-SMA nya. Dia bercerita banyak tentang pendakian dan petualanganya yang mengagumkan di beberapa gunung di jawa tengah. Saya benar-benar tertarik dan pada akhirnya kami merencanakan pendakian bersama dengan beranggotakan 6 orang. Enam orang itu adalah Agus, anung, nanang, rizki, chimot, dan saya sendiri. Diantara ke-6 tersebut, 3 orang pertama sudah pernah melakukan pendakian sebelumnya dan 3 orang terakir adalah pendaki pemula. Dengan berbekal kepercayaan pada orang yang berpengalaman (baca: Agus), kamipun berangkat dari keputih menuju ke jalur pendakian Tretes. Pemilihan jalur tretes tidak lain karen jalur ini adalah jalur paling landai, walaupun merupakan jalur yang terpanjang pula. Setidaknya jalur ini aman dan mudah untuk pendaki pemula seperti saya.

Pos Pendakian Tretes

26. Selamat Tinggal CupitSebelum melakukan pendakian kami melapor ke Pos pendakian Tretes. Di sini kami bertemu dengan Mas Cupit, sebagai penjaga pos. Waktu itu cuaca memang tidak begitu baik, s ehingga kami berkonsultasi dengan Mas Cupit perihal pendakian ke puncak. Dan ternyata kami dipersilahkan untuk melakukan pendakian, jika cuaca memburuk disarankan untuk tidak memaksakan diri ke Puncak. Biaya registrasi di Pos ini kurang lebi Rp.2000,- seingat saya. Dari Pos kami berangkat sekitar pukul 2 siang. Perjalan dari Pos pendakian sampai ke Pos 1 yaitu Pet Bocor dapat di tempuh dalam waktu 2 jam. Jalur yang di tempuh berupa jalanan lebar bebatuan, dimana jalan ini masih bisa di lewati oleh Mobil Pick-up pengangkut Belerang. Jalanan cuku landai tetapi melelahkan, karena panjang dan bebatuan. Sampai di Pos 1 kami istirahat untuk mengisi bahan bakar (Baca: air minum). Dua orang anggota kami sudah ada yang terkapar sakit, yaitu Anung yang masuk angin dan Riski yang kakinya kram. Setelah 30 menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2

Pos 2 (Pondok Welirang)

10. Pagi Hari di Kokopan

Setelah menempuh 4 jam perjalan, akhirnya kami sampai di Pos 2. Perjalan sebenarnya bisa di tempuhdalam waktu lebih singkat dari itu, karena kami harus sering berhenti mengimbangi teman kami yang sakit akhirnya pendakian tersendat dan memakan waktu yang cukup lama. Sampai di Pos 2 cuaca sudah mulai memburuk, hujan gerimis menyertai kedatangan kami. Udara yang cukup dingin menusuk tulang2 yang membuat badan kami menggigil kedinginan. Di pos ini merupakan pemukiman penambang belerang di kawah gunung welirang. Banyak sekali gubuk2 yang beratapkan jerami sebagi tempat tinggal sementara bagi para penambang. Di sini terdapat sumber air yang sangat melimpah, terdapat sungai kecil yang mengalir cukup deras. Waktu itu kami tidak menyiapkan tenda, kami hanya membawa terpal dan ponco sebagai tempat berteduh dari guyuran hujan. Karena perjalanan ke Puncak masih cukup jauh, dan hari sudah malam akhirnya kami memutuskan untuk menginap di sini. Kami mencoba mencari tempat untuk bisa membeber terpal dan ponco kamu sebagai tempat berteduh semalam. Ternyata di tempat ini sangat terbuka, dan tidak ada pohon yang bisa kami buat mengikatkan tali terpal kami. Keberuntungan akhirnya menghampiri kami, ada seorang bapak2 menawarkan ke kami penginapan gratis di sebuah gubuk yang belum selesai di bangun. Walaupun belum selesai, tetapi kami sangat bersyukur karena gubuk tersebut sudah ada atap yang melindungi kami dari hujan. Kami segera membeber terpal sebagai alas , dan mengikat ponco sebagai penutup pintu. Sebagai pendaki pemula, cukup beresiko jika kita tidak mebawa bekal perlengkapan yang memadai. Tidak hanya tenda yang tidak kami punyai, sleeping bagpun kami belum punya. Benar2 pendakian kere yang pernah kami lakukan. Bebrbekal jaket Elektro yang tipis, kami tidur melingkar seperti kucing. Udara dingin benar2 menusuk tulang dan menggetarkan gigi2 kami yang tidak rata. Malam terasa sangat panjang karena kami tidak bisa tidur dengan nyaman. Akhirnya fajarpun menyingsing dari timur, Agus sebagai pemimpin ekspedisi segera membangunkan tidur kami yang terlambat. Segera kami foto2 dan mempersiapkan pendakian ke puncak. Setelah mengecek perbekalan dan stamina, akhirnya kami memutuskan melakukan pendakian ber-4. Sementara teman kami 2 orang di tinggal di pos karena masih sakit. Dengan berbekal tas kecil dan sebotol aqua, kami ber-4 melanjutkan perjalanan mulai pukul 08.00.

Pos 3 (Pondokan)

12. Ilalang menuju Pondokan

Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 dapat di tempuh dalam waktu kurang lebih 4 jam. Perajalan melewati jalur penambang yang cukup mudah di lewati. Sepanjang perjalanan ke pondokan adalah hutan tropis yang kering, pohon pinus yang besar dan tinggi cukup untuk melindungi kami dari panas selama perjalanan. Sering sekali kami berpapasan dengan pendaki lain yang sedang turun gunung, mereka kelihatan bersemangat dengan berlari. Trek pendakian tidak terlalu curam, dan cenderung landai. Setelah 4 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di pondokan atai Pos 3. Disini kita bisa menjumpai pemukiman para penambang belerang, dan juga tenda2 para pendaki yang bermalam disini. Tempat ini adalah pos untuk 2 gunung sekaligus, yaitu Gunung Arjuno dan Welirang. Jika anda hendak meneruskan perjalanan ke Arjuno, anda mengambil arak ke kiri menyisir bukit yang berada di sebelah kiri setelah Pos. Untuk melanjutkan ke Welirang, anda cukup mengambil jalan lurus sesuai dengan jalur para penambang. Di pos ini terdapat persedian air yang melimpah juga, kami menyempatkan untuk mengisi bahan bakar kami yang sudah menipis. Disni kami bertemu pendaki yang sedang masak-masak dan makan siang, mereka dengan baik hati menawari kami makan. Hmmm…walau dengan sedikit malu2, akhirnya kami mau juga…:D. Nasi lauk telur asin, hmmm….nikmat juga yah…………makasih banyak ya mas…ucap kami. Setelah kenyang dan merenggangkan otot kaki kami selama 1 jam, kami melanjutkan perjalnan ke Puncak Welirang. Pukul i siang kami melanjutkan perjalanan, matahari cukup terik mengiringi perjalanan kami.

