Merapi 07-08 Juni 2008

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung teraktif di dunia dan juga di Indonesia. Gunung ini tidak henti2nya mengepulkan asap belerang dari dapur kawahnya. Gunung ini memiliki tipe letusan berupa lelehan asap berat yang sering di kenal dengan nama Wedhus Gembel karena warnanya yang putih tebal dan bergelombang. Saat terjadi letusan, suhu wedhus gembel bisa mencapai 3000 derajat celcius. Gunung Merapi memiliki ketinggian 2.959 mdpl dengan puncak tertinggi diberi nama Puncak Garuda. Pendakian dapat dilalui melalui 3 jalur yaitu Jalur Selo (Boyolali), Jalur Babakan (Magelang) dan Jalur Kaliurang (Djogja). Letusan terakhir Gunung Merapi terjadi pada tahun 2006 yang menewaskan beberapa orang tim SAR yang sedang mengamati aktivitas dari gunung ini dari dekat. Juru Kunci gunung Merapi yang terkenal adalah Mbah Marijan, dimana beliau dipercaya memiliki hubungan dekat dengan penunggu Gunung Merapi dan juga Nyi roro Kidul. Walaupun para peneliti ilmiah sudah memastikan gunung Merapi dalam keadaan Waspada, namun Mbah Marijan tetap kekeh pada pendiriannya bahwa gunung tidak akan meletus. Dan hasilnya pun benar, gunung Merapi perlahan lahan berhenti mengeluarkan wedhus gembelnya. Pendakian kali ini ber-4 dengan kompisisi peserta yaitu Saya, Chimot, Edo, dan Purwo. Kami memutuskan untuk naik melalui Jalur Selo Boyolali. Menurut informasi, Jalur Kaliurang sampai saat ini belum bisa di lewati karena tertutup lahar pasca letusan terakhir gunung ini. Pendakian ini sangat spesial buat saya pribadi, karena ini sekaligus merupakan perayaan ulang tahun saya yang ke-25 yang jatuh pada tanggal 06 Juni.
Perjalanan menuju Selo
Perjalanan kami mulai dari bekasi, markas besar kami bertiga Saya, Edo dan Purwo. Sementara Chimot berangkat dari Surabaya sendirian. Kami janjian ketemu di Terminal Bus Surakarta atau sering di kenal dengan nama Solo. Dari bekasi lagi2 kami memilih naik kereta api favorit kami yaitu Senja Utama Solo. Perjalanan malam kembali kami tempuh dari bekasi menuju Stasiun Solo Balapan. Sabtu jam 07.00 pagi kami bertiga sampai di Stasiun Kerete Api Solo Balapan. Sementara Chimot sudah tiba lebih dulu di terminal Bus Surakarta. Dari Stasiun Solo Balapan kami naik becak menuju terminal Bus. Di Masjid dalam terminal akhirnya kami ber-4 bertemu dan merencanakan perjalanan selanjutnya. Tak lama kemudian kami memutuskan untuk segera berangkat ke Boyolai naik Bus jurusan Semarang.
Sampai di terminal Boyolali pukul 09.00 pagi, kami segera menuju tempat favorit kami untuk makan. Soto khas Boyolali menjadi pilihan utama kami, soto yang kami nikmati kala kami turun dari pendakian Merbabu. Setelah sarapan pagi, kami melanjutkan perjalana ke desa Selo naik Bus mini jurusan Selo. Perjalanan kurang lebih 1 jam akhirnya kami sampai di Gerbang Pendakian Merapi. Sebelum turun kita akan di tanyai kenet untuk turun di gerbang Merbabu atau Merapi. Jarak antara Gerbang Merbabu dan Merapi tidaklah jauh. Gerbang merbabu akan lebih dulu kita lewati sebelum sampai ke gerbang Merapi. Setelah turun dari bus, kami berjalan sekitar 500 meter menuju Pos Pendakian. Sampai di ujung Aspal kami temui warung nasi dan tempat peristirahatan yang sejuk. Dari sini kita bisa bersantai sambil menikmati Gagahnya gunung Merbabu di hadapan kita. Kami pun mencoba merasakan nikmatnya masakan pegunungan sebelum memulai pendakian.
Hadiah Sunset di balik Gunung Merbabu
Perjalanan kami mulai sekitar jm 1 siang setelah kami menunaikan Sholat dzuhur. Perjalanan menuju puncak sebenarnya dapat di temppuh dalam waktu kurang lebih 6 jam, tapi kami sengaja berjalan santai untuk menghemat stamina. Ladang penduduk adalah pemandangan pertama yang kami nikmati sepanjang perjalanan selama 1 jam. Setelah itu kami mulai memasuki hutan Pinus dan tumbuhan pendek. Perjalanan berupa trek terbuka, sinar matahari terus mengiringi kami dari sela2 pepohonan. Sesekali kami berhenti menikmati pemandangan Gunung merbabu yang di selimuti awan senja yang indah sekali. Perjalanan menanjak terjal kami lalui sampai di Pos 2. Sebelum mencapai Pos 3, kami berhenti sejenah di tengah perjalanan untuk menyaksikan Sunset yang mengagumkan dibalik gagahnya Gunung Merbabu. Setelah asyik foto2, kami segera melanjutkan perjalanan menuju Pos 3 untuk bermalam disana. Sekitar jam 7 malam kami telah sampai di Pos 3, kami segera mendirikan tenda disini. Untuk menggapai Puncak dari Pos 3 memerlukan waktu sekitar 3 jam perjalanan malam. Setelah mendirikan tenda, kami menyiapkan makan malam dan lilin ulang tahun saya yang ke-25. Pemandangan di depan kami adalah hamparan permata daratan kota Boyolali. Sedangkan di atas kami terhampar gugusan galaxi Bima Sakti yang luas, sungguh suasana malam yang menabjubkan. Karena tidak ingin menyia nyiakan pemandangan indah ini, sayapun tidur di luar hanya beralas matras dan sleeping bag. Tidur beratapkan bintang diangkasa sungguh membuatku kagum akan kebesaran Tuhan. Alarm jam 2 pagi berbunyi, kami segera bangun dan berkemas untuk memulai pendakian ke puncak.