Aroma Puncak

Perjalanan dari Pondokan menuju Puncak dapat di tempuh dalam waktu 6 jam. Jalur pendakian cukup mudah di temukan karena jalur ini merupakan jalur penambang. Sering sekali kami papasan dengan para penambang belerang yang sangat perkasa. Dengan berbekal teroli kecil, mereka mengusung belerang dari puncak gunung seberat 50 kg. Tak jarang mereka meminta ke kami minum dan makanan yang kami bawa, benar2 perjuangan yang sangat melelahkan. Dari 50kg belerang, hanya di hargai Rp 800,-/kg. Bisa dihitung kan berapa rupiah untuk 50 kg, yaitu 45 ribu rupiah. Sebuah perjuangan hidup yang perlu mendapatkan apresiasi dari hati kita yang paling dalam. Sudah selayaknya kita cukup bersyukur dengan kondisi kita yang jauh lebih baik dari mereka. Walaupun mereka membawa teroli dan cangkul yang berat, tak jarang kami sering di Overlap oleh mereka. Sungguh kekuatan alam yang membuat mereka menjadi manusia super seperti itu. Perjalan menuju puncak masih di dominasi oleh hutan tropis yang kering. Trek menuju puncak berupa bebatuan, dan dari sini kkta sudah bisa mencium bau belerang yang berasal dari puncak. Trek sudah tidak landai lagi, melainkan menanjak drastis. Setelah lepas dari hutan tropis, kami menemukan Vegetasi puncak berupa tanaman Perdu dan juga Edelweis. DI sinilah pertama kali saya mengelan tanaman Edelweis yang abadi bunganya tersebut. Dari sini kita sudah bisa melihat seperempat pemandangan kota yang dibawah kita. Waktu sudah menunjukkan pukul 3 Sore, cuaca di atas berkabut tebal dan kurang bersahabat. Menurut informasi dari pendaki yang turun, mereka menyarankan untuk tidak melanjutkan perjalanan karena badai di puncak. Sebagai pendaki Pemula, kami sangat menghargai saran orang lain. AKhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri pendakian di tempat ini. Sejenak foto2 dan meluruskan kaki, kami segera angkat kaki dari tempat ini sebelum malam tiba. Perjalanan pulang mengikuti jalur yang sama dengan perjalanan naik. Pendakian ini adalah titik awal dari pendakian2 berikutnya.

22. Kemenangan Hitler

20. Kakek On The Top21. Seorang Pendaki23. Wahai Alam

Yogyakarta 3 : Malioboro Night Bazaar

Malioboro Night Bazaar….

MalioboroMenyambung cerita dari Yogyakarta 2, dalam moment yang sama pula kami berjalan-jalan di sepanjang jalan malioboro. Malioboro terkenal dengan bazaar malam yang mejajakan beraneka macam pernak-penik khas djogja. Dagangan yang paling laris adalah kaos, mulai dari yang asli sampai bajakan. Kaos yang terkenal adalah Dagadu, yang katanya dagadu asli hanya dijual di Mal Malioboro. Banyak sekali Dagadu yang di jual di jalanan dan juga toko-toko di sekitar malioboro tetapi tidak dijamin keaslianya. Disamping kaos, malioboro juga menawarkan berbagai pernik2 dan cindera mata khas djogja yang merupakan kerajinan dari seniman setempat. Jika anda adalah penggemar batik, jangan lewatkan untuk mengunjungi pasar Bringhardjo yang berada disebelah kiri jalan malioboro.

Perjalanan dari magelang

Dari borobudur kami kembali ke djogja naik bus borobudur – djogja dengan ongkos 10 ribu rupiah, turun di terminal Jombor. Dari terminal jombor kami melanjutkan perjalanan ke malioboro menggunakan busway transdjogja. Transdjogja adalah sistem angkutan perkotaan djogja yang baru dengan mengadopsi sistem busway transjakarta. Transjogja menggunakan armada bus jenis tiga per empat, sebesar metromini tetapi ber AC dan nyaman. Terminalnya lebih kecil dan jalur busway tidak menggunakan jalur sendiri, melainkan menggunakan jalan umum. Tarif tiketnya pun tergolong murah, yaitu 3ribu rupiah. Perjalanan dari jombor ke jalan malioboro sekitar 20 menit dengan kondisi lalu lintar yang biasa dan tidak macet. Jika anda ke malioboro pada hari libur atau weekend, sudah dapat dipastikan anda harus bersabar mulai dari belokan ke stasiun tugu.

Keraton & Alun-alun Kidul

Jalan malioboro selalu ramai dengan pengunjung karena letaknya yang strategis. Selain berdekatan dengan stasiun kereta api Tugu, malioboro juga dekat dengan Keraton Yogyakarta tempat Sultan Hamangkubuwono bertahta. Dari jalan malioboro kami menyempatkan untuk berwisata keraton, tapi sayang sekali waktu sudah terlalu malam sehingga kami mengurungkan niat untuk masuk keraton. Kami memutuskan untuk berkunjung ke Alun-alun kidul yang lebih dikenal dengan sebutan Alkid. Ada satu hal yang istimewa di alun-alun ini, sebuah pohon beringin kembar yang berada di tengah2 alun-alun. Dipercaya pohon ini sangat sakral, katanya jika kita bisa berjalan melewati jalan diantara beringin kembar ini dengan mata tertutup maka apapun permintaan kita akan terkabul. Dan anehnya banyak sekali orang yang gagal melewatinya, termasuk saya yang melenceng ke sebelah kanan pohon. Teman saya malahan ada yang mencoba 3 kali dan selalu gagal dan anehnya melenceng ke kanan terus. Cuman sekedar permainan, cukup menarik untuk di coba jika anda berkunjung ke sini. Siapa tau permintaan anda benar2 terkabul, walaupun anda mungkin tidak percaya. Alun-alun kidul selalu dipadati pengunjung sampai larut malam, hanya sekedar bercengkrama bersama sahabat, kekasih atau menikmati langit cerah sendirian. Sebelum pulang ke penginapan, kami menyempatkan diri untuk request lagu Yogyakarta ciptaan Kla Project ke seorang pengamen yang datang ke kami. Senengnya bisa nyanyi bareng dan benar2 menikmati suasana djogja yang tenang dan menghanyutkan…..

Alun-Alun kidul

Keraton

Alkid 2

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu …
…………
Walau kini kau t’lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s’lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati


Paris : My First Flight & My Greatest Surprise

France : 15 – 23 September 2007

Waktu itu saya sedang di ruang meeting bersama rekan2 staf saya se kantor, handphone saya tiba2 bergetar mendapat panggilan telepon dari nomer tak di kenal,

Aku : “Hallo…..”

Mr X : ” Halo …mantos ya..??”

Aku : “Iya pak saya mantos.. “

Mr X : ” Mantos ..kamu sudah punya Passport..?? “

Aku : ” Belum pak….” , sambil menebak-nebak suara siapa..?

Mr X : ” Kamu segera ngurus Passport ya…”

“Tanggal 15 september kamu berangkat ke Prancis ” , Glodak…..apa..??

Aku : ” Passport…??, ke Pranciss…??? “, Bingung…@#%@$#@2

Mr X : ” Iya… kamu langsung ke HRD, nanti akan dijelaskan …”

Aku : ” Maaf…dengan siapa ya saya bicara..?? “

Mr X : ” Ini Binsarrrrrrrrrrrrrr…..Binsarr….bosmu, gmna toh kamu …”, ups…………maaf pak

Aku : ” Oh….maaf banget pak, nomer bapak gk ada di hape saya”

Dst…..

Gilaaaaaaaaaaa………..benar2 kejutan yang luar biasa, belum pernah naik pesawat, belum pernah pergi ke luar negeri, di suruh sendirian ke luar negeri pula. Dengan hati yang berbunga-bunga karena akan jalan-jalan ke luar negeri dan ketakutan karena belum pernah naik pesawat dan sendirian ke luar negeri, akhirnya aku segera menghadap ke HRD untuk mengurus segala prosedur pemberangkatan. Manager HRD saya memberikan saya ceramah singkat mulai dari bagaimana Check In pesawat sampai materi yang akan saya peroleh selama mengikuti training di Prancis.