Pasar Bubrah & Puncak Garuda
Kami mulai melakukan perjalanan jam setengah 3 pagi. Pos selanjutnya yang kami tuju adalah pasar Bubrah, yaitu pos terakhir sebelum puncak. Pos Pasar Bubrah merupakan pertemuan jalur dari 3 arah, yaitu dari Selo, Babakan dan Kaliurang. Pos ini di tandai dengan banyaknya batu besar berserakan di sana sini yang menyerupai pasar yang amburadul (baca: bubrah). Di Pos ini banyak sekali pendaki yang mendirikan tenda dan berkemah sebelum mendaki ke Puncak. Area yang sangat luas dan terlindung dari Bebatuan besar adalah tempat yang bagus untuk mendirikan tenda. Kami sampai di sini pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk melanjutkan perjalanan ke puncak karena masih terlalu gelap. Kami beristirahat sambil bercanda tawa di balik bebatuan besar untuk membunuh waktu. Pukul setengah 5 pagi kami mulai melanjutkan perjalanan. Kami adalah rombongan pertama yang mendaki ke puncak, mungkin kami terlalu bersemangat untuk melihat Sunrise. Perjalanan dari Pasar Bubrah menuju puncak berupa bebatuan dan kerikil tajam. Selain itu trek yang di lalui tidaklah kelihatan di malam hari karena bebatuan yang mudah bergeser. Pendaki harus berhati-hati dalam melakukan pendakian jika angin berhembus kencang. Pendakian menanjak terjal sangat beresiko untuk dilakukan di malam hari jika cuaca sedang tidak bersahabat. Selain itu pendaki lebih baik mengenakan Masker untuk melindungi dari bau asap belerang yang menyengat dan keluar dari sela2 bebatuan sepanjang perjalanan. Kami waktu itu tidak mengenakan masker, akhirnya kami sering batuk2 karena tidak tahan dengan asap belerang kami hirup. Perjalanan selama 1,5 jam kami lalu dengan penuh perjuangan berat, akhirnya kami sampai di Puncak Merapi. Tak lama kemudian Sunrise muncul dari ufuk timur dan hari perlahan2 mulai terang. Rasa puas dengan sedikit rasa khawatir menghinggapiku, kami benar2 berada di dekat kawah dari salah satu gunung teraktif di dunia. Setelah puas berfoto2 dengan Sunrise, kami segera menghampiri kawah Merapi yang terus menerus mengeluarkan asap tebal tersebut. Dan puncaknya adalah memanjat Puncak Garuda yang berada persis di depan kawah Merapi. Dari puncak Merapi kami bisa melihat gugusan gunung Merbabu yang sangat dekat dengan kami, gunung Sumbing dan Sundoro yang berada di belakang merbabu dan gunung lawu yang mengintip dari tenggara. Setelah puas mengekplorasi semua sisi puncak Merapi, kami merencanakan turun melalui jalur Kaliurang. Hanya bermodal buku petunjuk pendakian yang di bawa Chimot, kami mencoba meraba2 jalur Kaliurang yang katanya sudah tertutup itu. Dari sinilah awal perjuangan hidup dan mati kami.




Jalur Kawah => Antara Hidup dan Mati kami
Dengan penuh optimisme tinggi, kami segera mengambil arah melintasi puncak gunung. Meninggalkan puncak dari sisi sebelahnya yaitu ke arah timur, mencari tanda2 jalur menuju Kaliurang. Sejenak kami merasa menemukan jalur yang benar karena adanya prasasti2 berupa tulisan2 dari para pendaki dan juga seismograf yang berdiri tegak di atas gundukan tanah. Semakin jauh kami berjalan, semakin jauh pula kami meninggalkan puncak Merapi. Rasa optimis masih saja menghinggapi kami, sampai pada akhirnya kami tidak menemukan jalur ataupun tanda2 pendaki melintasi jalur yang kami lalui. Sejenak kami berhenti dan berdiskusi mempertanyakan jalur yang kami lalui. Terlanjur basah ya sudah mandi sekali, itulah mungkin yang ada di dalam hati kami masing2. Jalur menuruni bukit pasir bebatuan di samping tebing curam yang hampir runtuh kami lewati bersama. Dan selanjutnya salah seorang dari rekan kami yaitu Edo memisahkan diri dan berjalan jauh di samping kami. Kami bertiga berharap jalur yang kita lewati merujuk pada jalur yang sama. Tapi fakta berkata lain, Edo terpisahkan bukit pasir dan tebing batu yang tinggi oleh kami. Kami ber-3 terlanjur menuruni tebing dan jurang yang dalam dan tidak memungkinkan lagi untuk kembali ke atas bukit. Perasaan was2 di iringi dengan detak jantung yang keras mulai menghantui kami. Kami lihat di depan sana hamparan tanah hijau yang terasa amat dekat dengan kami, ternyata itu hanyalah fatamorgana. Kenyataanya jauhnya bukan main, ini benar2 jalur yang sesat buat kami.
Selamat dari Tebing Curam
Tantangan pertama kami adalah menuruni tebing yang sangat curam dengan kemiringan lebih dari 45 derajat. Saya waktu itu sebagai pimpinan rombongan dan berjalan paling depan. Ketika saya sedang merayap menyisir tebing yang labil dengan pijakan kaki yang minim, tiba2 lempengan batu yang saya pegangi lepas dari tebing dan goyah. …Jantungku benar2 berdetak kencang….Ya Allah………selamatkan nyawa hambamu ini (Saya terus berdoa dalam hati dan sesekali menyebut Asma Allah). Akhirnya saya menyandarkan dada saya ke tebing tersebut dan perlahan lahan melepaskan kaitan tas ransel dari tangan saya………Glodak dag dag dag…dug dag duk……Tas yang ada di punggung saya jatuh bertubi-tubi ke bawah tebing sampai kelihatan sangat kecil. Saya benar2 tidak bisa membayangkan jika saya tadi jatuh dari tebing tersebut……kemungkinan saya tangan kepala dan kaki saya akan terpisah dan berserakan di bawah sana. Dengan penuh hati-hati saya mencoba melangkah perlahan-lahan. Sementara kedua teman saya Chimot dan Purwo masih jauh di atas saya….saya mencoba teriak2 untuk memberitahu mmereka akan kemungkinan bahaya yang menimpa. Sesampainya di bawah saya segera menghampiri tas saya yang telah robek sana sini, sungguh………..Tuhan telah menyelamatkan nyawaku sekali ini. Saya di bawah melihat kedua teman saya sampai merintih2 memohon mereka menjatuhkan tas ranselnya sebelum melewati tebing tersebut….Saya benar2 tidak tega melihat merka dari bawah sini yang sangat mengerikan. Akhirnya satu persatu tas mereka di jatuhkkan dan mereka perlahan-lahan menghampiri saya. Kami benar2 bersyukur atas keselamatan kami ber-3 dari tantangan maut ini. Setelah melewati tebing curam, kami masih dihadapkan oleh lautan pasir yang luas.
Selamat dari Lautan Pasir
Saya mencoba mencari jalan untuk turun dan menggapai hamparan hijau yang masih sangat jauh dari mata kami. Akhirnya saya menemukan turunan pasir yang cukup panjang yang berakhir di lautan pasir bawah, tempat berkumpulnya bebatuan yang jatuh dari atas bukit. Kami menuruni dengan saling berpegangan satu sama lain selama kurang lebih 15 menit dengan cara meluncur jongkok. Sesekali kami harus berhenti menghindari bebatuan dari atas yang jatuh mendahului kami. Sesampainya di lautan pasir, saya terkejut dengan kondisi tas kecil saya yang tebuka. Setelah saya lihat isinya…….yaa ampuun…….Hape saya dan Hape Chimot yang dititipkan ke saya telah tiada. Kemungkinan jatuh pada saat kami meluncur di jalur pasir tersebut. Lebih baik kehilangan harta daripada kehilangan nyawa, itulah setidaknya yang ada dalam pikiran kami. Waktu sudah semakin siang, angin berhembus kencang menerpa bukit pasir yang sesekali menjatuhkan bebatuan dari atas dan membahayakan kami. Kami terus berjalan turun menyusuri lautan pasir nan luas sampai pada akhirnya langkah kami terhenti oleh Jurang yang sangat dalam tepat di hadapan kami. Chimot mencoba menengok seberapa dalam tebing di hadapan kami, dan alangkah terkejutnya saya ketika Chimot mmerengek meminta tolong karena kakinya gemetar setelah melihat tebing yang sangat dalam di hadapanya persis. Satu langkah menuju kematian, mungkin itu yang bisa kami katakan. Kaki Chimot menginjakkan batas pasir terakhir yang berada di bibir tebing curam, dan dia sama sekali tidak bisa bergerak ke atas. Kemungkinan dia akan terperosot ke jurang yang dalam jika salah menginjakkan kaki. Saya dan purwo sangat cemas dan mencoba menenangkan sahabat kami tersebut. Hingga Akhirnya purwo berhasil menari chimot dari tempatnya. Alhmadulilah……..kami berhasil selamat dari tantangan maut yang kedua. Sementara kami mencemaskan keselamatan Edo yang terpisah dan entah berada dimana. Kami mencoba menghubungi Hapenya tetapi sinyal yang ada dan tiada membuat hubungan komunikasi kami sia-sia.
Diantara Tebing Runtuh
Setelah lepas dari jurang yang dalam, Chimot berusaha mencari jalan keluar dari tempat menyeramkan ini. Setelah memutar ke kiri, kami mendapatkan jalur yang lumayan untuk di turuni meskipun kami tetap harus melemparkan tas kami ke bawah sebelum menuruni tebing ini. Kami meloncat dari tebing setinggi 3 meter satu persatu, dan saya yang terakhir di bantu purwo dari bawah untuk bisa turun. Perjalanan kami lanjutkan menelusuri jalan yang semakin tidak jelas ini. Sampai pada akhirnya kami menemukan rintangan yang tidak mungkin terelakkan, yaitu tebing runtuh. Tebing ini sangat labil karena terbentuk dari gundukan pasir dan tanah yang sangat keropos, kami tidak berani menyentuhnya saat menuruninya. Dan yang mengerikan lagi, kami benar2 berada di antara tebing yang rawan runtuh. Saya benar2 ingin cepat2 meninggalkan tempat ini saat sedang menunggu teman2 yang sedang berjuang menuruni tebing dengan sangat hati-hati. Jika angin berhembus kenccang, kemungkinan kami akan terkena reruntuhan batu besar dari atas tebing. Sungguh mengerikan…………….