Mengurus Tetek Mbengek

Tetek Mbengek adalah istilah jawa yang artinya segala sesuatu yang macam-macam dan semrawut. Yang harus saya siapkan paling awal adalah Passport, syarat mutlak untuk identitas seseorang jika hendak berpergian ke luar negeri. Saya tidak mengerti prosedur mengurus passport yang sebenarnya kaya apa, yang jelas saya menggunakan calo yang sudah di tunjuk oleh perusahaan. Harap maklum karena waktu yang sangat mepet sekali, h-25 dari waktu pemberangkatan. Syarat2 untuk membuat passport adalah ijazah dari SD sampai pendidikan terakhir, semuanya harus asli. Saya pontang panting telepon ke rumah untuk segera mengirimkan semua dokumen saya tersebut melalui layanan TIKI. Pagi2 sekali jam setengah 6 pagi saya bergegas ke kantor TIKI di Bekasi, bongkar sana bongkar sini akhirnya paketan saya di temukan juga oleh mas2 pembongkar paket. Legaa….segera cabut dan berangkat kerja untuk mengurus ke kantor imigrasi. Sekali lagi saya tidak tau persis prosedur sebenarnya seperti apa, yang jelas saya datang ke kantor imigrasi ketemu calo dan di suruh foto, interview, cap jari tangan, dan tiba2 saja passport saya jadi keesokan harinya. Setelah passport selesai, saya harus mengurus Visa kunjungan di kedutaan besar prancis. Waktu itu saya tidak perlu ke kantor kedutaan langsung, saya hanya mengisi formulir dan selanjutnya di urus oleh kantor. Syaratnya cuman foto background putih dengan baju sopan, yang nantinya akan ditempel di passport kita. Pembuatan Visa memakan waktu 20 hari kerja, itu waktu minimal. Setelah mendapatkan Visa, saya diberi tiket pesawat Thai Airways pulang pergi Indonesia – Prancis yang transit di Thailand. Belum usai perjuanganku untuk bisa berangkat, saya haru pontang panting ke Money Changer untuk menukarkan uang rupiah saya. Waktu itu saya diberi uang dinas sebesar 10 juta rupiah. Uang 10 juta yang sebendel amplop menjadi hanya beberapa lembar Euro, rupiah benar2 tidak ada harganya di negara maju (pikirku). Setelah semuanya beres, tinggal saya yang harus mempersiapkan mental untuk terbang sendirian ke Paris. Dengan bermodalkan mental baja dan bahasa inggris yang pas2an akhirnya saya memutuskan untuk berangkat. Waktu itu bulan ramadhan, dan saya memutuskan untuk tetap berpuasa selama di prancis.

Katrok di Bandara Soekarno Hatta – Cengkareng

Pengalaman pertama begitu mengesankan, itulah yang aku alami selama pemberangkatan dari bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Berangkat dari bekasi ke cengkareng naik taksi turun di terminal 2 untuk penerbangan internasional. Di depan terdapat logo Thai Airways, begitu saya masuk, suasana begitu ramai dan kebingunganku mulai muncul. Mondar mandir kesana kemari mencari pintu masuk penerbanganku, akhirnya ketemu juga setelah bertanya ke petugas. Sampai di dalam aku masih bisa bersantai, karena datang terlalu dini dari jadwal penerbangan. Daripada terlambat lebih baik datang lebih awal, lagian ini penerbangan pertamaku dan saya pasti banyak menemui hal baru yang membingungkan. Meja Check in di buka, saya di barisan awal di belakang sorang Bule eropa. Saya perhatikan dengan seksama cara melakukan check-in, dan ternyata cukup mudah. Aku minta tempat duduk dekat jendela supaya bisa melihat pemandangan dari atas pesawat, kesempatan pertama harus dimanfaatkan dengan sebaik2nya lah. Setelah Check-in saya menuju ke loket pembayaran fiskal, waktu itu bayar 1 juta rupiah di Bank Mandiri. Hanya indonesia yang memberlakukan biasa Fiscal bagi warga yang hendak pergi ke luar negeri, menyedihkan. Selanjutnya saya menuju ke gerbang imigrasi pemberangkatan, menunjukkan tiket pesawat, passport dan bukti pembayaran fiscal. Mungkin karena wajah saya yang polos, ndeso, dan passport saya yang masih perawan, sehingga petugas imigrasi bertanya,

Imigrasi : ” Mau kemana mas..?? “

Aku : ” Prancis pak..”

Imigrasi : ” Belum pernah ke luar negeri ya..?? “

Aku : ” Belum pak…..naik pesawat aja belum pernah”

Imigrasi : ” Yang bener mas…sekarang sendirian saja…?? “

Aku : ” Iya pak…memang ditugaskan sendiri “

Imigrasi : ” Wah…pertama kali naik pesawat langsung ke prancis….ati-ati ya mas…” , sambil geleng-geleng kepala…:D

Aku : ” Iya pak….makasih……doain aja lancar..”

Dengan langkah penuh percaya diri, aku menuju ke boarding room. Setelah agak lama menunggu, akhirnya aku menginjakkan kakiku untuk pertama kalinya ke lantai pesawat. Satu step lagi menuju ke angkasa, waktu itu pesawat nya Boeing 737-400. Kejadian memalukan sempat aku alami ketika pesawat sebentar lagi take-off, aku berniat mengambil buku dari tas didalam rak dan gubrak…….tas yang berada di sebelah kanan tasku jatuh menimpa Bule disampingku…..i am sorry sir…sambil memasukkan kembali tasku, dan gubrakkk…………gantian tas yang disebelah kiri tasku yang jatuh, dan semua orang di pesawat menatapku dengan mata tajam. Duh malunya diriku……salah sendiri naruh tas di rak yang jelas2 sudah penuh sesak (ngomel di dalam hati). Tak lama kemudian pesawat take-off…

Aku pasrah akan apa yang akan terjadi pada penerbangan ini……………Bismillah……akhirnya pesawat terbang ke angkasa dan dalam waktu 3 telah mendarat di bandara suvarnabhumi – Bangkok.

Bertemu bidadari di Bandara Suvarnabhumi – Bangkok

Waktu itu sampai bangkok jam 10 malam waktu setempat, dimana waktu bangkok sama dengan waktu jakarta. Saya harus ganti pesawat untuk melanjutkan penerbangan ke Paris tanpa harus mengambil tas yang ada di bagasi pesawat. Penerbangan selanjutnya jam 12 malam, saya punya waktu 2 jam untuk menemukan Gate dimana pesawat saya parkir. Bandara yang besar sekali, saya harus berjalan sejauh 500 meter naik turun eskalator. Dalam usahaku mencari Gate, saya bertemu dengan cewek asli Indonesia yang hendak terbang ke Jepang. Saya lupa namanya siapa, yang jelas saya begitu gembira menemukan teman se-negara di negara asing. Ngobrol sepanjang perjalanan akhirnya saya harus berpisah dengan bidadari manis dari djogja itu. Sedih………walaupun baru kenal beberapa menit, rasanya sudah kenal beberapa tahun. Jam 12 malam lebih 5 menit akhirnya aku harus terbang ke Paris dengan pesawat Thai Airways yang lebih besar dengan type Boeing 747-400. Saya akan menempuh perjalanan udara selama 13 jam tanpa henti menuju Paris.

Makanan Halal di Pesawat

Penerbangan luar negeri menggunakan pesawat yang berasal dari negara yang penduduk muslimnya minoritas memaksaku untuk berhati-hati memilih menu makanan. Kerena kebanyakan makanan yang ditawarkan adalah “Pork”, dimana hukumnya haram bagi umat muslim. Saya selalu menanyakan semua makanan yang di tawarkan,

Is it halal food..?? “

” Can you give me halal food..”

Dengan 2 kalimat tersebut, setidaknya pramugari dari thailand mengerti kalau kita adalah muslim. Dengan ramah pramugari memilihkan menu masakan yang tepat bagi kita.