Berfikir 30 Menit untuk Tantangan terakhir
Setelah berhasil melewati 3 tantangan besar, kami di hadapkan dengan tantangan yang benar membuat kami berfikir ekstra. Kami dihadapkan dengan turunan sangat curam tanpa pijakan sedalam kurang lebih 20 meter. Di bawah sana menunggu batu besar yang siap menghantam kepala kami jika kami tergelincir saat turun. Sementara tas kami sudah terlebih dulu kami jatuhkan ke bawah. Di samping kanan kami terdapat bukit pasir yang licin dah curam, sesekali angin bertiup maka bebatuan dan pasir kerikil runtuh di samping kami. Sesaat kami berfikir bagaimana bisa menuruninya, di depan sana bukit pasir yang sangat besar runtuh tertiup angin. Di samping kiri kami adalah tebing batu yang sangat mengerikan, sepertinya sesaat lagi akan runtuh dan menimpa kami. Setengah jam saya berfikir bagaimana bisa turun dari sini, sampai Chimot mengeluh karena mengantuk menungguku memecahkan rintangan ini. Saya harus memilih batu pijakan dan membersihkanya dari pasir yang menutupi agar tida licin waktu di pijak. Dapat separoh perjalanan, tidak ada lagi batu pijakan untuk kami. Akhirnya saya nekat untuk beraksi seperti Jacky Chan dalam filmnya yang menggunakan kaki dan tangan untuk menopang badan kami diantara lempengan batu di kanan kiri kami. Alhasil kami bisa sampai di bawah dengan selamat……….Alhamdulilah banget bisa melewati tantangan terakhir. Puji syukur benar2 kami panjatkan pada Allah yang telah menunjukkan pada kami jalan yang benar. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, perjalanan mengarungi jalur kawah sunggu merupakan ekspedisi terbesar kami sepanjang sejarah mendaki gunung. Setelah 3 jam perjalanan kami sampai dippemukiman penduduk. Sesampai di Pos rasa jengkel, marah dan senang meluap2 pada diri kami setelah melihat teman kami Edo sudah berada di hadapan kami. Makian dan rasa marah kami lampiaskan disini,
Kembalinya Quartet di Babakan
Kami segera bergegas untuk menggapai hamparan hijau yang semakin terlihat dekat di depan kami. Sampai juga kami disamping bukit hijau itu, kami berusaha mencari jalan dengan menjelajah diantara rumput dan pepohonan. Sesampainya di atas bukit akhirnya kami menemukan Jalur pendakian, yaang tidak lain dan tidak bukan adalah jalur pendakian dari arah Babakan Magelang. Setelah berjalan selama kurang lebih 3 jam, akhirnya kami sampai juga di Pos Babakan. Sesampainya di sana, kami bertiga terkejut bercampur jengkel, marah dan senang melihat teman kami Edo telah ada di hadapan kami. Umpatan, makian dan kemarahan kami lampiaskan terhadap Edo walaupun akhirnya kami merasa senang bisa berkumpul kembali dalam keadaan yang sehat. Setelah membersihkan badan dan Sholat Maghrib, kami melabjutkan perjalanan turun ke Muntilan menggunakan jasa Ojek. Sesampainya di Muntilan kami segera mencari bus jurusan Magelang. Tiket kereta api senja utama jogja telah hangus, akhirnya kami ber-3 (Saya, Edo dan Purwo) memilih ke semarang untuk mengejar Kereta Api Gumarang dari Surabaya. Sementara Chimot melanjutkan perjalanan ke Surabaya menggunakan Bus Eka. Berakhir sudah perjuangan kamis setelah samapi di rumah masing2 di keesokan harinya. Dan kenangan besar itu tidak akan pernah terlupakan dari ingatan kami ber-4………….
Puji Syukur yang sebesar-besarnya kami panjatkan pada Allah SWT atas keselamatan dalam pendakian kali ini…………..









Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3,676 mdpl. Gunung ini terletak di wilayah kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung semeru juga sering di sebut Mahameru yang artinya kalau tidak salah adalah Yang Tertinggi. Untuk mendaki ke puncak gunung ini kita harus terlebih dahulu mengetahui status gunung yang masih aktif ini. Tidak jarang pendakian ke puncak mahameru dilarang karena gunung ini sedang batuk parah. Waktu untuk mencapai puncak gunung ini pun dibatasi sampai jam 9.00 pagi. Pendaki disarankan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak jika telah lewat jam tersebut karena arah angin akan berbalik dan pendaki dapat terkena racun dari gas yang disemburkan oleh gunung ini. Setiap 15 menit gunung ini akan meletup kecil atau sering di sebut “ngerokok”. Moment terbaik untuk mengambil gambar adalah ketika gunung sedang meletup, anda bisa berpose dengan background kepulan asap hasil letupan ringan. Tak jarang juga letupan membuat para pendaki lari ketakutan karena yang dikeluarkan bukan pasir melainkan bebatuan. Sebelum melakukan pendakian saya sarankan untuk menghubungi Balai Taman Nasional Bromo Tengger Semeru untuk menanyakan kondisi gunung semeru jika anda tidak ingin melewatkan puncak mahameru. Di ketinggian 2300 mdpl kita juga dapat menyaksikan keindahan Ranu Kumbolo yang luas. Danau ini airnya tidak mengalir ke bawah, dan selalu ada airnya walaupun musim kemarau. Pendaki yang tidak berniat mencapai puncak biasanya menghabiskan waktu disini dengan berkemah dan menikmati sejuknya alam pegunungan.
Perjuangan untuk menuju gunung semeru saya mulai dari bekasi bersama teman2 dari Woi Community. Dari stasiun Gambir kami naik Kereta Api Gumarang jurusan Surabaya. Sementara di keesokan harinya kedua teman saya Chimot dan Ifa telah menunggu kami di Stasiun Pasar Turi. Chimot telah menyiapkan 2 Mobil Bison untuk mengangkut rombongan kami ke Kecamatan Tumpang Malang. Perjalanan ke Tumpang memakan waktu kurang lebih 2 jam dikarenakan kami harus masuk jalan tikus menghindari kemacetan karena lumpur porong. Akhirnya kami sampai di terminal tumpang sekitar jam 9 pagi.
Kami menyempatkan waktu untuk sarapan sembari menunggu mobil Hard Top yang akan mengangkut kami ke Ranu Pane. Sebelum mobil Hard Top kami datang, personel tambahan 4 orang dari teman2 Woi Community kota malang pun datang. Tambah banyak saja pesertanya, kurang lebih ada 20 orang. Untuk menuju ke Ranu Pane kita harus menyewa mobil hard top dengan tarif per orang adalah 40 ribu rupiah. Mobil ini bisa mengangkutbarang penumpang sebanyak 15 orang sekaligus beserta barang bawaaanya yang akan di taruh di atas kepala mobil. Semua penumpang dalam posisi berdiri dan perjalanan akan berlangsung kurang lebih selama 1,5 jam menyusuri jalan aspal dan beton menyisir bukit. Ditengah perjalanan kami berhenti sejenak untuk melakukan administrasi pendakian di Balai Tanam Nasional Bromo Tengger Semeru (BTNBTS). Setiap orang wajib menyerahkan fotocopy KTP dan membayar administrasi sebesar 6000 rupiah. Setalah urusan administrasi selesai, kami melanjutkan perjalanan kembali. Ditengah-tengah perjalanan kami diguyur hujan deras selama setengahjam, benar2 sambutan yang dingin buat kami. Walaupun hujan mendera kami sepanjang perjalanan, tidak menyurutkan mental kami untuk melakukan pendakian. Akhirnya kami nyampai di desa Ranu Pane sekitar jam 12 siang. Ranu Pane merupakan titik awal pendakian ke gunung Semeru. Tak jauh dari Pos terdapat Danau kecil yang dinamakan Danau Pane atau dalam bahasa tengger di sebut dengan Ranu Pane. Di sekitar pos terdapat warung nasi yang menyajikan masakan dan minuman hangat khas pegunungan. Sebelum melakukan pendakian terlebih dulu kami mengisi perut di warung depan pos. Hmm….udara dingin menambah nikmatnya masakan gunung yang sederhana itu. Setelah makan siang kami segera menyiapkan mental dan fisik untuk memulai pendakian.




Gunung argopuro merupakan salah satu gunung yang terletak di deretan Pegunungan Yang. Gunung ini membentang dari kabupaten Probolingo sampai ke Kabupaten Situbondo yang memiliki ketinggian 3,088 mdpl. Pendakian dari kabupaten probolinggo melalui desa Bremi sedangkan dari situbondo melalui desa Baderan. Gunung Argopuro merupakan gunung yang memiliki trek lintasa terpanjang di jawa. Kebanyakan pendaki memilih untuk melintasi gunung atau naik dan turun pada jalur yang berbeda. Jarur Bremi lebih singkat daripada jalur Baderan tetapi trek yang dilewati cenderung lebih Terjal. Gunung Argopuro memiliki Vegetasi terlengkap, mulai dari hutan Tropis, Hutan Hujan, Hutan Cemara, dan juga padang sabana yang sangat luas. Gunung ini memiliki kisah legenda Dewi Rengganis yang hilang bersama dayang-dayangnya, ada tempat yang dikenal dengan Taman Rengganis yang diyakini sangat Angker. Di ketinggian sekitar 1200 mdpl dari jalur Bremi, anda bisa menemukan Danau Taman hidup yang cukup luas. Danau ini sangat indah di pagi hari, banyak ikan di dalamnya dan anda bisa memancing untuk di bakar dan di makan. Jika anda turun melalui jalur Baderan, saya yakin anda akan terbius oleh keindahan padang sabana yang sangat luas. Padang Sabana ini konon merupakan bekas pangkalan udara Tentara Jepang yang diyakini sangat angker juga. Jangan sampai anda menginap atau bermalam disini, bisa2 anda di datangi tentara jepang yang sedang patroli. Konon masih ada pendaki yang mendengar derap langkah kaki para tentara saat menginap disini. Gunung yang lengkap keindahanya dan membuat frustasi karena treknya yang begitu panjang.
Kami sengaja meluangkan waktu di semester akhir menjelang kelulusan kami. Sekedar melepas stress karena mengerjakan Tugas Akhir yang tak kunjung selesai, akhirnya kami ber-6 (Saya, Chimot, Edo, Ucup, Dhani, Sri) merencanakan untuk mendaki Argopuro melalui jalur Bremi dan turun melalui jalur Baderan. Kami berangkat dari Lab ber-6 dengan perbekalan sederhana yang kami punya. Seperti biasanya kami hanya membawa Terpal dan Ponco tanpa Tenda, maklum mahasiswa kere belum mampu beli tenda. Minimnya perlengkapan bukan penghalang untuk melakukan pendakian. Pagi itu kami berangkat ke Bungurasih naik taksi 4 orang dan naik sepeda motor 2 orang. Dari bungurasih kami naik bus jurusan probolinggo, dan turun di terminal probolinggo. Perjalanan selama kurang lebih 3 jam kami lewati.
Sampai probolinggo kami menuju terminal bus AKAZ , dimana dari terminal ini kita bisa naik bus jurusan Bremi. Perjalanan ke desa bremi memerlukan waktu kurang lebi 1 jam. Sesampainya di Desa Bremi kami menyempatkan diri untuk makan siang di warung setempat. Pos perijinan berada di kantor polisi setempat, salah satu dari anggota kami melakukan registrasi di kantor polisi. Setelah semua administrasi beres, kami segera melakukan pendakian melewati ladang penduduk. Setelah melalui ladang penduduk, kita akan masuk ke hutan damar yang sangat lebat. Target pertama kami adalah Danau Taman Hidup yang terletak pada ketinggian 1200 mdpl. Perjalanan 3 jam kami lalui di tengah hutan yang lebat dan trek yang mulai menanjak. Perjalanan cukup panjang dan melelahkan tak kunjung kami temukan danau taman hidup yang kami cari. Hari sudah beranjak gelap, kami bergegas mengeluarkan senter yang kami bawa. Dengan sangat berhati2 kami melanjutkan perjalanan malam itu. Di tengah hutan kami mencoba berhenti karena semua anggota tim kelelelahan dan lapar. Sejenak menikmati mie instant dan energen, rasa lelah dan lapar kamipun terobati sedikit. Tak mau berlama-lama di hutan kami melanjutkan kembali perjalanan. Sebelum menemukan Danau Taman Hidup, kami menemukan pertigaan. Menurut informasi, untuk mencapai danau taman hidup kita harus mengambil arah ke kanan. Jalanan menurun kami lalui, sekitar 15 menit akhirnya kami sampai di Danau yang kami cari tersebut.