Meloloskan diri dari Bandara Charles de Gaulle – Paris

Setelah perjalanan panjang selama 13 jam akhirnya saya sampai juga di bandara Charle de Gaulle Paris, jam 6 pagi waktu setempat. Ujian baru akan saya lalui disini, bagaimana cara meloloskan diri dari bandara sebesar ini menuju ke lokasi yang saya tuju. Keluar dari pesawat saya langsung mengikuti rombongan Bule yang sepertinya menuju ke tempat pengambilan Bagasi. Setelah sampai di tempat pengambilan bagasi, saya langsung melototin setiap tas yang berputar di atas rak berjalan. Inilah pertama kali saya mengambil tas dari bagasi pesawat. Saya tidak punya waktu banyak karena jam 8 pagi saya harus sudah berada di stasiun kereta api untuk melanjutkan perjalanan ke kota Poitier. Satu jam berlalu untuk mengambil tas, aku segera bergegas menuju pintu keluar. Pengecekan imigrasi untuk warga negara indonesia sungguh menegangkan. Petugas imigrasi membolak balik passport saya sambil menatap muka saya, dan akhirnya….Jedok…Jedok….!!!, stempel imigrasi membekas di passport saya. Sebelum keluar dari bandara, ada pemeriksaan polisi bandara bagi orang asing.

” Where are you come from..???” tanya polisi ke saya sambil menggeledah tas yang saya bawa. Setelah itu mereka menanyakan keperluan saya berpergian, saya langsung menyodorkan surat sakti berbahasa prancis yang saya bawa. Untuk tugas dinas ke luar negeri, paling aman membawa Invitation Letter dari perusahaan yang akan kita tuju. Setengah jam lagi waktu tersisa saya harus sampai di stasiun kereta api Paris. Dari bandara saya naik KRL antar bandara-stasiun kereta, kurang lebih 10 menit akhirnya saya sampai di stasiun. Sampai di stasiun saya benar2 seperti orang aneh, semua petunjuk umum menggunakan bahasa prancis. Prancis memang negara yang nasionalismenya tergolong tinggi, mereka jarang sekali menggunakan bahasa inggris di dalam negaranya sendiri.

Kereta api yang disiplin waktu

Tiket kereta sudah saya bawa dari indonesia, saya tidak tau persis dapetnya dari mana. Akhirnya saya bertanya ke information mengenai keberangkatan kereta saya, dan alhamdulilah saya belum ketinggalan kereta. Saya segera menyalakan handphone saya sembari menunggu kereta datang, waktu itu saya membawa kartu Mentari Indosat. Dan alhamdulilah dapat sinyal kuat dari operator setempat. tak lama kemudian kereta datang, dan saya segera masuk dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan yang tertera pada tiket yang saya bawa. Perjalanan selama dua jam akan saya lalui menuju Poitier. Saya mencoba menelepon Ibu tercinta di rumah dan mengabarkan kalau saya selamat sampai di prancis, saya yakin ibuku akan sangat bahagia mendengar kabar baik ini. . . mengharukan. Saya berpegang teguh bahwa kereta akan datang tepat waktu, sehingga saya hanya melihat jam bukan melihat stasiun pemberhentian. Dan seperti yang saya perkirakan, ternyata kereta benar2 datang tepat waktu. Emang ada kereta api di indonesia yang datang tepat waktu..???

Katrok di Hotel Campanille – Chasseneuil

DSCN1915Perjuangan masih panjang, sesampainya di stasiun Poitier saya harus mencari supir taksi yang menjemput saya entah dimana. Saya mencoba mengikuti rombongan orang keluar stasiun, suasananya seperti di stasiun pasar turi tapi lebih sepi. Setelah naik ke atas menggunakan lift, saya harus menentukan pilihan apakah harus ke kanan atau ke kiri. Gambling saya ambil jalan kebenaran, dan sesampainya di ujung lorong seorang Supir Taksi telah memampang nama saya ” Mr. Sihmanto – Actaris “, Sedaaaap……………..langsung saja saya meminta di antarkan ke Hotel Champanille tempat saya menginap. Sesampainya di hotel, saya langsung menuju ke resepsionis dan menyodorkan print out imel yang menunjukkan kalau saya sudah booking satu kamar di hotel itu. Perjuangan pertama telah selesai………saking senengnya aku langsung tutup pintu hotel dan berfoto2 di luar. Dan setelah puas berfoto2, saya bermaksud kembali masuk kamar karena udaranya yang sangat dingin. Dan ternyata kamarnya terkunci otomatis ketika saya menutup pintu dari luar, padahal kunci saya ada di dalam. Stupid indonesian………..dengan wajah tersipu malu saya harus meminta ke recepsionis untuk dibukakan kamar saya.

Jalan-jalan di pusat kota Poitier

100_1348Waktu itu training yang saya jalani berlangsung selama 5 hari kerja, dari senin – jum’at. Di hari rabu malam kami peserta training di beri kesempatan untuk jalan-jalan dan makan malam bersama para trainer ke pusat kota Poitier. Kota Poitier merupakan kota kecamatan yang memiliki banyak bangunan tua bersejarah. karena udaranya yang dingin dan segar, jalan2 pun terasa sangat nyaman. Setalah jalan-jalan dan foto2, kami di ajak makan malam di sebuah restoran. Menu yang disajikan tidak lepas dari daging babi, dan saya adalah satu-satunya orang muslim yang berada disitu. Tapi trainer dan teman2ku semuanya paham kalau babi adalah terlarang untuk saya. Satu hal yang saya salut adalah cara mereka menghargai saya sebagai muslim yang sedang berpuasa. Waktu makan malampun disesuaikan dengan jadwal buka puasa saya, yaitu sekitar jam 8 malam. Karena tau saya muslim, trainerku pun memilihkan menu spesial untuk saya yaitu ikan. Sebelum makan menu utama, orang prancis biasanya menyantap makanan pembuka,setelah itu baru menu utama, dan di tutup dengan desert atau makanan penutup. Tidak seperti di indonesia dimana menu yang dipesan adalah menu utama semua. Menu pembuka biasanya berupa sayur2an mentah yang diberi bumbu asinan, hiiii…..aku gak doyan makan makanan seperti ini. Menu utamanya pun tidak senikmat di indonesia, masakanya aneh banget di lidahku. Sedangkan menu penutup adalah es krim dan agar-agar. Orang prancis sangat hobi minum bir, mungkin untuk menghangatkan badan dari udara yang begitu dingin. Se enak2nya makanan di prancis, jauh lebih enak makanan di Warteg lah hehe…

Mengatur waktu pergi ke Paris

Tidaklah mudah bagi saya untuk mencuri waktu agar bisa mengunjungi icon terbesar di negara Prancis, yaitu menara Eiffel. Jadwal training begitu padat dari hari senin sampai jum’at, dimana saya sudah dibookingkan hotel di dekat pabrik selama 5 hari penuh. Tiket kereta api dari Poitier ke Bandara pun telah terbeli, aku benar2 harus pandai memutar otak supaya tidak kehilangan icon terbesar di Paris tersebut. Sebelumnya saya sudah meminta untuk di berikan penginapan 1 malam di Paris supaya saya bisa jalan-jalan di kota cantik itu, tapi management tidak menyetujui dengan alasan ini adalah tugas dinas bukan acara jalan-jalan. Setelah saya membaca kembali jadwal training saya, ternyata training selesai hari jum’at siang. Saya segera menghubungi admin Actaris untuk membantu saya membatalkan tiket kereta api yang sudah ditangan dan menukarnya dengan tiket kereta pada jum’at siang. Usahakupun tidak sia2, Mrs Annie yang baik hati merefund tiket kereta saja dan memesankan hotel untuk 1 malam di Paris. Yuuuui…..sepulang dari training hari kamis, paginya saya langsung Check-Out dan membatalkan untuk hari Jum’at. Setelah selesai training hari jum’at, saya bersama teman saya orang swedia berangkat ke Paris via kereta dari stasiun Poitier. Kebetulan teman saya Johnson dari swedia tersebut hotelnya berada beberapa blok dari hotel saya, beruntung banget karena dia membawa GPS yang bisa di gunakan untuk mencari keberadaan Hotel saya. Satu langkah lagi menuju Eiffel….