Danau taman hidup merupakan tempat favorit bagi para pendaki yang memilih jalur Bremi. Ada juga para pendaki yang sengaja hanya nge camp disini beberapa hari. Di area sekitar danau memang cukup nyaman untuk nge camp, tempatnya cukup hangat dan terlindung oleh pohon pinus yang tinggi. Waktu itu kami mendaki pada tanggal muda jawa, sehingga kami bisa menikmati gugusan Galaxi Bima Sakti yang nampak jelas di gelapnya malam. Di dukung dengan cuaca yang cerah dan lokasi yang cukup luas, kami serasa berada sangat dekat dengan bintang2 di angkasa tersebut. Sesekali melihat bintang meteror yang
jatuh, hmm….sungguh mengagumkan alam semesta ciptaan Tuhan itu. Kami segera mencari tempat untuk mendirikan tenda amatir kami, mengaitkan terpal ke batang pohon pinus. Bermalam di sini tidak begitu dingin, sehingga saya memutuskan untuk tidur di luar beralaskan matras. Kami membuat perapian sebagai penghangat kami menikmati malam. Tidurpun terasa puas, tak terasa pagi menjelang. Kami segera beranjak menikmati pemandangan danau yang sangat indah. Air danau yang di ambil oleh sinar matahari pagi menimbulkan keindahan yang luar biasa di atas danau. Saya menyempatkan diri untuk mencoba memancing ikan disana, dengan kail yang sudah tersedia entah punya siapa. Ternyata sulit juga mancing disini kalau belum berpengalaman. Karena kasihan dengan saya yang gak dapet2, ada mas2 yang menawari ikan untuk saya bawa. dengan malu2 tapi mau, aku terima saja ikan itu untuk di bakar daripada mancing tanpa hasil. Bakar2 ikanpun dimulai, dan rasanya….mak nyissss…….uenak coy. Setelah sarapan pagi dan bakar2 ikan, kami segra beres2 tenda dan packing untuk melanjutkan perjalanan.




Pendakian saya kali ini hanya di temani oleh seorang sahabat saya dari awal kuiah, yaitu ahmad nawawi yang akrab di panggi Chimot. Waktu itu kami telah lulus kuliah dan sama2 belum mendapatkan pekerjaan, jadi keseharian dihabiskan dengan ngelamar kerja dan berburu wanita
Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, kami sampai di Gua Ontoboego. Di tempat ini terdapat Gua kecil yang biasanya digunakan untuk bertapa. Disekitarnya terdapat bangunan terbuat dari kayu yang digunakan untuk beristirahat dan berlindung dari hujan. Sampai di pos ini kami berhenti sejenak menikmati segarnya udara pegunungan dan merenggangkan otot2 kaki yang mulai tegang. Setelah seperempat jam kami berjalan, kamipun melanjutkan perjalanan menuju pos berikutnya. Di tengah perjalanan kami di bingungkan dengan 2 jalur yang terpisah, berfikir sejenak akhirnya kami memutuskan mengambil arah kanan yang jalurnya cenderung naik. Belum jauh berjalan kami berpapasan dengan bapak2 pencari rumput dan bertanya pada kami hendak kemana. Ternyata jalur yang kami lewati salah, jalur kekanan adalah jalan menuju Air Terjun. Walaupun jaur yang kekiri menurun, tapi itu adalah jalur menuju puncak. Hmm…satu malaikat lagi telah menolong kami di perjalanan. 2 jam perjalanan kami sampai di Tampuono. Disini terdapat juga situs2 peninggalan jaman kerajaan Majapahit berupa arca2 dan tempat pemujaan. Tempatnya memang mistis dan berbau menyan. Kami melanjutkan perjalanan kembali ke pos berikutnya yaitu Eyang Sokri, disini juga terdapat situs2 pemujaan seperti di tampuono. Dari tampuono ke Eyang Sokri cukup jaraknya cukup dekat, bisa di tempuh dalam waktu 30 menit. Kami memutuskan untuk tidak berlama2 di pos2 mistis tersebut karena banyak sekali orang2 yang sedang bertapa dan melakukan pemujaan. Setelah 2 jam perjalanan, kami menemukan pos berikutnya yaitu Eyang Semar. Seperti halnya pos yang lain, pos eyang semar ini juga masih banyak ditempati oleh para pertapa.
Dari Eyang Semar ke Makuthoromo perjalanan mulai menanjak. Kita bisa menikmati indahnya hampara gunung Semeru beserta gugusanya di sepanjang perjalanan. Trek berupa panjat tebing batu besar akan kita lalui sebelum mencapai Makuthoromo. Perjalanan dari Eyang semar ke Makuthoromo kami ditempuh dalam waktu 1 jam. sebelum masuk lokasi makuthoromo, silahkan anda menghadap ke belakang dan rasakan sensasi pemandangan alam yang sungguh mempesona. Sampai di sini kami isturahat sejenak untuk mengisi perut dan bahan bakar kami yang sudah mulai menipis. Persedian air di sini cukup melimpah, anda bisa mengambilnya di belakang pos. Pos Makuthoromo ini adalah pos terbesar dan terakhir di jalur ini. Jika anda memiliki waktu yang cukup panjang, saya rekomendasikan untuk menginap di sini. Selain tempatnya yang luas dan datar, disini terdapat bangunan kayu yang bisa menampung banyak orang jika anda tidak membawa tenda. Pemandangan yang indah akan anda saksikan dari sini, mulai dari gemerlapnya kota lawang di bawah sewaktu malam hari sampai pemandangan dengan view gugusan gunung semeru di pagi hari yang cerah.



Sebelum melakukan pendakian kami melapor ke Pos pendakian Tretes. Di sini kami bertemu dengan Mas Cupit, sebagai penjaga pos. Waktu itu cuaca memang tidak begitu baik, s ehingga kami berkonsultasi dengan Mas Cupit perihal pendakian ke puncak. Dan ternyata kami dipersilahkan untuk melakukan pendakian, jika cuaca memburuk disarankan untuk tidak memaksakan diri ke Puncak. Biaya registrasi di Pos ini kurang lebi Rp.2000,- seingat saya. Dari Pos kami berangkat sekitar pukul 2 siang. Perjalan dari Pos pendakian sampai ke Pos 1 yaitu Pet Bocor dapat di tempuh dalam waktu 2 jam. Jalur yang di tempuh berupa jalanan lebar bebatuan, dimana jalan ini masih bisa di lewati oleh Mobil Pick-up pengangkut Belerang. Jalanan cuku landai tetapi melelahkan, karena panjang dan bebatuan. Sampai di Pos 1 kami istirahat untuk mengisi bahan bakar (Baca: air minum). Dua orang anggota kami sudah ada yang terkapar sakit, yaitu Anung yang masuk angin dan Riski yang kakinya kram. Setelah 30 menit istirahat, kami melanjutkan perjalanan ke Pos 2





Menyambung cerita dari Yogyakarta 2, dalam moment yang sama pula kami berjalan-jalan di sepanjang jalan malioboro. Malioboro terkenal dengan bazaar malam yang mejajakan beraneka macam pernak-penik khas djogja. Dagangan yang paling laris adalah kaos, mulai dari yang asli sampai bajakan. Kaos yang terkenal adalah Dagadu, yang katanya dagadu asli hanya dijual di Mal Malioboro. Banyak sekali Dagadu yang di jual di jalanan dan juga toko-toko di sekitar malioboro tetapi tidak dijamin keaslianya. Disamping kaos, malioboro juga menawarkan berbagai pernik2 dan cindera mata khas djogja yang merupakan kerajinan dari seniman setempat. Jika anda adalah penggemar batik, jangan lewatkan untuk mengunjungi pasar Bringhardjo yang berada disebelah kiri jalan malioboro.


Perjuangan masih panjang, sesampainya di stasiun Poitier saya harus mencari supir taksi yang menjemput saya entah dimana. Saya mencoba mengikuti rombongan orang keluar stasiun, suasananya seperti di stasiun pasar turi tapi lebih sepi. Setelah naik ke atas menggunakan lift, saya harus menentukan pilihan apakah harus ke kanan atau ke kiri. Gambling saya ambil jalan kebenaran, dan sesampainya di ujung lorong seorang Supir Taksi telah memampang nama saya ” Mr. Sihmanto – Actaris “, Sedaaaap……………..langsung saja saya meminta di antarkan ke Hotel Champanille tempat saya menginap. Sesampainya di hotel, saya langsung menuju ke resepsionis dan menyodorkan print out imel yang menunjukkan kalau saya sudah booking satu kamar di hotel itu. Perjuangan pertama telah selesai………saking senengnya aku langsung tutup pintu hotel dan berfoto2 di luar. Dan setelah puas berfoto2, saya bermaksud kembali masuk kamar karena udaranya yang sangat dingin. Dan ternyata kamarnya terkunci otomatis ketika saya menutup pintu dari luar, padahal kunci saya ada di dalam. Stupid indonesian………..dengan wajah tersipu malu saya harus meminta ke recepsionis untuk dibukakan kamar saya.
Waktu itu training yang saya jalani berlangsung selama 5 hari kerja, dari senin – jum’at. Di hari rabu malam kami peserta training di beri kesempatan untuk jalan-jalan dan makan malam bersama para trainer ke pusat kota Poitier. Kota Poitier merupakan kota kecamatan yang memiliki banyak bangunan tua bersejarah. karena udaranya yang dingin dan segar, jalan2 pun terasa sangat nyaman. Setalah jalan-jalan dan foto2, kami di ajak makan malam di sebuah restoran. Menu yang disajikan tidak lepas dari daging babi, dan saya adalah satu-satunya orang muslim yang berada disitu. Tapi trainer dan teman2ku semuanya paham kalau babi adalah terlarang untuk saya. Satu hal yang saya salut adalah cara mereka menghargai saya sebagai muslim yang sedang berpuasa. Waktu makan malampun disesuaikan dengan jadwal buka puasa saya, yaitu sekitar jam 8 malam. Karena tau saya muslim, trainerku pun memilihkan menu spesial untuk saya yaitu ikan. Sebelum makan menu utama, orang prancis biasanya menyantap makanan pembuka,setelah itu baru menu utama, dan di tutup dengan desert atau makanan penutup. Tidak seperti di indonesia dimana menu yang dipesan adalah menu utama semua. Menu pembuka biasanya berupa sayur2an mentah yang diberi bumbu asinan, hiiii…..aku gak doyan makan makanan seperti ini. Menu utamanya pun tidak senikmat di indonesia, masakanya aneh banget di lidahku. Sedangkan menu penutup adalah es krim dan agar-agar. Orang prancis sangat hobi minum bir, mungkin untuk menghangatkan badan dari udara yang begitu dingin. Se enak2nya makanan di prancis, jauh lebih enak makanan di Warteg lah hehe…
Untuk menuju menara eiffel, dari stasiun kereta kita hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan kaki. Atau sekitar 800 meter jaraknya. Wouu….wouuu………hatiku berbunga-bunga melihat pucuk menara eiffel dari kejauhan. Akhirnya…..sampai juga aku tepat di depan menara eiffel yang fenomenal itu. Tak sabar untuk berfoto, saya meminta tolong seseorang untuk memotret saya dengan kamera saya. Cepreet……………manteeeeebbbb coy, rasane marem tenaaan.