Welcome to Paris

Paris adalah kota yang cantik, kota yang memiliki ciri khas bangunan yang unik dan menarik. Dengan panduan peta wisata kota Paris yang saya dapatkan dari Mrs Annie, saya memberanikan diri untuk keluar hotel menuju ke Menara Eiffel. Saya menuju ke stasiun kereta Subway (LRT) yang berjarak sekitar 500 meter dari hotel saya. Membeli tiket kereta cukup membuatku bingung karena tidak ada versi bahasa inggrisnya. Tiket dibeli melalui vending machine seperti ATM, prosedurnya cukup mudah jika kita tahu bahasanya. Berhubung tidak tau, maka saya mengamati dengan seksama orang2 yang menggunakan mesin tersebut. Dengan memasukkan uang koin 2 euro, kita akan mendapatkan 1 tiket kertas karton dan kembalian 50 sen. Dengan pedenya saya masuk ke dalam kereta, sambil membolak-balik peta yang saya bawa, dan ternyata saya kelewatan……begitu kereta berhenti saya langsung turun dan mencari kereta dengan arah sebaliknya tanpa harus membeli lagi tiket kereta jika kita tidak keluar dari stasiun. Tak lama kemudian saya tiba di stasiun dekat menara eiffel, saya lupa nama stasiunnya.

Eiffel I am Coming…..

DSCN1944DSCN1985Untuk menuju menara eiffel, dari stasiun kereta kita hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Atau sekitar 800 meter jaraknya. Wouu….wouuu………hatiku berbunga-bunga melihat pucuk menara eiffel dari kejauhan. Akhirnya…..sampai juga aku tepat di depan menara eiffel yang fenomenal itu. Tak sabar untuk berfoto, saya meminta tolong seseorang untuk memotret saya dengan kamera saya. Cepreet……………manteeeeebbbb coy, rasane marem tenaaan.

Waktu itu hari masih remang2 menjelang maghrib, pengunjung memadati pelataran menara dan mengantri untuk naik. Antrian mengular panjang banget yang membuat saya mengurungkan niat untuk naik ke atas. Ada dua buah pintu masuk untuk naik ke atas menara, yang satu menggunakan Lift sampai tingkat 3 dan yang satunya lagi menaiki tangga manual. Untuk harga tiket masuknya sekitar 20 Euro untuk sampai di tingkat 3. Di depan menara eiffel terdapat taman yang biasa di gunakan untuk menikmati keindahan menara eiffel di waktu malam hari, dimana lampu hijau akan menyala mengikuti bentuk ruas menara. Sungguh indah pemandangan di malam hari, saya menyempatkan berfoto tapi sayang tidak bisa mengambil foto terbaik karena gelap. Jika menggunakan Blitz akan mengurangi keindahan menara karen titik2 kabut akan menimbulkan dot-dot cahaya yang dipantulkan oleh kilatan blitz kamera kita. Saya puas karena bisa berbuka puasa sambil menikmati indahnya menara eiffel di malam hari. Di sekitar menara juga terdapat pertunjukan opera, saya sempat menonton sebentar karena tidak bisa menikmatinya. Setelah puas jalan2 di sepanjang pelataran menara, saya memutuskan untuk pulang ke hotel. Sepanjang perjalanan pulang saya menyempatkan untuk mebeli souvenir sebagai kenang2an. Penjualnya yang ramah sempat bertanya kepada saya,

” Where are you come from..?”

” Indonesia….”, jawabku…..dan si penjual membalasnya lagi

” Indonesia….selamat pagiii……”, wou…….mungkin penjual souvenir ini sering di kunjungi oleh turis dari indonesia

Suatu kesialan bagi saya karena lupa arah jalan menuju ke hotel tempat saya bermalam, hal itu di karenakan pintu keluar stasiun berbeda dengan pintu masik stasiun. Muter2 sendirian malam2 selama satu jam, akhirnya saya menmukan hotel saya. Haaah….legaaaanyaa……..tapi perut keroncongan karena belum makan makanan berat. Baru masuk hotel saya sudah terkena semprot oleh resepsionis hotel karena saya pergi keluar hotel dengan membawa kunci hotel, seharusnya kunci gak boleh dibawa. . .huh mana saya tau. Saya mencoba mengetok2 kamar depan saya, dimana teman saya dari china menginap disitu juga tetapi datangnya lebih dulu saya karena dia masih ada keperluan di office seusai training. Shin Chao namanya, seneng banget ada teman ngobrol lagi…..karena kelaparan, saya ngajakin dia cari makan di sekitar hotel. Muter kemana2 tidak ada yang menjual makanan halal, adanya cuman restoran china……hampir saja saya putus asa. Tak sengaja aku melihat restaurant Kebab Turki yang berlabel Halal…..Wuihhh…..santapan nikmat nih. Tak pikir panjang saya langsung memesan kebab turki dengan potongan daging sapi, manteb coy….porsi bule besar bangets. Dan temanku hanya melihatku menikmati makan besar itu…hehehe….

Perjalanan pulang ke Tanah Air

Menginap semalam, keesokan harinya aku harus bangun pagi karena sudah pesan taksi bandara pukul 9 pagi. Pesawat saya Thai Airways penerbangan jam 2 siang. Seperti biasanya saya mencoba datang lebih awal di bandara agar bisa santai dan memilih tempat duduk di deket jendela. Begitu selesai Check-in, antrian menuju loket imigrasi mengular panjangnya hingga 100 meter. Di sebelah saya berdiri warga negara malaysia yang hendak pulang juga, saya sempat ngobrol dalam bahasa inggris walaupun kemudian kami sambung dengan bahasa melayu yang mirip dengan bahasa indonesia. Penerbangan 13 jam saya lalui kembali, transit ke thailand selama 2 jam. Saya benar2 merasakan kerinduan yang dalam pada Tanah Air Tercinta Indonesia……….Rindu akan keluarga, teman, makanan, dan juga udaranya yang hangat di kulitku.

Tiba di bandara Soekarno Hatta sekitar pukul 6 sore, rasanya saya sudah berada di eropa beberapa bulan lamanya. Benar2 petualangan yang mengagumkan bagiku dan tak akan pernah hilang dari ingatanku. . . dan sekarang, aku benar2 rindu kota Paris nan Indah itu.

->Thailand : Berburu Kretek Tanah Air

Story of Thailand – Malaysia – Singapore

Rokok bagaikan makanan pokok

Bagi para perokok, tidaklah berlebihan jika rokok merupakan kebutuhan pokok bagaikan nasi putih. Sebelum keberangkatan ke SMT, saya berfikir apakah di luar sana terdapat rokok yang sama enaknya dengan rokok buatan negeri kita tercinta. Saya pikir tidak, kecuali rokok kita telah menembus pasar internasional atau dengan kata lain telah di ekspor ke Negara yang akan kita kunjungi. Untuk itu saya tidak mau gambling untuk masalah ini, saya membawa 2 bungkus rokok kretek Djarum Super. Kenapa hanya 2 bungkus, karena saya tidak mau ambil resiko teratangkap di bandara gara2 kebanyakan membawa rokok. Dalam pikiran saya, di Thailand dan negara2 yang lebih maju dari Indonesia, merokok di sembarang tempat akan dapat terkena sanksi hukum yang besar dan penerapanya sudah benar2 ketat tidak seperti di Jakarta yang baru2 ini ada undang2 yang mengatur sanksi bagi orang yang merokok di tempat umum. Dua bungkus untuk 4 hari, itu perkiraan saya semula. Jika memang kurang nanti beli saja di sana, mudah2an ada rokok kretek yang sama nikmatnya dengan rokok made in Indonesia.