Kejadian yanga menarik ketika saya dan edo sedang menghisap Djarum Super asli Indonesia di depan Hostel Suk 11 sehabis sarapan. Datang Bule Inggris dan duduk se meja dengan kami, dia mengeluarkan rokok putih berlabel Land Mark atau sering di singkat LM. Baru saja dia pinjem korek ke kami dan menyalakan rokok idolanya, hesss.s……suara hisapan dari mulutnya terdengar lirih. Saya iseng saja menawari dia cigarette yang sedang saya hisap,
Dari Bangkok menuju ke Malaysia kami berdua benar2 puasa merokok. Daripada terbatuk batuk menghisap rokok murahan bergambar gigi keropos tersebut mendingan kami berpuasa sejenak.
Singapura adalah negeri yang paling mahal dalam segala hal, termasuk salah satunya adalah rokok. Rokok bawaan dari Malaysia sudah habis setelah sarapan pagi di Hostel ABC, tak pelak kami mencoba hunting kretek seperti biasanya. Di minimarket saya mencoba cari rokok Gudang Garam atau Djarum Super yang kami banggakan akan rasanya. Walaupun singapura juga tetangga dekat Indonesia dan Malaysia, tapi untuk soal rokok hanya ada satu merk yang sama dengan merk di Indonesia. A Mild, hanya rokok tersebut yang bisa saya jumpai di minimarket seantero singapura. Mild adalah rokok second line bagi kami, karena rasanya yang kurang mantab untuk sorang traveler seperti kami. Tak ada gudang garam a mild pun jadi, itu saja yang kami pikirkan. Alangkah terkejutnya ketika saya menanyakan harganya, 10 Dollar Singapura atau setara dengan 70 ribu rupiah….gilaaaaaaaaa……….kan. Inilah rokok termahal yang pernah saya lihat. Memang di singapura larangan merokok juga sama kerasnya dengan di Thailand. Saya menjumpai rokok yang tanda larangan tertulis besar di cover depan bungkus rokok sebagai berikut
Kurang lengkap jika kita sebagai orang jawa berpergian ke Bangkok tetapi tidak menyempatkan diri untuk berkunjung ke Masjid Djawa. Dari hostel kami di suk 11, perjalanan ke masjid djawa dapat di tempuh menggunakan MRT & BTS. Walaupun namanya masjid djawa, tapi tak seorangpun yang sholat di situ bisa berbahasa djawa s eperti kita. Setelah sholat kami bertanya ke takmir
masjid tersebut tentang masakan halal di sekitar masjid. Dengan baik hati kami di antarkan oleh seseorang anggota dari pengurus masjid tersebut ke warung muslim. Warungnya cukup sederhana sekali, tak jauh beda dengan WARTEG yang sering kita jumpai di Jakarta. Di warung tersebut terdapat logo halal yang mungkin telah di sertifikasi oleh majelis masjid setempat. Menu yang di tawarkanpun sederhana pula, yaitu Nasi goreng, Nasi Omelet, Kwetiaw dan Soup Tomyang. Saya dan Edo pesan nasi goreng, chimot dan son seperti bisanya yaitu nasi omelet, sedangkan ervan memesan kwetiaw. Walaupun lidahnya tidak memiliki indera perasa, tapi purwo mencoba memesan Soup Tomyang. Soup tomyang adalah masakan khas Thailand yang sangat kental dengan aroma bumbu dari rempah2 asli Thailand. Rasanya mantab coy….harganya sekitar 12 ribu rupiah untuk satu menu, murah kan..??. Makanya jangan lewatkan wisata kuliner yang satu ini kalau kamu adalah orang jawa dan muslim.
Chiang Mai adalah kota kecil di thailand bagian utara, sering pula di sebut2 sebagai Djogja-nya thailand. Di Chiang Mai terdapat sebuah masjid besar dimana di sekitar masjid tersebut banyak sekali di jumpai masakan muslim yang tersertifikasi oleh Majelis Muslim Thailand. Jika anda berjalan di sepanjang Chiang Mai Night Bazaar, sempatkanlah mampir ke masjid yang berada di gang sebelum ujung jalan yang digunakan sebagai bazaar setiap malam tersebut. Masjidnya cukup besar yang tergabung dengan madrasah islam di depannya. Di sepanjang jalan masuk ke masjid kita bisa dengan mudah menemukan warung yang berlabel halal, yang kami kunjungi adalah warung Sophia. Asyiknya lagi, warung tersebut menawarkan menu yang bertuliskan bahasa melayu/bahasa Indonesia. Menu yang ditawarkan seperti, Nasi Goreng, Mie Goreng dan masih banyak lagi. Harganya pun juga tidak terlalu mahal, sekitar 20 ribu rupiah. Mahal juga yaah……:D. Tidak juga sebenarnya, karena sekali kita menemukan makanan halal, kita sering sekali berlebihan dalam hal makan.
Ketika kami sedang berada di stasiun kereta api Hua Lamphong, kami sempat bingung menentukan tempat makan yang akan kami kunjungi untuk makan siang. Sambil menghisap rokok di depan stasiun. Aku dan edo mengamati gerak gerik orang di sekitar kami. Tak lama kemudian, ada beberapa wanita berjilbab yang berjalan menyeberang jalan di depan stasiun hua lamphong. Feelingku bermain disini, aku menduga rombongan wanita berjilbab tersebut pasti sedang mencari makan siang. Aku dan Edo segera beraksi membuntuti dari belakang pergerakan serombongan orang tersebut, dan seperti yang aku duga sebelumnya ternyata benar mereka menuju warung muslim yang berada di dalam gang depan stasiun. Di daerah tersebut banyak sekali di temukan muslim food, dimana penjualnya juga sedikit bisa bahasa melayu. Segera saya dan edo mengajak teman2 untuk segera mengisi perut yang sudah lama keroncongan. Hmm….lagi2 saya pesan nasi goreng, menu yang paling simple dan paling popular bagi setiap orang melayu. Harganya cukup murah, sekitar 15 ribu rupiah untuk satu menu spesial.