Pesawat berangkat dari Soekarno Hatta ke LCCT Kuala Lumpur, sampai di LCCT masih punya banyak waktu untuk penerbangan berikutnya ke Bangkok. Keluar bandara dan melihat sekeliling, hmm…ternyata banyak juga orang yang meluangkan waktu untuk merokok di area terbuka di luar bandara. Hmmm…mantabbb coy, akhirnya punya tempat juga buat menyalurkan bakat sebagai ahli hisap. Habis makan siang di Garden Food, hasrat untuk menyalurkan hobby pun semakin tak tertahan. Hari itu jam 12 waktu setempat, penerbangan selanjutnya jam 15.00 waktu setempat. Masih punya waktu 2 jam untuk duduk2 santai dan ngobrol dengan teman2. Saya dan rekan saya yang juga perokok berat yaitu Edo segera ambil posisi di lokasi pemberangkatan bus bandara, disitu adalah lokasi terbaik bagi para perokok. Jadi kalau ke LCCT, saya sarankan hukumnya wajib untuk makan di Garden Food dan menyempurnakan menu (baca : merokok) di tempat pemberhentian bus bandara depan Garden Food.

Penerbangan selanjutnya ke bandara suvarnabhumi Bangkok, sayang sekali kami langsung ke hostel jadi tidak sempat menemukan tempat bagus untuk merokok. Sampai hostel saya kagum dengan suasananya yang benar2 seperti kampung, padahal lokasinya di pusat kota Bangkok. Tapi aneh juga, dimana2 terdapat tanda larangan merokok. Huh…sialan, ternyata hanya diperbolehkan merokok di serambi depan hostel. Masih untung lah, daripada tidak ada tempat sama sekali. Di sepanjang kota Bangkok dan Thailand tanda larangan merokok lumayan banyak juga. Tapi seperti layaknya di Indonesia, masih banyak orang yang tidak menghiraukan aturan tersebut.

Djarum Super menurut Bule Inggris

Djarum SuperKejadian yanga menarik ketika saya dan edo sedang menghisap Djarum Super asli Indonesia di depan Hostel Suk 11 sehabis sarapan. Datang Bule Inggris dan duduk se meja dengan kami, dia mengeluarkan rokok putih berlabel Land Mark atau sering di singkat LM. Baru saja dia pinjem korek ke kami dan menyalakan rokok idolanya, hesss.s……suara hisapan dari mulutnya terdengar lirih. Saya iseng saja menawari dia cigarette yang sedang saya hisap,

“Do you want to try this…??” (sambil menyodorkan sebatang djarum super dari bungkus ), “ OK…“ jawab si bule sambil mematikan rokoknya di asbak di depan kami.

“Hesss……uhuk uhuk….Hmm….Very strong….very strong.” ekspresi si Bule setelah mengisap sebatang rokok saya.

“Hehe….Yah, it is very strong for you, this cigarette made in indonesia sir “ jawabku…..

“ ehmm….disgusting” sambil mematikan rokok yang baru sekali hisap, dan menyalakan kembali rokok idolanya yang tadi sudah di matikan. Bule kok kere & kemproh….:p

Dasar bule kacangan……badan besar, tapi rokoknya putihan yang tidak ada rasanya sama sekali. Setelah itu saya di tawari mencoba rokoknya, saya jawab saja saya tidak suka rokoknya karena terlalu ringan untuk orang indonesia :p. Sedikit nyombong masalah rokok ke bule kan gpp….

Tak sengaja menemukan rokok tanah air

Setelah 3 hari di Bangkok, cadangan rokok tanah air pun menipis. Akhirnya saya mencoba hunting rokok yang sejenis waktu jalan2 di Khao San Road. Saya coba cari di minimarket, kebanyakan rokok yang dijual adalah Marlboro, Land Mark dan rokok lokal yang semuanya adalah rook putih. Ada kejadian lucu ketika teman saya menanyakan ke pelayan, apakah ada rokok kretek yang di jual di minimarket tersebut. Karena pelayan yang tidak bisa bahasa inggris, akhirnya bahasa inggrisnya edo yang bagus itu tak ada gunanya. Maksud hati menunjukkan rokok kretek yang memakai filter, eh malah di kasih “Filter” nya saja…..Ups….emang mau ngeracik tembakau sendiri. Putus asa cari rokok di minimarket, kami memutuskan untuk puasa rokok dalam beberapa hari. Tak disengaja sewaktu berjalan pulang meninggalkan Khao San Road teman saya melihat rokok Gudang Garam, dan berucap “iku ono gudang garam”. Telingaku yang sudah sensitip dengan rokok tanah air, sepontan mengklarifikasi ucapan teman saya tadi. Hmm…tepat di samping belakang saya ada penjual rokok jalanan, di situ terdapat rokok Gudang Garam made in Indonesia dan Malaysia. Saya langsung menanyakan harganya, 9 Baht kata si penjual. Busyet..kalau di konversi ke rupiah sudah Rp 21.000, padahal harga di Indonesia cuman Rp 8.000,-. Tawar menawar tetap saja tidak turun, daripada stress karena tidak bisa merokok akhirnya saya memutuskan beli. Satu bungkus saja dulu, edo mengeluarkan kocek dan membayarnya dan dapat bonus sebatang Gudang Garam made in Malaysia. Legaa….Akhirnya bisa menyalurkan bakat lagi hehe.

Berburu rokok kretek di Bangkok

Gudang garam sebungkus untuk dua orang dalam sehari, ngirit mas….maklum harganya mahal. Di stasiun Hua Lamphong Bangkok, kami sudah kehabisan stok rokok tanah air setelah kepulangan dari Chiang Mai. Kami mencoba hunting di sekitar stasiun, dan sempat mencoba membeli rokok eceran Land Mark rasa menthol. Rasanya benar2 tidak nikmat, huh…..asap cuman dihisap sampai mulut dan hidung. Saking kepepetnya, kami memutuskan untuk gambling membeli rokok lokal. Dari bungkusnya, saya nebak itu adalah rokok kretek tanpa filter. Labelnya adalah Krong Tit, rokok bergambar gigi keropos yang merupakan peringatan keras bagi para perokok. Rokok lokal Bangkok sangat menjijikkan kalau di lihat dari covernya, ada yang bergambar gigi keropos ke cokelat2an dan ada pula yang bergambar paru2 gosong dan berlubang. Hii…..sebegitu kerasnya peringatan terhadap para perokok, kalau di Indonesia kan hanya di tulis kota kecil yang terpampang di belakang bungkus rokok. Dari segi estetika, Indonesia nomer 1 untuk masalah rokok. Kembali ke Krong Tit, setelah kami buka ternyata rokok putih juga, wueek……kami tertipu. Mencoba bertahan dengan rokok tak bercengkeh, begitu di hisap sampai tenggorokan hasilnya adalah ..uhuk…uhuk..uhuk……kami berdua semuanya batuk. Rokok sialan….harganya murah kualitas murahan. Hrganya cuman Rp.6000,-, setara dengan rokok palsu di Indonesia lah.

Surga kedua setelah Indonesia

Gudang GaramDari Bangkok menuju ke Malaysia kami berdua benar2 puasa merokok. Daripada terbatuk batuk menghisap rokok murahan bergambar gigi keropos tersebut mendingan kami berpuasa sejenak. Tiba di terminal Komtar Penang, kami langsung berburu rokok kretek seperti biasa. Feeling so good, malaysia adalah tetangga terdekat indonesia. Dengan asumsi tersebut, pasti rokok indonesia banyak yang di ekspor ke malaysia. Mendekati pedagang kelontong saya bertanya,

“ Ada Gudang Garam…??? “, tanyaku

“ Ade…”, jawab si pedagang

“ Berapa harganya..?”, tanyaku kembali

“ 4 ringgit..”, jawab si pedagang

Yess……tak seberapa mahal juga, kurang lebih satu setengah kalinya harga di indonesia. Beli 2 bungkus sekaligus mumpung murah. Di malaysia terdapat dua jenis rokok dengan merk yang sama, rokok Gudang Garam buatan indonesia dan malaysia. Rasanya tidak jauh berbeda, cuman tulisan di bungkusnya berbahasa melayu. Terdapat juga rokok Djarum Super dengan harga 5 ringgit untuk twin pack 16 batang.

Rokok termahal sepanjang sejarah S-M-T

A MildSingapura adalah negeri yang paling mahal dalam segala hal, termasuk salah satunya adalah rokok. Rokok bawaan dari Malaysia sudah habis setelah sarapan pagi di Hostel ABC, tak pelak kami mencoba hunting kretek seperti biasanya. Di minimarket saya mencoba cari rokok Gudang Garam atau Djarum Super yang kami banggakan akan rasanya. Walaupun singapura juga tetangga dekat Indonesia dan Malaysia, tapi untuk soal rokok hanya ada satu merk yang sama dengan merk di Indonesia. A Mild, hanya rokok tersebut yang bisa saya jumpai di minimarket seantero singapura. Mild adalah rokok second line bagi kami, karena rasanya yang kurang mantab untuk sorang traveler seperti kami. Tak ada gudang garam a mild pun jadi, itu saja yang kami pikirkan. Alangkah terkejutnya ketika saya menanyakan harganya, 10 Dollar Singapura atau setara dengan 70 ribu rupiah….gilaaaaaaaaa……….kan. Inilah rokok termahal yang pernah saya lihat. Memang di singapura larangan merokok juga sama kerasnya dengan di Thailand. Saya menjumpai rokok yang tanda larangan tertulis besar di cover depan bungkus rokok sebagai berikut

“ SMOKING MAKE YOU DIE YOUNGER”

Wouu…sadis juga tuh peringatanya, saya kurang tau merek rokoknya apa, yang jelas itu adalah peringatan yang paling sadis yang pernah aku lihat.

Tips bagi para perokok yang akan berpergian ke luar negeri

Bawalah rokok dari Indonesia sebanyak mungkin, tapi jangan sampai over limit. Bisa di tangkap dan di suruh membayar cukai yang mahalnya minta ampun per batangnya.

  1. Bawalah rokok dari Indonesia sebanyak mungkin, tapi jangan sampai over limit. Bisa di tangkap dan di suruh membayar cukai yang mahalnya minta ampun per batangnya.
  2. Berhati-hatilah memilih rokok lokal yang tidak anda kenal sebelumnya, karena rasanya bisa membuat anda kehilangan nafsu merokok.
  3. Jika menemukan rokok tanah air, segera beli se banyak2nya walaupun harganya agak lebih mahal dari harga di Indonesia.
  4. Jangan korbankan uang anda hanya untuk membeli rokok yang harganya 10 kali lebih mahal dari harga di Indonesia. Belajarlah berpuasa merokok dalam beberapa hari, daripada anda harus berpuasa makan nasi gara-gara membeli rokok super mahal.
  5. Berbanggalah karena Indonesia adalah surganya para perokok, sekiranya rokok bisa menumbuhkan kembali Rasa Cinta Tanah Air Indonesia saat anda sedang berada di luar negeri.

Thailand : Berburu Makanan Halal

Story of Thailand – Malaysia – Singapore

Makanan Halal

Sebagai muslim, makanan halal hukumnya adalah wajib dimanapun dan kapanpun kita berada. Jika di Indonesia kita dapat dengan mudahnya menemukan makanan halal, tapi tidak di Negara yang mayoritas penduduknya adalah Non-Muslim. Di Negara yang penduduk muslimnya minoritas, makanan muslim hanya bisa di jumpai di tempat2 tertentu yang dekat dengan majid atau kampong muslim. Dalam lawatan kami ber-6 ke Thailand-Malaysia-Singapura kali ini diikuti oleh 5 orang muslim dan 1 orang non-muslim. Karena sebagian besar adalah muslim, maka teman saya yang non muslim (baca: ervan) secara tidak langsung mengharamkan juga makanan yang haram buat kaum muslim walaupun sebenarnya halal buatnya, maklum kita selalu berusaha makan bersama di warung yang berlabelkan halal.

Eksotisme masakan Thailand

Sewaktu di Bangkok, saya sempat tergoda dengan aneka macam masakan Thailand yang di tawarkan di sepanjang jalan. Mulai dari sate daging babi, sate ayam, ayam bakar, pisang telur, dan masih banyak lagi jajanan sepanjang jalanan kota Bangkok. Dari aromanya sudah mengundang selera, jika saya bukan muslim mungkin saya sudah wisata kuliner jalanan sampai puas. Tidak hanya di jalanan, sewaktu saya dan teman2 berkunjung ke Suan Lum Night Bazaar pun beranekan masakan khas Thailand dapat dijumpai disana. Sun Lum Night Bazaar adalah acara bazaar malam yang menampilkan live music dari band2 lokal Thailand dan disertai layar lebar saat pertunjukan sepakbola eropa di tayangkan. Salah satu bau masakan yang paling sering tercium adalah aroma soup, baunya seperti bau “Pork “ padahal aku juga belum pernah makan masakan daging babi hehe….sok tau saja, dan setelah di telusuri ternyata bau tersebut berasal dari sebuah biji2an yang di campurkan sebagi bumbu masakan soup tersebut. Telaat sudah..karena rahasia tersebut baru kami temukan ketika kami makan di Indonesian Food di singapura.

Di Suan Lum Bazaar kebanyakan semua warung menawarkan daging babi, babi sepertinya merupakan makanan favorit di sana layaknya daging sapi di Indonesia. Untuk lebih aman, saya dan purwo memutuskan makan Frenc Fries + Tahu Goreng saja. Walaupun mungkin minyak yang di pakai untuk goreng adalah minyak babi, tapi setidaknya saya sudah meminimalisasi ketidak halalan nya. Sementara keempat teman saya yang lainya yaitu son, chimot, ervan dan edo memutuskan untuk membeli nasi + omelet. Saya sempat mencicipi omeletnya, dan seperti yang saya duga rasanya minyak yang di pakai adalah minyak babi, tercium dari aroma masakannya. Walaupun hal itu di sangkal oleh chimot, maklum lidahnya kurang sensitive terhadap rasa.

Kampoeng Djawa

KwetiawNasGorKurang lengkap jika kita sebagai orang jawa berpergian ke Bangkok tetapi tidak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Djawa. Dari hostel kami di suk 11, perjalanan ke masjid djawa dapat di tempuh menggunakan MRT & BTS. Walaupun namanya masjid djawa, tapi tak seorangpun yang sholat di situ bisa berbahasa djawa s eperti kita. Setelah sholat kami bertanya ke takmirOmelet Soup Tomyangmasjid tersebut tentang masakan halal di sekitar masjid. Dengan baik hati kami di antarkan oleh seseorang anggota dari pengurus masjid tersebut ke warung muslim. Warungnya cukup sederhana sekali, tak jauh beda dengan WARTEG yang sering kita jumpai di Jakarta. Di warung tersebut terdapat logo halal yang mungkin telah di sertifikasi oleh majelis masjid setempat. Menu yang di tawarkanpun sederhana pula, yaitu Nasi goreng, Nasi Omelet, Kwetiaw dan Soup Tomyang. Saya dan Edo pesan nasi goreng, chimot dan son seperti bisanya yaitu nasi omelet, sedangkan ervan memesan kwetiaw. Walaupun lidahnya tidak memiliki indera perasa, tapi purwo mencoba memesan Soup Tomyang. Soup tomyang adalah masakan khas Thailand yang sangat kental dengan aroma bumbu dari rempah2 asli Thailand. Rasanya mantab coy….harganya sekitar 12 ribu rupiah untuk satu menu, murah kan..??. Makanya jangan lewatkan wisata kuliner yang satu ini kalau kamu adalah orang jawa dan muslim.

Masakan Semi Halal

Saat berkunjung ke Grand Palace, sulit sekali menemukan makanan yang benar2 berlabel halal. Berhubung perut lapernya minta ampun dan seharian belum makan nasi, kami memutuskan untuk makan masakan yang tidak berbau babi dan daging. Pilihan yang tepat adalah Telor dan Ikan. Sebenarnya orang thailand termasuk orang yang jujur dalam hal menawarkan makanan, jika kita seorang muslim mereka akan menunjukkan ke kita makanan yang tidak mengandung unsur babi. Di sepanjang jalan menuju Pier di samping Grand Palace adalah tempat wisata kuliner kami berikutnya, disana terdapat berbagai menu masakan. Kami di tunjukkan makanan yang tidak mengandung babi, dan sayapun memilih kakap goreng dan oseng-oseng ceme. Tadinya saya tertarik dengan omelet, tapi ternyata “Inside Pork“, akhirnya teman saya non-muslimlah (baca: ervan) yang menyantap makanan menggoda tersebut. Masakannya enak tapi lumayan mahal, sekitar 25 ribu rupiah untuk satu orang. Hmm..walaupun ada sedikit sekali keraguan (Semi Halal) akan masakan tersebut, tapi dengan niat yang baik semuanya di anggap tidak ada masalah.

Muslim Food di Chiang Mai

Warung SophiaSertifikat HalalChiang Mai adalah kota kecil di thailand bagian utara, sering pula di sebut2 sebagai Djogja-nya thailand. Di Chiang Mai terdapat sebuah masjid besar dimana di sekitar masjid tersebut banyak sekali di jumpai masakan muslim yang tersertifikasi oleh Majelis Muslim Thailand. Jika anda berjalan di sepanjang Chiang Mai Night Bazaar, sempatkanlah mampir ke masjid yang berada di gang sebelum ujung jalan yang digunakan sebagai bazaar setiap malam tersebut. Masjidnya cukup besar yang tergabung dengan madrasah islam di depannya. Di sepanjang jalan masuk ke masjid kita bisa dengan mudah menemukan warung yang berlabel halal, yang kami kunjungi adalah warung Sophia. Asyiknya lagi, warung tersebut menawarkan menu yang bertuliskan bahasa melayu/bahasa Indonesia. Menu yang ditawarkan seperti, Nasi Goreng, Mie Goreng dan masih banyak lagi. Harganya pun juga tidak terlalu mahal, sekitar 20 ribu rupiah. Mahal juga yaah……:D. Tidak juga sebenarnya, karena sekali kita menemukan makanan halal, kita sering sekali berlebihan dalam hal makan.

Muslim Food di Hua Lamphong Station

Mudsalim FoodKetika kami sedang berada di stasiun kereta api Hua Lamphong, kami sempat bingung menentukan tempat makan yang akan kami kunjungi untuk makan siang. Sambil menghisap rokok di depan stasiun. Aku dan edo mengamati gerak gerik orang di sekitar kami. Tak lama kemudian, ada beberapa wanita berjilbab yang berjalan menyeberang jalan di depan stasiun hua lamphong. Feelingku bermain disini, aku menduga rombongan wanita berjilbab tersebut pasti sedang mencari makan siang. Aku dan Edo segera beraksi membuntuti dari belakang pergerakan serombongan orang tersebut, dan seperti yang aku duga sebelumnya ternyata benar mereka menuju warung muslim yang berada di dalam gang depan stasiun. Di daerah tersebut banyak sekali di temukan muslim food, dimana penjualnya juga sedikit bisa bahasa melayu. Segera saya dan edo mengajak teman2 untuk segera mengisi perut yang sudah lama keroncongan. Hmm….lagi2 saya pesan nasi goreng, menu yang paling simple dan paling popular bagi setiap orang melayu. Harganya cukup murah, sekitar 15 ribu rupiah untuk satu menu spesial.

Muslim Food di Hat Yai

Ini adalah tempat makanan halal terakhir di Thailand yang kami kunjungi, tepatnya di kota Hat Yai. Kota ini merupakan perbatasan antara Thailand dan Malaysia, semakin mendekati Malaysia makanan halal semakin mudah di dapat. Begitu turun dari kereta api, kami langsung keluar dari stasiun dan berburu sarapan. Dari depan stasiun sudah terlihat dengan jelas, kedai muslim berjejeran di ruko depan stasiun. Pelayan dari warung halal di Hat Yai ini cukup manis lho…..aku sempat mencoba ngobrol dengan dia, aku tanya “bisa bahasa melayu..? “, “Sikik-sikik…“ jawabnya sambil senyum tersipu malu…aduuuuh manisnya mbak yang satu ini :D . Saya lupa di sini pesan menu apa, mungkin nasi sayur lauk omelet atau ikan. Harganya standar seperti biasanya, yaitu sekitar 15 ribu rupiah. Jangan lewatkan warung yang satu ini ya, di jamin tidak akan bisa melupakan wajah manis pelayannya. . .ehm

Surganya makanan Halal

Malaysia adalah negara dengan mayoritas penduduknya beragama islam sebagaimana indonesia. Untuk mendapatkan makanan muslim sudah tidak berburu ke kampung muslim atau tempat2 yang tersembunyi lagi, tinggal pilih warung, duduk, pesan makanan, dan menyantapnya. Di Malaysia malah ada warung makan padang, ternyata masakan padang sudah Go International yah ……Kapan giliran Warteg di temukan di Malaysia..???

Halal tapi Mahal

Di seberangnya malaysia, singapura merupakan Negara yang penduduknya multi etnis. Kebanyakan penduduknya adalah Chinese, walaupun banyak juga India, Melayu dan Jawa. Di dekat hostel ABC yang kami tempati terdapat restaurant Indonesia dengan nama “ Indonesian Food Restaurant” dimana penjualnya asli jawa timur, tepatnya Surabaya…jauh2 ke singapura makan di warungnya orang Indonesia poenya :D . Tak jauh dari hostel ABC berdiri Masjid Sultan yang terkenal karena di depannya terdapat bazaar dan banyak restauran muslim. Setelah sholat, kita bisa belanja souvenir singapura dan juga menikmati makan malam di restauran di depan jalan Sultan. Satu hal yang tidak aku sukai tentang singapura, segala sesuatunya mahal. Dan salah satunya adalah soal harga makanan. Harga makanan di sini standar minimal adalah 30 ribu rupiah, hmm…..bisa bangkrut cuman buat ngisi perut.

Sebenarnya mencari makanan halal di Thailand tidaklah sulit asalkan kita mau sedikit sabar. Walaupun di thailand penduduk muslimnya minoritas, tapi setidaknya warga non-muslim thailand sangat jujur dan bisa membantu kita dalam memilih makanan halal. Berikut tips untuk mendapatkan makanan halal di Negara yang penduduk muslimnya minoritas,

  1. Pilihlah makanan yang tidak mengandung unsur babi. Jika kepepet, pilih aja telor atau ikan yang di goreng biasa. Bertanyalah kepada penjualnya, dan bilang kalau anda adalah seorang muslim. mereka sangat menghargai kejujuran anda :)
  2. Carilah masjid, di sekitar masjid pasti dapat anda jumpai warung muslim
  3. Ikutilah wanita berjilbab, siapa tahu dia menuju ke warung muslim. Kalau ternyata tidak, berarti anda lagi sial :D
  4. Cari warung yang penjualnya berjilbab, biasanya di depan warung terdapat logo bulan bintang atau tulisan Halal
  5. Berbanggalah karena Indonesia adalah surganya makanan enak, halal dan murah, sekiranya makanan bisa menumbuhkan kembali Rasa Cinta Tanah Air Indonesia saat anda sedang berada di luar negeri.